Category Archives: Artikel

Sejarah Kurban Idul Adha

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim bermimpi tiga malam berturut-turut, seakan ada yang berkata “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini. ” Pada pagi harinya beliau berfikir dan merenung. Apakah ini dari Allah atau dari setan? Oleh karena itu, hari ini disebut dengan hari berfikir (Tarwiyah).

Kemudian pada malam berikutnya beliau mengalami mimpi yang sama. Lalu beliau tahu bahwa mimpi tersebut adalah dari Allah. Maka hari itu disebut dengan hari ‘arofah (mengetahui).

Selanjutnya pada malam ketiganya beliau kembali mengalami mimpi yang sama. Maka pada hari itu beliau melaksanakan penyembelihan. Sehingga hari itu disebut dengan hari Nahr (penyembelihan).

Bagaimana berdebarnya perjalanan  kisah tersebut? Mari kita simak alurnya di bawah ini yang dinukil dari Kitab Tafsir Al-Khozin.

Pada tanggal 10 Dzul Hijjah Nabi Ibrahim AS memerintah Nabi Isma’il As agar mengambil tali dan pisau, kemudian mengajaknya mencari kayu bakar ke lereng gunung. Siti Hajar istri Nabi Ibrahim As juga menyangka bahwa kepergian mereka berdua untuk mencari kayu bakar.

Siti Hajar, Ibunda Nabi Isma’il As tidak luput dari godaan setan. Dikabarkan dari Ka’bul Akhbar dan Ibnu Ishaq, bahwa ketika setan melihat Nabi Ibrahim As hendak melaksanakan perintah penyembelihan ini, ia berkata: “Sungguh, jika aku tidak sanggup menggoda keluarga Ibrahim dalam masalah ini, niscaya setelah ini aku tidak akan mampu selamanya menggoda salah satu keluarganya. ” Setan kemudian menyamar sebagai seorang lelaki dan mendatangi ibu Nabi Isma’il As., yakni Siti Hajar, dan ia berkata: “Apakah kamu tahu ke mana Ibrahim membawa anakmu?” Siti Hajar menjawab: “Ia membawanya untuk mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah! Ia tidak membawanya melainkan untuk disembelih!” Siti Hajar menimpali: “Tidak akan! Dia lebih menyayanginya dan lebih mencintainya (dari pada aku).” Setan berkata: “Ia menyangka bahwa Tuhannya lah yang memerintahkan itu!” Siti Hajar menjawab: “Jika Tuhannya memerintahnya dengan itu, maka sungguh ia begitu baik dalam menaati Tuhannya.”

Keputusasaan Setan

Setan pun merasa putus asa dari Siti Hajar. Kemudian ia pergi menyusul Nabi Isma’il As yang ketika itu berjalan di belakang ayahnya. Setan berkata: “Wahai anak kecil (usia Nabi Isma’il mendekati baligh), apakah kamu tahu, kamu akan dibawa ke mana oleh ayahmu?” Nabi Isma’il menjawab: “Kami akan mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah, ia tidak menginginkan kecuali menyembelihmu.” Nabi Isma’il As Balik bertanya: “Mengapa?” Setan menjawab: “Sesungguhnya Tuhannya memerintahkan itu padanya.” Nabi Isma’il As Berkata: “Maka ayah harus melaksanakan perintah itu. Aku siap mendengarkan dan menaatinya. “

Ketika setan merasa putus asa dari Nabi Isma’il As ia pun menghadang Nabi Ibrahim As. Setan bertanya: “Wahai orang tua, engkau ingin ke mana?” Beliau menjawab: “Ke lereng gunung ini, karena ada sebuah keperluan.” Setan berkata: “Demi Allah, sungguh aku melihat setan telah datang dalam mimpimu dan memerintahmu untuk menyembelih anakmu ini.” Maka, Nabi Ibrahim As pun tahu bahwa lelaki itu adalah setan, lalu beliau berkata: “Menyikirlah dariku wahai musuh Allah. Maka demi Allah, sungguh aku akan melaksanakan perintah Tuhanku ini!” Dikabarkan bahwa Nabi Ibrahim Melempar setan tersebut ketika sampai di Jumrah ‘Aqobah dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Kemudian setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Wustho, dan Nabi Ibrahim melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Lalu setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Kubro, dan Nabi Ibrahim As. Melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilahng. Untuk mengenang peristiwa ini, disyariatkanlah melempar Jumroh saat pelaksanaan haji dan umroh.

