Category Archives: Artikel

Tarbiyyah Nabi

Nabi  Muhammad SAW mengemban tugas berat sebagai nabi dan rasul terakhir. Beliaulah yang akhirnya membawa cahaya islam menyebar ke seantero dunia, menjadi penerang saat gelap gulita. Tidak mudah membawa panji amanat ini. Dan karena itu pulalah, beliau tidak secara “tiba-tiba” dan mendadak langsung menjadi utusan-Nya. Beliau baru diangkat menjadi rasul pada usia yang ke-empat puluh. Usia yang matang dan telah melalui banyak pengalaman.

Sejak kecil beliau telah diasuh oleh kakek beliau, seorang terpandang di kalangan Quraisy, Abdul Muthallib. Abdul Muthallib mengambil alih hak asuh sepeninggal ibu beliau, Aminah. Kakek beliau ini merupakan orang yang sanagat berwibawa dan disegani oleh masyarakat saat itu. Saking memiliki wibawa dan diseganinya, beliau punya tikar khusus di dekat Kakbah. Tempat biasa beliau duduk dan memandang Kakbah, tanpa ada satu orangpun yang berani mendudukinya. Tak seorangpun, selain cucu kesayangan beliau Nabi Muhammad SAW. Abdul Muthalliblah orang yang sedikit banyak juga “membantu” tahap demi tahap perkembangan masa kecil Nabi Muhammad SAW.

Dalam asuhan beliau selama kurang lebih dua tahun, Muhammad kecil benar-benar mendapatkan banyak pengalaman. Menurut cerita, kakek beliau selalu membawa Muhammad kecil ketika memimpin pertemuan dengan para tetua. Cucu kesayangan Abdul Muthallib ini duduk di pangkuan. Sementara Abdul Muthallib berbicara dihadapan banyak orang. Muhammad kecil yang cerdas mengamati hal tersebut, sembari duduk dalam pangkuan kakeknya. Ia jadi tahu, bagaimana caranya kelak bersikap dan menghadapi banyak orang. Bagaimana caranya mengambil keputusan yang dinantikan banyak orang. Dan bagaimana caranya tetap bijaksana ditengah tekanan banyak orang.

Muhammad kecil memang sangat cerdas, pertumbuhannya sangat cepat. Diusia yang ke dua, ia sudah seperti anak usia enam tahun dalam asuhan Halimah di pemukiman Sa’diyah.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga ketika muda pernah menggembalakan kambing. Ini merupakan suatu bentuk tarbiyah dan pendidikan. Bahwa dalam sabdanya, beliau mengatakan

(عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الغَنَمَ»، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ» (صحيح البخاري

Dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali nabi tersebut pernah menggembalakan kambing”.  Maka para sahabatpun bertanya, sedangkan engkau bagaimana? Nabi menjawab, “Ya aku pernah menggembalakan kambing milik penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)

Mengomentari hadis ini, Ibn Batthal, salah seorang komentator Shahih Bukhari mengatakan, “Hal tersebut menjadi pondasi dan mukadimah untuk mengenalkan cara mengatur masyarakat. Menjadi contoh teladanlah keadaan-keadaan para penggembala. Ada keharusan-keharusan bagi para penggembala untuk memilihkan tempat menggembala, menggiring ternak ke tempat yang terbaik, memilihkan kandang dan tempat istirahat, ‘membela’ ternak gembala yang teraniaya, lemah lembut terhadap ternak yang lemah, dan tahu kondisi asli dan cara terbaik merawat mereka. Kalau direnungkan semua itu, itu menjadi cermin untuk bagaimana mengatur hamba dan masyarakat. Ini merupakan hikmah yang sangat dalam.”[1]

Senada dengan uraian Ibn Batthal, Syaikh Badruddin Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari juga menulis, “Apakah hikmah dibalik peristiwa tersebut? Pendahuluan dan pondasi dalam mengenalkan cara mengatur masyarakat. Dan tercapainya ‘latihan’ untuk taklif-taklif yang nantinya akan dibebankan kepada umat beliau.”[2]

Salah satu yang menjadi bukti kebijaksanaan Nabi adalah peristiwa peletakan hajar aswad. Peristiwa bersejarah yang terjadi sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Beliau mampu meredam emosi dan ketegangan diantara para pemuka Quraisy. Beliau juga mampu menenangkan suasana yang panas nyaris timbul pertumpahan darah itu, dengan kebijaksanaan beliau.

Memang, Nabi sejak kecil telah memiliki sikap teladan dan kebijaksanaan. Hal tersebut semakin “matang” hingga tiba di usia beliau ketika menerima wahyu pertama di gua Hira.

