Category Archives: Artikel

Sebab ini, Dosa Kecil Jadi Besar

Sebagian besar ulama sepakat bahwa dosa dipilah menjadi dosa besar dan kecil. Dosa yang tergolong besar, setidaknya terdapat tujuh belas macam yang dikerjakan oleh organ-organ tubuh tertentu.

Dosa besar yang dikerjakan hati, ada syirik, berterus-terusan maksiat, putus asa dari rahmat Allah Swt., dan merasa aman dari murka-Nya. Empat dosa juga yang dikerjakan oleh lisan, persaksian palsu, menuduh zina, melakukan sihir dan sumpah palsu.

Tiga dosa lainnya dikerjakan oleh perut, meminum arak dan perkara lain yang memabukkan, memakan harta anak yatim dengan aniaya dan sengaja memakan harta riba. Dua dosa alat kelamin, yakni zina dan liwath (Sodom). Dua dosa tangan, mencuri dan membunuh.

Sedangkan terdapat satu dosa tersisa yang terhitung dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, yaitu berani dan durhaka kepada orang tua.

Mungkin dari kita sering menganggap remeh dosa kecil yang telah kita kerjakan, dengan alasan ‘cuma dosa kecil’ itu tadi. Na’udzubillah.

Padahal, dikutip dari Ihya Ulumiddinnya Imam Ghazali, dosa kecil yang dianggap kecil itu bisa menjadi besar sebab hal-hal berikut ;

Dilakukan terus menerus

Sehingga lahirlah ungkapan “tiada dosa kecil yang dilakukan secara berterusan, dan tiada dosa besar yang dibarengi dengan istighfar (berkesudahan).”

Diumpamakan ribuan tetes air yang mengenai batu, maka akan berimbas. Beda cerita jika air itu dikumpulkan jadi satu lalu dituangkan.

Lebih lanjut, tutur beliau, dosa besar yang dilakukan seseorang itu bukanlah suatu tindakan yang ujug-ujug. Pasti ada dosa kecil sebelumnya yang mengawali cerita. Hingga bertahap naik pada perilaku dosa yang lebih besar. Artinya, perbuatan satu dosa akan mengantarkan pada dosa-dosa yang lain.

Menyepelekan

Yakni menganggap kecil dosa yang diperbuat. Padahal, asal kita tahu, dosa yang kita anggap kecil itu akan dicatat besar oleh Allah sebab meremehkan itu tadi. Begitu pula sebaliknya, dosa yang dianggap besar, sedang ia kategori dosa kecil, sehingga pelaku merasa sangat terpukul karenanya, akan dihitung kecil disisi Allah.

Kalau kita telisik, malapetaka meremehkan suatu dosa itu bermula dari kebiasaan mengerjakannya, dan yang seperti ini ternyata akan sangat berdampak dalam memekatkan hati sang pelaku. Pun demikian sebaliknya.

Sabda Nabi Saw. :

المؤمن يرى ذنبه كالجبل فوقه يخاف أن يقع عليه، والمنافق يرى ذنبه كذباب مر على أنفه فأطاره

Artinya: “Seorang mukmin sejati akan menganggap dosanya laksana gunung yang melayang di atasnya. Maka ia takut kalau-kalau gunungan dosa itu menimpa dirinya. Sedang orang munafik mengira dosanya seperti seekor lalat yang terbang di depan hidung, lalu ia membuatnya terbang lagi (hanya lalu).”

Bangga dengan Dosa

Seakan dijadikan sebagai sebuah kompetisi untuk berbuat dosa dan membanggakannya di hadapan orang lain. Seperti ungkapan “ Coba lihat, dia kupermalukan di depan umum.”

Nyaman dengan Aib yang Telah ditutupi Allah

Sehingga membuatnya semakin menjadi-jadi dalam bermaksiat kepada-Nya, padahal justru itulah yang melenakannya. Pundi-pundi dosa akan terus bertambah tanpa disadari. Ini yang dinamakan istidraj, dilulu.

Membeberkannya pada khalayak

Pada umumnya, kita tidak akan pernah rela aib kita akan terkuak di muka publik. Sungguh, mungkin tidak ada yang akan mau mencium tangan kita, berbincang akrab dengan kita atau bahkan sekadar bertatap muka, jika Allah tidak menutupi aib dan dosa yang pernah kita perbuat. Dengan menampakkan dosa pada publik, berarti membuka tabir dan sekat Allah yang seharusnya wajib kita jaga, jangan sekali-kali merobeknya.

Dilakukan oleh Seorang Tokoh Panutan

Orang dengan jamaah dan pengikut banyak akan sangat beruntung jika perbuatan baiknya ditiru oleh mereka. Namun, jika perilakunya menyimpang dan mengandung dosa, juga akan menjadi jariyah dosa jika sampai tampak oleh seorang yang mengidolakannya lalu meniru. Seperti yang tertuang dalam hadis :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

Artinya: “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya. Tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Maka setiap gerak-gerik seorang public figure bisa bernilai dosa dan pahala yang berlipat-lipat andai sampai ditiru pengikutnya. Terakhir, ada sebuah kisah menyayat dari seorang pendosa yang tengah berusaha berubah dan taubat, setelah bertahun lamanya ibadah, tak kunjung juga ada tanda diterima. Akhirnya nabi yang diutus pada zaman itu bertanya kepada Allah, hal ihwal apakah penyebabnya?.

Allah berfirman kurang lebih seperti ini, “ Aku bisa saja mengampuni dosanya, namun bagaimana dengan dosa orang-orang yang mengikuti langkahnya dalam kesesatan?.” Semoga dalam setiap nafas kita ada jalan hidayah dan pertolongan dari-Nya, amin. Sekian. Allahu A’lam [].

Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar

Baca juga:
TAUBAT SEBELUM TERLAMBAT

Simak juga:
Mengamalkan Ilmu

Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar
Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Penulis Hafidz Alwy

Sebenarnya disadari atau tidak, dua prinsip yang sangat menentukan langkah umat Islam dalam menjalani kehidupannya, di mana kedua hal ini telah berhasil merubah tatanan dalam kehidupan umat Islam sendiri. Pertama adalah prinsip kekayaan, kedua adalah prinsip pengetahuan.

Selama ini persepsi terhadap kekayaan sudah lebih kepada pandangan negatif. Di mana kekayaan adalah sumber malapetaka, penghalang seorang manusia menjadi hamba Tuhannya karena lebih menghambakan diri pada kekayaan. Dan sederet stigma negatif yang dialamatkan pada kekayaan yang kesemuanya berputar pada kekayaan adalah mudarat.

Sehingga yang terjadi adalah jika ingin berada di jalan yang benar adalah dengan menjauhi kekayaan, menghindar dari gelimang harta dunia. Maka tidak heran jika seseorang yang berpandangan demikian, hidupnya menjauhi segala hal yang menjurus kepada kekayaan. Seperti bekerja keras, banting tulang, belajar ekonomi dan sebagainya. Otomatis kehidupannya pun jauh dari kekayaan.

Salahkah hal itu?

Suatu prinsip yang terbentuk akan tergantung bagaimana suatu pemahaman didapat. Mereka yang berprinsip bahwa kekayaan merupakan sesuatu yang harus dijauhi biasanya memahami bahwa dalam Islam terdapat dorongan untuk menjauhi dunia dengan hiruk pikuknya karena menjadi sumber kemudaratan. Juga dengan melihat keadaan para panutan umat yang hidup dengan sederhana dan tidak begitu menghiraukan materi dunia.

Namun kiranya perlu meninjau kembali pada pemahaman yang didasarkan pada sikap panutan terdahulu terhadap kekayaan, benarkah mereka menjauhi materi duniawi sehingga menjauhi juga pada kekayaan?

Pertama, adalah yang paling jelas yaitu anjuran yang berulang kali dalam mendermakan harta kekayaan. Dengan anjuran yang paling pokok adalah zakat yang mana telah menjadi salah satu dari lima pilar rukun Islam. Zakat sangat jelas merupakan ajaran yang memerintahkan kepada umatnya untuk membelanjakan hartanya.

Kedua, terdapat ratusan ayat yang mengenai perbuatan baik. Anjuran untuk berbuat baik, beramal salih, beraktifitas yang berkualitas serta imbalan untuk semua itu baik di dunia maupun di akherat. Betapa hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Islam menghendaki segala perbuatan yang bermanfaat, baik dan bagus dalam kehidupan ini.

Ketiga, kiranya perlu menggambarkan bagaimana sikap Rasulullah dan para sahabatnya terhadap harta. Apakah menjauhi atau malah menganjurkan?

Rasulullah bersabda : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Betapa hal ini menunjukkan bahwa pemberi adalah anjuran. Namun jika tidak memiliki apa yang diberikan bagaimana ia akan mendapatkan kebaikan tersebut. Kemudian juga dalam sabdanya : “Sebaik baiknya harta adalah harta baik di tangan orang yang baik.”

Suatu ketika, Rasulullah sedang berada di masjid ketika ada utusan dari daerah Khaibar membawa hasil dari aset beliau. Dengan membawa sejumlah uang sekitar dua milyar. Lantas Rasulullah menggelar semuanya itu di samping beliau dan membagi-bagikan kepada orang-orang sampai tidak tersisa satu kepingpun sebelum beliau masuk rumahnya. Begitu pula ketika Rasulullah memberikan kawanan kambing seluas lembah gunung kepada salah satu sahabat Rasul. Tentu ketika kita melihat bagaiamana dermawannya Rasulullah dan jumlah yang beliau dermakana, betapa menunjukkan bahwa beliau sangat kaya raya.

Kemudian bagaimana dengan para sahabat Rasulullah? Abdurrahman Ibn Auf berkata : “Betapa bagusnya harta ini, dengannya ku bisa menyambung kerabatku, dengannya pula aku mendekatkan diri kepada Tuhanku.” Begitu pula Zubair Ibn Awwam berkata : “Sesungguhnya dalam harta terdapat perbuatan-perbuatan baik, menyambung sanak keluarga, mendermakan untuk menjunjung agama. Begitu pula menstimulus budipekerti yang baik. Pada saat yang sama dalam harta terdapat kemuliaan dunia dan derajatnya. ”

Suatu ketika Umar ibn Khattab berkata : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang lantas ia membuatku kagum. Kutanyakan apa ia memiliki pekerjaan ? Jika dijawab bahwa ia tidak memiliki pekerjaan, maka hilanglah kekagumanku.”

Ia juga menyerukan kepada para fakir miskin : “Wahai para fakir miskin, angkat kepala kalian. Sesungguhnya sarana sudah sangat jelas. Berlomba lah dalam kebaikan, jangan kalian menjadi beban bagi umat Islam.”

Juga kita melihat bahwasannya kehidupan sahabat Rasulullah yang tercitrakan sebagai hidup yang sederhana ternyata tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki harta benda. Bahkan sebaliknya, perputaran perekonomian mereka sangatlah besar. Sebagai contoh :

Umar Ibn Khattab menikahi Umm Kultsum Binti Ali dengan mahar 40.000 (lebih dari 1 milyar, dengan asumsi 1 dirham 3,7 gram perak). Begitu pula Abdurrahman Ibn Auf menikahi seorang muslimah dari warga Anshar dengan mahar 30.000 (hampir satu milyar). Ada salah satu sahabat nabi yang suatu hari merasa gundah gulana karena hartanya menumpuk. Lantas ia mengadukan hal itu kepada istrinya. Oleh istrinya disuruh membagi-bagikan kepada kaumnya. Benar saja, ia membagikan hartanya. Selesai melakukan itu, ia menanyai kepada pegawainya berapa jumlah uang yang keluar? Ternyata 400.000 (kurang lebih 10 milyar)

Begitu pula jika kita lihat jumlah harta yang diwariskan oleh para sahabat ketika meninggal. Ibnu Mas’ud mewariskan 70.000 begitu pula Zubair ibn Awam mewariskan 500.000 ketika meninggal. Bahkan disebut-sebut warisan Umar Ibn Khattab mencapai nilai triliyun.

Bagaimana dengan anjuran miskin versi “mereka” ?

Sebenarnya ketika prinsip kesederhanaan dan menghindari kekayaan ketika diteliti lebih lanjut, selain tidak selalu benar, namun juga membawa kepada pola hidup yang tidak ideal menurut Islam itu sendiri. Karena jika prinsip antipati terhadap kekayaan ini sampai menjadi suatu budaya bagi masyarakat, tentu akan banyak mengalami kemudaratan.

Bagaimana tidak, jika suatu daerah menjadi dominan kemiskinan maka tidak menutup kemungkinan akan mengalami bencana. Dan itu sangat dijauhi oleh Islam. Dalam Islam sendiri kemiskinan adalah momok yang harus diberantas. Dengan bukti adanya kewajiban zakat, anjuran yang berulang-ulang dalam mendermakan harta dan peduli terhadap sosial.
Sehingga sikap yang anti kekayaan ini tidak bisa dengan begitu saja menjadi prinsip kehidupan. Karena bagaimanapun juga dengan kekayaanlah suatu perjuangan bisa ditegakkan, suatu misi bisa dilaksanakan.

Sehingga pandangan pribadi saya. Kekayaan adalah sesautu yang netral. Tidak bisa disebut sumber petaka juga tidak bisa dikatakan harus dikejar hingga ajal menjemput. Kekayaan adalah sarana. Tergantung yang menggunakannya apakah mau diarahkan kepada kebaikan atau kejelekan.

Islam mengajak untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang benar, yang mana tujuan akhirnya bukanlah untuk dipergunakan kesenangan semata. Namun lebih dari itu, sisi kemanusaan, sosial, saling membantu yang mana semua itu adalah tujuan yang mulia dan sangat ditekankan oleh Islam.

Kairo, Pasca Ujian Musim Panas 2019.

Koordinator LBM 2018-2020, Koord. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin tahun 2012

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Baca juga:
KISAH HIKMAH: ANTARA IBADAH DAN KEKAYAAN

Simak juga:
Mengamalkan Ilmu

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?
SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?

Isra’ Mi’raj: Peristiwa Agung Rasulullah SAW

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau. Seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Kala itu, Rasulullah saw. ditinggal oleh pamannya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah. Sepeninggal kedua orang istimewa ini, kehidupan Rasullah saw. kerap dilanda kesedihan dan dihujani berbagai duka yang amat perih. Akan tetapi, yang paling membuat Nabi bersedih adalah tertutupnya pintu-puntu dakwah untuk menyebarkan Islam. Pasca meninggalnya kedua orang ini pula, di mana pun beliau menyerukan Islam, di situ pasti terdapat penolakan. Semua orang kini berani memusuhi Rasulullah saw. secara terang-terangan. (Lihat: Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hlm. 97)

Penyejuk

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqaddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang beliau alami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selama ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqaddas (Jerusalem). Lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah Ash-Shakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian). (Lihat: Abu Ja’far Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, XVII/333)

Kronologi

Kronologi peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebenarnya sudah digambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surat Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ .هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (bagian) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini menjadi bidikan paling fundamental dan yang paling berperan. Melalui perjalanan Isra’ dan Mi’raj, Allah memberi kesempatan kepada Rasulullah saw. untuk menyaksikan dan merasakan sendiri pengalaman-pengalaman yang maha luar biasa, yaitu melampaui teori-teori umum yang berlaku di bumi dan langit. Melihat ayat-ayat kebesaran Allah, menjelajahi tujuh lapis langit dan luasnya jagad raya, menyaksikan sendiri Baitul Makmur, Sidratul Muntaha, surga, neraka, al-Kursy, Mustawa, permadani agung (Rafraf), al-‘Arsy, dan yang lainnya.

Lebih lanjut, Fakhruddin Ar-Razi—seorang pakar tafsir terkemuka—memberikan kesimpulan, “Firman Allah swt. ‘Agar kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat kekuasaan Kami,’ menunjukkan bahwa fungsional dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj secara khusus adalah kembali kepada Nabi Muhammad SAW. ” (Lihat: Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, X/122)

Waktu Peristiwa Itu Terjadi

Mengenai waktu kapan terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj, para ulama masih berselisih pendapat. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun ke sepuluh terhitung sejak masa kenabian. (Lihat: Badruddin Al-‘Aini, ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, XVII/20)

Dalam sejarah, Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah bagi perjalanan umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu tempuh satu malam.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi arak dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu. Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yang pada mulanya, sholat yang diwajibkan berjumlah lima puluh rakaat.

Setelahnya

Keesokan paginya, Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang telah beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah. Orang-orang kafir Mekah pun segera menyebarluaskan berita yang mereka anggap sebagai cerita palsu tersebut kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqaddas di Palestina, beberapa orang kafir menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqaddas pada malam itu, tidak pernah terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqaddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqaddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqaddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir.

Berkenaan dengan hal itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللّٰهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr Ismail, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku. Maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu.” (Lihat: Shahih Al-Bukhari, V/52)

Abu Bakr

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka mulanya menyangka bahwa sahabat terdekat Rasulullah SAW ini akan menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyata Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu, aku pasti percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya. ” (Lihat: Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, h. 108-109)

Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana yang dilakukan nabi Ibrahim AS. (Lihat: Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bari, I/465)

Pelajaran Berharga

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. []waAllahu a’lam

Baca juga:
ISRA MIKRAJ DAN MUSIK: EKSPRESI CINTA KEPADA SANG BAGINDA

Follwo juga:
@pondoklirboyo

Mengenal Kitab Al-Minhaj Al-Qawim Karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami

Dalam Mazhab Syafi’i, ada beberapa kitab Matan yang menjadi literatur pembelajaran fikih. Di antaranya adalah kitab Masail At-Ta’lim atau biasa dikenal dengan nama Kitab Muqaddimah Hadhramiyyah, karya Imam Abdullah bin Abd ar-Rahman Bafadhal al-Hadhromi. Kitab yang begitu ringkas ini, kemudian dikembangkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 976 H) menjadi kitab berjudul Al-Minhaj Al-Qawim.

Pada bagian awal kitab Al-Minhaj Al-Qawim, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami secara ringkas mengungkapkan bahwa kitab tersebut disusun salah satunya adalah sebagai jawaban atas permintaan untuk menyusun sebuah karya yang menjadi penjelasan (Syarah) dari kitab Muqaddimah Hadhramiyyah karya Imam Abdullah bin Abd ar-Rahman Bafadhal al-Hadhromi.

Tema pembahasan yang disajikan pada kitab Al-Minhaj Al-Qawim ini tidak jauh berbeda dengan kitab-kitab fikih pada umumnya. Kitab ini mencakup pembahasan mengenai bersuci, najis, tayamum, salat, sifat salat, salat saat perjalanan, salat Jum’at, salat khauf, salat hari raya, salat gerhana, salat istisqa’, jenazah, zakat, zakat tumbuhan, zakat emas dan sejenisnya, puasa, i’tikaf, haji dan umroh, kurban dan aqiqah.

Secara penulisan, kitab Al-Minhaj Al-Qawim ini terbilang ringkas namun memiliki makna yang padat. Untuk itu, salah satu karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami ini selanjutnya diperjelas oleh beberapa ulama pada kurun waktu setelahnya. Di antaranya adalah Syekh Sulaiman Al-Kurdi dan Syekh Mahfudz Termas.

Syekh Sulaiman Al-Kurdi memberikan catatan (hasyiyah) atas kitab Al-Minhaj Al-Qawim menjadi kitab yang berjudul Hawasyi Al-Madaniyyah.

Adapun Syekh Mahfudz Termas (w. 1338 H) mensyarahi kitab Al-Minhaj Al-Qawim menjadi kitab yang sangat tebal dan berjilid-jilid dengan nama Mauhibah Dzi Al-Fadhl atau biasa disebut dengan nama Hasyiyyah At-Tarmasi.

Kedua karya yang menjadi kelanjutan kitab Al-Minhaj Al-Qawim karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami ini pun sering dijadikan rujukan dalam menjawab berbagai problematika fikih Mazhab Syafi’i. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENGENAL FIKIH TEMATIS DALAM KITAB MUTUN ASY-SYARIF SYAIKHONA KHOLIL

Simak juga:
Hakikat Ulama | KH. Aziz Manshur

# MENGENAL KITAB AL-MINHAJ AL-QAWIM
# MENGENAL KITAB AL-MINHAJ AL-QAWIM

Mimpi Melihat Allah, Mungkinkah?

Mimpi Melihat Allah |
Mimpi merupakan aktivitas alam bawah sadar yang menyertakan indra lain, seperti pendengaran, penglihatan hingga perasaan. Ada banyak teori yang mengulas tentang mimpi dan tafsirnya. Baik dari kalangan umum maupun agamawan. Belum lagi jika dikaitkan dengan mitos.

Mimpi bertemu Nabi saw. adalah suatu hal yang didamba oleh siapa pun dari seorang muslim. Seseorang yang bermimpi beliau, ternyata mendapati kondisi fisik beliau tidak selaras dengan informasi yang telah beredar terkait beliau. Seperti beliau terlihat lebih sepuh, sedang sakit atau kondisi lainnya.

Setiap dari kita ­­semoga saja jika mimpi bertemu dengan beliau maka jelas itu adalah Rasulullah. Sebab setan tidak bisa menyamar menjadi sosok beliau seperti yang ditegaskan oleh beliau sendiri dalam sebuah hadis ;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

Artinya : Dari Abu Hurairah Ra. berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka (seakan) ia melihatku dalam kondisi terjaga, karena setan tidak bisa menyerupai diriku (Nabi). ” (HR. Bukhari).

Mimpi berjumpa Nabi dengan menampilkan fisik adalah lumrah, karena beliau adalah manusia utusan yang memiliki sifat dan bentuk fisik layaknya kita. Akan tetapi karena kemuliaan dan kesempurnaan beliau lah yang melarang kita menggambarkan sosoknya.

Mimpi Berjumpa Allah

Namun bagaimana jika mimpi bertemu Allah, Dzat Yang Maha Sempurna, yang tiada kata untuk memuat segala kesempurnaan-Nya, apakah boleh? Lebih-lebih jika Dzat-Nya itu mewujud pada suatu sosok tertentu. Bukankah Dia berbeda dengan makhluk? Sedang kita tidak ada kuasa untuk menghendaki sebuah mimpi tertentu, semua terjadi secara alami dan mungkin-mungkin saja.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Qs.asy-Syura: 11)

Kesepakatan ulama bahwa boleh dan sah saja seseorang itu mimpi bertemu Allah. Namun apa yang ia lihat dalam mimpi tersebut, bukanlah hakikat dari wujud Allah itu sendiri.

