Category Archives: Artikel

Keutamaan dan Niat Puasa Arafah

Hari Arafah sendiri adalah saat dimana umat muslim yang melakukan ibadah haji sedang melakukan Wukuf di Padang Arafah. Dalam sebuah riwayat dikatakan, pada hari Arafah Allah mengundang para malaikat dan berkata, “Wahai malaikatKu, lihatlah hamba-hambaKu. Mereka datang dari berbagai belahan bumi dengan tampang yang acak-acakan, menghabiskan harta dan menyusahkan badannya, demi berkumpul jadi satu di padang Arafah. Saksikanlah wahai malaikatKu, bahwa hari ini Aku ampuni dosa-dosa mereka.” Begitulah kemuliaan mereka yang diberi panggilan bisa berkumpul di padang Arafah.

Untuk kita yang kebetulan saat ini belum mendapatkan panggilan, jangan berkecil hati. Karena kita yang saat ini berdiam diri di rumah pun, sejatinya bisa mendapatkan banyak pahala dari keistimewaan bulan Dzulhijjah ini. Sungguh, sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang bisa melakukan puasa 10 hari sejak awal bulan Dzulhijjah kemarin. Bagi yang kebetulan berhalangan, masih ada sisa sehari. Mudah-mudahan besok kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berpuasa.

Hukum melaksanakan ibadah puasa Arafah adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Imam Nawawi berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah.”

Puasa Arafah memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan, diantaranya: 1). Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun yang akan datang, 2). Allah SWT akan menjaganya untuk tidak berbuat dosa selama dua tahun, dan 3). Dibebaskan dari api neraka.

Dalam sebuah riwayat dikatakan. Dahulu, ada seorang anak muda yang ketika masuk bulan Dzulhijjah dia berpuasa. Kabar tentang anak muda ini lantas terdengar hingga ke Baginda Nabi. Tidak lama kemudian, anak muda tadi dipanggil Nabi dan dia pun segera menghadap. Nabi bertanya, “Anak muda, aku ingin tahu alasan kamu berpuasa?” Si anak muda menjawab, “Ya Rasulallah, demi ayah dan ibu saya, sungguh hari ini adalah hari kebesaran Islam dan juga hari dimana umat Islam berhaji. Saya berharap, Allah memasukkan saya dalam doa-doa mereka yang sedang berhaji.” Nabi lantas menjawab, “Anak muda, sungguh, bagi setiap hari yang kamu puasai, ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 100 budak, 100 unta, dan 100 kuda. Dan untuk puasa di hari Tarwiyah, ada ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 1000 budak, 1000 unta, dan 1000 kuda. Dan untuk puasa di hari Arafah, ada ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 2000 budak, 2000 unta, dan 2000 kuda.”

Begitulah keutamaan puasa Arafah. Untuk Anda yang besok mau melaksanakan puasa Arafah, jangan lupa niatnya. Karena sebagaimana yang tentu sering kita dengar, amal itu tergantung niatnya. Dan meskipun letak niat sesungguhnya dalam hati, menjelaskan atau mengucapkan niat punya sirri tersendiri. Inilah niat puasa Arafah : َنَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً للهَ تعالى
“Nawaitu Shauma ‘Arafata Sunnatan Lillahi Ta’ala, Artinya: Saya berniat melakukan sunnah puasa Arafah karena Allah ta’ala.”

Mengenal Syaikhuna KH. Maimoen Zubair

Abu Umamah r.a. meriwayatkan, bahwa ketika haji wada’ Rasulullah berdiri di atas unta berwarna kecoklatan lalu bersabda : “Wahai sekalian manusia, belajarlah sebelum ilmu itu dicabut dari bumi, ingatlah hilangnya ilmu adalah bersamaan dengan wafatnya ulama. Lalu ada seorang Baduwi bertanya, ya Rasul bagaimana bisa ilmu dicabut dari kita, sedangkan di antara kita terdapat mushaf yang tidak pernah berubah sedikitpun semenjak diturunkan kepada para nabi ? Ibnu Mas’ud berkata : umat ini akan selalu dalam kebaikan selama masih berpegang pada ajaran para sahabat, dan jika mereka berpegang kepada orang-orang bodoh, dan terpecah belah, maka akan binasa.

Indonesia kehilangan seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh Bangsa. KH maimun Zubair atau karib disapa Mbah moen yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama, Ulama kharismatik yang telah wafat di Makkah, saat ibadah haji.

Beliau, Maimoen bin Zubair bin Dahlan bin Warijo, dilahirkan di sebuah desa bernama Karangmangu, kecamatan Sarang, kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya pada Kamis Legi, 28 Sya’ban tahun 1348 H, bertepatan dengan bulan Oktober 1928. Tahun ketika pemuda-pemudi Indonesia bersumpah akan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Beliau diasuh di bawah bimbingan ayah dan kakeknya dari jalur ibu, yakni Kiai Ahmad bin Syuaib bin Abdul Razzaq.

Pada waktu kehamilan sang ibunda, kakeknya yang bernama Syuaib sowan (berkunjung) kepada KH. Faqih Maskumambang Gresik yang merupakan murid dari Syaikh Mahfudz at-Tarmasi. Beliau sowan untuk minta doa  dan bertabaruk agar kelak jabang bayi (cucunya) menjadi orang yang yang tafaqquh fid diin, ahli tafsir,serta ahli dalam ilmu-ilmu agama.

Pada awal masa kemerdekaan, beliau menimba ilmu di Pesantren Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan, juga KH. Mahrus Aly. Di Kediri, beliau juga menimba ilmu kepada Kiai Ma’ruf Kedunglo yang masyhur sebagai kiai yang ahli riyadhah. Ketika mondok di Lirboyo, beliau juga bertirakat seperti menyedikitkan makan dan tidur, serta sangat bersungguh-sungguh belajar. Beliau mendapat ijazah dzikir dari Kiai Ma’ruf Kedunglo serta berkhidmah kepada Mbah Manab selama mondok. Kurang lebih lima tahun beliau menimba ilmu di Lirboyo.

Menginjak usia 21 tahun, beliau mengembara ke Mekah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni Kiai ahmad bin Syuaib. Tak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya. Diantaranya kepada al-muhaddits Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath. Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani.

Sekembalinya dari Tanah suci, beliau masih tetap ngangsu kaweruh. Beliau meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada para ulama besar Tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya ialah Kiai Zubair (ayah beliau), KH Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem (mertua beliau), KH. Ma’shum Lasem, KH. Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta, KH. Bisri Musthofa Rembang, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas Djamil Buntet Cirebon, Kiai Ihsan Jampes Kediri, KH Abdul Fadhol dan KH. Abul Khair Senori, KH. Bisri Syansuri, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Malang, Habib Ali bin Ahmad Alattas Pekalongan, KH.. Thahir Rahili Jakarta, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Chudlari Tegalrejo, juga KHR. Asnawi Kudus.

Beliau menikah pertama kali dengan Ny. Fahmiyah binti Kiai Baidlawi Lasem, dikaruniai tujuh anak, empat di antaranya wafat saat masih kecil. tiga lainnya ialah Abdullah Ubab, Muhammad Najih, dan Shabihah. Sepeningggal istri pertama, beliau menikah lagi untuk kedua kalinya dengan Ny. Masthi’ah binti Kiai Idris Cepu Blora, dianugrahi enam putra dan satu putri, yakni Majid Kamil, Abdul Ghafur, Abdur Rauf, Muhammad Wafi, Yasin, Idrar, dan Radhiyyah.

Pada tahun 1964M/1386H, beliau mendirikan mushalla untuk mengajar masyarakat desa Sarang. Selanjutnya pada tahun 1388H/1964M beliau membangun kamar di samping mushala untuk orang yang menghendaki mondok. Pada 1970, berduyun-duyun santri dari berbagai daerah menghendaki belajar, sehingga berdirilah pondok pesantren yang berlkasi disisi kediaman beliau, yang kini dikenal dengan nama Al-Anwar.

Kegiatan sehari-hari beliau ialah mengajar santri dengan membacakan kitab-kitab seperti Fathul wahab, Syarah Mahally ‘alal Minhaj, Jam’ul Jawami’, Ihya Ulumudin, dan masih banyak yang lainnya. Khusus pada bulan Ramadhan, beliau mengaji kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwattha Imam Malik, Riyadhis Shalihin, atau Al-Adzkarun Nawawi. Untuk hari Ahad, beliau Mengajar masyarakat Sarang dan sekitarnya kitab Tafsir Jalalain yang dihadiri tujuh ribuan orang.()

*Disarikan dari Buku Oase jiwa 2 (Rangkuman Pengajian Syaikhuna KH. Maimoen Zubair)

Kriteria Hewan Kurban Menurut Syariat

Hari raya Idul Adha 1440 Hijriyah tak lama lagi akan tiba. Bagi mereka yang hendak melaksanakan kurban tentunya dianjurkan untuk mempersiapkan hewan kurban jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan kurban. Apalagi tidak setiap hewan dapat dikurbankan. Sehingga memahami kriteria hewan kurban yang sah dan dianjurkan dalam syariat sangatlah penting.

Kriteria hewan kurban telah diatur sedemikian rupa oleh syariat Islam. Di antaranya adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi hewan kurban, yaitu:

Pertama, hewan kurban harus berupa binatang ternak,. Hal ini berdasarkan firman Allah swt:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)

Adapun yang dimaksud binatang ternak di sini adalah unta, sapi (termasuk pula kerbau) dan kambing, baik kambing jenis domba atau kambing biasa, baikhewan jantan maupun betina.[1]

Kedua, usia telah menenuhi batas minimal yang ditentukan syariat. Dengan perincian sebagai berikut:

Berusia 5 tahun dan telah masuk tahun ke 6 untuk unta.

Berusia 2 tahun dan telah masuk tahun ke 3 untuk sapi.

Berusia 1 tahun, atau minimal berumur 6 bulan untuk kambing jenis domba.

Berusia 1 tahun dan telah masuk tahun ke 2 untuk kambing jenis biasa.[2]

Ketiga, tidak mengalami cacat yang dapat mengurangi kuantitas daging atau anggota tubuh lain yang biasa dikonsumsi, semisal buta sebelah matanya, penyakitan, pincang, dan terlalu kurus. Dengan demikian, cacat cacat tidak sampai mengurangi daging atau anggota tubuh lain yang biasa dikonsumi, seperti terpotong tanduknya, maka tetap mencukupi dijadikan hewan kurban.[3]

Selain itu, hewan kurban dianjurkan memiliki kualitas yang baik, kondisi fisik sempurna, dan postur tubuh yang bagus. []WaAllahu a’lam


[1] Al-Khatib As-Syirbini, Al-Iqna Hamisy Bujairami Al-Khatib, Dar Al-Kutubb Al-‘Ilmiyah, vol. V hlm. 240.

[2] Jalaluddin Al-Mahalli, Kanz Ar-Raghibin Hamisy Qulyubi Wa ‘Umairah, Al-Haromain, vol. IV. Hlm. 253.

[3] Al-Khatib As-Syirbini, Mughni Al-Muhtah, Dar Al-Fikr, vol. IV hlm. 286.

Cara Menghapus Dosa Gibah Menurut Imam Nawawi

Pada dasarnya setiap kali kita melakukan kemaksiatan, kita wajib menyesali perbuatan tersebut; tobat. Dengan bertobat insya Allah dosa-dosa kita diampuni-Nya Amin.

Ulama menyebutkan, untuk perbuatan maksiat yang tidak berkaitan dengan hak-hak orang lain, ada tiga syarat yang harus dilakukan untuk bertobat:

  1. Pertama, segera berhenti melakukanya (jika masih di tengah-tengah perbuatan maksiat).
  2. Kedua, menyesali perbuatanya.
  3. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya.

Apabila maksiat yang diperbuat berhubungan dengan hak orang lain, maka selain tiga syarat di atas, ada satu syarat tambahan: mengembalikan hak yang dilanggar pada pemiliknya atau meminta maafnya.

Ibaratnya, tobatnya maling bisa sah kalau dengan mengembalikan barang curianya atau meminta halal pada pemiliknya.

Gibah adalah perbuatan yang berkaitan sama orang lain. Maka, orang yang menggibah wajib meminta maaf kepada orang yang di jadikan bahan gibah.

Lantas , cukupkan minta maaf dengan ungkapan umum, semisal.” Aku telah bergibah tentang dirimu, tolong dimaafkan”, atau wajib dijelaskan apa saja bentuk gibahnya?

Dalam hal ini ada dua pendapat yang disampaikan oleh ulama mazhab Syafi’i :

  1. Pertama, harus dijelaskan secara spesifik bentuk gibahnya
  2. Kedua, tidak harus.

Menurut Imam Nawawi pendapat yang pertama lebih kuat, sebab kadang orang bisa memaklumi satu gosip tertentu tantang dirinya tapi tidak dengan gosip yang lain.

Terakhir, bagaimana jika orang yang kita jadikan bahan gibah ternyata sudah meninggal, sedang di perantauan, atau keadaan lain yang tidak memungkin kita untuk meminta maafnya?

Maka, kita cuma bisa pasrah sambil memperbanyak kebaikan dan mendoakan kebaikan, serta memohonkan ampunan kepada Allah Swt. untuk orang yang kita gibah.WaAllahu a’lam.

