Category Archives: Artikel

Imam Syafi’i; Tokoh Fikih dan Bahasa

ما مسّ أحد محبرة إلا وللشافعي فى عنقه منّة

Tidaklah ada seseorang yang menyentuh tinta, kecuali disitu ada jasa Imam Syafi’i”

Kita mengenal Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris bin Syafi’, wafat 820 M) sebagai tokoh besar pendiri madzhab yang saat ini sedang kita anut, madzhab syafi’iyyah. Salah satu madzhab terbesar yang hingga kini masih bertahan. Beliau membangun pondasi-pondasinya lebih dari seribu tahun lalu, dan hingga kini masih tetap kokoh berdiri. Nama Imam Syafi’i  begitu tenar tidak hanya sebatas itu, beliau memiliki catatan keilmuan dan riwayat yang “sulit ditiru” oleh generasi-generasi selanjutnya. Tapi dibalik itu, jauh sebelum beliau terkenal dengan penguasaan fikihnya, dulu justru beliau lebih tertarik pada disiplin gramatika. Seni tentang bahasa Arab, literatur, sejarah bangsa-bangsa Arab, dan tentu saja, syair. Beliau terkenal sangat fasih, dan menjadi rujukan banyak orang tidak hanya dalam masalah fikih saja, namun jika ada kemusykilan tentang gramatika, bertanya kepada Imam Syafi’i adalah pilihan yang tepat. “Bahkan imam Malik saja kagum akan bacaan beliau, karena beliau orang yang sangat fasih”, komentar Imam Ahmad bin Hanbal kala Imam Syafi’i kecil membaca kitab Al-Muwatho’ langsung dihadapan penyusunnya, Imam Malik bin Anas.

Imam Syafi’i dikenal sebagai salah satu ulama besar yang paling hebat mengolah kata-kata lewat syair. Syair-syairnya khas, tidak seperti kebanyakan penyair tulen lain. Kita mungkin tak akan pernah menemukan syair-syair Imam Syafi’i yang bercerita tentang alangkah indahnya hidup didunia ini, atau tentang tema apapun yang agak “pendek renungan”. Namun kita lebih bisa temukan untaian syair beliau sebagai orang yang memiliki sarat keilmuwan, sarat hikmah dan teladan. Kebanyakan syair beliau, yang terkodifikasikan, berbicara tentang budi pekerti, adab, dan nasihat-nasihat.

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرورٌ ** ولاَ بؤسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ

Tak ada kesedihan yang kekal, tak ada pula kebahagiaan yang abadi. Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya, demikian halnya dengan kemakmuran.

Bahkan sampai akhir hayatnya, tatkala Imam Muzani muridnya datang berkunjung, beliau kala itu masih terbaring sakit diatas tempat tidur. Imam Syafi’i menyampaikan sebuah harapan, dan pengakuan. Dalam bentuk syair,

إلـيــك إلـــه الـخـلـق أرفــــع رغـبـتــي # وإن كـنـتُ يــا ذا الـمــن والـجــود مـجـرمـا
ولـمــا قـســا قـلـبـي وضـاقــت مـذاهـبــي # جـعـلـت الـرجــا مـنــي لـعـفـوك سـلـمــا
فـمـا زلــتَ ذا عـفـو عــن الـذنـب لــم تـزل # تــجــود و تـعــفــو مــنـــة وتـكــرمــا
ألــســت الــــذي غـذيـتـنـي وهـديـتـنــي # ولا زلــــت مـنـانــا عــلـــيّ ومـنـعـمــا
عـسـى مــن لــه الإحـســان يـغـفـر زلـتــي # ويـسـتــر أوزاري ومــــا قــــد تـقــدمــا

Kupersembahkan kepada-Mu Tuhan sekalian makhluk akan harapanku. Sekalipun aku seorang yang berdosa wahai yang Maha Pemberi dan Maha Pemurah.

Bilamana keras hatiku dan terasa sempit perjalanan hidupku, kujadikan rayuan dariku sebagai jalan untuk mengharapkan ampunan-Mu

Bilamana Engkau yang memiliki ampunan menghapuskan dosa yang terus menerus ini. Karunia-Mu dan ampunan-Mu adalah merupakan rahmat dan kemuliaan.

Bukankah Engkau yang memberi aku makan serta hidayah kepadaku. Dan janganlah Engkau hapuskan karunia, anugerah dan nikmat itu kepadaku.

Semoga orang yang memiliki ihsan mengampunkan kesalahanku. Dan menutup dosa-dosaku serta setiap perkara yang telah lalu.

Imam Syafi’i kecil memang memiliki ketertarikan akan bahasa Arab. Jauh sebelum rihlah ilmiahnya “benar-benar dimulai”. Ketertarikan ini menjadikan sebuah motivasi besar untuk beliau lebih menguasai bahasa tersebut. Imam Syafi’i kecil bahkan sampai tinggal sementara waktu di pemukiman Bani Hudzail. Suku yang kemampuan berbahasa Arabnya masih sangat asli. Belum tercampur oleh dialek-dialek asing. Pada akhirnya, ketertarikan inilah yang kelak menjadi bekal penting beliau kala menjadi tokoh mujtahid, untuk menggali hukum-hukum islam langsung lewat Alquran dan Al-Hadis. Sebuah kapasitas yang memang hanya dicapai oleh orang-orang yang juga mengerti betul apa itu bahasa Arab.

