Category Archives: Artikel

Ayo Bertawassul

Tidak dapat dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan kelompok-kelompok ekstremis Islam yang selalu menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan selalu mengedepankan fanatisme golongan (Ta’asshub Al-Ijtima’iyah), sehingga sikap tersebut membuat umat Islam gerah.

Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar sering kali keluar dari kelompok tersebut. Dengan mudah, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khurafi, penyembah kubur, gerakan sempalan sesat, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Anehnya,  ketika pendapat mereka dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya yang sangat lemah, mereka tidak rela bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya.

Sebetulnya, hal tersebut dapat diselesaikan apabila mereka mau menelaah ulang kitab-kitab para pendahulunya, contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang menjadi tokoh sentral mereka. dengan demikian mereka akan sadar bahwa Ibnu Taimiyah sendiri tidak terlalu ekstrem seperti pengikutnya sekarang. Dalam masalah Tawassul misalnya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa praktek Tawassul merupakan diantara sunnah (amal kebiasaan) para Rasul dan orang-orang Salafus Shalihin. Kaum Wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, khurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.

Sekilas Tentang Tawasul

Secara bahasa Tawassul artinya mengambil perantara. Adapun Tawassul secara istilah diartikan sebagai salah satu cara berdoa kepada Allah Swt dan salah satu dari beberapa pintu tawajuh kepada Allah Swt dengan menggunakan Wasilah (perantara), adapun yang dituju dari Tawassul ini adalah Allah semata.

Ada beberapa dalil tentang diperbolehkannya Tawassul baik dalil Al-Qur’an, As-Sunnah maupun Hadis Atsar. Diantaranya adalah firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan carilah perantara untuk sampai kepada-Nya. Dan berjihadlah kamu di jalan-Nya, mudah-mudahan kamu dapat keuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 35).

Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki memberikan komentar, bahwa yang dimaksud dengan kata Al-Wasilah dalam ayat ini adalah setiap sesuatu yang dijadikan pendekatan atau perantara kepada Allah Swt. Lebih lanjut ia menjelaskan: “Seperti yang kamu ketahui bahwa lafadz al-wasilah pada ayat di atas bersifat umum yang memungkinkan artinya berwasilah dengan dzat-dzat yang utama seperti para Nabi, orang-orang soleh, baik dalam masa hidup mereka maupun sudah mati. Bisa juga memungkinkan diartikan berwasilah menggunakan amal-amal saleh dengan menjalankan amal-amal saleh itu dan dijadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt,”.

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman:

وْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Jika mereka telah berbuat aniaya pada dirinya (berbuat dosa), lalu mereka datang kepadamu (wahai Muhammad) dan meminta ampunan kepada Allah Swt, kemudian Rasul memohonkan ampunan untuk mereka, tentulah Allah Swt Yang Maha Menerima Taubat dan yang Maha Penyayang akan menerima tobat mereka,” (QS. An-Nisa’: 64).

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadis tentang legalitas Tawassul yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab ketika melakukan salat Istisqa’, yaitu:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ اِذَاقَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعِبَاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ الَّلَهُمَّ اِنَا كُنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَاِناَّ نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِعَمَّ نَبِيِّناَ فاَسْقِناَ قاَلَ فَيُسْقَوْنَ (رواه البخارى،٩٥٤)

“Dari Anas bin Malik Ra, beliu berkata: Apabila terjadi kemarau, sahabat Umar bin a-Khathab bertawasul dengan sahabat Abbas bin Abdul Muththalib, kemudian berdoa “Ya Alloh kami pernah berdoa dan bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, kemudian engkau menurunkan hujan. Dan sekarang kami bertawasul dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan.” Sahabat Anas berkata: Maka turunlah hujan kepada kami.” (HR. al- Bukhori:954).[1]

Mengomentari hal ini, Syaikh Abdul Hayyi al-Amrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad menyatakan bahwa pada hakikatnya Tawassul yang dilakukan Sayyidina umar Ra dengan Sayyidina Abas Ra merupakan tawasul dengan Nabi Saw (pada waktu itu telah wafat), disebabkan posisi sahabat Abbas Ra sebagai paman Nabi Saw.[2]

Dalam kitab Iqtidha’ As-Shirath al–Mustaqim, Ibnu Taimiyyah (700-774 H) pun pernah berkata: “Tak ada perbedaan antara orang hidup dan mati seperti yang telah diasumsikan sebagian orang. Sebuah hadis sohih menegaskan: Telah diperintahkan kepada orang – orang yang memiliki hajat di masa khalifah Ustman untuk bertawassul kepada Nabi setelah beliau wafat. Kemudian, mereka bertawassul kepada Rasul, dan hajat mereka pun terkabul. Demikian diriwayatkan oleh at–Thabrani,”.[3]

Sesungguhnya Tawassul dan minta syafa’at (pertolongan) kepada Nabi atau dengan keagungan dan kebesarannya, termasuk diantara sunnah (amal kebiasaan) para Rasul dan orang-orang Salafus Shalihin. Adapun kaitannya dengan ayat-ayat Al–Qur’an yang sering digunakan untuk mengharamkan Tawassul seperti ayat–ayat di bawah ini:

اَلَا للهِ الدَّيْنِ الْخَالِصُ وَالَّدِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُونِهِ اَوْلِياَءَ مَانَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوناَ اِلىَ اللهِ زُلْفَى (الزمر:٢٣ 

 

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang – orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat–dekatnya.” (QS. Al–Zumr: 23).

Setelah memperhatikan ayat tersebut dengan cermat, Syaikh Abdul Hayyi al–‘Amrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad menyatakan, “Perkataan para penyembah berhala “Kami menyembah mereka (berhala – berhala itu) supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat–dekatnya. Ayat ini menegaskan bahwa mereka menyembah berhala untuk tujuan tersebut. Sedangkan orang yang bertawassul dengan para Rasul atau orang alim itu tidak menyembah mereka. Tetapi karena dia tau bahwa orang yang ditawassuli tersebut memiliki keutamaan di hadapan Allah Swt dengan kedudukannya. Dan karena kelebihannya itulah kemudian ada orang yang melakukan tawassul dengan mereka.”[4]

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki juga memberikan komentarnya tentang ayat–ayat yang digunakan dalil untuk mengharamkan tawassul. Bahwa ayat–ayat tersebut ditujukan bagi orang–orang musyrik yang menyembah berhala, tentunya berbeda dengan orang yang bertawassul yang hanya menjadikan sesuatu sebagai perantara menuju Allah Swt. Sekian, waAllahu a’lam[]

____________

[1] Al-Tahdzir min al-Ightirar, hlm. 125

[2] Ibid, hlm. 6

[3] Iqtidha’ As-Shirath al–Mustaqim, hlm. 266, cet. Darul Hadis.

[4] Al-Tahdzir min al-Ightirar, hlm. 113

Reaktualisasi Filosofi Santri

Jika dilihat dari aspek sejarah, doktrin, dan ajarannya, filosofi santri adalah pandangan hidup tentang seluruh sistem kepercayaan dan keyakinan santri. Filosofi itu mengatakan bahwa santri disebut sebagai manusia lahir-batin.  Istilah tersebut muncul karena santri percaya bahwa manusia terdiri dari dua dimensi yang tak terpisahkan, yakni dimensi lahir dan dimensi batin. Dimensi lahir manusia mencakup aspek-aspek kehidupannya yang bersifat indrawi, kasat mata, dan logis seperti daya intelektual, kemampuan atau skill, keterampilan, etos kerja, prestasi dan lain-lain. Sedangkan dimensi batin mencakup hal-hal yang tidak kasat mata, seperti moralitas dan spiritualitas.

Filosofi seperti inilah yang kemudian memunculkan khittah sistem pendidikan pesantren yang memadukan dua dimensi manusia tersebut. Yaitu sistem Tarbiyah yang berorientasi pada aspek batin dalam ranah moral spiritual, serta sistem Ta’limiyah yang berorientasi pada aspek lahir dalam ranah skill intelektual. Khittah sistem pendidikan pesantren yang mengintegrasikan aspek lahir dan aspek batin tentu sangat ideal untuk dijadikan pilihan di saat lembaga-lembaga pendidikan formal hanya terfokuskan terhadap aspek lahir belaka.

Sayangnya, sejauh ini belum banyak pesantren yang benar-benar serius merealisasikan idealisme sistem ini, sehingga ketimpangan masih dapat disaksikan dimana-mana. Betapa banyak orang pandai namun jahat dan membodohi umat, orang kaya namun justru memeras rakyat jelata, dan orang berkuasa namun justru menganiaya. Begitu juga sebaliknya, betapa banyak orang yang berbaik hati, shalih, bertaqwa, namun tidak kaya, tidak cerdas, tidak berkuasa, sehingga tidak mampu berbuat apa-apa yang berarti bagi peradaban. Karena pada kenyataannya, peradaban yang diharapkan seluruh elemen masyarakat membutuhkan manusia-manusia dengan integritas keilmuan lahir-batin; saintis yang agamis, politikus yang religius, pemikir yang ahli dzikir, filsuf yang tasawuf, pakar ekonomi yang islami, ilmuwan yang beriman, budayawan yang budiman, hartawan yang dermawan dan lain sebagainya.

Upaya-upaya untuk mencetak generasi yang mampu mendobrak peradaban tersebut mampu diwujudkan melalui pendidikan santri di pesantren. Karena dalam sistem pendidikan lahir-batin di pesantren, seorang santri dididik sebaik mungkin dengan menjaga keseimbangan antara IQ (Intelligence Quentient/kecerdasan intelektual), EQ (Emotional Quotient/kecerdasan emosional), serta SQ (Spiritual Quotient/kecerdasan spiritual). Sebab, pendidikan santri tidak pernah menekankan pada salah satu dari tiga aspek kecerdasan tersebut, karena memang kecerdasan yang utuh adalah keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ.

Pernyataan seperti ini bukan berarti tanpa alasan, hal tersebut dapat dibuktikan dengan sajian kurikulum pesantren yang mempertahankan khazanah klasik guna memperkaya kecerdasan intelektual santri. Ditambah lagi dukungan lingkungan multikultural yang berpengaruh pada kepekaan santri terhadap keadaan lingkungan yang memacu kecerdasan emosionalnya. Serta bimbingan rohani oleh para masyayikh, kyai, dan ustad yang mengolah ranah kecerdasan spiritual kaum sarungan tersebut.

Begitu juga filosofi yang mengatakan bahwa santri bisa disebut sebagai manusia sejarah. Karena pada kenyataanya, santri sangat percaya bahwa salah satu sejarah penciptaan manusia adalah bertujuan untuk menjalankan misi ketuhanan di bumi, sebagaimana penjelasan yang telah dikemukakan oleh Imam Al-Baghowi (wafat 510 H) dalam kitab Ma’alim At-Tanzil (lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Al-Baghowi). Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنِّيْ جَاعِلُ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. (QS. Al-Baqarah: 30)

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia diharuskan membangun kemakmuran peradaban bumi dan tidak berbuat kerusakan dalam sejarahnya. Kepercayaan seperti ini memunculkan sebuah filosofi yang mengharuskan santri memiliki pandangan hidup. Pemahaman atas pandangan hidup tersebut seakan menuntut dan mengarahkan seorang santri harus memiliki kredibilitas kelimuan, kemampuan, dan kekuatan untuk menguasai serta memimpin sejarah peradaban di zamannya. Sebab, tanpa kapasitas modal yang memadai, tugas kekhalifahan sangat sulit atau bahkan sangat tidak mungkin untuk terealisasi.

Filosofi seperti ini tidak mengizinkan sosok santri menjadi manusia yang memiliki pola pikir stagnan, tertinggal, terasing dari zamannya, dan terlebih lagi apabila tidak memiliki kontribusi maupun prestasi yang berarti untuk masa depan. Namun filosofi ini justru mendorong santri untuk memiliki jiwa optimistis untuk konsisten mewarisi dan memperkaya pemahaman khazanah klasik serta mampu bersaing di masa mendatang. Manusia dengan tipikal seperti itu yang akan mampu diharapkan untuk menjadi jembatan transformatif antar zaman (khalifah). Dari sinilah santri bisa disebut manusia sejarah sebagai generasi penerus yang mampu mengemban amanah untuk memegang tongkat estafet peradaban. Sebuah kalam syair mengatakan:

لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَذَا أَبِيْ * وَلَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَا أَنَا ذَا

“Generasi muda bukanlah mereka yang hanya bisa membanggakan leluhurnya (masa lalu), tetapi generasi muda adalah mereka yang sanggup membuktikan prestasi dirinya sendiri (modern)”.

Problematika zaman yang semakin maju perlu disimak dan diamati secara akurat, sebagai bahan untuk menentukan prospek santri di masa depan. Meskipun tetap mempertahankan ruh kesalafannya, aktualisasi dari filosofi-filosofi tersebut juga mendorong seorang santri melahirkan pemikiran dinamis, gerakan strategis dan berkemajuan sesuai tantangan zaman yang dihadapinya. Senada dengan spirit maqalah yang kerap dikumandangkan oleh kalangan santri pesantren, yaitu:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وّالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

“Melestarikan warisan nilai-nilai tradisional yang baik, dan mengadopsi nilai-nilai modernitas yang lebih baik”.

Dari uraian di atas dapat ditarik benang merah, bahwa dengan mengetahui dan menghayati filosofi santri, diharapkan kalangan santri akan memahami khittah dan jati diri mereka yang sesungguhnya. Sehingga akan memunculkan inspirasi-inspirasi untuk merevolusi diri menjadi generasi pesantren yang memiliki rasa percaya diri, inovasi, dan prestasi. Konsep seperti inilah yang menjadi sebuah usaha (ikhtiyar) nyata dari kalangan santri untuk menjawab tantangan derasnya arus globalisasi. waAllahu a’alam bisshawab.[]

Islam Keras atau Islam Tegas?

Tidak dapat dipungkiri, agama Islam adalah agama yang universal. Pranata hukumnya masuk dan meliputi semua aspek kehidupan manusia, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan lain sebagainya. Semua tatanan hidup tersebut tidak pernah terlepas dari sentuhan hukum‐hukum Islam yang mengaturnya. Dan pada gilirannya Islam akan membawa kedamaian dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat.

Implementasi hukum Islam yang kompleks akan memantapkan Islam sebagai satu‐satunya sistem hidup yang berasal dari Allah Swt. Hanya saja yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana umat dapat memahami maksud sebenarnya dari firman Allah Swt dan sabda Rasulullah Saw sebagai tuntunan yang harus diikuti dan diamalkan dalam kehidupan nyata. Sementara perbedaan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan dalam beberapa persoalan hingga saat ini pun tidak dapat dihindari, termasuk diantaranya adalah dalam hal interaksi dan dakwah terhadap non muslim.

Kelompok Islam Radikal yang berhaluan keras memahami bahwa non muslim sebagai musuh utama yang harus diperlakukan secara kasar, keras, dan terus diwaspadai.  Kelompok tersebut mengambil pemahaman dari firman Allah Swt:

مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang‐orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka,” (QS. Al-Fath: 29).

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120).

Dari ayat-ayat tersebut, mereka mengambil pemahaman bahwa sebaik‐baiknya orang kafir tetaplah berstatus musuh. Karena orang kafir selamanya tidak akan rela jika Islam maju dan jaya. Maka dari itu, bersikap dan menentang secara keras terhadap seluruh tindakan non muslim menjadi sebuah keharusan.

Berbeda dengan kelompok Islam Radikal, sebagian besar mayoritas umat Islam justru berkata sebaliknya. Dengan artian, kelompok Islam mayoritas lebih memilih jalan damai dan bersikap santun. Sikap toleransi dan mengedepankan keramahan terhadap non muslim merupakan pilihan yang paling tepat dalam konteks zaman sekarang, terlebih di negara yang mendukung asas demokrasi dan persatuan seperti Indonesia. Beberapa dalil yang menjadi pijakan dasar dalam sikap ini adalah firman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Hubungan dengan Non Muslim

Apabila dilihat dari sisi keterkaitannya secara umum, hubungan antara muslim dan non muslim dapat dibagi ke dalam dua keadaan, yaitu:

Pertama, posisi umat muslim yang saling berhadapan atau bermusuhan dengan non muslim sampai kedua belah pihak dapat mencapai kata sepakat untuk hidup berdampingan secara damai. Kedua, umat muslim yang hidup berdampingan secara damai bersama non muslim hingga terjadi hal‐hal yang dapat merusak hubungan kedua belah pihak menjadi saling berhadapan atau bermusuhan.

Dari berbagai referensi literatur tafsir maupun fiqih klasik, dijelaskan bahwa hubungan antara muslim dan non muslim pada keadaan yang pertama terwujud ketika golongan non muslim tidak mempunyai iktikad untuk bersedia hidup berdampingan secara damai dengan orang Islam. Adapun dalam pola hubungan ini, menuntut kepada orang Islam untuk melakukan perlawanan (asyidda’) terhadap mereka.

Bentuk perlawanan itu pun menjadi tuntutan sebatas mencapai kata sepakat untuk hidup berdampingan secara damai dari pihak non muslim. Karena pada dasarnya, sikap perlawanan keras seperti ini bukan menjadi tujuan utama, akan tetapi sebatas solusi terakhir yang menjadi perantara untuk hidup saling berdampingan dalam suasana kedamaian.

Maka dari sinilah muncul konsep Jihad, yang mana dalam Islam jihad dipahami sebagai himayah ad-da’wah (pelindung dakwah). Dengan artian, jihad merupakan usaha untuk mempertahankan atau membela diri manakala kebebasan dakwah (agama) dirintangi menggunakan kekuatan bersenjata. Dengan kata lain, watak jihad dalam Islam bukanlah bersifat ofensif yang berupa penyerangan untuk melakukan ekspansi dan kekuasaan semata. Di Dalam Al-Qur’an dikatakan:

أَلاَ تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّواْ بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُم بَدَؤُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤُمِنِينَ

“Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memerangimu,” (QS. At-Taubah: 13).

Adapun hubungan umat muslim dan non muslim dalam keadaan pola yang kedua sudah sangat jelas, yaitu umat muslim harus turut menghormati, melindungi, dan menjaga golongan non muslim. Namun dengan catatan, umat muslim tetap mengingkari dalam hai hati atas kekufuran yang ada pada diri non muslim, sehingga hal itu tidak akan menimbulkan rasa keagungan dan penghormatan berlebih dalam diri umat muslim terhadap kekufuran mereka. Mencermati potret kehidupan non muslim di Indonesia yang bersedia untuk hidup rukun, damai, dan berdampingan dengan orang islam, maka pola hubungan di antara keduanya dapat dipastikan bersesuaian dengan pola hubungan yang kedua ini.

Adapun pengaplikasian ayat 120 dalam surah Al‐Baqarah sebenarnya tidak menafikan sikap sebagaimana di atas, sepanjang mereka tidak melakukan tindakan‐tindakan nyata yang dapat dinilai merusak kehormatan dan menentang secara terang‐terangan terhadap ajaran Islam. Pandangan seperti ini sekaligus menegaskan bahwa asas dasar dari hubungan antara muslim dan non muslim bukanlah hubungan konflik atau perang (hirabah), melainkan hubungan saling memberikan keselamatan (musalamah).

Pada akhirnya, kedua ayat yang menjadi landasan pemahaman golongan Islam Radikal tidak kontradiktif dengan dalil-dalil yang menjadi pijakan sikap Islam yang rahamatan lil ‘alamin. Hanya saja, konteks pengaplikasian beberapa ayat tersevbut memiliki cakupan dan wilayah hukum yang berbeda. Kapan Islam harus bersikap tegas, kapan Islam harus bertindak keras. Sekian, waAllahu a’lam bisshawab[]

Referensi:

Takmilatul Majmu’, Juz 24, hal. 159
Al Mausu’ah al Fiqhiyyah, Juz, 14 hal. 223
Anwarul Buruq Fi Anwaril Furuq, Juz 3 hal. 14
TafsirAyatil Ahkam, Juz 1 hal. 178
Fathul Bari li Ibni Hajar, Juz 6 hal. 302
Rouhul Ma’ani, Juz 2 hal. 116
Ihya Ulumiddin, Juz 3 hal. 55
Tafsir Bahrul Madid, hal. 227
Tafsir Ar‐Rozi, Juz 16 hal. 172
Mafatihul Ghoib, Juz 9 hal. 407
At Tahrir wa Tanwir, Juz 26 hal. 171

 

 

An-Nur: 35, Komentar dan Temuan Modern

Hidayah Allah Swt akan kebenaran dan  keimanan akan senantisa Ia berikan kepada semua makhlukNya, tak terkecuali. dan terus-menerus selalu bisa didapatkan. diumpamakan dengan sinar matahari, sinarnya selalu menyinari  dan menghangatkan semua makhluk, dan  bisa mengambil manfaatnya. kalaupun ada yang tidak menemukan pancarannya, itu salahnya sendiri, mungkin ia berada didalam ruangan atau dibawah bayangan. Menutup diri dari sinar mentari. Dari hidayahNya.

hidayahNyapun tak terbatas, tak bertepi, selalu tercurah untuk makhlukNya. sebatas mana dan sekuat apa seseorang menemukan dan mencarinya, maka akan ia temui cahayaNya. Seperti ilmu, yang sifatnya sangat luas, tak berpantai dan berdasar. Akan tetapi Kadar keimanan dan hidayah seseorang berbeda-beda. Ada yang hidayah seseorang itu laksana lilin, mudah padam ketika tertempa angin. Atau lebih ringan lagi akan kehilangannya, seperti debu.

Dalam kalamNya, disurat An-Nur:35 Ia memberikan  perumpamaan-perumpamaan yang menarik untuk dikaji dan direnungi  :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاء وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35)

Ayat ini mengandung isyarat yang begitu mendalam dari berbagai sudut pandang kehidupan manusia, ruhani maupun jasmani. sehingga untuk memahaminya tidak hanya butuh pada penalaran ekstra, rasio atau intelek. tetapi juga butuh pengalaman ilahiyyah yang sifatnya tidak dapat dijangkau akal (umum), makrifat. Disebabkan kedalaman maknanya, meski sepintas tidaklah sesulit itu.

Dilain sisi, ahli sufi (salikin) orang-orang yang telah mampu berkelana jauh dalam luasnya samudra makrifat, membatasi diri dari apa yang telah mereka ketahui tentang hakikat sifat ketuhanan, untuk tidak sampai bocor pada orang umum, dengan pedoman bahwa  “memasyhurkan Rahasia ketuhanan hukumnya kufur “.  karena keajaiban-keajaiban yang mereka temui, dari pengembaraan spiritualnya, jika terdengar orang umum akan berdampak buruk dalam keimanannya.

Tak heran jika beliau Nabi Saw bersabda :

“Sesungguhnya sebahagian dari ilmu itu seperti keadaan benda yang ditutup. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang berilmu tentang Allah. Apabila mereka berbicara tentang-Nya tidak ada seseorangpun yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang tertipu akan Allah Azza wa Jalla”.

Menanggapi ayat  ini, Imam Ghozali dalam Raasail-nya  mencoba memberikan penjabaran tentang hal-hal Rububiyyah yang sifatnya memancing seseorang yang telah mencapai derajat tertentu, agar bisa naik dilevel berikutnya.

Dengan menyelaraskannya pada hadis : “ sesungguhnya Allah memiliki tujuh puluh ribu hijab (tabir) berupa cahaya dan kegelapan. Seandainya Dia membukanya, niscaya cahaya wajahNya akan membakar siapa saja yang melihatNya.”

Oleh dari pada itu banyak cendekiawan muslim, setelah mencoba mendalami ayat cahaya ini dengan pendekatan-pendekatan, akhirnya bertemu pada penyandaran bahwa arti sebenarnya diserahkan kepada Allah.

Seperti yang diterangkan oleh Imam Ghozali, bahwa Ungkapan cahaya yang disematkan pada makhluk  adalah majaz belaka (metafor), hakikatnya semua cahaya adalah Allah Swt itu sendiri. Dalam ayat ini Allah adalah pemberi cahaya langit dan bumi, selanjutnya Ia memisalkan cayahNya yang agung dan terang benderang itu seperti lampu yang diletakkan dalam sebuah celah dinding yang tak tembus, tak mudah padam.

Imam Ghozali menafsiri ayat ini dengan lebih mengajak berselam pada siratan maknanya. Ungkapan  lubang yang tak tembus  disini, beliau ilustrasikan sebagai panca indra, dengan bertumpuan, bahwa apa-apa yang dihasilkan oleh panca indra  itu sifatnya menipu. Sebagai contoh betuk tongkat yang ada didalam air itu menjadi bengkok dilihat. Atau gemintang yang ada dilangit, akan terlihat kecil. Yang mana Bentuk keduanya asalnya lurus dan besar. Nah tembok (panca indra) ini diluruskan dan dibimbing untuk mencapai kebenaran persepsinya, oleh akal. Yang oleh beliau (akal ini) merupan tafsiran lain dari al-misbah (lampu). Sedangkan akal, untuk bisa maksimal dalam berpikir dan benar-benar penuh mengerahkan kemampuannya, membutuhkan konsentrasi, konsentrasi itulah yang disebut Zujajah (kaca yang bersih) oleh hujjatul islam ini, yakni semprong atau corong lampu. Karena dengan adanya corong lampu yang bersih dan mengkilat ini, selain api akan stabil dalam nyalanya, sinar yang didapat juga akan menjadi lebih terang. Lampu ini menyala dengan menggunakan bahan bakar berupa minyak Zaitun. Minyak yang paling ampuh guna mengobati bermacam penyakit. Minyak yang didoakan oleh para Nabi ini, masih menurut beliau, diumpamakan wahyu, karena sebagaimapun seseorang dapat berpikir dan menemukan banyak hal  dengan macam-macam ilmu yang ia miliki, tetap saja masih ada banyak hal tentang keilmuan yang belum terekam dan luput dari memori otaknya, maka dari itu dibutuhkan wahyu untuk mengontrol gerak akal, membatasinya dan  menjernihkan hasil pemikirannya. Dengan wahyu juga, kabar-kabar ghaib didapat, perkara yang tidak bisa dicapai oleh akal.

Disini hanya menyantumkan pendapat Imam Ghozali (dengan sudut pandang beliau yang sufi-filsuf sendiri pastinya), dan tidak keseluruhan di tampilkan. masih banyak pendapat-pendapat lain.

Kabar ilmu modern

Selain perumpamaan yang diberikan Allah Swt dalam Ayat ini, Ia juga menyelipkan sebuah simbol, tanda ketuhanan,  Untuk ummatNya agar mereka merenung dan memikirkan kebesaranNya, bisa menemukanNya dimanapun juga. Dengan demikian, iman akan menjadi lebih kukuh, atau jikalau belum ada iman, dengan menemukan pesan-pesan ketuhanan yang bertebaran dibanyak hal, iman bisa diharapkan kehadirannya.

Sehingga mengenai kajian tematik ataupun Non-tematik pada ayat ini pun terdapat banyak corak yang menghiasi khazanah keilmuan islam, entah itu bersumber dari kalangan Ulama, ahli agama, maupun para pakar bidang ilmu alam atau astrologi.

Minyak Zaitun yang diberkahi, bukan lagi ragu soal khasiatnya yang melimpah. Minyak ini sudah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Diungkapkan dengan pohon yang di berkahi, karena minyak zaitun telah didoakan oleh kurang lebih 70 Nabi, termasuk Nabi kita. Tercatat,  beliau dua kali mendoakan keberkahan bagi pohon zaitun. bahkan merupankan pohon pertama yang tumbuh setelah banjir bandang Nabi Nuh As. Diceritakan , ketika laknat Allah diturunkan, yang berupa air bah, bahtera Nuh terombang-ambing di lautan lepas selama berpuluh-puluh hari, lalu ada seekor burung merpati yang mendekati kapal beliau, dengan membawa ranting pohon zaitun, yang menandakan bahwa daratan telah dekat. Dan sampai sekarang sering kita melihat simbolisasi merpati yang membawa ranting pohon zaitun ini, menjadi simbol perdamaian.

Pohon zaitun ini berasal dari suku Oleaceae, merupakan tumbuhan perdu yang jenis-jenisnya tersebar di kawasan sekitar Laut Tengah. Pohon yang berumur panjang sampai ratusan tahun. Perawakannya kecil dengan tinggi sampai 8 meter, varietas yang berupa semak hingga varietas yang menjalar. Jenisnya ada sekitar 500-600, yang dapat ditemukan keseluruh penjuru dunia kecuali daerah dingin. Pohon ini akan tumbuh dengan baik dikawasan Mediterania dan Asia Barat. Pohon ini dipercaya berasal dari Phoenicia, bagian utara jazirah Arab  sekitar 2000 tahun sebelum Masehi.

Menurut  materi pelajaran yang kita dapat dikelas-kelas, diterangkan bahwa, seluruh benda di alam ini merupakan susunan dari jutaan partikel-partikel tak kasat mata, yang disebut dengan  atom, satuan terkecil dalam unsur kimia, dan tidak dapat di bagi  lebih kecil. Atom-atom ini masih memiliki komponen lagi, berupa elektron atau subatom dan inti atom, inti atom inipun masih tersusun dari proton yang bersifat positi dan neutron yang bersifat negatif, yang keduanya disebut subatomik. Atom-atom ini akan mengikatkan diri pada sesamanya dengan cara kimiawi, yang disebut dengan molekul.

Dalam ayat ini Allah berfirman “…yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. .. “  cahaya dari lentera yang berbahan bakar minyak, minyak yang hampir-hampir memancarkan sinar walaupun belum tersentuh api. Bagai mana bisa terjadi ?

Studi mengenai cahaya dimulai dengan munculanya era optika klasik, yang mempelajari tentang besaran optik, kemudian berlanjut pada era optika modern yang dimulai oleh kimiawan ternama seperti Albert Einstein, Max Planck dan lainnya.

Penelitian tentang gelombang listrik yang ada pada tubuh manusia, yang ditemukan akhir- akhir ini ternyata terus berlanjut pada penelitian lainnya, yang menghasilkan penemuan bahwa ternyata tidak hanya tubuh manusia saja yang menghasilakan gelombang listrik, akan tetapi semua benda yang ada disekitar kita juga memancarkan gelombang listrik. Jadi semua benda dialam ini bergetar, seakan-akan bertashbih kepadaNya !!! dengan cara mereka sendiri, kita tidak mengetahuinya karena dihijab oleh Allah. Seperti keterangan diatas bahwa semua benda terdiri dari atom-atom, yang mana atom-atom tersebut akan selalu bergetar.

Dr.Royal R. Rife menemukan bahwa makanan itu memiliki gelombang elektro-magnetik yang bisa diukur. Ia juga menemukan bahwa minyak memiliki lebih banyak gelombang, gelombang yang dimunculkan manusia hanya pada kisaran 60 osilasi (getaran) per detik. sedangkan dedaunan yang telah mengering memiliki gelombang sekitar 20 osilasi. Dan yang mengejutkan lagi bahwa minyak memiliki gelombang yang sangat tinggi, mencapai 320 osilasi ! hampir menyamai jumlah osilasi pada gelombang cahaya yang kita lihat, kisaran 380-759 nm (Nanometer,satuan senilai sepermilyar meter), medan-medan tadi, tinggi dan rendahnya tidak semua bisa kita lihat dan rasakan, Allah menabirnya, hanya bisa kita ketahui dengan alat pengukur khusus. mungkin hanya medan seperti suara dan cahaya yang bisa kita rasakan.

Karenanya Allah mengungkapkan fakta ini dengan kalimat “…yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. .. “ mengistimewakan minyak dengan pancaran cahaya tak kasat mata yang hampir menyamai cahaya yang kita lihat, minyak yang cahayanya sudah menerangi sebelum terkena api, dan akan semakin berpijar dan berlipat ketika terkena api, makanya ungkapan kalimat selanjutnya adalah نُّورٌ عَلَى نُورٍ cahaya di atas cahaya.

Mari kita renungi uraian tadi, betapa agung petunjuk Allah, semua sumber keilmuan yang ada didunia ini bersumber dari Al-quran Kami mohon kepadaNya semoga Ia memberikan kita pentunjuk cahayaNya yang tunggal  guna menerangi kehidupan kita, bisa menyibak ribuan tabirNya. terhindar dari kegelapan-kegelapan yang menyesatkan. kegelapan yang dihuni kaum Mughtariin. amiin

 

 

Disarikan dari berbagai sumber

Kejahatan Saracen (Materi Bahtsul Masail FMPP XXXI Komisi C)

Beberapa waktu lalu, pihak Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri telah membongkar dan menangkap sindikat kelompok pelaku kejahatan siber yaitu Saracen. Kelompok Saracen, penyedia jasa konten kebencian memiliki keahlian untuk menyerang salah satu pihak tertentu dengan menyebarkan isu SARA atau adu domba secara sistematis melalui media teknologi informasi dan komunikasi.

Kegiatan kelompok Saracen yang menyebarkan konten kebencian merupakan tindakan penggunaan kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk hal yang bersifat negatif, yang membawa dampak berupa potensi munculnya konflik, saling menghasut, saling mencela, dan lain-lain.

Dalam realitanya, kelompok Saracen menggunakan lebih dari 2000 akun media untuk menyebarkan konten kebencian. Rilis resmi dari kepolisian menyebutkan bahwa akun yang tergabung dalam jaringan kelompok Saracen berjumlah lebih dari 800.000 akun. Dari pengakuan para tersangka menuturkan bahwa aksi yang mereka lakukan murni karena kepentingan ekonomi.

Aksi yang dilakukan oleh sindikat Saracen biasanya dengan memakai 3 pola sebagai berikut: Informasi yang disebarkan memanfaatkan kekisruhan opini publik hingga mudah mendapatkan perhatian masyarakat. Memakai referensi dari orang yang dikenal publik, kendati kerap kali informasi itu dipelintir, dipotong dan difabrikasi. Penyebar  bergerak dalam sindikasi dengan menyebarluaskan informasi melalui berbagai media sosial.

Keresahan ini akan memunculkan sebuah pertanyaan, bagaimanakah hukum memproduksi dan menyebarkan hal tersebut sebagimana yang dilakukan kelompok Saracen dalam kaca mata syariat?.

Problematika pun muncul setelah terungkapnya para pelaku Saracen. Sebagian dari mereka begitu menyesali aksi yang selama ini dilakukan. Namun mereka merasa kebingungan bagaimana cara menebus dosa–dosa atas aksinya tersebut. Apakah cukup dengan penyesalan, ucapan istighfar dan menghapus konten kebencian yang ia sebarkan, atau harus meminta maaf pada semua pihak yang telah menjadi korbannya dan semua pihak yang tersinggung atas aksinya?.

Beberapa pertanyaan dalam pembahasan kejahatan Saracen tersebut akan membuat jalannya diskusi ilmiah Bahtsul Masail FMPP ke-31 di komisi C semakin semarak. Dalam komisi C ini, selain mengangkat isu terkait kejahatan Saracen, juga akan membahas kasus pencekalan dai dengan latar belakang perbedaan akidah. Hukum membantu ibadah orang tua yang sakit dan problematika perempuan istihadhoh akan menjadi kajian bidang ibadah dalam forum ini.

Selain itu, rutinitas tahunan yang diselenggarakan di di Pondok Pesantren Salaf Sulaiman, Sukorejo, Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur selama dua hari, yakni 28-29 Muharram 1439 H / 18-19 oktober 2017 juga akan membahas beberapa isu seputar transaksi dan interkasi sosial. Meliputi hukum Melepas tanggung jawab barang yang tidak sesuai spesifikasi, hukum menjawab ucapan salam yang berulang-ulang, serta tinjauan syariat dalam kasus perburuan terhadap belalang.

[Untuk Deskripsi soal lengkap Bahtsul Masail FMPP XXXI Komisi C bisa didownload pada link di bawah ini]

-Download Materi Komisi C-