 

 

[1] Syarah Ibn Batthal Juz 6 Hal 386 Maktabah Syamilah.

[2] Syarah Umdatul Qari juz 12 Hal 80.

Revitalisasi Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqoddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1] Kronologi tersebut sebenarnya sudah ditegaskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi diantara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Menurut catatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam satu malam saja.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq, sejenis makhluk hidup yang ukuran tubuhnya lebih besar daripada keledai. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi khamar dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu.

Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Semula, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah, orang-orang musyrik pun segera menyebarluaskan berita itu kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqoddas di Palestina, beberapa orang musyrik menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqoddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqoddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqoddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqoddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir.

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda;

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyat Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu aku percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

[ads script=”2″ align=”left”]Pada pagi hari setelah peristiwa Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Konteks Situasi dan Kondisi

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terjadi pada saat-saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqoddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selam ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman allah SWT dalam Alqur’an;

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir, (QS. Yusuf: 87). 

Berbuah Syariat Salat

Sudah dimaklumi bersama, Alqur’an sebagai kitab suci agama Islam memuat seluruh ajaran syariat yang ada di dalamnya, tak terkecuali salat. Seperti salah satu firman Allah SWT;

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah :43). Namun tidak sebatas itu, Allah SWT memanggil secara langsung Rasulullah SAW dalam rangkaian peritiwa Isra’ Mi’raj untuk menyampaikan perintah salat kepada umat islam. Karena hikmah yang paling besar dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut adalah disyariatkannya salat. Hal ini sangat berbeda dengan disyariatkannya ibadah-ibadah yang lain, yang keseluruhannya sudah dicukupkan melalui malaikat Jibril sebagaimana yang telah ada dalam Alqur’an.

Kualitas keimanan seseorang dapat diketahui dengan komitmennya terhadap pengamalan ajaran Islam, baik yang berhubungan dengan tuhannya maupun yang berhubungan dengan sesama makhluk. Salat merupakan bentuk peribadatan tertinggi seorang muslim, sekaligus merupakan simbol ketaatan totalitas kepada Allah SWT. Karena di dalam salat, terdapat bentuk upaya interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dari sinilah titik terang keberadaan salat sebagai barometer seorang muslim untuk mengukur sebatas mana kekuatan agamanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan;

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam, dan tiangnya adalah salat,” (HR. Thurmudzi).

Sebagai tiang agama, maka harus ada makna dan nilai bagi setiap orang Islam dalam melaksanakan salat, sebagaimana uraian Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, yakni;

  • Hudhurul Qolbi (menghadirkan jiwa). Ketika melaksanakan salat diharuskan konsentrasi penuh semata-mata mengahadap Allah SWT dan mengharap ridho-Nya. Segala sesuatu yang bersifat keduniaan harus dilupakan sejenak. Firman Allah SWT dalam Alqur’an;
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (QS. Al-Ma’un :4-5).

  • Tafahhum, yakni menghayati semua hal yang dikerjakan dalam salat, baik yang berupa bacaan maupun gerakan anggota badan. Karena di dalamnya tersimpan makna pernyataan kesiapan dan kepasrahan kepada allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,” (QS. Thaha :14).

  • Ta’dzim, artinya sikap mengagungkan Allah SWT sebagai Dzat yang disembahnya serta adanya kesadaran secara total bahwa manusia merupakan sesuatu yang sangat kecil dan hina di hadapan-Nya.
  • Khouf wa Roja’, yakni rasa takut hanya kepada Allah SWT disertai dengan harapan untuk selalu mendapatkan rahmat dan rido-Nya.
  • Haya’, yaitu rasa malu kepada Allah SWT karena apa yang dipersembahkan kepada-Nya sama sekali belum sebanding dengan rahmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada manusia.[6]

Dengan mampu menghadirkan makna dan nilai-nilai ibadah yang menjadi “buah tangan” dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, maka diharapkan akan ada hubungan timbal balik antara ibadah ritual salat dengan sesuatu yang ada di dalamnya. Dan pada gilirannya sesuai dengan berjalannya waktu, semuanya akan dapat menghiasi kehidupan pribadi setiap muslim dan akan membias dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.[] waAllahu A’lam.

__________________

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] [2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.

[6] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 162.

Maklumat Syuriah PWNU Jawa Timur

Berikut Maklumat Syuriah PWNU Jawa Timur yang disampaikan Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim, KH. M. Anwar Iskandar di tengah-tengah acara Istighotsah Kubro dalam rangka Hari Lahir ke-94 Nahdlatul Ulama di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Ahad pagi (09/04).