Menurut cerita Mus’ab bin Abdullah Al-Zubairi, tatkala Imam Syafi’i kecil, yang saat itu telah mahir dan terbiasa mengolah syair naik kendaraan bersama seseorang, Imam Syafi’i kecil menyenandungkan sebuah syair. Dan tak disangka-sangka, tiba-tiba orang dibalik Imam Syafi’i kecil tadi justru memukulnya dengan cambuk.

Orang sepertimu, hilanglah harga dirinya melakukan hal-hal seperti ini.” Kata orang tersebut. Tentu maksudnya, adalah kegemarannya akan bersyair. “Kemana saja kamu tidak belajar fikih!

Kata-kata dan pukulan itu tidak hanya menggetarkan tubuh Imam Syafi’i. namun menggoyahkan batinnya. Ia tertegun dan mulai merenung, untuk mengalihkan minatnya.

Lalu semenjak saat itu, tersebutlah riwayat-riwayat masyhur tentang beliau. Beliau mulai berguru kepada para ulama dan mulai mendalami ilmu fikih. Menurut cerita, beliau telah hafal Alquran diusai yang masih sangat belia. Tujuh tahun, menurut cerita. Tak hanya sampai disitu, beliau juga hafal kitab Al-Muwatho’ diusianya yang ke sepuluh. Kitab setebal itu dihafal hanya dalam waktu tidak sampai sepuluh hari.

Pengakuan muncul dari berbagai kalangan. Semua mengakuinya. Imam Syafi’i adalah tokoh besar. Namun yang kita tahu hanya sekilas, beliau pakar fikih. Ternyata, beliau juga memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa. “Dialah Imam Syafi’i, hujjah dalam bahasa Arab dan ilmu-ilmu sejenisnya. Imam Syafi’i telah belajar bahasa Arab hingga sepuluh tahun,bersama dengan kenyataan kalau beliau adalah orang yang baligh dan fasih. Orang yang terlahir dengan lisan Arab.” Puji Imam Nawawi.

Tabayun di Era Literasi Digital

Oleh: HM. Abdul Muid Shohib*

Sejarah mencatat, betapa saat datang, ajaran Islam terbukti mampu menyatukan suku-suku di kawasan jazirah Arab, yang notabene tradisi, watak dan budayanya keras, kaku, kerap kali berseteru dan juga suka berperang. Pola pikir primitif seperti ini menyebabkan zaman itu disebut sebagai zaman jahiliyah.

Islam datang dan menyatukan mereka dalam sebuah ikatan persaudaraan luhur yang seakidah dan sekeyakinan. Hal itu sebagaimana dikatakan dalam Alquran QS. Ali Imran 103: Dan berpeganganlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai. Dan ingatlah nikmat Allah, di saat kalian saling bermusuhan, kemudian Dia mendamaikan diantara hati kalian, lalu dengan nikmat-Nya kalian bersaudara.”

Tali persaudaraan inilah yang seharusnya mengikat kaum muslimin dibawah naungan panji Islam. Dan tali persaudaraan inilah yang juga seharusnya menjadi ruh penyemangat kita dalam meniti berliku-likunya jalan kehidupan dengan tetap berpegangan pada sendi-sendi ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Namun, layaknya sebuah etape dan episode perjalanan hidup, sekaligus sebagaimana lumrahnya dinamika dalam sebuah komunitas masyarakat, akan selalu terjadi riak-riak kecil, bahkan mungkin juga gelombang besar yang menguji kokohnya bangunan bahtera kehidupan.

 Jurnalisme Gosip

Dalam konteks kehidupan terkini, riak-riak kecil itu antara lain, sebagaimana yang kita alami saat ini,  disebabkan oleh fenomena merebaknya informasi tak bertanggung jawab dari kalangan fasik atau orang-orang yang taat beribadah.

Alquran, jauh hari sudah mengingatkan dalam Surat Al-Hujurat: 6; Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Sejarah pada awal generasi Islam pun juga selayaknya bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua. Betapa akibat kecerobohan dalam menyikapi sebuah informasi, terjadilah kegoncangan hebat dikalangan kaum muslimin saat itu. Yakni haditsul ifki, gosip yang melanda ummul mukminin Sayyidah Aisyah ra.

Maka, dalam konteks hubungan keumatan dalam tubuh kaum muslimin saat ini, demikian pula dalam proses pendewasaan diri dalam berbangsa dan bernegara dewasa ini, sekaligus sebagai upaya untuk melawan berita palsu, fitnah, dan juga hoax, perlu dan bahkan penting dikembangkan tradisi tabayun atau klarifikasi dalam setiap informasi yang berkembang di masayarakat. Jikalau ada informasi negatif tentang diri dan kepribadian orang atau pihak lain, terlebih lagi sesama muslim, maka prinsip husnudzan atau praduga tak bersalah harus menjadi pijakan awal dalam menyikapinya, sebelum kemudian melakukan tabayun.

Tajassus

Hal lain yang juga harus diwaspadai di era digital ini adalah tajassus, atau mencari-cari kesalahan orang lain, dan juga ghibah atau menggunjing. Keduanya, baik tajassus ataupun ghibah memiliki kadar bahaya yang sangat tinggi. Terlebih di era informasi yang jumlahnya sudah sangat tak terbatas seperti saat ini.

Demi ihwal tajassus dan juga ghibah ini, Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Hujurat : 12)

 Tatkala prasangka buruk dilarang oleh Allah swt., bukan berarti seseorang diharuskan mencari kepastian tentang kebenaran dari berita tersebut, yang ujungnya akan melahirkan tajassus, atau mencari-cari kesalahan orang lain. Jika berita yang beredar tak membutuhkan tabayyun atau klarifikasi dikarenakan terkait privasi seseorang, maka tak perlu antar sesama saling mencari-cari kesalahan. Justru kita diperintahkan untuk menutupi aib atau kesalahan pribadi orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan orang lain atau kepentingan umum.

 Lebih dari itu, ihwal ghibah atau menggunjing, Imam An-Nawawi mengkategorikannya dalam dosa besar. Dalam surat Al-Hujurat di atas, dimetaforkan bahwa menggunjing terhadap saudara seiman sama halnya dengan memakan daging saudaranya tersebut dalam keadaan mati. Jikalau seseorang dipotong dagingnya pastilah ia akan merasa kesakitan yang luar biasa. Bukankah akan lebih sakit lagi jika ia dipotong kehormatannya.

Watak tajassus dan ghibah ini sangat berbahaya jika menjangkiti media pemberitaan. Media sudah tidak akan mengabarkan berita dan informasi yang jernih dan proporsional. Produk yang lahir dari watak media yang seperti ini adalah jurnalisme gosip.

Formula Ishlah

Jikalau memang terjadi perselisihan, sudah semestinya perselisihan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut. Harus segera diupayakan jalan ishlah atau perdamaian di antara keduanya. Karena sesama muslim adalah bersaudara. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”(QS. Al-Hujurat : 10)

Jalan ishlah akan lapang terbuka, jika masing-masing pihak mengedepankan sikap saling mengalah, dan mencari titik temu di antara dua kepentingan yang menjadi pangkal sengketa. Hal tersebut akan terwujud jika masing-masing pihak tidak mencela, mengolok-olok dan menganggap rendah pihak lain. Serta dia tidak merasa tinggi diri dan paling benar, apalagi paling baik di hadapan Allah SWT.

Jika sikap tinggi diri atau sombong ini telah mewarnai kesadaran seseorang, maka disadarai atau tidak, hal inilah yang akan menjadi titik tolak awal sebuah kehancuran. Sebagaimana pula Iblis terlaknat oleh Allah dan terusir dari surga akibat sikap tinggi dirinya terhadap Nabi Adam as.

Imam Al-Ghazali pernah menyatakan bahwa terhadap siapapun, kita tak selayaknya menyombongkan diri. Karena kita tidak akan tahu dengan keadaan bagaimana hidup kita berakhir, husnul khatimah-kah, ataukah su’ul khatimah? Tetap dalam keimanan-kah, ataukah berakhir tanpa membawa iman? Pertanyaan sekaligus pernyataan yang harus benar-benar kita renungkan dalam-dalam.

Walhasil, di era pergunjingan, fitnah, dan juga bertebarnya berita hoax seperti saat ini, yang perlu kita kedepankan adalah sikap waspada sekaligus tetap selektif dan verifikatif terhadap setiap informasi yang kita terima. Ketiga usaha tersebut menurut penulis merupkan bagian penting dari literasi media sosial. Wallahua’alam.

*Pengabdi di PP. Lirboyo, Wakil Ketua DPRD Kota Kediri Jawa Timur

Baca juga:
DEMI INFORMASI GLOBAL, PENTINGKAH TABAYUN?

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# TABAYUN DI ERA LITERASI DIGITAL
# TABAYUN DI ERA LITERASI DIGITAL

Cerdas Berdakwah

Islam memiliki caranya sendiri untuk menyebar. Ia begitu unik, hingga tak bisa digambarkan mudah. Namun juga tak bisa digambarkan mustahil. Karena islam bisa datang kepada siapa saja, kapan saja. Bagaimana kita dianjurkan memeluk islam, hingga mereka yang tidak peduli dengan seruan ini diancam dengan hukuman pedih dalam bara api neraka? Namun dibalik itu, ada bahasa lain yang agak ‘kontras’; “Tak ada paksaan dalam beragama”. Hingga suatu ketika, seorang sahabat yang memaksa pemeluk agama lain untuk masuk islam ditegur dengan ayat ini, menurut salah satu riwayat.

Demikian pula terjadi pada hadis-hadis nabi. Demikian ia menyebar luas, seolah Nabi masih hidup membimbing kita. Padahal segalanya seolah hanya berawal dari majelis-majelis kecil, halaqah-halaqah yang dihadiri hanya beberapa orang sahabat. Namun kemudian kalam mulia yang dituturkan Rasullullah SAW tersebar dengan sendirinya dari mulut ke mulut. Lalu baru beberapa ratus tahun kemudian, ada inisiatif membukukan cerita-cerita tentang nabi tersebut. Kini kalam mulia beliau ada dimana-mana.

Memang ada cara sendiri untuk berdakwah dan menyerukan islam. Ada metode sendiri yang tidak mudah, dan tidak termaktub dalam buku-buku teori bagaimana untuk menyebarkan islam. Atas kehendak-Nya lah pada akhirnya, cahaya hidayah akan bermuara. Kepada siapapun yang –Ia kehendaki.

 {إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ} [القصص: 56]

Kamu tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang kamu sukai, akan tetapi Allah lah yang memberikan hidayah kepada orang-orang yang –Ia kehendaki.” (QS. Al-Qashas: 56)

 

Berdakwah Dengan Hikmah dan Bertahap

Transformasi dakwah Nabi Muhammad SAW yang tidak secara tiba-tiba mengubah tradisi dan cenderung memakai cara-cara yang santun patut kita jadikan i’tibar. Kita berkaca pada dakwah Nabi Muhammad SAW sebelum diperinahkan secara tegas untuk berperang melawan orang-orang kuffar. Nabi menggunakan dakwah bil hikmah wal mau’idhotil hasnah. Sesuai tuntunan-Nya yang tertera dalam surat An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل: 125)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (Alquran) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menurut riwayat diturunkan ketika paman beliau sahabat Hamzah bin Abdul Muthallib syahid dalam perang uhud. Ketika Nabi bersumpah untuk membalas perbuatan orang-orang kafir yang merusak jasad mulia pamannya dengan balasan berkali-kali lipat, Allah SWT lantas menegur beliau.

Dan kita sadari, islam yang kini telah menjadi agama mayoritas, tidak muncul secara tiba-tiba. Proses panjang dan penyebarannya yang bersejarah, cukup menarik dipelajari para sarjana-sarjana “kekinian”, mengembangkan konsep yang cukup hebat dijadikan acuan dan pedoman merangkul masyarakat. Para da’i-da’i mengembang misi mulia, menyebarkan kebenaran agama islam tanpa upah apapun. Mereka bergerak atas panggilan hati, dan rasa kemanusiaan terhadap saudara-saudara jauh mereka yang belum pernah mendengar nama islam.

Punya sejarah, tentu karena kita juga tak mungkin mengubah tatanan masyarakat yang sudah terlanjur membudaya secara frontal. Dakwah Nabi Muhammad SAW sendiri dahulu juga dilakukan secara bertahap. Pelan tapi pasti, agama baru ini mengalahkan popularitas agama pagan yang lama. Lebih-lebih setelah peistiwa fathul makkah.

Secara umum fase-fase dakwah Nabi dibagi menjadi empat tahapan pokok. Dakwah secara sembunyi-sembunyi, ini dilakukan beberapa saat setelah beliau menerima wahyu pertama. Dakwah secara-sembunyi-sembunyi ini berhasil mengislamkan beberapa puluh orang, yang kelak, banyak diantaranya menjadi tokoh-tokoh penting islam. Sekedar menyebut beberapa nama, seperti Abu Bakar As-Shiddiq, ‘Usman bin ‘Affan, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Tahapan kedua, Nabi mulai berdakwah dengan terang-terangan. Secara luas, beliau mengajak penduduk Mekah untuk memeluk agama islam, dan meninggalkan agama pagan. Menyerukan untuk memurnikan kembali ajaran Nabi Ibrahim AS. Ini setelah turun ayat Alquran, surat Al-Hijr, ayat 94.

{ فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (94) } [الحجر: 94 ]

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Proses ini terus berjalan hingga beliau hijrah ke negeri Madinah. Sementara di Madinah, beliau tetap melanjutkan proses dakwah dengan terang-terangan. Dan di Madinah, cahaya islam yang sudah kuat, membuat Nabi juga mulai mengambil tindakan atas orang-orang yang membangkang, dan memusuhi islam. Beberapa peperangan terjadi, dan penting dicatat, itu dilakukan untuk semata-mata mempertahankan diri. Sebut saja, perang Badar Kubra, dan pertempuran di bukit Uhud. Hingga akhirnya saat perjanjian Hudaibiyyah dilanggar, terjadilah peristiwa besar fathul makkah, yang menandai titik balik kematangan agama islam. Cahaya islam semakin bersinar, menjangkau tempat-tempat yang jauh, hingga negeri Yaman. Saat itulah dakwah islam mencapai puncaknya, saat Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Meneladani Dakwah Nabi Muhammad SAW

Sampai tiga belas tahun, Nabi membiarkan berhala yang terpasang di sekitar Kakbah tetap berdiri. Jumlahnya juga tidaklah sedikit, mencapai 360 buah, hal itu tidak lantas mengganggu ibadah Nabi di tempat suci itu. Beliau seakan tak terusik, dan beribadah seperti biasanya. Padahal, berhala semacam itu mustinya segera dihancurkan. Baru setelah fathul makkah, berhala-berhala itu dihancurkan, dan disingkirkan. Termasuk berhala-berhala yang lokasinya cukup jauh dari Mekah. Semua yang terjangkau tak luput dari upaya pembersihan.

Membutuhkan proses tentunya, agar islam bisa menjadi agama yang besar. Dan membutuhkan perjuangan yang berat pula tentunya.

Syaikh Sa’id Ramadhan Al-Buthy, mengatakan “Tak ada keraguan, sembunyi-sembunyinya dakwah islam di masa-masa awal munculnya agama ini, disebabkan oleh rasa takut beliau akan keselamatannya. Nabi Muhammad SAW ketika mendapat tugas berdakwah, dan diturunkan kepada beliau firman Allah, ‘Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah! Lalu berilah peringatan! (QS. Al-Muddassir: 1-2)’, beliau tahu bahwasanya beliau adalah utusan Allah untuk sekalian manusia. Dan beliau yakin bahwa Tuhan yang mengutusnya dan membebaninya tugas itu MahaMampu untuk menjaga beliau dari ancaman penduduk. Seandainya Allah SWT memerintahkan beliau untuk langsung berdakwah secara terang-terangan, tentu saja beliau akan melakukannya. Meski resikonya adalah kematian[1]

Dakwah tidak melulu harus dilakukan dengan lisan, dakwah lewat tulisan, uswah, teladan, dan cara-cara yang kreatif mutlak diperlukan. Karena kebutuhan dan karakteristik tiap daerah berbeda-beda. “Dakwah bisa dilakukan dengan kata-kata yang dilafalkan, dengan kalam yang dituliskan, atau dengan membuat contoh pribadi sebagai teladan agar diikuti. Dakwah juga terkadang bisa dilakukan dengan beragam wasilah yang indah atau bersifat menakut-nakuti. Bisa mempengaruhi mereka yang menolak dan membenci untuk menerima ajakan, atau justru menolaknya.[2]

Pada akhirnya, dikembalikan kepada diri masing-masing, untuk bijak menyikapi masyarakat. Meskipun hal yang kita sampaikan benar, belum tentu itu mudah diterima, atau mudah dipahami.[]

 

 

[1] Periksa: Fiqh Siroh Nabawi, hal. 69. Cet. Dar Al-Salam, tahun 2015.

[2] Periksa: Fiqh Da’wah Ilallah. Hal 15 jilid 1.

Tragedi Fitnah Muktazilah

Orang kadang tak pernah mengira jika sejarah besar banyak yang hanya bermula dari peristiwa-peristiwa sepele. Jalinan pernak-pernik dalam kehidupan yang sengaja dan tak sengaja kita lewatkan membentuk rangkaian masif tentang alur kehidupan itu sendiri.

Syahdan, Syaikh Washil bin ‘Atho’, seperti biasanya mengaji kepada gurunya, Syaikh Hasan Al-Bashri di masjid Bashrah pada suatu hari. Semuanya baik-baik saja, sampai diskusi rutinan tiba pada sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang hadirin kepada Syaikh Hasan al-Bashri yang sedang memimpin majelis, “bagaimana pendapat Anda tentang pelaku dosa besar?”.

Maklum diketahui, permasalahan itu dahulu agak sensitif untuk diangkat, dari pendapat yang sudah beredar, orang-orang Khawarij menyatakan bahwa pelaku dosa besar jelas kafir. Dan orang-orang Murji’ah menyatakan pendapat sebaliknya. Apa yang salah dari pelaku dosa besar sampai tega-teganya divonis murtad?

Di tengah larut mencari jawaban, Syaikh Washil bin ‘Atho’ yang tidak sepaham dengan pendapat yang ada berdiri dari majelis. Menurutnya, pelaku dosa besar haruslah di tengah-tengah antara beriman dan kafir. Kelak, inilah yang menjadi salah satu dari lima ajaran pokok Muktazilah: al-manzilah bainal manzilatain. Syaikh Washil tak melanjutkan lagi ngajinya kepada sang guru sejak hari itu, dan justru memilih untuk membuat halaqoh baru yang ia pimpin sendiri. Semakin hari majelis Syaikh Washil bin ‘Atha’ semakin mendapatkan simpatisan. Murid-muridnya bertambah, dan pahamnya mulai tersebar luas.

Disadari atau tidak, peristiwa sesaat inilah, konon, yang melatarbelakangi sejarah panjang lahirnya sekte rasionalis Muktazilah. Yang doktrinnya agak mengerikan jika kita tahu. Mereka berhasil selama tiga periode suksesi pemimpin kekhalifahan Bani Umayyah, atau selama kurang lebih empat belas tahun menyebarkan paham khalqul quran. Taringnya cukup kuat hingga ratusan tahun kemudian. Dan Muktazilah tetap merupakan seteru ketat perdebatan yang mendominasi saling bantah dengan kaum Sunni. Sampai pada akhirnya, pengikut-pengikut Muktazilah sekarang sudah terkikis habis, salah satunya mungkin berkat kegigihan ulama-ulama Sunni dalam menentang mereka. Hingga pendapat-pendapat mereka tak akan lagi kita temukan tersebar, kecuali dalam kitab-kitab Sunni yang kontra plus sangkalannya.

Khalifah Al-Makmun mungkin menjadi salah satu orang yang paling berjasa bagi mereka. Orang-orang Muktazilah ‘memperalat’ Khalifah Al-Makmun yang gemar ngaji filsafat, dengan mendorongnya untuk menyebarluaskan paham Muktazilah. Sebuah pendapat yang menjadi salah satu doktrin paling terkenal sepanjang masa, Khalqul Quran. Dan itu terjadi tepat di masa-masa akhir menjelang tahun kematian Al-Makmun. Namun sebenarnya Al-Makmun adalah orang yang taat, hanya saja dia dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya yang berkepentingan. Sampai-sampai ada riwayat bahwa pada akhirnya, ia bertaubat tepat beberapa saat sebelum ajal menjemput.

Semuanya memang baik-baik saja pada masa pemerintahan ayahnya, Harun Al-Rasyid. Karena beliau adalah orang Sunni yang taat. Dan lebih tepatnya mungkin, bisa membatasi diri untuk tidak mudah terbawa arus pemikiran mainstream. Harun Al-Rasyid adalah orang yang cerdas. Mungkin dengan tabiat dari sang ayah ini jualah, Al-Makmun putranya juga jadi gemar mengaji. Hanya saja, orientasinya yang agak berbeda. Dan pergaulannya yang agak salah. Khalifah Al-Makmun dekat dengan orang-orang Muktazilah. Dan mengagumi pemikiran-pemikiran mereka. Ini menjadi senjata dan kesempatan emas bagi sekte yang butuh perlindungan itu. Salah satu yang paling dekat dengan Al-Makmun adalah menterinya sendiri, Ibn Abi Du’ad. Ibn Abi Du’ad sudah seperti menjadi penasihat bagi Al-Makmun. Ditambah lagi, guru Al-Makmun dalam ilmu perbandingan agama, Abu Hudzail al-‘Allaf, adalah seorang Muktazilah seratus persen.

Padahal banyak yang tidak masuk akal dalam ideologi Muktazilah menurut Ahlussunnah. Ada tiga hal yang jelas membuat kaum filsafat kufur, -disebut pada sajak dalam kitab kifayatul ‘awam– hanya karena alasan logis mereka, Tuhan adalah Dzat yang Maha Suci, tak pantaslah bagi-Nya untuk sampai tahu hal-hal kecil sedetil-detilnya. Mengingat betapa hinanya kenyataan yang ada, manusia sering berfikir hal-hal kotor dalam taraf yang sangat-sangat “sunyi”, tak ada yang tahu selain Dia sendiri. Dalam fan tasawwuf kadang dinamakan syirik khaffy. Pendapat ini dilanjutkan oleh para pembela Ahlussunnah yang gigih, disangkal mati-matian dengan rumusan bahwa Allah SWT punya sifat ‘ilmu yang tanpa batas. Qidamul ‘alam? Alam semesta adalah qadim, kata orang-orang filsafat. Hanya karena alasan logis, jika alam semesta ibarat cincin, dan penciptanya ibarat jemari, maka cincin akan selalu bergerak sama dengan jemari.

Filsafat adalah fan yang digemari Al-Makmun. Buku-buku ia susah payah terjemahkan. Segala cara untuk menunjang hobinya. Tentu saja karena dia adalah raja.

Menjadi tren sejak lama jika setiap kelompok pasti punya identitas untuk membesarkan namanya. Dulu orang-orang gereja punya pendapat tentang Geosentris. Bumi adalah pusat tata suya. Difatwakan kepada jemaat untuk menguji keimanan mereka. Lalu kemudian muncullah Galileo Galilei dengan teori sebaliknya, Heliosentris. Matahari adalah pusat tata surya. Gemparlah seluruh jagat. “Bumi adalah seonggok batu yang tak henti-hentinya berputar dalam sebuah ruang hampa. Mengitari sebuah bintang kelas dua.” Galileo disiksa supaya bungkam dan mencabut kembali pahamnya. Sudah pernah terjadi juga dulu, Khalqul Quran untuk menguji seberapa kuat umat Islam. Seberapa gigih orang-orang Sunni yang secara halus diusir dari tanah airnya untuk tetap bertahan dalam kebenaran. Alkisah, seorang yang paling gagah berani untuk mengakui paham ini adalah tokoh kita, Imam Ibn Hanbal. Beliau salah satu yang terdepan menolak bahwa Alquran adalah makhluk. Sampai putus asa, pemerintah gagal membujuk Imam Ibn Hanbal berkata setuju. Ketika beliau sampai di penjara dan didera puluhan kali, Ibn Hanbal tetap mengatakan Alquran adalah kalam-Nya, bukan makhluk. Teladan bagi kita, ketika yang lain memilih untuk pura-pura mengikuti alur dan permintaan raja, Imam Ibn Hanbal terang-terangan menolak.

Perintah untuk menyebarkan paham ini dikeluarkan dari dekrit yang dikirim ke provinsi-provinsi lain sekitar Baghdad. Daerah-daerah yang masih menjadi daerah kekuasaan Al-Makmun. Dalam sebuah suratnya kepada Gubernur Irak, Al-Makmun menulis, “Kita semua sudah tahu, kebanyakan orang, dari golongan rakyat-rakyat rendahan dan awam tidak punya kapasitas intelektual yang baik. Mereka orang-orang bodoh dan buta untuk tahu hakikat Allah senyata-nyatanya. Akhirnya mereka menyamakan antara Allah dan makhluk-Nya. Dan tetap berpendapat jikalau Alquran qadim dan bukan diciptakan oleh-Nya. Padahal Allah telah berfirman, {إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآناً}, dan setiap yang dijadikan (جَعَلَ) oleh-Nya, pastilah diciptakan-Nya. Seperti dalam firman-Nya, {وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ}”

Artinya kita tahu, Al-Makmun mungkin merasa dirinyalah yang bertanggung jawab dan tak mau disalahkan jika sampai rakyat melakukan dosa terbesar: syirik. Menurut pemahamannya, jika Alquran makhluk, dan sampai ada orang yang menyifati Alquran dengan sifat Qadim-Nya, otomatis orang tersebut telah menyekutukan-Nya dengan mengatakan ada hal lain yang Qadim selain Allah. Kita juga benturkan dengan pemahaman Muktazilah yang mengingkari sifat-sifat ma’ani. Karena kalam adalah sifat ma’ani, maka tidak kaget kalau Muktazilah mengingkari Alquran adalah kalamullah. Mereka lebih cocok dengan pemahaman jika Allah menciptakan kalam seperti halnya Ia ciptakan makhluk lain, bukan Allah bersifat kalam.

Mihnah Alquran berlangsung kurang lebih hingga empat belas tahun. Sampai pada masa kekuasaan Khalifah Al-Mutawakkil, para pejabat pemerintah yang berakidah Muktazilah mulai ditelanjangi dan disingkirkan dari pemerintahan. Era khalifah Al-Mutawakkil mengakhiri muktazilah sebagai faham resmi negara.

Selama masa-masa mihnah Alquran ini, banyak ulama yang kelelahan dan bosan dengan situasi yang bergulir. Muncul anekdot, ‘Ubadah Al-Mudhik1, menghadap khalifah Al-Wastiq yang masih meneruskan paham khalqul quran.
Kata Ubadah, “wahai Amirul Mukminin, semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada tuan.” (Kalimat ini jamak digunakan ketika ada orang yang tertimpa musibah kematian keluarganya).
“Atas kematian apa?” tanya Al-Watsiq.
“Atas kematian Alquran,” jawab Ubadah diplomatis.

“Celakalah engkau. memangnya Alquran bisa mati?”
“Wahai Amirul Mukminin, setiap makhluq pasti mati. Ya Allah!!! Lantas apakah yang nantinya akan dibaca orang-orang dalam salat tarawih?”
Sang Khalifahpun tertegun. “Keluarkan dia! Keluarkan dia!!”

 

 

Bacaan:

Manaqib Aimmah Arba’ah MHM

Syarah Ummul Barohin karya Syaikh Sanusi

Hasiyah Syaikh Dusuqi untuk syarah Ummul Barohin

Kifayatul ‘Awwam

Siyar A’lam Nubala’

Biografi Imam Ibn Hanbal Syaikh Abd Aziz Syinawi

 

1 Menurut versi lain ‘Ubadah Al-Mukhonnas

Senandung Burdah di Bulan Lahirnya Sang Pencerah

Qasidah Burdah; siapa yang tak mengenal kasidah ini? Sering kita dengarkan orang bermunajat, dan memohon doanya terkabul lewat wasilah kasidah ini. Terasa sejuk kala mendengar orang berdoa, lalu menyisipkan bait syair ini dalam doanya;

يِا رَبِّ بِالمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا      ۞     وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الكَرَمِ

Wahai Tuhanku, dengan wasilah Al-Musthafa (Muhammad SAW) sampaikanlah cita-cita kami. Dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Zat Yang Maha Pemurah.

Itu dia, sepenggal syair Qasidah Burdah. Seratus enam puluh syair yang tak pernah lekang oleh waktu. Ia tak rapuh melewati masa, dan tetap disenandungkan dalam berbagai kesempatan; maulid, perayaan, doa, tafakkur, bahkan mengiringi gembala di padang rumputnya.

Penulisnya Imam Al-Bushiri, bernama lengkap Syarîfuddin Abū ‘Abdillāh Muhammad ibn Sa’īd Al-Būsīrī Al-Syadzili (610 H– 695 H/1211 M–1294 M). Beliau menyusun kasidah indah tentang pujian-pujian yang beliau sanjungkan kepada nabi besar Muhammad SAW. Dibagi menjadi sembilan bagian, kasidah ini berkesan mendalam dan sarat sastra. Bagian pertama, beliau mengungkapkan perasaan rindu yang berkecamuk. Rindu yang menjadi-jadi. Beliau tak menyebutkan nama orang yang beliau cintai dan rindukan; Nabi Muhammad SAW. Namun begitu jelas gubahan syair itu adalah cerminan perasaan yang tak menentu karena rindu bertemu nabi.

فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ     ۞     بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ

Bagaimana kau dapat mengingkari cinta, setelah saksai-saksi yang adil menyaksikan deraian air mata padamu, dan jatuh sakitnya dirimu.

Tidak ditujukan kepada siapapun, mungkin kata “engkau” yang dimaksud dalam syair adalah beliau sendiri. Beliau juga mencantumkan pesan-pesan moral pada bagian kedua. Beliau mengingatkan tentang bahaya nafsu. Bahaya musuh dalam selimut yang senantiasa mengancam setiap saat. Beliau menggubah bait ini,

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞     حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Nafsu itu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu dengan senangya. Namun bila kau sapih itu bayi maka ia akan berhenti.

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ       ۞     إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

Maka palingkanlah nafsumu dari kesenangan, takutlah jangan sampai ia memiliki kekuasaan. Sesungguhnya nafsu jika berkuasa akan membunuhmu atau membuatmu cela.

Di bagian-bagian akhir, beliau menyisipkan harapan besar dan doa.

خَدَمْتُهُ بِمَدِيحٍ أَسْتَقِيلُ بِهِ   ۞     ذُنُوبَ عُمْرٍ مَّضٰى فِي الشِّعْرِ وَالنَّدِمِ

Kupuja nabi dengan pujian, kumohon dengan itu ada pengampunan dosa –dosa yang lalu, dalam syair dan sanjungan.

Beliau menjadikan Qasidah Burdah sebagai lantaran, sebuah wasilah. Salah satu harapan; kesembuhan atas penyakit yang beliau derita waktu itu. Kala menulis qasidah ini, beliau memang sedang jatuh sakit. Tak ada seorangpun dokter yang mampu mengobati beliau. beliau hanya mampu terkulai diatas tempat tidur, tanpa mampu berbuat apapun. Beliaupun akhirnya menyusun kasidah ini. Setelah kasidah selesai, beliau bermimpi jumpa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW datang sembari membawakan sebuah selimut bercorak (Burdah), Rasulullah SAW mengusap kepala Imam Al-Bushiri dan menyelimutinya. Secara ajaib penyakit beliau sembuh seketika.

Beliau menceritakan pengalamanya dalam ta’liqat kasidah gubahannya itu, ”Kasidah ini, sebabku mengarangnya adalah, aku terkena penyakit lumpuh. Tidak ada orang yang bisa mengobati penyakitku ini. Saat itu separuh tubuhku tak lagi berfungsi, dan aku bingung dengan keadaanku. Ketika aku telah putus asa, dan dekat sudah kematianku, aku teringat untuk menyusun kasidah yang memuji (Nabi Muhammad SAW) sebaik-baik makhluk. Maka kukuhlah tekadku, dan bulatlah niatku. Aku mulai menyusun (kasidah) untuk memuji Al-Musthafa. Dan aku berharap dengan qasidah ini aku bisa sembuh. Tuhanku menolongku, dan memudahkan aku menggapai tujuanku. Ketika aku berhasil menyelesaikan qasidah ini, aku menjumpai Al-Musthafâ Al-Tihami (Nabi Muhammad SAW). Tangannya yang diberkahi menyentuhku, dan aku sembuh seketika. Sembuh seperti sediakala.

Taka ada salahnya bagi kita, dibulan lahirnya Nabi Muhammad SAW ini, menyanjung beliau. Mengingat lagi kerinduan mendalam yang seharusnya banyak-banyak kita sisihkan untuknya.

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَالِيْ مَنْ أَلُـــوذُ بِهِ     ۞     سِوَاكَ عِنْدَ حُلُولِ الحَادِثِ العَمَمِ

Wahai makhluk paling mulia, tiadalah tempat perlindungan hamba selain engkau tatkala huru-hara kiamat melanda semua manusia

وَلَنْ يَضِيقَ رَسُولَ اللهِ جَاهُكَ بِيْ      ۞     إِذَا الْكَرِيِمُ تَجَلّٰى بِاسْمِ مُنْتَقِمِ

Tiada sempit, wahai Rasulallah keagunganm, karena hamba. Dikala Zat Yang Maha Mulia nampak jelas dengan nama “Maha Penyiksa”.