Category Archives: Artikel

Qunût Nâzilah, Doa Nabi Kala Turun Musibah

Jika kita biasa mengenal doa qunut hanya dilakukan ketika menjalankan salat subuh, atau sesekali dalam salat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan saja, maka ada satu lagi doa qunut yang mungkin bagi sebagian orang terdengar asing dan memang jarang dilakukan. Qunut tersebut dinamakan sebagai qunut nâzilah. Mengacu pada akar kata nâzilah, yang berarti “turun”, kalimat ini dikonotasikan sebagai turunnya musibah atau bencana. Qunut nâzilah ini disunnahkan untuk dilakukan ketika terjadi bencana, wabah, peperangan, atau bala’ yang menimpa kaum muslimin pada suatu daerah atau bahkan suatu negara.

Nabi pertama kali melakukan qunut ini setelah beliau hijrah ke kota Madinah. Tepatnya pada tahun ke empat kalender hijriyyah. Pada masa itu Islam sedikit demi sedikit sudah mulai mencapai masa kejayaannya. Dan pada masa itu pula Islam mulai mendapatkan pengaruh kuat di sekitar jazirah Arab. Islam telah memiliki nama besar dan punya cukup banyak pengikut. Islam sudah bisa dikatakan mapan di kota Madinah. Dan karena itu jugalah dakwah di luar kota Madinah mulai dirasa perlu. Mengingat banyak sekali masyarakat yang antusias akan kehadiran agama Islam, namun masih butuh akan bimbingan. Banyak para sahabat terpilih yang didelegasikan ke luar Madinah untuk berdakwah dan menyebarkan panji-panji agama islam. Biasanya mereka yang dikirim bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para penghafal Alquran, sahabat-sahabat yang berakhlaq terpuji, senantiasa tak pernah putus menjalankan salat malam, dan juga memiliki keluasan ilmu pengetahuan.

Dimulainya masa pengiriman delegasi dakwah disambut gembira oleh banyak kabilah Arab yang letaknya jauh dari Madinah. Mereka jadi bisa mengenal Islam lebih dekat, sebab diantara mereka akhirnya ada para sahabat Nabi yang bisa dijadikan rujukan.

Namun tentu saja, hal ini tidak selalu berjalan dengan baik. Ada saja orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Mereka menggunakan siasat licik yang akhirnya justru dimanfaatkan untuk membunuh dengan keji para delegasi dakwah Nabi yang tak bersalah ini.

Salah satu tragedi besar yang memulai rangkaian musibah bagi umat muslim adalah apa yang kita kenal hari ini dengan tragedi Bi’r Ma’unah (sumur Ma’unah). Kala itu, pada bulan Shafar tahun ke empat hijriah, seorang pemuka dari kabilah Bani ‘Amir, namanya Abu Barra’ bin Malik bekunjung menemui Nabi Muhammad SAW. Nabi mengajak Abu Barra’ untuk masuk Islam, namun Abu Barra’ belum bersedia. Sebagai gantinya, Abu Barra’ menawarkan kepada Nabi untuk mengirimkan para sahabatnya agar mau berdakwah di daerah Najd. Tentu saja Nabi menyambut tawaran itu dengan suka cita, apalagi Abu Barra’ juga menawarkan jaminan keselamatan kepada sahabat Nabi yang dikirim. Nabi mengirimkan tujuh puluh orang sahabat terpilih. Beliau menunjuk Mudzir bin ‘Amr dari Bani Sa’idah untuk menjadi pemimpin delegasi tersebut. Sahabat-sahabat terpilih tersebut menurut cerita merupakan para penghafal Alquran terbaik pada masanya.

Tiba di Bi’r Ma’unah yang terletak tak jauh dari pemukiman kabilah Bani ‘Amir, rombongan para sahabat justru diserang dan dibunuh oleh beberapa kabilah gabungan yang dipelopori oleh ‘Amir bin Thufail. ‘Amir bin Thufail memang dikenal sebagai musuh Islam. Di kesempatan tersebut, ia berhasil memanfaatkan peluang untuk membunuh para sahabat Nabi yang tengah bermukim sementara.

Meskipun pada akhirnya, menurut cerita, ‘Amir bin Thufail dapat dibunuh oleh Abu Barra’ yang telah menjamin keselamatan para sahabat Nabi yang dikirim, duka akan kehilangan para sahabat terpilih ini tak bisa dengan mudah hilang. Nabi dan kaum muslimin merasa amat berduka dan kehilangan atas terjadinya peristiwa tersebut.

