Category Archives: Artikel

Keutamaan dan Amalan Malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban (malam tanggal 15 di bulan Sya’ban) menjadi malam yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Sebab pada malam itu, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia. Baik yang berhubungan dengan kematian, rezeki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan Allah SWT hingga datangnya bulan Sya’ban di tahun berikutnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhon: 3-4)

Dalam kitab Tafsir Al-Baghawi, Imam Abu Muhammad Al-Baghawi mengutip perkataan sahabat ‘Ikrimah RA, “Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal. ” (Lihat: Abu Muhammad Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi, VII/228)

Tidak hanya perihal proses penentuan takdir manusia, malam Nisfu Sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik yang dalam periode harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam Lailatul Qodar dan malam Nisfu Sya’ban. (Lihat: Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyah Al-Jamal Syarh Al-Manhaj, II/350)

Dalam sebuah hadis diceritakan, ketika Sahabat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW perihal puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, Rasulullah SAW menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan (Sya’ban) itu adalah bulan yang banyak dilupakan manusia, di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan sekalian alam. Maka aku senang amalku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.” (Lihat: An-Nasa’i, As-Sunan Al-Kubra Li An-Nasa’i, III/176)

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Diriwayatkan dari Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah SWT memperhatikan pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (Lihat: Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, I/445)

Dalam hadis lain diceritakan, pada suatu malam, Sayyidah ‘Aisyah RA kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencari Baginda Rasulillah SAW. Dan akhirnya, Sayyidah ‘Aisyah RA. menemukan suami tercintanya di area pemakaman Baqi’. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya Allah SWT menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb. ” (Lihat: Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III/107)

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Untuk menggapai keutamaan malam Nisfu Sya’ban, banyak dari masyarakat Islam yang tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkannya melalui berbagai macam akitvitas ibadah kepada Allah SWT. Salah satu amaliah ibadah yang biasa dilakukan masyarakat adalah membaca surat Yasin tiga kali secara berjamaah diiringi dengan pembacaan doa Nisfu Sya’ban.

Mengenai hal ini, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki telah menulis dalam kitabnya yang berjudul Kanz An-Najah wa As-Surur. Dan dalam Kitab tersebut dipaparkan, hendaknya bacaan surat Yasin pertama diniati agar diberikan umur panjang. Bacaan surat Yasin kedua diniati agar terhindar dari mara bahaya. Dan bacaan surat Yasin ketiga diniati agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain. (Lihat: Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki, Kanz An-Najah wa As-Surur [Maktabah Dar al-Hawi] h. 48)

Adapun terkait salat Nisfu Sya’ban, para ulama masih berbeda pendapat. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab mengatakan bahwa salat Nisfu Sya’ban tersebut termasuk Bid’ah Qobihah. Namun Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum Ad-Din dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan.

Dari silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Syekh Sulaiman Al-Kurdi mencoba menengah-nengahi. Beliau mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian atas status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut. (Lihat: Abi Bakr Syato Ad-Dimyati, I’anah At-Thalibin, [Beirut: Dar al-Fikr] I/312) []waAllahu a’lam

Baca juga:
TRADISI DAN SEJARAH YASINAN PADA MALAM NISHFU SYA’BAN

NAMA-NAMA LAIN MALAM NISHFU SYA’BAN

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal

Keutamaan dan Amalan Nisfu Sya’ban
Keutamaan dan Amalan Nisfu Sya’ban

Analogi Jumatan Virtual dengan Akad Nikah Online

Sebagian kalangan merumuskan sah pelaksanaan Jumatan virtual dengan pola analogi terhadap kasus akad nikah yang dilakukan secara online. Menurutnya, akad nikah virtual dengan praktek wali dan suami berada di daerah yang berbeda hukumnya adalah sah. Mereka berargumen potensi gharar (spekulasi) sudah tidak wujud di era sekarang, dan ketersambungan ijab kabul secara substantif (maknawiyyan) sudah terpenuhi.

Nah, sebelum masuk ruang diskusi penyamaan hukum Jumatan virtual dengan akad nikah virtual dengan segala dinamika argumentasinya, harus clear dulu hukum pelaksanaan akad nikah secara online, benarkah hukumnya sah?