Kesanggupan Nabi Isma’il

Pembaca yang Budiman, Nabi Isma’il pun menyanggupi ajakan Nabi Ibrahim As karena ia mengetahui akan ketinggian derajat ayahnya sebagai Nabi dan Rasul yang mimpinya tidak akan disisipi bisikan setan. Nabi Isma’il As tidak mengajukan banding kepada Allah agar perintah itu diperingan. Beliau sadar betul bahwa perintah Allah pasti akan mendatangkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, kata-kata Nabi Isma’il As yang diabadikan dalam Al-Quran:

ستجدني إن شاء الله من الصابرين

 “Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. “ juga merupakan usaha Nabi Isma’il As untuk mendorong ayahnya agar juga sabar dalam menerima dan menjalankan perintah Allah.

Bahkan, Nabi Isma’il As mendukung apa yang dilakukan Nabi Ibarahim dengan berkata: “Wahai ayahku, kuatkanlah tali ikatku supaya aku tidak bergerak meronta. Jagalah bajumu dariku supaya tidak ada bercak darah padanya, sehingga jika ibuku melihatnya ia akan sedih. Tajamkanlah pisaumu dan cepatlah dalam menjalankan pisaumu pada leherku supaya lebih mudah bagiku. Sungguh, kematian adalah hal yang berat. Jika engkau menemui ibuku, maka sampaikanlah salam padanya dariku. Jika engkau ingin mengembalikan bajuku pada ibuku, maka lakukanlah. Semoga hal itu lebih memudahkan Ibu (dalam menahan kesedihan). “

Nabi Ibrahim As berkata: “Engkau adalah pembantu terbaik dalam melaksanakan perintah Allah. “ Kemudian Nabi Ibrahim As menghadap Nabi Isma’il As seraya beliau menangis dan beliau mengikat Nabi Isma’il dan Nabi Isma’il juga menangis. Lalu Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada leher Nabi Isma’il, tetapi apa yang terjadi? Leher Nabi Isma’il tidak tergores sama sekali. Kemudian Nabi Ibrahim menajamkan pisaunya kembali dua / tiga kali dengan batu. Akan tetapi tetap saja pisau tersebut tidak mampu menggoresnya sama sekali.

Ketika itu, Sang Putra berkata: “Wahai ayahku, telungkupkanlah aku, karena jika engkau melihat wajahku, aku khawatir engkau akan mengasihiku dan merasa tidak tega. Dan aku khawatir perasaan itu menghalangimu dari melaksanakan perintah Allah. “

Kemudian ketika Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada tengkuk Nabi Isma’il, maka pisau tersebut terbalik dengan sendirinya. Saat itu juga Nabi Ibrahim dipanggil: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpimu. “

Kemudian sebagai ganti Nabi Isma’il, didatangkanlah domba besar dari surga yang pernah menjadi persembahan Habil, putra Nabi Adam As. Nabi Ibrahim pun menyembelih domba tersebut dengan membaca takbir.

Wallohu a’lam bishshowab. Betapa besar kepatuhan keluarga Nabi Ibrahim As. Semoga keluarga kita bisa meneladani Keluarga Nabi Ibrahim As. Amin.

# Sejarah Kurban Idul Adha

Baca juga:
BOLEHKAH SATU KAMBING UNTUK KURBAN SEKELUARGA?

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

# Sejarah Kurban Idul Adha # Sejarah Kurban Idul Adha

Senyum adalah Ibadah

Tersenyumlah

Oleh: Ahmad Arwani*

Banyak orang berpendapat bahwa tertawa dan tersenyum adalah sebab paling kuat untuk mendorong agar lebih efektif dan produktif. Beberapa pakar mengatakan bahwa tawa adalah gerakan dalam akal yang menghilangkan banyak ketegangan. Maka tidak aneh jika tawa itu (maksudnya tawa yang tidak berlebihan) adalah obat bagi jiwa, dan ketenangan bagi hati yang sedang lelah. Dan senyum dan tawa itu bisa didefinisikan ke dalam salah satu seni kehidupan yang tidak banyak orang ingin mempelajarinya meskipun itu mudah.

Ketahuilah jika saya ingin banyak membeberkan manfaat dari tawa itu sendiri, niscaya saya akan memerlukan waktu dan lembaran kertas yang sangat luas, sedangkan media ini hanya terbatas pada beberapa paragraf saja.