Hal ini pernah dialami Rasulullah seperti yang tercatat di hadis riwayat Imam Tirmidzi Ra;

روى الإمام أحمد والترمذي وصحّحه عن معاذ بن جبل في حديث المنام: أَتَانِي رَبَّي فِيْ أَحْسَنِ صُوْرَة

“Tuhanku mendatangiku (dalam mimpi) dengan sebaik-baiknya rupa.”

Mengomentari riwayat ini, Syekh Utsman ibn sa’id ad-Darimy berkata ;

“Ini terjadi di dalam mimpi, dan di dalam mimpi mungkin saja melihat Allah dengan segala wujud dan rupa.”

Dan lagi, mimpi ini dialami oleh Nabi, orang termulia dan terkasih di sisi-Nya. Bagaimana jika kita manusia biasa ini yang mengalami? Berikut komentar Syekh Ibnu Taimiyah yang juga disokong oleh ulama-ulama lain seperti Syekh Qadli ‘Iyadl, Imam Baghawi, Qadli Husain, Imam Nawawi dan sebagainya.

“Para sahabat, tabi’in dan pemimpin-pemimpin umat mukmin sepakat bahwa Allah bisa kita lihat kelak di akhirat dengan mata kepala kita. Dan siapa pun tidak akan pernah bisa melihat-Nya kini di dunia. Akan tetapi, Dia bisa dilihat dalam mimpi.”

Karena Dzat Allah terlalu suci untuk bisa diindra oleh mata kita. Penglihatan kita yang fana (rusak) ini tidaklah mampu memandang Dzat yang Maha Abadi.

“Seorang mukmin,” lanjut Syaikhul Islam. “bisa melihat Tuhannya dalam mimpi dengan wujud bemacam-macam tergantung dari kadar keimanannya. Jika imannya benar lagi kuat, maka tidak akan sekali-kali melihat-Nya kecuali dengan bentuk yang paling baik (seperti yang dialami Nabi dalam hadis di atas). Dan jika imannya pas-pasan, ia akan melihat sesuai dengan yang pantas baginya.”

Status Mimpi

Lebih lanjut, beliau Ibnu Taimiyyah berujar mengenai status mimpi tersebut.

“(Penglihatan dalam) mimpi seorang mukmin memiliki hukum yang berbeda dengan penglihatannya ketika terjaga. Maka mimpinya mengharuskan tabir dan takwil sesuai dengan kondisinya di kehidupan nyata.”

Artinya semua kembali pada keimanan seseorang. Sama halnya, semisal, saat kita bermimpi ketemu nabi sedang beliau tengah tersenyum kepada kita, maka menandakan kebaikan, pun pula sebaliknya.

ِِAndai Allah mewujud serupa makhluk,-Maha Suci Allah dalam hal ini- maka sejatinya bukan itu wujud-Nya, Imam Qadli ‘Iyadl dalam syarakh kitab Fathul Majid berkata ;

“Jika Allah dilihat atas sebuah sifat tertentu yang tak layak bagi keagungan-Nya, seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk-makhluk indrawi, jelas yang dilihatnya dalam mimpi itu bukanlah Dzat-Nya yang sejati. Sebab tak patut bagi-Nya menjelmakan dengan makhluk.”

Mimpi berjumpa Allah bukanlah hal aneh bagi ulama-ulam terdahulu. Seperti Imam Ahmad ibn Hanbal yang mengaku berjumpa Allah berkali-kali, atau seorang ulama yang bermimpi diberi mushfah oleh-Nya menjadikan jalan dakwahnya semakin lancar dan dipermudah. Dan masih banyak lagi ulama lainnya. Allahu A’lam.[]

Baca juga:
KISAH PERTEMUAN KHALIFAH HARUN AR-ROSYID DAN PARA WALI AGUNG DALAM PERJALANAN HAJI

Follow juga:
instagram: @pondoklirboyo

Mimpi melihat Allah, mungkinkah?
Mimpi melihat Allah, mungkinkah?