Category Archives: Artikel

Benarkah Hormat Bendera Merah Putih Syirik?

Sebagian kelompok Islam mengklaim dan menuduh bahwa hormat bendera merah putih adalah tindakan yang dilarang. Mereka menganggap bahwa hormat bendera merah putih termasuk tindakan mengagungkan makhluk yang berlebih-lebihan sehingga termasuk perilaku syirik (menyekutukan Allah SWT).

Untuk menjawab tuduhan semacam ini, perlu kiranya untuk memahami esensi yang ada dalam penghormatan kepada bendera merah putih. Karena pada dasarnya, hormat bendera merupakan tindakan menanamkan nasionalisme, rasa cinta tanah air, sebagaimana rasa cinta Rasulullah SAW pada kota Madinah. Sebagaimana sebuah hadis dalam kitab Shahih al-Bukhari juz III halaman 23:

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

“Ketika Rasulullah SAW pulang dari perjalanan dan melihat dinding kota Madinah, maka beliau mempercepat lajunya. Dan bila mengendarai tunggangan, maka beliau menggerak-gerakkan karena cintanya kepada Madinah.” (HR. al-Bukhari)

Substansi kandungan hadis tersebut dikemukakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolani dalam kitabnya, Fath al-Bari. Ia menegaskan bahwa “Dalam hadis itu terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya”. (Fath al-Bari, III/705)

Tidak Mengandung Unsur Ritual

Di sisi lain, tuduhan syirik tidaklah tepat apabila ditujukan kepada aktivitas yang tidak mengandung unsur ritual penghambaan. Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Fatwa Al-Azhar:

فَتَحِيَّةُ الْعَلَمِ بِالنَّشِيْدِ أَوِ الْإِشَارَةِ بِالْيَدِ فِى وَضْعِ مُعَيَّنٍ إِشْعَارٌ بِالْوَلَاءِ لِلْوَطَنِ وَالاْلِتْفِاَفِ حَوْلَ قِيَادَتِهِ وَالْحِرْصِ عَلَى حِمَايَتِهِ ، وَذَلِكَ لَا يَدْخُلُ فِى مَفْهُوْمِ الْعِبَادَةِ لَهُ ، فَلَيْسَ فِيْهَا صَلَاةٌ وَلَا ذِكْرٌ حَتَّى يُقَالَ : إِنَّهَا بِدْعَةٌ أوَ تَقَرُّبٌ إِلَى غَيْرِ اللهِ

“Hormat bendera dengan lagu (kebangsaan) atau dengan isyarat tangan yang diletakkan di anggota tubuh tertentu (misalnya kepala) merupakan bentuk cinta negara, bersatu dalam kepemimpinannya dan komitmen menjaganya. Hal tersebut tidaklah masuk dalam kategori ibadah, karena di dalamnya tidak ada salat dan dzikir, sehingga dikatakan “ini perilaku bid’ah atau mendekatkan diri kepada selain Allah.” (Fatawa al-Azhar, X/221)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa hormat bendera merah putih bukanlah perilaku syirik karena tidak terdapat unsur ibadah dan tidak pula ada unsur menyekutukan Allah di dalamnya. Hormat bendera merah putih murni sebagai bentuk cinta tanah air sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam hadisnya. []waAllahu a’lam

Baca juga:
ISLAM DAN SPIRIT KEMERDEKAAN

Lihat Juga:
Bedah Buku Fikih Kebangsaan 2

Bolehkah Orang yang Berkurban Memakan Daging Kurbannya Sendiri?

Salah satu permasalahan kurban yang acap kali muncul di masyarakat ialah terkait kebolehan orang yang berkurban untuk mendapatkan jatah dan menkonsumsi daging kurbannya.

Dalam masalah ini perlu diperinci antara kurban sunah dan kurban wajib. Apabila kurban sunah, maka daging boleh untuk dikonsumsi oleh orang yang berkurban dengan syarat masih ada yang disedekahkan. Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

وَيَجِبُ التَّصَدُّقُ وَلَوْ عَلَى فَقِيْرٍ وَاحِدٍ بِشَيْءٍ نَيِّئًا وَلَوْ يَسِيْرًا مِنَ الْمُتَطَوَّعِ بِهَا وَالْأَفْضَلُ التَّصَدُّقُ بِكُلِّهِ إِلَّا لقْمًا يَتَبَرَّكُ بِأَكْلِهَا وَأَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْكَبْدِ وَأَنْ لَا يَأكُلَ فَوْقَ ثَلَاثٍ

“Dan wajib menyedekahkan kurban sunah, meskipun hanya kepada satu orang fakir dengan daging mentah yang sedikit. Dan yang lebih utama ialah menyedekahkan semuanya kecuali satu suapan dengan niat mengharap keberkahan dengan mengkonsumsi daging tersebut. Dan hendaknya yang diambil adalah bagian hati hewan dan kadarnya tidak lebih dari tiga suapan.” (Hamisy Fath al-Mu’in, II/379)

Imam Ibn Hajar al-Haitami menjelaskan mengenai satu pendapat, bahwa bagi orang yang berkurban sunah boleh untuk mengkonsumsi seluruh daging hewan kurbannya tanpa ada yang disedekahkan. Pendapat ini mengalasi bahwa tujuan utama berkurban hanyalah mengalirkan darah (iraqatud dam) untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, IV/252)

Adapun kurban wajib yang berawal dari nadzar, maka bagi orang yang berkurban haram mendapatkan jatah atau mengkonsumsinya menurut pendapat yang kuat. Sebagaimana penuturan Imam Ibn Qashim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib:

وَلَا يَأكُلَ الْمُضَحِّي شَيْئًا مِنَ الْأُضْحِيَّةِ الْمَنْذُوْرَةِ بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِ لَحْمِهَا

“Dan orang yang berkurban tidak boleh mengkonsumsi sedikitpun dari hewan kurban yang dinadzari (wajib). Bahkan wajib baginya untuk mensedekahkan seluruh dagingnya.” (Fath al-Qarib, hlm. 314)

Namun menurut sebagian pendapat yang diusung Imam al-Haramain dan Imam al-Qaffal, seseorang yang kurban wajib (dinadzari) boleh untuk mengkonsumsi daging hasil kurbannya. Sebagaimana kutipan Imam an-Nawawi dalam kitab Raudhah ath-Thalibin berikut:

وَأَمَّا الْمُلْتَزِمُ بِالنَّذْرِ مِنَ الضَّحَايَا وَالْهَدَايَا… وَالْجَوَازُ اخْتِيَارُ الْقَفَّالِ، وَالْإِمَامِ

“Adapun orang yang menyanggupi untuk nadzar dalam kurban…. Dan pendapat yang memperbolehkan (memakan) adalah al-Qaffal dan Al-Imam al-Haramain.” (Raudhah ath-Thalibin, II/488) []waAllahu a’lam

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan tersendiri. Sehingga pada hari-hari tersebut dianjurkan meningkatkan amal ibadah. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam Alquran:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi masa, dan (demi) malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Syekh Nawawi Banten dalam tafsir Murah al-Labid, menafsiri ‘malam yang sepuluh’ dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. (Tafsir Murah al-Labid, II/628)

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di awal bulan Dzulhijjah ialah ibadah puasa sunah, khususnya puasa di hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan hari Arafah (9 Dzulhijjah).

Keutamaan puasa pada dua hari tersebut telah disebutkan pada sebuah hadis:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً

“Puasa hari Arafah dapat menebus dosa setahun yang lalu.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qatadah) (Al-Munawi, Faidh al-Qadir, IV/211)

Dalam hadis lain disebutkan:

صَومُ يَوْمِ التَّرْوِيَّةِ كَفَّارَةٌ سَنَةً وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةٌ سَنَتَيْنِ

“Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun dan puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun.” (Jami’ Al-Ahadits, XIV/34)

Meskipun sebagian ulama menilai hadis tersebut lemah, namun tetap bisa diamalkan menimbang muatan fadhail al-a’mal (keutamaan-keutamaan amal) di dalamnya. Apalagi pada awal bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Dalam salah satu hadis dikatakan:

مَامن أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يارسول اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بشَئٍ

“Tidak ada amal yang lebih disukai Allah daripada perbuatan baik yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para Sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah?’ Rasulullah menjawab, ‘Walau jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali lagi (mati syahid).” (Nail al-Authar, III/312)

[]waAllahu a’lam

Hikmah Kurban dari Beberapa Aspek Kehidupan

Hikmah Kurban dari Beberapa Aspek Kehidupan

Ibadah kurban memiliki beberapa hikmah dan pesan moral yang ada di dalamnya. Dalam konteks ini, hikmah kurban terbagi ke dalam tiga aspek, yakni sejarah, spiritual, dan sosial.

Pertama, aspek sejarah

Syariat ibadah kurban mengingatkan kembali kepada umat Islam akan peristiwa agung Nabi Ibrahim AS. dan putranya, Nabi Ismail AS. Lewat sebuah mimpi, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT. untuk menyembelih putranya, sebagai tebusan dari nazar yang pernah beliau ucapkan.

Rekam sejarah tersebut mempunyai hikmah dan uswah (suri tauladan) bagi umat Islam. Bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Karena kalau bukan didasari atas keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan Nabi Ibrahim AS. rela memenuhi perintah untuk menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya.

Di samping itu, dalam peristiwa sejarah tersebut terdapat sebuah praktek demokrasi dalam pengambilan keputusan yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS. Sebelum menjalankan perintah Allah SWT., Nabi Ibrahim AS. terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada Nabi Ismail AS. untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Kendati sebenarnya Nabi Ibrahim as. mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, namun ia memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Kedua, aspek spiritual

Tak dapat dipungkiri, Ibadah kurban adalah ibadah yang dianjurkan dalam syariat Islam sebagaimana yang telah tercantum di dalam Alquran dan hadis. Karena sejatinya, setiap umat islam yang melaksanakan ibadah kurban tidak memiliki tujuan apapun kecuali menjadikan ibadah tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. serta mengharapkan rida dan ampunanNya. Selain itu, ibadah kurban memiliki hikmah spiritual dalam pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah.

Untuk itu, tidak heran betapa besar pahala dan balasan yang telah Allah SWT. janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah kurban. Salah satunya sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah SAW. dalam hadis:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ

“Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih kurban) yang lebih disenangi oleh Allah SWT. kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang kurban). Sesungguhnya hewan kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi.” (HR. At-Turmudzi)

Ketiga, aspek sosial.

Dalam fikih, ibadah kurban tergolong ibadah Ghoiru Mahdhoh. Dengan artian bahwa ibadah tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya. Selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah SWT., ibadah kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin dan kaum yang lemah (dhuafa’).

Melihat hal tersebut, tidak terasa aneh bahwa dalam kajian fikih mengenai pendistribusian daging kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (legalitas konsumsi). Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya, karna pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).

Akhir kata, ibadah kurban sebagai salah satu syiar agama Islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT. seraya mengikuti jejak historis Nabi Ibrahim AS. dan nabi Ismail AS. yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah Tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain. Dengan mengetahui beberapa aspek tersebut, diharapkan umat islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah anjuran berkurban dan mampu menerapkan dan mengamalkan substansi dan tujuannya dalam kehidupan sehari-hari. []wAllahu a’lam

Referensi:

Ali ash-Shobuni, Mukhtasar Tafsir Ayat al-Ahkam, (Kediri: Dar al-Mubtadiin, tt.) hlm. 187.
Syuhabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah Al-Qulyubi (Surabaya: Al-Haramain, tt.) IV/251.
Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab, II/189, CD. Maktabah Syamilah.
Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, IV/186, CD. Maktabah Syamilah.
Utsman al-Khaubawy, Dzurroh an-Nashihin, hlm.136.

Hukum Memanfaatkan Halaman Sekitar Masjid untuk Penyembelihan Hewan Kurban

Saat hari raya Idul Adha, sering ditemui di masyarakat proses penyembelihan hewan kurban yang dilakukan pada lahan di sekitar halaman masjid.

Dilihat dalam kacamata syariat, lahan di sekitar masjid tersebut boleh dimanfaatkan selama sesuai dengan kebiasaan (urf’) tanpa ada yang mengingkari, misalkan untuk tempat penyembelihan hewan kurban. (Ghayah Talkhish al-Murad, hlm. 94-95)

Sayyid Abdurrahman al-Masyhur menegaskan pada persoalan lahan yang berada di sekitar masjid:

‏ﻟَﻴْﺴَﺖِ ﺍْﻟﺠَﻮَﺍﺑِﻲْ ﺍَﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻓَﺔُ ﻭَﺯَﻭَﺍﻳَﺎﻫَﺎ ﻣِﻦْ ﺭَﺣْﺒَﺔِ ﺍْﻟﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻭَﻻَ ﺣَﺮِﻳْﻤُﻪُ، ﺑَﻞْ ﻫِﻲَ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻠَّﺔٌ ﻟﻤَﺎَ ﻭُﺿِﻌَﺖْ ﻟَﻪُ، ﻭَﻳَﺴْﺘَﻌْﻤِﻞُ ﻛُﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋُﻬِﺪَ ﻓِﻴْﻪِ ﺑِﻼَ ﻧَﻜِﻴْﺮٍ … ﻭَﻻَ ﺗَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺇِﻟﻰَ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﻧَﺺِّ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻗِﻔِﻬَﺎ، ﺇِﺫِ ﺍْﻟﻌُﺮْﻑُ ﻛَﺎﻑٍ ﻓﻲِ ﺫَﻟِﻚَ

“Beberapa kolam dan tepiannya (yang berada di sekitar masjid) bukanlah bagian dari serambi dan pelataran masjid. Akan tetapi ia menyendiri sesuai tujuan awal. Dan setiap orang boleh memanfaatkan dengan pemanfaatan yang diketahui tanpa ada yang mengingkari…. Dan tidak butuh untuk mengetahui penjelasan orang yang mewakafkan. Karena kebiasaan sudah mencukupi untuk memperbolehkan.” (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 63)

Kendati demikian, proses penyembelihan hewan kurban di sekitar masjid tidak boleh mengganggu pemanfaatan asli masjid, seperti menghilangkan kekhusyukan orang salat disebabkan bau yang menyengat dan lain sebagainya. (Al-Hawi al-Kabir, VII/1273) []waAllahu a’lam