Ada yang berkata bahwa penelitian dan riset-riset ilmiah mengemukakan bahwa mayoritas penyakit stres dan kebosanan, atau merasa sempit pikirannya seperti ungkapan teman-teman yang merasa sudah mentok; “Wah aku arep mulih wae, aku arep mergawe wae, wis ra kerasan aku neng kene. Akeh tututan harus ngene lah, ngonolah, wis mbuh.” Kondisi itu biasanya timbul tatkala seseorang terlalu dalam tenggelam saat menjalani segala aktivitasnya secara terus menerus, sehingga membuat seseorang menjadi selalu tegang. Ia akan cepat merasa bosan dan mengakibatkan cepat tersinggung, hilang sikap ramah dan menjelma menjadi pemarah.

Resep yang diberikan oleh semua orang bagi kondisi semacam itu adalah agar ia sering tertawa. Karena tertawa akan membuat manusia mampu meneruskan atau melakukan aktifitasnya dengan semangat yang tinggi, dinamis dan penuh semangat berkobar.

Sementara seseorang yang sering menebar senyum akan mudah berpikiran lebih jernih dibandingkan hal-hal yang lain. Karena ia lebih mampu menaklukan hati orang lain. Seperti penggalan kata mutiara di bawah ini;

“Tersenyumlah meski kondisimu sedang tidak mengenakan dan tertawakanlah dirimu sendiri”.

Oleh karena itu, jika seseorang setiap harinya ditekan dan dituntut, anggaplah itu sebuah proses untuk menjadikannya sebagai pribadi yang tangguh, sebab kata Jokpin; dalam puisinya Kamus Kecil: “Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih.” Selaras dengan dawuh “Seseorang yang semakin ditekan, maka seseorang tersebut akan dapat menciptakan ledakan yang besar.” Nah oleh karenanya, jika seseorang sedang dalam fase kondisi kejiwaannya yang tinggi, niscaya ia akan mampu berfikir lebih tajam dan kreatif.

Di sini saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk melakukan latihan olah raga yang paling baik bagi tempat yang paling mulia di tubuh Anda. Latihan itu adalah tertawa, sebab ketika seseorang tertawa, Anda berarti menggerakan tiga belas otot di wajah Anda yang mungkin akan menjadikan kulit wajah kalian awet muda. Sebab ada sebuah penelitian menemukan bahwa orang-orang yang sering tertawa dan tersenyum itu adalah orang-orang yang paling sedikit mengalami kriputan di wajah dengan bertambahnya usia.

Orang-orang Arab itu senang memuji orang-orang yang senang tertawa, dan menjadikan hal itu sebagai salah satu prilakunya yang baik, kemulian perangainya, kedermawanan tabiatnya, dan kelembutan hatinya.
Kemudian saya akan mengajak pembaca yang budiman untuk bersikap sederhana dalam tertawa dan tidak berlebihan, sehingga tidak perlu cemberut dengan bentuk yang menakutkan, juga tidak selalu tertawa terus-menerus dengan berlagak tanpa sebab. Namun, sebaiknya hal itu dilakukan dengan tetap menjaga keseriusan, kewibawaan, dan keyakinan.

Dan, tidak membuat jiwa dan wajah cemberut yang melebihi keputusasaan. Maka jika kalian ingin tersenyum, perangilah keputusasaan itu. Kesempatan masih ada dan pintu keberhasilan itu terbuka bagi kita untuk membuka harapan dan berfikir lebih baik lagi akan datangnya kebaikan di masa yang akan datang.
Saya teringat bahwa Rasullullah adalah orang yang paling banyak tersenyum dan tertawa di hadapan para sahabat beliau. Bahkan, beliau menjadikan senyum sebagai ibadah, sebagaimana sabdanya:
Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

Orang yang menelusuri kehidupan Nabi Saw, akan mendapati bahwa beliau terkadang bercanda dan berhumor. Hal itu tidak aneh mengingat beliau adalah seseorang yang menjadi rahmat yang dianugerahkan Allah untuk manusia. Sebagaimana firman-Nya;
Sekiranya kamu bersikap keras-keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 157).

