Category Archives: Artikel

Etika yang perlu diperhatikan di Hari Jum’at

Perlu kita ketahui bahwa hari Jum’at merupakan hari raya bagi orang-orang beriman. Hari Jum’at merupakan hari mulia yang khusus diperuntukkan Allah bagi umat ini. Dalam hari Jum’at ada saat-saat penting yang apabila seorang mukmin meminta kebutuhannya pada Allah SWT, pasti Allah akan mengabulkan.

Oleh karena itu, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari raya tersebut, dilakukan sejak hari Kamis dengan cara membersihkan pakaian, banyak bertasbih, dan istighfar, pada Kamis petang (sore)-nya, karena keutamaan saat itu sama dengan keutamaan hari Jumat.

Berniatlah untuk puasa di hari Jum’at. Tetapi harus dengan hari Kamis atau hari Sabtu, tidak boleh dikerjakan pada hari Jum’at saja. Jika subuh telah tiba, mandilah dengan niat mandi Jum’at karena mandi pada hari Jum’at hukumnya sunah muakkad.

Kemudian berhiaslah dengan memakai pakaian putih karena itulah pakaian yang paling dicintai Allah Swt, lalu pakailah parfum paling wangi yang kamu miliki, dan bersihkan badanmu dengan potong rambut, menggunting kuku, bersiwak, dan yang lainnya, kemudian segeralah bergegas menuju masjid dan berjalanlah dengan perlahan dan tenang.

Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang pergi salat Jum’at di waktu pertama, maka seakan-akan ia telah berkurban unta. Siapa yang pergi pada waktu kedua, maka seakan-akan ia berkurban sapi betina. Siapa yang pergi di waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban kambing kibas. Siapa yang pergi di waktu ke empat, maka seakan-akan ia berkurban ayam. Siapa yang pergi di waktu kelima, maka seakan-akan ia berkurban telur. Jika imam sudah keluar atau naik mimbar, maka lembaran-lembaran itu pun dilipat dan pena-pena diangkat. Sementara para malaikat berkumpul di mimbar untuk mendengarkan zikir/peringatan.”

Disebutkan bahwa kedekatan manusia dalam pandangan Allah SWT, bergantung pada cepatnya mereka menuju salat Jum’at.

Hal-hal yang perlu diperhatikan di Hari Jum’at

Kemudian, apabila engkau berada di masjid, usahakan untuk berada di shaf yang pertama. Jika manusia sudah banyak berkerumun, jangan melewati pundak mereka, dan jangan pula lewat di hadapan mereka yang sedang salat. Duduklah dekat tembok agar mereka tidak lewat di depan kita. Sebelum itu lakukanlah salat tahiyyatul masjid.

Lebih baik lagi, kalau engkau salat sebanyak empat raka’at. Dalam setiap rakaat, setelah membaca surat al-Fatihah, kita membaca surat al-Ikhlas sebanyak lima puluh kali. 

Disebutkan dalam satu riwayat bahwa siapa yang melakukan amalan tersebut, ia tidak akan meninggal dunia sampai melihat tempat duduknya di surga atau hal itu diperlihatkan padanya.

Perbanyaklah membaca shalawat atas Rasulullah Saw. khususnya pada hari tersebut. Manakala imam atau khatib sudah naik mimbar, berhentilah dari salat dan berbicara. Sibukkan diri dengan menjawab panggilan azan, mendengarkan khutbah dan ceramah. Tidak boleh sama sekali berbicara ketika khatib sedang berkhutbah.

Dalam riwayat disebutkan, “Siapa yang berkata kepada temannya, “Diamlah” saat imam berkhotbah maka ia telah berbuat sia-sia. Dan siapa yang berbuat sia-sia, maka ia tak mendapat keutamaan Jum’at.” Hal itu, karena perintah diam itu sendiri berbentuk ucapan. Sebaiknya larangan diberikan dalam bentuk isyarat, bukan dengan kata-kata.

Lalu ikutilah perbuatan imam seperti telah disebutkan sebelumnya. Apabila telah selesai, sebelum berbicara bacalah surat al-Fatihah, surat al-Ikhlas, surat al-Falaq dan surat an-Naas, masing-masing tujuh kali. Itu akan melindungimu dari Jum’at ke Jum’at, juga akan menjaga kita dari setan.

Hal-hal yang perlu dilakukan di Hari Jum’at

Seyogyanya setelah itu, membaca:

“Allahumma yaa ghaniyy yaa hamiid yaa Mubdii yaa mu’iid yaa rahiimi yaa waduud aghninii bihalalika ‘an haramika bi fadhlika ‘an ma’shiyatika wabifadhlika ‘amman siwaak.”

Artinya: “Ya Allah wahai Zat Yang Mahakaya, Maha Terpuji, Maha Memulai, Maha Mengembalikan, Maha Penyayang, dan Maha Pemberi. Berilah kecukupan padaku dengan yang halal bukan yang haram; dengan taat, bukan maksiat; dan dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu.”

Setelah itu, lakukanlah salat dua raka’at. Atau enam raka’at yang dilakukan per-dua raka’at salam. Semua itu terdapat dalam riwayat yang berasal dari Rasulullah Saw. dalam kondisi yang berbeda-beda.

Kemudian menetap di masjid sampai waktu maghrib atau ashar. Hendaknya selalu memperhatikan waktu yang mulia. Sebab, waktu mulia tersebut terdapat sepanjang hari itu, tetapi tidak ditentukan secara pasti. 

Mudah-mudahan kita memperolehnya ketika sedang berada dalam kondisi yang khusyuk dan tunduk pada Allah Swt. selama di masjid, jangan mendekati majelis yang berisikan cerita dan kisah. Tapi, hendaknya menghampiri majelis yang berisi ilmu yang bermanfaat. Majelis itulah yang bisa membuat kita lebih takut pada Allah dan membuat kita mengurangi cinta pada dunia.

Jika suatu ilmu tidak mampu mengajakmu untuk mengesampingkan dunia untuk akhirat, maka lebih baik tidak usah mengetahui ilmu tersebut. Berlindunglah pada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Memperbanyak berdo’a ketika matahari terbit, tergelincir, dan terbenam, ketika khatib naik mimbar, dan ketika orang-orang berdiri untuk menunaikan salat, karena kemungkinan besar itulah waktu-waktu yang mulia.

Akhiran, berusaha untuk bersedekah sesuai kemampuan kita pada hari tersebut, walaupun sedikit. Dengan demikian, kita telah mengumpulkan antara salat, puasa, sedekah, membaca al-Quran, zikir, dan iktikaf.

Jadikan hari Jum’at sebagai hari yang khusus untuk akhirat; barangkali hari tersebut menjadi penebus dosa bagi hari-hari lainnya dalam seminggu ke depan.

(Sumber; Bidayatul Hidayah, Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghozali, Dar al-Minhaj, hal 156)

Dakwah Syariah Santri |Resolusi Sosial Dan Moral

Oleh: Muhammad Daffa

Musthofa al-Gholayani. Seorang politikus, aktivis sosial, pakar bahasa, dan sastra Arab asli Syiria menyimpulkan: “Seluruh bangsa yang sedang mengidap penyakit sosial (disease) lebih membutuhkan dokter sosial ketimbang pengobat jasad kasar masyarakatnya. Ketika anak-anak bangsa lebih banyak dikirimkan ke sekolah kedokteran dan sedikit sekali yang dididik di madrasah moral dan sosial, maka hal ini adalah suatu tanda kerusakan moral di hati mereka. Sementara kemajuan bangsa tidak akan tercapai kecuali moral sosial diobati oleh pegiat yang tumbuh aktif dalam diri bangsa itu sendiri”.

Apa yang disampaikan beliau, hari ini sudah terasa. Saat ini, umat muslim sedang berada pada masalah internal maupun di luar dirinya. Maka satu-satunya kelompok masyarakat Indonesia yang ideal untuk memperbaiki komponen sosial adalah santri.

Penyimpangan moral (Social contagion) kaum muslimin sampai penetrasi negara-negara adidaya yang menyisakan perasaan kekalahan (social lag) Islam, serta persaingan antar lapisan sosial dunia untuk mendapatkan posisi terdepan, yang hanya menciptakan konflik pergolakan (confusion) dengan diperparah oleh jaringan informasi internet—mengharuskan santri sebagai social worker (aktivis sosial), untuk lebih serius dalam melecutkan aktivitas sosialnya.

Peran Santri

Santri sebagai penyerap dan penghayat ajaran Islam di pesantren (lembaga paling efektif dan fokus di bidang agama), haruslah bisa memberikan wujud perbaikan dalam komunitas komunal. Karena sungguh pegiat sosial seperti santri, memiliki manhaj istimewa rekonstruksi sosial integral (metode perbaikan sosial yang menyeluruh) dalam bidangnya. Mengingat Islam sendiri membawa pesan-pesan perbaikan (sosial rekonstruktion), diantaranya budaya dakwah.

Dalil (Judgement law) dakwah termaktub dalam firman Allah swt:

ولتكن منكم امة يدعون الى الخير و يامرون بالمعروف وينهون عن المنكر و اولئك هم المفلحون

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang meyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Ali-Imron 104)

Arahan dakwah kepada kebajikan menurut al-Baidhowi, menyeluruh pada segala hal bermuatan kebaikan duniawi atau ukhrawi. Bahkan Habib Abdullah bin Alawy al-Haddad menegaskan artian dakwah memuat segala dalil yang menjelaskan keutamaan mengajar, belajar, ceramah, mengingatkan, jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah satuan cabang dakwah. Kandungan luas ini akan menyentuh seluruh problem yang ada sekarang.

Dalam ayat di atas, selain memberikan legalitas dakwah, terselip kewajiban secara terbuka (fardlu kifayah) untuk orang-orang berilmu supaya aktif dalam menggencarkan dakwah. Sebab alasan ini diperjelas dengan ayat:

فلولا نفرمن كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون.

“Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

Syarat Pendakwah

Konklusinya, dakwah sebagai pekerjaan sosial hanya legal dan wajib dijalankan oleh orang-orang berlimu (kompatibel). Karena jika tidak, muatan dakwah hanya menimbulkan kegaduhan berupa bid’ah, kafir, cenderung ekstrim, dan radikal. Bahkan sampai penghalalan darah sesama.

Menariknya, upaya rekonstruksi sosial menurut sociology of religion ini, merupakan cara untuk menyatukan dan merawat masyarakat bangsa. Sebab ayat dakwah di atas adalah penjelasan ayat sebelumnya, berupa:

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا ( ال عمران : 103 )

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (Ali-imron 103)

Al-Muraghy menjelaskan ayat ini bahwa sebuah bangsa tidak akan maju kecuali dengan persatuan seluruh masyarakatnya, tidak berdasarkan saling membenci dan memusuhi. Maka agama menyerukan persatuan seluruh elemen yang terakomodir dalam bumi yang satu, meski berbeda agama dan jenis. Dan memerintahkan semua elemen berpengang teguh dengan ajaran Allah Swt.

Kita dapat membuktikan kesohihan statement ini dengan merujuk sejarah negara Islam pertama, Madinah dengan piagamnya sebagai undang-undang dasar yang disusun sendiri oleh Rasulullah Saw. Harmonisasi antar umat beragama, ragam suku dan ras, memiliki kewajiban dan hak sama di mata hukum, serta saling peduli untuk melindungi negara.

Merawat Persatuan

Lanjut al-Muraghy, setelah perintah persatuan, dalam surat Ali-Imron 14 (ayat dakwah), Allah Swt. menyerukan untuk memotifasi semua personal umat untuk mengikuti, melestarikan, menjaga ajaran agama, menanamkan rasa kecintaan dan simpati individu, untuk menebar kebaikan bagi seluruh umat. Bukan mencintai diri sendiri dan kepentingannya. Dengan demikian, masyarakat memiliki ikatan yang kuat dalam persatuan, guna meraih kebaikan bersama, layaknya tubuh yang satu.

Artinya, dakwah adalah kontrol sosial yang mempersatukan dan mengisinya dalam kebaikan bersama. Sangat irasional bila dakwah dijadikan bilah pedang untuk memecah belah umat. Padahal perpecahan begitu mengerikan. Sehingga Syekh Yasir, Direktur Madrasah Al-Ghozaliyah Syiria, mewanti-wanti agar keadaan yang menimpa Syiria tidak terjadi di Indonesia. Dalam urgensi mejaga persatuan dan keamanan ini, beliau sampai berpesan:

الحاكم الظلوم خيرمن فتنة تدوم

“Pemerintah yang berbuat lalim labih baik dari fitnah ) perpecahan dan penumpahan darah) yang berlarut-larut.”
Maka dalam dakwah diperlukan kesabaran dan kelembutan, karena tujuan maslahat tidak mungkin dicapai dengan cara menempuh mafsadah. Meski pemerintahan seakan membuta tulikan diri terhadap aktifitas penyimpangan. Walaupun seakan perbuatan itu tidak dapat dihentikan kecuali ‘membakar sarang’. Sekalipun Muslimin memiliki power sosial, namun jika ada perlawanan kembali dengan cara yang sama, tidak dalam waktu lama—yang tersisa hanyalah darah, puing, dan kebodohan.

Mengenai wasilah dakwah, As-Sa’di berpendapat; “Perintah tentang sesuatu adalah mengerjakan hal itu sekaligus untuk melaksanakan penyempurnanya jika tidak dapat disempurnakan kecuali dengan hal tersebut. Maka seluruh penyaluran dakwah berhukum sama dengan dakwah itu sendiri.” Dan segala hal yang dapat mewujudkan tujuan dakwah mungkin bisa untuk ditempuh selagi tidak diharamkan secara syara’. Dengan arti mendirikan sekolah dan membantu pemerintah untuk menerapkan hukum bernafas syariat. Baik apresiasi melalui ucapan, tindakan, dan harta—sama hukumnya dengan dakwah. Substansi ini memiliki pemahaman kegiatan dakwah di dunia maya, baik konten berupa tulisan, gambar, suara, dan video, memiliki hukum yang yang sama.

Ciri Peradaban yang Maju

Menurut teori Ibnu khaldun, fenomena sosial yang terjadi saat sebuah peradaban mulai maju ialah masyarakatnya akan peduli pada hal tersier (tahsiniah). Salah satunya adalah kesenian. Kesenian dalam arti umum yaitu karya yang mewujudkan keindahan yang dapat dinikmati fikiran dan sanubari. Dalam konteks ini, maka keindahan bintang, bulan, gugusan gunung, dan bukit—keterampilan, kecantikan, dan ayat-ayat Tuhan, adalah kesenian tidak tertandingi dalam arti verbal yang umum. Dan, dalam kesenian juga dapat memasukan syair atau puisi, prosa, novel, tabloid kekinian dalam artian yang sama.

Kesenian Dakwah

Di era digital, film dan musik dengan ragamnya adalah bentuk hiburan kesenian modern. Yahya Ridho Jadd, ulama kontemporer Mesir menyampaikan, harusnya kaum Muslimin mulai merintis dakwah melalui kesenian, bukan lagi membahas landasan dasar hukumnya. Pasalnya saat ini, umat manusia tidak dapat terlepas dari kesenian. Bahkan menurutnya, sangat aneh bila para Mufti mengharamkan kesenian, karena mereka tidak mengerti apa itu seni. Uraian Yahya berikutnya, selagi sebuah kesenian diformulasikan dengan moral dan ajaran syara’, maka kesenian adalah metode dakwah yang dapat bertrasformasi hukum; baik mubah, mandub, atau wajib disesuaikan dengan keadaan.

Sebuah analisa yang baik ini, dapat dijadikan perbandingan. Khususnya dalam dunia perfilman kita, baik melalui TV nasional atau layar lebar—sudah terjadi perang budaya yang jomplang dan menyedihkan. Padahal aktor, sutradara, produsen, dan mayoritas penonton adalah Muslim. Belum lagi hiburan sejenis yang dipancarkan jaringan internet. Di dunia musik juga tak jauh bebeda.

Yahya Ridlo Jadd menuturkan, pertama muncul seni teather sandiwara di Mesir, dimulai dan dipelopori oleh Abdurrahman al-Bana (ayah Hasan al-Bana pendiri Ikhwanul Muslimin) sebelum abad 20. Sementara beribu kilo meter, berbeda pulau, bahasa, jauh sekali sebelum di Mesir itu, guru seluruh santri, Sunan Kalijaga telah bersafari dakwah dengan kesenian wayang, tari, musiknya. Bahkan masjidnya dibangun sesuai seni dan falsafah yang elok memikat masyarakat. Hari ini, santri adalah pewarisnya. Cukup sudah mengimpor metode dan tatbik (penerapan) dari Timur Tengah. Sebab kita memiliki metode yang lebih mapan, moderat, damai, dan jauh dari kontradiksi, ketidakpastian serta perang seperti negara-negara jauh di sana.[]

Tentang penulis:
Nama : Muhammad Daffa
TLL : Chilegon, 04 Juni 2001
Wali : H. Rohmatullah
Alamat : JL. Kubangwates RT. 01 RW. 02 Ciorawaseh Grogol Cilegon BANTEN
Pondok : HMC

Baca juga:
HARGA SEBUAH RASA AMAN

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Santri Mengaji
LIM Production

# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL

Harga Sebuah Rasa Aman

Sumbang Pemikiran dari Pojok  Pesantren
Penulis: Muhammad Jazilunnazal

“Ya Allah, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman, dan

Anugerahkan penduduknya dengan tetumbuhan (tsamarat) ”

                Do’a Bapak Para Nabi ini terekam dalam al-Qur’an. Tepatnya dalam surah Al-Baqarah ayat 126. Nabi Ibrahim As. meminta kepada Allah Swt. Tuhan Alam Semesta, agar negerinya Tanah Haram Makkah, dijadikan negeri yang aman, serta penduduknya makmur, tercukupi oleh melimpahnya hasil alam di sekitarnya. Menarik kita kaji. Kenapa do’a Nabi Ibrahim As. yang diabadikan dalam surah itu hanya menyangkut persoalan aman tidaknya negeri Makkah. Bukankah masih banyak do’a-do’a yang lebih berbobot, menjurus ke ranah hasanah fil akhirah (kebaikan di akhirat). Bukankah kesan dari do’a itu seakan Nabi Ibrahim lebih mementingkan urusan dunia umatnya ketimbang urusan non-profan (berkaitan dengan keagamaan) yang menjanjikan prospek kebahagiaan nan abadi? Mari kita lihat, sebegitu naifkah Sang Bapak Para Nabi itu?

Membela Negara Kewajiban Agama

                Ketika menafsiri ayat ke-126 dari surah Al-Baqarah ini, Syekh Nawawi al-Banteni, lewat tafsir Murah Labidnya mengomentari, bahwa yang dimaksud ‘baladan aminan’ di surah ini adalah negeri yang makmur dan memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang melimpah (Katsiru al-Khosbi). Sumber Daya Manusia adalah syarat mutlak dalam menjaga kedaulatan sebuah negara. Dengan SDM yang dikelola dengan baik, akan menjauhkan sebuah negara dari keterpurukan dan kemiskinan, kelaparan, serta menekan terjadinya gejolak akibat tindakan kriminal. Karena bagaimanapun, tindak kriminalitas yang tinggi, jamak didasari kesenjangan serta keterpurukan ekonomi. Terbukti, ketika dipetak antara negara dengan angka kriminalitas yang tinggi, dan negara dengan kriminalitas minim, maka menelurkan hasil di negara yang angka kriminalnya tinggi, angka kemiskinannya pun juga tinggi.

