Category Archives: Artikel

Menyambut Maulid Nabi

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”, (QS. Al-Ahzab: 56).

Tatkala Maulid Nabi telah tiba, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan suka cita. Meski mereka menyebut dengan beragam nama, Maulid, Maulud, Muludan, Mevlut, dan lain-lain, maknanya tetap sama, yakni hari kelahiran.

Sejarawan Islam mencatat bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib lahir pada hari senin, 12 Rabi’ul Awwal atau 20 april 571 M di rumah Abdul Muthalib (kakeknya) dan dibidani oleh Al-Syifa, ibunda Abdur Rahman bin ‘Auf. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, tidak hadir dalam kelahiran yang dinanti-nanti itu. Ia telah wafat saat janin Muhammad berusia dua bulan dalam kandungan ibunya.

Salah seorang ulama bermadzhab Hanbali, Ibnu Al-Jauzi, dengan sangat indah menggambarkan peristiwa kelahiran Nabi akhir zaman tersebut. Ia berkata:

Ketika Muhammad Saw lahir, malaikat menyiarkan beritanya dengan riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira, Arasy pun bergetar. Para bidadari surga keluar dengan menyebarkan wewangian. Ketika Muhammad Saw, ibunya, Sayyidah Aminah, melihat cahaya menyinari istana Bosra. Malaikat berdiri mengelilinginya dan membentangkan sayap-sayapnya”.

Tradisi Maulid dan Membaca Sejarah Nabi

Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, majelis-majels taklim, lembaga sosial-keagamaan, sekolah-sekolah, bahkan instansi-instansi pemerintahan. Peringatan tersebut sebagian besar dirayakan pada setiap malam 12 Rabi’ul Awwal. Mereka merayakannya dengan berbagai acara seremoni dan kemeriahan yang menggairahkan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masing-masing daerah.

Pembacaan Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi) pada malam 12 Rabi’ul Awwal yang menjadi puncak acara seremonial yang ditunggu-tunggu dengan penuh minat. Sirah Nabawiyyah tidak sekedar bercerita tentang kelahiran Nabi, tetapi juga tentang keseluruhan kehidupan beliau dari awal kelahiran hingga wafat. Hal ini tentu saja dimaksudkan sebagai cara untuk mencintai dan meneladani Nabi. Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”, (Al-Ahzab: 21).

Rasulullah Saw pun pernah berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari Anas Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya“, (HR. Muslim).

Adapun yang sering dibaca masyarakat Indonesia pada malam ta’dhim maulid itu adalah Maulid Ad-Diba’i, Maulid Simtud Dhuror (Habsyi), dan Maulid Al-Barzanji. Lantunan prosais sekaligus puitis yang terkadang terdengar dengan suara khas menyelimuti mereka di malam itu.

Selain di Indonesia, peringatan Maulid Nabi juga diselenggarakan di berbagai negara Muslim di Dunia. Seperti di Indonesia, di banyak negara tersebut, hari Maulid Nabi Saw merupakan hari libur nasional.

Maulid Nabi Menghidupkan Islam

Sahabat Umar bin Khattab Ra pernah berkata:

مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ اَحْيَا الْاِسْلَامَ

Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah Saw, sama artinya menghidupkan Islam”.

Dalam dunia paling sekuler dan tak beragama sekali pun, kelahiran dan kematian orang besar dan berjasa juga diperingati, kuburannya diziarahi, diletakkan bunga di atasnya, dan didoakan. Sungguh saat naif jika masih ada orang yang membid’ahkan atau bahkan menganggap Maulid Nabi sebagai praktek keagamaan yang sesat hanya semata-mata karena Nabi Saw tidak pernah melakukannya atau karena tidak pernah ada di zaman Nabi. Ini adalah pandangan orang-orang yang amat sederhana dalam memahami agama. Mereka yang cerdas, terpelajar, dan memiliki daya intelektual yang tinggi niscaya akan memberikan apresiasi atas tradisi ini.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dikatakan bahwa Rasulullah Saw mensyukuri hari kelahirannya dengan cara berpuasa. Hadis tersebut berbunyi:

عَنْ أَبِي قَتَادَتَ اْلاَنْصَارِيِّ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْاِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasululloh pernah ditanya tentang puasa senin, maka beliau menjawab: pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”, (HR.Muslim).

Di dalam kitab Madarij As-Shu’ud Syarah Al-Barzanji, dikutip sebuah ucapan Rasulullah Saw:

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَظَمَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Rasulullah Saw bersabda:Siapa menhormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan pertolongan kepadanya di hari Kiamat”.

Sekitar lima abad yang lalu, Imam Jalaluddin al-Shuyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawab polemik tentang perayaan Maulid Nabi Saw. Di dalam kitab Al-Hawi Li Al-Fatawi, beliau menjelaskan:

Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi Saw pada bulan Rabi’ul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak?. Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi Saw, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi Saw sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setalah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk Bid’ah Hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan darejat Nabi Saw, manampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw yang mulia”. Sekian, waAllahu a’lam.[]

 

 

 

Memejahijaukan Fanatisme

Ketika kita membahas apa itu fanatik, maka kita akan memasuki lorong dialog purba. Dimana diskursus mengenai hal tersebut sering tidak mencapai titik usai yang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupan, lebih-lebih dalam aspek keagamaan.

Secara etimologi (bahasa), fanatik diartikan sebagai suatu kepercayaan atau keyakinan yang teramat kuat terhadap suatu ajaran, baik keagamaan, politik, dan lain sebagainya. Sebagian pakar menggambarkan sikap fanatik dengan sikap yang berlebihan dalam menganut, membela, serta memperjuangkan sebuah keyakinan. Sehingga pola pikir yang dibangun cenderung tertutup dan tidak sedikit pun memberi celah untuk mendengarkan ide dan opini yang dianggap bertentangan dengan keyakinannya.

Dan dari rahim fanatik inilah kemudian lahir sebuah tindakan, yang oleh sebagian kalangan dinilai negatif. Misalkan absolutisme, ekstremisme (Tatharruf), eksklusivisme, serta radikalisme, yang mana pada gilirannya semua akan mengantarkan terhadap runtuhnya persatuan (Ittihadul Ummah), menyuburkan permusuhan, serta menghidupkan permusuhan. Rasulullah Saw pernah bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami, seseorang yang mengajak untuk bersikap fanatik, dan seseorang yang berperang atas dasar fanatik, dan orang yang rela mati demi fanatik”.

Sudah sangat jelas, fanatisme yang dalam konotasinya disebut sebagai Ta’asshub sudah mendapatkan sikap secara tegas oleh Rasulullah Saw sebagaimana yang telah terekam dalam kitab Sunan Abi Dawud. Namun, realita kehidupan seakan tidak pernah mengetahui akan hal itu. Karena diakui ataupunt tidak, masih banyak dijumpai pola fanatik yang sangat beragam, mulai dari fanatik madzhab, fanatik ormas, maupun fanatik tokoh.

Fanatik Madzhab (Ta’asshub al-Madzhabiyyah)

Dalam perkembangannya, madzhab yang diakui oleh mayoritas kalangan Ahlussunnah wal Jamaah hanya terkualifikasi di kisaran empat madzhab (al-Madzahib al-Arba’ah), yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Eliminasi ini sangat mempertimbangkan bahwa hanya keempat madzhab itulah yang terdokumentasi (Mudawwanah) secara resmi dan dapat menjamin keauntentikan konsep madzhabnya. Imbasnya, tidak jarang masyarakat yang terjebak dalam pemahaman yang terkesan bersikap fanatik dan hanya membatasi diri dengan berpegang teguh atas salah satu madzhab yang dianutnya.

Melihat praktek yang diasumsikan fanatisme bermadzhab yang hanya sedemikian adanya, maka hal itu sebenarnya merupakan praktek bermadzhab secara tegas yang masih dapat dibenarkan menurut kacamat syariat. Karena dalam aplikasinya, sikap tegas dalam  bermadzhab hanya bertujuan untuk menguatkan keyakinan dan meningkatkan pemahaman terhadap madzhab yang dianut. Namun dengan catatan tanpa mengesampingkan atau lebih-lebih menafikan kredibilitas imam madzhab yang lain.

Di dalam kitab Manaqib A’immah al-Arba’ah dikatakan:

قَالَ الصَّلَابَةُ فِي الْمَذْهَبِ وَاجِبَةٌ وَالتَّعَصُّبُ لَا يَجُوْزُ. وَالصَّلَابَةُ اَنْ يَعْمَلَ بِمَا هُوَ مَذْهَبُهُ وَيَرَاهُ حَقًّا وَصَوَابًا وَالتَّعَصُّبُ السَّفَاهَةُ وَالْجَفَاءُ فِيْ صَاحِبِ الْمَذْهَبِ الْآخَرِ وَمَا يَرْجِعُ اِلَى نَقْصِهِ

Ulama berkata: Tegas dalam bermadzhab itu wajib, namun apabila fanatik bermadhzhab itu tidak diperbolehkan. Yang dimaksud tegas adalah mengamalkan terhadap ajaran yang menjadi madzhabnya dan meyakininya sebagai sesuatu yang benar dan tepat. Adapun yang dimaksud fanatik adalah sikap antipati terhadap madzhab lain dan mencari kelemahannya”.

Fanatik Ormas dan Tokoh (Ta’asshub al-Ijtima’iyyah wa Al-Syakhsiyyah)

Tidak asing lagi di jagad dunia maya, perseteruan panas dua kelompok pecinta dua tokoh sentral publik tidak pernah berakhir. Mereka sama-sama fantik terhadap tokoh yang dijadikan sebagai panutannya. Realita semacam ini menyisakan banyak persoalan. Perbedaan pendapat dan cara pandang tokoh yang dijadikan panutan sudah menjadi hal yang wajar. Akan tetapi, pembelaan serta pengagungan pengikutnya secara berlebihan inilah yang menjadi fokus sorotan.

Tidak berhenti sampai disitu, saat ini organisasi masyarakat tidak selamanya membangun persatuan dan kesatuan. Hal demikian dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus konflik yang menghidupkan api permusuhan dan membuat retak hubungan antar organisasi masyarakat (Ormas), bahkan ketidakharmonisan dengan pemerintah. Setelah dianalisa secara cermat, semua itu tidak pernah terlepas dari faktor fanatisme dan daya saing ormas yang tidak sportif. Juga tidak jarang, para pimpinan suatu ormas tertentu dengan lantang mengeluarkan pernyataan dan pandangan yang memprovokasi para pengikutnya bersifat loyal bahkan menjadi fanatik buta.

Sebenarnya, syariat telah memberikan legalitas terhadap sikap sebagaimana di atas, apabila memang sikap fanatik itu hanya sebatas menjadikan panutan terhadap tokoh yang dimaksud. Namun yang perlu dicatat adalah, sikap legalitas ini tidak memberikan celah sedikit pun untuk memperbolehkan mereka saling menghujat terhadap pihak lain. Tindakan saling menghujat antar kelompok ini lah yang pada gilirannya akan menimbulkan dampak negatif yang berupa ketidakharmonisan, kebencian, hingga permusuhan. Atas dasar realita sikap yang demikian, maka fanatisme ormas dan tokoh tidak dapat dibenarkan, menimbang dampak negatif yang kemungkinan besar akan terjadi yang diakibatkan atas munculnya fanatisme tersebut.

Dan pada akhirnya, semua itu sangat berbeda dengan apa yang telah dicontohkan oleh para ulama salafus shalih sebagaimana keterangan dalam kitab at-Ta’liqat al-Mukhtashirah:

وَكَانَ الصَّحَابَةُ يَخْتَلِفُوْنَ فِي الْمَسَائِلِ الْفِقْهِيَّةِ، وَلَا يَحْدُثُ بَيْنَهُمْ عَدَاوَةٌ، وَهُمْ إِخْوَةٌ، وَكَذَلِكَ السَّلَفُ الصَّالِحِ وَالْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ يَخْتَلِفُوْنَ، وَلَمْ يَحْصُلْ بَيْنَهُمْ عَدَاوَةٌ، وَهُمْ إِخْوَةٌ، وَكَذَلِكَ أَتبَاعَهُمْ، فَإِذَا تَعَصَّبَ أَحَدُهُمْ لِلرَّأْيِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُوْجِبُ الْعَدَاوَةَ

“Para Sahabat Nabi juga berbeda dalam permasalahan hukum fiqih, namun hal itu tidak menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan mereka tetap dalam ikatan persaudaraan. Begitu juga perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama salafus shalihin dan empat imam madzhab. Hal itu tidak menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan mereka masih dalam ikatan persaudaraan. Begitu pula para pengikutnya. Sehingga apabila mereka fanatik terhadap pendapat mereka, justru itulah yang akan menumbuhkan permusuhan,”.

Sebagai penutup, keberadaan sikap fanatik yang mewarnai dinamika kehidupan manusia adalah sebuah realita yang tak terbantahkan. Sebagaimana telah diketahui, fanatisme memiliki sisi faktor, esensi, spirit, hukum dan dampak yang masih dipertimbangkan dalam syariat. Sehingga tidak sepenuhnya benar apabila sikap fanatik dikatakan haram secara mutlak, dan juga sulit dibenarkan apabila dikatakan fanatisme dapat diterapkan secara totalitas. Karena bagaimanapun, syariat telah menggariskan secara jelas terhadap batasan-batasan yang tidak mentolerir siapapun untuk melampauinya. waAllahu a’lam[]

__________

Sumber Bacaan: Sunan Abi Dawud, Manaqib A’immah al-Arba’ah, at-Ta’liqat al-Mukhtashirah.

 

Al-Qur’an Zaman Now

Di masa yang serba canggih seperti saat ini, minat masyarakat muslim di Indonesia untuk membaca Al‐Qur’an semakin berkurang. Di samping karena pengaruh keluarga dan lingkungan, faktor lain seperti menjamurnya buku‐buku komik, novel, games, dan maraknya jejaring sosial juga turut mempengaruhi minat baca masyarakat terhadap kitab suci umat Islam tersebut.

Menjawab fenomena tersebut, kini telah hadir dan beredar berbagai model Al‐Qur’an yang sangat berbeda dengan terbitan sebelumnya. Berbagai desain menarik yang disesuaikan dengan sasaran pasar bertujuan untuk menarik minat baca masyarakat. Ada Al‐Qur’an yang dikhususkan bagi anak‐anak (Al‐Qur’an For Kids), cara mudah untuk membuat anak‐anak tertarik belajar Al‐quran dengan desain yang ekslusif ditambah dengan warna menarik. Al‐Qur’an For Women, Al‐Qur’an yang didesain dengan warna atau gambar yang terkesan feminim dan juga dengan memberi tanda pada ayat‐ayat yang menjelaskan wanita. Al‐Qur’an e‐Pen, mushaf Al-Qur’an yang dilengkapi dengan pen elektrik yang memiliki teknologi digital berupa alat sensor yang apabila mata pen disentuhkan maka ayat‐ayat Al‐Qur’an yang disediakan, maka akan dibaca dengan benar.

Kemunculan berbagai model Al-Qur’an yang terkesan kekinian tersebut secara otomatis akan mengundang sebuah pertanyaan, apakah hal tersebut dapat dibenarkan menurut kaca mata syariat?.

Dalam sejaranhnya, pada saat dibukukan pertama kalinya di zaman Khulafaur Rasyidin, tulisan Al-Qur’an belum memiliki tanda baca, harakat, bahkan titik yang membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya. Tentunya hal demikian akan sulit dibaca bagi seseorang yang memang tidak paham secara langsung atas Al-Qur’an, apalagi bagi orang-orang yang di luar Arab. Kekhawatiran akan terjadi kesalahan dan perubahan dalam Al-Qur’an mendorong para ulama di masa-masa selanjutnya untuk berupaya memberikan titik, harakat, dan tanda baca.

Menurut pemaparan yang disampaikan oleh  Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an adalah sebagai berikut:

اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ كِتَابَةِ الْمَصَاحِفِ وَتَحْسِيْنِ كِتَابَتِهَا وَتَبْيِيْنِهَا وَإِيْضَاحِهَا وَتَحْقِيْقِ الْخَطِّ دُوْنَ مَشَقَّةٍ وَتَعْلِيْقِهِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَيُسْتَحَبُّ نَقْطُ الْمُصْحَفِ وَشَكْلُهُ فَإِنَّهُ صِيَانَةٌ مِنَ اللَّحْنِ فِيْهِ وَتَصْحِيْفِهِ

“Para ulama sepakat atas hukum kesunnahan menulis mushaf, memperindah dan memperjelas tulisannya, membenarkan tulisan dan memberi keterangan pada mushaf. Ulama lain berkata, disunnahkan memberi titik dan harokat pada mushaf, karena hal tersebut dapat menjaga dari kekeliruan dan kesalahan dalam membacanya,”.[1]

Dari  uraian tersebut dapat dipahami bahwa para ulama sepakat bahwa membumikan Kalamullah melalui perantara penulisan mushaf Al-Qur’an memiliki hukum sunnah dan sangat dianjurkan. Begitu juga menambahkan harakat dan tanda baca yang bertujuan untuk menghindari kesalahan dalam membaca Al-Qur’an. Bahkan, diperbolehkan menambahkan keterangan ataupun catatan kaki berupa keterangan penting yang masih berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, misalkan Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat), tafsir ayat, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut lagi, menghiasi Al-Qur’an dengan warna yang beragam dan mencolok juga dapat dibenarkan apabila bertujuan lebih memperjelas tulisan mushafnya, menjaga dari kesalahan bacaan memperindah Al-Qur’an.[2] Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, diperbolehkan menghiasi mushaf Al-Qur’an dengan menggunakan hiasan yang berbahan baku emas.[3] Meskipun para ulama memiliki kelonggaran hukum dalam legalitas untuk membentuk model Al-Qur’an, namun harus tetap memperhatikan bahwa model‐model yang beredar tersebut tidak sampai merendahkan atau mengurangi kesakralan Al‐Qur’an.

Meskipun demikian para ulama pun mengakui, bahwa berbagai tambahan tersebut adalah sebuah perkara baru yang belum pernah ada di zaman Rasulullah Saw. Namun, apabila dianalisa secara mendalam, itu semua tergolong dari bagian perbuatan bid’ah hasanah yang tidak dilarang. Karena bagaimana pun, semuanya memiliki tujuan yang dapat dibenarkan dan sesuai dengan jalan syariat. waAllahu a’lam[]

 

___________

Referensi:

[1] At-Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an, vol. I/190.

[2] Ittihaf As-sadah Al-Muttaqin, vol. V/36.

[3] Al-Itqan fii Ulum Al-Qur’an, vol I/432.

Menyimak Sisi Kemunduran Islam

Zaman kejayaan Islam, yang kalau di hitung-hitung di mulai pada tahun 750 hingga 1258 masehi. Di kurun  tahun tersebut, lingkungan kehidupan dunia islam begitu gegap gempita dalam semarak laku agama, sosial, keilmuan, politik dan sebagainya. Berlomba dalam kebaikan sangat di prioritaskan, bebas dalam berpikir dan berpendapat mendapatkan tempat yang nyaman, sehingga tak heran sempalan islam pada waktu ini amat riuh bertumbuhan.

Di zaman ini Kontribusi islam dan sumbangsihnya dalam berbagai bidang menghiasi catatan sejarah. Pemberdayaan kualitas umatnya dalam hal keilmuan sangat di perhatikan. hasilnya, sampai sekarang, di dunia modern, pondasi-pondasi keilmuan masih banyak berpijak dari polesan awal pemikiran cendekiawan muslim.

Setelah berakhirnya  masa kejayaan ini, dalam konteks yang sama, umat islam bisa di bilang mati suri,  hingga sekarang umat islam masih terpesona dan silau dengan produk-produk pemikiran dan hasil karya barat. Impor besar-besaran masih menguasai perilaku kita. Tak tanggung-tanggung, Dalam segala hal.

Termasuk yang tidak bisa kita pungkiri, tentang pengimporan produk dari barat ini, adalah budaya. Yang meliputi nilai-nilai etikanya, norma-norma sosialnya, politik, hingga agama.

Sebenarnya tidaklah mengapa mencontoh negara lain dari segi budayanya. Katakanlah semisal kita meniru bangsa barat yang on time dalam hal perkara apapun. Hanya saja ketika yang di comot adalah  hal negatifnya menurut budaya lokalnya, dan  di benturkan dengan  corak lingkungannya, dalam hal ini berarti bangsa  Timur, yang tidak hanya berbeda dari sudut geografisnya, tapi juga salah satunya, bangsa timur di kenal dengan hospitality atau keramahtamahannya, akan menimbulkan kerancauan dan memburamkan identitas pencomotnya.

Imbasnya, -setidaknya menurut saya- orang akan kurang mengenal jati dirinya, yang tidak hanya dari internalnya saja, tapi juga ekternalnya (lingkungan), Ruh kebangsaannya akan keropos, dan yang lebih menghawatirkan, laku peribadatannya tidak sampai menyentuh pada karakter pemeluknya.

Mengamati kemunduran umat islam, yang kita tahu, hal ini terjadi di semua lini kehidupan dan zamannya.

Tahun masa keemasan islam di atas bertolak pada zaman kekuasaan Daulah Abbasiyah, yang mana jelas sekali sejarah mencatatkan prestasi gemilang daulah yang di dirikan Abu al-Abbas ini.

Lebih-lebih pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-makmun. Semua sektor dari kehidupan rakyatnya di perhatikan. Dari sisi pendidikan, mereka tidak segan menyewa tenaga ahli dari luar islam untuk penerjemahan besar-besaran karya-karya dari bangsa lain. ekonomi, kesejahteraan rakyat, militer dan banyak hal lainnya yang tidak luput menjadi perhatian penguasa kala itu.

Setelah hancurnya khilafah Abbasiyah ini, tepatnya di tahun 1258 M dengan banyak faktor yang melemahkannya, surut pulalah peran islam dalam kiprahnya di kancah dunia.

 

 

Di sini tidak hendak memperpanjang mengulas masa jaya islam tempo lalu –yang mungkin bikin sesak saja — sekadar cerminan untuk kita yang hidup berabad kemudian, yang di kata orang adalah zaman modern.zaman yang menjadikan pemodal sebagai rajanya. Raja yang tidak bermahkota. Namun kekuasaannya ada meliputi dunia manapun dan kehendak bagaimanapun.

Mengulang menceritakan dan mendendangkan lagu kejayaan tempoe doeloe meski juga bisa mendorong kita untuk berkembang namun juga menjadi pemanis buatan, guna menghilangkan rasa pahit yang cekat di tenggorokan. Manisnya, jika di gunakan pada taraf tidak sewajarnya  akan membahayakan tubuh. Pun pula dengan kondisi seperti sekarang ini. Jika terlalu lama terlena, atau bahkan bersikap apatis dengan keadaan, kita lihat di kemudian hari efek negatifnya.

Bangsa kita sebagai bangsa yang Bhineka sudah berpuluh tahun hidup dengan menentukan nasibnya sendiri –katanya-,  setelah ber-abad lamanya berada dalam cengkeraman penjajah.

Hidup dengan pilihannya sendiri tidaklah seharusnya  berarti hidup yang tak perlu campur tangan orang lain ia akan bisa hidup, akan tetapi hendaknya berarti sebuah pola laku hidup yang ‘asing’  bisa masuk untuk hanya sebagai mitra keberhasilannya belaka, bukan menjadikannya layaknya nafas sebuah kehidupan, sehingga akan ‘mati’ siapa yang tak menghirupnya.

Sudah sejak berabad lamanya   kita – orang islam- dalam kelezatan menikmati hasil keringat karya  orang di luar golongannya, seakan produk pemikiran mereka menjadi candu bagi kita yang ternyata dengan suka rela sebagai konsumen tetapnya.

Menyangkut hal ini, ahli bidang tafsir ternama kepunyaan indonesia, Dr. M Quraish shihab, dalam kumpulan makalah dan ceramahnya yang telah di bukukan, Membumikan Al-Quran,  mencoba meniti jalur perjalanan kiprah umat islam dan pengaruhnya yang mulai mengendor, di sertai dengan praduga kemerosotannya.

Beliau mengawali dengan mengatakan bahwa umat ini mengalami kemunduran dan tantangan terberatnya pada kisaran awal  abad 19, di mana pada tahun ini terjadi kemunduran ekstrim pada umat islam dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, militer, budaya dan banyak hal lain terutama keilmuan. Yang mana penyebab kuatnya di mulai dari konflik hebat yang di alami oleh Gereja dan Ilmuan.

Gereja yang selalu memaksakan apapun  pendapatnya kepada seluruh umatnya, dengan berpijak pada penafsiran al-kitab yang di buat-buat sendiri. Sehingga kewenangan mutlaknya akan menjatuhkan hukuman kepada siapapun yang menentang atau tidak sepaham dengan gereja.

Tak pelak,para Ilmuan yang selalu melakukan riset dan mengutamakan pembenaran nalar-ilmiah menjadi korban sikap keras pihak gereja, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer dan lainnya. Yang ternyata temuan Ilmuan-Ilmuan tadi banyak yang berseberangan dengan pendapat yang di demonstrasikan oleh gereja.

Seperti permasalahan badai, petir ataupun halilintar, pihak gereja berpendapat kalau bahwa semua itu merupakan ulah iblis, mereka meyakini, dengan memukul loncengmerupakan senjata ampuh untuk menangkan iblis yang berulah ini. Kemudian pada tahun 1752 muncul Benjamin Franklin yang menemukan teori bahwa petir itu hanyalah percikan listrik di angkasa.

Hal demikian ini agaknya sedikit banyak juga masuk dan mempengaruhi pikiran cendekiawan muslim. Mereka bertindak sangat hati-hati dalam riset. Kalau ternyata mencapai sebuah titik temu, segera akan di carikan ayatnya untuk pendukung,

 

Betapapun, tidak menyadari atau lupa untuk menyadari, hingga sekarang kita masih berada dalam kondisi ini. Bagaimana tidak, setiap harinya kita masih bergantungan ciptaan luar, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak peduli itu kebutuhan primer lebih-lebih sekunder. Di sana-sini rasa lemah diri selalu membayangi umat ini. Perasaan inferior masih begitu kuatnya untuk di cabut. Penyakit semacam ini akan berdampak begitu buruk jika terlalu lama kita idap. Kematian pikiran akan semakin kuat membayangi. Kendali dan peran asing terhadap kita terlampau untuk di cegah.

Di lain sisi ada semangat luar biasa dari golongan tertentu untuk mencoba mengajak umat untuk terus maju dan mencoba mengimbangi dominasi barat. Ada juga yang dengan rela melepas-totalkan kemampuannya dan dengan santainya menikmati posisinya  tanpa ada tekanan batin. Atau sikap yang sedang-sedang saja, mengajak untuk tetap menerima apupun yang masuk dari luar selagi baik  dan tetap memegang kendali sosial-budayanya.

Kita hendaknya jangan menjadikan hadis yang menerangkan bahwa “sebaik-baiknya kurun adalah kurunku dan para sahabatku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” sebagai alasan semua ini. Karena sangat tidak bijak serlkali. Yang berarti juga mengesampingkan ayat “ allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum sehingga mereka merubahnya sendiri”.

Meskipun toh tembok pemisah dalam hal prestasi dan capaian antara kita dan mereka begitu tebal, tapi bukan halangan untuk mendobraknya. Kita hanya mungkin masih menunggu formula jitu untuk membalik  semua kondisi ini.

Jawaban sementara yang kiranya pas, seperti yang di sitir Qurais Shihab, untuk menanggapi temuan-temuan baru Barat, ketika di cari ada keterangan ayat yang mendukungnya adalah : “Al-quran sudah sejak lama mengemukakan, sejak sekian abad yang lalu.”

Sekalipun ini akan membuat penemunya tersenyum getir, dan berakata “ kenapa tidak dari dulu tuan-tuan katakan kepada kami, sehingga kami tidak perlu capek-capek meneliti bertahun-tahun?”

 

di telaah ulang dari berbagai referensi

Memperkuat Kredibilitas Perppu Ormas

Sekilas Tentang Perppu Ormas

Atas dasar pertimbangan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan mendesak untuk segera dilakukan perubahan karena belum mengatur secara komprehensif mengenai keormasan yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Karena terjadi kekosongan hukum dalam hal penerapan sanksi yang efektif, Presiden Joko Widodo pada 10 Juli 2017 telah menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Dalam UU 17/2013 tentang Ormas, definisi bertentangan dengan Pancasila sangat terbatas. Sebab, UU tersebut hanya menjelaskan yang bertentangan dengan Pancasila adalah paham ateis, komunis, dan beberapa paham yang berasal dari timur saja. Dalam Perppu ini (Perppu Nomor 2 Tahun 2017) ditegaskan, bahwa Organisasi Kemasyarakatan adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Menurut Perppu ini, Ormas dilarang melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras atau golongan; melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia; melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; dan melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ormas juga dilarang melakukan kegiatan sparatis yang mengancam kedaulatan NKRI, dan/atau menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila. “Ormas yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dijatuhi sanksi administratif dan/atau sanksi pidana,” bunyi Pasal 60 Perppu ini.

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud, menurut Perppu ini, terdiri atas: a. Peringatan tertulis; b. Penghentian kegiatan; dan/atau c. Pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum.

Itulah sekilas Perppu tentang ormas yang sudah disahkan oleh Presiden, semenjak PERPPU itu disahkan sudah ada salah satu organisasi yang dibubarkan oleh pemerintah dengan alasan organisasi tersebut tidak mau menerima pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara.

Perppu Ormas Menurut Kacamata Islam

Meneropong tindakan pemerintah untuk mengeluarkan Perppu Ormas dalam pandangan syariat merupakan hal urgen di saat salah satu kelompok Islam menentangnya dengan keras.  Karena bagaimana pun, pemahaman atas kajian konsep syariat secara komprehensif melalui analisa hukum yang referentif akan menghasilkan sebuah sikap yang sesuai dengan  apa yang telah digariskan atas kesepakatan para ulama yang sudah berijtihad terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dengan pemahaman itu pula, tindakan pemerintah untuk mengeluarkan  Perppu Ormas dapat dibenarkan dalam syariat dengan melihat dan memperhatikan beberapa pertimbangan:[1]

Pertama, penetapan Perppu tersebut sebagai langkah antisipasi dari pemerintah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah terbukti menjadi jalan terbaik untuk menjaga keberlangsungan kehidupan agama, bangsa dan negara Republik Indonesia.

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:

وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah seharusnya seimbang dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, penyebaran paham radikalisme di Indonesia berlangsung sangat masif dan terstruktur. Solusi berupa doktrin-doktrin yang merefleksikan sikap eksklusif tentu tidak akan meyakinkan dan memuaskan. Akan tetapi, propaganda untuk membentengi masyarakat dari gerakan kelompok Islam tersebut masih membutuhkan upaya yang tegas dan kerjasama seluruh elemen bangsa, terutaman dari pemerintah melalui peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, berbagai usaha yang dilakukan untuk membendung paham tersebut mendapat dukungan yuridis secara jelas dalam ranah hukum yang berlaku di Indonesia.

Ketiga, pemerintah menilai Perppu ini dibuat semata untuk melindungi ideologi kebangsaan, bukan untuk memberi batas kebebasan berdemokrasi. Asumsi sebagian kelompok mengatakan bahwa munculnya PERPPU ini merupakan pertanda dimulainya rezim pemerintahan yang otoriter dan anti Islam, bahkan ada yang mengatakan untuk mempersempit ruang gerak dan mendiskriminasi aktivis umat Islam dan Ulama.

Sekilas, asumsi serampangan sebagian kelompok tersebut tampak memiliki sisi kebenaran namun dalam ruang lingkup yang sangat sempit. Namun dalam realita sebenarnya, Perppu ini dibuat demi menjaga ideologi kebangsaan yang tidak bertentangan dengan spirit keislaman di Indonesia. Serta demi menjaga persatuan dan kesatuan yang telah dibangun seluruh elemen bangsa sebagaimana yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Sungguh sangat naif apabila dikatakan ini merupakan sebuah diskriminasi aktivis dan Ulama.

Senada dengan upaya pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut, Syaikh ‘Abdur Rahman bin Muhammad ‘Awad Al-Jaziri mengatakan di dalam kitabnya, Al-Fiqhu ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah:

وَيَجِبُ عَلَى كُلِّ ‏رَئِيْسٍ قَادِرٍ سَوَاءٌ كَانَ حَاكِماً أَوْ غَيْرَهُ أَنْ يَرْفَعَ الضَّرَرَ عَنْ مَرْؤُوْسِيْهِ، فَلَا يُؤَذِّيْهِمْ هُوَ وَلَا يُسْمَحُ لِأَحَدٍ أَنْ يُؤَذِّيَهُمْ وَمِمَّا لَا شَكَّ فِيْهِ اَنَّ تَرْكَ ‏النَّاسِ بِدُوْنِ قَانُوْنٍ يَرْفَعُ عَنْهُمُ الْأَذَى وَالضَّرَرَ يُخَالِفُ هَذَا الْحَدِيْثَ فَكُلُّ حُكْمٍ صَالِحٍ فِيْهِ مَنْفَعَةٌ وَرَفْعُ ضَرَرٍ يُقِرُّهُ الشَّرْعُ وَيَرْتَضِيْهِ

Wajib bagi setiap Pemimpin yang mampu, baik seorang hakim atau yang lainnya, untuk menghilangkan ancaman bahaya dari rakyatnya. Maka tidak diperbolehkan baginya untuk menyakiti mereka, serta tidak ada kata toleransi bagi siapapun untuk menyakiti mereka. Dan menjadi sebuah hal yang tidak diragukan lagi, menelantarkan rakyat tanpa adanya undang-undang yang melindungi mereka dari ancaman bahaya adalah sebuah tindakan yang menyalahi hadis[3]. Dan setiap hukum yang berdampak atas kemanfaatan dan menghilangkan ancaman bahaya merupakan sesuatu yang menjadi ketetapan dan legalitas dari syariat,”.[4]

Walhasil, langkah nyata pemerintah dalam menjaga ideologi negara dengan upaya mengeluarkan Perppu Ormas dapat dibenarkan secara syariat dengan memperhatikan beberapa pertimbangan yang sudah disebutkan di atas. Selanjutnya, bagi seluruh elemen bangsa diwajibkan mematuhi segala keputusan yang telah diambil oleh pemerintah, terlebih lagi keputusan yang telah mendapat legalitas dari kacamata syariat demi eksistansi agama, bangsa, dan negara. Sekian, waAllahu a’lam[]

______________

[1] Sesuai dengan hasil keputusan Komisi B Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesanten (FMPP) se-Jawa Madura yang diselenggarakan pada 18-19 Oktober 2017 M/ 28-29 Muharram 1439 H di Pondok Pesantren Salaf Sulaiman, Trenggalek, Jawa Timur.

[2] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain.

[3] Hadis yang dimaksud adalah لَا ضَرَرَ، وَلَا ضِرَارَ.

[4] Al-Fiqhu ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, vol. V/358.