Beliau (Rasullulah) tersenyum seperti embun yang tampak bersinar di wajah yang lebih cemerlang dari matahari, kening yang lebih bercahaya dibandingkan bulan purnama, mulut yang lebih suci dari wewangian, akhlak yang lebih lembut dari bunga, dan cinta yang lebih halus dari angin sumilir, sehingga humor beliau bagi ruh sahabat terasa lebih lembut dari butir-butir di hati.[]

*Penulis adalah siswa kelas III Tsn, asal Bojonegoro, Jawat Timur.
Bermukim di kamar N. 08.

Baca juga:
SENYUM SANTRI DAN PENDETA

ikuti juga:
Takbiran Mob Lirboyomedia

Senyum adalah Ibadah
Senyum adalah Ibadah

Penghargaan Al-Ghazali yang “Dicuri”

Penulis: Muhammad Bagus Fatihulridla

Ivan Patrovich Pavlov, seorang dokter juga fisiolog asal Rusia yang pada awal abad 20 menggegerkan dunia. Ia menemukan teori yang dalam psikologi modern yang disebut Classical Conditioning atau “Pengondisian Klasik”.

 Classical Condotioning ialah keadaan di mana stimulus (rangsangan) buatan mampu menimbulkan respons sebagaimana stimulus alami. Ini bisa terjadi dengan mengumpulkan dua stimulus (alami dan buatan) secara terus menerus, yang pada akhirnya manusia akan merespon stimulus buatan tersebut selayaknya stimulus alami.

Sebenarnya Pavlov menemukan teori ini secara tak sengaja. Ia awalnya hanya hendak meneliti stimulus pada air liur anjing. Anjing akan memproduksi air liur ketika ada stimulus alami berupa rasa lapar. Pavlov pun penasaran, apakah memang benar hanya stimulus alami yang mendorong produksi air liur pada anjing.

Pavlov kemudian melakukan pengujian dengan membiarkan seekor anjing kelaparan lalu bersamaan dengan itu, ia membunyikan metronom (semacam alat pengatur tempo musik). Ia melakukannya terus menerus selama beberapa hari. Setelah dirasa cukup, Pavlov memberi makan anjing itu hingga kenyang. Pavlov kemudian membunyikan metronom tersebut. Mendengar itu, anjing pun secara respons memproduksi air liur. Stimulus buatan yang ditemukannya, mampu menciptakan respons sebagaimana stimulus alami. Atas temuanya itu, ia diganjar hadiah paling bergengsi dalam dunia ilmu pengetahuan (Nobel tahun 1904) (1).

Setelah Pavlov, temuan itu mengalami pengembangan. Di antaranya penelitian oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. Mereka berdua ingin memastikan apakah teori ini juga bisa dialami oleh manusia. Obvervasi ini mereka lakukan kepada seorang bayi. Penelitian kontroversial ini mereka lakukan dengan cara mencari sesuatu yang ditakuti bayi tersebut, kemudian mengalihkan ketakutan tersebut pada hal lain. Pada era sekarang, Classical Condotioning digunakan sebagai terapi terhadap pengidap phobia.

Akan tetapi, Pavlov sebenarnya bukan orang pertama yang menemukanya. Al-Ghazali lah, orang yang menemukannya kira-kira 800 tahun sebelum Pavlov lahir.

Al-Ghazali pionir classical condationing

Dalam Al-Mustashfa, Al Ghazali memaparkan kelemahan-kelemahan diri manusia. Sehingga ia tak akan mampu menjangkau hakikat kebaikan dan keburukan. Salah satu kelemahannya adalah seperti yang disebutkan beliau:

سَبْقُ الْوَهْمِ إلَى الْعَكْسِ.

 Beliau memaparkan bahwa anggapan manusia terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh prasangka-prasangka yang ada di dalam dirinya. Manusia akan terseret—menganggap sesuatu berdasarkan sebuah keidentikkan. Padahal keindentikkan tak akan pernah menjadi kepastian akan hakikat suatu hal. Prasangka yang terbentuk dari pergumulannya dengan kehidupan, akan menutupinya dari penilaian atas suatu hal. Walaupun akal tak membenarkan penilaian tersebut.

Semisal, diri manusia akan mersepons tali-tali beraneka warna yang dilihatnya dengan menjauhinya. Sebab, bayangan pertama yang muncul dalam dirinya adalah ular-ular yang membahayakan dirinya. Begitu pun diri manusia, mereka cenderung menolak bermalam di samping jasad tak bernyawa, padahal nyata-nyata ia tak lagi bergerak dan berbicara. Begitu rapuhnya diri manusia sehingga ia tak objektif menilai hakikat suatu hal (2).