                Sebaliknya, angka kriminal minim dapat dijumpai di negara yang maju, serta masyarakatnya tercukupi oleh kekayaan alam sekitar. Dan dengan kemakmuran serta serba ketercukupan itu, sebuah negara bisa berdaulat dan independen. Tidak mudah dijadikan boneka dan didikte dengan umpan pinjaman uang, oleh IMF dan World Bank misalnya. Karena mereka meminjamkan, ada maksud terselubung. Barter undang-undang, ataupun eksploitasi kekayaan adalah contoh yang sering mereka lakukan. Yang rugi adalah bangsa pribumi. Untuk Indonesia bagaimana? Sudah berdaulatkah? Atau hanya menjadi boneka? Kita bahas di kesempatan lain saja. Tugas penulis sekarang adalah mempertanggung jawabkan sub dalam judul tulisan ini; Membela Negara Adalah Kewajiban Agama. Benarkah? Sebelum terlalu jauh kita berpesta dalil, penulis ingin menyodorkan satu diktum dari kakak kelas kita, Prof Dr. KH. Sa’id Aqil Sirad. MA. “Mengamalkan agama untuk memperkuat negara. Memperkuat negara, mengamankan agama”. Belum bisa men-tasawwur? Kalau begitu dengan terpaksa penulis harus ngomong panjang lebar. Takkala Nabi Muhammad Saw. menyebarkan dan mendakwahkan agama Islam di kota Makkah, dakwah mulia itu lambat disalurkan. Ganjalan serta penentangan datang silih berganti, tidak pernah berhenti. Ajaran mulia Rasul hanya menjadi bahan candaan dan hinaan. Cibiran dan penyiksaan. Mengamalkan ajaran agama Islam, sama halnya memberikan badan untuk disiksa. Orang mengamalkan agama Islam, tidak ubahnya maling dan pelaku kriminal lain. Dipandang sinis dan terkucilkan. Orang memandang seorang mukmin bagai memandang kucing gudisan. Diboikot, hingga sulit mencari makan. Oleh karena keteguhan iman, mereka lebih suka memakan dedaunan, daripada menanggalkan iman. Hingga puncaknya Allah memerintahkan pengikut agama asing itu, agama Islam, untuk hijrah. Awalnya ke negeri Habasyah. Hingga kemudian bertolak ke Madinah. Ketika di Madinah, apa yang dihasilkan Rasulullah selama 13 tahun di Makkah, tidak sebanding dengan yang diperoleh selama 3 tahun sesudah hijrah. Yakni Islam lebih berkembang setelah peristiwa hijrah (penilaian ini hanya dilihat dari sisi kuantitasnya (kammiyah) dengan mengesampingkan kualitas iman per-individu (kayfiyah). Karena penilaian dalam konteks tersebut, bukan kuasa makhluk). Itu setelah Islam memiliki wadah bernama Negara Madinah.

Artinya, tanpa berdirinya sebuah negara, maka agama ringkih (lemah), sebagaimana disampaikan Hujjatul Islam al-Ghazali. Baru pasca Negara Madinah berdiri, Islam lekas tersampaikan, dan ritus agamanya bebas dilaksanakan. Sampai disini, bisa kita menggambarkan, betapa pentingnya memiliki, membela, dan mempertahankan, serta memakmurkan sebuah negara. Ini masih dalil ‘aqli-nya, belum ke naqli-nya. Sekedar contoh, dalam beberapa ‘atsar digambarkan bagaimana kecintaan Nabi kepada negaranya. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau menghadap Makkah, menatapnya dan berkata seakan kota Makkah merasakan dan mendengar ucapan perpisahan Nabi ini-,

والله إنك لأحب بلاد الله إلي ولولا أن أهلك أخرجوني منك لما خرجت

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Sungguh, kalaulah seandainya wargamu tidak mengusirku, tentu aku tidak akan keluar meninggalkanmu.”

Dari ratapan ini, jelas tergambar, Makkah adalah bumi yang paling dicintai Nabi. Karena seburuk apapun warganya, Makkah tetap menjadi tanah air beliau. Lantas ketika beliau hijrah ke kota Madinah, dan Madinah menjadi negara barunya, beliau juga mengungkapkan kecintaan terhadap negeri barunya ini, dengan ungkapan eksplisit. Diriwayatkan, suatu hari, dengan menghadap ke salah satu gunung di Madinah, Uhud, beliau berbicara-seperti halnya ketika menghadap kota Makkah:

أحد جبل يحبنا ونحبه

“Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kami, dan kamipun mencintainya.”

Nabi juga selalu melindungi negaranya, Madinah, dari segala hal yang mengganggu, mengancam keamanan dan stabilitas, mengganggu kenyamanan, kebahagiaan serta kesejahtraan warganya.

                Penulis mengira, hadits inilah yang menginspirasi mufassir kenamaan, Prof. Dr. K.H. Habib Qurais Shihab, ketika menuturkan, “Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencintai kita, sehingga mempersembahkan segala apa yang dimilikinya untuk kita. Kitapun secara naluriah mencintai tanah air, kecuali yang sakit jiwa. Itulah fitrah, naluri manusiawi.” (di Masjid Istiqlal saat menjadi khotib sholat ‘Idul Fitri). Lebih baiknya, penulis sarankan pembaca, untuk membaca kitab Addifa’ Anil Wathan Min Ahammi al Wajibati Ala Kulli Wahidin Minna karya Agus Sa’id Ridlwan.

                Lah, bukankah yang harus dibela itu agama!? Memang. Dan membela negara adalah bagian terpenting dari membela agama. Bagaimana mungkin, umat Islam tenang beribadah, kalau setiap saat dihantui dengan todongan pistol penjajah. Bagaimana mungkin umat Islam khusuk dalam bermunajat, kalau setiap hari hanya disibukkan dengan perang saudara, pertikaian, dan kerusuhan yang tidak berkesudahan. Bagaimana mungkin, umat Islam maju, kalau hasil bumi yang seharusnya mensejahterakan rakyat, justru dikeruk dan digerogoti oleh cacing-cacing asing, dan hanya menyisakan ampas serta limbah yang membunuh warga pribumi secara halus dan perlahan.

