Category Archives: Artikel

Al-Qur’an Zaman Now

Di masa yang serba canggih seperti saat ini, minat masyarakat muslim di Indonesia untuk membaca Al‐Qur’an semakin berkurang. Di samping karena pengaruh keluarga dan lingkungan, faktor lain seperti menjamurnya buku‐buku komik, novel, games, dan maraknya jejaring sosial juga turut mempengaruhi minat baca masyarakat terhadap kitab suci umat Islam tersebut.

Menjawab fenomena tersebut, kini telah hadir dan beredar berbagai model Al‐Qur’an yang sangat berbeda dengan terbitan sebelumnya. Berbagai desain menarik yang disesuaikan dengan sasaran pasar bertujuan untuk menarik minat baca masyarakat. Ada Al‐Qur’an yang dikhususkan bagi anak‐anak (Al‐Qur’an For Kids), cara mudah untuk membuat anak‐anak tertarik belajar Al‐quran dengan desain yang ekslusif ditambah dengan warna menarik. Al‐Qur’an For Women, Al‐Qur’an yang didesain dengan warna atau gambar yang terkesan feminim dan juga dengan memberi tanda pada ayat‐ayat yang menjelaskan wanita. Al‐Qur’an e‐Pen, mushaf Al-Qur’an yang dilengkapi dengan pen elektrik yang memiliki teknologi digital berupa alat sensor yang apabila mata pen disentuhkan maka ayat‐ayat Al‐Qur’an yang disediakan, maka akan dibaca dengan benar.

Kemunculan berbagai model Al-Qur’an yang terkesan kekinian tersebut secara otomatis akan mengundang sebuah pertanyaan, apakah hal tersebut dapat dibenarkan menurut kaca mata syariat?.

Dalam sejaranhnya, pada saat dibukukan pertama kalinya di zaman Khulafaur Rasyidin, tulisan Al-Qur’an belum memiliki tanda baca, harakat, bahkan titik yang membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya. Tentunya hal demikian akan sulit dibaca bagi seseorang yang memang tidak paham secara langsung atas Al-Qur’an, apalagi bagi orang-orang yang di luar Arab. Kekhawatiran akan terjadi kesalahan dan perubahan dalam Al-Qur’an mendorong para ulama di masa-masa selanjutnya untuk berupaya memberikan titik, harakat, dan tanda baca.

Menurut pemaparan yang disampaikan oleh  Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an adalah sebagai berikut:

اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ كِتَابَةِ الْمَصَاحِفِ وَتَحْسِيْنِ كِتَابَتِهَا وَتَبْيِيْنِهَا وَإِيْضَاحِهَا وَتَحْقِيْقِ الْخَطِّ دُوْنَ مَشَقَّةٍ وَتَعْلِيْقِهِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَيُسْتَحَبُّ نَقْطُ الْمُصْحَفِ وَشَكْلُهُ فَإِنَّهُ صِيَانَةٌ مِنَ اللَّحْنِ فِيْهِ وَتَصْحِيْفِهِ

“Para ulama sepakat atas hukum kesunnahan menulis mushaf, memperindah dan memperjelas tulisannya, membenarkan tulisan dan memberi keterangan pada mushaf. Ulama lain berkata, disunnahkan memberi titik dan harokat pada mushaf, karena hal tersebut dapat menjaga dari kekeliruan dan kesalahan dalam membacanya,”.[1]

Dari  uraian tersebut dapat dipahami bahwa para ulama sepakat bahwa membumikan Kalamullah melalui perantara penulisan mushaf Al-Qur’an memiliki hukum sunnah dan sangat dianjurkan. Begitu juga menambahkan harakat dan tanda baca yang bertujuan untuk menghindari kesalahan dalam membaca Al-Qur’an. Bahkan, diperbolehkan menambahkan keterangan ataupun catatan kaki berupa keterangan penting yang masih berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, misalkan Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat), tafsir ayat, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut lagi, menghiasi Al-Qur’an dengan warna yang beragam dan mencolok juga dapat dibenarkan apabila bertujuan lebih memperjelas tulisan mushafnya, menjaga dari kesalahan bacaan memperindah Al-Qur’an.[2] Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, diperbolehkan menghiasi mushaf Al-Qur’an dengan menggunakan hiasan yang berbahan baku emas.[3] Meskipun para ulama memiliki kelonggaran hukum dalam legalitas untuk membentuk model Al-Qur’an, namun harus tetap memperhatikan bahwa model‐model yang beredar tersebut tidak sampai merendahkan atau mengurangi kesakralan Al‐Qur’an.