 Fakta penting ini, diungkap pada tahun 1971 oleh sarjana Muslim, Doktor Faiz al-Hajj dalam tesisnya yang berjudul : “Nadzhariyyah Sabq al-Wahmi ila ‘Aksi ‘Inda al-Ghazali, Ma’a Muuqoronatin ‘Ilmiyatin li Araa’i al-Falsafati al-Mutaqaddimin wa an-Nadzariyyat al-Isyrotiyyah al-Iqtironiyah al-Haditsah”. Dalam tesis yang mengantarkannya meraih gelar doktoral tersebut, Dr. Faiz berkonklusi bahwa al-Ghazali telah mendahului Pavlov dalam penemuan atas Classical Condotioning(3). Sehingga al-Ghazalilah yang sebenarnya peraih nobel pada tahun 1904.

 Fakta di atas semakin menegaskan bahwa al-Ghazali berpengaruh besar pada perkembangan pemikiran-pemikiran modern. Sebagaimana pernyataan orientalis Ernesto Renan (1822-18920), bahwa pemikiran al-Ghazali mewarnai pemikiran-pemikiran Barat pada abad pencerahan. Buktinya ialah pengaruh terhadap filsuf Prancis, Rene Decartes (1596-1650) pada pernyataaan terkenalnya : “Aku berpikir, maka aku ada”. Hal ini secara jelas ditulis al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Adz-Dzalal bahwa beliau menyandarkan pencarian atas kebenaran dengan dasar keraguan (4).

           Waba’du     

Pada akhirnya, penjabaran di atas dalam skala luas, semakin membuktikan bahwa  turats para cendekiawan Muslim memberikan sumbangan yang besar pada pemikiran-pemikiran modern. Dan hendaknya, para pendaku kemodernan yang sebelah mata dalam memandang pesantren—sebagai basis pendidikan turats—hendaknya menundukkan kepala mereka yang terlanjur mendongak ke langit. Sedang dalam skala kecil, juga semakin membuktikan pernyataan beberapa pakar bahwa: Hujjatul Islam al-Ghazali adalah penakluk Timur dan Barat.[]

Referensi:

(1) Rohmah, Noer, Psikologi Pendidikan, hlm. 80-81 (Jogja: Penerbit Teras)
(2) Al Ghazali, Abu Hamid, Al Mustashfa, hlm. 79 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah)
(3) Al-Buthiy, Muhammad Said Ramadhan, Min al-Qolbi wa al-Fikri, hlm. 33 (Damaskus: Dar al-Faqiih)
(4) Muqoddimah Al Munqidz min Adz-Dzalal dalam Majmu’ Rasaail Al Imam Ghozali, hlm. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah)

Perhargaan al-Ghozali yang Dicuri
Perhargaan al-Ghozali yang Dicuri

Baca juga: Sa’ad bin Abi Waqqash Sejarah yang Terpendam, Harapan yang Diinginkan
Jangan lupa saksikan: ISTIGHOTSAH KUBRO ONLINE

Sa’ad bin Abi Waqqash Sejarah yang Terpendam, Harapan yang Diinginkan

“Sa’ad bin Abi Waqqash”
(Sang Pemanah, Mustajab Dalam Do’a)

Oleh: Mokhammad Ikhsan Nawawi
“Ya Allah, kabulkanlah do’a Sa’ad bila ia berdo’a kepada-Mu.”
Begitulah do’a Nabi Muhammad Saw. kepada sahabat yang bernama lengkap Sa’ad bin Abi Waqqash bin Malik bin Uhaib bin ‘Abd Manaf Az-Zuhri. Beliau akrab dipanggil dengan julukan Abu Ishaq, dan digelari dengan nama Faris al-Islam.

Salah satu sahabat dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Beliau dilahirkan di Makkah pada tahun 23 sebelum Hijriyyah dan berasal dari Bani Zuhrah, seasal dengan ibu Nabi (Aminah). Sahabat yang banyak mengikuti peperangan bersama baginda Rasulullah Saw. ini berpawakan pendek, perutnya besar, jari-jari tangannya keras, berambut keriting dan memiliki leher yang panjang. Beliaulah orang keempat yang lebih dulu masuk Islam melalui tangan Sahabat Abu Bakar Ra. ketika berusia 17 tahun.

Keteguhan Iman

Mendengar kabar Sahabat Sa’ad masuk Islam, ibu beliau langsung melakukan mogok makan agar beliau murtad dari agama barunya. Melihat apa yang dilakukan ibunya, dengan tenang dan santun beliau berkata pada ibunya. “Perlu engkau ketahui, wahai ibuku. Seandainya ibu memiliki 100 nyawa dan nyawa ibu dicabut malaikat maut satu persatu, maka aku tidak akan murtad dari agama baruku ini. Terserah ibu mau makan silahkan, kalau tidak, juga silahkan.”

Mendengar apa yang dikatakannya, ibu beliau berkata, “Aku menduga, Allah menyuruhmu untuk berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Aku adalah ibumu dan aku memerintahkanmu untuk keluar dari agamamu.”
Namun, Sahabat Sa’ad tidak menghiraukannya. Ibu beliau pun melakukan aksi mogok makan selama tiga hari tiga malam. Pada akhirnya ibu beliau pingsan karena tubuhnya sudah mencapai batas. Itulah sebab turunnya ayat Allah yang menjelaskan tentang kewajiban bagi setiap anak untuk berbakti kepada orang tuanya dalam hal yang tidak menerjang agama Allah.

وَوَصَيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حسناً وَإِنْجَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ. [العنكبوت: 8]

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) baik kepada dua orang, ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu. Lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 08)

Setiap kali dalam peperangan bersama baginda Rasul, beliau selalu bergabung dalam pasukan berkuda, dan selalu menjadi orang pertama yang melepaskan anak panah dari busurnya.

Pada masa Khalifah Umar bin Khottob Ra, beliau pernah diangkat menjadi komandan pasukan yang dikirim untuk memerangi orang-orang Persia. Sahabat Sa’ad berhasil mengalahkan mereka pada tahun 15 H. Setahun setelahnya, pada tahun 16 H, beliau menaklukkan Madain yang menjadi pusat kota Persia, serta menjadikannya sebagai markas tentara Muslimin pada tahun 17 H. Beliau juga menjadi penguasa Irak pada masa Khalifah Umar bin Khottob Ra. yang berlanjut hingga masa Khalifah Utsman bin Affan Ra.

Pernah pada suatu hari, beliau melihat seorang laki-laki menghina Sahabat Ali bin Abi Thalib, Talhah dan Zubair. Melihat hal itu, beliau meminta orang itu untuk berhenti menghina-hina sahabat Rasul. Namun orang itu tidak menghiraukan. Dan pada akhirnya, Sahabat Sa’ad berdo’a pada Allah. Seketika muncullah seekor unta yang langsung menabrak si lelaki penghina itu hingga tewas seketika. Begitulah mustajabnya do’a Sahabat Sa’ad.

Menjelang wafatnya, pada tahun 55 H, Allah menarik kenikmatan berupa pengelihatan (pada hal-hal yang fana) yang dimiliki Sahabat Sa’ad, dan dibukakan pengelihatan pada apa yang kekal abadi. Selang beberapa waktu, beliau wafat tepat pada usia 80 tahun, di istananya yang berada di daerah Al-’Aqiq. Sebuah daerah yang berjarak 5 mil dari kota Madinah. Beliaulah sahabat terakhir yang meninggal dari kalangan Muhajirin serta meriwayatkan 271 hadis Nabi SAW. Satu saksi hidup di mana sejarah hijrah berlangsung dalam suka duka.

Harapan yang diinginkan dari sepenggal kisah di atas adalah agar kita bisa menjadikannya sebagai sebuah suri tauladan dan memetik manfaatnya sebagai bekal hidup kita. Karena segala sesuatu bermula dari diri sendiri.[]

Membaca kisah hidup salafus solih tidak hanya mengasyikkan. Tetapi juga membawa rahmat bagi pembacanya. Di samping ada banyak hal yang dapat kita petik dari perjalanan hidup mereka, juga berkah dan rahmat Allah Swt. senantiasa menyertai dan menaungi kita, dengan lantaran kisah hidup, kelebihan dan segala keistimewaan yang mereka miliki.