Nikah online itu problem fiqhnya bukan dari ketersambungan ijab dan kabul atau ketiadaan spekulasi di era android, tetapi karena beberapa hal:

1. Tidak terpenuhinya syarat kehadiran wali, dua saksi dan mempelai pria dalam satu majlis.

Fiqh dasar sekalipun sudah bisa menjawab ketentuan ini, tidak perlu lompat terlalu jauh ke ushul Fiqh. Misalnya seperti ta’bir yg ada dalam Kifayatul Akhyar berikut ini:

[تقي الدين الحصني، كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، صفحة ٣٥٨]
(فرع) يشْتَرط فِي صِحَة عقد النِّكَاح حُضُور أَرْبَعَة ولي وَزوج وشاهدي عدل وَيجوز أَن يُوكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج فَلَو وكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج أَو أَحدهمَا أَو حضر الْوَلِيّ ووكيله وَعقد الْوَكِيل لم يَصح النِّكَاح لِأَن الْوَكِيل نَائِب الْوَلِيّ وَالله أعلم قَالَ.

2. Shighat Harus Sharih

Nikah disyaratkan menggunakan shighat sharihah, sementara shighat dengan perantara sambungan internet, telfon dan sejenisnya tergolong kinayah. Seperti keterangan dalam ibarat-ibarat berikut ini:

[الماوردي، الحاوي الكبير، ١٥٢/٩]
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا كَمَا قَالَ النِّكَاحُ لَا ينعقد إلا بصريح اللفظ دون كنايته، وَصَرِيحُهُ لَفْظَانِ: زَوَّجْتُكَ، وَأَنْكَحْتُكَ فَلَا يَنْعَقِدُ النِّكَاحُ إلا بهما سواء ذُكِرَ فِيهِ مَهْرًا أَوْ لَمْ يُذْكَرْ.

[حواشي الشرواني على تحفة المحتاج، ٢٢٢/٤]
(قَوْلُهُ: وَالْكِتَابَةُ إلَخْ) وَمِثْلُهَا خَبَرُ السِّلْكِ الْمُحْدَثِ فِي هَذِهِ الْأَزْمِنَةِ فَالْعَقْدُ بِهِ كِنَايَةٌ فِيمَا يَظْهَرُ.الفوائد المختارة لسالك طريق الأخرة المستفادة من كلام العلامة الحبيب زين بن إبراهم بن سميط جمع وتقديم : علي بن حسن باهارون ص 246التلفون كناية في العقود كالبيع والسلم والإِجارة، فيصح ذلك بواسطة التلفون. أما النكاح فلا يصح بالتلفون لأنه يشترط فيه لفظ صريح، والتلفون كناية

3. Akad nikah didasarkan kepada kehati-hatian

Akad nikah didasarkan kepada kehati-hatian, sebab urusannya berkaitan dengan menghalalkan kemaluan (hubungan intim), sehingga kehormatan kemaluan tidak ternodai. Karena itu disebutkan dalam sebuah kaidah:

يحتاط في الأبضاع ما لا يحتاط في غيرها.

Kesimpulan

Walhasil, Kasus akad nikah online yang dijadikan mulhaq bih / maqis alaih tentang keabsahan Jumatan virtual, tidak memenuhi standart ilhaq/ qiyas. Dalam ushul fiqh, syaratnya maqis alaih, hukumnya harus tsubut (jelas rumusan hukumnya) baik melalui nash, ijma atau kesepakatan dua ulama yang berbeda pandangan.

Lebih problematis lagi jika dikaitkan dengan metode ilhaqul masail binazhairiha. Apanya yang mau diilhaqkan / diqiyaskan bila hukumnya maqis alaih / mulhaq bih saja belum clear, sudah melompat ke teori Ushul Fiqh. Menurut saya lompatan-lompatan seperti ini adalah problem besar ketika penguasaan Ushul Fiqh tidak didasari pengetahuan Furu’ Fiqhiyyah (cabang permasalahan fikih) yang matang dan kokoh.

Solusi

Tidak perlu memaksakan jumatan virtual sepanjang tidak ditemukan argumen yang jelas dari Mazhab Empat. Protokol kesehatan yang tidak memadai di masjid, masih ada solusinya. Misalnya jumatan di rumah, mushola atau tempat lain dengan minimal 3 orang, 4 orang atau 12 orang, mengikuti pendapat Imam Sya’roni yang memperbolehkan berbilangannya jumatan sepanjang tidak menimbulkan fitnah. Kalau memang khawatir tertular, bisa berpedoman kepada khauf yang menjadi udzur jumatan.

Salam hangat untuk semuanya, mohon koreksinya bila saya salah.

