Category Archives: Artikel

Mengenal Kitab Ihya’ Ulumuddin

Ihya’ Ulumuddin merupakan karya monumental Imam al-Ghazali (450-505 H), ulama sufi terkemuka. Kitab ini sering dijadikan rujukan utama dalam kajian Islam, khususnya dalam bidang tasawuf.

Selain bahasa yang digunakan terbilang sederhana dan mudah dipahami, Imam al-Ghazali menyusun kitab Ihya’ Ulumuddin dengan urutan pembahasan yang sistematis. Secara garis besar Imam al-Ghazali membagi kitab ini dalam empat bagian:

Bagian pertama Rub’ul Ibadat

Bagian ini mengupas perihal ibadah dan akidah. Pada bagian pertama ini, Imam al-Ghazali mengurai tata cara dan etika beribadah serta rahasia yang terkandung di dalamnya.

Bagian pertama Rub’ul Ibadat

Bagian ini mengupas perihal kebiasaan interaksi antar sesama dan sikap wirai dalam bermasyarakat. Pada bagian ini Imam al-Ghazali banyak menjelasakan tata cara dan etika makan, minum, menikah, hingga cara bekerja.

Bagian ketiga Rub’ul Muhlikat

Bagian ini mengupas perihal sesuatu yang dapat merusak amal ibadah dan akhlak tercela. Pada bagian ini Imam al-Ghazali menjelaskan penyebab-penyebab penyakit hati dan tata cara mengobatinya.

Bagian keempat Rub’ul Munjiyat

Bagian ini mengupas perihal sesuatu yang dapat menyelamatkan seseorang dan akhlak terpuji. Pada bagian ini Imam al-Ghazali juga menjelaskan bagaimana cara menumbuhkan perilaku terpuji dan buah dari perilaku tersebut.

Yang menarik juga dari kitab Ihya’ Ulumuddin adalah cara yang dilakukan Imam al-Ghazali dalam mengurai penjelasan Ihya’Ulumuddin adalah denga membuat perumpamaan (tamtsil). Sehingga materi tasawuf yang sering kali dianggap sulit dapat dengan dicerna dengan mudah.

Di sisi lain, kekuatan argumentasi yang dibangun oleh Imam al-Ghazali. Hampir di setiap pembahasan, Imam al-Ghazali menampilkan dalil-dalil secara berurutan, mulai dari Alquran dan hadis. Hal tersebut juga didukung dengan perkataan para Sahabat, Tabi’in, pendapat ulama salaf dan diakhiri dengan kesimpulan.

Imam Az-Zabidi, sebagai pensyarah kitab Ihya’ Ulumiddin, dalam Kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin mengatakan, “Saya belum pernah melihat kitab yang dikarang oleh para ahli fikih yang di dalamnya terkumpul antara dalil naql (Alquran dan Hadis), ilmu nadzar (pemeriksaan dan dalil yang menguatkannya) pemikiran dan atsar (perkataan para sahabat) seperti dalam Ihya’ Al-Ghazali”.

Hingga kini, kitab Ihya’Ulumuddin tetap dipelajari di berbagai pesantren dan perguruan tinggi Islam di seluruh dunia. Kehadirannya selalu relevan dalam membumikan ajaran-ajaran tasawuf dalam kehidupan umat Islam, kapan pun dan di mana pun. []waAllahu a’lam

Baca juga:
RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# MENGENAL KITAB IHYA’ ULUMUDDIN
# MENGENAL KITAB IHYA’ ULUMUDDIN

Rahasia Ayat Keempat Surat Al-Fatihah

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4

“(Allah) pemilik hari pembalasan”

Dalam ilmu qiro’ah sab’ah terdapat perbedaan dalam membaca ayat ini. Imam Ashim dan imam Ali al-Kisa’I membaca panjang huruf mim lafadz malik. Sebaliknya, para imam qiroah yang lain membaca pendek huruf mim lafadz malik. Dalam ilmu qiro’ah sab’ah, terdapat hikmah yang sangat agung dalam perbedaan cara baca. Karena, selalu ada makna khusus yang dibawa oleh setiap cara baca yang menjadikan al-Qur’an kaya akan perbendaharaan makna.