*Sumber: Abi Zakaria Yahya binSyaraf An- Nawawi, Al-Azkar.

Hukum Wanita Menunaikan Haji Seorang Diri

Saat ini, sudah banyak jamaah haji Indonesia dari beberapa embarkasi yang telah berangkat ke Tanah Suci. Sebuah realita yang tak terbantahkan, di antara mereka tak sedikit ditemukan para perempuan muda atau perempuan yang telah berkeluarga yang menunaikan haji seorang diri. Atas dasar berbagai motif dan alasan, keberangkatan mereka tanpa disertai mahram maupun suaminya.

Tentu hal tersebut menyisakan sedikit pertanyaan, bolehkah seorang istri atau wanita menunaikan ibadah haji sementara tidak ada suami atau mahram yang menyertai?

Dalam sudut pandang fikih klasik, ibadah haji disyaratkan bagi seseorang yang telah mampu. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلً

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran [3]: 97)

Dalam kitab Tafsir Al-Jalalain, karya dua ulama besar Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, dijelaskan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menafsiri kata ‘sanggup’ dalam ayat tersebut dengan arti kemampuan dalam hal kendaraan dan finansial. (Lihat Tafsir Al-Jalalain, vol. I hlm. 80)

Selanjutnya, para ulama pakar fikih merumuskan bahwa kemampuan dari segi finansial saja tak cukup apabila dilakukan oleh seorang wanita. Sebagai makhluk yang sangat mulia, aspek keamanan dari adanya fitnah menjadi poin penting yang harus diperhatikan bagi kaum wanita. Dari sinilah muncul berbagai asumsi yang beredar di akar rumput masyarakat bahwa wanita tidak diperbolehkan menunaikan haji seorang diri.

Asumsi yang beredar tersebut harus saatnya diluruskan. Karena apabila ditelaah lebih mendalam di beberapa literatur klasik, syariat tidak serta merta melarang wanita menunaikan haji seorang diri. Akan tetapi, ia boleh menunaikan ibadah haji dengan syarat ditemani oleh lelaki mahramnya (bagi wanita yang belum menikah), atau ditemani suami (bagi yang telah menikah), atau beserta rombongan wanita lain yang dapat dipercaya dan terjamin keamanannya.

Melihat realita di Indonesia, jamaah wanita selalu bersama dengan wanita lain dalam kelompok rombongannya, baik selama di perjalanan, pemondokan, bahkan di tempat penginapan. Sehingga kekhawatiran adanya fitnah bisa ditepis dengan keamanan bersama mereka. Meskipun pada awalnya ia tidak disertai mahram atau suami yang mendampinginya, bukanlah suatu masalah. Sebagaimana penjelasan Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitabnya yang berjudul Kanz Ar-Raghibin atau yang memiliki nama lain Syarah Al-Mahalli:

وَيُشْتَرَطُ فِي الْمَرْأَةِ لِوُجُوْبِ الْحَجِّ عَلَيْهَا أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا زَوْجٌ اَوْ مَحْرَمٌ بِنَسَبٍ اَوْ غَيْرِ نَسَبٍ اَوْ نِسْوَةٌ ثِقَاتٌ لِتَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهَا وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ وُجُوْدُ مَحْرَمٍ لِإِحْدَاهُنَّ لِأَنَّ الْأَطْمَاعَ تَنْقَطِعُ بِجَمَاعَتِهِنَّ

Syarak kewajiban haji bagi wanita adalah ia menunaikan bersama suami atau mahramnya, baik mahram nasab atau selain nasab, atau bersama golongan wanita yang bisa dipercaya atas keamanan dirinya. Menurut pendapat paling shahih, bagi sorang wanita yang tidak disyaratkan ditemani mahram apabila bersama rombongan wanita lain. Karena harapan keselamatan sudah dijamin bersama rombongannya.” (Lihat: Hasyiyah Qulyubi Wa ‘Umairah ‘Ala Syarh Al-Mahalli ‘Ala Al-Minhaj, vol. II hlm. 113, cet. Al-Haromain)

Kesimpulannya, ibadah haji bagi wanita seorang diri tanpa disertai mahram atau suami dapat dibenarkan selama ia tergabung dalam rombongan jamaah haji wanita. Apalagi keamanan para jamaah haji selama berada di Tanah Suci seluruhnya telah dijamin dan dilindungi atas nama tanggung jawab negara.

[]WaAllahu a’lam