(Ustad Anang Darunnaja)

Referensi:
  1. Mirror (Cerita Para Sahabat Nabi). Forum Kajian Ilmiah LASKAR LAWANG SONGO Purna Siswa 2012, Lirboyo Press.
  2. Khulashotu Nuril Yaqin, Ustad Umar ‘Abdul Jabbar, Maktabah Al-Hikmah

*Penulis adalah santri kelas III Tsn bagian J.02 asal Nganjuk. Bermukim di kamar J-02.

Baca juga:
NASIHAT SAHABAT ABDULLAH BIN ‘AMR

Simak juga:
Besarnya Perhatian KH. Marzuqi Dahlan Terhadap Putranya

Islam yang Dikehendaki Tuhan

Al-Khaqqu min rabbik. Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Swt. Sedang kebenaran pada diri manusia relatif melihat sudut pandang masing-masing. Kita menganggap bahwa hal seperti ini adalah benar, belum tentu cocok dalam perspektif orang lain.

Kiranya, perbedaan tafsiran orang dalam menanggapi permasalahan sangat berfariasi. Di setiap sendi kehidupan, perbedaan pasti akan selalu muncul, sebagai bentuk anugerah hidup yang telah dimandatkan Tuhan kepada manusia.

Perbedaan mengguratkan tatanan baru. Melaluinya, kita menjadi sadar tentang sesuatu yang belum kita ketahui dan belum sempat terpikirkan. Membuat kapasitas kemampuan dan titik lemah seseorang yang semula tertutup—terbedah. Kita bisa mengevaluasi dan manambal sisi kekurangan, terus tergerak untuk menambah kecakapan dan terus terdorong menunaikan perbaikan, guna mengamalkan perintah Allah Swt. “fastabiqul khairaat”. (Al-Baqarah: 148)

Namun dalam berbagai peristiwa, perbedaan menjadi dilema tersendiri. Menjelma wujud ancaman mengerikan yang dapat mengacaukan kedamaian sekitar. Terutama kefanatikan dalam beragama. Berkenaan dengan hal ini, seseorang seringkali menutup hatinya dalam menyelami perbedaan. Baik dengan agama lain, maupun agamanya sendiri. Menyaksikan ihwal tersebut, sepertinya toleransi beragama belum menjadi laku.

Konflik yang sering terlaku

Membahas perbedaan dalam agama Islam saja, akibat sikap fanatisme buta seseorang terhadap suatu kelompok, menjadikan kemuliaan darah saudaranya terkucur habis akibat kebiadaban yang tak manusiawi.

Sikap ashabiyah tatkala mendapati perbedaan menjadi sebuah senjata mematikan untuk menyerang orang lain. Klaim sepihak tentang kebenaran golongannya seringkali menisbatkan kelompok lain keluar dari jalan yang benar. Sehingga tidak masalah, jika perlu untuk mengganyang mereka.

Saat ide pemikiran seseorang berbeda dengan pendapat orang lain, dan orang tersebut tidak mengakui, mengingkari seluruh pendapat dari orang lain, hal itu termasuk sebuah wabah penyakit dari sifat ekstrem.

Interpretasi sifat ekstrim

Sifat ekstrem adalah keluar dari batasan wasathiyyah (tengah-tengah), di mana Islam mengajak kepada kita untuk bersikap seimbang, dan mendorong supaya berpengang teguh pada hal tersebut (wasathiyyah). Agama Islam juga mengamanatkan agar kita tidak keluar dari batasan iktidal (proporsional).

وَكَذَالِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُواْ شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ (البقرة: 143)

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143).

Nabi Muhammad Saw. sangat mewanti-wanti kepada umatnya supaya tidak terperosok ke dalam sifat ektremis ini. Salah satu hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya menuturkan:

وقال صلى الله عليه و آله و سلم: (( إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ )) وأخرجه أحمد في المسند.

“Takutlah kalian atas sikap ekstrem dalam beragama, sebab rusaknya seseorang sebelum kalian, dikarenakan sifat extrem atas perkara agama”.[1]

Hadist tesebut memberikan pemahaman kepada kita, bahwa umat-umat terdahulu tidak terlepas dari sifat ekstrem, yang menyebabkan mereka terjerembab dalam kerusakan nyata.

Sifat ekstrem dan fanatisme buta, timbul karena dangkalnya pemikiran seseorang, serta pengetahuan agama yang masih mengambang. Hal ini memunculkan watak keras, sikap apriori dan penentangan terhadap gagasan yang tidak sejalan dengannya.

