Category Archives: Artikel

Khotbah Jumat: Mari Tebarkan Kebaikan

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:
فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Hadirin Sidang Jumat Yang Berbahagia

Marilah kita senantiasa melatih diri untuk selalu meningkatkan ketakwan kita kepada Allah Ta’ala karena nikmat yang telah Dia berikan kepada kita semua. Nikmat masih bisa melaksanakan jamaah salat Jumat, masih diberi rahmat-Nya pada saat kita dalam keadaan terhimpit dan yang lain sebagainya. Terlebih kita telah diberi petunjuk dan memeluk agama Islam serta mengimani apa yang ada di dalamnaya. Sungguh sebuah nikmat yang  sangat luar biasa jika kita mau merenunginya. Sebab, petunjuk Allah merupakan kehendak-Nya yang tak bisa terlihat dan ditebak. Oleh sebab itu, patutlah jika kita selalu memuji-Nya dengan kata yang agung sebagai tanda syukur kita pada-Nya.

Sidang Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Kita hidup di dunia ini tidak bisa lepas dari membutuhkan sesama, artinya kita adalah mahluk sosial yang membutuhkan  satu sama lain dalam berbagai halnya. Sementara itu, tidak bisa dipungkiri pula bahwa setiap individu memiliki karakter yang tidak sama. Oleh karena itu marilah kita ciptakan suasana yang sentosa serta sebisa mungkin untuk saling memaklumi satu sama lain; dengan tidak memancing kemarahan orang lain, menyebarkan aib-aib orang lain, menyebarkan berita yang bisa memicu konflik ataupun hal-hal tak terpuji lainnya. Sebaliknya, sebisa mungkin kita senantiasa membantu orang lain dengan sekuat kemampuan kita. Sebagai mana pesan baginda Nabi:

أَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَ لَا يُسْلِمُهُ , مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَ مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ

اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهْ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Muslim satu dengan muslim lain adalah saudara, dia tidak boleh menzaliminya juga tidak boleh menjerumuskannya (kepada musuh). Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah (pun) akan memenuhi kebutuhannya, dan barang siapa menghilangkan satu kesusahan dari seorang muslim (maka) Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dihari Kiamat, dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi(aib)nya (kelak) dihari Kiamat”. (HR Muttafaq ‘Alaih, Sahih)

Itulah keharusan kita sebagi umat islam. Harus bisa menciptakan kerukunan. Jika dari saudara kita ada yang sedang tertimpa kesusahan, hendaknya sebisa mungkin kita membantunya. Sesama muslim adalah saudara. Sekuat mungkin, mari kita hindari hal-hal dapat memutus tali persaudaraan antar muslim.

Hadirin Jamaah jumat yang dirahmati Allah..

Hakikat hidup yang ideal menurut islam adalah seseorang yang selama diberikan umur panjang bisa menggunakannya untuk selalu melakukaan amal kebajikan.

Baginda Nabi bersabda:

خَيْرُالنَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَ حَسُنَ عَمَلُهُ

Artinya: “Manusia yang paling baik adalah manusia yang panjang umurnya serta bagus amalnya.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)

Berbuat baik tidaklah harus pada hal-hal besar ataupun dengan harta banyak, dalam keadaan apapun sesungguhnya kita tetap bisa berbuat baik semisal: Menyingkirkan kerikil-kerikil tajam dari jalan, memunguti sampah yang berserakan, bahkan juga hanya dengan tersenyum menyapa kepada sesama.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mengenal Aksara Pegon

Sebuah realita yang tak terbantahkan, bahwa kelestarian khazanah keilmuan Islam menjadi pondasi utama atas eksistensi agama Islam itu sendiri. Karena alasan tersebut, sejak dulu para ulama telah menggariskan upaya pelestarian akan khazanah keislaman melalui budaya literasi. Tradisi literasi tersebut berjalan dan dikembangkan secara terus-menerus dan berkesinambungan, terutama di pondok pesantren salaf.

Adalah Pegon, sebuah metode penulisan literasi klasik yang diwariskan oleh para ulama Nusantara. Tradisi menulis dengan aksara Arab yang dimodifikasi (Arabic modified script) ini pertama kali dikenal dan tumbuh sejak abad ke-16 dan terus berkembang dengan segala kompleksitasnya hingga abad ke-21.

