Category Archives: Artikel

Refleksi Waktu

Syaikh ‘Ishomuddin bin Yusuf al-Balkhy tiba-tiba sangat buru-buru. Pakar fikih kenamaan madzhab Hanafiyyah ini baru saja mendengar sebuah permasalahan tentang ilmu yang baru diketahuinya. Spontan beliau membeli sebuah pena. Karena beliau sadar waktu terus berjalan tak akan kembali. Dan kesempatan yang sama untuk mencatat faidah tersebut hampir mungkin tak akan terulang.

Sepenggal kisah tersebut mengingatkan kita dengan ungkapan tak asing bagi para sufi: waktu umpama pedang. Ia tak hanya tajam, tapi setiap saat bisa “memangsa” siapa saja yang tak benar-benar bisa memanfaatkannya. Seumpama pisau bermata dua.

Kita adalah sebuah keniscayaan, untuk melewati waktu tanpa sedetikpun bisa menghentikannya. Barangkali sesuatu yang paling berharga yang kita miliki saat ini adalah waktu. Sebab waktu yang kita miliki hari ini memuat kesempatan-kesempatan yang hampir-hampir tak mungkin terulang esok. Sebab waktu yang kita miliki hari ini bukanlah yang akan kita miliki esok hari, jika kita punya tentunya. Karena kapan nafas berhenti tak ada yang tahu.

Allah SWT tidak hanya sekali menggunakan sumpah atas nama waktu dalam kitab suci. Di beberapa mukadimah surat, Ia sebutkan demi masa, demi waktu terbitnya mentari, demi waktu fajar, atau demi malam hari. Sebuah bukti tegas yang lebih dari cukup untuk membuat kesimpulan bila waktu tak ternilai harganya. Sebab Allah SWT tak akan bersumpah sia-sia untuk hal yang “tak berguna”.

Barangkali filosofi tentang “waktu paling berharga” yang muncul disela-sela tafsiran ayat pertama surat al-‘Ashr oleh Imam Fakhr al-Razi patut kita renungkan kembali. Apa yang diungkapkan beliau dengan penyampaian yang hiperbolik itu ada benarnya. “Sisa hidup seseorang tak ternilai harganya. Andai kata engkau berdosa selama seribu tahun, kemudian disaat-saat terakhir hidupmu kau bertobat, maka balasannya adalah masuk surga untuk selama-lamanya. Maka kau akan tahu, saat-saat terbaik dalam hidupmu adalah saat-saat terakhir itu.”[1] Tentu saja, sebab andai saja beberapa jam terakhir itu bukan digunakan untuk bertobat, ceritanya akan lain.

Apa yang diungkapkan Imam al-Razi bukan dongeng. Kisah semacam itu pernah terjadi. Dahulu, Amr bin Uqaisy RA –walau tidak sampai berusia seribu tahun—adalah salah satu sahabat beruntung yang masuk surga sebelum sempat mendirikan salat satu rakaatpun.  Beliau beriman kepada Rasul saat terjadinya perang Uhud. Dibalik baju zirah, beliau wafat dalam keadaan beriman, hanya berselang tak berapa lama setelah hidayah datang datang ke lubuk hatinya. Yang patut kita garis bawahi adalah, alangkah berharganya waktu sekian jam terakhir dalam hidup sosok sahabat Nabi tersebut. Tentu saja sebab waktu itu digunakan semestinya. Dan kisah kita semua seharusnya sama.

Waktu adalah salah satu dari nikmat yang tak mampu kita “hitung”. Namun banyak orang dengan mudah sering melupakannya. “Dua nikmat yang banyak manusia merugi olehnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Kesehatan, karena tak digunakan seyogyanya, demikian juga waktu senggang: banyak yang terbuang percuma. Allah SWT Maha Benar, setelah sumpah demi masa –dalam surat al-‘Ashr—Ia melanjutkan firman-Nya, “kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal baik”. Dalam artian, menggunakan waktu semestinya.