Penulis: Muhammad Mubasysyarum Bih (Dosen Ma’had Aly Lirboyo Kediri)

Baca juga:
SEJUTA MANFAAT BELAJAR KAIDAH FIKIH

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

Sebab ini, Dosa Kecil Jadi Besar

Sebagian besar ulama sepakat bahwa dosa dipilah menjadi dosa besar dan kecil. Dosa yang tergolong besar, setidaknya terdapat tujuh belas macam yang dikerjakan oleh organ-organ tubuh tertentu.

Dosa besar yang dikerjakan hati, ada syirik, berterus-terusan maksiat, putus asa dari rahmat Allah Swt., dan merasa aman dari murka-Nya. Empat dosa juga yang dikerjakan oleh lisan, persaksian palsu, menuduh zina, melakukan sihir dan sumpah palsu.

Tiga dosa lainnya dikerjakan oleh perut, meminum arak dan perkara lain yang memabukkan, memakan harta anak yatim dengan aniaya dan sengaja memakan harta riba. Dua dosa alat kelamin, yakni zina dan liwath (Sodom). Dua dosa tangan, mencuri dan membunuh.

Sedangkan terdapat satu dosa tersisa yang terhitung dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, yaitu berani dan durhaka kepada orang tua.

Mungkin dari kita sering menganggap remeh dosa kecil yang telah kita kerjakan, dengan alasan ‘cuma dosa kecil’ itu tadi. Na’udzubillah.

Padahal, dikutip dari Ihya Ulumiddinnya Imam Ghazali, dosa kecil yang dianggap kecil itu bisa menjadi besar sebab hal-hal berikut ;

Dilakukan terus menerus

Sehingga lahirlah ungkapan “tiada dosa kecil yang dilakukan secara berterusan, dan tiada dosa besar yang dibarengi dengan istighfar (berkesudahan).”

Diumpamakan ribuan tetes air yang mengenai batu, maka akan berimbas. Beda cerita jika air itu dikumpulkan jadi satu lalu dituangkan.

Lebih lanjut, tutur beliau, dosa besar yang dilakukan seseorang itu bukanlah suatu tindakan yang ujug-ujug. Pasti ada dosa kecil sebelumnya yang mengawali cerita. Hingga bertahap naik pada perilaku dosa yang lebih besar. Artinya, perbuatan satu dosa akan mengantarkan pada dosa-dosa yang lain.

Menyepelekan

Yakni menganggap kecil dosa yang diperbuat. Padahal, asal kita tahu, dosa yang kita anggap kecil itu akan dicatat besar oleh Allah sebab meremehkan itu tadi. Begitu pula sebaliknya, dosa yang dianggap besar, sedang ia kategori dosa kecil, sehingga pelaku merasa sangat terpukul karenanya, akan dihitung kecil disisi Allah.

Kalau kita telisik, malapetaka meremehkan suatu dosa itu bermula dari kebiasaan mengerjakannya, dan yang seperti ini ternyata akan sangat berdampak dalam memekatkan hati sang pelaku. Pun demikian sebaliknya.

Sabda Nabi Saw. :

المؤمن يرى ذنبه كالجبل فوقه يخاف أن يقع عليه، والمنافق يرى ذنبه كذباب مر على أنفه فأطاره

Artinya: “Seorang mukmin sejati akan menganggap dosanya laksana gunung yang melayang di atasnya. Maka ia takut kalau-kalau gunungan dosa itu menimpa dirinya. Sedang orang munafik mengira dosanya seperti seekor lalat yang terbang di depan hidung, lalu ia membuatnya terbang lagi (hanya lalu).”

Bangga dengan Dosa

Seakan dijadikan sebagai sebuah kompetisi untuk berbuat dosa dan membanggakannya di hadapan orang lain. Seperti ungkapan “ Coba lihat, dia kupermalukan di depan umum.”

Nyaman dengan Aib yang Telah ditutupi Allah

Sehingga membuatnya semakin menjadi-jadi dalam bermaksiat kepada-Nya, padahal justru itulah yang melenakannya. Pundi-pundi dosa akan terus bertambah tanpa disadari. Ini yang dinamakan istidraj, dilulu.

Membeberkannya pada khalayak

Pada umumnya, kita tidak akan pernah rela aib kita akan terkuak di muka publik. Sungguh, mungkin tidak ada yang akan mau mencium tangan kita, berbincang akrab dengan kita atau bahkan sekadar bertatap muka, jika Allah tidak menutupi aib dan dosa yang pernah kita perbuat. Dengan menampakkan dosa pada publik, berarti membuka tabir dan sekat Allah yang seharusnya wajib kita jaga, jangan sekali-kali merobeknya.

Dilakukan oleh Seorang Tokoh Panutan

Orang dengan jamaah dan pengikut banyak akan sangat beruntung jika perbuatan baiknya ditiru oleh mereka. Namun, jika perilakunya menyimpang dan mengandung dosa, juga akan menjadi jariyah dosa jika sampai tampak oleh seorang yang mengidolakannya lalu meniru. Seperti yang tertuang dalam hadis :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

Artinya: “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya. Tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Maka setiap gerak-gerik seorang public figure bisa bernilai dosa dan pahala yang berlipat-lipat andai sampai ditiru pengikutnya. Terakhir, ada sebuah kisah menyayat dari seorang pendosa yang tengah berusaha berubah dan taubat, setelah bertahun lamanya ibadah, tak kunjung juga ada tanda diterima. Akhirnya nabi yang diutus pada zaman itu bertanya kepada Allah, hal ihwal apakah penyebabnya?.

Allah berfirman kurang lebih seperti ini, “ Aku bisa saja mengampuni dosanya, namun bagaimana dengan dosa orang-orang yang mengikuti langkahnya dalam kesesatan?.” Semoga dalam setiap nafas kita ada jalan hidayah dan pertolongan dari-Nya, amin. Sekian. Allahu A’lam [].

Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar

Baca juga:
TAUBAT SEBELUM TERLAMBAT

Simak juga:
Mengamalkan Ilmu

Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar
Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Penulis Hafidz Alwy

Sebenarnya disadari atau tidak, dua prinsip yang sangat menentukan langkah umat Islam dalam menjalani kehidupannya, di mana kedua hal ini telah berhasil merubah tatanan dalam kehidupan umat Islam sendiri. Pertama adalah prinsip kekayaan, kedua adalah prinsip pengetahuan.

Selama ini persepsi terhadap kekayaan sudah lebih kepada pandangan negatif. Di mana kekayaan adalah sumber malapetaka, penghalang seorang manusia menjadi hamba Tuhannya karena lebih menghambakan diri pada kekayaan. Dan sederet stigma negatif yang dialamatkan pada kekayaan yang kesemuanya berputar pada kekayaan adalah mudarat.

Sehingga yang terjadi adalah jika ingin berada di jalan yang benar adalah dengan menjauhi kekayaan, menghindar dari gelimang harta dunia. Maka tidak heran jika seseorang yang berpandangan demikian, hidupnya menjauhi segala hal yang menjurus kepada kekayaan. Seperti bekerja keras, banting tulang, belajar ekonomi dan sebagainya. Otomatis kehidupannya pun jauh dari kekayaan.

Salahkah hal itu?

Suatu prinsip yang terbentuk akan tergantung bagaimana suatu pemahaman didapat. Mereka yang berprinsip bahwa kekayaan merupakan sesuatu yang harus dijauhi biasanya memahami bahwa dalam Islam terdapat dorongan untuk menjauhi dunia dengan hiruk pikuknya karena menjadi sumber kemudaratan. Juga dengan melihat keadaan para panutan umat yang hidup dengan sederhana dan tidak begitu menghiraukan materi dunia.

Namun kiranya perlu meninjau kembali pada pemahaman yang didasarkan pada sikap panutan terdahulu terhadap kekayaan, benarkah mereka menjauhi materi duniawi sehingga menjauhi juga pada kekayaan?

Pertama, adalah yang paling jelas yaitu anjuran yang berulang kali dalam mendermakan harta kekayaan. Dengan anjuran yang paling pokok adalah zakat yang mana telah menjadi salah satu dari lima pilar rukun Islam. Zakat sangat jelas merupakan ajaran yang memerintahkan kepada umatnya untuk membelanjakan hartanya.

Kedua, terdapat ratusan ayat yang mengenai perbuatan baik. Anjuran untuk berbuat baik, beramal salih, beraktifitas yang berkualitas serta imbalan untuk semua itu baik di dunia maupun di akherat. Betapa hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Islam menghendaki segala perbuatan yang bermanfaat, baik dan bagus dalam kehidupan ini.

Ketiga, kiranya perlu menggambarkan bagaimana sikap Rasulullah dan para sahabatnya terhadap harta. Apakah menjauhi atau malah menganjurkan?

Rasulullah bersabda : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Betapa hal ini menunjukkan bahwa pemberi adalah anjuran. Namun jika tidak memiliki apa yang diberikan bagaimana ia akan mendapatkan kebaikan tersebut. Kemudian juga dalam sabdanya : “Sebaik baiknya harta adalah harta baik di tangan orang yang baik.”

Suatu ketika, Rasulullah sedang berada di masjid ketika ada utusan dari daerah Khaibar membawa hasil dari aset beliau. Dengan membawa sejumlah uang sekitar dua milyar. Lantas Rasulullah menggelar semuanya itu di samping beliau dan membagi-bagikan kepada orang-orang sampai tidak tersisa satu kepingpun sebelum beliau masuk rumahnya. Begitu pula ketika Rasulullah memberikan kawanan kambing seluas lembah gunung kepada salah satu sahabat Rasul. Tentu ketika kita melihat bagaiamana dermawannya Rasulullah dan jumlah yang beliau dermakana, betapa menunjukkan bahwa beliau sangat kaya raya.

Kemudian bagaimana dengan para sahabat Rasulullah? Abdurrahman Ibn Auf berkata : “Betapa bagusnya harta ini, dengannya ku bisa menyambung kerabatku, dengannya pula aku mendekatkan diri kepada Tuhanku.” Begitu pula Zubair Ibn Awwam berkata : “Sesungguhnya dalam harta terdapat perbuatan-perbuatan baik, menyambung sanak keluarga, mendermakan untuk menjunjung agama. Begitu pula menstimulus budipekerti yang baik. Pada saat yang sama dalam harta terdapat kemuliaan dunia dan derajatnya. ”

Suatu ketika Umar ibn Khattab berkata : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang lantas ia membuatku kagum. Kutanyakan apa ia memiliki pekerjaan ? Jika dijawab bahwa ia tidak memiliki pekerjaan, maka hilanglah kekagumanku.”

Ia juga menyerukan kepada para fakir miskin : “Wahai para fakir miskin, angkat kepala kalian. Sesungguhnya sarana sudah sangat jelas. Berlomba lah dalam kebaikan, jangan kalian menjadi beban bagi umat Islam.”

Juga kita melihat bahwasannya kehidupan sahabat Rasulullah yang tercitrakan sebagai hidup yang sederhana ternyata tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki harta benda. Bahkan sebaliknya, perputaran perekonomian mereka sangatlah besar. Sebagai contoh :

Umar Ibn Khattab menikahi Umm Kultsum Binti Ali dengan mahar 40.000 (lebih dari 1 milyar, dengan asumsi 1 dirham 3,7 gram perak). Begitu pula Abdurrahman Ibn Auf menikahi seorang muslimah dari warga Anshar dengan mahar 30.000 (hampir satu milyar). Ada salah satu sahabat nabi yang suatu hari merasa gundah gulana karena hartanya menumpuk. Lantas ia mengadukan hal itu kepada istrinya. Oleh istrinya disuruh membagi-bagikan kepada kaumnya. Benar saja, ia membagikan hartanya. Selesai melakukan itu, ia menanyai kepada pegawainya berapa jumlah uang yang keluar? Ternyata 400.000 (kurang lebih 10 milyar)

Begitu pula jika kita lihat jumlah harta yang diwariskan oleh para sahabat ketika meninggal. Ibnu Mas’ud mewariskan 70.000 begitu pula Zubair ibn Awam mewariskan 500.000 ketika meninggal. Bahkan disebut-sebut warisan Umar Ibn Khattab mencapai nilai triliyun.

Bagaimana dengan anjuran miskin versi “mereka” ?

Sebenarnya ketika prinsip kesederhanaan dan menghindari kekayaan ketika diteliti lebih lanjut, selain tidak selalu benar, namun juga membawa kepada pola hidup yang tidak ideal menurut Islam itu sendiri. Karena jika prinsip antipati terhadap kekayaan ini sampai menjadi suatu budaya bagi masyarakat, tentu akan banyak mengalami kemudaratan.

Bagaimana tidak, jika suatu daerah menjadi dominan kemiskinan maka tidak menutup kemungkinan akan mengalami bencana. Dan itu sangat dijauhi oleh Islam. Dalam Islam sendiri kemiskinan adalah momok yang harus diberantas. Dengan bukti adanya kewajiban zakat, anjuran yang berulang-ulang dalam mendermakan harta dan peduli terhadap sosial.
Sehingga sikap yang anti kekayaan ini tidak bisa dengan begitu saja menjadi prinsip kehidupan. Karena bagaimanapun juga dengan kekayaanlah suatu perjuangan bisa ditegakkan, suatu misi bisa dilaksanakan.

