Category Archives: Artikel

Fiqih Kurban

Definisi Singkat

Kurban atau dalam kitab klasik dibahasakan sebagai udhiyyah (الأضحية) didefinisikan sebagai hewan ternak sapi, unta, atau kambing yang disembelih dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan pelaksanaannya dilakukan sejak hari raya idul fitri hingga hari tasyriq terakhir.

Hukum

Hukum melaksanakan kurban adalah sunah ‘ain bagi seorang diri, dan sunnah kifayah bagi satu keluarga. Hukumnya tidak akan berubah menjadi wajib kecuali bila sudah dinadzari. [1]

Tendensi

Dalil tentang kurban sebelum adanya ijma’ ulama diantaranya adalah, alquran surat Al-Hajj ayat 36,

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya”

surat al-Kautsar ayat 02:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan sembelihlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Menurut pendapat yang masyhur, kata “salat” dalam ayat diatas ditafsiri sebagai salat hari raya, dan yang dimaksud dengan “menyembelih” dalam ayat tersebut adalah menyembelih hewan kurban.

Dalam hadis pula diriwayatkan, bahwasanya nabi pernah menyembelih dua ekor kambing gibas.

(أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبر، ووضع رجله على صفاحهما (رواه مسلم

“Nabi Muhammad SAW pernah menyembelih hewan kurban dengan dua kambing gibas putih dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri. Beliau membaca basmalah dan takbir. Dan beliau meletakkan kaki beliau pada pipi kedua hewan tadi.” (HR. Muslim)

Imam Turmudzi juga pernah meriwayatkan hadis,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِرَاقِةُ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Dari ‘Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada amal keturunan Nabi Adam AS pada hari raya kurban yang lebih mendatangkan ridha Allah SWT. dari pada mengalirkan darah (menyembelih kurba).  Hewan-hewan kurban akan datang kelak pada hari kiamat dengan tanduk-tanduk mereka, rambut-rambut mereka dan kuku-kuku mereka. Darah (mereka) akan jatuh (diridhai) Allah SWT sebelum jatuh ke tanah. Maka lakukanlah kurban dengan kerelaan hati.” (HR. Turmudzi dn Al-Hakim)

Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaanya dimulai pada hari raya idul adha, persisnya setelah matahari terbit dan telah lewat waktu yang cukup untuk melakukan salat dua rakaat dan dua khutbah[2]. Ketika kita menyembelih hewan kurban setelah lewatnya waktu tersebut, baik salat idul adha telah didirikan atau belum[3], maka sudah dikatakan mencukupi[4]. Namun jika sebelum waktu tersebut hewan kurban sudah buru-buru disembelih, maka kurbannya dihukumi tidak sah. Adapun waktu terakhir pelaksanaan kurban adalah setelah matahari tenggelam (masuk waktu maghrib) pada tanggal tiga belas Dzulhijjah (hari tasyriq terakhir).[5] Diantara kedua waktu tersebut kita diperbolehkan menyembelih hewan kurban baik siang dan malam. Hanya saja malam hari hukumnya dimakruhkan.[6]

Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Lewat Waktu?

Jika hewan kurbannya adalah untuk kurban sunnah, lebih baik jangan disembelih dan menunggu hingga tiba waktu kurban tahun berikutnya. Akan tetapi jika hewan kurban itu adalah nadzar , maka harus tetap disembelih. Hanya saja status kurbannya menjadi qodho.[7]

Hewan yang Bisa Dikurbankan

Binatang yang bisa dikurbankan adalah binatang ternak na’am (Bahasa Arab untuk unta, kambing, dan sapi)[8]. Hal ini didasarkan pada dalil nash alquran,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَام  –  الحج 28

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak (kambing, sapi, dan unta).” (QS. Al-Hajj:28)

Adapun standar usia untuk hewan yang bisa disembelih, untuk unta minimal harus berusia lima tahun memasuki tahun ke enam, sapi minimal berusia dua tahun sedang memasuki tahun ke tiga, dan kambing minimal berusia satu tahun atau ketika giginya sudah ada yang tanggal untuk kambing  domba (ma’zi).[9] Disyaratkan tanggalnya gigi kambing ini memunculkan batas usia minimal, yaitu kira-kira satu tahun.

Selain persyaratan diatas, hewan kurban juga diharuskan tidak memiliki cacat yang bisa merusak daging. Maka tidak sah berkurban dengan binatang yang pincang, buta, sakit parah hingga merusak daging, terlampau kurus, gila, berkudis, dan terpotong sebagian telinganya[10].

Sedangkan nantinya jika yang kita kurbankan adalah sapi atau unta, bisa digunakan untuk tujuh orang. Sementara kambing hanya satu orang saja.[11]

 

 

[1] Matan Al-Yaqut Al-Nafis dan Syarahnya hal 824, Dârul Minhâj.

Al-Majmû’ Syarah Muhadzzab Juz 8 hal 383. Maktabah Syamilah.

[2] Diantara hadis yang menjelaskan tentang hal ini adalah, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari,

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ الْمِنْهَالِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي زُبَيْدٌ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ هَذَا فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Dari Hajjaj bin Minhâl, dari Syu’bah. Ia berkata, dari Zubaid, ia berkata; ‘Aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkhutbah. Beliau bersabda, ‘yang pertama kali kita lakukan pada hari raya ini adalah melaksanakan shalat hari raya, kemudian kembali pulang dan menyembelih binatang kurban. Barangsiapa melakukan hal ini, berarti dia telah bertindak sesuai dengan sunnahku, dan barang siapa menyembelih binatang kurban sebelum salat hari raya, maka sesembelihannya itu hanyalah berupa daging yang ia berikan kepada keluarganya. Tak ada hubungannya dengan ibadah kurban sedikitpun.” (HR. Bukhari)

[3] Al-Bayân fî Madzhabil Imam Al-Syafi’i. Juz 4 Hal 435. Maktabah Syamilah.

[4] Matan Al-Muhadzzab, Juz 1. Hal 435 Maktabah Syamilah

[5] Al-Majmû’ Syarah Al-Muhadzzab. Juz 8. Hal 388. Maktabah Syamilah.

[6] Ibid.

[7] Ibid. Hal 391.

[8] Al-Bayân. Juz 4. Hal 439. Maktabah Syamilah.

[9] Ibid.

: «كنا نضحي مع رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بالجذع من الضأن» .

[10] ‘Umdatus Sâlik. Hal 146. Maktabah Syamilah.

[11] Matan dan Syarah Al-Yaqut Al-Nafis hal 828. Dârul Minhâj.

Peran Kurban dalam Dimensi Kehidupan

Dulu,  pada masa Jahiliyyah, orang-orang kafir Mekah memiliki banyak kebiasaan atau adat istiadat yang sangat aneh. Salah satunya adalah sebuah ritual menyembelih binatang tertentu untuk dijadikan atas nama ‘kurban’ dan diserahkan sebagai bentuk persembahan kepada berhala-berhala yang ada di sekeliling Ka’bah. Selesai menyembelih binatang yang dijadikan kurban, kemudian mereka memotong-motong daging dan melumurkan darahnya pada dinding-dinding Ka’bah dan di sekelilingnya. Dengan ritual tersebut, orang-orang Jahiliyyah mengharapkan keselamatan dan terhindar dari segala bentuk marabahaya.

Namun, setelah datangnya ajaran Islam serta disyariatkannya Udhiyyah (kurban) pada tahun kedua Hijriyyah, ritual kemusryrikan orang-orang kafir Mekah yang merupakan adat-istiadat Jahiliyyah tersebut diarahkan menjadi ibadah yang sangat bermanfaat dan lebih baik. Karena pada mulanya, ritula kurban orang-orang Jahiliyyah tersebut hanya membuang-buang harta dan mengotori masjidil haram. Sehingga kedatangan syariat Islam benar-benar telah merubah adat istiadat tersebut menjadi ibadah yang bernilai pahala sebagai bentuk pendekatan terhadap Allah Swt.

Udhiyyah (Kurban) dalam syariat Islam diartikan sebagai suatu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dengan menyembelih hewan tertentu pada yaumun nahr dan ayyamit tasyriq (tanggal 10,11,12,13 dzulhijjah). Salah satu dalil legalitas ibadah kurban adalah firman Allah Swt:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah kamu (sholat idul adha) dan sembelihlah (kurban)” (QS: Al-Kautsar 02).

Dan sabda Nabi Muhammad Saw:

اُمِرْتُ بِالنَّحْرِوَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

Aku diperintahkan untuk menyembelih Kurban, dan hal itu sunnah bagi kalian”.[1]

Dari berbagai dalil legalitas hukum ibadah Kurban yang ada. Tersirat berbagai hikmah dan faidah yang terkandung dibalik pensyariatan ibadah Kurban tersebut. Setidaknya, ada beberapa dimensi atau tinjauan penting dalam ibadah yang menjadi syi’ar besar agama Islam ini. Diantaranya adalah:

Dimensi Spiritual

Seseorang yang melaksanakan ibadah Kurban berarti telah melaksanakan anjuran yang telah tercantum di dalam Alqur’an dan Hadis. Karena sejatinya, setiap umat islam yang melaksanakan ibadah Kurban hanya memiliki tujuan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt serta mengharapkan ridho dan ampunanNya. Serta tercakup sebuah awal pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah kepada Allah Swt.[2]

Sehingga tidak heran betapa besarnya pahala dan balasan yang telah Allah Swt janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah Kurban tersebut. Salah satunya dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya, “Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih Kurban) yang lebih disenangi oleh Allah Swt kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang Kurban). Sesungguhnya hewan Kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi” (HR. At-Turmudzi).

Dimensi Sosial

Ibadah Kurban tergolong ibadah yang Ghoiru Mahdhoh, dengan artian bahwa ibadah tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah Swt, ibadah Kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin serta dapat membantu kebutuhan kaum yang lemah (dhuafa’).[3]

Dengan melihat dialektika tersebut, tidak terasa aneh lagi bahwa dalam Fiqih mengenai pembahasan tentang pendistribusian daging Kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (konsumsi) saja. Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya, karna pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).[4]

Dimensi Historis

Sudah diketahui bahwa ibadah Kurban disyariatkan untuk mengingatkan kepada umat Islam akan peristiwa agung nabi Ibrohim As yang mendapat perintah dari Allah Swt lewat sebuah mimpi untuk menyembelih putranya yaitu nabi Ismail As sebagai tebusan dari nadzar yang pernah beliau ucapkan.[5] Dan dari peristiwa ini pula umat islam dapat mengambil hikmah dan uswah (suri tauladan) bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Karena kalau bukan didasari atas keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan nabi Ibrohim As rela memenuhi perintah untuk menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya. Tugas pengabdian seperti itulah yang diharapkan dapat dimiliki umat islam di tengah kehidupan yang serba individualitas dan materialistis di era globalisasi seperti saat ini.

Dan yang terpenting adalah konsep demokrasi dalam pengambilan keputusan telah ditunjukkan oleh nabi Ibrohim As.  Sebelum menjalankan perintah, beliau terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada nabi Ismail As untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Meskipun sebenarnya nabi Ibrahim As mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, namun beliau memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Walhasil, ibadah Kurban sebagai salah satu syiar agama islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah Swt seraya mengikuti jejak historis nabi Ibrohim As dan nabi Ismail As yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain. Dengan mengetahui beberapa aspek dimensi ini pula diharapkan umat islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah yang satu ini dan mampu menerapkan dan mengamalkan esensial berbagai dimensi yang ada dalam kehidupan nyata. [] Sekian, Wallahu A’lam.

_______________________

[1] Al-Masalik, juz 5 hal 146.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 4 hal 251, cet. Al-Haromain.

[3] Mukhtashor Tafsir Ayatil Ahkam, hal 187, cet. MHM Lirboyo.

[4] Fathul Wahhab, juz 2 hal 189, cet. Al-Hidayah.

[5] Dzurrotun Nashihin, hal 136.

Haji dalam Tradisi Bangsa-Bangsa Terdahulu

Selain agama Islam, tradisi haji juga dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu, jauh sebelum agama Islam lahir dan berkembang. Apa saja bangsa itu? Bagaimana tradisi itu berjalan?

Mesir

Dahulu kala, masyarakat bangsa ini di dalam tradisi keagamaannya memiliki sejumlah berhala sebagai sesembahan mereka. Setiap berhala memiliki rumah sendiri. Rumah, atau Haikal dalam istilah Arab, disediakan oleh masyarakat Mesir demi menyimpannya dan menghargainya sebagai sesembahan yang sakral. Di Haikal inilah masyarakat Mesir melaksanakan hajinya, untuk melakukan persembahan sesuai dengan adat mereka kepada berhala terkait. Berhala itu, diantaranya bernama Izir, Fattah, yang berada di kota Minfis (Menphis), dan Amun (Amon) yang berada di daerah Thibah, dan lain sebagainya.

Hari-hari pelaksanaan haji mereka ini dinilai sebagai hari paling mulia, hari Kebajikan dan Keberuntungan. Di hari-hari itu, mereka memperbanyak doa dan ibadah, serta amal-amal kebaikan lainnya. Bahkan, karena begitu sakralnya hari itu di mata mereka, setiap bayi yang lahir di hari itu oleh mereka disebut sebagai bayi yang paling beruntung. Bukan itu saja. Mereka juga menyangka bahwa bayi yang lahir itu adalah titisan manusia mulia, yang di suatu hari nanti akan menjadi pembesar bangsa Mesir.

Yunani

Adat yang serupa juga dilakukan oleh bangsa Yunani. Adat ini berlaku sejak 50 kurun zaman sebelum nabi Isa, hingga hanya dua kurun sebelum nabi Isa terutus. Seperti halnya bangsa Mesir, mereka juga menunaikan ibadah haji di suatu Haikal, atau tempat khusus bagi peribadatan mereka. tempat-tempat sakral yang menjadi pusat kegiatan haji mereka itu masih bisa kita saksikan sekarang. Diantaranya adalah Minerva yang ada di Athena, juga Jupiter di gunung Olympus.

Hindia

Pengalaman religius bangsa India juga memiliki ritual haji, sama seperti dua bangsa pendahulunya. Haikal mereka terletak di berbagai daerah. Yang terkenal diantaranya Haikal Wara, di sebuah dataran di Hederabad. Mereka juga menunaikan haji ke Haikal Budha di dataran Manna. Semua Haikal ini mereka sucikan, layaknya berhala sesembahan mereka.

 

Disarikan dari kitab Hikmah at-Tasyri; wa Falsafatuh, bab al-Hajj ‘inda al-Umam fi az-Zaman al-Ghabir (Haji dalam Tradisi Umat-Umat Terdahulu).

 

Kajian Tafsir; Tiada Paksaan dalam Beragama

Allah Swt berfirman dalam Alqur’an:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan di dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang (teguh) kepada tali yang kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).

Meskipun ayat tersebut memiliki kaitan yang erat dengan asbabun nuzul(latar belakang penurunan ayat), namun tidak menafikan kontekstualisasi dari esensial ayat itu sendiri. Hal ini senada dengan konsep kaidah Fiqih bahwa yang menjadi pertimbangan dalam hukum adalah keumuman suatu kata (lafadz), bukan karena sebab khusus.[1]

Sekilas, pemahaman atas ayat tersebut menjelaskan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan memaksakan seseorang untuk beriman dan masuk agama Islam. Mengapa bisa demikian, bukankah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menyerukan dan mensyiarkan agama Islam?.

Sebenarnya, dalam  penggalan ayat tersebut Allah Swt secara tegas telah menyampaikan bagaimana sikap Islam terhadap konsep keimanan. Di awal ayat sudah dikatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Dalam aspek literatur kebahasaan, kata paksaan (Ikrah) memiliki pengertian memperlakukan orang lain dengan sebuah pekerjaan yang tidak disukai. Sebuah pemaksaan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris kecuali dalam bentuk pekerjaan anggota lahiriyyah yang hanya dapat ditangkap oleh panca indra. Sementara keimanan adalah sebuah urusan keyakinan yang wilayahnya ada di dalam hati.  Sehingga dari aspek kebahasaan ini saja sudah menunjukkan bahwa tidak mungkin adanya keimanan yang dihasilkan dari sebuah paksaan.[2]

Pada lanjutan ayat ini juga dipaparkan “Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. Artinya, berbagai argumentasi dan bukti-bukti atas kebenaran agama Islam sudah sangat jelas bahwa keimanan adalah sebuah petunjuk yang mengarahkan kepada keselamatan abadi. Begitu juga sebaliknya, sudah sangat jelas bahwa kekufuran merupakan sebuah kesesatan yang mengantarkan kepada kesengsaraan abadi.

Ketika hal tersebut sudah sangat jelas, maka bagi orang yang memiliki akal sehat dan sempurna secara otomatis akan memilih terhadap jalan yang akan mengantarkannya kepada keselamatan abadi, yaitu dengan jalan keimanan. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi adanya sebuah paksaan dalam konsep keimanan.[3]

Selanjutnya, walaupun tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, bukan berarti pilihan seseorang untuk tidak memeluk agama Islam tidak berkonsekuensi apa-apa. Karena orang yang telah memeluk agama Islam berarti telah memegang teguh pedoman yang kuat. Begitu juga sebaliknya orang yang kufur yang enggan beriman maka dia akan tetap di lembah kesesatan.

Sebagian ahli Tafsir lain menafsiri redaksi “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)” sebagai bentuk larangan, sehingga sejalan dengan arti “Janganlah kalian memaksa dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Karena sebuah keimanan tidak bisa dibangun di atas sebuah paksaan, maka paksaan tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Selain itu, para ulama juga melarang sebuah paksaan dalam keimanan dikarenakan bertendensi bahwa di dunia merupakan wahana ujian atas keimanan setiap manusia. Sehingga adanya paksaan akan meniadakan konsep ujian tersebut, sesuai dengan firman allah Swt:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah; Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) maka hendaklah ia beriman. Dan barang siapa yang ingin (kufur) biarlah dia kafir” (QS. Al-Kahfi: 29).[4]

Dalam ayat laian, Allah swt berfirman:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?,” (QS. Yunus: 99).

Ayat tersebut menjadi sebuah bukti yang tidak dapat terbantahkan dalam ranah keimanan. Disebutkan bahwa keimanan adalah hak mutlak yang menjadi wilayah kehendak Allah Swt. Dan ayat ini juga diklaim menjadi dalil argumentasi  paling kuat dalam mendukung sebuah konsep bahwa tidak ada paksaan dalam urusan keimanan.[5] Dan dari Surat Al-baqarah 256 itu pula akan memunculkan konsep politik Islam untuk mengembangkan sayap dakwah Islam yang ramah, bukan Islam yang mudah marah.[6]

Dalam aktualisasi ayat dalam konteks kekinian, sudah saatnya umat Islam menunjukkan identitas kebenarannya dalam berbagai aspek kehidupan. Semuanya dilakukan dengan tetap berpedoman pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, tanpa memaksakan kehendak atas keimanan yang sudah menjadi wilayah ketuhanan. Karena sesungguhnya melakukan intervensi terhadap sebuah perkara yang bukan menjadi wilayahnya tidak akan berguna dan hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.[] sekian, waAllahu a’lam.

____________________________

[1] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 2 hal 134.

[2] Tafsir Al-Mudzohhiri, juz 1 hal 362.

[3] Tafsir Al-Baidhowi, juz 1 hal 154.

[4] Tafsir Ar-Razi, juz 7 hal 13.

[5] Tafsir Az-Zamahsyari, juz 1 hal 303.

[6] Tafsir Al-Manar, juz 3 hal 33.

Indonesia dan Muktamar NU ke-11

Jauh sebelum Indonesia memiliki taring di mata dunia, menemukan konstitusi dan undang-undangnya, jauh sebelum dibentuk panitia kemerdekaan, baik BPUPKI atau PPKI, dan masih jauh sebelum naskah proklamasi dirumuskan, para kiai dan santri telah lebih dulu mencetuskan keputusan bahtsul masail dalam Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin, tentang status bumi nusantara yang saat itu masih dijajah Belanda. Waktu itu, tahun 1936, lahir sebuah keputusan yang menurut Gus Dur, kelak akan menjadi landasan sikap NU terhadap ideologi, politik dan pemerintahan di Indonesia.

NU yang peka akan pergerakan pemikiran dan situasi dituntut ‘tanggung jawab’ ketika itu, mengingat menjelang Muktamar NU sedang hangat-hangatnya pembahasan masalah aspirasi pembentukan negara bangsa. Belum lama jelang muktamar, kaum pemuda menggelar sumpah pemuda. Dan disepakati kalau salah satu butirnya adalah mengusung disegerakan persatuan bangsa Indonesia. Karena saat itu Indonesia belum memiliki bentuk haluan negara, warga nahdhiyyin merasa perlu membahasnya dalam muktamar. Seperti apakah wajah Indonesia seharusnya. Salah satu sub as’ilah diberi judul, “Apakah nama negara kita Indonesia, negara Islam”

Sesungguhnya negara kita Indonesia dinamakan negara Islam karena pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun pernah direbut oleh kaum penjajah kafir (Belanda), tetapi nama Negara Islam masih selamanya, sebagaimana keterangan dari kitab Bughyatul Mustarsyidin: ‘Setiap kawasan di mana orang Muslim mampu menempati pada suatu masa tertentu, maka kawasan itu menjadi daerah Islam, yang ditandai dengan berlakunya hukum Islam pada masanya. Sedangkan pada masa sesudahnya, walaupun kekuasaan Islam terputus oleh penguasaan orang-orang kafir (Belanda) dan melarang mereka untuk memasukinya kembali dan mengusir mereka. Jika dalam keadaan seperti itu, maka dinamakan darul harb hanya merupakan bentuk formalnya, tetapi bukan hukumnya. Dengan demikian, perlu diketahui bahwa kawasan Batavia, bahkan seluruh tanah Jawa (nusantara) adalah darul Islam, karena pernah dikuasai umat Islam, sebelum dikuasai oleh orang-orang kafir Belanda’[1]

Tapi jangan lantas menafsiri secara kasar, bahwa yang dimaksud dengan “negara islam” disini adalah bentuk konstitusi negara yang bersistim daulah islamiyah atau mamlakah. Bukan juga bentuk Indonesia yang harus kembali kepada konsep khilafah. Istilah “darul islam” dalam keputusan Muktamar tersebut diartikan sebagai wilayah yang dihuni umat islam. Beberapa kelompok terkesan salah dalam memahami rumusan muktamar dengan pendapat mereka jika Indonesia seharusnya berbentuk khilafah. Padahal bukan itu yang dimaksud.

Indonesia diistilahkan dengan “darul islam” salah satunya juga karena meskipun Belanda telah menjajah (baca: mengghasab) wilayah nusantara sampai berabad-abad, namun cita rasa kekentalan Islam di bumi nusantara hasil dakwah wali songo, terutama di tanah Jawa gagal total diusik oleh Belanda. Budaya nusantara tetap lestari, masjid-masjid dan langgar jumlahnya semakin banyak, azan tetap berkumandang, bahkan kian hari gerakan kiai dan santri semakin kuat dalam melawan kolonialisme. Tak dapat dipungkiri, akhirnya Belanda harus mengaku kalah melawan perjuangan kaum santri. Penjajah ibarat hanya ‘menumpang’ tempat saja. Sementara garis pemikiran rakyat tidak bisa mereka ubah, tetap sejalan dengan nafas Islam.

Hal ini selaras pula dengan penjelasan sesepuh NU, KH. Ahmad Shiddiq terkait rumusan diatas.

 “Pendapat NU bahwa Indonesia (ketika masih dijajah Belanda) adalah Darul Islam sebagaimana diputuskan dalam Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936. Kata Darul Islam di situ bukanlah sistem politik ketatanegaraan, tetapi sepenuhnya istilah keagamaan (Islam), yang lebih tepat diterjemahkan wilayah Islam. Motif utama dirumuskannya pendirian itu adalah bahwa di wilayah Islam, maka kalau ada jenazah yang identitasnya tidak jelas non-Muslim, maka dia harus diperlakukan sebagai Muslim. Di wilayah Islam, maka semua penduduk wajib memelihara ketertiban masyarakat, mencegah perampokan, dan sebagainya. Namun demikian NU menolak ikut milisi Hindia Belanda, karena menurut Islam membantu penjajah hukumnya haram”[2]

Menurut Gus Dur, salah satu natijah dan kesimpulan atas pertanyaan status tanah Hindia-Belanda yang sedang diperintah oleh para penguasa non-Muslim, adalah ‘haruskah ia dipertahankan dan dibela dari serangan luar? Haruskah ia dijaga sepenuhnya dari segala ancaman?’ Mengingat bumi nusantara adalah darul islam, Jawabannya tentu saja iya. Tak ada alasan untuk tidak mempertahankan bumi nusantara. Sebab dahulu negeri ini juga pernah mengenal adanya kerajaan-kerajaan Islam, penduduknya sebagian besar menganut dan melaksanakan ajaran Islam, dan Islam sendiri tidak sedang dalam keadaan diganggu atau diusik.[3]

Kita hari ini sepenuhnya berterimakasih pada para ulama nusantara dulu. Mereka telah mendahului ide dan gerakan pemuda tentang nasionalisme. Mereka telah mendahului gerakan para pahlawan menentang kolonialisme. Mereka telah mendahului rasa peka masyarakat akan masa depan bangsa yang masih belum punya konstitusi dan undang-undang. Bangsa yang bahkan belum resmi berdiri.

Semestinya kita membayangkan, jika membela bangsa kita yang belum merdeka saja merupakan keharusan, maka semestinya keharusan itu semakin bertambah dengan merdekanya bangsa ini.

Dari NU untuk umat dan bangsa.][

 

 

[1] Keputusan Bahtsul Masail Diniyyah Muktamar ke-11, Diputuskan di Banjarmasin, 19 Juli 1936

[2] Abdul Mun’im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan. Hal 52.

[3] KH. Abdurrahman Wahid, NU dan Pancasila.