Kalau ingin tahu lebih jauh, tanyakan betapa berharganya waktu pada orang-orang yang diambang eksekusi: mereka yang esok pagi hidupnya diujung bedil. Atau pada penghuni neraka yang berteriak meronta, “Tuhanku, kembalikan aku ke dunia. Janjiku akan berbuat kebaikan”. Tapi kita sudah tahu itu jerit yang sia-sia, sebab Ia tak peduli lagi pada mereka, dan matahari yang sama tak akan terbit dua kali.

“Waktu menyimpan banyak keajaiban. Ia membuat orang memiliki kebahagiaan dan kesedihan, sehat dan sakit, kaya dan miskin. Bahkan ada yang lebih menakjubkan saat bicara waktu: akal tak mampu menghukumi ketiadaannya. Karena bagaimanapun juga waktu terbagi. Menjadi tahun, menjadi bulan, menjadi hari, dan menjadi jam. Lantas bagaimana mungkin ia tiada?

Tapi akal juga tak mampu menghukumi kalau ia ada. Karena masa pada detik ini tak bisa terbagi-bagi, sementara masa lalu dan masa depan hanyalah kealpaan. Lantas bagaimana mungkin ia ada?” –Fakhr al-Razi (1150 M-1210 M).

 

 

 

[1] Tafsir Mafatihul Ghaib. Juz 32 Hal. 84 Darul Fikr. 1981

Ngaji Tafsir: Tanggung Jawab Keluarga

Pada zaman Rasulullah Saw, pernah terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga dari sahabat Anshor. Pertikaian tersebut berujung pada penamparan seorang suami kepada istrinya. Setelah kejadian itu, sang istri bersama orang tuanya hendak melaporkan kejadian yang menimpanya kepada baginda Rasulullah Saw.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah Saw memutuskan hukuman Qishas (balasan) untuk sang suami. Ketika sang istri dan ayahnya hendaknya pulang, Rasulullah Saw mencegahnya seraya berkata, “Kembalilah, malaikat Jibril As membawakan ayat ini”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan Surah An-Nisa’ ayat 34. (Lihat: Tafsir Ar-Razi, X/70)

Menghayati Ayat

Dalam awal penggalan ayat ke 34 surah An-Nisa’, Allah Swt berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”, (QS. An-Nisa’: 34).

Mayoritas ulama Ahli Tafsir memberi penjelasan yang senada atas kandungan ayat tersebut. Yakni menitikberatkan terhadap aspek kepemimpinan dan tanggung jawab seorang laki-laki atas perempuan. Dengan bermodal kelebihan yang dimiliki, baik secara fisik maupun daya intelektual, kaum laki-laki sudah sepatutnya memegang tanggung jawab atas kaum perempuan.

Menurut sebagian kelompok, ayat ini menjadi alasan sebagai argumen untuk memarginalkan golongan perempuan. Dengan bertendensi terhadap realita dan kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah terhadap kaum laki-laki, mereka seakan memposisikan perempuan sebagai strata kedua yang berada di bawah level kaum laki-laki. Dengan dalih kelebihan yang dimiliki kaum laki-laki dalam ayat itu, kelompok ini sangat menentang adanya upaya yang sering disebut emansipasi wanita.

Sebenarnya asumsi serampangan seperti ini telah terjawab dalam kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith. Syech Muhammad Yusuf Hayyan Al-Andalusi menjelaskan bahwa tidak sepenuhnya benar apabila dikatakan laki-laki lebih utama daripada perempuan. Karena dalam konteks ayat ini, yang berlaku adalah hukum keumuman jenis laki-laki yang lebih utama daripada jenis perempuan, bukan memandang setiap individunya. Dengan kata lain, tidak menutup kemungkinan ada individu perempuan yang justru lebih baik daripada laki-laki, contoh adalah Sayyidah ‘Aisyah Ra, Rabiah Al-Adawiyah, dan lain-lain. (Lihat: Al-Bahr Al-Muhith, III/622, Maktabah Syamilah)

Implementasi Penafsiran

Penggalan ayat di atas, mengemukakan ragam penafsiran yang begitu banyak dari golongan ulama Ahli Tafsir. Namun, mayoritas dari mereka (Jumhur Al-Mufassirin) mengambil kesimpulan bahwa ayat ini menjadi landasan tanggung jawab seorang laki-laki atas keluarganya.