Qiro’ah yang membaca panjang huruf mim lafadz malik (terbaca Maalik) membawa makna memiliki karena lafadz maalik adalah bentuk isim fa’il dari asal kata milk (ملك) yang bermakna kepemilikan. Sedangkan, qiro’ah yang membaca pendek huruf mim lafadz malik (terbaca Malik) membawa makna merajai/menguasai karena lafadz malik adalah sifat musyabbihat dari asal kata mulk (ملك) yang bermakna kerajaan.

Singkronasi

Ketika kita padukan dua cara baca ini, maka kita akan menemukan makna bahwa Allah lah yang memiliki hari pembalasan dan Allah lah yang mengatur seluruh urusan pada hari pembalasan. Makna ayat ini membawa pesan peringatan agar hamba-Nya ikhlas beribadah kepada-Nya. Karena kelak mereka akan menemui balasan perbuatan mereka pada hari pembalasan.

Dalam ayat ini, “Mengapa Al-Qur’an datang dengan dua cara baca?”

Dengan dua makna inilah, sifat keagungan Allah terlihat jelas di hadapan pembaca Al-Qur’an. Karena hanya Allah lah yang memiliki hari pembalasan sebagaimana dalam ayat al-Qur’an

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (19

“Pada hari (ketika) seseorang tidak memiliki (pertolongan) bagi orang lain. Dan segala urusan pada hari itu adalah milik Allah” (Qs. Al-Infithar : 19)

Dan hanya Allah lah yang mengatur segala perkara yang terjadi pada hari pembalasan, di mana seluruhnya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana dalam ayat al-Qur’an

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ( 16

“Pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman) “Siapakah yang merajai hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan” (Qs. Ghafir : 16)

Seandainya hanya memakai satu cara baca dalam lafadz malik tentu pembaca akan kurang dalam memahami ayat.

Terlindunginya Makna

Ketika hanya memakai makna “Memiliki hari pembalasan” mungkin saja pembaca akan berfikir “Apakah Allah yang memiliki hari pembalasan mampu menghukum hambanya di hari tersebut?”. Karena ada beberapa sekte di luar aliran Aswaja yang tidak mengakui surga dan neraka sebagai balasan yang nyata. Bahkan, sebagian dari mereka menyatakan surga dan neraka bersifat ilusi bukan sebuah balasan yang nyata / hakiki. Sehingga mereka tidak benar-benar mengimani bahwa Allah adalah dzat yang mengatur jalannya hari pembalasan. Misalnya, pembaca dari kalangan sekte Murji’ah akan menyatakan “Allah hanya memiliki hari pembalasan dan Allah tidak mungkin menghukum hamba-Nya pada hari pembalasan karena setiap yang beriman pasti masuk surga tanpa hisab”.

Ketika hanya memakai makna “Merajai hari pembalasan” mungkin saja pembaca akan berfikir “Apakah Allah yang merajai dan mengatur di hari pembalasan adalah pemilik hari tersebut?”. Tentu, pembaca dari kalangan penganut aliran trinitas (agama yang mengakui tiga tuhan) akan berfikir “Esensi yang mengatur sebuah perkara bisa jadi tidak memiliki perkara tersebut, karena bisa jadi ada satu tuhan yang mengatur jalannya hari pembalasan dan ada satu tuhan lain yang memiliki hari pembalasan”.

Kesimpulan

Secara logika, dapat kita sederhanakan bahwa  makna “memiliki” dan “menguasai” adalah dua peran yang berbeda. Misalnya, seorang raja bisa dikategorikan “memiliki” sebuah negara berbasis kerajaan, akan tetapi yang memiliki peran “menguasai” jalannya hukum di negara tersebut adalah perdana menteri.

Selain kedua cara baca di atas, juga beberapa cara baca lain yang bermacam-macam. Misalnya, imam Laits bin Sa’ad yang membaca Malikii Yaumid Diin (ملكي يوم الدين), imam Abu Hanifah yang membaca Malaka Yaumad Diin (ملك يوم الدين) dan masih banyak lagi. Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Itqan mencatat ada 13 cara baca dalam ayat ini.

