Category Archives: Artikel

Membungkam Paham Ateisme

Dalam pengertiannya, ateis sendiri sesungguhnya memiliki beberapa definisi. Namun, pada dasarnya ateis adalah sebuah faham yang mengingkari adanya Tuhan. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasikan untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Sehingga, golongan ateis sangat menolak dengan terang-terangan dan memberi alasan yang terlalu rasional serta dangkal akan tidak adanya Tuhan. Bahkan, mereka mengatakan kalau Tuhan itu muncul dari ilusi manusia itu sendiri dan Tuhan ada karena dianggap ada oleh akal pikiran manusia.

Kaum ateis bertendensi bahwa seandainya Tuhan tidak dipikirkan, niscaya tidak akan pernah terbesit adanya Tuhan. Mereka tidak mengakui adanya peran Tuhan, karena mereka cenderung hanya mengedepankan teori dan penjelasan ilmiah yang hanya mensyaratkan rasionalitas dalam segala objek persoalan.

Dan kesimpulan itu juga didukung dengan bukti empirik bahwa Tuhan dan kekuatan gaib lainnya tidak dianggap obyektif dan tidak rasional. Tuhan tidak dapat mereka akui karena tidak ada pembuktian secara empiris melalui panca indra. Dan mereka yakin bahwa lima indra, otak, tidak akan mampu membuktikan adanya Tuhan.

Dan yang lebih parah lagi kaum ateis mengatakan, manusia benar-benar bersifat manusiawi ketika manusia benar-benar merdeka, dan manusia merdeka ketika manusia itu menjadi seorang yang ateis. Karena, seandainya Tuhan ada, maka manusia kehilangan martabat manusiawinya dengan memandang bahwa kemerdekaan berarti kedaulatan mutlak tanpa campur tangan dan dirampas oleh Tuhan.

Tentunya, teologi dan paham semacam ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang percaya dan mengimani adanya Tuhan. Karena kepercayaan adalah sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan dan aktivitas manusia untuk dijadikan sebagai pedoman dan pegangan hidup, terkhusus kepercayaan kepada Tuhan. Orang yang percaya akan eksistensi Tuhan akan memiliki kepasrahan dalam dirinya. Sehingga orang tersebut akan mempunyai kepastian dalam hidupnya. Meyakini dan mempelajari sifat-sifat Tuhan yang serba maha, maka manusia akan semakin merasakan dan menyadari bahwa manusia sesungguhnya penuh dengan keterbatasan. Dengan keyakinan terhadap Tuhan maka manusia akan dapat memperkecil bahkan menghilangkan rasa egoisme yang sering menyesatkan hidupnya.

Keterbatasan Indra

Sesungguhnya hakikat Dzat Tuhan tidak dapat diketahui dan dijangkau oleh panca indra, media input manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat-Nya. Memang manusia tidak dibekali sarana untuk menjangkau-Nya. Adapun akal dan rasio memiliki wilayah sendiri. Keterbatasan akal pikiran, kelemahan dan ketidakmampuan akal untuk mengetahui sesuatu tidak berarti menafikan keberadaan sesuatu tesebut. Sebagai contoh sederhana, kelemahan panca indra dan akal manusia untuk mengetahui hakikat atom tidaklah menunjukkan bahwa atom-atom yang membentuk benda-benda itu tidak ada.

Bila posisi akal sedemikian keadaannya dalam menghadapi persoalan yang ada di alam jagad raya ini, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Lantas bagaimana mungkin akal mengetaui Dzat Pencipta yang Maha Luhur dan berusaha untuk mengetahui hakikat-Nya? Kemungkinan batil seperti ini sudah disanggah secara tegas oleh Al-Quran jauh-jauh hari sebelum pemikiran tersebut terbesit dalam pikiran orang-orang ateis, yaitu firman Allah SWT:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَار وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am :103)

Ketika seseorang bertendensi pada pandangan akal maupun ilmu pengetahuan, maka tidak ada satupun bukti yang dapat dijadikan sebagai sandaran dalam meniadakan dan mengingkari eksistensi Tuhan. Segala sesuatu yang disebutkan oleh orang-orang yang mengingkari eksistensi Tuhan itu tiada lain kecuali sekedar ilusi dan khayalan belaka, tidak bersandar pada logika yang sehat maupun ilmu pengetahuan yang kokoh. Pengingkaran semacam ini bukanlah hal baru bagi manusia, dan bukan pula hasil ciptaan masa kini, melainkan sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Keterbatasan Daya Pikir

Tidak dapat dipungkiri, tidak semua persoalan dapat dihadapi atau bahkan diselesaikan oleh akal. Sudah sangat jelas bahwa untuk menangkap informasi, manusia bukan hanya dibekali oleh sesuatu yang bersifat indrawi saja. Dan perlu diketahui, percaya kepada Tuhan bukanlah masalah rasionalitas belaka. Itu juga menyangkut permasalahan perasaan dan nurani manusia. Rasio dan akal hanya sebagian saja dari daya yang dimiliki manusia disamping daya hati, kehendak, dan perasaan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-nahl: 78)

Untuk itu, menjadikan landasan keimanan dalam hati sangat berperan penting untuk merasakan kehadiran Tuhan. Karena hati lebih tajam dan lebih meyakinkan dari pada panca indra yang lain. Sebagaimana perkataan sayyidina ‘Ali RA:

“Tuhan tidak dapat dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat. Tapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan”.

Meski sampai hari ini keberadaan Tuhan belum ada yang mampu membuktikannya secara empirik dengan pandangan mata, namun percaya pada Tuhan adalah sesuatu yang sangat jelas dapat dirasakan dan dibenarkan secara mutlak.

Pengingkaran Tabiat Manusia

Pemahaman mereka, kaum ateis, akan hakikat manusiawi yang dimiliki manusia sangatlah keliru. Karena mereka mengingkari tabiat mereka sendiri, yakni tabiat mengharap, cemas, dan takut. Dan kebebasan mereka tidak akan bersifat total, karena kepada siapa lagi jiwanya akan mengarah jika rasa takut dan harapannya tidak lagi terpenuhi oleh makhluk. Sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak akan pernah putus.

Dan pada akhirnya, eksistensi Tuhan merupakan suatu hakikat atau fakta yang tidak diragukan dan tidak ada celah untuk mengingkarinya. Tanpa merujuk pada nalil-dalil naqli, teologi ateisme sangatlah mudah dimentahkan dan dipatahkan cukup dengan pendekatan nalar dan pola berfikir dasar. Sebab fitrah manusia telah membawanya untuk menyadari keberadaan Dzat yang maha segala maha dan menghadirkannya dalam bentuk iman yang lurus, jiwa yang bersih, akal yang sempurna, dan tindakan yang bermoral sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. []waAllahu a’lam

Baca juga:
IJTIHAD KONTEMPORER SEBAGAI UPAYA REVITALISASI KITAB KUNING DI ERA MILLENIAL

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Santri Mengaji
LIM Production

# MEMBUNGKAM PAHAM ATEISME
# MEMBUNGKAM PAHAM ATEISME
# MEMBUNGKAM PAHAM ATEISME

Hukum Menghadap Kiblat Dengan Hanya Menghadap ke Arah Barat

Salah satu syarat dalam salat adalah menghadap kiblat. Mayoritas ulama Madzhab Syafi’i mengartikan menghadap kiblat dengan menghadap bangunan fisik Ka’bah. (Lihat: Sa’id bin Muhammad Ba’alawi, Busyra al-Karim, hlm. 265)

Namun di masyarakat sering ditemukan orang yang salat dengan langsung menghadap ke arah (jihah) kiblat yang dalam konteks Indonesia ialah menghadap ke barat. Karena dia berasumsi bahwa salat cukup dengan menghadap ke arah barat.

Dalam permasalahan ini, Sayyid Abdurrahman Ba’alawi menjelaskan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

اَلرَّاجِحُ اَنَّهُ لَابُدَّ مِنِ اسْتِقْبَالِ عَيْنِ الْقِبْلَةِ … وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكْفِي اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ أَيْ اِحْدَى الْجِهَاتِ الَّتِي فِيْهَا الْكَعْبَةُ لِمَنْ بَعُدَ عَنْهَا فَهُوَ قَوِيٌّ اخْتَارَهُ الْغَزَالِى وَصَحَّحَهُ الْجُرْجَانِي وَابْنُ كَجٍّ وَابْنُ اَبِي عُصْرُوْنَ وَجَزَمَ بِهِ الْمَحَلِّي. قَالَ الْأَذْرَعِي وَذَكَرَ بَعْضُ الْاَصْحَابِ اَنَّهُ الْجَدِيْدُ وَهُوَ الْمُخْتَارُ لِأَنَّ جِرْمَهَا صَغِيْرٌ يَسْتَحِيْلُ اَنْ يَتَوَجَّهَ اِلَيْهِ أَهْلُ الدُّنْيَا فَيَكْفِي بِالْجِهَّةِ

“Pendapat yang unggul, wajib bagi orang yang salat untuk menghadap fisik kiblat… Dan pendapat kedua, cukup menghadap arah kiblat bagi orang yang jauh dengan kiblat. Yaitu salah satu arah dimana kiblat berada di di sana. Dan pendapat ini pun kuat sebagaimana dipilih oleh al-Ghazali, disahihkan al-Jurjani, Ibnu Kajin dan Ibnu Abi Ushrun, serta dikuatkan oleh al-Mahalli. Al-Adzra’i berkata, pendapat ini termasuk pendapat baru yang dipilih. Karena fisik kakbah kecil sehingga mustahil bagi penduduk bumi untuk menghadap kepadanya, sehingga cukup dengan menghadap arahnya saja.” (Lihat: Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 63)

Arah dari Kiblat

Dengan demikian, orang yang salat langsung menghadap ke arah barat dalam konteks Indonesia salatnya tetap sah menurut sebagian pendapat dalam madzhab Syafi’i. Namun kebolehan ini dengan syarat orang tersebut tidak mengetahui tanda-tanda letak geografis persis Ka’bah. Dalam kelanjutannya, Sayyid Abdurrahman Ba’alawi menegaskan dalam keterangan berikutnya:

مَحَلُّ اْلإِكْتِفَاءِ بِالْجِهَّةِ عَلَى الْقَوْلِ بِهِ عِنْدَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِأَدِلَّةِ الْعَيْنِ.
إِذِ الْقَادِرُ عَلَى الْعَيْنِ إِنْ فُرِضَ حُصُوْلُهُ بِاْلإِجْتِهَادِ لاَ يُجْزِيْهِ اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ قَطْعًا.
وَمَا حَمَلَ الْقَائِلِيْنَ بِالْجِهَّةِ ذَلِكَ إِلاَّ كَوْنُهُمْ رَأَوْا أَنَّ اسْتِقْبَالَ الْعَيْنِ بِاْلإِجْتِهَادِ مُتَعَذِّرٌ.

“Cukup menghadap arah kiblat adalah saat tidak mengetahui tanda-tanda keberadaan bentuk fisik (‘ain) Ka’bah. Karena orang yang mampu mengetahui Ka’bah jika bisa dihasilkan dengan berijtihad, maka secara pasti ia tidak cukup menghadap arah saja. Tidak ada ulama yang mengarahkan untuk memperbolehkan menghadap ke arah Ka’bah kecuali mereka menganggap bahwa menghadap Ka’bah dengan berijtihad itu sulit dilakukan.” (Lihat: Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 39)

Adapun bagi orang yang mudah untuk menemukan tanda-tanda arah kiblat, misalkan arah mihrab sebuah masjid atau musala yang arah kiblatnya dapat dijadikan pegangan, maka wajib baginya untuk menyesuaikan arah kiblat yang sudah ada. (Lihat: Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, hlm. 53) []waAllahu a’lam

Upaya Memahami Kemaslahatan Syariat Islam

Jika di dalam hukum positif dikenal istilah spirit hukum, maka di dalam Islam akan ditemukan istilah maqashid syariah. Pada dasarnya, hukum-hukum di dalam Islam memiliki beberapa prinsip dan tujuan yang berusaha untuk diwujudkan. Secara umum, tujuan ini adalah maslahat bagi umat manusia.

Menerjemahkan maqashid sebagai tujuan dan mengartikan tujuan itu sebagai maslahat tidak lantas mendiktekan diri untuk mengikuti pendapat Muktazilah. Seperti yang jamak diketahui oleh pelajar ilmu kalam ataupun usul fikih, Muktazilah berpendapat bahwa diantara perbuatan manusia terdapat perbuatan baik dan buruk yang dapat ditimbang oleh akal. Pendapat ini juga diamini oleh kelompok Maturidiyah—salah satu rujukan Ahlussunnah dalam persoalan ilmu kalam. Akan tetapi, Maturidiyah berseberangan dengan Muktazilah dalam konsekuensi setelahnya, yaitu dengan keberadaan baik dan buruk dalam perbuatan manusia, lantas apakah Allah harus melarang dan mencegah hal tersebut. Maturidiyah menyatakan tidak.

Sementara, Muktazilah menyatakan iya. Berbeda dengan keduanya, Asyari’ah—yang juga salah satu rujukan Ahlussunnah—menyatakan tidak ada sama sekali perbuatan yang baik ataupun buruk yang dapat ditimbang akal. Di sini, saya tidak akan berlarut-larut membahas perdebatan ini karena ketiga pendapat ini berakhir pada hilir yang sama yaitu keberadaan maslahat dalam syariat bahkan menurut Asyari’ah sekalipun. Bedanya, menurut Asyari maslahat itu ada karena pertimbangan syariat, sementara Muktazilah dan Maturidiyah menyatakan bahwa syariat datang untuk menjelaskan maslahat yang sudah ada.

Maslahat dalam Bangunan Syariat

Menegasikan maslahat dalam syariat sama dengan meruntuhkan bangunan syariah yang telah ada sampai sekarang. Bagaimana tidak, dalam usul fikih setiap mazhab mengenal istilah maslahat. Dalam konsep qiyas seumpama, pencarian ilat sangat tergantung pada pemahaman seorang mujtahid terhadap maslahat. Kesesuaian ilat dan hukum disebut juga dengan istilah munasabah. Kesesuaian ini juga harus dalam bingkai maslahat. Dengan hal ini pula, mujtahid dapat menyisir ilat yang termaktub dalam al-Quran maupun Hadits, atau biasa disebut dengan tanqîh al-manâth. Setidaknya ini yang disepakati dalam empat mazhab.

Mazhab Maliki adalah yang paling besar memberikan perhatian pada maslahat. Mereka menaruh konsep ini setidaknya dalam dua bab khusus, yaitu mashlahah mursalah dan sadd al-dzarâi’. Sementara mazhab Hanafi yang lahir lebih dahulu merangkumnya dalam konsep istihsân. Bukan tempatnya untuk membahas konsep-konsep tersebut di tulisan ini, akan tetapi setidaknya itulah gambaran nyata perhatian usul fikih terhadap konsep maslahat.

Namun demikian, pemahaman sebaliknya juga salah. Yakni memaksakan maslahat yang ditimbang oleh akal sehingga menabrak syariat. Terkait konteks ini, pakar usul menamakannya dengan munâsib mulgha atau mashlahat mulgha. Secara harfiah, kata ini berarti maslahat yang dibatalkan. Namun, sebenarnya bukan berarti syariat menentang sebagian keberadaan maslahat itu, hanya saja syariat menimbang adanya maslahat lain. Perlu dipahami bahwa sebagian besar syariat memiliki dua unsur, maslahat dan mafsadah. Al-Qarrafi mengatakan, “.. maslahat yang benar-benar murni sangat sedikit ditemukan.”

Ketika syariat memerintahkan sebuah maslahat, namun di sisi lain mengandung mafsadah bukan berarti dengan sengaja menginginkan terwujudnya mafsadah itu. Al-Syathibi mengatakan, “Ketika maslahat dimenangkan oleh syariat tatkala bercampur dengan mafsadah—dan ini adalah yang jamak terjadi, maka mafsadah atau penderitaan tersebut bukanlah tujuan dari perintah itu.”