Belum habis kesedihan atas peristiwa Bi’r Ma’unah, pada tahun dan bulan yang sama, terjadi juga peristiwa yang dikenal dengan yaum al-râji’. Saat itu, datanglah beberapa orang dari ‘Adhal dan Qarah. Orang-orang ini meminta kepada Nabi untuk mengirimkan para sahabatnya ke wilayah mereka. Agar nantinya mereka bisa diajari bagaimana cara salat dan membaca Alquran.

Namun ternyata hal ini hanyalah tipu muslihat belaka. Orang-orang ini memiliki niat jahat untuk menangkap para sahabat Nabi yang akan dikirim, untuk nantinya sahabat yang ditangkap akan ditukarkan dengan tawanan dari kabilah mereka yang ditahan suku Quraisy.

Nabi Muhammad SAW menyanggupi permintaan orang-orang Adhal dan Qarah tersebut. Beliau mengirimkan enam orang sahabat pilihan beliau yang ahli membaca Alquran, untuk dikirim berdakwah disana. Mereka adalah Martsad bin Abi Martsad al-Ghanawi, ‘Ashim bin Tsabit, Abdullah bin Thariq, Zaid bin Datsinah, Khubaib bin Ady dan satu orang lagi sahabat Nabi yang tidak diketahui namanya.

Maka benar saja, ketika rombongan tiba di bukit Raji’, mereka sudah ditunggu oleh sekitar tiga ratus pasukan Adhal dan Qarah. Tiga dari enam sahabat gugur sebagai syuhada, sementara tiga lainnya ditangkap untuk diserahkan kepada suku Quraisy. Namun ditengah jalan menuju Mekah, Abdullah bin Thariq yang ditawan akhirnya juga gugur sebagai syuhada karena melakukan perlawanan. Sehingga yang mampu diserahkan orang-orang Adhal dan Qarah hanya dua sahabat Nabi saja. Pada akhirnya, dua sahabat Nabi terakhir ini wafat dieksekusi oleh kaum Quraisy.

Berita ini sampai kepada Nabi dan menjadi berita duka untuk beliau dan seluruh kaum muslimin. Musibah yang demikian bertubi-tubi menimpa kaum muslimin membuat Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya berperan sebagai pembawa risalah dan utusan Allah, tapi juga menjadi pemimpin dan panutan umat muslim bersedih. Masalah demi masalah yang tak kunjung usai menuntut beliau segera bertindak. Umat islam telah kehilangan banyak saudara. Tujuh puluh sahabat terbaik syahid ketika mengemban tugas mulia. Dan ketika masa berkabung belum usai, berita duka lain menyusul secara tiba-tiba.

Sejak itu, selama sebulan penuh Nabi Muhammad SAW selalu menyisipkan qunut nazilah dalam tiap kali salat jamaah yang beliau pimpin. Beliau menambahkan doa ini di setiap rakaat terakhir dengan harapan agar kaum muslimin diberikan kesabaran, dan cobaan yang datang bertubi-tubi tersebut segera hilang. Tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa kaum muslimin, dan tak ada lagi musibah yang mungkin akan membuat luka umat islam semakin dalam. Juga harapan agar orang-orang yang menghianati perjanjian dapat segera dikalahkan. Allah SWT akhirnya memenangkan kaum muslimin dalam perang Dzatu Riqa’. Perang melawan beberapa kabilah gabungan yang menyerang para sahabat Nabi di Bi’r Ma’unah.

Hingga hari ini, kita juga masih disunnahkan untuk membaca doa qunut nâzilah ketika terjadi peristiwa besar dan musibah yang menimpa umat muslim. Dan dengan semakin tidak terkendalinya situasi di Palestina, Pondok Pesantren Lirboyo menginstruksikan kepada seluruh alumni untuk membaca qunut nâzilah, dan mengamalkan Hizib Nashar yang ditujukan untuk kehancuran Zionis Israel.

Teks qunut nâzilah bisa didownload di link ini.

Tekad Meneguhkan Sanad

Salah satu dari sekian banyak keistimewaan yang ada dalam agama Isam adalah terjaganya keorsinilan Alqur’an. Karena hampir sebagian besar dalam pengajaran dan periwayatannya, Alqur’an diajarkan melalui periwayatan yang sambung menyambung sampai Rasulullah SAW. Adapun jaminan atas terjaganya keautentikan tersebut sudah menjadi janji Allah SWT sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alqur’an;

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alqur’an), dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Sangat berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya, contohnya adalah kitab Injil. Dari sejak masa nabi Isa AS, kitab Injil pernah mengalami masa vakum sampai seratus tahun. Dalam jeda waktu yang cukup lama ini sangat besar kemungkinan adanya tindakan distorsi atau tahrif terhadap isi kitab tersebut. Dan hal tersebut ternyata benar adanya, bahkan untuk saat ini segala bentuk perubahan dalam kitab Injil yang ada telah memutuskan status para penganut Injil tidak masuk dalam kategori Ahlul Kitab sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alqur’an.[1] Allah SWT sudah berfirman;

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri . Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui,” (QS. Al-Baqoroh; 146).

Demikian juga dalam periwayatan hadis, di dalam menjaga keauntentikan dan kemurniannya, bagi seseorang yang meriwayatkan hadis (Rawi) diharuskan memenuhi berbagai persyaratan yang cukup ketat. Pembebanan syarat tersebut bukan berarti menghalang-halangi dan mempersulit seseorang dalam meriwayatkan hadis, melainkan hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya pemalsuan maupun distorsi. Sanad periwayatan ini memiliki peranan penting dalam menyaring adanya pemalsuan hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Konteks ini sedikit berbeda dengan sanad hadis yang merupakan langkah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan matan atau redaksi sebuah hadis.

Memahami hal demikian, para ulama sangat berhati-hati dalam menyandarkan sebuah hadis terhadap Rasulullah SAW dan meriwayatkannya, sehingga dalam masalah seperti ini muncul istilah hadis Shahih, hadis Hasan, dan hadis Dhoif dan istilah lainnya dalam pembahasan ilmu Mustholah Hadits. Karena Rasulullah SAW pernah mengatakan dalam hadisnya;

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang mengatakan suatu perkataan yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah tempatnya di neraka,” (HR. Bukhari).

Sebenarnya, diskursus pembahasan mengenai sanad pernah disinggung dalam Alqur’an;

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Katakanlah! Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat dalam penciptaan langit? Bawalah pada-Ku kitab sebelum Alquran ini atau peninggalan (dengan sanad yang shahih) dai pengetahuan (orang-orang terdahulu) jika kamu adalah orang-orang benar,” (QS. Al-Ahqaf: 4).

Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, imam Qurthubi menafsiri kata “au itsarotan min ‘ilmin” dengan suatu pengetahuan yang dikutip dari orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka secara mendengarkan langsung.[2]

Dari sini sudah dapat dipahami, kejelasan sanad dan mata rantai yang sambung menyambung dari generasi ke generasi selanjutnya sangat dibutuhkan dan merupakan upaya yang mendesak demi terjaganya warisan keilmuan dari masa ke masa. Urgensitas sanad dalam menjaga kemurnian agama Islam sudah tidak dapat dipungkiri lagi melihat begitu besar sumbangsih dan peranannya. Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik RA berkata;

اَلْاِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْاِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad/sanad adalah bagian dari agama, dan seandainya tidak ada sanad maka seseoarang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin dia katakan”.[3]

Sanad Keilmuan

Banyak sederetan ulama yang mengeluarkan pendapat dan statementnya mengenai masalah pentingnya sebuah sanad,  diantaranya adalah Imam Malik bin Anas RA. Beliau pernah berkata;

اِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْا دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu (ilmumu),”.[4]

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang untuk mengamalkan atau menjadikan sebuah argumentasi terhadap suatu pendapat atau keterangan yang tercantum dalam beberapa redaksi kitab. Karena menurut mereka, sanad keilmuan atau periwayatan tak ubahnya seperti periwayatan sebuah hadis. Karena tujuan utama dari adanya sanad keilmuan atau periwayatan adalah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan dan penjelasan yang didapat dari generasi sebelumnya dan untuk generasi selanjutnya.

Salah satu akibat fatal apabila mengesampingkan permasalahan sanad ini adalah munculnya berbagai aliran yang menyimpang. Apalagi di zaman modern yang serba instant seperti saat ini, banyak orang belajar dari buku terjemahan atau situs internet yang tidak jelas kemudian dia memahami dengan akal pikirannya sendiri, sehingga praktek tersebut akan memunculkan ketidaksesuaian dengan maksud sebenarnya atau terkadang salah faham terhadap makna yang dikandungnya. Jadilah pemahaman tersebut menyesatkan dirinya bahkan orang lain.

Mengantisipasi hal yang demikian, metode pembelajaran yang memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas sudah menjadi sebuah keharusan. Untuk mendapat sanad dalam ranah mata rantai keilmuan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah mendengarkan secara langsung (As-Sima’i), membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seorang guru (Al-Qira’ah/Talaqqi), izin seorang guru untuk meriwayatkan atau mengajarkan (Al-Ijazah).

Dengan sanad pula, akan memunculkan kesadaran umat Islam akan pentingnya memberikan perhatian lebih terhadap seluruh ajaran Islam dengan menetapkan jalur ketelitian dalam kritik maupun analisis yang belum pernah dikenal sebelumnya. Dengan beegitu, klaim musuh Islam yang selalu membuat keraguan terhadap ajaran Islam dengan sendirinya akan runtuh.

Cukup sudah pengalaman suram yang telah terjadi di masa silam, sudah saatnya umat Islam untuk menyisingkan lengan baju dan benar-benar memperhatikan permasalan sanad yang menjadi ujung tombak dalam menjaga kemurnian syariat tersebut demi terealisasinya pemahaman, pengamalan, dan penyebaran agama Islam secara universal. []. waAllahu A’lam.

____________________________________

[1] Hasyiyah Al-Jamal, juz 4 hal 197, Maktabah Syamilah.

[2] Tafsir Al-Qurthubi, juz 16 hal 182, Maktabah Syamilah.

[3] Diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqadimah Shohih Muslim, juz 1 hal 15.

[4] Syarah Muslim Li An-Nawawi, juz 1 hal 84.

Gemerlap Al-Aqsha, Dulu

Seperti Kaʻbah, Masjid al-Aqsha pertama kali didirikan oleh Nabi Adam as. (6216 SH/+5591 SM). Bapak manusia itu, atas perintah Tuhan, 40 tahun setelah mendirikan Kaʻbah, meletakkan dasar-dasar dan batas-batas Baitul Makdis. Kemudian pada peristiwa Ṭūfān (banjir maha dashsyat pada era Nabi Nuh as. [+3949 SM]) yang menenggelamkan seluruh pemukaan bumi, dasar dan batas kedua masjid itu menjadi kabur. Allah swt. kemudian memperlihatkan dasar dan batas Kaʻbah kepada Nabi Ibrahim as. (2893 SH/2271 SM) sekaligus menitahkannya untuk mendirikan kembali. Dengan dibantu Nabi Ismail as., putranya, Nabi Ibrahim as. pun meletakkan dasar dan batas bangunan kubus itu. Sebelumnya, dasar dan batas Baitul Makdis diletakkan kembali oleh salah seorang putra Nabi Nuh as. yang setelah peristiwa Ṭūfān diperintahnya untuk bermukim di sana, yaitu Sām bin Nuh as.[1]

Kemudian Baitul Makdis terus mengalami pembaruan pembangunan. Dasar dan batas yang semula diletakkan kembali oleh Sām bin Nūh as., bangunannya diperbarui lagi oleh Nabi Ibrahim as. setelah Kaʻbah selesai didirikannya,[2] kemudian diteruskan oleh seorang cucunya yang menjadi kakek moyang Bani Israel, Nabi Yaʻkub as. (+1837 SM). Lalu, bangunan itu diperbarui lagi oleh Nabi Daud as. (+ 1000 SM).[3]

Sebuah riwayat menuturkan, Nabi Daud as. membangun Baitul Makdis sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan karena pertaubatannya telah diterima, dan ia melihat Bani Israel telah hidup dalam kesejahteraan lahir dan batin. Untuk itu, Nabi Daud as. ingin membangunnya secara besar-besaran, bahkan ia menyiapkan ratusan ribu emas, jutaan perak, dan 300.000 ribu dinar sebagai anggaran pembangunan. Bani Israel pun, atas perintah pemimpinnya itu, bergotong royong membangun Baitul Makdis.

Tetapi, sebelum pembangunan betul-betul sempurna, Nabi Daud as. dikunjungi ajalnya, dan ia berwasiat kepada sang putra, Nabi Sulaiman as. (+ 962 SM) agar melanjutkan dan merampungkannya. Maka, di bawah tangan seorang nabi yang menjadi raja terbesar sepanjang sejarah manusia itu, Baitul Makdis menjadi bangunan yang luar biasa indah dan megah. Betapa tidak, untuk proyek pembangunan ini Nabi Sulaiman as. mempekerjakan cerdik pandai dari golongan manusia dan jin, ʻIfrīt dan para pembesar setan; kesemuanya dikoordinasikan menjadi beberapa tim kerja, mulai dari tim arsitek, tim pemahat, sampai tim pencari bahan bangunan dan tim penyelam untuk mencari mutiara-mutiara di kedalaman samudera.

Diperkirakan seluruh pekerja proyek pembangunan ini kurang lebih sebanyak 30.000 pekerja, 10.000 pemotong kayu yang harus menyiapkan 10.000 potong kayu setiap bulan, 70.000 pemahat batu dan 300 mandor–hitungan ini pun tanpa menghitung jumlah pekerja dari bangsa jin dan setan. Walhasil, tiada yang kuasa menandingi kemegahan dan keelokan Baitul Makdis, baik dari segi desain dan ornamen-ornamen yang menghiasinya–seperti pagar dan pilar yang berhias emas, perak, intan yaqut, marjan, mutiara, dan lain sebagainya, maupun dari segi teknik bangunan dan gaya arsitekturnya.

Baitul Makdis menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan ketinggian kubah 18 mil yang di atasnya dihiasi patung kijang emas dengan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya, sampai-sampai para wanita daerah Balqāʼ saat itu (perjalanan dua hari dari Baitul Makdis) bisa memintal dengan diterangi pantulan mutiara tersebut. Dan, di malam hari bangunan itu saja yang memancarkan cahaya terang benderang menyinari kegelapan, bagai purnama.[4]  Bangunan itulah yang kemudian dikenal dengan Haikal Sulaiman (Temple of Solomon).

Setelah pembangunan Baitul Makdis yang maha megah itu rampung, Nabi Sulaiman ỿ lantas mengumpulkan seluruh kaum Bani Israel. Ia mendeklarasikan bahwa bangunan itu telah menjadi milik Allah swt. Adalah Allah swt. yang memberi titah untuk membangunnya. Maka, setiap benda di dalamnya adalah untuk Allah swt. Barang siapa merusak bangunan itu atau benda di dalamnya, ia betul-betul berkhianat kepada Allah swt.[5]

Dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad saw. berkisah,

“Sesungguhnya Sulaiman ketika membangun Baitul Makdis, ia memohon kepada Tuhannya tiga permohonan. Tuhan mengabulkan dua permohonan Sulaiman itu, dan aku berharap Ia juga mengabulkan permohonannya yang ketiga. Sulaiman memohon kepada Tuhan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, lalu Ia pun mengabulkannya; Sulaiman memohon kepada Tuhan sebuah kerajaan besar yang tak dapat ditandingi oleh seorang pun, lalu Ia pun mengabulkannya. Dan, Sulaiman memohon kepada Tuhan agar setiap orang yang keluar dari rumahnya dan tak bertujuan apapun selain melakukan shalat di Baitul Makdis, dosa-dosanya diampuni seperti ketika ia baru dilahirkan.”[6]

Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril as., karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF, Purna Siswa III Aliyah 2017 MHM Lirboyo.

[1]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1, h. 30.

[2]        Ibn ʻĀsyūr, atTaḥrīr…., vol. 14, h. 14.

[3]        Ibid., vol. 1, h. 113-116.

[4]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1. h, 118-120.

[5]        Ibid., h. 122.

[6]        Muhammad bin ʻAlawiy, Wahuwa…, h. 170.

Islam Adalah Kepatuhan

Fiqh secara khusus, dan syari’at islam secara umum adalah derivasi praktikal dari Alquran dan hadis. Kita sebagai pemeluk agama islam tidak serta merta mampu melepaskan kesinambungan itu secara mutlak. Sebab bagaimanapun juga, fiqh membutuhkan Alquran dan hadis sebagai harga mati untuk acuan pertama.

Kitapun dalam bersyari’at butuh akan bimbingan Nabi Muhammad SAW. Dan beliau sebagai pembawa syari’at, mutlak membutuhkan wahyu dari Allah SWT, sang pemilik alam semesta. Artinya, agama bukan produk sembarangan. Tidak bisa asal gagasan dan opini menciptakan adanya kebenaran mutlak di mata umat manusia, pada hakikatnya.

Tapi kemudian, perlu digaris bawahi jika ulamalah yang merumuskan adanya hukum baru. Mereka memakai gagasan ijtihad menggunakan akal. Mengurai benang kusut, dan menghasilkan suatu kodifikasi yang juga dipraktikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semacam solusi bagi permasalahan aktual yang tidak tertulis secara langsung dalam Alquran dan hadis. Sebuah tuntunan hidup, yang muaranya juga tak pernah lepas dari Alquran dan hadis.

Nabi Muhammad SAW dahulu memuji sikap sahabat Mu’adz bin Jabal RA ketika hendak didelegaskan  berdakwah ke negri Yaman. Sahabat Mu’adz RA yang diberi amanat dan mandat menyebarkan islam ini ditanyai oleh Nabi, “bagaimana kamu nanti memberikan keputusan?” Sahabat Mu’adz menjawab. “dengan apa yang tertera dalam kitabullah.” Nabi kembali bertanya,“jika tidak terdapat dalam kitabullah?” Sahabat Mu’adz RA melanjutkan, “dengan apa yang ada dalam sunnah Rasulillah.” Nabi pun kembali bertanya, “Jika tidak terdapat di dalam sunnah?” Sahabat Mu’adz RA memberikan jawaban yang menggembirakan Nabi, “Aku berijtihad dengan pendapatku.”

Beliau memuji sahabat Mu’adz RA yang lebih dahulu merujuk kepada Alquran dan hadis sebelum memutuskan masalah lewat pendapatnya sendiri. Pendapat yang tentunya tak lepas dari garis pemikiran Alquran dan hadis. “Alhamdulillah, yang telah memberikan taufiq kepada utusannya Rasulullah.”[1] Sabda Nabi.

Islam sejatinya adalah kepatuhan secara mutlak. Ada semacam kaidah umum yang dipelopori oleh ulama, bahwa al-dîn mabniyy ‘alâ al-ittibâ’. Agama berpondasi diatas kepatuhan terhadap firman-Nya. Mushannif kitab Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl Al-Sunnah mengemukakan ulama’ ahlussunnah tentang poin penting dalam islam, bahwa, ”adapun ahli sunnah, mereka mengatakan bahwa pondasi dalam agama adalah mengikuti tuntunan Nabi, sedangkan akal hanya mengikuti pondasi ini. Andaikan saja pokok agama adalah akal, maka makhluk tak akan lagi membutuhkan wahyu dan para Nabi, hakikat perintah dan larangan akan sirna, dan siapapun orang akan mengatakan apa yang mereka mau. Dan andaikan saja agama berpondasi pada akal, sudah barang tentu tidak diperbolehkan bagi kaum mukminin untuk menerima sesuatu sebelum mereka memikirkannya.”[2]

Kita bisa meraih konklusi dari beberapa kejadian-kejadian yang terjadi di masa Nabi Muhammad SAW. Sebuah contoh kecil adalah tentang salat dhuha, yang lebih baik jika dikerjakan hanya empat rakaat saja, dari pada bila kita kerjakan dua belas rakaat. Bilangan yang lebih banyak justru keutamaannya tidak lebih besar daripada bilangan yang lebih kecil.  Padahal logikanya, kalau kita melaksanakan salat dengan kuantitas lebih banyak, akan mendapatkan lebih banyak pula fadhilah. Kuncinya, adalah dulu Nabi sdelalu melaksanakan salat dhuha ini sebanyak empat rakaat saja. Memang beliau pernah hingga delapan atau dua belas rakaat, tapi yang sering beliau lakukan adalah empat. Kita juga bisa melihat pendapat ulama yang mengatakan bahwa melempar jumrah sambil mengendarai unta lebih baik dari pada dengan berjalan kaki. Padahal logikanya jika kita berjalan kaki, kita akan lebih merasa kepayahan. Artinya ada esensi lebih dalam taraf ibadah kita. Namun dulu menurut riwayat, Nabi melempar jumrah dengan menunggang unta. Maka hal ini lebih utama dengan alasan ittiba’ menurut segelintir ulama.

Kita bisa menangkap esensi dari perkataan sayyidina ‘Ali KRW.

وعن علي رضي الله عنه ، أنه قال : لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه ، وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهر خفيه .
رواه أبو داود ، وللدارمي معناه

Dari sahabat ‘Ali RA, beliau berkata, “andaikan saja agama hanya bermodalkan akal, niscaya bagian bawah muzah[3] lebih patut untuk dibasuh dari pada bagian atasnya. Sedangkan aku melihat Rasulullah SAW membasuh bagian atas kedua muzah beliau.” (HR. Abu Dawud)

Imam Abu Hanifah sendiri mengatakan, “andaikan saja aku berpendapat (berijtihad) hanya dengan akal, pastinya aku akan mewajibkan mandi sebab kencing (bukan sebab keluarnya mani seperti dalam hadis Nabi), karena air kencing jelas najisnya. Mewajibkan wudhu sebab keluarnya mani sebab air mani hukumnya najisnya masih diperselisihkan. Dan aku akan memberikan harta warisan hanya separuh bagian dari perempuan untuk kaum laki-laki, sebab kaum perempuan lebih lemah[4].”

Tapi agama bukanlah masalah akal atau naluri. Agama adalah masalah kepatuhan. Demikianlah syari’at, ia menguji kita akan sebearapa besar nilai kepatuhan yang kita persembahkan kepada-Nya.  Dan Ia lah yang berhak menilai kita atas seberapa besar himmah dan rasa peduli kita akan firman-Nya. Pada awal-awal islam mulai tumbuh di negri Mekah, Allah “menguji’ keimanan kaum Quraisy akan berita adanya hari akhir, dan kehidupan setelah mati. Sesuatu yang ditentang habis-habisan oleh kaum musyrik. Namun kaum yang beriman tetap percaya.

Fiqh barulah contoh kecil dari agama dan syari’at. Masih banyak lingkup lain yang menggaris bawahi kaidah syari’at mabniyy ‘ala ittiba’. Seperti dunia tasawwuf sebagai contoh lain.

Pelajaran dan pesan penting yang ingin penulis sampaikan adalah dalam masalah agama, kita jangan mudah gegabah dan buru-buru mengambil keputusan dan kesimpulan. Harus lebih dulu memperhatikan betapa luasnya samudara agama islam. Jangan-jangan yang kita ketahui  baru segenggam atau bahkan hanyalah setetes dari lautan tersebut, lalu kita sudah berani berfatwa dan dengan mudahnya berani menyalahkan orang lain. Seolah kebenaran mutlak hanya ada pada hal yang kita tahu saja.

Dahulu para ulama dan sahabat berebut untuk menolak berfatwa. Mereka takut akan jawaban yang dikemukakan. Kelak jika dimintai pertanggung jawaban apa yang akan mereka katakan dihadapan zat Yang Maha Besar? Tapi hari ini, banyak dari kita yang dengan mantap dan percaya diri berebut untuk berfatwa dan menjadi pemimpin, meskipun sejatinya belum begitu bisa dikatakan layak secara kualitas.

Semoga saja kita termasuk yang mengikuti generasi salaf salaih yang doanya tercantum dalam Aquran,

آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ – آل عمران:53

“Kami beriman atas apa yang Engkau turunkan, dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas keesaan Allah).” (QS. Ali Imran: 53)

 

[1] عَنْ مُعَاذٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَعَثَ مُعَاذًا اِلَى اْليَمَنِ فَقَالَ: كَيْفَ تَقْضِى؟ فَقَالَ: اَقْضِى بِمَا فِى كِتَابِ اللهِ. قَالَ. فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللهِ؟ قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَ: اَجْتَهِدُ رَأْيِى. قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَ رَسُوْلَ رَسُوْلِ اللهِ. الترمذى 2: 394

[2] Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl Al-Sunnah. Hal 68

[3] Alas kaki mirip sepatu yang biasa dipakai orang Arab.

[4] Dalam hukum fiqh, laki-laki mendapatkan jatah warisan dua kali lipat jatah perempuan. Dengan rumus al-dzakaru mislu haddzil unsayain.

Paradigma Dakwah Islamiah

Urgensitas dakwah dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam merupakan suatu hal nyata yang tidak dapat terbantahkan. Keberadaan dakwah sebagai ujung tombak eksistensi agama Islam menjadikannya memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Sebagai salah satu aktivitas yang memegang peran penting dalam Islam, tidak diragukan lagi bahwa diskursus mengenai dakwah banyak ditelaah dan dibahas dalam beberapa literatur klasik maupun kontemporer.

Kata dakwah yang berasal dari literatur bahasa Arab memiliki arti mengajak, mengundang, atau mendorong. Dapat juga dakwah diartikan mengajak ke jalan Allah SWT, yakni agama Islam. Dalam kitab Hidayah al-Mursyidin, Syaikh Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai berikut;

حَثُّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لِيَفُوْزُوْا بِسَعَادَةِ الْعَاجِلِ وَالْأَجِلِ

Upaya mendorong manusia untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk, memerintah mengerjakan kebaikan, melarang melakukan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Pada saat awal mula penyebaran Islam di Makkah, Rasulullah SAW menjalankan strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi dan samar. Hal ini dilakukan melihat kondisi umat Islam yang masih minoritas dan kekuatan Islam yang masih lemah pada saat itu. Berbeda lagi ketika sudah hijrah ke Madinah, disana Beliau mulai mengembangkan sayap dakwah secara terang-terangan dan terbuka. Tentu saja hal ini erat kaitannya dengan atmosfer penduduk Madinah yang telah memberikan sinyal positif atas dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW serta keadaan umat Islam yang sudah memiliki kekuatan yang cukup baik apabila ada ancaman yang datang.

Berkaca dari pengalaman Rasulullah SAW dalam mengembangkan dakwahnya, perkembangan dakwah islamiah di masa-masa selanjutnya terus menunjukkan banyak perubahan sesuai keadaan, situasi dan kondisi sasaran yang dihadapinya. Namun pada dasarnya, semua metode dakwah yang ada memiliki pijakan prinsip dan pijakan hukum yang sama, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lah yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalannya, dan Dia jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Secara garis besar, para ulama Ahli Tafsir banyak menafsiri kata “bil hikmati wal mau’idhotil hasanati” dengan arti memberi nasihat secara lembut tanpa menyakiti. Strategi ini ditujukan bagi mereka yang masih belum memiliki pemahaman atas syariat Islam. Lebih lanjut, penafsiran kata “wa jadilhum billati hiya ahsan” ditujukan kepada sasaran dakwah yang termasuk golongan yang membantah dan tidak menerima apa yang disampaikan, sehingga Alqur’an mengajarkan bagaimana etika berdebat secara dingin tanpa terbawa emosi yang justru akan menumbuhkan permusuhan dan pertikaian.[1]

Dari pengertian makna kata sendiri, dakwah telah menunjukkan bagaimana seharusnya hal tersebut dilakukan. Karena pada konteks ini, penerapan kata “mengajak” dalam kehidupan nyata lebih cenderung bagaimana seseorang yang menjadi sasaran tersebut menerima dengan apa yang ditawarkan. Apabila lebih mengutamkan cara yang bersifat memaksa, justru hal itu akan membuat seseorang tersebut enggan untuk menerima apa yang ditawarkan kepadanya. Bukankah dakwah itu mengajak, bukan menyepak? Bukankah dakwah itu merangkul, bukan memukul?.

Interpretasi Dakwah di Nusantara

Pluralitas penduduk pribumi merupakan realita yang perlu disadari. Oleh karena itu, mulai awal kedatangannya, dakwah islamiah di Indonesia yang mengusung jargon Islam rahmatan lil ‘alamin lebih mengedepankan cara hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan yang ada. Atas dasar itu pula dakwah yang dilaksanakan oleh para penyebar Islam di tanah air lebih mudah di terima oleh penduduk pribumi.

Pada masa awal masuknya Islam di nusantara, sebagian besar dari para penyebar agama Islam yang dilakukan oleh para pedagang Islam dari Timur Tengah lebih memilih melakukan pembauran dan asimilasi syariat Islam dengan budaya dan kearifan lokal setempat. Mereka tidak serta merta menolak bahkan menghapus berbagai adat istiadat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Melainkan mengarahkannya pada cara yang lebih baik dan diwarnai dengan berbagai praktek yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Strategi ini terbukti berhasil bahwa model dakwah dengan akulturasi budaya sangat cocok dan diterima pada saat itu.

Seiring berjalannya waktu, transformasi sosial masyarakat yang semakin menunjukkan banyak perkembangan sedikit banyak juga telah mempengaruhi aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para ulama di nusantara. Kemajuan di bidang teknologi, sosial, budaya dan tingkat pendidikan masayarakat menuntut adanya pembaruan inovasi dan solusi agar produk dakwah yang disampaikan akan tetap diterima sesuai kebutuhan yang disesuaikan dengan kondisi yang terus diperbarui. Sehingga bukan suatu hal aneh lagi bila dakwah juga mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan sosial yang berkembangsesuai masanya (up to date).

Kejelian dan kepekaan pelaku dakwah dalam mengahadapi sasaran dan medan dakwah sangat diperlukan. Hal ini ditujukan agar mampu memenuhi kebutuhan sasaran dakwah, terlebih lagi melihat medan dan kondisi masyarakat nusantara di era globalisasi saat ini. Sehingga efektivitas dakwah akan membawa hasil dan dampak yang berupa peningkatan keberagamaan dengan berbagai cakupannya yang sangat luas. Selain pendekatan pemenuhan kebutuhan, bagi pelaku dakwah hendaknya menggunakan pendekatan pastisipatif yang menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam proses perencanaan dakwah.

Menurut KH. MA. Sahal Mahfudz, dakwah islamiah dituntut untuk bisa meletakkan Islam pada porsi pendamai dan pemberi makna terhadap kontradiksi atau konflik dalam kehidupan.[2] Disini dakwah secara konseptual harus merumuskan keseimbangan-keseimbangan yang Implementatif yang menjadikan ajaran Islam sebagai alternatif solusi pengembangan sumber daya manusia seutuhnya. Sehingga, perubahan sosial masayarakat yang lebih baik sebagai bukti empiris dari buah dakwah dapat dirasakan.

Dengan pemahaman totalitas atas situasi dan kondisi sasaran dakwah yang ada, serta pengamalan metode yang sesuai, diharapkan dakwah islamiah akan semakin menunjukkan kemajuan dari masa ke masa.  Dengan demikian, eksistensi ruh keislaman yang selalu menjiwai masyarakat  akan tetap terjaga dan semakin kuat dalam mengiringi tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa,” (QS. An-Nur: 55). []. waAllahu a’lam.

___________________________

[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 3 hal 103.

[2] Nuansa Fiqh Sosial, hal 122, LkiS.