Kemudian, dalam ayat ini lafadz ad-Din bermakna pembalasan yang masih satu akar kata dengan lafadz Ad-Dain yang bermakna hutang. Karena sebagaimana hutang yang harus dilunasi maka setiap amal perbuatan juga akan dilunasi balasannya di hari pembalasan. Sebagaimana sebuah sya’ir

ولم يبق سوى العدوا     #   ن دناهم كما دانوا

“Dan tidak tersisa kecuali permusuhan, kami membalas sesuai dengan perbuatan mereka”

Kemudian, dalam ayat ini sifat kepemilikan dan menguasai dihubungkan (idhofah) dengan hari pembalasan sebagai waktu dijalankannya pembalasan Allah. Dalam ilmu tata bahasa Arab, hal ini menyimpan faedah ittisa’ (perluasan makna) karena pada dasarnya makna yang dimaksud adalah Allah menguasai dan memiliki seluruh perkara yang ada pada hari pembalasan. Hal ini sebagaimana ungkapan bangsa Arab dalam mensifati seorang pencuri barang berharga “Wahai orang yang mencuri malamnya penghuni rumah”.

Penulis: Muhammad Tholhah Al-Fayyad

Alumni Ponpes Lirboyo Kediri, sedang Menempuh Jenjang S1 Jurusan Ushuluddin di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Baca juga:
ISLAM AGAMA YANG AKOMODATIF DENGAN BUDAYA

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# RAHASIA DI BALIK AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH
# RAHASIA DI BALIK AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR DALAM BINGKAI NEGARA DEMOKRASI

Berbicara perihal amar makruf nahi munkar tidak bisa lepas dari kebebasan. Dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat bagi rakyat merupakan persyaratan mutlak untuk berlangsungnya sistem demokrasi. Karena hanya dengan kebebasan berpendapat, rakyat dapat berperan sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Namun banyak sekali yang menganggap kebebasan bernegara tanpa memiliki batasan.

Baik batasan agama, hukum, maupun norma sosial. Pemahaman seperti ini, sebenarnya sangat mudah untuk disalahkan. Sebab, secara kemanusiaan, se-bebas apapun orang berbuat sesuatu akan tetap terbatasi oleh kebebasan orang lain.

Kebebasa berbicara (Freedom of Speech)

Kebebasan berbicara adalah saat masyarakat dapat menyampaikan pendapatnya pada publik tanpa rasa takut. Entah pendapat tersebut berupa kritik atau dukungan terhadap pemerintah.

Hal yang perlu di perhatikan ialah kebebasan berbicara dalam konteks demokrasi bukan untuk bebas melontarkan perkataan caci maki, hinaan, pelecehan, atau ujaran kebencian. Kebebasan rakyat adalah ketika rakyat bebas untuk menyatakan pendapat, kritik, ide, dan pikiran atau gagasannya.

Sehingga, eksistensi rakyat tetap terjamin sebagai manusia merdeka. Inilah koridor kebebasan berbicara yang jadi nilai fundamental dalam demokrasi.

Dalam islam sendiri, kebebasan berpendapat mendapatkan jaminan penuh. Sampai-sampai dalam tataran tertentu, persoalan ini lebih penting dari sekedar kebebasan itu sendiri. Bahkan, telah menjadi suatu kewajiban yang ada dalam bingkai amar makruf nahi munkar. Rasulullah Saw. bersabda dalam suatu hadis:

قل الحق ولو كان مرّا

“Katakanlah kebenaran meskipun pahit.” [HR. Ibnu Hibban]

Umat islam pada umumnya, ketika melihat kemungkaran nyata wajib baginya untuk mencegah dengan tindakan, lisan, atau ingkar dalam hatinya. Sesuai dengan level kemampuannya. Rasulullah Saw. bersabda:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان ) رواه مسلم

“Dari Abi Sa’id al-Khudri R.a. beliau bekata: ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa melihat sesuatu yang mungkar, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya; ini termasuk dari lemahnya iman.” [HR. Muslim]

Dalam konteks bernegara, islam sangat mengapresiasi kebebasan berbicara. Dalam Islam juga dijelaskan bahwa kebenaran di depan pemimpin yang lalim, dinilai sebagai jihad paling utama.