Ada dua alasan yang menjadikan laki-laki sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab atas keluarganya, yaitu karena Wahbiyun (Pemberian) dan Kasbiyun (Pekerjaan). Yang dimaksud Wahbiyun (Pemberian) adalah segala kelebihan yang diberikan atas kaum laki-laki demi melancarkan tanggung jawabnya atas perempuan, seperti kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik. Sedangkan yang dimaksud Kasbiyun (Pekerjaan) adalah kelebihan yang diusahakan oleh kaum laki-laki dalam menunjang tanggunh jawabnya atas kaum perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan nafkah keluarga. (Lihat: Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid, I/498, Maktabah Syamilah)

Oleh karena itu, dalam ayat itu Allah menggunakan kata “Qowwamun” yang memiiliki arti “Pemimpin” merupakan bentuk metafora dari kata “Qoimun”. Sehingga sangat tepat sekali bahwa kamu laki-laki lah yang mengemban amanah untuk memimpin, mendidik, dan menjaga keluarganya. Begitu juga bagi perempuan, dia mengemban amanah sebuah kehormatan dan wajib untuk selalu mentaati perintah yang diberikan, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat. (Lihat: Tafsir Al-baghowi, II/206, dan Tafsir Ar-Razi, X/70)

Dengan pemahaman yang komprehensif dengan bukti referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, diharapkan tidak ada lagi diskriminasi terhadap golongan perempuan dengan bertendensi pada ayat ini. Karena pada dasarnya, ayat ini justru menjelaskan masalah keseimbangan hak dan kewajiban antara seorang suami dan istri demi terciptanya nuansa keluarga yang sakinah dan harmonis.

[]waAllahu a’lam

Referensi:

Tafsir Ar-Razi

Al-Bahr Al-Muhith fii  Al-Tafsir

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Qurtubhi

Al-Bahr Al-Madid fii Tafsir Al-Qur’an Al-Majid

Menelaah Fardhu Kifayah

Dalam kitabnya berjudul Lubb Al-Ushul, Syech Zakaria Al-Anshori mendefinisikan Fardhu Kifayah dengan redaksi demikian:

فَرْضُ الْكِفَايَةِ مُهِمٌّ يُقْصَدُجَزْمًا حُصُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ بِالذَّاتِ لِفَاعِلِهِ

Fardhu Kifayah adalah perkara penting yang dituntut secara tegas harus terealisasi tanpa memandang siapa pelaksananya”, (lihat: Lubb Al-Ushul, hlm 26, cet. Al-Haromain).

Sekilas, dari definisi tersebut nampak memberi pemahaman bahwa yang menjadi prioritas dalam Fardhu Kifayah adalah terwujudnya tuntutan perkara tersebut. Dengan demikian, apabila sudah terealisasi, maka gugurlah kewajiban atas pelaku maupun orang lain.

Salah satu contoh aplikatifnya adalah Fardhu Kifayah untuk merawat jenazah. Dalam konteks ini, syariat tidak membebankan kewajiban tersebut kepada orang tertentu, karena yang terpenting adalah terawatnya jenazah secara sempurna. Maka dari itu, apabila sudah ada salah satu orang yang melakukan di antara mereka, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain.

Konsep yang demikian telah menjadikan perbedaan yang mendasar antara Fardhu Kifayah dan Fardhu ‘Ain. Karena yang menjadi perhatian dalam Fardhu ‘Ain adalah tidak hanya terlaksanya kewajiban itu sendiri, akan tetapi juga memandang terhadap pelakunya. Sehingga Fardhu ‘Ain hanya akan gugur apabila dilakukan sendiri oleh seseorang yang mendapat kewajiban, salah satu contohnya adalah ibadah shalat dan puasa.

Menurut pendapat yang lebih shahih, secara tingkatan Fardhu Kifayah berada satu level  di bawah Fardhu ‘Ain. Hal tersebut dikarenakan syariat memberikan perhatian lebih besar terhadap Fardhu ‘Ain, dengan bukti nyata bahwa syariat membebankannya kepada setiap individu mukallaf (Islam, Baligh, dan berakal) untuk melaksanakannya.

Obyek Fardhu Kifayah

Qoul Ashah mengatakan bahwa Fardhu Kifayah itu sebenarnya dibebankan kepada seluruh orang mukallaf. Karena semuanya akan dianggap berdosa apabila tidak ada satupun di antara mereka yang merealisasikannya. Maka dari itu, untuk menggugurkannya cukup dilakukan sebagian orang saja. Karena yang menjadi prioritas dari tujuan ini adalah terealisasi, bukan siapa yang merealisasikan.

Dan perlu diperhatikan, bahwa gugurnya kewajiban Fardhu Kifayah tidak diharuskan untuk memastikan bahwa sudah ada yang memerealisasikannya, namun cukup dengan dugaan (Dzon). Dengan artian, apabila seseorang yang terbebani kewajiban menduga ada orang lain yang telah melakukannya, maka kewajiban tersebut telah gugur.

Dalam hal pahala, apabila kewajiban itu dilakukan oleh seluruh pihak yang terbebani, baik serentak maupun bergantian, maka seluruhnya mendapatkan pahala.

Transformasi Fardhu Kifayah Menjadi Fardhu ‘Ain

Pada dasarnya, status Fardhu Kifayah tidak akan berubah menjadi Fardhu ‘Ain apabila dilaksanakan. Dengan artian, seseorang yang terlanjur melaksanakan diperbolehkan memutus di tengah jalan atau membatalkannya, tidak wajib sampai selesai.

Akan tetapi dalam beberapa kasus, status Fardhu Kifayah berubah menjadi Fardhu ‘Ain ketika dilaksanakan. Hal didasari karena ada faktor lain yang melatarbelakanginya. Kasus tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, shalat jenazah. Bagi seseorang yang telah masuk dalam ibadah ini tidak boleh membatalkannya, karena dianggap merendahkan kehormatan mayit.

Kedua, haji dan umroh. Dalam haji dan umroh sunah, seseorang apabila telah masuk ihram tidak diperbolehkan membatalkannya, terlebih lagi jika statusnya wajib.

Ketiga, jihad. Seseorang yang telah masuk dalam barisan perang tidak diperbolehkan melarikan diri karena dapat mengendurkan mental pasukan yang lainnya.

[]waAllahu a’lam

______________

Disarikan dari kitab Ghayah Al-Wushul, karya Syech Zakaria Al-Anshori, cet. Al-Haromain.

Legalitas Umroh Sebelum Haji

Dalam kitab Al-Jami’ As-Shaghir, Imam As-Suyuti mengutip sebuah hadis Ralulullah Saw:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga,” (HR. An-Nasai, Ahmad, dan At-Turmudzi).

Hadis tersebut menjelaskan begitu besar pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt bagi mereka yang menunaikan ibadah haji dan umroh. Sebagai muslim yang hakiki, sangat mustahil apabila tidak terbesit keinginan dalam hati untuk menunaikan kedua ibadah tersebut.

Namun, apa daya ketika realita berbicara lain. Kebutuhan finansial yang lumayan mahal menjadikan kedua ibadah ini tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Andaipun kebutuhan biaya dan finansial telah mampu, tak jarang mereka harus menanti beberapa tahun untuk menunggu giliran keberangkatannya (Waiting List).