Sebagian ulama berpendapat; “fanatik terhadap kelompoknya sendiri sejatinya diakibatkan dari dangkalnya pendidikan dan pemahaman dalam agama (fikih)”.[2] Kedangkalan itu mendorong untuk memunculkan respon cepat atas pengingkaran terhadap pendapat yang berbeda.

Karena sifat ini termasuk wabah penyakit penyebab binasanya orang-orang terdahulu, selayaknya bagi kita untuk menjauhi penyakit tersebut. Supaya kita tidak terjerembab kepada kerusakan yang telah kita ketahui penyebabnya.

Mendekatkan kebenaran yang dimaui Tuhan

Untuk menyikapi permasalahan ini, diperlukan ide pemikiran yang luas dan cakrawala pengetahuan mendalam. Ketika keilmuan seseorang telah matang, ia akan sulit menyalahkan orang lain. Pengingkaran atas berbagai permasalahan aktual pun, akan sedikit mereka alami. Karena bagi pemilik nadzhor, perbedaan terhadap suatu problem akan dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi, sehingga ketika telah memaklumi hal tersebut, ia bisa menerima dengan keterbukaan.

كُلَّمَا  زَادَ وَاتَّسِعْ فِكْرُ رَجُلٍ قَلَّ إِنْكَارُهُ لِلنَّاسِ

“Manakala makin luas pikiran orang, maka akan semakin sulit menyalahkan orang lain.”

Mendesak pula sebagai upaya pemecah persoalan di atas, yaitu pentingnya komunikasi (diskusi) antar kelompok sebagai jalan tengah dalam menuntaskan problem yang sedang terjadi. Karena tidak ada satu orang pun dari orang yang berakal, mengingkari ide pemikiran yang akan mendatangkan kebenaran.

Di tengah perjalanan diskusi pun, diperlukan sikap rendah hati dan keterbukaan untuk selalu siap menerima kemungkinan kesalahan pendapat yang kita utarakan, dan kebenaran dari pihak orang lain.

Haidar Bagir melalui tulisannya berpendapat: “Betapa pun kita yakin pada kebenaran tafsir kita sendiri, ada kemungkinan tafsir kita salah dan justru ada kemungkinan tafsir orang lain benar.”[3] Pandangan ini, sama dengan tindakan yang dilakukan oleh ulama salaf dalam berdiskusi. Mereka menilai; “Pendapatku benar, namun bisa jadi memiliki kelalaian. Sementara pendapat lawan menurut pandanganku salah, tetapi mengandung celah kebenaran”.[4]

Kesimpulan

Dalam penyampaian pandangan ulama di atas, kita belajar keterbukaan dan kemauan untuk saling belajar di antara semua orang. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa pemahaman kita tentang Islam akan menjadi lebih utuh.

Seseorang yang menggabungkan berbagai kebenaran, baik yang ada pada diri kita maupun pada orang lain, maka akan memiliki potensi kebenaran yang lebih besar. Dengan kata lain, kebenaran yang kita ketahui menjadi lebih dekat dengan Islam yang dimaui oleh Tuhan.[5]

Membuka kesadaran bahwa manusia sebagai hamba yang tidak pernah luput dari salah dan lupa, juga sangat penting untuk mengaburkan klaim kebenaran atas diri dan kelompoknya.

Bersamaan respon di atas, diharapkan bisa memunculkan sikap toleransi kepada orang yang berbeda pandangan dengan kita. Karena pemahaman kita tentang Islam tanpa disertai dialog, tukar pikiran, saling belajar, dan menerima pemahaman Islam dari orang lain, hanya akan menjauhkan kehendak kebenaran Islam yang dikehendaki Tuhan.[]

Referensi

[1] Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki, Al-ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Irhab Al-Mujtami’, hal. 15, cet. Maktabah Al-Anwar (Nukilan dari Musnad Ahmad, No. 1851).
[2] Al-ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Irhab Al-Mujtami’, hal.46.
[3] Bagir Haidar, Islam Tuhan Islam Manusia, hal. 12, cet. ke VI, Mizan, Bandung, 2018.
[4] Al-ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Irhab Al-Mujtami’, hal. 46.
[5] Islam Tuhan Islam Manusia, hal. 12.

Islam yang dihasrati Tuhan
Islam yang dihasrati Tuhan

Baca juga: Implementasi Metode Pemikiran Aswaja
Jangan lupa untuk menonton: Tiga Golongan Terbaik | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus