Category Archives: Artikel

Berkenalan dengan Ilmu Mantiq

Ilmu Mantiq (logika) disebut juga Mi’yar al-‘Ulum (standar beberapa ilmu) dan ilmu Mizan (ilmu pengukur). Cabang ilmu ini dinamakan mantiq, karena secara bahasa, ‘mantiq‘ memiliki keterkaitan dengan tiga
pemaknaan :

  1. Beberapa pemahaman yang bersifat menyeluruh (al-idzrakat al-kulliyat);
  2. Kemampuan berpikir (al-quwwah al-‘aqilah), sebagai sumber lahirya beberapa pemahaman yang bersifat menyeluruh.
  3. Penyampaian (pengucapan) atas beberapa pemahaman tersebut. [Lihat: Al-Malawi, Syarh as-Sullam, hlm. 31]

Sedangkan pengertian ilmu mantiq secara istilah diartikan sebagai berikut:

أَلَةٌ قَانُوْنِيَّةٌ تَعْصِمُ مُرَاعَتُهُ الذَّهْنَ عَنِ الْخَطَاءِ فِى فِكْرِهِ

“Suatu alat yang berisi aturan-aturan di mana dengan menjaganya kita dapat melindungi hati dari kesalahan berpikir.” [Lihat: Al-Ahdlari, Syarh al-‘Allamah al-Ahdlari ‘ala as-Sullam, hlm. 24]

Manfaat mempelajari ilmu Mantiq di antaranya :
a. Melindungi hati (pikiran) agar tidak terjerumus pada kesalahan pola berpikir;
b. Sebagian Ulama mengatakan, apabila ilmu ini kita kuasai dan kita terapkan maka ilmu ini bisa membantu membedakan antara karangan shahih (benar) dan fasid (rusak).

llmu ini pertama kali muncul di negara Yunani dan sebagai pencetusnya adalah Aristoteles. Tema pembahasan dalam ilmu ini mengenai pengetahuan-pengetahuan yang bersifat tashawwur (memahami makna tanpa penyandaran hukum) dan tashdiq (memahami penyandaran hukum).

Sumber dari ilmu ini berasal dari akal manusia. Sedangkan pembahasan di dalamnya berkisar mengenai keputusan-keputusan yang bersifat penalaran, yang mengulas tentang sifat al-mu’arrifat (beberapa definisi), al-aqyisat (beberapa qiyas), dan hal-hal lain yang terkait dengan keduanya.

Ilmu ini lebih utama dari pada cabang ilmu lain karena memiliki aspek kegunaan yang bersifat umum. Setiap cabang ilmu berisi tashawwur (konsepsi) atau tashdiq (legalitas), sedangkan ilmu Mantiq menggabungkan keduanya. Meskipun ketika kita pandang dari aspek lain, sebagian cabang ilmu juga lebih unggul dari pada ilmu Mantiq.

Dengan demikian, memandang dari tema pembahasannya, cabang ilmu ini bersifat menyeluruh (kulli) dibandingkan dengan cabang ilmu lain. []waAllahu a’lam

Baca juga:
33 TAHUN MONDOK ‘HANYA’ DAPAT 8 ILMU?

STUDI ILMU BALAGHOH

Simak juga:
Kisah Kafur Seorang Budak yang Diangkat Menjadi Raja

# BERKENALAN DENGAN ILMU MANTIQ
# BERKENALAN DENGAN ILMU MANTIQ

Sekilas Tentang Kitab Fathul Wahhab

Fathul Wahhab merupakan kitab yang sudah familiar di kalangan masyarakat pesantren. Kitab fikih tingkat lanjut ini adalah salah satu karya agung Syaikh Zakaria al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama terkemuka mazhab Syafi’i.

Kitab yang memiliki nama lengkap “Fath al-Wahhab bi Syarhi Manhaj ath-Thullab” ini merupakan Syarah (penjelas) dari karya Syekh Zakaria al-Anshari sebelumnya, yakni Manhaj ath-Thullab yang merupakan ringkasan dari kitab Minhaj Ath-Thalibin karya Imam An-Nawawi.