Akhirnya, demi mengobati kerinduan beribadah di tanah Suci Makah dan Madinah, sebagian orang memilih menunaikan ibadah umroh meskipun mereka belum sempat menunaikan ibadah haji. Alternatif umroh sebelum haji ini masih ada yang mempertanyakan keabsahannya, apakah praktek demikian dapat dibenarkan dalam pandangan kaca mata syariat?.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, memaparkan legalitas ibadah umroh sebelum haji dengan ungkapan seperti ini:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ سَوَاءٌ حَجَّ فِي سَنَتِهِ أَمْ لَا وَكَذَا الْحَجُّ قَبْلَ الْعُمْرَةِ وَاحْتَجُّوا لَهُ بِحَدِيثِ ابْنُ عُمَرَ (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَبِالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْمَشْهُورَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ ثَلَاثَ عُمَرٍ قَبْلَ حَجَّتِهِ

Para ulama sepakat atas kebolehan melakukan umroh sebelum menunaikan ibadah haji, baik haji di tahun itu ataupun tidak, begitu juga kebolehan haji sebelum umroh. Pendapat ini berargumen dengan hadis sahabat Ibnu Umar; Sesungguhnya Nabi Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Selain itu, para ulama juga berargumen dengan hadis-hadis shahih yang lain, yaitu Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebanyak tiga kali sebelum beliau menunaikan ibadah haji,” (Lihat: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, VII/170, Maktabah Syamilah).

Dalam kitab Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’ juga dijelaskan:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ، فَقَالَ: أَعْتَمِرُ – بِتَقْدِيرِ هَمْزَةِ الِاسْتِفْهَامِ – قَبْلَ أَنْ أَحُجَّ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: نَعَمْ، قَدِ «اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ»  ثَلَاثَ عُمَرٍ. قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: يَتَّصِلُ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ وُجُوهٍ صِحَاحٍ، وَهُوَ أَمْرٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ لَا خِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِي جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ لِمَنْ شَاءَ

Seorang laki-laki bertanya kepada Said bin Musayyab; Bolehkah aku umroh sebelum haji?. Said menjawab; Boleh, karena Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, yaitu sebanyak 3 kali. Ibnu Abdi Al-Bar berkata; Hadis ini bersambung dari periwayatan yang shahih. Telah menjadi kesepakatan dan tidak ada pertentangan di antara para ulama bahwa boleh melaksanakan umroh sebelum haji bagi yang menghendakinya,” (Lihat: Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’, II/393, Maktabah Syamilah).

Dari penjelasan referensi tersebut sudah dapat ditarik pemahaman bahwa menjalankan ibadah umroh sebelum menunaikan ibadah haji dapat dibenarkan menurut kacamata syariat. Bahkan yang demikian itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sendiri sebanyak tiga kali, sebagaimana keterangan dari hadis sahabat Ibnu Umar yang diriwayatkan dengan periwayatan yang shahih.

[]waAllahu a’lam

 

 

Mengapa Harus Fiqih Muamalah?

Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, manusia tidak pernah terlepas dengan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dalam teori ilmu sosial, interaksi antar sesama manusia tidak akan pernah terlepas selama manusia tidak mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.

Sudah diketahui bersama bahwa Islam adalah agama yang universal dan paripurna. Di dalamnya mengatur seluruh tatanan kehidupan, seakan tidak memberi peluang celah sedikitpun untuk meloloskan perkara tanpa sentuhan hukum syariat. Selain mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, Islam juga mengatur hubungan horisontal antar sesama manusia. Maka dari sinilah muncul istilah Fiqih Muamalah yang merupakan implementasi dari hubungan antar manusia tersebut.

Dalam term Fiqih klasik, Fiqih Muamalah menempati tangga urutan kedua setelah pembahasan mengenai praktek ibadah sehari-hari (‘Ubudiyah). Hal ini bukan berarti tanpa dasar, mayoritas para ulama berargumen bahwa hubungan muamalah antar manusia merupakan kebutuhan sekunder yang paling dibutuhkan setelah kebutuhan primer untuk beribadah kepada Tuhannya. Bahkan seluruh pembahasan Fiqih Muamalah telah mencakup seperempat dari semua pembahasan mengenai Ilmu Fiqih.

Urgensitas Fiqih Muamalah

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”, (QS. An-Nisa’: 29).

Islam memiliki perhatian serius terhadap dinamika sosial dan ekonomi umat. Sebab, aktivitas sosial-ekonomi merupakan salah satu pilar dari enam asas primer kehidupan (Al-Mabadi’ As-Sittah) yang menjadi cita-cita Islam (Maqashid As-Syari’ah), dimana Islam hadir untuk melindunginya. Yaitu perlindungan agama (Hifdhu Ad-Din), perlindungan jiwa (Hifdhu An-Nafs), perlindungan intelektual (Hifdhu Al-‘Aqli), perlindungan garis keturunan (Hifdhu An-Nasli), perlindungan harta (Hifdhu Al-Mal), dan perlindungan harga diri (Hifdhu Al-‘Irdhi).

Proyek dari perhatian serius yang diberikan Islam terhadap aktivitas sosial dan ekonomi adalah melalui legislasi konsep-konsep interaksi sosial (Fiqih Muamalah) dalam khazanah fiqih. Hal ini ditujukan dalam rangka memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap asas-asas primer kehidupan tersebut, agar memungkinkan terciptanya kemaslahatan.

Secara pengertian sederhana, dapat dipahamai bahwa Fiqih Muamalah merupakan sebuah hukum Islam yang mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya, yang bertujuan untuk menjaga hak-hak manusia, merealisasikan keadilan, rasa aman, terwujudnya keadilan dan persamaan antara individu dalam masyarakat (maslahat), serta menjauhkan segala kemadaratan yang akan menimpa mereka.

Esensi dan konsep interaksi sosial-ekonomi (Muamalah) yang ditawarkan oleh Islam bukanlah sistem yang berorientasi pada kalkulasi antara untung dan rugi belaka, seperti esensi dari konsep yang ditawarkan sistem ekonomi kapitalisme yang hanya melahirkan kesenjangan sosial semata. Namun, konsep muamalah yang diusung Islam adalah konsep hubungan interaksi dalam kehidupan yang berorientasi pada nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan.

Konsep kajian muamalah ini dapat dibuktikan dengan model kajian dan aturan yang dibahas di dalamnya. Seperti pelarangan praktek riba yang menindas, praktek manipulasi (Gharar) yang merugikan, praktek perjudian (Qimar) yang kotor, serta praktek spekulasi (Majhul) yang tidak jelas. Karena pada dasarnya, Islam melalui kajian Fiqih Muamalah melandaskan legalitas di setiap interaksinya, yang mana hal tersebut didasari atas saling rela dari pihak yang melakukan transaksi (An Taradlin). Sebagaimana sebuah hadis:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Sesungguhnya Akad Jual-Beli hanya dilandasi saling rela”, (HR. Ibnu Majah).

Dari uraian tersebut, tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan bahwa pemahaman, pengamalan, dan penyebaran Fiqih Muamalah menjadi suatu yang mendesak untuk saat ini.  Fiqih Muamalah merupakan solusi dan inovasi mutakhir di tengah kegersangan spiritual ekonomi umat. Karena prinsip dasar yang ditanamkan Islam dalam proyek membumikan Fiqih Muamalah adalah sukarela (Taradlin), keadilan (Ta’adul), saling membantu (Ta’awun), dan menciptakan kemaslahatan global (Rahmatan lil ‘alamin).

[]waAllahu a’lam