Nomor: 1671/PW/Syur/IV/2017

1. Menjaga agama (hifdz al-din) dari hal-hal yang bisa merusaknya, mulai darikeyakinan, ucapan, hingga perbuatan, adalah kewajiban kita semua warga nahdliyyin, sebagaimana telah dilakukan oleh salafusshalihin sejak zaman dulu, seraya menjunjung tinggi prinsip-prinsip Islam ahlussunnah wal jamaah, baik dalam aspek diniyah maupun ijtimaiyah, dengan senantiasa menyebarkan ajaran Islam yang damai, teduh dan rahmatan lil alamin secara konsisten.

2. Menjaga negara (hifdz al-daulah) dari hal-hal yang bisa merusak atau membahayakan keselamatan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta menjaga keutuhan dan persatuan Indonesia adalah kewajiban dan tanggung jawab kita semua karena negara adalah harta yang paling berharga dan paling bernilai bagi seluruh warga negara.

3. Menjaga amanah (hifdz al-amanah) seraya menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah kewajiban seluruh pemimpin, baik negara, agama, politik, maupun masyarakat, demi menghindari kesenjangan sosial dan pudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya.

4. Menjaga umat (ri’ayah al-ummah) dari kebangkrutan akhlak seraya memperkuat nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air adalah kewajiban kita semua agar bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat, terhormat dan bernilai di mata manusia dan di mata Allah swt.

5. Nahdlatul Ulama menyerukan kepada seluruh warga bangsa Indonesia, khususnya warga Jawa Timur, untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan, kedamaian dan ketentraman, serta senantiasa berusaha melakukan muhasabah, muraqabah, munajat dan mendekatkan diri kepada Allah swt. guna memohon keselamatan, perlindungan dan kebaikan bagi negara dan bangsa ini di dunia dan akhirat.][

 

Sumber, Tabloid AULA.

Implementasi Metode Pemikiran Aswaja

Sejarah kehidupan yang telah dibangun oleh manusia telah menghasilkan peradaban, kebudayaan, dan tradisi. Tiga hal tersebut merupakan perwujudan karya dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan kehidupan yang dihadapinya dalam lingkup wilayah tertentu. Suatu bangsa yang membangun kebudayaan serta peradaban akan selalu cocok dan sesuai dengan nilai-nilai tradisi serta prinsip sosial yang dianut. Semuanya akan terus mengalami perubahan, baik kemajuan atau kemunduran, yang mana perubahan tersebut secara dominan ditentukan atas dasar relevansinya dengan kehidupan masyarakat setempat.

Peradaban Islam merupakan peradaban dunia yang dibangun atas dasar nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Sejarah mencatat, bahwa dengan modal itu pula peradaban Islam mampu mengalahkan dua kekuatan besar yang dibangun atas dasar kekuatan materi, yakni Persia dan Romawi. Oleh sebab itu, warisan peradaban Islam yang yang berupa nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan tersebut secara konsisten dapat diamalkan dan dikembangkan oleh generasi-generasi berikutnya.

Salah satu faktor penentu perkembangan peradaban Islam adalah golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau yang biasa disebut Aswaja, pada mulanya merupakan ajaran yang masih memegang teguh prinsip kemurnian syariat sejak zaman Nabi dan berlanjut ke masa-masa selanjutnya. Fokus utama dalam keaswajaan sering cenderung terhadap masalah akidah dan fikih. Sehingga pemahaman atas Aswaja saat itu masih sempit. Namun perkembangan zaman yang semakin maju telah menyeret paham keaswajaan bukan hanya menjadi sebuah paham doktrinal bagi para penganutnya, akan tetapi sudah berkembang menjadi sebuah pandangan hidup yang dikenal dengan istilah Manhaj Al-Fikr. Dengan begitu, kontribusi keaswajaan semakin merata dalam menjiwai dan mewarnai semua aspek kehidupan.

Metode pemikiran (Manhaj Al-Fikr) Aswaja adalah sebuah metode dan prinsip berfikir dalam mengahadapi berbagai permasalahan keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan kebangsaan. Secara garis besar, hal tersebut terbagi dalam 4 prinsip:

Moderat (Tawassuth)

Tawassuth merupakan sebuah sikap tengah atau moderat.  Sikap moderat tersebut berdasarkan firman Allah SWT:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al-Baqarah: 143). Dalam Tafsir Al-Qurthubi, redaksi Wasathon dalam ayat tersebut diartikan dengan sifat adil atau sifat tengah. Penafsiran seperti ini berdasarkan penjelasan langsung dari Rasulullah SAW sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thurmudzi.[1]

Dalam konteks pemikiran dan amaliyah keagamaan, prinsip moderat yang diusung oleh Aswaja sebagai upaya untuk menghindar dari sikap ekstrem kanan yang berpotensi melahirkan paham fundamentalisme atau radikalisme, dan menghindari  sikap kebebasan golongan kiri yang berpotensi melahirkan liberalisme dalam ajaran agama. Dan dalam konteks berbangsa dan bernegara, pemikiran dan sikap moderat seperti ini sangat urgen dalam menjadikan semangat untuk mengakomodir beragam kepentingan dan perselisihan serta jalan keluar untuk meredamnya.

Berimbang (Tawazun)

Tawazun merupakan sikap berimbang dan harmonis dalam mengintegrasikan serta mensinergikan pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah kebijakan dan keputusan. Sikap seperti ini berdasakan firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (QS. Al-Hadid: 25).

Kalau diaktualisasikan dalam ranah kehidupan, dengan prinsip tersebut Aswaja memandang realitas kehidupan secara substantif. Sehingga menjadikan Aswaja tidak mau terjebak dalam klaim kebenaran dalam dirinya ataupun memaksakan pendapatnya kepada orang lain yang mana hal tersebut merupakan tindakan otoriter dan pada gilirannya akan mengakibatkan perpecahan, pertentangan, maupun konflik.

Netral (Ta’adul)

Ta’adul merupakan sikap adil atau netral dalam melihat, menimbang, menyikapi dan meyelesaikan segala permasalahan. Dengan artian, sikap ini adalah bentuk upaya yang proporsional yang patut dilakukana berdasarkan asas hak dan kewajiban masing-masing. Sesuai firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah: 8).

Kalaupun keadilan menuntut adanya kesamaan dan kesetaraan, hal tersebut hanya berlaku ketika realita individu benar-benar sama secara persis dalam segala sifatnya. Namun, apabila dalam realitanya terjadi keunggulan (tafadhul), maka keadilan menuntut perbedaan dan pengutamaan (tafdhil). Bahkan penyetaraan antara dua hal yang jelas terjadi tafadhul adalah tindakan aniaya yang bertentangan dengan prinsip keadilan itu sendiri.

Toleran (Tasamuh)

Tasamuh merupakan sikap toleran yang bersedia menghargai terhadap segala kenyataan keanekaragaman dan perbedaan, baik perbedaan dalam segi pemikiran, keyakinan, suku, bangsa, agama, tradisi, budaya dan lain sebagainya. Pluralitas dan multikulturalitas merupakan sebuah keniscayaan yang sepatutnya disadari. Kemajemukan  yang melandasi semua aspek kehidupan manusia tentu saja tidak pernah terlepas dari sebuah latar belakang, sebab, maupun tujuan. Dalam Alquran disebutkan:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Namun soal akidah dan ibadah dalam Islam tidak ada toleransi. Dalam melakukan ibadah tidak boleh dicampur dengan kegiatan yang di luar agama, dan juga tidak boleh dicampur dengan keyakinan yang berasal dari luar agama Islam, tidak boleh bersama-sama dalam melakukan ibadah dengan agama selain Islam. Karena agama Islam menegaskan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Perlu disadari bahwa betapa penting peranan toleransi antar elemen umat dan masyarakat. Hal tersebut tak lain demi terciptanya kedamaian dan mobilisasi ketahanan suatu negara sebagai wadah dalam membumikan syariat dan manivestasi nyata tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Jika dicermati secara intensif, doktrin-doktrin Aswaja sebagai paham dengan metodenya yang komprehensif baik dalam bidang akidah (Iman), syariat (Islam), dan akhlak (Ihsan), dapat diambil sebuah kesimpulan berupa metodologi pemikiran (Manhaj Al-Fikr) yang moderat (tawassuth), berimbang (tawazun), netral (ta’adul), dan toleran (tasamuh). Sehingga pemahaman Aswaja hanya terbatas dalam kajian akidah dan fikih sudah bisa ditepis. Dengan beberapa prinsip itu pula Aswaja sangat mudah diterima dan diterapkan di dalam masyarakat serta ikut berperan dalam memajukan kehidupan yang penuh perdamaian dalam wahana kebangsaan dan kenegaraan bersama tradisi, peradaban, dan kebudayaan lain. []waAllahu A’lam.

 

[1] Tafsir Al-Qurthubi, juz 2 hal 153.

Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Dari beberapa malam di dalamnya, malam Nisfu Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Pada malam yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban tersebut, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia, baik yang berhubungan dengan kematian, rizki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan Allah SWT hingga datangnya bulan Sya’ban di tahun berikutnya.

Allah SWT sudah berfirman dalam Alqur’an;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”(QS. Ad-Dukhon: 3-4).

Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ dalam redaksi ayat tersebut masih terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah malam Lailatul Qodar dan sebagian yang lain berpendapat bahwa malam itu adalah malam Nisfu Sya’ban.

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi, sahabat ‘Ikrimah berkata, “Malam yang diberkahi tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal,”. [1]

Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW pernah menyinggung dalam sebuah hadis;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَنْكَحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَلَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang meninggal,”.[2]

Selain kaitannya yang sangat erat dengan proses penentuan segala urusan umat manusia. Malam Nisfu Sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik yang dalam periode harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam Lailatul Qodar dan malam Nisfu Sya’ban.[3]  Rasulullah SAW bersabda;

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئِلَ عَنْ إكْثَارِهِ الصَّوْمَ فِي شَعْبَانَ فَقَالَ: إنَّهُ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Sesungguhnya rasulullah SAW ditanyai ketika Beliau memperbanyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Beliau menjawab; Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Maka Aku senang amalku diangkat sementara Aku dalam keadaan berpuasa,”. 

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Muadz bin Jabal, sahabat Nabi, pernah mengatakan;

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. At-Thobroni dan Ibnu Hibban).[4]

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Dalam rangka menggapai seluruh keutamaan yang ada pada malam Nisfu Sya’ban, banyak sekali dari umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkan malam tersebut melalui berbagai macam akitvitas ibadah kepada Allah SWT.

Adapun yang sering dilakukan masyarakat tradisioanlis adalah dengan cara berkumpul di musholla atau masjid setelah waktu maghrib. Secara berkelompok mereka membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan diiringi dengan doa Nisfu Sya’ban di setiap akhir bacaan surat. Mengenai tata cara masalah ini sudah dijelaskan secara gamblang dalam kitab Kanzunnajah Was Surur. Dan dalam Kitab tersebut dipaparkan, hendaknya bacaan surat Yasin pertama diniati agar diberikan umur panjang, bacaan surat Yasin kedua diniati agar terhindar dari mara bahaya, bacaan surat Yasin ketiga diniati agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain.[5]

Adapun salah satu tendensi hukum tradisi tersebut adalah ketika sayyidah ‘Aisyah pada suatu malam kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencarinya, ‘Aisyah menemukan suami tercintanya di Baqi’, nama komplek pemakaman bagi para sahabat Nabi dan para pejuang. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata;

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Tuhan menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb,” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).[6]

Menurut sumber informasi yang lain mengatakan;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ

“Sesungguhnya Allah menampakkan diri pada malam Nisfu Sya’ban, dan mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki,”.

Dalam menyikapi salat-salat malam Nisfu Sya’ban para ulama masih berbeda pendapat. Adapun Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’ berkomentar bahwa hal tersebut termasuk Bid’ah Qobihah. Namun berbeda lagi dengan Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan.

Dalam silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Al-Kurdi hadir dengan statemennya yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian atas status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.[7]

Diakui ataupun tidak, selalu saja ada pengingkaran atas tradisi yang sudah menjamur di masyarakat. Namun, dengan menggunakan konsep dalil secara umum saja sudah mampu merobohkan pengingkaran tersebut. Sedangkan, terkait dengan berbagai aktifitas ibadah seperti membaca Alqur’an, salat sunah, istighfar dan semacamnya sudah dijelaskan oleh berbagai redaksi dalil yang masyhur baik itu dari Alqur’an ataupun Hadis. Semuanya berlaku secara mutlak terkecuali pada waktu yang telah ada nash-nash pelarangannya.

Dan pada akhirnya dapat dipahami bahwa kegiatan keagamaan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berbagai kegiatan lain yang bernilai ibadah merupakan perkara yang selaras dengan syariat.[]. waAllahu a’lam.


[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 7 hal 228.

[2] Fath Al-Mun’in Syarh Shahih Muslim, juz 5 hal 41.

[3] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 350.

[4] Tuhfah Al-Ahwadzi, juz  3 hal 366.

[5] Kanzunnajah Was Surur, hal 48, Maktabah Dar Al-Hawi.

[6] Faid Al-Qodir, juz 2 hal 316.

[7] I’anah At-Thalibin, juz 1 hal 312, Maktabah Darul Fikr.