Sebagaimana telah beliau dalam mukadimah kitab Fathul Wahhab, salah satu hal yang mendasari Syekh Zakaria al-Anshari menulis kitab ini adalah permintaan sebagian muridnya agar ia menulis karya yang lebih memperluas kitab Manhaj ath-Thullab. Sebuah karya yang diharapkan mampu mengurai kata, memperjelas maksud, dan menyempurnakan penjelasan informasi yang ada dalam kitab Manhaj ath-Thullab.

Secara umum, pokok pembahasan yang ada dalam kitab Fathul Wahhab sama dengan kitab-kitab fikih yang lain. Hanya saja, metodologi penulisan yang digunakan Syekh Zakaria al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab cenderung lebih komprehensif. Misalkan pada setiap bab pembahasan, Syekh Zakaria al-Anshari berusaha mengurai maknanya, baik dari aspek bahasa maupun istilah, mencantumkan dalil secara umum, mengurai alur pembahasan secara sistematis, dan memaparkan pendapat ulama Madzhab Syafi’i terkait isu yang beliau bahas.

Kehadiran kitab Fathul Wahhab sebagai literatur fikih Mazhab Syafi’i berhasil mencuri perhatian para ulama. Sehingga wajar, sebagian ulama pun membuat komentar (Hasyiyah) atas kitab ini, di antaranya adalah Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj karya Syekh Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H) dan Hasyiyah Al-Bujairami ‘ala al-Manhaj karya Syekh Sulaiman al-Bujairami (w. 1221 H), dan lain-lain. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENGENAL AL-ASYBAH WA AN-NADHAIR: KITAB KAIDAH FIKIH FENOMENAL KARYA IMAM JALALUDDIN AS-SUYUTHI

Simak juga:
Kisah Seorang Budak yang Diangkat Menjadi Raja

# Sekilas tentang Kitab Fathul Wahhab
# Sekilas tentang Kitab Fathul Wahhab

Tahun Baru dan Citra Buruk Agama

Penulis: Hafidz Alwy

Penghujung tahun seperti ini, biasanya muncul ‘fatwa’ bahwa perayaan tahun baru dilarang oleh agama Islam. Alasannya macam-macam. Di antara yang paling sering diujarkan ialah bahwa hal tersebut merupakan bagian dari perbuatan orang non-muslim yang tidak diteladani oleh Nabi.

Jika sekadar pendapat untuk diyakini sendiri, mungkin tidak bermasalah. Namun ‘selorohan’ tadi menjadi berbahaya jika mengucapkan selamat tahun baru dijadikan ukuran bahwa si penutur tidak lagi menjalankan agama dengan benar.

Berdebat panjang lebar tentang hal ini hanya akan mencitrakan bahwa kita, sebagai muslim, antipati terhadap kemajuan zaman. Keyakinan adanya jurang yang sangat lebar antara kebudayaan kita dan kultur liyan, di mana ketika jurang tersebut terlampaui, berarti kita sudah meninggalkan ajaran. Agama hanyalah fobia maya yang diciptakan kelompok-kelompok berkepentingan. Sehingga, mewajibkan pendapat perkara khilafiah kepada orang lain seperti tahun baru merupakan bahan murahan yang berujung—bahwa Islam antipati terhadap segala yang beraroma modern, kemajuan, eksklusif dan jaga jarak. Ini adalah kesalahan fatal seorang yang beragama. Ia tidak mengetahui apa itu hakikat agama yang dianutnya. Atas sebab ketidakpahaman inilah, kadang ada di antara kita yang memperjuangkan sesuatu namun secara tak sadar, kita sedang menghancurkan.

Beberapa fobia atas budaya liyan seperti itu sering dialami oleh mereka yang tidak percaya diri dengan peradaban sendiri. Ketakutan akan hegemoni peradaban Barat, muncul dari jiwa yang sebenarnya kalah dari persaingan global. Sikap seperti ini akan memicu eksklusivitas dan pada akhirnya akan memunculkan gerakan radikalisme dengan melakukan aksi teror. Mereka menganggap yang berseberangan dengan mereka adalah musuh dan harus dimusnahkan.