Sebuah hadis menyebutkan, Rasulullah Saw. bersabda: “Jihad yang paling utama adalah berkata kebenaran di hadapan pemimpin yang lalim.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi]

Tatacara amar makruf nahi mungkar

Sudah sepatutnya memerintahkan sesuatu yang baik juga harus dengan cara yang baik. Tidak diperbolehkan memerintah kebaikan dengan cara yang tidak baik.

Imam Zainuddin al-Malibary dalam kitab I’anah at-Thalibin menjelaskan bahwa;

“Kewajiban amar makruf nahi mungkar menjadi gugur, apabila dapat mengancam keselamatan jiwa, harta, anggota tubuh, pelecehan seksual. Atau menimbulkan kerusakan lain yang dampaknya lebih besar.”

Tahapan amar makruf ini meliputi; Ta’rif (memberikan pendidikan atau penyuluhan). Wazh (memberikan peringatan dan nasihat). Ketiga, Takhsyin fi al-qoul (memberikan kritik dan kecaman yang tegas). Keempat, Man’u bil qahri (melakukan pencegahan secara paksa).

Dalam tahapan tersebut, dua tahapan terakhir hanya menjadi hak eksklusif pemerintah atau imam (dalam agama). Saat masyarakat umum yang melakukan hal tersebut, akan sangat berpotensi menimbulkan fitnah.

Standar Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar

Melaksanakan amar makruf nahi mungkar, memiliki beberapa standar yang harusnya dipenuhi. Agar bisa diterima dan bukan malah menimbulkan penolakan.

Standar ini diantaranya; amar makruf dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu yag luas (baca; alim) agar tahu batasan-batasan hukum. Atau dilakukan oleh orang yang wira’i agar motifnya benar-benar melakukannya dengan ikhlas, bukan karena hawa nafsu.

Atau dilakukan oleh orang yang memiliki integritas moral (akhlak yang baik), agar amar makruf nahi mungkar dilaksanakan dengan cara santun, dan penuh dengan hikmah, serta terhindar dari cara yang tidak sesuai, seperti melakukan perusakan, atau pengeboman ditempat-tempat maksiat, apalagi dilakukan oleh masyarakat umum.

Dalam al-Quran, Allah Swt. telah menyinggung perihal amar makruf nahi mungkar, seperti dalam surah an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [Q.S. an-Nahl; 125]. []

Penulis: Iskandar Nidhom (Santri Pondok Pesantren Lirboyo, asal Bangkalan-Madura)

Baca Juga: RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN | PART 2

Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Resensi Kitab Minhaj At-Thalibin | Part 2

Imam An-Nawawi melakukan pembenahan kosa kata yang dipergunakan Imam Ar-Rafi’i dalam kitab Al-Muharrar yang masih mungkin berpotensi menimbulkan salah pemahaman. Misalkan redaksi ولا يحب ولي عبد صبي على النكاح diganti dengan redaksi ولا يزوج ولي عبد صبي . (halaman: 382)

Alasannya, redaksi yang digunakan oleh Imam Ar-Rafi’i dalam kitab Al-Muharrar bisa menimbulkan pemahaman bahwa seorang wali berhak menikahkan budak yang dimiliki anaknya yang masih kecil dengan persetujuan anak tersebut. Sehingga bagi wali tidak boleh menikahkan budak tersebut tanpa persetujuan dari anaknya yang masih kecil. Padahal, baik disetujui atau tidak, seorang wali tidak boleh menikahkan budak tersebut. Di sinilah pembaruan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj dapat meminimalisir kesalahan dalam mengambil kesimpulan hukum.

Dari usaha-usaha yang tidak sederhana itulah akhirnya Imam An-Nawawi berhasil menelurkan karya kitab Minhaj at-Thalibin. Tak heran, kitab Minhaj at-Thalibin diklaim mampu menjadi kitab Matan yang merepresentasikan keseluruhan rumusan fikih mazhab Syafi’i. Sistematika penulisannya pun hampir sama dengan kitab-kitab fikih pada umumnya, yakni pendahuluan, bersuci (dengan keseluruhan babnya), salat, salat jamaah, jenazah, puasa, iktikaf, haji, muamalah (dengan keseluruhan babnya), waris dan wasiat, pernikahan (dengan keseluruhan babnya), pidana, denda, dakwaan (dengan keseluruhan babnya), buruan dan sembelihan, kurban, makanan, sumpah, nazar, peradilan, persaksian dan barang bukti, hingga memerdekakan budak.