Sehingga pandangan pribadi saya. Kekayaan adalah sesautu yang netral. Tidak bisa disebut sumber petaka juga tidak bisa dikatakan harus dikejar hingga ajal menjemput. Kekayaan adalah sarana. Tergantung yang menggunakannya apakah mau diarahkan kepada kebaikan atau kejelekan.

Islam mengajak untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang benar, yang mana tujuan akhirnya bukanlah untuk dipergunakan kesenangan semata. Namun lebih dari itu, sisi kemanusaan, sosial, saling membantu yang mana semua itu adalah tujuan yang mulia dan sangat ditekankan oleh Islam.

Kairo, Pasca Ujian Musim Panas 2019.

Koordinator LBM 2018-2020, Koord. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin tahun 2012

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Baca juga:
KISAH HIKMAH: ANTARA IBADAH DAN KEKAYAAN

Simak juga:
Mengamalkan Ilmu

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?
SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Isra’ Mi’raj: Peristiwa Agung Rasulullah SAW

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau. Seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Kala itu, Rasulullah saw. ditinggal oleh pamannya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah. Sepeninggal kedua orang istimewa ini, kehidupan Rasullah saw. kerap dilanda kesedihan dan dihujani berbagai duka yang amat perih. Akan tetapi, yang paling membuat Nabi bersedih adalah tertutupnya pintu-puntu dakwah untuk menyebarkan Islam. Pasca meninggalnya kedua orang ini pula, di mana pun beliau menyerukan Islam, di situ pasti terdapat penolakan. Semua orang kini berani memusuhi Rasulullah saw. secara terang-terangan. (Lihat: Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hlm. 97)

Penyejuk

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqaddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang beliau alami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selama ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqaddas (Jerusalem). Lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah Ash-Shakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian). (Lihat: Abu Ja’far Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, XVII/333)

Kronologi

Kronologi peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebenarnya sudah digambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surat Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ .هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (bagian) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini menjadi bidikan paling fundamental dan yang paling berperan. Melalui perjalanan Isra’ dan Mi’raj, Allah memberi kesempatan kepada Rasulullah saw. untuk menyaksikan dan merasakan sendiri pengalaman-pengalaman yang maha luar biasa, yaitu melampaui teori-teori umum yang berlaku di bumi dan langit. Melihat ayat-ayat kebesaran Allah, menjelajahi tujuh lapis langit dan luasnya jagad raya, menyaksikan sendiri Baitul Makmur, Sidratul Muntaha, surga, neraka, al-Kursy, Mustawa, permadani agung (Rafraf), al-‘Arsy, dan yang lainnya.

Lebih lanjut, Fakhruddin Ar-Razi—seorang pakar tafsir terkemuka—memberikan kesimpulan, “Firman Allah swt. ‘Agar kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat kekuasaan Kami,’ menunjukkan bahwa fungsional dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj secara khusus adalah kembali kepada Nabi Muhammad SAW. ” (Lihat: Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, X/122)

Waktu Peristiwa Itu Terjadi

Mengenai waktu kapan terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj, para ulama masih berselisih pendapat. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun ke sepuluh terhitung sejak masa kenabian. (Lihat: Badruddin Al-‘Aini, ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, XVII/20)

Dalam sejarah, Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah bagi perjalanan umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu tempuh satu malam.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi arak dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu. Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yang pada mulanya, sholat yang diwajibkan berjumlah lima puluh rakaat.

Setelahnya

Keesokan paginya, Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang telah beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah. Orang-orang kafir Mekah pun segera menyebarluaskan berita yang mereka anggap sebagai cerita palsu tersebut kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqaddas di Palestina, beberapa orang kafir menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqaddas pada malam itu, tidak pernah terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqaddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqaddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqaddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir.

Berkenaan dengan hal itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللّٰهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr Ismail, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku. Maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu.” (Lihat: Shahih Al-Bukhari, V/52)

Abu Bakr

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka mulanya menyangka bahwa sahabat terdekat Rasulullah SAW ini akan menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyata Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu, aku pasti percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya. ” (Lihat: Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, h. 108-109)

Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana yang dilakukan nabi Ibrahim AS. (Lihat: Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bari, I/465)

Pelajaran Berharga

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. []waAllahu a’lam

Baca juga:
ISRA MIKRAJ DAN MUSIK: EKSPRESI CINTA KEPADA SANG BAGINDA

Follwo juga:
@pondoklirboyo