Budaya Global

Menurut hemat saya, merayakan tahun baru adalah suatu laku yang tidak ada kaitannya dengan agama manapun. Meski ada yang mengatakan bahwa pada mulanya ia berawal dari kalangan Nasrani. Namun seiring dengan berjalannya waktu, laku tersebut menjadi budaya global yang tidak mencirikan golongan manapun. Tahun baru sudah menjadi bagian dari budaya modern masyarakat dunia.

Secara mikro, apa yang sedang kita bahas hampir sama dengan fenomena pakaian berdasi. Sewaktu Belanda menjajah Indonesia, dasi merupakan model pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Ini ciri khas mereka. Saat itu, siapa pun yang berpakaian serupa—akan dianggap sebagai ‘Londo’. Seiring berjalannya waktu, pakaian berdasi merupakan pakaian modern dan tidak merefleksikan kalangan manapun. Ini pertama.

Kedua, tahun baru bukanlah (yang oleh sebagian orang dianggap sebagai) budaya golongan fasik dan kotor. Sekarang, ibu kota berbagai negara berikut instansi pemerintahan dan berbagai kalangan mengakui budaya ini. Mereka tidak melakukan sesuatu yang melanggar norma kesopanan. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu kerap terjadi saat tahun baru. Sehingga, pernyataan bahwa tahun baru adalah budaya kotor tidak lagi relevan dalam waktu dewasa ini.

Ketiga, mereka yang antipati terhadap perkembangan dalam aneka rupa, biasanya mempunyai cara pikir tertutup. Bahkan terkait nilai-nilai keagamaan sekalipun.

Islam dan Pencitraan

Suatu ketika, ada seorang Badui datang kepada Rasulullah Saw. ketika beliau sudah hijrah ke Madinah. Seorang Badui tersebut meminta kepada Rasulullah agar diberi sejumlah harta. Lantas Rasulullah memberinya kambing yang sangat banyak (dikatakan bahwa kambingnya memenuhi lembah antara dua gurun). Betapa kaget Badui tersebut mendapat hadiah sebanyak itu. Ia bergegas kembali ke kampungnya dan menyerukan kepada kaumnya: “Wahai kaumku, berimanlah kalian semua dengan Muhammad, sesungguhnya ia memberiku hadiah sebanyak pemberian orang yang tidak takut akan kemiskinan.”

Perilaku Rasulullah tersebut menjadikan si Badui dan kaumnya masuk Islam sebab terpukau dengan akhlak Rasulullah. Itu adalah satu contoh kecil bagaimana Rasulullah membawakan Islam dengan sikap dermawan dan penuh kasih sayang.

Pada masa ketika Islam sedang menapaki kejayaan, orang-orang non-muslim melihat bahwa kalangan muslim adalah mereka yang berkasta lebih tinggi daripada dirinya. Mereka melihat demikian bukan karena golongan maupun keturunan, namun kasta yang terbangun karena indahnya perilaku dan karakter umat Islam waktu itu. Sehingga mereka merasa bahwa jika ingin dirinya hidup mulia sejajar dengan kasta umat Islam, maka mereka haruslah masuk Islam.

Citra di Nusantara

Peristiwa senada tidak hanya terjadi satu-dua kali. Kita mengingat bagaimana masyarakat Nusantara terpukau dengan pedagang-pedagang yang datang dari Timur Tengah maupun Gujarat. Mereka muslim dan terkenal dengan perilaku yang jujur dan menyenangkan mitra bisnisnya. Hal inilah yang membawa penduduk Nusantara memeluk Islam. Mereka terpesona dengan perilaku para saudagar negeri seberang tersebut.

Suatu ketika, saya mendengar bagaimana Kiai Marzuqi Mustamar (tokoh di Jawa Timur) memaparkan peran para pendakwah dahulu dalam menawarkan Islam pada masyarakat setempat. Walisongo yang mendakwahkan Islam mencapai keberhasilan yang gemilang dengan tanpa mengobarkan permusuhan dan pertumpahan darah. Para pedakwah masa lalu mengerti bagaimana cara membungkus Islam dengan kemasan yang menarik sehingga masyarakat dengan sendirinya terpukau dan memutuskan untuk memeluknya.

Tentu kita tidak lupa ketika ada seorang Sahabat yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Suatu ketika, salah seorang Sahabat menjadi imam shalat. Kemudian datang Sahabat lain menjadi makmum. Ketika menyadari bahwa ada orang yang bermakmum kepadanya, Sang imam memanjangkan bacaaan shalat hingga makmum merasa terlalu lama dan lelah. Selepas shalat, makmum tersebut mengadu kepada Rasulullah tentang perilaku imam tersebut.
Mendapati hal itu, Rasulullah memberikan wejangan kepada imam tersebut. “Apakah engkau menjadi seorang yang membuat orang lari (dari ajaran Islam)?”[]

Tentang penulis:
Koordinator LBM 2018-2020, Koord. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin tahun 2012

# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA

Baca juga:
APA YANG MENYEBABKAN MASUK SURGA

Lihat juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA
# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA

Mengenal Al-Asybah Wa An-Nadhair: Kitab Kaidah Fikih Fenomenal Karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi

Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H/1505 M) merupakan ulama yang dikenal produktif dalam berkarya. Sudah begitu banyak kitab karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dari berbagai disiplin keilmuan yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Al-Asybah wa an-Nadhair merupakan salah satu karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam disiplin ilmu kaidah fikih. Meskipun kitab kaidah fikih Mazhab Syafi’i semacam ini sudah banyak ditemukan sebelumnya, namun kitab Al-Asybah wa an-Nadhair ini memiliki beberapa keunggulan. Selain penulisannya lebih ringkas, pemaparan yang disampaikan dilengkapi dengan analisis kritis dan komparasi antara pendapat yang merupakan ciri khas dan kepiawaian Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Selain mukadimah dalam kitab Al-Asybah wa an-Nadhair, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menulis 7 (tujuh) pokok bahasan. Pada setiap pokok bahasan memiliki rincian penjelasan yang lebih luas. Dalam hal ini, keahlian Imam Jalaluddin As-Suyuthi semakin terlihat dalam membuat ringkasan dari berbagai literatur tanpa harus mengurangi esensi dan kualitasnya.

Tujuh pokok bahasan adalah sebagai berikut:

Pertama, 5 (lima) kaidah dasar yang menjadi rujukan semua permasalahan fikih. As-Suyuthi menjelaskan, dalam Mazhab Syafi’i, kelima kaidah dasar tersebut merupakan hasil perampingan dari 17 (tujuh belas) kaidah yang telah digagas dalam Mazhab Hanafi.

Kedua, kaidah-kaidah lain yang muncul sebagai konsekuensi dari kaidah dasar. Di sini, dibahas tentang 40 kaidah umum yang menghasilkan gambaran hukum atas kasus yang parsial.

Ketiga, kaidah-kaidah yang terdapat perbedaan di antara para ulama tentang keabsahannya. Di sini dibahas mengenai kaidah yang diperselisihkan tanpa ditarjih karena adanya ragam pandangan mengenai cabang (furu’) masalah.

Keempat, hukum-hukum yang sering terjadi dan seyogyanya diketahui oleh seorang pakar hukum (faqih). Begitu juga bagi orang yang hendak berfatwa.

Kelima, tinjauan umum pembahasan fikih. Di sini, dibahas secara singkat standar dalam persoalan fikih. Misalkan acuan umum bersuci, wudhu, tayamum, mandi, air, shalat, azan, persoalan kiblat, dan zakat.

Keenam, membahas konsep yang rancu dan perbedaan pendapat para ulama di dalamnya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan antara dua istilah yang terkesan sama, padahal memiliki konsekuensi hukum yang berbeda.

Ketujuh, tema-tema lain yang terdapat perbedaan di antara para ulama. Di sini dibahas tentang perbandingan kasus yang terjadi karena adanya kesamaan konteks dengan persoalan dalam fikih atau pun bahasa.

Hingga saat ini, kitab Al-Asybah wa an-Nadhair paling banyak dijadikan acuan dalam kajian kaidah fikih Mazhab Syafi’i. []waAllahu a’lam

Baca juga:
MENGENAL KITAB IHYA’

Dengarkan juga:
Kekaguman Habib Idrus Ketika di Lirboyo

# MENGENAL AL-ASYBAH WA AN-NADHAIR: KITAB KAIDAH FIKIH FENOMENAL KARYA IMAM JALALUDDIN AS-SUYUTHI
# MENGENAL AL-ASYBAH WA AN-NADHAIR: KITAB KAIDAH FIKIH FENOMENAL KARYA IMAM JALALUDDIN AS-SUYUTHI

Apa Yang Menyebabkan Masuk Surga

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (32)

“(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), Semoga kesejahteraan untuk kalian semua, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan” (Qs. An-Nahl : 32)

Dalam ilmu qiroat, terdapat perbedaan carabaca. Imam Hamzah az-Zayyat membaca dengan dhomir ya’ (terbaca الذين يتوفاهم) dengan dasar riwayat Ibnu Mas’ud

روى عن ابن مسعود أنه قال: إن قريشا زعموا أن الملائكة إناث فذكروهم أنتم.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, beliau berkata “Sesungguhnya kabilah Quraisy menyangka para malaikat adalah perempuan maka bacalah mudzakkar (laki-laki) pada lafadz malaikat”.

Sedangkan imam qiroah lainnya membaca dengan dhomir ta’ (terbaca الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ) dengan menjadikan fa’ilnya berupa golongan dari para malaikat (جماعة من الملائكة). (Kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi vol.10 hal.100 cetakan Dar Kitab al-Mishriyyah Kairo 1964).

Dalam ayat ini, tugas mencabut nyawa dinisbatkan kepada para malaikat. Sedangkan dalam ayat yang lain dinisbatkan kepada malaikat maut

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11)

“Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu dikembalikan” (Qs. As-Sajadah : 11)

Menurut Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi, kedua ayat ini dapat dikompromikan. Pada dasarnya, tidak ada hamba Allah yang wafat kecuali atas kehendak Allah. Dalam prakteknya, malaikat maut adalah malaikat yang diperintahkan untuk mencabut nyawa. Selain itu, Allah juga menciptakan beberapa malaikat sebagai para pembantu malaikat maut dalam mencabut nyawa. (Kitab Tafsir al-Wasith karya Dr. Muhammad Sayyid Thanttawi vol.8 hal.140 cetakan Dar as-Sa’adah Kairo tahun 2007).

Sedangkan makna thayyibin (طَيِّبِينَ) dalam ayat ini, terdapat 6 makna yaitu ; (1) bersih dari sifat syirik (2) memiliki sifat saleh (3) bersih perbuatan serta ucapannya (4) bagus jiwanya bertabur pahala dari Allah (5) bagus jiwanya dengan kembali kepada Allah (6) menemui kemudahan ketika wafat tanpa kesulitan serta kesakitan. Kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi vol.10 hal.99 cetakan Dar Kitab al-Mishriyyah Kairo 1964.

Kemudian, bentuk salam para malaikat kepada para hamba Allah memiliki dua makna yaitu ; (1) salam pengagungan dari para malaikat sebagai pertanda datangnya kematian seorang hamba Allah (2) kabar gembira atas akan masuknya mereka kedalam surga.

عن محمد بن كعب القرظى قال: إذا استنقعت نفس العبد المؤمن جاءه ملك الموت فقال: السلام عليك ولى الله الله يقرأ عليك السلام.

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurdzi, beliau berkata “ketika nyawa seorang hamba akan ditarik keluar, datanglah malaikat maut mengucapkan “Semoga kesejahteraan tercurahkan kepadamu wahai kekasih Allah, Allah menyampaikan salam kepadamu”.

Sebuah pertanyaan muncul “Amal perbuatan ataukah kasih sayang Allah yang memasukkan seorang hamba ke dalam surga?”

Tentu di sini kita akan menemukan perbedaan sangat mencolok. Dalam ayat ini dikatakan ”masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan”. Sedangkan dalam sebuah hadis dikatakan

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا ، وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ، وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ أَدْوَمُهَا إِلَى اللَّهِ ، وَإِنْ قَلَّ

Diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah ra bahwasannya Rasulullah bersabda “Berpegang teguhlah dan mendekatlah, dan ingatlah tidak akan masuk surga seseorang diantara kalian dengan sebab amal perbuatannya, dan sesungguhnya paling dicintainya amal kebaikan adalah yang paling langgeng kepada Allah meskipun sedikit” (HR. Bukhari)

Dalam hal ini, para ulama memiliki dua penafsiran dalam mengkompromikan di antara nash al-Quran dan hadis ini yaitu :

Pertama, selamat dari api neraka adalah sebab ampunan Allah dan masuknya seseorang ke dalam surga adalah sebab kasih sayang Allah sebagaimana dalam hadis di atas. Sedangkan, derajat yang diberikan kepada seorang hamba di surga adalah berdasarkan besaran amal perbuatannya sebagaimana dalam Qs. An-Nahl ayat 32. Penafsiran ini dihaturkan oleh Sufyan bin ‘Uyaynah dan pengikutnya. Hal ini juga berdasarkan hadis

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَخْبَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ  أَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلُوهَا نَزَلُوا فِيهَا بِفَضْلِ أَعْمَالِهِمْ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda kepadaku “Sesungguhnya penduduk surga ketika masuk ke dalam surga maka mereka menempati sesuai dengan keutamaan amal perbuatan mereka” (HR. Turmudzi)

Dan pada dasarnya, seseorang harus berjuang beramal baik serta senantiasa mengharap kasih sayang Allah. (Kitab ad-Dakhil fi at-Tafsir karya Dr. Ibrahim Abdurrahman Khalifah hal.219 cetakan Maktabah al-Aiman Kairo tahun 2018)

Kedua, amal baik adalah sebab yang lazimnya mengantarkan menuju surga. Akan tetapi, sebab yang hakiki yang mengantarkan hamba ke dalam surga adalah anugerah serta kasih sayang Allah. Ini adalah pendapat yang diusung oleh Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi. (Kitab Tafsir al-Wasith karya Dr. Muhammad Sayyid Thanttawi vol.8 hal.141 cetakan Dar as-Sa’adah Kairo tahun 2007)

Sedangkan, Ibnu Hajar al-Asqalani selaku pakar ilmu hadis memiliki pendapat lain. Menurutnya, amal yang memasukkan seseorang ke dalam surga sebagaimana dalam Qs. An-Nahl ayat 32 adalah amal baik yang diterima oleh Allah. Sedangkan, diterimanya amal ibadah seseorang di sisi Allah adalah sebab rahmat dan kasih sayang-Nya. Maka, tidak ada yang dapat masuk surga kecuali sebab kasih sayang Allah. Oleh karena itu, kasih sayang Allah serta amal baik seseorang memiliki keterkaitan yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga milik Allah.

فإن قيل كيف الجمع بين هذه الآية وحديث لن يدخل أحدكم الجنة بعمله فالجواب أن المنفي في الحديث دخولها بالعمل المجرد عن القبول والمثبت في الآية دخولها بالعمل المتقبل والقبول إنما يحصل برحمة الله فلم يحصل الدخول الا برحمة الله.

“Apabila dikatakan “Bagaimana kompromi diantara ayat ini (Qs. An-Nahl ayat 32) dan hadis “tidak akan memasukkan kalian ke dalam surga amal kalian”. Maka, jawabnya adalah yang dinafikan dalam hadis adalah masuknya seseorang ke dalam surga sebatas dengan amal yang tidak diterima Allah. Sedangkan yang ditetapkan dalam Qs. An-Nahl ayat 32 adalah masuknya seseorang ke dalam surga dengan amal yang diterima Allah. Dan diterimanya amal adalah sebab kasih sayang Allah. Maka, seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan sebab kasih sayang Allah”. (kitab Fath al-Bari syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqalani vol.1 hal.78 cetakan Dar al-Ma’rifat Beirut 2010)

Baca juga:
RAHASIA AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

follow juga:
@pondoklirboyo