Maslahat yang Sesungguhnya

Dalam konsep maqashid, tujuan yang dirumuskan syariat tidak hanya maslahat begitu saja. Maslahat yang dimaksud oleh syariat adalah maslahat hakiki yang abadi, bukan sekadar maslahat yang berarti asal senang dan bahagia. Al-Syathibi mengatakan, “Maslahat yang diwujudkan oleh syariat dan mafsadah yang dihindari haruslah dilihat dari sudut yang membangun kehidupan di dunia menuju kehidupan di akhirat. Bukan sekadar mengikuti nafsu yang mencari kesenangan sederhana. Syariat datang untuk menyadarkan manusia agar keluar dari hawa nafsunya menjadi hamba Allah.”

Apa yang telah saya paparkan di atas setidaknya menunjukkan bahwa syariat memiliki maslahat dan cara untuk mewujudkannya. Maslahat tersebut bukan sebagai lawan dari maslahat aqli, melainkan sebagai petunjuk mencapai maslahat hakiki. Terlebih, dengan kompleksitas maslahat dan mafsadah yang mendominasi dalam kebanyakan persoalan tentu petunjuk syariat mutlak dibutuhkan. Dalam usul fikih hal ini terbakukan dalam syarat i’tibârul mashlahah atau adanya perhatian syariat terhadap suatu maslahat.

Lebih lanjut tentang teori maqashid, ia terbagi dalam beberapa tingkat. Tingkat tertinggi adalah maqâshid ‘âmmah yang artinya universal dan dapat mengakomodir seluruh bab fikih atau setidaknya sebagian besarnya. Maqashid umum ini juga terdiri dari bermacam-macam maqashid. Di antaranya menjaga fitrah, toleran, dan keadilan.
Di bawahnya adalah maqâshid khâsshah yang hanya mengakomodir bab tertentu seperti perputaran uang dan transparansi dalam maqashid muamalah. Selanjutnya maqâshid juz’iy, yaitu ilat dan hikmah dalam setiap hukum syariat. Bisa dibilang, dua maqashid ini merupakan mekanisme terstruktur untuk mewujudkan maslahat umum. Sekali lagi, tulisan ini hanya menunjukkan bagaimana syariat menyusun maslahatnya. Sehingga tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang masing-masing dari tiga maqashid ini.

Skala Prioritas

Maqashid juga terbagi berdasarkan prioritasnya menjadi dlarûriy, hâjjiy dan tahsîniy. Dari ketiga prioritas ini, masing-masing memiliki mekanisme untuk mencapainya dan disebut juga dengan takmîliy. Menentukan prioritas dalam maqashid juga merupakan tujuan utama dirumuskannya ilmu ini. Prioritas tadi juga bisa ditilik dari besar kemungkinan tercapainya maqashid. Maqashid yang dipastikan dapat terwujud, lebih didahulukan dari maqashid yang masih berupa prasangka atau bahkan sekadar kemungkinan. Ibnu Asyur dalam kitabnya menekankan bahwa hukum tidaklah berada pada satu tingkatan. Terdapat skala prioritas dalam masing-masing dari kelima hukum. Misal, keharaman mencuri uang orang kaya tentu tidak sama dengan keharaman mencuri orang miskin.

Tujuan Mempelajari Maqashid al-Syar’iyyah

Mengetahui maqashid syariah tidak lantas mengantarkan orang untuk dapat membuat syariat atau hukum secara langsung. Hal ini seperti yang ditekankan oleh Imam Syathibi dalam Al-Muwâfaqât, “Tidak diperkenankan bagi orang yang membaca kitab ini memosisikan dirinya sebagai orang yang mencari pengetahuan praktis ataupun ingin memberikan pengajaran praktis. Sehingga, orang itu merasa puas dari mempelajari ilmu syariah—dasar dan cabangnya, yang diperoleh dari riwayat dan penalaran—tanpa sama sekali bertaklid dan menganut pada salah satu mazhab.”
Ilmu maqashid bukanlah ilmu tersendiri yang dapat langsung diterapkan begitu saja. Ilmu ini adalah pengawas dan kontrol bagi penerapan dan pengembangan syariat. Karena pada dasarnya, setiap hukum mengandung lebih dari satu maslahat dan bahkan juga mengandung mafsadah. Menentukan prioritas dan kategori maslahat syariat mulai dari tingkat umum (amah) sampai parsial (juz’iy) bukanlah hal sederhana.[]

Penulis: M. Ali Arinal Haq

Tentang penulis:
Merupakan Aktivis Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin 2016.

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

LIM Production
Santri Mengaji

# UPAYA MEMAHAMI KEMASLAHATAN SYARIAT ISLAM
# UPAYA MEMAHAMI KEMASLAHATAN SYARIAT ISLAM
# UPAYA MEMAHAMI KEMASLAHATAN SYARIAT ISLAM

Kapankah Seseorang Dianggap Memutus Silaturahim

Silaturahim bisa diartikan sebagai bentuk menjalin hubungan yang baik antar sesama kerabat dan sanak keluarga. Lalu Kapankah seseorang dianggap memutus silaturahim? Hal ini yang akan kita kupas nanti.

Dalam Alquran, Allah SWT telah berfirman:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an-Nisa’: 1)

Menjalin tali silaturahim memiliki beberapa hikmah. Di antaranya adalah dilapangkan rezeki serta dipanjangkan umurnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka bersilaturrahimlah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Manifestasi Silaturahim

Dalam sudut pandang syariat, silaturahim dapat diaplikasikan sesuai keadaan, situasi dan kondisi. Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَأَمَّا صِلَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ الْإِحْسَانُ إِلَى الْأَقَارِبِ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْوَاصِلِ وَالْمَوْصُولِ

“Adapun menyambung kekerabatan (silaturahim) ialah berbuat baik pada para kerabat sesuai keadaan orang yang menyambung dan orang yang disambung.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, II/201)

Dengan demikian, tak heran jika silaturrahim dapat dilakukan dengan banyak cara. Tidak harus saling berkunjung ke rumah antara satu dengan yang lain. Imam Syihabuddin ar-Ramli menuturkan:

وَتُسَنُّ صِلَةُ الْقَرَابَةِ وَتَحْصُلُ بِالْمَالِ وَقَضَاءِ الْحَوَائِجِ وَالزِّيَارَةِ وَالْمُكَاتَبَةِ وَالْمُرَاسَلَةِ بِالسَّلَامِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

“Disunahkan menyambung tali kekerabatan. Hal itu dapat dilakukan dengan media harta, memenuhi kebutuhannya, mengunjunginya, saling mengirim pesan dan ucapan salam atau sesamanya.” (Nihayah al-Muhtaj, V/422)

Sebaliknya, memutus tali silaturahim merupakan hal yang dilarang. Bahkan termasuk salah satu dari dosa besar. Dalam dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW mengingatkan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali persaudaraan.“ (HR. Muslim)

Kriteria Putusnya Silaturahim

Namun yang perlu dicermati, sebatas manakah batasan memutus tali silaturahim. Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Salim menjelaskan demikian:

وَمِنْهَا قَطِيْعَةُ الرَّحِمِ وَاخْتُلِفَ فِي الْمُرَادِ بِهَا فَقِيْلَ يَنْبَغِيْ أَنْ تَخُصَّ بِالْإِسَاءَةِ وَقِيْلَ لَا بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ تَتَعَدَّى اِلَى تَرْكِ الْإِحْسَانِ … وَاسْتُوْجِهَ فِي الزَّوَاجِرِ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا قَطْعُ مَا أَلَّفَهُ الْقَرِيْبُ مِنْ سَاِبٍق لِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ

“Termasuk sebuah kemaksiatan ialah memutus tali persaudaraan. Kategori memutus silaturrahim pun masih dipersilisihkan. Ada yang mengatakan bahwa memutus silaturrahim adalah dengan berbuat jelek. Menurut pendapat lain, memutus silaturrahim adalah meninggalkan perbuatan baik… Pendapat lain dalam kitab Az-Zawajir, bahwa yang dimaksud memutus silaturrahim ialah memutus kebiasaan baik terhadap kerabat tanpa adanya udzur yang dibenarkan syariat.” (Is’adur Rofiq, II/117)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa apabila tidak memiliki kesempatan untuk bersilaturrahim kepada kerabat karena keterbatasan waktu, tempat, biaya, ataupun alat komunikasi, maka tidak termasuk kategori perbuatan memutus tali silaturahim yang diharamkan. []waAllahu a’lam

Baca juga:
APAKAH CUKUP SILATURAHIM VIA ONLINE?

Follow juga instagram:
@pondoklirboyo

# KAPANKAH SESEORANG DIANGGAP MEMUTUS SILATURAHIM
# KAPANKAH SESEORANG DIANGGAP MEMUTUS SILATURAHIM
# KAPANKAH SESEORANG DIANGGAP MEMUTUS SILATURAHIM

Hukum Menambah Uang Belanja di Hari Asyura

Di hari Asyura (10 Muharram) banyak umat Islam yang menyambutnya dengan meningkatkan pola konsumsi sehingga mengeluarkan biaya lebih banyak dan melebihi hari-hari lain. Dalam menjelaskan masalah ini, Syekh Nawawi Banten menulis:

أََنَّ الْأَعْمَالَ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ اِثْنَا عَشَرَ عَمَلًا الصَّلَاةُ وَالْأولَى أََنْ تََكُوْنَ صَلَاةَ التَّسْبِيْحِ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَََقَةُ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَالْاِغْتِسَالُ وَزِيَارَةُ الْعَالِمِ الصَّالِحِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَمَسْحُ رَأْسِ الْيَتِيْمِ وَالْاِكْتِحَالُ وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ وَقِرَاءََةُ سُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ أَلْفَ مَرَّةً وَصِلَةُ الرَّحِمِ

“Sesungguhnya amal-amal di hari Asyura ada dua belas amal, yaitu salat dan yang lebih utama ialah salat tasbih, puasa Asyura, sedekah, melapangkan nafkah keluarga, mandi, berkunjung pada orang alim yang salih, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memakai celak, memotong kuku, membaca surat Al-Ikhlas seribu kali, dan silaturahim. Hadis yang ada hanyalah pada puasa Asyura dan melapangkan nafkah keluarga.” (Nihayah az-Zain, 190)

Mengenai tujuan melapangkan nafkah keluarga di hari Asyura, Imam asy-Syarwani menjelaskan:

وَيُسَنُّ التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ لِيُوَسِّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ السَّنَةَ كُلَّهَا كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْحَسَنِ

“Disunahkan melapangkan nafkah keluarga di hari Asyura agar Allah melapangkan kepada orang tersebut di hari-hari yang lain dalam satu tahun Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Hasan.” (Hawasyi asy-Syarwani, III/455)

Dengan demikian, melapangkan nafkah keluarga disunahkan di hari Asyura. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menambah uang belanja atau uang saku pada keluarga. Namun harus dengan tujuan yang baik. Sebagaimana keterangan Syekh Khatib as-Syirbini menulis dalam kitab al-Iqna’:

وَأَوْقَاتِ التَّوَسُّعَةِ عَلَى الْعِيَالِ كَيَوْمِ عَاشُورَاءَ وَيَوْمَيْ الْعِيدِ وَلَمْ يُقْصَدْ بِذَلِكَ التَّفَاخُرُ وَالتَّكَاثُرُ بَلْ لِطِيبِ خَاطِرِ الضَّيْفِ وَالْعِيَالِ وَقَضَاءِ وَطَرِهِمْ مِمَّا يَشْتَهُونَهُ

“Dan waktu untuk melapangkan nafkah keluarga ialah di hari Asyura dan dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Hal tersebut bukan bertujuan untuk membanggakan diri dan bersaing. Melainkan untuk menyenangkan hati keluarga dan memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan.” (Iqna’ Hamisy Bujairami ‘ala al-Khatib, IV/327) []waAllahu a’lam