“Sebagian orang mengatakan, seorang Mukmin tidak wajib menyibukkan dirinya dengan urusan negaranya. Dan kelakpun, di akhirat seorang Mukmin tidak akan dimintakan pertanggung jawaban berkaitan masalah negaranya. Yang diwajibkan bagi seorang Mukmin hanyalah memperbaiki urusan agamanya saja.” Paham demikian adalah paham yang salah, dan termasuk faktor terbelakangnya umat Islam dewasa ini. Tidakkah mereka tau, Nabi bersabda: “Barang siapa yang enggan memedulikan urusan umat Muslimin, dia tidak termasuk dari golongan mereka. Sedangkan masalah negara, adalah persoalan paling vital dalam mewujudkan kemaslahatan agama.” Tulis Agus Sa’id Ridlwan dalam Addifa’-nya.

                Syekh Nawawi, masih dalam kitabnya Muroh Labid, berkesimpulan—dengan negara aman dan makmur, sejahtera serta berdaulat, maka rakyat lebih mungkin untuk fokus ibadah dan ta’at. Jadi, do’a Nabi Ibrahim berupa ‘Rabbi ij’al hadza baladan aminan’-ya rabbi, jadikanlah negeri ini (Makkah al-Haram) sebagai negeri yang aman  (melimpah hasil alamnya). Bukanlah do’a yang bercirikan materialistik, esensinya tetap agama? Tapi karena Nabi Ibrahim paham betul, bahwa agama sukar eksis tanpa media negara, dan negara tidak akan maksimal dalam menunjang suksesi dakwah agama tanpa kemakmuran dan kedaulatan, maka jadilah do’a Nabi Ibrahim diringkas seperti yang telah diabadikan dalam surah Al-Baqarah 126.

Ikhtitam

Bagian ini, dipungkasi dengan ratapan dari seorang ulama asal Syiria, Syekh Adnan al-Afayuni (Mufti Syafi’iyah Syiria):

“Ketika seseorang melihat tanah airnya mengalirkan airmata darah, burung gagak mengintai bersiap untuk berpesta memakan bangkai-bangkai manusia akibat peperangan yang tidak berkesudahan. Dengan keyakinan penuh, ia akan memahami dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”.

“Ketika seseorang melihat saudara sebangsanya berlarian tercerai-berai ke berbagai belahan dunia, mencari makan dengan penuh kehinaan, tidur beralas ketidak-berdayaan dan sehari-hari menelan kepahitan serta menahan kesabaran—sungguh ia akan memahami dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”.

“Ketika seseorang tidak lagi dapat mendengarkan canda dan tawa, riang gembira, dan kebahagiaan anak-anak, serta sudah tidak ditemukan lagi kicauan merdu burung-burung, dan berganti dengan suara desingan martir juga peluru—sungguh ia akan memahami dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”.

“Ketika seseorang sudah kehilangan asa dan harap, merasa hampa karena kehilangan semangat hidup, masa depan, serta cahaya kebahagiaan—sungguh ia akan mengerti dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”,

“Kalau kita kehilangan emas, kita bisa mendapatkan emas di pasar emas. Kalau kita kehilangan kekasih, tahun depan kita bisa bertemu lagi. Tapi kalau kita kehilangan tanah air, di mana kita hendak mendapatkan tanah air?”.

Bahan bacaan:

Addifa’ Anil Wathan, Karya Agus Sa’id Ridlwan.
– Lentera Kegelapan, Tim Atsar Purna Siswa 2010.
– Konsensus Konferensi Ulama’ Thoriqoh, Jum’at, 15, Januari 2016 di
Pakalongan.
– Tabloid Media Ummat, edisi 261.
– Hasil Keputusan Bahtsul Masa’il P2L “Urgensi Bela Negara dan
Nasionalisme”.
– Tafsir Murah Labid, Nawawi al-Banteni.

Baca juga:
IJTIHAD KONTEMPORER SEBAGAI UPAYA REVITALISASI KITAB KUNING DI ERA MILLENIAL

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Santri Mengaji
LIM Production

# MEMBUNGKAM PA

Membungkam Paham Ateisme

Dalam pengertiannya, ateis sendiri sesungguhnya memiliki beberapa definisi. Namun, pada dasarnya ateis adalah sebuah faham yang mengingkari adanya Tuhan. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasikan untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Sehingga, golongan ateis sangat menolak dengan terang-terangan dan memberi alasan yang terlalu rasional serta dangkal akan tidak adanya Tuhan. Bahkan, mereka mengatakan kalau Tuhan itu muncul dari ilusi manusia itu sendiri dan Tuhan ada karena dianggap ada oleh akal pikiran manusia.

Kaum ateis bertendensi bahwa seandainya Tuhan tidak dipikirkan, niscaya tidak akan pernah terbesit adanya Tuhan. Mereka tidak mengakui adanya peran Tuhan, karena mereka cenderung hanya mengedepankan teori dan penjelasan ilmiah yang hanya mensyaratkan rasionalitas dalam segala objek persoalan.

Dan kesimpulan itu juga didukung dengan bukti empirik bahwa Tuhan dan kekuatan gaib lainnya tidak dianggap obyektif dan tidak rasional. Tuhan tidak dapat mereka akui karena tidak ada pembuktian secara empiris melalui panca indra. Dan mereka yakin bahwa lima indra, otak, tidak akan mampu membuktikan adanya Tuhan.

Dan yang lebih parah lagi kaum ateis mengatakan, manusia benar-benar bersifat manusiawi ketika manusia benar-benar merdeka, dan manusia merdeka ketika manusia itu menjadi seorang yang ateis. Karena, seandainya Tuhan ada, maka manusia kehilangan martabat manusiawinya dengan memandang bahwa kemerdekaan berarti kedaulatan mutlak tanpa campur tangan dan dirampas oleh Tuhan.

Tentunya, teologi dan paham semacam ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang percaya dan mengimani adanya Tuhan. Karena kepercayaan adalah sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan dan aktivitas manusia untuk dijadikan sebagai pedoman dan pegangan hidup, terkhusus kepercayaan kepada Tuhan. Orang yang percaya akan eksistensi Tuhan akan memiliki kepasrahan dalam dirinya. Sehingga orang tersebut akan mempunyai kepastian dalam hidupnya. Meyakini dan mempelajari sifat-sifat Tuhan yang serba maha, maka manusia akan semakin merasakan dan menyadari bahwa manusia sesungguhnya penuh dengan keterbatasan. Dengan keyakinan terhadap Tuhan maka manusia akan dapat memperkecil bahkan menghilangkan rasa egoisme yang sering menyesatkan hidupnya.

Keterbatasan Indra

Sesungguhnya hakikat Dzat Tuhan tidak dapat diketahui dan dijangkau oleh panca indra, media input manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat-Nya. Memang manusia tidak dibekali sarana untuk menjangkau-Nya. Adapun akal dan rasio memiliki wilayah sendiri. Keterbatasan akal pikiran, kelemahan dan ketidakmampuan akal untuk mengetahui sesuatu tidak berarti menafikan keberadaan sesuatu tesebut. Sebagai contoh sederhana, kelemahan panca indra dan akal manusia untuk mengetahui hakikat atom tidaklah menunjukkan bahwa atom-atom yang membentuk benda-benda itu tidak ada.

Bila posisi akal sedemikian keadaannya dalam menghadapi persoalan yang ada di alam jagad raya ini, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Lantas bagaimana mungkin akal mengetaui Dzat Pencipta yang Maha Luhur dan berusaha untuk mengetahui hakikat-Nya? Kemungkinan batil seperti ini sudah disanggah secara tegas oleh Al-Quran jauh-jauh hari sebelum pemikiran tersebut terbesit dalam pikiran orang-orang ateis, yaitu firman Allah SWT:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَار وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am :103)

Ketika seseorang bertendensi pada pandangan akal maupun ilmu pengetahuan, maka tidak ada satupun bukti yang dapat dijadikan sebagai sandaran dalam meniadakan dan mengingkari eksistensi Tuhan. Segala sesuatu yang disebutkan oleh orang-orang yang mengingkari eksistensi Tuhan itu tiada lain kecuali sekedar ilusi dan khayalan belaka, tidak bersandar pada logika yang sehat maupun ilmu pengetahuan yang kokoh. Pengingkaran semacam ini bukanlah hal baru bagi manusia, dan bukan pula hasil ciptaan masa kini, melainkan sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Keterbatasan Daya Pikir

Tidak dapat dipungkiri, tidak semua persoalan dapat dihadapi atau bahkan diselesaikan oleh akal. Sudah sangat jelas bahwa untuk menangkap informasi, manusia bukan hanya dibekali oleh sesuatu yang bersifat indrawi saja. Dan perlu diketahui, percaya kepada Tuhan bukanlah masalah rasionalitas belaka. Itu juga menyangkut permasalahan perasaan dan nurani manusia. Rasio dan akal hanya sebagian saja dari daya yang dimiliki manusia disamping daya hati, kehendak, dan perasaan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-nahl: 78)

Untuk itu, menjadikan landasan keimanan dalam hati sangat berperan penting untuk merasakan kehadiran Tuhan. Karena hati lebih tajam dan lebih meyakinkan dari pada panca indra yang lain. Sebagaimana perkataan sayyidina ‘Ali RA:

“Tuhan tidak dapat dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat. Tapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan”.

Meski sampai hari ini keberadaan Tuhan belum ada yang mampu membuktikannya secara empirik dengan pandangan mata, namun percaya pada Tuhan adalah sesuatu yang sangat jelas dapat dirasakan dan dibenarkan secara mutlak.

Pengingkaran Tabiat Manusia

Pemahaman mereka, kaum ateis, akan hakikat manusiawi yang dimiliki manusia sangatlah keliru. Karena mereka mengingkari tabiat mereka sendiri, yakni tabiat mengharap, cemas, dan takut. Dan kebebasan mereka tidak akan bersifat total, karena kepada siapa lagi jiwanya akan mengarah jika rasa takut dan harapannya tidak lagi terpenuhi oleh makhluk. Sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak akan pernah putus.