Akan tetapi, perlu kita akui jika kajian atas kitab Minhaj at-Thalibin pada beberapa pesantren di Indonesia termasuk literatur fikih tingkatan menengah ke atas. Kitab ini hanya dipelajari oleh mereka yang sudah memiliki bekal yang cukup dalam bidang fikih. Tanpa menafikan kemampuan para pengkaji fikih tingkat dasar, kitab ini ‘tidak layak konsumsi’ bagi pemula yang baru berkonsentrasi pada fikih.

Kesimpulan

Maka dari itu, dapat kita simpulkan bahwa kitab Minhaj at-Thalibin karya Imam An-Nawawi ini sangat layak menjadi bacaan ‘wajib’ bagi pengkaji dan pemerhati fikih mazhab Syafi’i. Sajian istilah-istilah fikih memberikan nilai lebih dalam kitab ini, khususnya dalam rangka mengetahui karakteristik dan asal mula perbedaan pendapat yang terjadi dalam mazhab Syafi’i. Namun dalam rangka mendapatkan pemahaman yang utuh, mempelajari kitab ini perlu kajian lebih serius. Apalagi penyajian bahasanya terbilang ringkas dengan bobot pembahasan yang cukup mendalam. Untuk itu, sebagai saran, kita juga perlu mengkaji kitab-kitab yang mengurai lebih jauh terhadap kitab Al-Minhaj ini, baik yang berupa penjelasan (syarh), komentar (hasyiyah), hingga berupa bait-bait (nadzam). []

Baca juga:
RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN Part 1

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo
Lim Production
Santri Mengaji

# RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN | PART 2

Resensi Kitab Minhaj At-Thalibin

Bagi pengkaji dan pemerhati fikih mazhab Syafi’i, keberadaan kitab Minhaj at-Thalibin menjadi literatur utama yang sulit terpisahkan. Alasannya, kehadiran kitab ini diklaim sebagai rujukan paling representatif dalam kajian fikih mazhab Syafi’i. Tak heran, kitab Minhaj at-Thalibin sering kali dijadikan referensi utama dalam berbagai forum musyawarah dan Bahtsul Masail di pesantren maupun Nahdlatul Ulama.

Kitab Minhaj at-Thalibin atau yang sering disebut dengan kitab Al-Minhaj merupakan salah satu di antara deretan karya Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi yang kemudian lebih dikenal dengan nama Imam an-Nawawi (w. 676 H). Dengan nama lengkap Minhaj at-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin yang berarti “Jalan para pelajar dan penopang para mufti”, sang penulis telah memberikan sinyal optimis bahwa karyanya sangat patut dijadikan pegangan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang fikih, khususnya fikih mazhab Syafi’i.

Peringkas

Dalam pendahuluan (muqaddimah) kitab ini, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kehadiran kitab Al-Minhaj tidak terlepas dari kitab Al-Muharrar karya Imam Ar-Rafi’i (w. 623 H). Karena sejatinya kitab Al-Minhaj merupakan ringkasan (mukhtashar) kitab Al-Muharrar. Kitab Al-Muharrar sendiri merupakan hasil karya Imam Ar-Rafi’i dalam menghimpun berbagai pendapat Imam Syafi’i serta silang pendapatnya dengan para Ashhab asy-Syafi’i (sebutan bagi pengikut atau murid Imam Syafi’i). Atas dasar itulah Imam an-Nawawi hendak menghadirkan kembali kitab Al-Muharrar yang berjilid-jilid dengan wajah baru dan format yang lebih ringkas agar lebih mudah untuk dipahami dan dihafal.

Nilai tawar yang diberikan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj tidaklah sederhana. Yang mampu mencuri perhatian para pengkaji dan pemerhati fikih Madzhab Syafi’i adalah kepiawaiannya dalam merumuskan istilah fikih. Kendati istilah-istilah semacam itu sudah ada sebelumnya, namun istilah yang dirumuskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj dinilai lebih sempurna dari istilah fikih yang dicetuskan dari para pendahulunya, seperti Imam Ar-Rafi’i dan Imam Al-Faurani.

Kunci

Pada dasarnya, istilah-istilah fikih dalam kitab Al-Minhaj dirumuskan dalam rangka untuk mengetahui asal perbedaan pendapat (khilaf) dan tingkat kekuatan antar pendapat yang berbeda. Sehingga ketika terjadi kontraksi antara dua pendapat atau lebih, maka keberadaan istilah tersebut mampu memberikan jalan keluar dalam menentukan pendapat mana yang lebih kuat, baik secara dalil argumentasi, nalar berpikir dan ketepatan menganalisis permasalahan. Sebagaimana yang telah ditegaskan Imam an-Nawawi dalam pendahuluan kitab ini:

فحيث أقول في الأظهر أو المشهور فمن القولين أو الأقوال فإن قوى الخلاف قلت: الأظهر وإلا فالمشهور وحيث أقول الأصح أو الصحيح فمن الوجهين أو الأوجه فإن قوى الخلاف. قلت: الأصح، وإلا فالصحيح وحيث أقول المذهب فمن الطريقين أو الطرق وحيث أقول النص فهو نص الشافعي رحمه الله ويكون هناك وجه ضعيف أو قول مخرج وحيث أقول الجديد فالقديم خلافه أو القديم أو في قول قديم فالجديد خلافه وحيث أقول وقيل: كذا فهو وجه ضعيف والصحيح أو الأصح خلافه وحيث أقول وفي قول كذا فالراجح خلافه

Artinya:

“Sekiranya saya menyebutkan redaksi الأظهر atau المشهور berarti hal itu muncul dari dua atau beberapa pendapat. Apabila pendapat yang berbeda itu kuat maka saya menyebutnya الاظهر namun apabila tidak kuat maka saya menyebutnya المشهور . Dan sekiranya saya menyebutkan redaksi الأصح atau الصحيح berarti hal tersebut muncul dari dua atau beberapa pandangan. Apabila pandangan yang berbeda itu kuat maka saya menyebutnya الأصح namun apabila tidak kuat maka saya menyebutnya الصحيح . Sekiranya saya menyebutkan redaksi المذهب berarti hal tersebut muncul dari dua atau beberapa metode.

Sekiranya saya menyebutkan redaksi النص berarti hal tersebut nash langsung dari Imam Syafi’i rahimahullah dan di sana terdapat pendapat yang lemah serta pendapat yang dikeluarkan. Sekiranya saya menyebutkan redaksi الجديد maka menjadi lawan dari redaksi القديم .

Sekiranya saya menyebutkan redaksi القديم atau redaksi في قول قديم maka menjadi lawan dari redaksi الجديد . Sekiranya saya menyebutkan redaksi وقيل كذا maka mengindikasikan pandangan yang lemah dan redaksi الصحيح atau الأصح menjadi kebalikannya. Dan redaksi وفي قول كذا maka yang unggul adalah pandangan kebalikannya.” (halaman: 65)

Pencerah

Di sisi lain, inovasi yang dibuat Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj adalah meniadakan kosakata asing (gharib) yang ada dalam kitab Al-Muharrar. Pada gilirannya, kosakata tersebut diganti dengan yang lebih jelas dan mudah. Salah satu contohnya ialah kata الباغ yang digunakan Imam Ar-Rafi’i dalam kitab Al-Muharrar. Kata tersebut sangat asing dalam bahasa Arab karena memang kata tersebut berasal dari bahasa Persia (Iran). Akhirnya, dalam kitab Al-Minhaj, Imam An-Nawawi menggantinya dengan kata البستان yang berarti “kebun”. (halaman: 229)

Tidak berhenti sampai di sini, Imam An-Nawawi masih mengembangkan pembaruan-pembaruan lain. Beliau melakukan ….. (lanjut baca di postingan yang akan datang)

Baca juga:
MENYELAMI KHAZANAH KITAB IBNU AQIL

Dengarkan juga:
Dawuh Masyayikh

# RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN
# RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN