Category Archives: Artikel

Keramahan Agama Islam

Mudah saja mendefinisikan agama sesuai dengan persepsi masing-masing. Agama secara luas bisa bermakna “berbagai hal”, bagi setiap individu. Ada yang mendefinisikan agama dengan deskripsi singkat, “sebuah kebutuhan”. Ada yang mendefiniskan dengan ramah, “ajaran yang membawa kepada ketenangan dan tujuan hidup”. Tapi ada juga yang mendefinisikan dengan marah, “sebuah candu”.

Terlepas dari semua definisi dan ta’rif, agama memiliki nilai sakral yang sangat mendalam. Bagaimana tidak? Agama merupakan simbol kehidupan. Lebih tepatnya hampir semakna dengan itu. Setiap insan pasti dipertanyakan akan “apa agamamu?”. Pertanyaan itu kurang lebih sama dengan pertanyaan “apa dan bagaimana cara hidupmu?”, sebab agama secara berkesinambungan memiliki watak khas masing-masing. Memiliki ajaran dan ciri khas masing-masing. Semua itu tak jauh-jauh dari “mengatur hidup dan sikap hidup”.

Lebih lanjut, agama juga akhir-akhir ini menjadi semacam “sekat” untuk menghalangi kehidupan sosial. Sebagai seorang Indonesia yang masih banyak percaya mitos, agama yang berbeda seolah sudah membuat orang enggan “berjabat tangan” dan menjalin kerjasama. Apapun itu, baik itu ekonomi, ataupun bermasyarakat. Padahal tidak pernah ada cerita, islam melarang kaum muslimin menjalin kerjasama dengan non muslim. Mu’amalah dan berdagang dengan mereka mutlak diperbolehkan dan hukumnya sah secara fikih. Atau jika kita menelisik dalam aturan kepedulian sosial, bila ada seorang kafir dzimmi yang mati, dan tak ada orang yang mengurusi jenazahnya, hukumnya menjadi fardhu kifayah bagi seorang muslim untuk turut mengkafani dan menguburkan mereka.

Kita tentu ingat Perjanjian Aelia (ميثاق ايليا). Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani sendiri oleh Khalifah Umar Ibn Khattab RA dengan umat Nasrani di Negri Yerussalem. Dinamakan Perjanjian Aelia, karena perjanjian tersebut ditandatangani di tanah Aelia, nama kuno kota Yerussalem. Berikut kutipan isi perjanjian tersebut,


بسم الله الرحمن الرحيم

هذا ما أعطى عبد الله عمر أمير المؤمنين أهل إيليا من الأمان. أعطاهم أماناً لأنفسهم وأموالهم ولكنائسهم وصلبانهم وسقيمها وبريئها وسائر ملتها.أنه لا تسكن كنائسهم ولا تهدم ولا ينتقص منها ولا من حيزها ولا من صليبهم ولا من شئ من أموالهم، ولا يكرهون على دينهم ولا يضار أحد منهم ولا يسكن بإيليا معهم أحد من اليهود

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Inilah yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, pemimpin orang-orang yang beriman, kepada penduduk Iliya. Ia adalah jaminan keamanan. Umar memberikan jaminan keamanan/perlindungan hak hidup, hak milik harta, bangunan-bangunan gereja, salib-salib mereka, orang-orang yang lemah,orang-orang merdeka dan semua pemeluk agama. Gereja-gereja mereka tidak boleh diduduki, tidak dihancurkan, tidak ada hal-hal (sesuatu) yang dikurangi apa yang ada dalam gereja itu atau diambil dari tempatnya; tidak juga salibnya, tidak harta benda mereka, penduduknya tidak dipaksa untuk menjalankan keyakinan agama mereka dan tidak satu orangpun yang dilukai. Dan di Aelia tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka.”[1]

Perjanjian Aelia menggambarkan bentuk keramahan dan toleransi islam akan pemeluk agama lain. Dibawah kekuasaan islam, kota Yerussalem makmur dan setiap orang tetap bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Pemeluk agama Nasrani tak ada yang diganggu. Bahkan mencuri salib di gereja mereka saja termasuk menyalahi perjanjian. Mereka yang hendak keluar dari Yerussalem menuju negeri Romawi juga akan dilindungi. Adakah sikap dan kebijakan seperti ini salah? Jawaban yang tidak perlu, sebab perjanjian ini dibawah kuasa salah satu sahabat Nabi yang paling dekat dengan beliau. Paling zuhud, dan paling memiliki keluasan ilmu.

Dalil yang lebih tegas lagi adalah firman Allah SWT. Termaktub dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9) الممتحنة: 8، 9

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (8) Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang yang zalim. (9)” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9)

Betapa tegasnya perintah menjaga kerukunan, walau antar umat beragama juga tercurah dalam sebuah hadis nabi. Makna tersirat yang mendalam seakan tertuang kala beliau marah besar waktu itu. Ada seorang muslim yang membunuh seorang kafir dzimmi di tengah-tengah pasar kota Madinah. Imam Al-Bukhôri sendiri telah merangkum satu bab khusus tentang hadis Nabi Muhammad SAW yang paling valid, menjelaskan tentang dosa membunuh kafir dzimmi secara lalim.


– حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ، حَدَّثَنَا الحَسَنُ، حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
[2]»

“Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Umar RA. Nabi pernah bersabda: Barang siapa yang membunuh seorang mu’ahad, maka ia tak akan mencium bau surga. Dan bau surga akan ditemukan sejak jarak empat puluh tahun.” (HR. Bukhori)

Ahmad Mursi Husain dalam Maqoshid Al-Syar’iyyah fi Al-Islam menulis, “Berbuat baik dan berlaku adil merupakan dua hal yang harus dilaksanakan seorang muslim kepada sesama manusia dan kepada ahli kitab. Orang-orang non muslim memiliki kedudukan khusus dalam mu’amalah dan undang-undang atau peraturan. Adapun yang dimaksud dengan ahli kitab adalah mereka yang melaksanakan ajaran agama sesuai dengan kitab samawi.”[3]

Pada akhirnya, anjuran untuk teguh menjaga kerukunan antar umat beragama juga kita bawa hari ini. Negeri Indonesia yang meenampung berbagai pemeluk agama seharusnya mampu mencontoh kota Madinah. Kota tempat wafatnya Nabi tersebut selalu memprioritaskan menjaga kesatuan. Perbedaan agama tidak lantas menjadi semacam sekat yang menghalangi penduduk meningkatkan kemakmuran, membangun kesejahteraan, apalagi sebagai pemicu pertikaian. Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pula mewanti-wanti, ketika Indonesia dulu masih labil bentuk konstitusinya. Indonesia waktu itu masih dalam bayang-bayang penjajah.

Telah dimaklumi bahwa manusia niscaya berkumpul, bercampur dengan yang lain. Sebab tak mungkin seorangpun mampu sendirian memenuhi segala kebutuhan–kebutuhannya. Maka mau tidak mau ia harus bermasyarakat dengan cara yang dapat membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak ancaman bahaya darinya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu dalam memperjuangkan kepentingan bersama dan kebersamaan dalam satu kata adalah sumber paling penting bagi kebahagiaan dan faktor paling kuat bagi terciptanya persaudaraan dan kasih sayang. Berapa banyak negara-negara yang menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi lancar, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat-manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh[4]

Beliau juga telah membaca dan memprediksi, akan pentingnya menjalin kerjasama dan mengesampingkan perbedaan. Lebih-lebih hal itu menjadi pangkal perpecahan. “Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran, kemacetan, sumber keruntuhan, kebinasaan, penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga-keluarga besar semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai suatu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka. Bisanya menjalar meracuni hati mereka dan setanpun melakukan perannya. Mereka kucar-kacir tak karuan. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan”.

Sejenak, mari kita renungkan arti penting meneguhkan NKRI, dan membawa NKRI ke arah yang lebih baik, dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.

 

[1] Rujuk Ibn Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1997, jilid II, hlm. 449

[2] Rujuk, shahih Bukhari, hadis ke 6914

[3] Rujuk Ahmad Mursi Husain, Maqoshid Al-Syar’oyyah fi Al-Islam. Terj Kuwais. Amzah. Hal 7.

[4] Rujuk Muqaddimah Qanun Asasi.

Demi Informasi Global, Pentingkah Tabayun?

Kabar (khabar), meskipun ia bisa saja memiliki nilai kebenaran absolut, semisal Al-Quran, ia di tempat lain bisa saja memuat kesalahan, semisal berita-berita dari mulut ke mulut yang sering kita dengar[1]. Kabar, dengan mengecualikan Al-Quran dan Hadits terpilih, selalu bernilai ambigu: salah atau benar. Ambiguitas inilah yang menjadi viral dan obrolan penting akhir-akhir ini.

Bantuan modernisasi, terutama berupa produk-produk globalisasi, membuat informasi begitu mudah diungkap dan diambil. Kemudahan ini membuat kita dapat menerima informasi secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya. Idealnya, pengetahuan kita menjadi berkembang lebih luas daripada dengan pencarian informasi konvensional, tanpa internet dan semacamnya. Namun, alat modernisasi ini ternyata menyimpan pisau yang lain: berita-berita palsu (hoax) juga memanfaatkan kemudahan yang sama.

Berita-berita palsu memang sering menjadi keresahan banyak pihak. HM. Abdul Muid Shohib dalam tulisannya Tabayun di Era Literasi Digital, menyebut bahwa pernah terjadi kegoncangan hebat di kalangan kaum muslimin disebabkan berita semacam  ini, yakni haditsul ifki, gosip yang melanda ummul mukminin Sayyidah Aisyah ra.

Keresahan ini yang kemudian membuat Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo mempersoalkan berita hoax, terutama ketika berita ini tidak tersentuh koreksi dan penjelasan yang baik (tabayyun). LBM akan mencoba membahas permasalahan ini dalam Bahtsul Masail Kubro (BMK) Ponpes Lirboyo, Rabu-Kamis 23-24 Jumadal Akhirah/22-23 Maret besok.

Tidak hanya itu, ada beberapa persoalan lain yang penting untuk didiskusikan dengan santri-santri dari pondok pesantren lain se-Jawa Timur. Persoalan dan deskripsi permasalahan bisa diunduh di link ini.][

 

[1] Zakaria al-Anshari, Lubbul Ushul, dalam Pengantar Memahami Lubbul Ushul, Tim Kodifikasi Anfa’, 2015, hal. 236.

Menyoal Peran Generasi Muda

Sebuah peradaban bangsa merupakan hal yang paling penting dalam tatanan kehidupan manusia. Namun, peradaban yang sudah ada tidak akan bertahan secara konsisten tanpa adanya regenerasi secara signifikan yang akan melanjutkan perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulunya.

Dari sinilah peran generasi muda sebagai generasi penerus sangat dibutuhkan. Kecerdasan intelektual, usia yang masih muda, mobilitas tinggi, serta semangat yang membara merupakan salah satu contoh kekuatan besar yang dimiliki generasi muda sebagai aset penting peradaban suatu bangsa. Maka sudah jelas bahwa mereka menjadi bagian penting dari agama, bangsa, dan negara. Karena di tangan generasi mudalah tonggak perjuangan dan harapan bangsa untuk melanjutkan perjuangan di masa depan.  Syaikh Musthofa Al-Gholayaini berkata:

إِنَّ فِى يَدِ الشُّباَّنِ اَمْرَ اْلاُمَّةْ وَفِى اَقْدَامِهَا حَيَاتَهَا

“Sesungguhnya di tangan para pemudalah urusan umat, dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat”. Ini telah membuktikan bahwa para generasi muda menjadi tulang punggung dan harapan dari sebuah peradaban agama dan bangsa.

Dilihat dari konsep kenegaraan, generasi muda diibaratkan sebuah pilar/tiang dan negara itu ibarat bangunannya. Sebuah bangunan dengan pilar yang berasal dari bahan yang bermutu dan berkualitas tinggi akan tetap kokoh dan mampu bertahan walaupun badai, petir, bahkan bencana sekalipun yang menghantam. Begitu juga dengan para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Dengan modal ilmu dan akhlak yang mereka miliki menjadi hal yang paling penting untuk menjadikan negaranya maju dan tetap kokoh dari berbagai ancaman dan pengaruh pihak luar.

Dalam konteks Islam, peran dan fungsi generasi muda sangat urgen dalam mempertahankan eksistensi kejayaan agama Islam. Karena di tangan merekalah tongkat estafet Islam akan diperjuangkandan ditegakkan. Hal ini dikarenakan seorang pemuda memiliki potensi yang besar dalam mengemban amanah besar tersebut. Maka tidak ada alasan apapun untuk tidak segera menyelamatkan generasi penerus dari berbagai ancaman kerusakan di era globalisasi saat ini.

Sebagai realisasi nyata dari berbagai sudut pandang tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi generasi muda:

  1. Pendidkan dan Akhlaqul karimah

Generasi muda merupakan akar kekuatan sebuah agama maupun bangsa. Oleh sebab itu, perhatian khusus dalam menjaga aset penting yang menjadi penopang kekuatan tersebut mutlak diperlukan. Terutama dalam sektor pendidikan yang memiliki andil besar dalam mencetak dan mendidik karakter generasi muda yang  berakhlaqul karimah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak, sesuai dengan hadis yang disampaikan oleh Sahabat Abu Hurairah RA:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. [1]

Ancaman bahaya lain yang menyerang generasi muda adalah ancaman pemikiran. Seperti pemahaman yang ekstrim dalam beragama, paham radikal, sekuler, liberal, dan seterusnya. Sehingga tidak heran kalau generasi muda yang masih memiliki pemahaman yang kurang mendalam namun memiliki jiwa semangat yang tinggi menjadi sasaran utama upaya rekrutmen kelompok-kelompok yang beraliran seberang tersebut.

Dan dalam ranah pendidikan itu sendiri, tidak terbatas sekedar konsep penularan pengetahuan (transfer of knowledge). Namun lebih menitik beratkan dalam konsep tarbiyyah dan upaya pembangunan karakter (character building). Memahami hal demikian, sudah seharusnya orang tua, pihak lembaga pendidkan, maupun pemerintah bersinergi dan bekerjasama dalam mengemban tanggungjawab untuk menjadi garda terdepan dalam mencetak dan memelihara akhlaqul karimah bagi para generasi muda. Boleh para generasi muda mengadopsi atau mengikuti perkembangan zaman, asalkan tetap memegang kuat  prinsip:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْدُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

“Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”.

Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, sudah saatnya untuk menyingsingkan lengan baju untuk lebih cerdas memahami keadaan dan situasi yang dihadapinya. Generasi muda harus mempunyai kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual yang seimbang. Karena yang dibutuhkan tidak hanya cerdas dalam akademi, tapi kecerdasan yang muncul dari hati dan sifat religiuitaslah yang terpenting. Dan dengan pengamalan ilmu dan penerapannya pada obyek (maudlu’) yang tepat, diharapkan dapat merubah dan memajukan peradaban agama maupun bangsa ini menjadi lebik baik.

Sungguh ironi, terjadi ketidakseimbangan antara dunia pendidikan seperti pesantren ataupun yang lain yang selalu konsisten berusaha mencetak kader-kader bangsa yang berilmu dan bermoral dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang secara perlahan merusak para generasi muda bangsa. Hal tersebut yang membuat para generasi muda harus berpikir kritis dalam memilih jalan hidupnya.

  1. Menggali Potensi Sejak Dini

Usia muda merupakan usia dimana seseorang masih memiliki jiwa semangat yang tinggi, kecerdasan intelektual yang stabil. Dalam masa tersebut, mereka sepatutnya mengerahkan seluruh daya untuk menggali segala potensi yang dimilikinya sebelum urusan dan tanggung jawab bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Pentingnya memanfaatkan usia muda secara maksimal telah tersirat secara implisit dalam hadis Rasulullah SAW:

غْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Pergunakanlah perkara yang lima sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu” (HR. Hakim).[2]

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan betapa pentingnya masa muda untuk digunakan dalam segala hal yang positif. Maka selayaknya para generasi muda untuk benar-benar menyadari betapa pentingnya usia muda untuk menggali segala potensi dirinya dalam mencari ilmu dan pengalaman yang dapat memberi manfaat baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

  1. Pergaulan dan Globalisasi

Diakui ataupun tidak, derasnya arus globalisasi  dan segala bentuk kemajuannya telah berdampak negatif terhadap perkembangan cara berpikir dan gaya hidup generasi muda yang banyak teradopsi dari pemikiran orang-orang luar yang berusaha merusak generasi muda. Tentunya hal tersebut lambat laun akan semakin menyeret mereka menjauhi moral dan karakter positif yang telah tertanam sejak lama.

Lingkungan pergaulan dan pertemananpun sangat berpotensi membentuk pola kehidupan seseorang, konsep seperti ini sudah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ قَالَ «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ». رواه أبو داود

“Dari Sahabat Abi Hurairah bahwa sesungguhnya Nabi bersabda: seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Dawud).

Dalam Alqur’an dicontohkan sebuah kisah pemuda Ashabul Kahfi, bagaimana mereka tetap kokoh memegang prinsip keimanan di saat kaum mereka dilanda kerusakana dan kebobrokan moral. Ketika kemampuan untuk memperbaiki tidak lagi mereka miliki, Allah SWT memberikan pertolongan dengan menyelamatkan mereka dari ancaman kaumnya sehingga mereka tertidur di dalam gua selama kurang lebih tiga ratus tahun. Kemudian Allah SWT memuji mereka dalam firmannya:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi: 13).

Redaksi  Al-Fityah ditafsiri dengan arti para pemuda, mereka adalah orang yang lebih mudah menerima kebenaran serta mengikuti petunjuk dibandingkan dengan orang yang telah lanjut usia yang terjerumus ke dalam agama yang batil. Karena itu yang paling banyak menerima seruan Allah dan RasulNya adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari suku Quraisy kebanyakan tetap kekal dengan agama nenek moyang mereka, tidak ada yang memeluk Islam kecuali sedikit. [3]

Maka melihat dari hal itu, generasi mudalah yang menjadi target sasaran musuh Islam. Genderang perang yang ditabuh yang dikemas dengan bentuk  perang dingin (the cold war) terus dikobarkan dari berbagai celah sudut. Baik melalui media internet, televisi, maupun media yang lain yang tidak mendidik. Lambat laun semuanya akan merusak moral dan kepribadian umat Islam dan generasi penerusnya.

Walhasil, peranan generasi muda dalam menopang eksistensi sebuah peradaban sudah tidak bisa pungkiri. Sebagai generasi yang akan melanjutkan segala perjuangan yang sudah ada sebelumnya, maka diperlukan sebuah jiwa militansi yang tinggi serta kesiapan dan pembekalan yang mumpuni dan berkualitas, baik dari segi intelektual maupun spiritual. Sebagaimana sebuah pepatah  Arab:

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِّ

“Pemuda hari ini adalah pemimpin-pemimpin hari esok”. [] waAllahu a’lam.

__________

[1] Shahih Al-Jami’ no. 2833, dan diriwayatkan oleh Imam malik Bin Anas dalam kitabnya, Al-Muwattho’.

[2] Al-Mustadrok ‘Ala Al-Shohihain, juz 4 hal 341.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, juz 5 hal 127.

Toleransi di Era Globalisasi

Tidak dapat dipungkiri, kemunduran dunia Islam hingga saat ini telah berdampak negatif pada kondisi umat Islam secara transnasional. Hegemoni dibidang politik, budaya, ekonomi, dan pemikiran,  yang terus dibangun oleh pihak-pihak penentang Islam merupakan sebagian contoh dari konspirasi yang mutakhir untuk memposisikan Islam pada pihak yang inferior.

Lebih fokus pada bidang pemikiran, saat ini umat Islam sudah berada ditengah pusaran arus perang pemikiran (al-ghozwah al-fikriy) yang sangat dahsyat. Pihak-pihak yang mengcounter (melawan) Islam sudah mulai menyerang dan menggerogoti ajaran-ajaran Islam. Dan dalam waktu yang bersamaan, mereka mulai mengintervensikan konsep dan ajaran mereka melalui upaya-upaya pencucian otak terhadap generasi muda Islam.

Salah satu yang menjadi sasaran serangan mereka adalah konsep toleransi dalam Islam. Kaum fundamentalis mengkampanyekan bahwa Islam anti toleransi. Begitu juga sebaliknya, kaum liberalis menyuarakan toleransi Islam yang melebihi batasnya. Opini-opini seperti itulah yang menjadikan pengkaburan pada konsep toleransi sebenarnya yang ada dalam syariat. Dan upaya tersebut sangatlah membahayakan jika dilakukan secara sistematis, terprogram, dan berkelanjutan.

Memahami keadaan yang mencemaskan tersebut, maka sangat diperlukan usaha bersama dari umat Islam untuk menjaga eksistensi ajaran dan konsep yang sudah mulai dikaburkan. Demi melawan propaganda pihak-pihak tersebut, memberikan pemahaman atas konsep toleransi Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi formula utama di era globalisasi ini. Semuanya dilakukan demi sebuah tujuan untuk meluruskan persepsi yang keliru (tashih al-afham), menghilangkan keraguan (izalah as-syubuhat), dan menjelaskan konsepsi yang sebenarnya (taudih al-haqaiq).

Sekilas Tentang Toleransi

Secara etimologi, kata toleransi berasal dari kata tolerare yang berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti  dengan sabar membiarkan sesuatu. Atau bisa juga diartikan sebagai sifat atau sikap toleran. Kata toleran sendiri didefinisikan sebagai suatu bentuk upaya untuk menghargai, membiarkan, atau memperbolehkan pendirian, pendapat, kepercayaan dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Adapun dalam bahasa Arab, suatu istilah senada yang lazim digunakan untuk toleransi adalah tasamuh atau samahah. Pada dasarnya, kata ini memiliki arti kemuliaan, lapang dada, dan suka memaafkan. Kemudian, makna ini selanjutnya berkembang menjadi sikap lapang dada dan terbuka dalam menghadapi perbedaan.[1]

Jika dicermati secara seksama, kata tasamuh atau samahah sendiri sebenarnya tidak ditemukan dalam redaksi alQur’an. Meskipun demikian, hal tersebut bukan berarti alQur’an tidak menyinggung serta mengajarkan toleransi. Ajaran alQur’an mengenai hal ini antara lain dapat ditelusuri dari penjelasan tentang keadilan (al-‘adl/al-qisth), kebajikan (al-birr), perdamaian (as-sulh/as-salam) dan lain sebagainya.

Realita di Nusantara

Pada dasarnya, sejak dahulu masyarakat di Indonesia sadar dengan adanya kemajemukan bangsa. Namun kemajemukan itu tidaklah dijadikan sebagai dalih untuk saling menyudutkan atau bahkan pertikaian. Akan tatapi, hal tersebut justru dijadikan sebagai kekuatan utama menuju terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa. Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis, semuanya melakukan konsolidasi dibawah payung ideologis bernama ke-Indonesia-an. Karenanya tidak bisa dipungkiri, rangkaian perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah terbukti begitu kokoh dalam pijakan kemajemukan bangsa, mulai dari suku, agama, ras hingga budaya.

Sejarah mencatat, bangsa Indonesia yang plural memiliki komitmen yang kuat dalam mewujudkan kerukunan seluruh warga negaranya. Dasar negara Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi modal penting dalam mewujudkan kerukunan ditengah pluralitas yang ada.

Namun bagi Bangsa Indonesia, pluralitas baik dari aspek agama, budaya, aliran, etnis dan lain-lain, tidak hanya akan bermuara menjadi konflik, namun juga bisa menjadi potensi kerukunan dan kekuatan tersendiri. Manakala persoalan pluralitas ini dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi kerukunan. Sebaliknya manakala persoalan pluralitas ini tidak dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi keresahan dan konflik yang melelahkan di tengah masyarakat. Di sinilah dibutuhkan pendekatan dialog yang baik, agar bisa memberi kesejukan bagi umat, sehingga bisa memperkokoh keutuhan dan persatuan bangsa.

Toleransi beragama yang tinggi sejak dulu telah ditunjukkan oleh umat beragama di Indonesia, baik yang Muslim, Kristiani maupun yang lainnya. Karenanya, keanekaragaman yang selama ini ada menjadi tonggak Bhinneka Tunggal Ika yang kuat dalam menopang berdirinya bangsa Indonesia, mesti tetap terus dipertahankan.

Pluralitas dan multikulturalitas bagi bangsa ini merupakan suatu keniscayaan, sesuatu yang memang harus ada dan tidak akan terbantahkan. Pluralitas dan multikulturalitas yang kita miliki ini telah menciptakan mozaik yang indah dalam tampilan fisik manusia dan budaya Indonesia di sepanjang perjalanan sejarahnya. Sungguh memilukan melihat nilai-nilai pluralitas dan multikulturalitas yang telah tumbuh sejak awal terbentuknya republik ini, akhir-akhir ini seolah-seolah sudah mulai luntur. Sementara di sisi lain, eksklusivisme kelompok justru terlihat semakin menonjol. Maka sesungguhnya tak ada satu pun pihak, tak satupun suku, tak satupun agama, yang bisa mengakui keberadaannya tanpa andil pihak lain. Tak satupun.

Dengan demikian, sikap dan penerimaan kultural seperti ini tidak akan memberi izin  atau permisi kepada siapa pun untuk arogan, menganggap dirinya lebih benar, dan merasa berhak untuk menghakimi pihak lain. Dengan sikap seperti itu pula, bangsa ini dapat terhindar dari pelbagai cedera sosial yang belakangan ini menimpa bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia.

Konsep Toleransi Islam

Apabila ditelisik lebih cermat, pemahaman tentang toleransi tidak dapat berdiri sendiri. Konteks toleransi sangat terkait dengan suatu realitas lain di alam yang merupakan penyebab langsung dari lahirnya toleransi, yaitu pluralitas dan multikulturalitas.

Pluralitas dan multikulturalitas merupakan sebuah keniscayaan yang sepatutnya disadari. Kemajemukan  yang melandasi semua aspek kehidupan manusia tentu saja tidak pernah terlepas dari sebuah latar belakang, sebab, maupun tujuan. Salah satu tujuannya adalah menunjukkan kekuasaan Allah SWT, sesuai dalam firmannya:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS ar-Rum:22)

Dalam ayat lain, Allah menunjukkan tujuan adanya suku-suku yang sangat beragam agar mereka saling mengenal. Namun dalam konteks ini, bukan dari aspek kebahasaan saja, akan tetapi lebih mengarah pada aspek turunan dari rasa saling mengenal, yaitu untuk menumbuhkan suatu peradaban. Dalam Alquran ditegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS: al-hujarat: 13)

Sulit dipungkiri, bahwa pluralisme yang ada dalam masyarakat sangat sarat dengan gesekan-gesekan. Interaksi sosial yang dijalin antar individu di masyarakat pada hakikatnya sangat berpotensi melahirkan tarik ulur kepentingan yang bisa mengarah pada hal-hal yang destruktif. Oleh karena itu, perbedaan yang ada perlu disikapi secara konstruktif dan positif dan membutuhkan aturan main tersendiri demi menjamin terciptanya kemaslahatan semua pihak, yaitu dengan menjaga toleransi dan perdamaian.

Islam adalah agama yang adil dan menjunjung tinggi toleransi. Keadilan bagi siapa saja, menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya dan memberikan haknya.  Karena Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Maka dari itu sangat diperlukan usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antar umat manusia. Salah satu caranya yaitu mengembangkan sikap toleransi dan etika pergaulan.

Dalam kacamata Islam, toleransi merupakan sebuah bentuk kontekstualisasi dari ajaran keimanan. Termasuk toleransi dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan agama Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Toleransi Islam menolak sikap fanatisme dan perbedaan ras. Islam telah menyucikan diri dari ikatan dan belenggu jahiliyyah, maka Islam pun menghapus pengaruh fanatisme yang merupakan sumber hukum yang dibangun diatas hawa nafsu.

Allah SWT mengatur umatNya agar saling mengenal, dan saling menghormati serta saling menyayangi. Meskipun berbeda agama namun dalam ajaran agama tetap seorang muslim itu dianjurkan untuk berbuat baik kepada mereka yang berlainan agama.

Namun soal akidah dan ibadah tidak ada toleransi, dalam melakukan ibadah tidak boleh dicampur dengan kegiatan yang diluar agama, dan juga tidak boleh dicampur dengan keyakinan yang di luar agama Islam, tidak boleh bersama-sama dalam melakukan ibadah dengan agama selain Islam. Karena agama Islam menegaskan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. 

Perlu disadari bahwa betapa penting peranan toleransi antar elemen umat dan masyarakat. Hal tersebut tak lain demi terciptanya kedamaian dan mobilisasi ketahanan suatu negara sebagai wadah dalam membumikan syariat dan manivestasi nyata tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Allah SWT berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ .. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Pendeklarasian Piagam Madinah (misaq al-madinah) pada hakikatnya adalah contoh lain yang fenomenal dari praktik nyata toleransi dalam Islam. Dengan undang-undang inilah Rasulullah SAW menata kehidupan masyarakat Madinah yang plural. Dan pada perkembangan selanjutnya, spirit dari Piagam Madinah tetap terpelihara oleh generasi-generasi selanjutnya. Dan keberadaannya telah menolak mentah-mentah tuduhan intoleransi yang dilontarkan golongan fundamentalis Islam.

Namun perlu ditegaskan kembali, upaya legalitas toleransi antar umat beragama yang diberikan syariat masih memiliki batas-batas tertentu yang perlu diperhatikan. Yaitu hanya dalam dalam konteks hubungan mu’amalah dan hubungan antar kemanusiaan saja. Hal ini ditujukan agar tidak ada upaya akulturasi ranah akidah dan ibadah dengan alasan toleransi beragama yang justru sudah sangat berlebihan. Konteks ini sangat berbeda dengan toleransi yang disuarakan kaum liberal yang dinilai berlebihan dan tidak memperhatikan etika dan batasan yang telah ditetapkan syariat.

Toleransi yang berlebihan ini ternyata sudah ada sejak Rasulullah SAW memperjuangkan agama Islam di masa-masa awal Islam. Suatu ketika, beberapa orang kafir Quraisy yaitu al-Walid bin mughirah, al-‘Ash bin Wail, al-Aswad Ibn al-Mutholib, dan Umayah bin Khalaf menemui Rasulullah SAW. Mereka menawarkan toleransi “kebablasan” kepada Beliau dengan berkata:

“Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkna hal itu. Sebaliknya, apabila ada ajaran kami yang lebuh baik dari utntunan agamamu, maka engkau juga harus mengamalkannya”.[2]

Kemudian turunlah malaikat Jibril membawa ayat berikut:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), ‘Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku’.” (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Dari pemaparan di atas, dapat dilihat bahwa Islam begitu terbuka atas kemajemukan. Bahkan, Islam memandang bahwa keanekaragaman yang telah menjadi kehendak Allah tersebut harus disikapi secara positif dan konstruktif. Dengan demikian,  peran toleransi sangat  dibutuhkan demi terciptanya kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Hanya saja Islam mengarisbawahi bahwa toleransi hanya akan efektif jika masing-masing pihak tetap berjalan di atas relnya tanpa merongrong eksistensi pihak lain. [] waAllahu a’lam.

_________

[1] Lisan al-‘Arab, juz 7 hal 249, Dar Shadir.

[2] Tafsir AlQurthubi, juz  20 hal 225, Versi Maktabah Syamilah.

Imam Syafi’i; Tokoh Fikih dan Bahasa

ما مسّ أحد محبرة إلا وللشافعي فى عنقه منّة

Tidaklah ada seseorang yang menyentuh tinta, kecuali disitu ada jasa Imam Syafi’i”

Kita mengenal Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris bin Syafi’, wafat 820 M) sebagai tokoh besar pendiri madzhab yang saat ini sedang kita anut, madzhab syafi’iyyah. Salah satu madzhab terbesar yang hingga kini masih bertahan. Beliau membangun pondasi-pondasinya lebih dari seribu tahun lalu, dan hingga kini masih tetap kokoh berdiri. Nama Imam Syafi’i  begitu tenar tidak hanya sebatas itu, beliau memiliki catatan keilmuan dan riwayat yang “sulit ditiru” oleh generasi-generasi selanjutnya. Tapi dibalik itu, jauh sebelum beliau terkenal dengan penguasaan fikihnya, dulu justru beliau lebih tertarik pada disiplin gramatika. Seni tentang bahasa Arab, literatur, sejarah bangsa-bangsa Arab, dan tentu saja, syair. Beliau terkenal sangat fasih, dan menjadi rujukan banyak orang tidak hanya dalam masalah fikih saja, namun jika ada kemusykilan tentang gramatika, bertanya kepada Imam Syafi’i adalah pilihan yang tepat. “Bahkan imam Malik saja kagum akan bacaan beliau, karena beliau orang yang sangat fasih”, komentar Imam Ahmad bin Hanbal kala Imam Syafi’i kecil membaca kitab Al-Muwatho’ langsung dihadapan penyusunnya, Imam Malik bin Anas.

Imam Syafi’i dikenal sebagai salah satu ulama besar yang paling hebat mengolah kata-kata lewat syair. Syair-syairnya khas, tidak seperti kebanyakan penyair tulen lain. Kita mungkin tak akan pernah menemukan syair-syair Imam Syafi’i yang bercerita tentang alangkah indahnya hidup didunia ini, atau tentang tema apapun yang agak “pendek renungan”. Namun kita lebih bisa temukan untaian syair beliau sebagai orang yang memiliki sarat keilmuwan, sarat hikmah dan teladan. Kebanyakan syair beliau, yang terkodifikasikan, berbicara tentang budi pekerti, adab, dan nasihat-nasihat.

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرورٌ ** ولاَ بؤسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ

Tak ada kesedihan yang kekal, tak ada pula kebahagiaan yang abadi. Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya, demikian halnya dengan kemakmuran.

Bahkan sampai akhir hayatnya, tatkala Imam Muzani muridnya datang berkunjung, beliau kala itu masih terbaring sakit diatas tempat tidur. Imam Syafi’i menyampaikan sebuah harapan, dan pengakuan. Dalam bentuk syair,

إلـيــك إلـــه الـخـلـق أرفــــع رغـبـتــي # وإن كـنـتُ يــا ذا الـمــن والـجــود مـجـرمـا
ولـمــا قـســا قـلـبـي وضـاقــت مـذاهـبــي # جـعـلـت الـرجــا مـنــي لـعـفـوك سـلـمــا
فـمـا زلــتَ ذا عـفـو عــن الـذنـب لــم تـزل # تــجــود و تـعــفــو مــنـــة وتـكــرمــا
ألــســت الــــذي غـذيـتـنـي وهـديـتـنــي # ولا زلــــت مـنـانــا عــلـــيّ ومـنـعـمــا
عـسـى مــن لــه الإحـســان يـغـفـر زلـتــي # ويـسـتــر أوزاري ومــــا قــــد تـقــدمــا

Kupersembahkan kepada-Mu Tuhan sekalian makhluk akan harapanku. Sekalipun aku seorang yang berdosa wahai yang Maha Pemberi dan Maha Pemurah.

Bilamana keras hatiku dan terasa sempit perjalanan hidupku, kujadikan rayuan dariku sebagai jalan untuk mengharapkan ampunan-Mu

Bilamana Engkau yang memiliki ampunan menghapuskan dosa yang terus menerus ini. Karunia-Mu dan ampunan-Mu adalah merupakan rahmat dan kemuliaan.

Bukankah Engkau yang memberi aku makan serta hidayah kepadaku. Dan janganlah Engkau hapuskan karunia, anugerah dan nikmat itu kepadaku.

Semoga orang yang memiliki ihsan mengampunkan kesalahanku. Dan menutup dosa-dosaku serta setiap perkara yang telah lalu.

Imam Syafi’i kecil memang memiliki ketertarikan akan bahasa Arab. Jauh sebelum rihlah ilmiahnya “benar-benar dimulai”. Ketertarikan ini menjadikan sebuah motivasi besar untuk beliau lebih menguasai bahasa tersebut. Imam Syafi’i kecil bahkan sampai tinggal sementara waktu di pemukiman Bani Hudzail. Suku yang kemampuan berbahasa Arabnya masih sangat asli. Belum tercampur oleh dialek-dialek asing. Pada akhirnya, ketertarikan inilah yang kelak menjadi bekal penting beliau kala menjadi tokoh mujtahid, untuk menggali hukum-hukum islam langsung lewat Alquran dan Al-Hadis. Sebuah kapasitas yang memang hanya dicapai oleh orang-orang yang juga mengerti betul apa itu bahasa Arab.

Menurut cerita Mus’ab bin Abdullah Al-Zubairi, tatkala Imam Syafi’i kecil, yang saat itu telah mahir dan terbiasa mengolah syair naik kendaraan bersama seseorang, Imam Syafi’i kecil menyenandungkan sebuah syair. Dan tak disangka-sangka, tiba-tiba orang dibalik Imam Syafi’i kecil tadi justru memukulnya dengan cambuk.

Orang sepertimu, hilanglah harga dirinya melakukan hal-hal seperti ini.” Kata orang tersebut. Tentu maksudnya, adalah kegemarannya akan bersyair. “Kemana saja kamu tidak belajar fikih!

Kata-kata dan pukulan itu tidak hanya menggetarkan tubuh Imam Syafi’i. namun menggoyahkan batinnya. Ia tertegun dan mulai merenung, untuk mengalihkan minatnya.

Lalu semenjak saat itu, tersebutlah riwayat-riwayat masyhur tentang beliau. Beliau mulai berguru kepada para ulama dan mulai mendalami ilmu fikih. Menurut cerita, beliau telah hafal Alquran diusai yang masih sangat belia. Tujuh tahun, menurut cerita. Tak hanya sampai disitu, beliau juga hafal kitab Al-Muwatho’ diusianya yang ke sepuluh. Kitab setebal itu dihafal hanya dalam waktu tidak sampai sepuluh hari.

Pengakuan muncul dari berbagai kalangan. Semua mengakuinya. Imam Syafi’i adalah tokoh besar. Namun yang kita tahu hanya sekilas, beliau pakar fikih. Ternyata, beliau juga memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa. “Dialah Imam Syafi’i, hujjah dalam bahasa Arab dan ilmu-ilmu sejenisnya. Imam Syafi’i telah belajar bahasa Arab hingga sepuluh tahun,bersama dengan kenyataan kalau beliau adalah orang yang baligh dan fasih. Orang yang terlahir dengan lisan Arab.” Puji Imam Nawawi.