Memang, aksara ini aneh dan lain daripada yang lain. Dalam bentuk tulisan, Aksara Arab Pegon memang berbentuk huruf-huruf Arab, namun bahasa yang menjadi isi dari tulisann tersebut adalah bahasa Jawa, Sunda, Madura, Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang berkembang di Indonesia. Karena itulah, aksara ini dinamakan Arab Pegon.

Dalam menulis Pegon, harokat tidak lagi digunakan, tetapi diganti dengan huruf vokal. Kecuali jika ada kerancuan bacaan maka perlu dibantu dengan harokat. Selain itu, dalam aksara Pegon juga mengenal kata Serapan bahasa Arab adalah setiap kata yang berasal dari bahasa Arab tidak boleh ditulis Pegon, artinya harus ditulis sebagaimana aslinya, misalkan kata “Islam” ditulis sebagaimana mestinya. Dengan adanya huruf-huruf modifikasi dalam aksara Arab Pegon, pada hakikatnya, aksara ini mampu menjadi pelengkap aksara Arab atau huruf-huruf hijaiyyah ketika berinteraksi dengan sistem fonologis bahasa yang tidak terdapat dalam sistem fonologis Arab.

Kontribusi riil aksara Pegon dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah, pertama, menjadi media untuk menulis teks-teks keagamaan. Kedua, menjadi media untuk menerjemahkan kitab-kitab salaf dengan metode salaf utawi-iki-iku. Ketiga, menjadi media untuk membantu para santri dan siswa dalam menghafalkan mufrodat (kosakata) bahasa Arab dalam bentuk syi’ir. Keempat, menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kelima, menjadi media untuk mengembangkan keterampilan membaca dan memahami teks. Keenam, menjadi media untuk mendalami tata bahasa Arab yang meliputi Nahwu, Sharaf dan Balaghah.

Aksara Pegon juga memiliki kontribusi yang nyata dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia.  Kontribusi aksara Pegon ini terejawentahkan dalam pelaksanaan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren salaf (salah satunya adalah Pondok Pesantren Lrboyo), madrasah diniyyah tradisional yang berada di bawah naungan LP Ma’arif Nahdlatul Ulama’, serta di universitas berbasis pesantren yang ada di Indonesia.

Contoh Pegon dalam Bahasa Jawa:

كانجع نبي محمد إيكو أوتوسان ايفون كوستي الله داتع سدايا مخلوق ، ديني أفا واهي كاع ديفون جريتا اكن دينيع كانجع نبي محمد إيكو ياطا-ياطا بنر. موعكا سكابيهاني مخلوق واجب مبنراكن لن أنديريك ماريع كانجع نبي محمد

Kanjeng Nabi Muhammad iku itusan ipun gusti Allah dateng sedoyo makhluk. dene opo wahe kang dipon ceritaaken deneng kanjeng Nabi Muhammad iku nyoto-nyoto bener. Mongko sekabehe makhluk wajib mbeneraken lan nderek mareng kanjeng Nabi Muhammad. “

Contoh Pegon dalam Bahasa Indonesia:

نبي محمد إيتو أوتوسان الله كفادا سموا مخلوق ، أفا ساجا ياع دي جريتاكان أدالاه كبناران. ماكا سموا مخلوق واجب ممبناركان دان معيكوتي

Nabi Muhammad adalah utusan Allah kepada semua makhluk. Apa saja yang diceritakan adalah kebenaran. Maka semua makhluk wajib membenarkan dan mengikuti.” [1]

______________

 

 

 

 

 

[1] Pintar Menulis Pegon Jilid II, cet. MHM Lirboyo.

Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Lisan

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:
فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah…
Marilah kita perbarui dan tingkatkan takwa kita kepada Allah ta’ala, yakni dengan melakukan setiap perintah dan menjauhi segala apa yang dilarangnya. Utamanya dengan menjaga anggota tubuh kita agar tidak berbuat sesuatu yang menjadi sebab murka Allah. Mulai dari ujung rambut hingga telapak kaki kita. Sebab semuanya adalah nikmat yang harus kita syukuri dengan menggunakannya untuk beribadah dan berbuat baik. Bukan untuk berbuat maksiat dan kerusakan.Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah..
Pada kesempatan khutbah kali ini, saya akan menyampaikan mengenai pentingnya menjaga anggota tubuh kita dari perbuatan maksiat, utamanya mengenai anggota tubuh yang paling berbahaya dan paling mudah terperosok ke dalam jurang maksiat, yaitu mulut atau lisan. Namun demikian, lisan juga dapat mengangkat seseorang menggapai derajat yang tinggi, bila mampu menjaganya.
Rasulullah saw. bersabda:

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ قَالَ تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ الْخُلُقِ قَالَ وَ مَا أَكْثَرَ مَا يَدْخُلُ الَّنارَ قَالَ الْأَجْوَفَانِ اَلْفَمُّ وَالْفَرْجُ

Artinya: “Rasulullah saw. ditanya, apakah sesuatu yang paling berpotensi mengantarkan sesorang menggapai surga? Belaiu lantas menjawab, bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti luhur. Rasulullah kembali ditanya, lalu apakah sesuatu yang paling berpotensi menjerumuskan seseorang ke dalam neraka? Beliau menjawab, dua lubang tubuh yakni mulut dan farji.”

Mengapa lisan begitu berbahaya bagi nasib seseorang kelak di akhirat? Karena lisan sangatlah ringan berbuat, ia bisa begitu mudah untuk digerakkan namun begitu sulit untuk dikendalikan. Maksiat yang ditimbulkan lisan nyaris bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan tenaga dan biaya. Berbeda dengan maksiat anggota tubuh yang lainnya yang harus menggunakan tenaga atau biaya. Oleh karenanya, bahaya lisan sangatlah besar dibanding anggota tubuh lainnya.

Kaum Muslimin yang di rahmati Allah..,

Maksiat-maksiat yang ditimbulkan oleh lisan itu memamng banyak sekali, diantaranya; Ghibah, yakni membicarakan orang lain dengan sesuatu yang membuatnya marah andaikan ia mendengarnya. Dengan terang Allah melarang seseorang berbuat ghibah bahkan Allah mengibaratkan ghibah sama halnya memakan bangkai saudaranya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ, وَلَا تَجَسَّسُوْا وَ لَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi maha penyayang.” (QS. al-Hujurat: 12)

Kaum Muslimin Yang Dirhamati Allah…

Dizaman yang serba modern ini, kita harus lebih berhati-hati. Mengingat perbuatan dosa yang merajalela, bahkan kadang terjadi tanpa disadari. Contoh yang nyata adalah banyaknya ujaran-ujaran kebencian, hinaan, cacian ataupun semacamnya yang beredar di dunia maya. Bukankah begitu mudahnya hal-hal demikian keluar dari sesorang, seakan kita lupa bahwa setiap apa yang kita perbuat pasti dicacat oleh malaikat. Maka, sangat wajib kita berpegang pada apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad yaitu:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمَ الْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau lebih baik diam.” (Muttafaqun ‘Alaih)

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

(IM)

Toleransi Sebagai Solusi

Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ 118 إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 119

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya.” (QS. Hud: 118-119)

Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang tidak dapat dipungkiri. Al-Qur’an mengakui keniscayaan perbedaan yang ada di alam semesta, termasuk perbedaan dalam beragama dan pandangan keagamaan. Sebagaimana ungkapan Ismail bin Umar bin Katsir dalam kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir:

وَلَا يَزَالُ الْخُلْفُ بَيْنَ النَّاسِ فِيْ اَدْيَانِهِمْ وَاعْتِقَادِ مِلَلِهِمْ وَنِحَلِهِمْ وَمَذَاهِبِهِمْ وَآرَائِهِمْ

Tidak akan hilang perbedaan di antara umat manusia dalam beragama, keyakinan keagamaan, madzhab, dan pandangan keagamaan mereka”.[1]

Kenyataan yang seperti ini secara otomatis akan membutuhkan kedewasaan berpikir untuk menyikapinya. Ahlussunnah wal Jama’ah ketika menyikapi perbedaan tersebut lebih mengedepankan sikap menyayangi dan toleransi, merajut tali persaudaraan serta membangun hubungan yang harmonis, karena inilah sikap Islam yang sebenarnya. Terbukti, Imam as-Syathibi dalam salah satu kitabnya, al-Muwafaqat, mengatakan:

أَنَّ اْلِإسْلَامَ يَدْعُوْ اِلَى الْأُلْفَةِ وَالتَّحَابِّ وَالتَّرَاحُمِ وَالتَّعَاطُفِ فَكُلُّ رَأْيٍ اَدَى اِلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَخَارِجٌ عَنِ الدِّيْنِ

Sesungguhnya agama Islam itu mengajak untuk saling menciptakan keharmonisan, mencintai, menyayangi, dan berbuat lembut. Maka setiap pemikiran yang menyalahi beberapa hal tersebut dianggap keluar dari ajaran agama”. [2]

Namun sayang, oleh sebagian kalangan sikap seperti ini terkadang dipahami sebagai upaya menebar paham pluralisme agama dalam artian semua agama benar. Anggapan itu justru sangat keliru. Karena sebenarnya sikap toleran (Tasamuh) adalah cerminan nyata dalam menunjukkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Jawaban ini didasari atas pemahaman mengenai toleransi dalam konteks sosial dan budaya yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda pandangan.

Walaupun demikian, dalam menerapkan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk perlu memperhatikan batas-batas yang telah ditetapkan syariat. Salah satunya ialah tidak melampaui koridor akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, keharaman, dan penyimpangan dari paham Ahlussunnah wal Jama’ah. []waAllahu a’lam

 

___________________

[1] Tafsir Ibnu Katsir, I/391, Maktabah Syamilah.

[2] Al-Muwafaqat, IV/463.

Toleransi dalam Dakwah

Mengapa di kota Kudus hanya ada sate kerbau? Tidak ada sapi? Penjagal sapi juga mungkin tak bisa kita temukan disana. Usut punya usut, konon hal tersebut adalah saksi hidup wujud toleransi yang hingga kini tetap lestari. Sisa-sisa bukti strategi dakwah Sunan Kudus mengislamkan masyarakat kota Kretek tersebut, yang dulunya masih didominasi agama Hindu dan Budha.

Beliau, Sattid Ja’far Shadiq, atau biasa dipanggil Sunan Kudus luar biasa memahami syariat Islam, tabahhur dan alim masalah agama. Dan strategi dakwah yang beliau terapkan jadi bukti kealiman beliau dalam urusan fikih. Kita semua tentu tahu, daging sapi halal hukumnya. Mengkonsumsi daging sapi tidaklah berdosa. Tidak haram. Tapi lantas mengapa beliau melarang para pengikut beliau waktu itu mengkonsumsinya? Ternyata, ini merupakan langkah jitu untuk menarik simpati masyarakat Hindu agar mau mengenal Islam. Dalam ajaran agama Hindu, sapi adalah hewan yang disucikan. Karena menurut keyakinan mereka, sapi menjadi tunggangan dewa Wisnu. Dalam membangun masjid juga beliau sampai meniru arsitektur pura, tempat ibadah orang Hindu. Nyatanya, bentuk bukanlah masalah, yang penting adalah esensinya. Mau dibangun dengan desain seperti apapun, masjid tetaplah masjid.

Beliau memperhatikan adat istiadat dan budaya yang melekat di masyarakat hingga ke sendi-sendinya. Tidak ingin menyinggung hati masyarakat yang terlanjur mengkeramatkan sapi. Akhirnya, strategi beliau berhasil. Meskipun sekarang di Kudus hampir semua orang memeluk Islam, “wasiat” Sunan Kudus tersebut tidak lantas hilang. Hari ini, jika hendak mencari pemeluk agama Hindu di Kudus, anda akan cukup kesulitan. Tapi menyembelih sapi tetaplah jadi hal tabu sampai sekarang.

Startegi semacam ini ternyata pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW juga dahulu dalam berdakwah amat menjaga perasaan masyarakatnya. Beliau tahu betul, bangunan Kakbah waktu itu tidaklah sesuai bentuknya dengan pondasi yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS. Kakbah yang dibangun Nabi Ibrahim AS. bentuknya persegi panjang, bukan kubus. Kakbah jadi berbentuk kubus karena dahulu pernah direnovasi. Namun beliau tidak mau begitu saja mengembalikan bentuk Kakbah kembali seperti pondasi semula. Demi menjaga perasaan penduduk Mekah yang baru memeluk Islam, dan amat mengkeramatkan Kakbah. Ingatkah kejadian ketika peletakan batu hajar aswad pasca pemugaran Kakbah? Hampir-hampir terjadi tumpah darah gara-gara semua orang ingin berebut mengembalikan “sebongkah batu” ke tempat asalnya. Beliau mengutarakan alasannya kepada istri terdekat beliau, Aisyah RA. ”Kalau saja kaummu tidak baru keluar dari kekufuran, niscaya aku sempurnakan Kakbah seperti pondasinya Nabi Ibrahim.”[1]

Dalam berdakwah dulu, sering kali justru Nabi Muhammad SAW mengambil pilihan yang lebih diterima masyarakat, dan mengesampingkan pendapat beliau yang lebih baik. Qadhi ‘Iyadh dalam kitab As-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa membeberkan hal tersebut. “Nabi mengambil keputusan terkait permasalahan dunia, karena alasan menolong umat beliau, berpolitik, atau alasan ketidak mauan beliau akan adanya perpecahan umat, padahal sejatinya beliau punya pendapat lain yang lebih baik.”[2] Qadhi Iyadh mencontohkan keputusan Nabi untuk tidak memusuhi kaum munafik sebagai salah satu buktinya. Padahal beliau sudah tahu seluk beluk dan bagaimana bencinya hati kaum munafik terhadap Islam. Ini dilakukan demi menjaga perasaan kamu muslimin lain yang berkerabat dengan kaum munafik, dan demi menjaga agar jangan sampai muncul persepsi bahwa Nabi Muhammad SAW telah memerangi sahabatnya sendiri.

Nabi telah berwasiat kepada para sahabat beliau,

(اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الترمذي

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada. Susullah perbuatan buruk dengan melakukan kebaikan, maka kebaikan tersebut akan melebur keburukan tadi. Dan berakhlaklah kepada masyarakat dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Menafsiri dawuh Nabi “berakhlaklah kepada masyarakat dengan budi pekerti yang baik”, sahabat Ali KRW mengatakan, “Maksudnya adalah, mengikuti masyarakat dalam segala hal, selain perbuatan maksiat.[3] Senada dengan hal ini, Imam al-Ghazali juga mengartikan husnul khuluq, atau berbudi pekerti luhur sebagai tidak egois memaksakan kehendak masyarakat sesuai kemauan diri sendiri. Akan tetapi husnul khuluq adalah mengalah mengikuti apa yang menjadi kemauan masyarakat, dalam konteks ini adalah mengikuti adat dan budaya, selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam.[4]

Kita bisa lihat, apa yang dipraktikkan Sayyid Ja’far Shadiq kepada masyarakat Kudus merupakan pengamalan hadis tersebut sesuai tafsiran sahabat Ali KRW.

Sebagai wujud strategi dakwah, seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikh Ramadhan al-Buthy, bahwa hal terpenting yang harus diperhatikan pertama kali bagi pendakwah adalah mendapatkan tanah air. Mendapatkan posisi. Diterima di hati masyarakat. Baru dakwah bisa berlanjut ke fase selanjutnya.

Jika agama sudah sirna dan terkalahkan, tak ada lagi artinya tanah air, harta, benda dan negri. Semua itu akan sirna dengan cepat tanpa keberadaan agama. Sebaliknya, jika agama kokoh, sendi-sendinya berdiri tegak ditengah masyarakat, dan akidahnya kokoh dalam hati para pemeluknya, maka harta benda, tanah dan negri yang dikorbankan dijalannya pasti akan didapatkan kembali. Bahkan semua itu diraih kembali dalam keadaan lebih kuat daripada sebelumnya, karena dilindungi oleh benteng kehormatan, kekuatan, dan kesadaran.”[5]

Berdakwah tentu butuh pengorbanan. Dan percayalah setiap pengorbanan yang kita berikan akan diganti dengan hasil yang lebih baik dan lebih besar. Kadang tak perlu kita mengedepankan simbol dan bentuk. Yang penting adalah esesi dan hakikat.

 

 

[1] Al-Adab as-Syarat Juz 2. Hal 114.

[2] As-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa. Juz 2. hal 200

[3] Mirqatu Shu’udi Tashdiq. Hal 61.

[4] Ayyuhal Walad. Juz 1. Hal 12.

[5] Fiqh Siroh Nabawiy. Juz 1 Hal 92.