Dan pada akhirnya, eksistensi Tuhan merupakan suatu hakikat atau fakta yang tidak diragukan dan tidak ada celah untuk mengingkarinya. Tanpa merujuk pada nalil-dalil naqli, teologi ateisme sangatlah mudah dimentahkan dan dipatahkan cukup dengan pendekatan nalar dan pola berfikir dasar. Sebab fitrah manusia telah membawanya untuk menyadari keberadaan Dzat yang maha segala maha dan menghadirkannya dalam bentuk iman yang lurus, jiwa yang bersih, akal yang sempurna, dan tindakan yang bermoral sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. []waAllahu a’lam

Baca juga:
IJTIHAD KONTEMPORER SEBAGAI UPAYA REVITALISASI KITAB KUNING DI ERA MILLENIAL

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Santri Mengaji
LIM Production

# MEMBUNGKAM PAHAM ATEISME
# MEMBUNGKAM PAHAM ATEISME
# MEMBUNGKAM PAHAM ATEISME

Hukum Menghadap Kiblat Dengan Hanya Menghadap ke Arah Barat

Salah satu syarat dalam salat adalah menghadap kiblat. Mayoritas ulama Madzhab Syafi’i mengartikan menghadap kiblat dengan menghadap bangunan fisik Ka’bah. (Lihat: Sa’id bin Muhammad Ba’alawi, Busyra al-Karim, hlm. 265)

Namun di masyarakat sering ditemukan orang yang salat dengan langsung menghadap ke arah (jihah) kiblat yang dalam konteks Indonesia ialah menghadap ke barat. Karena dia berasumsi bahwa salat cukup dengan menghadap ke arah barat.

Dalam permasalahan ini, Sayyid Abdurrahman Ba’alawi menjelaskan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

اَلرَّاجِحُ اَنَّهُ لَابُدَّ مِنِ اسْتِقْبَالِ عَيْنِ الْقِبْلَةِ … وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكْفِي اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ أَيْ اِحْدَى الْجِهَاتِ الَّتِي فِيْهَا الْكَعْبَةُ لِمَنْ بَعُدَ عَنْهَا فَهُوَ قَوِيٌّ اخْتَارَهُ الْغَزَالِى وَصَحَّحَهُ الْجُرْجَانِي وَابْنُ كَجٍّ وَابْنُ اَبِي عُصْرُوْنَ وَجَزَمَ بِهِ الْمَحَلِّي. قَالَ الْأَذْرَعِي وَذَكَرَ بَعْضُ الْاَصْحَابِ اَنَّهُ الْجَدِيْدُ وَهُوَ الْمُخْتَارُ لِأَنَّ جِرْمَهَا صَغِيْرٌ يَسْتَحِيْلُ اَنْ يَتَوَجَّهَ اِلَيْهِ أَهْلُ الدُّنْيَا فَيَكْفِي بِالْجِهَّةِ

“Pendapat yang unggul, wajib bagi orang yang salat untuk menghadap fisik kiblat… Dan pendapat kedua, cukup menghadap arah kiblat bagi orang yang jauh dengan kiblat. Yaitu salah satu arah dimana kiblat berada di di sana. Dan pendapat ini pun kuat sebagaimana dipilih oleh al-Ghazali, disahihkan al-Jurjani, Ibnu Kajin dan Ibnu Abi Ushrun, serta dikuatkan oleh al-Mahalli. Al-Adzra’i berkata, pendapat ini termasuk pendapat baru yang dipilih. Karena fisik kakbah kecil sehingga mustahil bagi penduduk bumi untuk menghadap kepadanya, sehingga cukup dengan menghadap arahnya saja.” (Lihat: Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 63)

Arah dari Kiblat

Dengan demikian, orang yang salat langsung menghadap ke arah barat dalam konteks Indonesia salatnya tetap sah menurut sebagian pendapat dalam madzhab Syafi’i. Namun kebolehan ini dengan syarat orang tersebut tidak mengetahui tanda-tanda letak geografis persis Ka’bah. Dalam kelanjutannya, Sayyid Abdurrahman Ba’alawi menegaskan dalam keterangan berikutnya:

مَحَلُّ اْلإِكْتِفَاءِ بِالْجِهَّةِ عَلَى الْقَوْلِ بِهِ عِنْدَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِأَدِلَّةِ الْعَيْنِ.
إِذِ الْقَادِرُ عَلَى الْعَيْنِ إِنْ فُرِضَ حُصُوْلُهُ بِاْلإِجْتِهَادِ لاَ يُجْزِيْهِ اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ قَطْعًا.
وَمَا حَمَلَ الْقَائِلِيْنَ بِالْجِهَّةِ ذَلِكَ إِلاَّ كَوْنُهُمْ رَأَوْا أَنَّ اسْتِقْبَالَ الْعَيْنِ بِاْلإِجْتِهَادِ مُتَعَذِّرٌ.

“Cukup menghadap arah kiblat adalah saat tidak mengetahui tanda-tanda keberadaan bentuk fisik (‘ain) Ka’bah. Karena orang yang mampu mengetahui Ka’bah jika bisa dihasilkan dengan berijtihad, maka secara pasti ia tidak cukup menghadap arah saja. Tidak ada ulama yang mengarahkan untuk memperbolehkan menghadap ke arah Ka’bah kecuali mereka menganggap bahwa menghadap Ka’bah dengan berijtihad itu sulit dilakukan.” (Lihat: Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 39)

Adapun bagi orang yang mudah untuk menemukan tanda-tanda arah kiblat, misalkan arah mihrab sebuah masjid atau musala yang arah kiblatnya dapat dijadikan pegangan, maka wajib baginya untuk menyesuaikan arah kiblat yang sudah ada. (Lihat: Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, hlm. 53) []waAllahu a’lam