Meskipun demikian para ulama pun mengakui, bahwa berbagai tambahan tersebut adalah sebuah perkara baru yang belum pernah ada di zaman Rasulullah Saw. Namun, apabila dianalisa secara mendalam, itu semua tergolong dari bagian perbuatan bid’ah hasanah yang tidak dilarang. Karena bagaimana pun, semuanya memiliki tujuan yang dapat dibenarkan dan sesuai dengan jalan syariat. waAllahu a’lam[]

 

___________

Referensi:

[1] At-Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an, vol. I/190.

[2] Ittihaf As-sadah Al-Muttaqin, vol. V/36.

[3] Al-Itqan fii Ulum Al-Qur’an, vol I/432.

Menyimak Sisi Kemunduran Islam

Zaman kejayaan Islam, yang kalau di hitung-hitung di mulai pada tahun 750 hingga 1258 masehi. Di kurun  tahun tersebut, lingkungan kehidupan dunia islam begitu gegap gempita dalam semarak laku agama, sosial, keilmuan, politik dan sebagainya. Berlomba dalam kebaikan sangat di prioritaskan, bebas dalam berpikir dan berpendapat mendapatkan tempat yang nyaman, sehingga tak heran sempalan islam pada waktu ini amat riuh bertumbuhan.

Di zaman ini Kontribusi islam dan sumbangsihnya dalam berbagai bidang menghiasi catatan sejarah. Pemberdayaan kualitas umatnya dalam hal keilmuan sangat di perhatikan. hasilnya, sampai sekarang, di dunia modern, pondasi-pondasi keilmuan masih banyak berpijak dari polesan awal pemikiran cendekiawan muslim.

Setelah berakhirnya  masa kejayaan ini, dalam konteks yang sama, umat islam bisa di bilang mati suri,  hingga sekarang umat islam masih terpesona dan silau dengan produk-produk pemikiran dan hasil karya barat. Impor besar-besaran masih menguasai perilaku kita. Tak tanggung-tanggung, Dalam segala hal.

Termasuk yang tidak bisa kita pungkiri, tentang pengimporan produk dari barat ini, adalah budaya. Yang meliputi nilai-nilai etikanya, norma-norma sosialnya, politik, hingga agama.

Sebenarnya tidaklah mengapa mencontoh negara lain dari segi budayanya. Katakanlah semisal kita meniru bangsa barat yang on time dalam hal perkara apapun. Hanya saja ketika yang di comot adalah  hal negatifnya menurut budaya lokalnya, dan  di benturkan dengan  corak lingkungannya, dalam hal ini berarti bangsa  Timur, yang tidak hanya berbeda dari sudut geografisnya, tapi juga salah satunya, bangsa timur di kenal dengan hospitality atau keramahtamahannya, akan menimbulkan kerancauan dan memburamkan identitas pencomotnya.

Imbasnya, -setidaknya menurut saya- orang akan kurang mengenal jati dirinya, yang tidak hanya dari internalnya saja, tapi juga ekternalnya (lingkungan), Ruh kebangsaannya akan keropos, dan yang lebih menghawatirkan, laku peribadatannya tidak sampai menyentuh pada karakter pemeluknya.

Mengamati kemunduran umat islam, yang kita tahu, hal ini terjadi di semua lini kehidupan dan zamannya.

Tahun masa keemasan islam di atas bertolak pada zaman kekuasaan Daulah Abbasiyah, yang mana jelas sekali sejarah mencatatkan prestasi gemilang daulah yang di dirikan Abu al-Abbas ini.

Lebih-lebih pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-makmun. Semua sektor dari kehidupan rakyatnya di perhatikan. Dari sisi pendidikan, mereka tidak segan menyewa tenaga ahli dari luar islam untuk penerjemahan besar-besaran karya-karya dari bangsa lain. ekonomi, kesejahteraan rakyat, militer dan banyak hal lainnya yang tidak luput menjadi perhatian penguasa kala itu.

Setelah hancurnya khilafah Abbasiyah ini, tepatnya di tahun 1258 M dengan banyak faktor yang melemahkannya, surut pulalah peran islam dalam kiprahnya di kancah dunia.

 

 

Di sini tidak hendak memperpanjang mengulas masa jaya islam tempo lalu –yang mungkin bikin sesak saja — sekadar cerminan untuk kita yang hidup berabad kemudian, yang di kata orang adalah zaman modern.zaman yang menjadikan pemodal sebagai rajanya. Raja yang tidak bermahkota. Namun kekuasaannya ada meliputi dunia manapun dan kehendak bagaimanapun.

Mengulang menceritakan dan mendendangkan lagu kejayaan tempoe doeloe meski juga bisa mendorong kita untuk berkembang namun juga menjadi pemanis buatan, guna menghilangkan rasa pahit yang cekat di tenggorokan. Manisnya, jika di gunakan pada taraf tidak sewajarnya  akan membahayakan tubuh. Pun pula dengan kondisi seperti sekarang ini. Jika terlalu lama terlena, atau bahkan bersikap apatis dengan keadaan, kita lihat di kemudian hari efek negatifnya.

Bangsa kita sebagai bangsa yang Bhineka sudah berpuluh tahun hidup dengan menentukan nasibnya sendiri –katanya-,  setelah ber-abad lamanya berada dalam cengkeraman penjajah.

Hidup dengan pilihannya sendiri tidaklah seharusnya  berarti hidup yang tak perlu campur tangan orang lain ia akan bisa hidup, akan tetapi hendaknya berarti sebuah pola laku hidup yang ‘asing’  bisa masuk untuk hanya sebagai mitra keberhasilannya belaka, bukan menjadikannya layaknya nafas sebuah kehidupan, sehingga akan ‘mati’ siapa yang tak menghirupnya.

Sudah sejak berabad lamanya   kita – orang islam- dalam kelezatan menikmati hasil keringat karya  orang di luar golongannya, seakan produk pemikiran mereka menjadi candu bagi kita yang ternyata dengan suka rela sebagai konsumen tetapnya.

Menyangkut hal ini, ahli bidang tafsir ternama kepunyaan indonesia, Dr. M Quraish shihab, dalam kumpulan makalah dan ceramahnya yang telah di bukukan, Membumikan Al-Quran,  mencoba meniti jalur perjalanan kiprah umat islam dan pengaruhnya yang mulai mengendor, di sertai dengan praduga kemerosotannya.

Beliau mengawali dengan mengatakan bahwa umat ini mengalami kemunduran dan tantangan terberatnya pada kisaran awal  abad 19, di mana pada tahun ini terjadi kemunduran ekstrim pada umat islam dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, militer, budaya dan banyak hal lain terutama keilmuan. Yang mana penyebab kuatnya di mulai dari konflik hebat yang di alami oleh Gereja dan Ilmuan.

Gereja yang selalu memaksakan apapun  pendapatnya kepada seluruh umatnya, dengan berpijak pada penafsiran al-kitab yang di buat-buat sendiri. Sehingga kewenangan mutlaknya akan menjatuhkan hukuman kepada siapapun yang menentang atau tidak sepaham dengan gereja.

Tak pelak,para Ilmuan yang selalu melakukan riset dan mengutamakan pembenaran nalar-ilmiah menjadi korban sikap keras pihak gereja, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer dan lainnya. Yang ternyata temuan Ilmuan-Ilmuan tadi banyak yang berseberangan dengan pendapat yang di demonstrasikan oleh gereja.

Seperti permasalahan badai, petir ataupun halilintar, pihak gereja berpendapat kalau bahwa semua itu merupakan ulah iblis, mereka meyakini, dengan memukul loncengmerupakan senjata ampuh untuk menangkan iblis yang berulah ini. Kemudian pada tahun 1752 muncul Benjamin Franklin yang menemukan teori bahwa petir itu hanyalah percikan listrik di angkasa.

Hal demikian ini agaknya sedikit banyak juga masuk dan mempengaruhi pikiran cendekiawan muslim. Mereka bertindak sangat hati-hati dalam riset. Kalau ternyata mencapai sebuah titik temu, segera akan di carikan ayatnya untuk pendukung,

 

Betapapun, tidak menyadari atau lupa untuk menyadari, hingga sekarang kita masih berada dalam kondisi ini. Bagaimana tidak, setiap harinya kita masih bergantungan ciptaan luar, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak peduli itu kebutuhan primer lebih-lebih sekunder. Di sana-sini rasa lemah diri selalu membayangi umat ini. Perasaan inferior masih begitu kuatnya untuk di cabut. Penyakit semacam ini akan berdampak begitu buruk jika terlalu lama kita idap. Kematian pikiran akan semakin kuat membayangi. Kendali dan peran asing terhadap kita terlampau untuk di cegah.

Di lain sisi ada semangat luar biasa dari golongan tertentu untuk mencoba mengajak umat untuk terus maju dan mencoba mengimbangi dominasi barat. Ada juga yang dengan rela melepas-totalkan kemampuannya dan dengan santainya menikmati posisinya  tanpa ada tekanan batin. Atau sikap yang sedang-sedang saja, mengajak untuk tetap menerima apupun yang masuk dari luar selagi baik  dan tetap memegang kendali sosial-budayanya.

Kita hendaknya jangan menjadikan hadis yang menerangkan bahwa “sebaik-baiknya kurun adalah kurunku dan para sahabatku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” sebagai alasan semua ini. Karena sangat tidak bijak serlkali. Yang berarti juga mengesampingkan ayat “ allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum sehingga mereka merubahnya sendiri”.

Meskipun toh tembok pemisah dalam hal prestasi dan capaian antara kita dan mereka begitu tebal, tapi bukan halangan untuk mendobraknya. Kita hanya mungkin masih menunggu formula jitu untuk membalik  semua kondisi ini.

Jawaban sementara yang kiranya pas, seperti yang di sitir Qurais Shihab, untuk menanggapi temuan-temuan baru Barat, ketika di cari ada keterangan ayat yang mendukungnya adalah : “Al-quran sudah sejak lama mengemukakan, sejak sekian abad yang lalu.”

Sekalipun ini akan membuat penemunya tersenyum getir, dan berakata “ kenapa tidak dari dulu tuan-tuan katakan kepada kami, sehingga kami tidak perlu capek-capek meneliti bertahun-tahun?”

 

di telaah ulang dari berbagai referensi

Memperkuat Kredibilitas Perppu Ormas

Sekilas Tentang Perppu Ormas

Atas dasar pertimbangan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan mendesak untuk segera dilakukan perubahan karena belum mengatur secara komprehensif mengenai keormasan yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Karena terjadi kekosongan hukum dalam hal penerapan sanksi yang efektif, Presiden Joko Widodo pada 10 Juli 2017 telah menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Dalam UU 17/2013 tentang Ormas, definisi bertentangan dengan Pancasila sangat terbatas. Sebab, UU tersebut hanya menjelaskan yang bertentangan dengan Pancasila adalah paham ateis, komunis, dan beberapa paham yang berasal dari timur saja. Dalam Perppu ini (Perppu Nomor 2 Tahun 2017) ditegaskan, bahwa Organisasi Kemasyarakatan adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Menurut Perppu ini, Ormas dilarang melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras atau golongan; melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia; melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; dan melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ormas juga dilarang melakukan kegiatan sparatis yang mengancam kedaulatan NKRI, dan/atau menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila. “Ormas yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dijatuhi sanksi administratif dan/atau sanksi pidana,” bunyi Pasal 60 Perppu ini.

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud, menurut Perppu ini, terdiri atas: a. Peringatan tertulis; b. Penghentian kegiatan; dan/atau c. Pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum.

Itulah sekilas Perppu tentang ormas yang sudah disahkan oleh Presiden, semenjak PERPPU itu disahkan sudah ada salah satu organisasi yang dibubarkan oleh pemerintah dengan alasan organisasi tersebut tidak mau menerima pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara.

Perppu Ormas Menurut Kacamata Islam

Meneropong tindakan pemerintah untuk mengeluarkan Perppu Ormas dalam pandangan syariat merupakan hal urgen di saat salah satu kelompok Islam menentangnya dengan keras.  Karena bagaimana pun, pemahaman atas kajian konsep syariat secara komprehensif melalui analisa hukum yang referentif akan menghasilkan sebuah sikap yang sesuai dengan  apa yang telah digariskan atas kesepakatan para ulama yang sudah berijtihad terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dengan pemahaman itu pula, tindakan pemerintah untuk mengeluarkan  Perppu Ormas dapat dibenarkan dalam syariat dengan melihat dan memperhatikan beberapa pertimbangan:[1]

Pertama, penetapan Perppu tersebut sebagai langkah antisipasi dari pemerintah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah terbukti menjadi jalan terbaik untuk menjaga keberlangsungan kehidupan agama, bangsa dan negara Republik Indonesia.

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:

وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah seharusnya seimbang dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, penyebaran paham radikalisme di Indonesia berlangsung sangat masif dan terstruktur. Solusi berupa doktrin-doktrin yang merefleksikan sikap eksklusif tentu tidak akan meyakinkan dan memuaskan. Akan tetapi, propaganda untuk membentengi masyarakat dari gerakan kelompok Islam tersebut masih membutuhkan upaya yang tegas dan kerjasama seluruh elemen bangsa, terutaman dari pemerintah melalui peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, berbagai usaha yang dilakukan untuk membendung paham tersebut mendapat dukungan yuridis secara jelas dalam ranah hukum yang berlaku di Indonesia.

Ketiga, pemerintah menilai Perppu ini dibuat semata untuk melindungi ideologi kebangsaan, bukan untuk memberi batas kebebasan berdemokrasi. Asumsi sebagian kelompok mengatakan bahwa munculnya PERPPU ini merupakan pertanda dimulainya rezim pemerintahan yang otoriter dan anti Islam, bahkan ada yang mengatakan untuk mempersempit ruang gerak dan mendiskriminasi aktivis umat Islam dan Ulama.

Sekilas, asumsi serampangan sebagian kelompok tersebut tampak memiliki sisi kebenaran namun dalam ruang lingkup yang sangat sempit. Namun dalam realita sebenarnya, Perppu ini dibuat demi menjaga ideologi kebangsaan yang tidak bertentangan dengan spirit keislaman di Indonesia. Serta demi menjaga persatuan dan kesatuan yang telah dibangun seluruh elemen bangsa sebagaimana yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Sungguh sangat naif apabila dikatakan ini merupakan sebuah diskriminasi aktivis dan Ulama.

Senada dengan upaya pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut, Syaikh ‘Abdur Rahman bin Muhammad ‘Awad Al-Jaziri mengatakan di dalam kitabnya, Al-Fiqhu ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah:

وَيَجِبُ عَلَى كُلِّ ‏رَئِيْسٍ قَادِرٍ سَوَاءٌ كَانَ حَاكِماً أَوْ غَيْرَهُ أَنْ يَرْفَعَ الضَّرَرَ عَنْ مَرْؤُوْسِيْهِ، فَلَا يُؤَذِّيْهِمْ هُوَ وَلَا يُسْمَحُ لِأَحَدٍ أَنْ يُؤَذِّيَهُمْ وَمِمَّا لَا شَكَّ فِيْهِ اَنَّ تَرْكَ ‏النَّاسِ بِدُوْنِ قَانُوْنٍ يَرْفَعُ عَنْهُمُ الْأَذَى وَالضَّرَرَ يُخَالِفُ هَذَا الْحَدِيْثَ فَكُلُّ حُكْمٍ صَالِحٍ فِيْهِ مَنْفَعَةٌ وَرَفْعُ ضَرَرٍ يُقِرُّهُ الشَّرْعُ وَيَرْتَضِيْهِ

Wajib bagi setiap Pemimpin yang mampu, baik seorang hakim atau yang lainnya, untuk menghilangkan ancaman bahaya dari rakyatnya. Maka tidak diperbolehkan baginya untuk menyakiti mereka, serta tidak ada kata toleransi bagi siapapun untuk menyakiti mereka. Dan menjadi sebuah hal yang tidak diragukan lagi, menelantarkan rakyat tanpa adanya undang-undang yang melindungi mereka dari ancaman bahaya adalah sebuah tindakan yang menyalahi hadis[3]. Dan setiap hukum yang berdampak atas kemanfaatan dan menghilangkan ancaman bahaya merupakan sesuatu yang menjadi ketetapan dan legalitas dari syariat,”.[4]

Walhasil, langkah nyata pemerintah dalam menjaga ideologi negara dengan upaya mengeluarkan Perppu Ormas dapat dibenarkan secara syariat dengan memperhatikan beberapa pertimbangan yang sudah disebutkan di atas. Selanjutnya, bagi seluruh elemen bangsa diwajibkan mematuhi segala keputusan yang telah diambil oleh pemerintah, terlebih lagi keputusan yang telah mendapat legalitas dari kacamata syariat demi eksistansi agama, bangsa, dan negara. Sekian, waAllahu a’lam[]

______________

[1] Sesuai dengan hasil keputusan Komisi B Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesanten (FMPP) se-Jawa Madura yang diselenggarakan pada 18-19 Oktober 2017 M/ 28-29 Muharram 1439 H di Pondok Pesantren Salaf Sulaiman, Trenggalek, Jawa Timur.

[2] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain.

[3] Hadis yang dimaksud adalah لَا ضَرَرَ، وَلَا ضِرَارَ.

[4] Al-Fiqhu ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, vol. V/358.

Ayo Bertawassul

Tidak dapat dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan kelompok-kelompok ekstremis Islam yang selalu menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan selalu mengedepankan fanatisme golongan (Ta’asshub Al-Ijtima’iyah), sehingga sikap tersebut membuat umat Islam gerah.

Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar sering kali keluar dari kelompok tersebut. Dengan mudah, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khurafi, penyembah kubur, gerakan sempalan sesat, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Anehnya,  ketika pendapat mereka dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya yang sangat lemah, mereka tidak rela bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya.

Sebetulnya, hal tersebut dapat diselesaikan apabila mereka mau menelaah ulang kitab-kitab para pendahulunya, contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang menjadi tokoh sentral mereka. dengan demikian mereka akan sadar bahwa Ibnu Taimiyah sendiri tidak terlalu ekstrem seperti pengikutnya sekarang. Dalam masalah Tawassul misalnya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa praktek Tawassul merupakan diantara sunnah (amal kebiasaan) para Rasul dan orang-orang Salafus Shalihin. Kaum Wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, khurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.

Sekilas Tentang Tawasul

Secara bahasa Tawassul artinya mengambil perantara. Adapun Tawassul secara istilah diartikan sebagai salah satu cara berdoa kepada Allah Swt dan salah satu dari beberapa pintu tawajuh kepada Allah Swt dengan menggunakan Wasilah (perantara), adapun yang dituju dari Tawassul ini adalah Allah semata.

Ada beberapa dalil tentang diperbolehkannya Tawassul baik dalil Al-Qur’an, As-Sunnah maupun Hadis Atsar. Diantaranya adalah firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan carilah perantara untuk sampai kepada-Nya. Dan berjihadlah kamu di jalan-Nya, mudah-mudahan kamu dapat keuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 35).

Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki memberikan komentar, bahwa yang dimaksud dengan kata Al-Wasilah dalam ayat ini adalah setiap sesuatu yang dijadikan pendekatan atau perantara kepada Allah Swt. Lebih lanjut ia menjelaskan: “Seperti yang kamu ketahui bahwa lafadz al-wasilah pada ayat di atas bersifat umum yang memungkinkan artinya berwasilah dengan dzat-dzat yang utama seperti para Nabi, orang-orang soleh, baik dalam masa hidup mereka maupun sudah mati. Bisa juga memungkinkan diartikan berwasilah menggunakan amal-amal saleh dengan menjalankan amal-amal saleh itu dan dijadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt,”.

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman:

وْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Jika mereka telah berbuat aniaya pada dirinya (berbuat dosa), lalu mereka datang kepadamu (wahai Muhammad) dan meminta ampunan kepada Allah Swt, kemudian Rasul memohonkan ampunan untuk mereka, tentulah Allah Swt Yang Maha Menerima Taubat dan yang Maha Penyayang akan menerima tobat mereka,” (QS. An-Nisa’: 64).

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadis tentang legalitas Tawassul yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab ketika melakukan salat Istisqa’, yaitu:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ اِذَاقَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعِبَاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ الَّلَهُمَّ اِنَا كُنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَاِناَّ نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِعَمَّ نَبِيِّناَ فاَسْقِناَ قاَلَ فَيُسْقَوْنَ (رواه البخارى،٩٥٤)

“Dari Anas bin Malik Ra, beliu berkata: Apabila terjadi kemarau, sahabat Umar bin a-Khathab bertawasul dengan sahabat Abbas bin Abdul Muththalib, kemudian berdoa “Ya Alloh kami pernah berdoa dan bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, kemudian engkau menurunkan hujan. Dan sekarang kami bertawasul dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan.” Sahabat Anas berkata: Maka turunlah hujan kepada kami.” (HR. al- Bukhori:954).[1]

Mengomentari hal ini, Syaikh Abdul Hayyi al-Amrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad menyatakan bahwa pada hakikatnya Tawassul yang dilakukan Sayyidina umar Ra dengan Sayyidina Abas Ra merupakan tawasul dengan Nabi Saw (pada waktu itu telah wafat), disebabkan posisi sahabat Abbas Ra sebagai paman Nabi Saw.[2]

Dalam kitab Iqtidha’ As-Shirath al–Mustaqim, Ibnu Taimiyyah (700-774 H) pun pernah berkata: “Tak ada perbedaan antara orang hidup dan mati seperti yang telah diasumsikan sebagian orang. Sebuah hadis sohih menegaskan: Telah diperintahkan kepada orang – orang yang memiliki hajat di masa khalifah Ustman untuk bertawassul kepada Nabi setelah beliau wafat. Kemudian, mereka bertawassul kepada Rasul, dan hajat mereka pun terkabul. Demikian diriwayatkan oleh at–Thabrani,”.[3]

Sesungguhnya Tawassul dan minta syafa’at (pertolongan) kepada Nabi atau dengan keagungan dan kebesarannya, termasuk diantara sunnah (amal kebiasaan) para Rasul dan orang-orang Salafus Shalihin. Adapun kaitannya dengan ayat-ayat Al–Qur’an yang sering digunakan untuk mengharamkan Tawassul seperti ayat–ayat di bawah ini:

اَلَا للهِ الدَّيْنِ الْخَالِصُ وَالَّدِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُونِهِ اَوْلِياَءَ مَانَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوناَ اِلىَ اللهِ زُلْفَى (الزمر:٢٣ 

 

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang – orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat–dekatnya.” (QS. Al–Zumr: 23).

Setelah memperhatikan ayat tersebut dengan cermat, Syaikh Abdul Hayyi al–‘Amrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad menyatakan, “Perkataan para penyembah berhala “Kami menyembah mereka (berhala – berhala itu) supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat–dekatnya. Ayat ini menegaskan bahwa mereka menyembah berhala untuk tujuan tersebut. Sedangkan orang yang bertawassul dengan para Rasul atau orang alim itu tidak menyembah mereka. Tetapi karena dia tau bahwa orang yang ditawassuli tersebut memiliki keutamaan di hadapan Allah Swt dengan kedudukannya. Dan karena kelebihannya itulah kemudian ada orang yang melakukan tawassul dengan mereka.”[4]

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki juga memberikan komentarnya tentang ayat–ayat yang digunakan dalil untuk mengharamkan tawassul. Bahwa ayat–ayat tersebut ditujukan bagi orang–orang musyrik yang menyembah berhala, tentunya berbeda dengan orang yang bertawassul yang hanya menjadikan sesuatu sebagai perantara menuju Allah Swt. Sekian, waAllahu a’lam[]

____________

[1] Al-Tahdzir min al-Ightirar, hlm. 125

[2] Ibid, hlm. 6

[3] Iqtidha’ As-Shirath al–Mustaqim, hlm. 266, cet. Darul Hadis.

[4] Al-Tahdzir min al-Ightirar, hlm. 113

Reaktualisasi Filosofi Santri

Jika dilihat dari aspek sejarah, doktrin, dan ajarannya, filosofi santri adalah pandangan hidup tentang seluruh sistem kepercayaan dan keyakinan santri. Filosofi itu mengatakan bahwa santri disebut sebagai manusia lahir-batin.  Istilah tersebut muncul karena santri percaya bahwa manusia terdiri dari dua dimensi yang tak terpisahkan, yakni dimensi lahir dan dimensi batin. Dimensi lahir manusia mencakup aspek-aspek kehidupannya yang bersifat indrawi, kasat mata, dan logis seperti daya intelektual, kemampuan atau skill, keterampilan, etos kerja, prestasi dan lain-lain. Sedangkan dimensi batin mencakup hal-hal yang tidak kasat mata, seperti moralitas dan spiritualitas.

Filosofi seperti inilah yang kemudian memunculkan khittah sistem pendidikan pesantren yang memadukan dua dimensi manusia tersebut. Yaitu sistem Tarbiyah yang berorientasi pada aspek batin dalam ranah moral spiritual, serta sistem Ta’limiyah yang berorientasi pada aspek lahir dalam ranah skill intelektual. Khittah sistem pendidikan pesantren yang mengintegrasikan aspek lahir dan aspek batin tentu sangat ideal untuk dijadikan pilihan di saat lembaga-lembaga pendidikan formal hanya terfokuskan terhadap aspek lahir belaka.

Sayangnya, sejauh ini belum banyak pesantren yang benar-benar serius merealisasikan idealisme sistem ini, sehingga ketimpangan masih dapat disaksikan dimana-mana. Betapa banyak orang pandai namun jahat dan membodohi umat, orang kaya namun justru memeras rakyat jelata, dan orang berkuasa namun justru menganiaya. Begitu juga sebaliknya, betapa banyak orang yang berbaik hati, shalih, bertaqwa, namun tidak kaya, tidak cerdas, tidak berkuasa, sehingga tidak mampu berbuat apa-apa yang berarti bagi peradaban. Karena pada kenyataannya, peradaban yang diharapkan seluruh elemen masyarakat membutuhkan manusia-manusia dengan integritas keilmuan lahir-batin; saintis yang agamis, politikus yang religius, pemikir yang ahli dzikir, filsuf yang tasawuf, pakar ekonomi yang islami, ilmuwan yang beriman, budayawan yang budiman, hartawan yang dermawan dan lain sebagainya.

Upaya-upaya untuk mencetak generasi yang mampu mendobrak peradaban tersebut mampu diwujudkan melalui pendidikan santri di pesantren. Karena dalam sistem pendidikan lahir-batin di pesantren, seorang santri dididik sebaik mungkin dengan menjaga keseimbangan antara IQ (Intelligence Quentient/kecerdasan intelektual), EQ (Emotional Quotient/kecerdasan emosional), serta SQ (Spiritual Quotient/kecerdasan spiritual). Sebab, pendidikan santri tidak pernah menekankan pada salah satu dari tiga aspek kecerdasan tersebut, karena memang kecerdasan yang utuh adalah keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ.

Pernyataan seperti ini bukan berarti tanpa alasan, hal tersebut dapat dibuktikan dengan sajian kurikulum pesantren yang mempertahankan khazanah klasik guna memperkaya kecerdasan intelektual santri. Ditambah lagi dukungan lingkungan multikultural yang berpengaruh pada kepekaan santri terhadap keadaan lingkungan yang memacu kecerdasan emosionalnya. Serta bimbingan rohani oleh para masyayikh, kyai, dan ustad yang mengolah ranah kecerdasan spiritual kaum sarungan tersebut.

Begitu juga filosofi yang mengatakan bahwa santri bisa disebut sebagai manusia sejarah. Karena pada kenyataanya, santri sangat percaya bahwa salah satu sejarah penciptaan manusia adalah bertujuan untuk menjalankan misi ketuhanan di bumi, sebagaimana penjelasan yang telah dikemukakan oleh Imam Al-Baghowi (wafat 510 H) dalam kitab Ma’alim At-Tanzil (lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Al-Baghowi). Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنِّيْ جَاعِلُ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. (QS. Al-Baqarah: 30)

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia diharuskan membangun kemakmuran peradaban bumi dan tidak berbuat kerusakan dalam sejarahnya. Kepercayaan seperti ini memunculkan sebuah filosofi yang mengharuskan santri memiliki pandangan hidup. Pemahaman atas pandangan hidup tersebut seakan menuntut dan mengarahkan seorang santri harus memiliki kredibilitas kelimuan, kemampuan, dan kekuatan untuk menguasai serta memimpin sejarah peradaban di zamannya. Sebab, tanpa kapasitas modal yang memadai, tugas kekhalifahan sangat sulit atau bahkan sangat tidak mungkin untuk terealisasi.

Filosofi seperti ini tidak mengizinkan sosok santri menjadi manusia yang memiliki pola pikir stagnan, tertinggal, terasing dari zamannya, dan terlebih lagi apabila tidak memiliki kontribusi maupun prestasi yang berarti untuk masa depan. Namun filosofi ini justru mendorong santri untuk memiliki jiwa optimistis untuk konsisten mewarisi dan memperkaya pemahaman khazanah klasik serta mampu bersaing di masa mendatang. Manusia dengan tipikal seperti itu yang akan mampu diharapkan untuk menjadi jembatan transformatif antar zaman (khalifah). Dari sinilah santri bisa disebut manusia sejarah sebagai generasi penerus yang mampu mengemban amanah untuk memegang tongkat estafet peradaban. Sebuah kalam syair mengatakan:

لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَذَا أَبِيْ * وَلَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَا أَنَا ذَا

“Generasi muda bukanlah mereka yang hanya bisa membanggakan leluhurnya (masa lalu), tetapi generasi muda adalah mereka yang sanggup membuktikan prestasi dirinya sendiri (modern)”.

Problematika zaman yang semakin maju perlu disimak dan diamati secara akurat, sebagai bahan untuk menentukan prospek santri di masa depan. Meskipun tetap mempertahankan ruh kesalafannya, aktualisasi dari filosofi-filosofi tersebut juga mendorong seorang santri melahirkan pemikiran dinamis, gerakan strategis dan berkemajuan sesuai tantangan zaman yang dihadapinya. Senada dengan spirit maqalah yang kerap dikumandangkan oleh kalangan santri pesantren, yaitu:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وّالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

“Melestarikan warisan nilai-nilai tradisional yang baik, dan mengadopsi nilai-nilai modernitas yang lebih baik”.

Dari uraian di atas dapat ditarik benang merah, bahwa dengan mengetahui dan menghayati filosofi santri, diharapkan kalangan santri akan memahami khittah dan jati diri mereka yang sesungguhnya. Sehingga akan memunculkan inspirasi-inspirasi untuk merevolusi diri menjadi generasi pesantren yang memiliki rasa percaya diri, inovasi, dan prestasi. Konsep seperti inilah yang menjadi sebuah usaha (ikhtiyar) nyata dari kalangan santri untuk menjawab tantangan derasnya arus globalisasi. waAllahu a’alam bisshawab.[]