Category Archives: Artikel

Tahfidz Sebagai Kontributif Pemahaman

Tahfidz Sebagai Kontributif Pemahaman

Menghafal sudah menjadi budaya kaum Salafussholih. Menghafal bukan metode pembelajaran yang menyandera akal dan harus paten akan ketetapan itu. Menghafal menjadikan performa gairah kita dalam belajar lebih giat. Membuat kita berusaha untuk men-takror (mengulang-ulang) dalam memuthola’ah, sehingga kita bisa dengan cepat memahami kandungan isi yang sedang kita pelajari.

Salah satu kriteria yang paling utama untuk dihafalkan adalah matan. Sebab, matan merupakan pijakan pertama sebelum kita memperlebar pembahasan. Di dalamnya menggagas susunan pokok pembahasan fan ilmu yang dirangkai seringkas mungkin untuk memudahkan pemahaman. Ia bagaikan pondasi—yang kegunaannya, menopang cabangan-cabangan ilmu lain. Ulama berpendapat dalam Kitab Kaifa Tuhfadzul al-Ilmu:

من حفظ المتون حاز الفنون

“Barang siapa yang menghafal beberapa matan, maka ia akan mendapatkan berbagai macam fan”. (at-Thorfaawi, tt)

Tidak hanya sebatas satu matan saja. Sebab, cabangan ilmu banyak variasinya. Alangkah eloknya jika kita dapat menghafalkan setiap matan dari beragam ilmu yang dianggap penting. Seperti matan aqidah, nahwu shorof—sebagai acuan awal untuk mengetahui nuktah yang berada dalam penulisan berbahasa Arab, matan fiqh, ushul fiqh, qiro’ah dan tajwid, mustolahul hadist, ulumul qur’an dan masih banyak lagi.

Namun, menghafal beberapa matan saja bukan berarti kita menguasai seluruh rangkaian ilmu. Dalam Fatawi As-Subkati al-Islamiyyah dijelaskan: “Menghafal beberapa matan saja tidak cukup bagi seorang pencari ilmu. Diperlukan juga pemahaman dan melihat kembali syarahnya. Karena, banyak kita lihat paraحافظ للمتون  (Penghafal Matan) tetapi tidak mengetahui apa yang terkandung dalam matan tersebut”.

Rasulullah  صلى الله عليه وسلم menyinggung perihal ini:

وقد قال صلى الله عليه وسلم: فرب حامل فقه ليس بفقيه.

“Terkadang orang yang menghafal ilmu fiqih, tidak bisa dinisbatkan sebagai seorang Faqih (Ahli Fiqih)”. (al-Islamiyah, tt)

Hafal dan faham beberapa jenis matan, akan mampu istihdhorul hukmi fi ayyi waktin (menghadirkan hukum setiap saat). Ketika kita ditanya oleh orang lain—di mana pun berada, kita tidak harus bingung membuka kitab atau mencari referensi sebagai argument jawaban kita. Kita bisa langsung menjawabnya dengan tepat tanpa menyimpang dari jalur qoidah yang telah ditetapkan.

Tempat Bersemayamnya Ilmu

Abi Hilal al-‘Askari mengutarakan;

كل علم لا يدخل مع صاحبه الحمّام, فلا تعّده علما

“Setiap ilmu yang tidak bisa masuk bersama pemiliknya ke dalam tempat pemandian, maka tidak dianggap sebagai ilmu”. (al-‘Askari, tt)

Mualif menghendaki penuturannya, bahwa bisa dikatakan berilmu ketika ilmu tersebut bersemayam di dalam hati, yakni ilmu-ilmu yang dihafalkan. Kita bisa membawanya ke mana-mana tanpa takut ada yang melarangnya, walaupun di tempat yang dianggap kotor—kamar mandi, misalnya. Sebab, kita tidak diperbolehkan memasuki khammam (tempat pemandian) dengan membawa buku.

Pengetahuan yang kita tulis di dalam buku, tidak bisa dianggap sebagai ilmu. Buku hanya sebatas alat penambat tulisan, untuk bisa kita tinjau kembali ketika kita menginginkannya.

Pendapat ini, serupa dengan kisah Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. ketika beliau mengajarkan hadist. Muridnya, tidak diperkenankan untuk menuliskan perkataannya di buku catatan. Namun seketika itu diharuskan untuk menghafalkannya.

خذوا من حيث أخذنا، واحفظوا كما حفظنا، فإنما العلم في الصدور لا في السطور

“Ambillah sesuatu yang saya peroleh dan hafalkan sebagaimana saya menghafal, karena ilmu, bertempat di dalam hati bukan di tempatmu menulis (buku)”. (az-Zuhairi, tt)

Tahfidz sebagai kontributif pemahaman

Baca juga: Kompetisi Perspektif Ulama Salaf
Tonton juga: Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru

Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru |
Seseorang tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya, tanpa mau menghormati ilmu dan guru. Karena ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang telah sukses, ketika mereka menuntut ilmu itu sangat menghormati ilmu dan gurunya. Dan orang-orang yang tidak berhasil dalam menuntut ilmu, penyebabnya karena mereka tidak mau menghormati atau memuliakan ilmu dan gurunya.

Ada yang mengatakan bahwa menghormati itu lebih baik daripada mentaati. Karena ada bukti dari sebuah persoalan, bahwa manusia tidak dianggap kufur karena bermaksiat. Tapi akan menjadi kufur ketika tidak menghormati atau memuliakan perintah Allah.

Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata,

اَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِيْ حَرْفًا وَاحِدًا اِنْ شَآءَ بَاعَ وَاِنْ شَآءَ اَعْتَقَ وَاِنْ شآء اِسْتَرَقَّ

“Aku adalah sahaya (budak) bagi orang yang mengajariku, walaupun hanya satu huruf, jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya.”

Ada pula sebuah syair yang berbunyi,

رَأيْتُ اَحَقَّ الحَقِّ حَقَّ المُعلِّمِ × وَاَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

لَقَدْ حَقَّ اَنْ يُهْدَى اِلَيْهِ كَرَامَةً × لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ اَلْفُ دِرْهَمِ

“Tidak ada hak yang lebih besar kecuali haknya guru. Ini wajib dipelihara oleh setiap orang Islam. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar, walau hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham sebagai tanda hormat padanya.”

Sebab guru yang mengajarmu satu huruf yang kamu butuhkan dalam agama, “Dia ibarat ayahmu dalam agama.”

Imam Asy-Syairazy berkata, “Guru-guruku berkata, ‘Barang siapa yang ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fikih. Dan memberi sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi orang alim, maka cucunya yang akan menjadi orang alim.”

Termasuk menghormati guru ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izinnya. Juga tidak banyak bicara di hadapan guru. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang lelah atau bosan. Harus menjaga waktu. Jangan mengetuk pintunya, tapi sebaliknya, menunggu sampai beliau keluar.

Dengan demikian, seorang pelajar harusnya mencari kerelaan hati (ridho) guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan ia marah, mematuhi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, karena tidak boleh taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah. Juga termasuk menghormati guru adalah menghormati putra-putranya, dan orang-orang yang ada hubungan kerabat dengannya.

Disarikan dari kitab Ta’lim Muta’alim

Baca juga:
CARA MEMILIH ILMU, GURU, DAN TEMAN

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru
Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru

Cara Memilih Ilmu, Guru, dan Teman

Dalam mencari ilmu, seseorang seharusnya memilih ilmu pengetahuan yang paling baik atau paling cocok dengan dirinya. Pertama-tama yang perlu dipelajari oleh seseorang adalah ilmu yang paling baik, dan yang diperlukannya dalam urusan agama pada saat itu. Kemudian baru ilmu-ilmu yang diperlukannya pada masa yang akan datang.

Ilmu tauhid harus didahulukan, supaya santri mengetahui sifat-sifat Allah berdasarkan dalil yang otentik. Karena imannya orang yang taklid (hanya mengikuti saja) tanpa mengetahui dalilnya, sekalipun sah, tetapi ia berdosa karena meninggalkan istidlal (mencari dalil petunjuk).

Seseorang yang mencari ilmu, harus mempelajari ilmunya para ulama salaf (baca: ilmu agama). Para ulama berkata, tetaplah kalian pada ilmunya para nabi (ilmu agama). Dan  apabila umat Muhammad sudah suka berbantah-bantahan di antara mereka, itulah tanda akan datangnya hari kiamat. Tanda bahwa ilmu fiqih semakin menghilang. Demikian menurut hadis Nabi.

Adapun cara memilih guru atau kiai carilah yang alim, yang bersifat wara’, dan yang lebih tua. Sebagaimana Abu Hanifah memilih Syekh Hammad bin Abi Sulaiman, karena beliau (Hammad) mempunyai kriteria atau sifat-sifat tersebut. Maka Abu Hanifah mengaji ilmu kepadanya.

Abu Hanifah berkata,

قال ابو حنيفة رحمه لله تعالى وَجَدْتُهُ شَيْخًا وَقُوْرًا حَلِيْمًا صَبُوْرًا وقال ثَبَتُّ عِنْدَ حَمَّاد بنِ سُلَيْمَان فَنَبَتُّ

“Beliau adalah seorang guru berakhlak mulia, penyantun, dan penyabar. Aku bertahan mengaji kepadanya hingga aku seperti sekarang itu.”

Abu Hanifah berkata pula, “Aku pernah mendengar seorang ahli hikmah dari negeri Samarkan berkata, ‘Ada salah seorang penuntut ilmu bermusyawarah denganku ketika hendak pergi ke Bukhara untuk menuntut ilmu,’.”

Mencari ilmu adalah perbuatan yang luhur, dan perkara yang sulit, maka bermusyawarah atau minta nasihat kepada orang alim, merupakan hal yang penting dan suatu keharusan.

Demikianlah hendaknya setiap pelajar seharusnya bermusyawarah dengan orang alim, ketika akan pergi menuntut ilmu atau dalam segala urusan. Karena Allah Ta’ala menyuruh Nabi Muhammad SAW supaya bermusyawarah dalam segala urusan, padahal tiada seorang pun yang lebih pandai dari Beliau. Dalam segala urusan, beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabat, bahkan dalam urusan rumah tangga pun, beliau selalu bermusyawarah dengan istrinya. Sayidina Ali berkata, “Tak akan binasa orang yang mau berunding.”

Ketahuilah pula, bahwa kesabaran dan ketabahan atau ketekunan adalah pokok dari segala urusan. Tapi jarang sekali orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, dalam sebuah syair disebutkan:

لِكُلٍّ اِلَى شَأْوِالْعُلَى حَرَكَاتُ * وَلَكِنْ عَزِيْزٌ فِيْ الرِّجَالِ ثَبَاتُ

“Setiap orang pasti mempunyai hasrat memperoleh kedudukan atau martabat yang mulia, namun jarang sekali orang yang mempunyai sifat sabar, tabah, tekun, dan ulet.”

Disarikan dari kitab Ta’lim Muta’alim

Baca juga:
MENTIRAKATI KEMASLAHATAN UMAT

Follow juga:
@pondoklirboyo

Cara Memilih Ilmu Guru dan Teman
Cara Memilih Ilmu Guru dan Teman

KOMPETISI PERSPEKTIF ULAMA SALAF

Kompetisi Perspektif Ulama Salaf

Dunia mengalami kemajuan yang sangat pesat. Modernisasi mengharuskan kita untuk berkompetisi. Kompetisi membikin pekerjaan lebih dinamis dan mampu memberikan dorongan agar terus tergerak maju. Kompetisi membuat inovasi-inovasi baru untuk perubahan dalam peradaban manusia.

Perihal kompetisi ini—ketika membuka fakta di lapangan—seringkali dimaknai sebagai persaingan yang memunculkan gerak tidak sehat. Ini ditenggarai kuatnya sifat serakah yang melekat pada diri seseorang, sehingga ia hanya memikirkan untuk kenyamanan dan kemenangan pribadi maupun kelompoknya. Pembangunan yang ada, hanya akan membuat kemajuan di satu pihak dan merugikan dipihak yang lain.

Said Buthi Ramadhan dalam Manhaj Hadhorotil Insaniyyah, mengatakan: “Tak henti-hentinya kita temukan sebuah bangsa yang melebarkan pembangunan peradaban dengan cara demikian. Ia akan menyibukkan satu tangannya untuk mengembangkan peradaban dan segala faktor penyebabnya. Dan di waktu yang sama, bangsa tersebut mengulurkan tangan yang lain untuk menyalakan api permusuhan dan peperangan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain.”

Pendapat Said Buthi di atas menggambarkan; jika ada bangsa dalam keadaan aman dan tidak ada sedikit yang menampiknya (red: keadaan yang tenang dan tidak terjadi permasalahan apapun), pasti ada negara yang sedang mengalami peperangan.

Contohnya saja bangsa-bangsa dari negara manapun, akan terus saling berlomba-lomba menciptakan alat paling canggih dalam segala hal. Tidak kurang semisal ingin menciptakan pengghancur massal atau nuklir. Dengan pengetahuan dan keilmuan, hal tersebut bisa diciptakan.

Tetapi ketika penemuan telah wujud, jika didiamkan saja, atau tidak diuji coba, bagaimana bisa mengetahui kemanfaatan, atau sekedar melihat dan mengetahui sebatas mana pencapaian itu. Maka Ia menjadikan daerah lain sebagai tempat uji coba. Sebab, ia juga tidak sudi dan tidak mau ketika negaranya hancur.

Kompetisi yang Diinginkan Setiap Insan

Kecenderungan kepada dunia yang menggelora, menyebabkan kenyataan yang diwujudkan manusia tidak seperti asal penciptaannya. Meraka salah pengertian bahwa dunia adalah hal yang mereka cari. Padahal, tidak seperti itu.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى (النساء :77)

“Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (An-Nisa: 77)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ  (197) (آل عمران : 196-197)

“Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara. Kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (Ali-Imran: 196-197)

Maka, perlu kembali perenungan dengan lebih hikmat untuk mewujudkan bahwa kita memang benar-benar layak untuk dijadikan khalifah di atas muka bumi ini.

Kemajuan peradaban manusia dan keharmonisan yang ada di dalamnya, bisa dengan mudah kita dapat melalui kompetisi yang dibarengi tidak hanya dengan akal sehat, tetapi juga dengan kerja sama. Bukan disertai dengan syahwat (nafsu) atau dengan rasa dendam (marah).

Seperti yang dipaparkan oleh Imam Sulaiman bin Umar al-Ajily dalam Tafsir Futuhatil Ilahiyyah “Sesungguhnya dalam setiap jiwa manusia, ada tiga perkara yang paling kuat dalam menentukan arah peradaban. Di antaranya; syahwat, marah, dan akal. Dua perkara yang awal, hanya akan menghasilkan kemunduran dalam kepribadian manusia. Sedangkan urutan yang terakhir, mengantarkan kesempurnaan dan keutamaan dalam kehidupan manusia.”[]

Kompetisi Perspektif Ulama Salaf

Simak ulasan: KH. Anwar Manshur | Rahasia agar kita menjadi orang alim sampai tujuh turunan
Baca juga: Lirboyo, Pesantren Saaf Inspiratif Indonesia

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah |
Dikisahkan dari kitab Kifayatul Awam buah karya dari Syaikh Muhammad Fudhali, bahwa Nabi Musa As. pernah sakit gigi dan mengaduakn hal ini kepada Allah. Mendengar keluhan Nabi Musa, Allah memerintahkannya untuk mengambil sejenis rumput di tempat yang telah ditentukan untuk diletakkan di atas giginya yang sakit. Nabi Musa melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Tak lama kemudian, rasa sakitnya hilang seketika.

Di lain hari, sakit gigi Nabi Musa kambuh lagi. Tanpa pikir panjang, Nabi Musa langsung mengambil rumput yang dahulu pernah dikabarkan oleh Allah. Bukannya sembuh, sakit gigi yang diderita Nabi Musa justru bertambah parah.

Setelah itu, Nabi Musa mengadu kepada Allah dan memohon pertolongannya. Nabi Musa berkata: “Wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, bukankah engkau pernah memberitahuku untuk mengobati gigiku yang sakit dengan rumput itu? Tapi mengapa sekarang rumput itu tidak dapat menyembuhkanku?”

Mendengar pengaduan Nabi Musa Allah mengatakan: “Wahai Musa, akulah yang memberi kesembuhan, memberi kesehatan, memberi manfaat dan memberi malapetaka. Dulu, ketika engkau sakit engkau langsung mengingatku dan meminta tolong kepadaku. Maka aku hilangkan penyakitmu. Namun saat engkau merasa kesakitan lagi, engkau tidak segera berharap kepadaku, engkau justru meminta pertolongan pada rumput itu. Karena itulah aku tidak mengehendaki rumput itu bermanfaat untuk gigimu.”

***

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” (QS. Al-Ambiya: 83).

Setiap kali sakit, kita selalu saja buru-buru menyalahkan takdir, atau pun menangis sesenggukan karena tidak tahan dengan apa yang kita rasakan. Esoknya, kita akan meluncur ke rumah sakit dan meminta obat di sana agar lekas sembuh. Padahal sedari awal kita menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Kalau pun setelah meminum obat kita bisa sembuh, itu karena Allah menghendaki kesembuhan lewat obat tersebut.

Jika kita terbiasa melupakan Allah di setiap ujian dan musibah yang diberikan oleh-Nya, kita seakan meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah Allah. Yang memberi kita kesembuhan adalah obat yang diberikan oleh dokter.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan jangan kalian berobat dengan yang haram.”

Renungan

Perlu dicatat, bahwa yang menurunkan penyakit adalah Allah. Lalu kenapa saat kita terkena musibah justru berharap kepada selainnya?

Seharusnya kita lebih dulu mengadukan hal ini kepada Allah dan meminta jalan terbaik agar kita diberi kesembuhan. Setelah itu, barulah ia berobat. Bukan karena kita berharap pada seorang dokter agar bisa menyembuhkan kita. Namun semata-mata karena Allah memerintahkan kita untuk berobat agar kita diberi kesembuhan.

Pandangan seperti ini akan membuat kita terbiasa untuk menjadikan setiap musibah yang datang atau menerpa kita sebagai wasilah untuk semakin dekat pada-Nya. Dalam artian ketika kita diberi cobaan berupa rasa sakit atau pun yang lainnya, Allah satu-satunya Dzat yang dimintai pertolongan. Tidak ada yang lain.

Setelah kita menyadari bahwa musibah tersebut datang dari Allah dan juga sudah berobat ke tempat yang semestinya, sudah sepantasnya bagi kita untuk tawakal atau pasrah pada takdir yang sudah diskenariokan oleh Allah. Ketika diberi kesembuhan berarti Allah ingin agar kita lebih giat dalam bekerja atau pun beribadah. Dan ketika belum juga diberi kesembuhan, mungkin karena Allah belum mengizinkan kita untuk segera sembuh dan kembali menjalani aktivitas seperti biasanya atau mungkin karena Allah mendengar do’a-do’a kita, atau Allah ingin  mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sabar.

Karena semua penyakit datang dari Allah dan setiap kesembuhan juga datang darinya, maka hanya dengan seizinnya jugalah penyakit tersebut akan sirna.[]

*Penulis bertempat tinggal di Pondok HMP kamar M 35 asal Nganjuk.

Baca juga:
TAWAKAL : SEBUAH PENGHAMBAAN DIRI KEPADA ALLAH

Simak juga:
[TUTORIAL] PENDAFTARAN SANTRI/SISWA BARU | PSSB ONLINE

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah
Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah