Category Archives: Artikel

Mengenal Syaikhuna KH. Maftuh Basthul Birri

Abu Umamah r.a. meriwayatkan, bahwa ketika haji wada’ Rasulullah berdiri di atas unta berwarna kecoklatan lalu bersabda : “Wahai sekalian manusia, belajarlah sebelum ilmu itu dicabut dari bumi, ingatlah hilangnya ilmu adalah bersamaan dengan wafatnya ulama. Lalu ada seorang Baduwi bertanya, ya Rasul bagaimana bisa ilmu dicabut dari kita, sedangkan di antara kita terdapat mushaf yang tidak pernah berubah sedikitpun semenjak ditrunkan kepada para nabi ? Ibnu Mas’ud berkata : umat ini akan selalu dalam kebaikan selama masih berpegang pada ajaran para sahabat, dan jika mereka berpegang kepada orang-orang bodoh, dan terpecah belah, maka akan binasa.

Rabu (4/12/2019) Keluarga Besar Pondok Pesantren Lirboyo kehilangan salah satu ulama panutanya, seorang ulama kharismatik yakni KH Maftuh Basthul Birri yang merupakan pengasuh  Pon-Pes Murotilil Qur-an Lirboyo Kota Kediri. Telah dipanggil kehadirat Allah Swt.

KH. Maftuh Basthul Birri lahir pada tahun 1948 M, di desa Karangwuluh, kec. Kutoarjo, kab. Purworejo , jawa Tengah. Tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulan kelahirannya. Purworejo (rumah KH. Maftuh Bahtsul Birri) dan sekitarnya adalah  daerah yang minus secara ekonomi. Masyarakatnya hanya mengandalkan  hidup dari bertani padi di sawah, kecuali hanya sedikit yang menekuni pekerjaan lainnya. Dengan keadaan seperti ini, maka orangnya banyak yang merantau  ke Sumatra dan Jakarta.

Kisaran Tahun 1961-1966, KH. Maftuh Basthul Birri  mondok di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Beliau ikut Kiai Nawawi tujuh tahun lamanya, mulai di rumah Kutoarjo sampai mondok di Pesantren Krapyak selesai. Guru inilah  yang sebagai  dasar dan permulaan pendidikan ngaji beliau. Sehingga KH. Maftuh Basthul Birri  hasilkan ilmu hafal al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, ilmu khoth (tulis Arab indah) dan lain sebagainya termasuk yang terakhir mengaji Qiro-at Sab’ sampai khatam.

Tahun 1966-1971, Lima tahun lamanya KH. Maftuh Basthul Birri mondok di Pesantren Lirboyo Kediri. Beliau menamatkan tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadiien (MHM) Lirboyo. Dulu belum ada tingkat Aliyah dan Ma’had Aly.

Tahun 1971-1974, Tiga tahun lamanya KH. Maftuh Basthul Birri mondok di Sarang, Lasem, Rembang, dengan mengaji kitab-kitab kuning dan memperdalam ilmu nahwu, sharaf dan ilmu fiqih.

Tahun 1974-1975, KH. Maftuh Basthul Birri melaksanakan ibadah haji yang pertama pada tahun tersebut. Ibunda beliau belum menunaikan ibadah haji, sedangkan ayahanda beliau sudah mengerjakan dan beliau sebagai anak pertama, maka beliau bisa pergi haji ini karena mengantarkan dan menjadi mahram ibu beliau. Setelah berhaji mengantarkan ibu, beliau tinggal di rumah beberapa bulan sambil mencari pasangan hidup. Ini terjadi pada tahun 1975 dan beliau menginjak usia sekitar 27 tahun.

Pernikahan beliau KH. Maftuh Basthul Birri bermula dari keinginan untuk sowan selepas menunaikan ibadah haji, kepada kiai beliau di Pesantren Lirboyo, yaitu Kiai Marzuqi Dahlan, karena beliau sudah lama tidak pernah sowan kepada beliau hingga beliau menunaikan ibadah haji. Maka, beliau sempatkan sowan. Pada umumnya orang atau santri sowan itu hanya sebentar, bertemu, dibacakan doa, lalu selesai, pulang. Namun sowan beliau kali ini tidak seperti biasanya. Setelah beliau menghadap KH. Marzuqi Dahlan. KH. Marzuqi Dahlan ingin menjodohkan beliau dengan putrinya yang nomor lima yang bernama Khotimatul Khoir. Setelah beliau KH. Marzuqi Dahlan menyampaikan dawuh-nya, beliau juga menyampaikan tambahan dawuh-nya yang kira-kira begini bahasa indonesianya:”Tidak usah dijawab sekarang, besok saja kapan-kapan saya mau menemui orangtuamu di Kutoarjo”.

Dan ternyata beberapa bulan kemudian, Kiai Marzuqi sungguh-sungguh datang ke Kutoarjo (bersama KH. abdul Aziz Manshur menantunya, KH. Bahrul Ulum Marzuqi, dan Gus Akhlis), untuk bertemu dengan orang tua  KH. Maftuh Basthul Birri. Akhirnya diputuskan pada tanggal 29 syawal akad nikah dilangsungkan di Lirboyo. Dengan demikian, terjadilah apa yang di kehendaki Allah untuk beliau pada akhir syawal itu.()

*Disarikan dari Buku Sepercik Air Laut Perjalanku (Otobiografi KH. Maftuh Basthul Birri)

Kelahiran Nabi Saw

Sayyidah Aminah mengandung Nabi Saw. selama 9 bulan. Nabi Saw. dilahirkan melalui garis yang terdapat pada bagian di bawah pusar. Ketika kelahiran Nabi Muhammad Saw. terjadi peristiwa yang sangat besar yaitu terguncangnya Arsy, padamnya api abadi Majusi dan terbelahnya gedung kebanggan Persia menjadi dua bagian. Ketika kelahiran Nabi Saw. tidak hanya Persia saja yang mengalami pecahnya singgasana, tetapi kerajaan Romawi juga mengalami hal yang sama. Romawi bukanlah kerajaan Roma Italia saat ini, tetapi kerajaan yang terdapat di negara Turki.

Kelahiran Nabi Muhammad Saw. juga dihadiri oleh perempuan surga, Sayidah Maryam dan Sayidah Asiah. Kelak keduanya akan menjadi Isteri Nabi di surga. Keduanya masih dalam keadaan perawan. Al-Syifa’ adalah seorang  dukun bayi yang saat kelahiran Nabi Saw. tempat kelahiran Nabi Saw. adalah rumah Abdul Muthalib.

Ketika kelahiran Nabi Saw., juga ada seorang pedagang Yahudi yang memastikan pada malam itu seorang nabi akan dilahirkan. Orang Yahudi sangat menguasai ilmu hisab, sehingga dapat mengetahui kepaastian kelahirannya Nabi Saw., setelah mereka mengacu pada informasi pada kita suci mereka, yang berkenaan dengan kelahiran Nabi Saw. seperti halnya Ka’ab al-Ahbar pernah menyimpan surat milik ayahnya. Surat itu berisi tentang berita kelahiran Nabi akhir zaman. Nabi Saw. disusui oleh Halimah Al-Sa’diyyah. Halimah pernah menyusui beberapa orang sebelum Nabi Saw. Nabi Saw. disusui bersamaan dengan Sayid Hamzah dan Abu Salamah. Wallahu A’lam()

Disarikan dari Buku Secercah Tinta KH. Al-Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya.

Perbedaan Salat Pria dan Wanita

Ibadah salat merupakan ibadah sentral dalam agama Islam. Kewajibannya bersifat universal, menyeluruh atas seluruh umat Islam yang telah mukallaf (berakal dan baligh), baik pria maupun wanita. Dalam sudut pandang syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkan salat, tidak ada perbedaan mendasar di antara salat pria dan wanita. Namun dalam beberapa aspek ibadah salat, terdapat perbedaan di antara keduanya. Sebagaimana Imam Abi Syuja’ meringkas hal ini dalam kitab Matan Taqrib menjadi beberapa perbedaan mendasar.

Bagi pria, karakteristik salatnya adalah:

(1) Pria mengangkat siku dan merenggang dari lambungnya saat rukuk,

(2) Mengangkat perut diangkat dari pahanya saat sujud, 

(3) Bersuara keras pada tempatnya (pada salat jahr),

(4) Apabila terjadi sesuatu kekeliruan imam dalam salat, maka membaca tashbih (dengan maksud dzikir, atau dengan maksud memberitahu Imam. Maka hal ini tidak membatalkan shalat, berbeda jika memang bermaksud memberitahu saja, maka batal shalatnya),

(5) Aurat pria (batasannya dalam salat) mulai dari anggota tubuh diantara pusar sampai lutut.

Adapun wanita, karakteristik salatnya adalah:

(1) Adapun wanita mempersempit sebagian anggota tubuh pada anggota lain (baik ketika rukuk maupun sujud),

(2) Suaranya disamarkan (sewaktu melakukan salat di sebelahnya banyak pria lain, berbeda jika shalat munfarid yang jauh dari kaum pria, maka boleh jahr/bersuara keras),

(3) Sewaktu salat berjamaah, terjadi sesuatu kekeliruan pada Imam, maka wanita mengingatkannya dengan bertepuk tangan (yakni perut telapak tangan kanan memukul punggung telapak tangan kiri. Apabila melenceng dari ketentuan tersebut, maka batal shalatnya, misalnya bertepuk tangan dengan perut kedua telapak tangannya dengan maksud main-main (bergurau) walaupun pelan, padahal ia telah mengetahui bahwa tindakan tersebut terlarang, maka batal salatnya),

(4) Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat yang wajib ditutupi selain wajah dan telapak tangan.

[]WaAllahu a’lam

Referensi:

Hamisy Fathil Qorib, I/64.

al-Iqna, I/46

Kifayah al-Akhyar, I/117.

Kupas Tuntas Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Beliau Saw. yang berisi pembacaan ayat-ayat al-Quran, kisah-kisah seputar Nabi Muhammad Saw. guna mengenang kehidupan Beliau. Biasanya maulid Nabi dilakukan dengan membaca kisah kehidupan Nabi seperti al-Barzanjy, ad-Daiba’iy, Simth ad-Durâr, menghidangkan makanan, memperbanyak shalawat, mau’idhah hasanah, dan lain-lain. Dengan menjelajahi seluk beluk kehidupan Nabi Saw. banyak hal yang dapat kita pelajari baik dari sisi kemanusian, sosial dan keadilan, karena beliaulah manusia terbaik dan teladan kita yang akan membawa kita pada jalan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzâb ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Peringatan maulid seperti yang kita kenal sekarang sebenarnya baru dirintis oleh penguasa Irbil, yaitu Raja Mudhaffar Abu Sa’îd Al Kukburi Bin Zainuddin Ali Bin Buktikin. Meski demikian, orang yang melakukannya akan diberi pahala. Imam Suyûthy mengatakan :

سُئِلَ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ مَا حُكْمُهُ مِنْ حَيْثُ الشَّرْعُ وَهَلْ هُوَ مَحْمُودٌ أَوْ مَذْمُومٌ وَهَلْ يُثَابُ فَاعِلُهُ أَوْ لَا قَالَ وَالْجَوَابُ عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنْ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُونَهُ وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ مِنْ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ

Beliau (Imam Suyûthy) ditanya tentang perayaan maulid Nabi Saw. pada bulan Rabiul Awwal. Bagaimana hukumnya menurut syara’ ? Apakah terpuji atau tercela ? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala atau tidak ? Beliau menjawab, “Jawabannya menurutku bahwa asal perayaan maulid Nabi Saw., yaitu manusia berkumpul, membaca al-Quran, dan kisah-kisah teladan Nabi Saw. sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya .. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi Saw., menampakkan rasa suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang mulia.”[1]

Jadi sebetulnya hakikat perayaan maulid Nabi itu merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur dan senang atas terutusnya Nabi Muhammad Saw. ke dunia ini. Di samping itu, melihat isi dari perayaan maulid Nabi Saw., hal ini termasuk melaksanakan anjuran-anjuran agama. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang tentu terkandung dalam perayaan maulid Nabi :

1. Pembacaan shalawat pada Nabi Saw. yang keutamaannya sudah tidak diragukan lagi. Di isi dengan sejarah nabi ketika berdakwah, cerita kelahiran beliau dan wafatnya. Sehingga dengan kajian inilah seorang muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna yang tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw.

2. Peringatan tersebut merupakan sebab atau sarana yang mendorong kita untuk bershalawat pada beliau sehingga termasuk melakukan perintah Allah: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS al-Ahzâb : 58)

3. Menceritakan tentang sopan santun dan tingkah laku yang terpuji sehingga seorang muslim akan termotivasi untuk mengikuti perilaku Beliau Saw. Apa lagi diselingi dengan pengajian agama, membaca Al-Quran, bersedekah dan ritual-ritual yang mendapat legalitas syariah.[2]

Penjelasan di atas memberikan pengertian bahwa maulid nabi merupakan tradisi yang baik dan mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang akhirnya kembali pada umat itu sendiri.[3]

Hanya yang perlu ditegaskan, peringatan maulid Nabi Saw. tidak terkhusus pada bulan Rabi’ul Awwal saja. Kita dianjurkan untuk selalu memperingati Nabi Muhammad Saw. sepanjang waktu setiap ada kesempatan, lebih-lebih ketika bulan Rabi’ul Awwal dan ketika hari Senin. Memang peringatan maulid Nabi Saw. pada bulan tertentu dan dengan model tertentu tidak mempunyai nash yang tegas. Namun juga tidak ada satu dalilpun yang melarang karena berkumpul untuk bersama-sama mengingat Allah, membaca shalawat dan amal-amal baik lainnya termasuk yang harus selalu kita perhatikan dan kita lakukan. Lebih-lebih pada bulan kelahiran Beliau Saw. di mana rasa keterikatan sejarah akan sangat mendorong masyarakat untuk lebih bersungguh-sungguh dan lebih meresapi apa yang dilakukan dan disampaikan.[4]

Dalil-Dalil Legalitas Perayaan Maulid

Perayaan maulid Nabi Saw. adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Beliau. Hal ini diperintahkan oleh agama sebagaimana firman Allah :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah, Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yûnus : 58).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bergembira ketika mendapatkan rahmat Allah. Padahal Nabi Muhammad Saw. adalah rahmat yang paling agung sebagaimana firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiyâ` :107)

Bergembira atas kelahiran Nabi Saw. dianjurkan di setiap waktu dan dalam setiap karunia. Namun anjuran tersebut menjadi lebih pada hari Senin dan bulan Rabi’ul Awwal karena mempunyai keterikatan sejarah.

Nabi sangat memulyakan dan memperhatikan hari kelahiran Beliau sebagaimana tercermin dalam hadits :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ , فَقَالَ: ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْت فِيهِ , وَبُعِثْت فِيهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ} رَوَاهُ مُسْلِمٌ عن أبي قتادة

Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan padaku.” (HR Muslim dari Abî Qatâdah)

Betapa Rasulullah memulyakan hari kelahirannya, beliau bersyukur pada Allah SWT pada hari tersebut atas karunianya yang telah menyebabkan keberadaannya yang diungkapkan dengan berpuasa. Di sinilah Nabi telah menanamkan benih-benih perayaan maulid Nabi.

Memang Nabi memperingati hari kelahiran Beliau dengan berpuasa berbeda dengan yang sering dilakukan oleh masyarakat sekarang. Namun hal ini tidak mengapa karena hanya masalah metode. Sedang inti dan tujuannya sama, yaitu memperingati dan mensyukuri kelahiran Beliau. Hal ini tidak jauh beda dengan perintah mengajarkan al-Quran. Sekarang al-Quran diajarkan melalui CD, kaset, dan lain sebagainya, berbeda dengan pada masa Rasulullah Saw. Hal ini tidak mengapa karena hanya dalam metode. Sedang intinya sama yaitu mengajarkan al-Quran.

Nabi SAW selalu memperhatikan waktu-waktu bersejarah yang telah lewat. Ketika tiba masa peristiwa tersebut, Rasulullah Saw. memperingati dan memulyakan hari tersebut. Hal ini tercermin dalam hadits

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ (رواه البخاري وسلم وغيرهما)

Dari Ibn ‘Abbâs ra. Ia berkata, ketika Rasulallah Saw. dan para sahabat tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang puasa Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah Saw. bertanya, “Mengapa kalian melakukan puasa tersebut?” Orang yahudi menjawab, “Pada hari inilah Allah menenggelamkan Firaun dan menyalamatkan Nabi Musa as. Kami sangat mensyukurinya. Oleh karena itu kami berpuasa. Mendengar jawaban itu, Rasulallah bersabda, “Kami lebih berhak untuk memulyakan Nabi Musa as. (dengan berpuasa) daripada kalian.” (HR Bukhari, Muslim, Abi Dawud, dll.)

Peringatan maulid Nabi adalah mengingat perjalanan hidup dan diri Rasulullah Saw. Hal seperti ini termasuk bagian dari anjuran agama. Bila kita perhatikan rangkaian ritual ibadah haji, ternyata mayoritas adalah untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus dan tempat-tempat bersejarah, seperti: sa’i Shafa dan Marwah untuk mengingat Siti Hajar ketika mencari air, penyembelihan di Mina, melempar jumrah, dan lain sebagainya.

Manfaat dari bergembira dengan kelahiran Nabi Saw. ternyata juga bisa dirasakan oleh Abu Lahab sebagaimana disampaikan al-Hâfidh Syamsuddîn al-Jazary dalam ‘Urf at-Ta’rîf bi al-Maulid as-Syarîf:

Abu Lahab terlihat dalam mimpi setelah ia mati. Ia ditanya,”Bagaimana kondisimu?” Abu Lahab menjawab, “Di neraka. Hanya saja Allah memberi keringanan padaku setiap malam Senin dan aku menghisap air dari antara jariku dengan ukuran segini -ia mengisyarahkan dengan ujung jarinya- semua ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah setelah memberitahukan kelahiran Nabi SAW dan karena menyusukan Nabi padanya.”[5]

Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dalam Kitâb an-Nikâh, Ibn Hajar dalam Fath al-Bâri`, ‘Abdur Razâq as-Shan’âny dalam al-Mushannaf, al-Baihaqy dalam Dalâ`il an-Nubuwwah, Ibn Katsîr dalam al-Bidâyah, as-Syaibany dalam Hadâ`iq al-Anwâr, al-Baghawy dalam Syarh as-Sunnah, dan lain-lain.

Abu Lahab yang kafir saja mendapatkan dispensasi siksa karena memulyakan dan gembira atas kelahiran Nabi. Apalagi bila yang bergembira adalah orang Islam. Meskipun kisah ini termasuk kategori hadits mursal, namun dapat diterima karena telah dinukil oleh Imam Bukhari dan menjadi pedoman para ulama. Lagipula ini dalam permasalahan sejarah bukan dalam hukum.[6]

Tidak setiap perbuatan yang tidak dikenal di masa awal Islam berarti tidak boleh dilakukan. Apalagi dalam permasalahan maulid. Meski model secara utuh yang dikenal sekarang tidak pernah dilakukan di masa awal Islam namun secara parsial, tiap amal yang dilakukan pada perayaan maulid dianjurkan agama. Sehingga perayaan maulid Nabi juga termasuk anjuran agama. Sebab sesuatu yang tersusun dari hal-hal yang dianjurkan berarti juga dianjurkan.[7]

[]WaAllahu a’lam


[1] Jalâl ad-Dîn as-Suyûthy, al-Hâwi li al-Fatâwi, vol.I, hal. 251 – 252.

[2] Syekh Sayyid Muhamad ‘Alâwy al-Maliki, Fatâwî Rasâ`il, hal. 180

[3] Sayyid Muhamad ‘Alawy al- Maliki, Mafâhîm, tt., hal. 78

[4] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl bi Dzikrâ al-Maulid an-Nabawy as-Syarîf,(Kairo : Dâr Jawâmi’ al-Kalim), cet.ke-10, 1418 H., hal,11 – 13.

[5] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl, hal. 17

[6] Yûsuf Khaththâr Muhammad, Op.Cit., hal.136

[7] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl, hal. 34

Beda, Ngaji Al-Hikam Lirboyo

Anda sering dengar kitab al Hikam kan? Itu adalah kitab tasawuf babon yang dikarang oleh Syekh Ibnu Athaillah as Sakandari, orang Mesir. Kitab al Hikam ini banyak dikaji oleh para kiai sepuh di banyak pesantren di Indonesia. Biasanya pengajian dilaksanakan secara mingguan atau selapanan (36 hari sekali).

Di Pesantren Tambakberas Jombang, Kiai Jamaluddin Ahmad mengadakan pengajian ini tiap malam Selasa. Seminggu sekali. Di Masjid Al Muhibbin itu beliau menjelaskan dengan detail apa yang dianggit oleh Ibnu Athaillah itu. Penjelasan itu seringkali disertai contoh dan permisalan yang sering mengena pada diri kita sebagai pribadi dan masyarakat.

Di Masjid kampung saya sendiri, Gus Rojih Ubab Maimoen (menantu Kiai Kafa Lirboyo) dari Sarang mengisi pengajian al Hikam tiap selapanan. Para jamaah yang sepuh yang tidak bawa kitab, mendapat lembaran foto kopian sedikit tentang materi yang sedang dikaji. Begitu juga dengan pamannya Gus Rojih, yakni Gus Wafi (KH. Wafi Maimoen) juga terkenal sering mengaji kitab al Hikam.

Gus Ulil Absor Abdalla, menantunya Gus Mus (KH. A. Mustofa Bisri Rembang) yang biasanya mengaji online kitab Ihya’ di bulan Ramadan (sudah sering mengadakan kopdar ngaji Ihya’), juga tak ketinggalan menerangkan isi al Hikam dengan ramuan bahasa yang renyah, dan terkumpul dalam buku “Menjadi Manusia Rohani”. Dan masih banyak lagi di beberapa pesantren dan majlis-majlis ta’lim lainnya.

Di Pesantren Lirboyo Kediri, pengajian al Hikam yang diikuti oleh para alumni ini disampaikan oleh KH. Anwar Mansur, sesepuh pesantren yang juga Rois Syuriah PWNU Jawa Timur. Pengajian ini disampaikan tiap selapan sekali. Tepatnya pada tiap Kamis Legi.

Pengajian al Hikam di Lirboyo ini berbeda dengan banyak pengajian di tempat lain. Kalau umumnya pengajian al Hikam ini dijelaskan dengan detail sedemikian rupa oleh Kiai yang membaca supaya para hadirin faham dengan isi kandungannya. Tapi tidak demikian di Lirboyo. Di Lirboyo mengaji kitab ini hanya diberi makna “gandul” saja. Seperti layaknya ngaji kilatan di pesantren-pesantren.

Padahal sebenarnya jika kita “hanya” ingin mendapatkan makna “utawi iki iku”, itu sudah banyak tersedia di toko-toko kitab. Bisa pilih makna ala Pondok Pethuk atau Pondok Kwagean. Kitab makna “gandul” dari dua pondok itu yang banyak beredar di pasaran.

Selain hanya diberi makna tanpa ada keterangan dan penjabaran, Mbah Yai Anwar itu sosok yang apa adanya. Maksud saya, jika beliau sulit memberi makna ya mengaku kesulitan. Bahkan dulu waktu saya masih nyantri, beliau terkadang “hutang” makna suatu kalimah yang tidak diketahuinya. Ini bagi saya sangat luar biasa, di tengah banyaknya orang dan ustaz-ustaz karbitan yang mengaku alim dan mempunyai banyak pengetahuan, juga bisa menjawab berbagai macam permasalahan, beliau bahkan mengaku tidak tahu dan sulit memahami suatu kata atau kalimat dalam sebuah kitab.

Bagi saya, sosok Mbah Yai Anwar inilah orang alim sejati, ilmuwan sesungguhnya. Kalau tidak tahu ya mengaku tidak tahu. Tidak asal menyampaikan apa yang tidak diketahuinya. Dan mengaku tidak faham dan tidak tahu itu sama sekali tidak mengurangi kealiman beliau.

Saya jadi teringat sosok Mbah Kiai Abd. Karim (kakek KH. Anwar Manshur) yang memberi makna kitab tanpa ada rujuk dhamir. Karena itulah, ada salah satu santri yang terbersit dalam hati dan meragukan kealiman sosok Mbah Yai Sepuh itu. Lantas Mbah Karim dawuh:

الضمير في الضمير فمن لم يعرف مرجع الضمير فليس له ضمير

“Dhamir itu di dalam hati, siapa yang tidak tahu marji'(kembali)nya dhamir, berarti tidak punya hati”
Santri yang ngrasani dalam hati tersebut seketika sadar akan kekhilafannya.

Jadi, sebenarnya apa yang didapat ketika para alumni yang jumlahnya ribuan itu datang mengaji al Hikam ke Lirboyo? Bahkan banyak dari alumni yang sudah menjadi pengasuh pesantren, punya santri ratusan bahkan ribuan, ada dosen yang sudah bergelar Doktor dan seterusnya. Bahkan saya yakin ada yang sudah memberi pengajian kitab al Hikam di daerahnya sana. Lantas, apa tujuan mereka dengan susah payah datang dari jauh (banyak yang dari luar propinsi) “hanya” maknani al Hikam beberapa menit saja?

Tujuan itu sejatinya bergantung masing-masing pribadi. Ada yang datang sekalian sambang anaknya yang sedang mondok di Lirboyo, ada yang kangen sudah lama tidak mengecup tangan kiai, ada yang ingin ketemu kawan lama dan sekedar ngopi di warung Dipokerti, Akrab, Juwet ataupun Nafis (sekaligus bayar utang. Hehe). Ada juga yang mengaji sekaligus melakukan lobi bisnis, lobi politik bahkan ingin lobi cari calon besan. Hehe. Ada juga yang memang murni ngalap berkah mengaji pada kiai sepuh dan diakhiri “sowan” ke maqbarah.

Bagi saya, tujuan terakhir inilah yang paling penting. Ngalap berkah. Kalau misalnya hidup kita di keluarga dan masyarakat “kurang bersih atau kurang baik” maka mengaji ini bisa jadi momen ngalap berkah dan membersihkan hal-hal yang kurang bersih tersebut. Namanya saja ngalap berkah, berharap adanya kebaikan dalam hidup. Kembali menjadi santri yang mencari berkahnya kiai dan berkahnya kitab-kitab salaf.

Mengembalikan jati diri sebagai seorang santri ini penting, mengingat hidup di masyarakat yang serba penuh persaingan. Terkadang sikut sana sikut sini. Lha kalau seorang alumni pesantren ingat bahwa ia adalah seorang santri, maka jangan sampai terbawa arus negatif di masyarakat. Seorang santri harus berada pada rel “shiratal mustaqim”. Itulah esensinya. Soal ngorok (ngopi+rokok), guyon, dan gojlok-gojlokan itu hanya sekedar bumbunya saja. Wallahu a’lam.

Penulis: Ust. Nurul Fahmi Mutakharijin 2006