Category Archives: Artikel

Santri Bicara Nasionalisme

Pembahasan tentang nasionalisme menjadi agak mainstream akhir-akhir ini di pondok pesantren Lirboyo. Menyusul “diturunkannya” as’ilah Bahtsul Masail tingkat pondok oleh Lajnah Bahtsul Masa’il P2L yang membahas tentang isu “Urgensi Bela Negara dan Nasionalisme”. Ya, tema ini sama dengan tema multaqo ulama sufi internasional yang digelar di Pekalongan pertengahan Januari silam. Banyak kajian mewarnai saharul layali, mulai diskusi kecil-kecilan, sampai dalam skala yang agak besar di auditorium Lajnah Bahtsul Masail yang melahirkan banyak gagasan baru. Bahkan yang sedikit menyinggung metode pembelajaran, seperti mungkinkah diskursus tentang nasionalisme dijadikan kurikulum? Kajian ini, diharap masih akan berlanjut, diteruskan lewat seminar-seminar sekala kecil atau menengah di tingkat jam’iyyah far’iyyah maupun wilayah, atau sekala besar seperti jam’iyyah nahdhiyyah. Semua dengan satu tujuan, memahami arti nasionalisme dengan benar, lantas menerapkan teori bela negara sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Lalu disaat banyak negara di timur tengah sedang mengalami krisis, isu tentang nasionalime semakin terangkat. Bukan karena apa-apa, ujung-ujungnya, salah-satu faktor kemunduran sebuah negara juga dilatar belakangi atas kurangnya semangat nasionalisme. Indonesia masih tetap bersatu dan hidup sejahtera, salah satunya karena banyak yang memahami “arti sebuah negara” bukan dalam konteks politik dan carut marut kekuasaan, namun nilai positifnya.

Nasionalisme Bersejarah

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari internal maupun eksternal.1

Nasionalisme dulu banyak digiatkan oleh para ulama dan tokoh masyarakat di zaman penjajahan Belanda. Salah satu tokoh nasionalisme adalah al-‘allamah syaikh Nawawi Banten. Beliau disebut-sebut sebagai motor penggerak nasionalisme untuk mempertahankan bumi pertiwi lepas dari cengkeraman penjajah. Sepulang beliau menuntut ilmu, beliau melihat banyak praktik ketidak ailan yang merebak di Banten. Banyak penindasan dan kesewenang wenangan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Mengamati hal tersebut, beliau melakukan “ekspedisi” mengelilingi kota Banten dengan tujuan mengobarkan semangat nasionalisme melawan penjajah. “Pada masa mudanya, dia (Syaikh Nawawi) sering mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotisme ddikalangan rakyat Indonesia.” Begitulah kira-kira pengakuan Dr. Snouck Hourgronje, salah satu tokoh sentral Belanda. Salah satu figur lain yang tak kalah populer menggiatkan spirit nasionalisme adalah hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menggelorakan semangat rakyat untuk cinta dan membela tanah air dengan mengeluarkan resolusi jihad, “jangan pernah menyerah kepada pasukan sekutu!”.

Nasionalisme bukan barang baru, meski digiatkan pada awalnya untuk meraih cita-cita mulia bebas dari jajahan negara asing, nasionalisme di masa kini masih perlu, untuk setidaknya mempertahankan diri. Membangun kualitas menuju sebuah negara yang besar.

Urgensi Nasionalisme

Dalam tafsir mafatihul ghaib, karya besar imam Fakhr Al-Razy, ulama asal Ray Persia, beliau mengomentari tentang sirr, rahasia do’a yang dipanjatkan Nabi Ibrahim AS. Dan diabadikan dalam Alquran surat Albaqoroh ayat 126,

{125) وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (126)}

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali“.

Ada tujuh hal yang dipanjatkan Nabi Ibrahim AS dalam doanya, dan beliau mengawalinya dengan doa agar tempat yang sedang beliau tempati sementara itu semoga diberi limpahan kesejahteraan. Rabbi ij’al hâdzâ al-balad âminâ, tuhanku semoga senantiasa engkau jadikan negriku aman sentosa. “Mengawali doa dengan meminta nikmat kesejahteraan dalam doa tersebut menunjukkan bahwasanya nikmat kesejahteraan suatu daerah adalah salah satu nikmat terbesar. Dan kemaslahatan agama dan dunia tak akan tercapai kecuali dengan adanya kesejahteraan tersebut.” Tulis imam Fakhr Al-Razy2.

Pentingnya nasionalisme dapat kental kita rasakan dengan hasil akhir yang dapat kita kecap kemudian. Negara yang maju. kuat dan sejahtera. Tentu jika sudah memiliki tanah air yang nyaman, apapun yang akan kita kerjakan disana akan berjalan stabil. Yang pada akhirnya orang dapat beribadah dan bermasyarakat dengan tenang, sebagai wujud islam agama yang rahmatan lil’alamin.

Nabi Muhammad SAW “mencontohkan” semangat nasionalisem dengan rumusan Piagam Madinah. Piagam pemersatu penduduk Yatsrib ini dijadikan acuan untuk mempertahankan dan membangun kota Yatsrib di kemudian hari. Salah satu poin menyepakati persatuan seluruh warga Yatsrib, “Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.”(Pasal 25) Tidak pandang bulu, siapapun harus menyediakan diri bahu-membahu jika kota Yatsrib dalam keadaan “gawat” diserang musuh. Atau bunyi pasal pertama, “Mereka -mukmin Yatsrib dan Quraisy- adalah satu kesatuan.

Nasionalisme Santri

Sulit rasanya membayangkan “nasionalisme santri” dengan definisi yang formal. Santri terbiasa dididik dengan lingkungan syar’i yang mencerminkan aturan-aturan baku rumusan ulama-ulama terdahulu. Hukum-hukum fiqh yang dipelajari santri dalam kitab-kitab kuning, apalagi ketika merambah bab-bab siyasah (politik), dan jinayah (pidana), sekarang seperti sudah “tidak diberlakukan” lagi di Indonesia. Orang mencuri tidak lagi dipotong tangan, namun cukup dipenjara. Orang merampok dan membunuh korbannya tidak lagi di”pertontonkan” dan dibiarkan terlantar di pinggir jalan. Kadang hal ini menimbulkan sikap “salah faham” motifasi untuk mendirikan negara islam. Atau justru sebaliknya, menyerah begitu saja pada keadaan tanpa melakukan kajian apapun dan tak mengambil sikap apapun. Penting bagi pelajar yang akrab dengan kitab turats, untuk meneguhkan semangat nasionalisme, agar bisa mempraktikkan “apa yang mereka dapat” dengan tepat. Sehingga harus digiatkan untuk membagi nasionalisme santri dalam dua skala prioritas. Konsep hidup bernegara, dan konsep hidup beragama. Konsep hidup bernegara melahirkan sikap menyetujui NKRI, dan empat pilar sebagai sebuah landasan. Sementara konsep hidup beragama adalah menyelaraskan antara syari’at yang dipelajari dengan negara memakai cara yang tepat. Tidak salah mengambil sikap. Hingga akhirnya mudah ikut terbawa gagasan-gagasan yang tidak benar.

Santri bukannya tidak dapat mengambil peran apapun dalam kancah membangun nasionalisme, justru perannya menjadi vital, karena selain sebagai roda, juga berperan membangun sisi lain sebuah negara, dari bidang yang dikuasainya. Keagamaan. Mengarahkan nasionalisme dengan nafas islami.

Konferensi Ulama di Pekalongan

Beberapa waktu lalu, tepatnya 15 Januari 2016 M, di Pekalongan digelar sebuah konferensi besar, dengan tajuk “BELA NEGARA: Konsep dan Urgensinya dalam pandangan islam”. Konferensi ini dihadiri ulama-ulama berskala internasional. Ada tujuh orang ulama besar yang hadir waktu itu, seperti Maulana Habib Luthfi bin Yahya, selaku Rais ‘Am Jam’iyyah Ahlutthoriqih Al-Mu’tabaroh Al-Nahdhiyyah, Dr. Syaikh ‘Adnan Al-Afyuni, selaku mufti syafi’iah di Suriah, Dr. Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani, selaku direktur lembaga penelitian Al-Jailani Turki, dan lain sebagainya. Konferensi ini menyepakati sembilan poin penting. Diantaranya,

  1. Negara adalah tempat tinggal dimana agama diimplementasikan dalam kehidupan.
  2. Bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak akan terwujud.
  3. Bela negara adalah dimana setiap warga negara merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.
  4. Bela negara merupakan kewajiban seluruh elemen bangasa sebagaimana dijelaskan alquran dan hadis.
  5. Bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhaniyyah dengan bimbingan para ulama.
  6. Bela negara tidak terbatas melindubgi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik pertanian, sosial budaya, dan teknologi informasi.
  7. Bela negara menolak adanya terorisme, radikalisme, dan ekstrimisme yang mengatas namakan agama.
  8. Untuk mewujudkan bela negara, dibutuhkan empat pilar. Yaitu ilmuwan, pemerintah dengan yang kuat, ekonomi, dan media.
  9. Menjadikan Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari islam rahmatan lil ‘alamin.

Dalam pidatonya, Syaikh ‘Adnan yang merupakan mufti di Damaskus menyampaikan alangkah pentingnya bela negara. Kenapa dan untuk apa pada akhirnya seseorang membela negaranya. “Ketika seseorang negaranya porak poranda, mengalami kehancuran, menjadi rebutan kuasa-kuasa asing hingga menjadi medan perang yang sengit, dan tak ada yang tersisia, maka ia akan mengetahui betapa pentingnya sebuah negara. Tatkala seseorang melihat saudara-saudara sebangsaanya berlarian tercerai beraidi berbagai belahan dunia, mencari-cari makanan dengan penuh kehinaan, tidur beralaskan ketidak berdayaan,dan sehari-hari mengunyah kepahitan serta menahan kesabaran, maka ia akan memahami dan menyadari bagaimana nilai pentingnya sebuah negara.” Kata beliau.

Menghayati Cinta Tanah Air

Nasionalisme dan cinta tanah air hampir merupakan sinonim.  Jika nasionalisme dapat kita artikan sebagai kesadaran rasa tanggung jawab dan kebanggaan akan sebuah negara, maka hubbul wathon, cinta tanah air dapat kita artikan sebagai kesadaran untuk membangun tanah kelahiran yang kita tempati sesuai dengan profit yang kita miliki. Sebagamana diungkapkan Sayyid Muhammad “Memanifestasikan jiwa, harta, keahlian positif, pengalaman, dan apapun sumbangsih yang bisa kita berikan3

Ketika Nabi Muhammad SAW hendak berhijrah menuju Madinah, beliau menatap kota Mekah sejenak. Dalam hadisnya yang terkenal, beliau bersabda,

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، ثنا طَلْحَةُ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أُخْرِجَ مِنْ مَكَّةَ: «إِنِّي لَأَخْرُجُ مِنْكِ وَإِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكِ أَحَبُّ بِلَادِ اللَّهِ إِلَيْهِ , وَأَكْرَمُهُ عَلَى اللَّهِ , وَلَوْلَا أَنَّ أَهْلَكِ أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا خَرَجْتُ مِنْكِ

مسند الحارث = بغية الباحث عن زوائد مسند الحارث (1/ 460)

Aku telah diusir darimu, dan aku tahu, engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai. Dan yang paling mulia di sisi-Nya. Andaikan pendudukmu tak mengusirku, niscaya aku tak akan keluar meninggalkanmu. ” (Musnad Al-Haris)

Rasa cinta beliau nabi akan tanah airnya begitu besar. Nabi Muhamad SAW menjadikan Kota Mekah dan Madinah menjadi tanah haram. Tanah yang dimuliakan. Pepohonannya tidak boleh ditebang sembarangan, hewan-hewan yang hidup disana tidak boleh seenaknya diburu, bahkan rumputpun tidak boleh sesuka hati dicabut.

Lalu sesampainya di Madinah, Nabi Muhammad SAW berdoa,4

– وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ ” «لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمَدِينَةَ وُعِكَ أَبُو بَكْرٍ وَبِلَالٌ، فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا وَانْقُلْ حُمَّاهَا فَاجْعَلْهَا بِالْجُحْفَةِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Setibanya rasulullah SAW ke kota Madinah, Abu Bakar dan Bilal jatuh sakit. Kemudian aku mendatangi beliau, dan memberitahukan kepada beliau keadaan mereka. Kemudian beliau bersabd:’Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta kami kepada kota Madinah. Seperti halnya cinta kami kepada kota Mekah atau bahkan tumbuhkanlah rasa cinta yang lebih dahsyat kepada Madinah. Sehatkanlah. Berkahilah sho’ dan mudnya. Pindahkanlah demam disana, menuju negri Juhfah.’”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Lantas Apa?

Setelah sekilas pengertian, strategi penerapan bela negara sangat banyak. Dr. Wahabah Zuhaily dalam fiqhul islamnya5 membagi upaya bela negara ke dalam dua kategori, dari unsur internal dan eksternal. Dari dunsurinternal, ada dua cara, yaitu dengan membangun hal-hal vital, seperti menjaga stabilitas keamanan, mengatur urusan kehakiman dan keadilan, memperbaiki fasilitas umum, dan mempersiapkan angkatan bersenjata agar terbentuk negara yang kuat dan bebas ancaman musuh. Upaya dari dalam selanjutnya, menurut Dr. Wahbah Zuhaily adalah dengan membangun kepentingan daulah islami dan tujuan-tujuan akhirnya, seperti mempersatukan umat, merealisaaikan maqoshidus syari’ah, mencanangkan pembangunan, dan lain sebagainya. Sedangkan upaya konkret bela negara dari luar adalah dengan membangun kehidupan bernegara dengan beragam upaya,  serta upaya penting dari luar dalam rangka kepentingan daulah islami itu sendiri, termasuk diantaranya adalah menjalin kerukunan bersama pemeluk agama lain, dan upaya penyebaran islam dengan sistem mengirim delegasi, atau sistim kreatif lain.

Pada akhirnya, setelah tumbuh semangat nasionalisme, kita dapat dengan sendirinya menjadi bngsa yang mandiri, dan tidak terjajah secara tak kasat mata oleh bangsa lain. Dalam sektor apapun bangsa yang kita tempati dapat maju dan berkembang tanpa mengandalkan uluran tangan negeri lain. Seperti kata imam Nawawi dalam mqaddiimah kitab majmu’nya, “Umat islam harus bisa menjadi produktif dan mandiri dalam kebutuhan-kebutuhannya. Bahkan walau hanya masalah sebatang jarum. Sehingga umat islam tak perlulah mengandalkan bangsa lain. Meskipun tentunya kita tetap butuh bangsa lain untuk pengembangan kreatifitas kita.

 

 

1 https://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme

  1. Tafsir mafatihul ghaib jilid 19. hal 108.

3 Tahliyyah wa Targhib hal. 28

  1. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (5/ 1878)
  2. Fiqhul Islam wa Adillatuh: jilid 8. Hal 405

 

Lihat, Bagaimana Islam Menghargai Budaya

Islam lahir ditengah-tengah bangsa Arab yang punya ikatan kesukuan yang kuat. Satu sama lain saling membenaggakan dan mengunggulkan suku dan jasanya. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi semacam “ikatan rantai kuat”, namun sayang masih terpisah-pisah dan independen.

Baru, setelah agama islam tersebar, nabi Muhammad SAW mengubah semangat kesukuan mereka, diubah menjadi semangat persaudaraan atas nama satuagama, agama islam. Asal masih satu agama, islam, tak ada yang perlu dibeda-bedakan. Setelah tersebarnya islam, tak sedikit orang yang akhirnya mau terang-terangan makan bersama budaknya. Padahal hal tersebut tabu pada masa pra islam. Yang dalam Alquran disebut era jahiliyyah, era kebodohan. Walâ tabarrujna tabarrujal jâhiliyyatil ûlâ.(QS. Al-Ahzab:33)

Bangsa Arab kemudia, secara “ajaib”, hanya beberapa dekade, berhasil berstu dan debgan satu kekuatan menyebarkan islam hingga ke negeri-negeri tetanggga yang jauh.

Sesuai dengan misisnya untuk memurnikan kembali agama hanîf Nabi Ibrahim AS. Wattabi’ millata abîkum Ibrâhîm, yang sudah ternoda dengan beragam perilaku masyarakat Arab yang menyimpang, islam berupaya melepaskan diri dengan segala macam bentuk penyelewengan budaya yang sempat terjadi pada masa Jahiliyyah dengan metode dakwah yang bisa diterima masyarakat beriman. Namun tidak semua budaya bangsa Arab pra islam lantas diberangus dan dihapus begitu saja. Jika masih ada budaya yang tidak mengandung unsur negatif dan bisa dipetahankan,  maka islam akan mempertahankannya. Atau jika “budaya” tersebut melenceng dari asas-asas agama, maka syari’ akan mengubahnya, mengislamkannya menjadi lebih baik. Atau jika sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan karena bertentangan dengan nilai-nilai pokok agama, maka islam akan menghapusnya. Bahkan tak jarang sampai ke “akar-akarnya”. Hal ini seperti diungkapkan imam al-Dahlawi dalam Hujjatul Bâlighah, “Kedatangan Rasul SAW. adalah dengan misi meluruskan norma-norma yang tidak lagi sesuai dengan agama hanîf sambil tetap melestarikan budaya masyarakat Rab yang masih sejalan dengan nilai-nilai islam.”(ᵃ)

Senada dengan hal ini qâdhi ‘iyâdh menyinggung, “demikianlah, Rasulullah SAW memberlakukanumatnya. Agar dapat membantu mereka dalam urusan duniawi.,dan menjauhi hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Meskipun sebenarnya, Rasulullah SAW menemukan pandangan yang lebih baik. Demikian ini juga beliua lakukan dalam urusan agama. Seperti sikap nabi yang memeiarkan orang munafik tetap hidup, padahal beliau lebih tahudan mengerti betul siapa-siapa saja mereka, perseorangannya. Hal tersebut beliau lakukandemi menjaga penilaian negatif bahwa Muhammad juga membunuh pengikutnya. Nabipun tidak merekonstruksi ka;bah sesuai dengan konstruksi nabi Ibrahim AS. Karena menjaga perasaan bangsa quraisy yang baru masuk islam. Khawatir menimbulkan ‘perasaan sentimen mereka terhadap beliau nabi.”(ᵇ)

 

Islam dalam bingkai adaptasi budaya

Banyak contoh terkait dengan wacana adaptasi budaya. Bukan tema yang mudah usang memang, karena bagaimanapun juga, relevansinya masih bisa kita “contoh” sampai sekarang. Paling tidak dalam mengemban misi dakwah menuju arus globalisasi. Ingat semboyan lama jam’iyyah nahdhatul ‘ulama, almuhâfadhoh ‘alal qodîmis shâlih, wal akhdhu bil jadîdil ashlah, mempertahankan hal-hal lama yang positif, dan mengembangkannya dengan inovasi-inovasi yang lebih baik? Setidaknya premis pertama dari motto tersebut, al muhâfadhoh ‘alal qodîmis shâlih adalah mengutip pola dakwah nabi Muhammad SAW dan walisongo. Sudah terlalu banyak cerita yang berkembang di masyarakat tentang walisongo dan budaya jawa. Dimana budaya jawa sukses diadaptasikan dengan nafas islam oleh sesepuh tanah jawa ini, tanpa menyinggung perasaan masyarakat luas.

Jika itu walisongo dan masyarakat jawa, Lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad SAW dan masyarakat Arab?

Seperti sudah disinggung diatas, sikap toleransi Nabi terhadap masyarakat termasuk “satu kunci pendorong” kesuksesan dakwah nabi Muhammad SAW di lingkungan yang keras seperti bangsa Arab. Tentu saja ditambah karakter Nabi yang lemah lembut. Sampai disinggung dalam Alquran,

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘imran:159)

 

Banyak budaya Arab yang dipertahankan, bahkan akhirnya menyebar ke negri-negri “taklukan”. Mereka, banyak orang menafsirinya sebagai arabisasi. Menanamkan budaya Arab, dan mengenalkannya. Dari sini, nampak bahwa arabisasi bukan keharusan sebenarnya. Maka dari itu, walisongo tidak menekankan arabisasi di tanah jawa.

Seperti “konsep lama” KH. Abdurrahman Wahid tentang ide pribumisasi islam di Indonesia, bukan arabisasi islam. Karena Indonesia memiliki budaya sendiri yang sudah mapan dan justru berkesan “tidak enak” jika harus memaksakan impor budaya.

 

Sedikit Sekilas Fiqh dan Budaya

Banyak sekali contoh, jikalau islam mentoleransi budaya setempat, negeri dimana dia lahir. Dalam tamsil kasus berikut, islam mengenalkan pada dunia, bahwa ‘imamah, bersorban adalah ciri khas bangsa Arab pada umumnya. Sayyidina ‘Ali KRW pernah berkata,

’Imamah adalah mahkota bangsa Arab. Para malakikat memakai imamah berwarna putih pada perang badr dan memakai ‘imamah merah pada perang hunain.

Nabi Muhammad SAW tidak melarang orang bersorban, dan cenderung mempertahankannya sebagi kesunahan. Budaya Arab ini, sabda nabi, akan membuat pahala salat yang dilakukan menjadi dilipat gandakan puluhan kali. Satu kali saja salat ber’imamah, akan lebih baik dari pada melakukan hingga dua puluh lima kali salat tanpa ‘imamah.

Sampai-sampai, menurut riwayat dari Imam Nawawi, Nabi Muhammad SAW, yang kita kenal dengan kesederhanaan dan kebersahajaannya, memiliki dua ‘imamah. Yang satu ‘imamah panjang, sekitar dua belas hasta, dan yang lainnya ‘imamah pendek, enam hasta(ᵈ). Padahal Nabi selalu hidup dengan “secukupnya” dan tak berlebih-lebih.

Kemudian dalam Ihya’ Ulumudin,(ᵉ) imam Al-Gahzali berpanjang lebar menjelaskan tentang masalah lihyah, jenggot. Apa hukumnya?  Bagaimana jika kita panjangkan? Bagimana jika kita potong? Jika kita poyonng dengan motif ini, itu, dan sebagainya.  Beliua klarisifikasikan sampai sepuluh hal yang berbeda-beda. Bahkan secara tegas, beliau katakan makruh hukumnya mencabut jenggot tanpa alasan yang jelas.

Memelihara jenggot, satu lagi budaya Arab yang dikenalkan “lewat islam“. Orang Arab, banyak yang memelihara jenggotnya dengan baik, sebagai salah satu simbol atau eksistensi.

Dari Anas bin Malik –pembantu Rasulullah SAW- mengatakan,

Rasulullah SAW bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul di saat beliau berumur empat puluh tahun, lalu tinggal di Makkah selama sepuluh tahun. Kemudian tinggal di Madinah selama sepuluh tahun pula, lalu wafat di penghujung tahun enam puluhan. Di kepala serta jenggotnya hanya terdapat dua puluh helai rambut yang sudah putih.”(ᶠ )

‘Imamah dan jenggot dikenalkan oleh bangsa Arab kepada dunia berkurun-kurun berikutnya. Ditiru, bahkan kemudian dilestarikan salah satunya sebagai upaya menjalankan sunnah nabi.

 

Kemudian dari semua budaya Arab yang ada, ada juga yang diganti dengan yang lebih baik. Bukan lantas serta-merta dihapus sepihak. Seperti sejarah dua hari raya besar umat muslim di seluruh dunia , ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Pada awalnya, dua hari taya ini “ada kaitannya”  dengan dua hari raya kuno bangsa Yatsrib (sekarang Madinah Al-Munawwaroh). Zaman dahulu, umat islam di Madinah memeiliki kebiasaan untuk merayakan tradisi hari besar mereka, mereka menyebutnya Nairûz dan Mahrajân. Kemudian Nabi Muhammad SAW pun bertanya suatu ketika kepada kaum anshâr Madinah.

Nabi; “Hari apakah ini?” (Nairûz dan Mahrajân)

Kaum Anshâr: “Hari dimana kami bermain-main pada era jahiliyyah.”

Nabi: “Allah telah mengganti yang lebih baik untuk kalian. Namanya hari raya ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri.”

Ada hikmah yang besar dalam peristiwa terswbut, dimana kata syaikh ‘Ali bin Ahmad Al-Jurjawi,”Agama islam tidak pernah melarang hari raya umat islam. Mengakuinya apa adanya, namun jika ada penyimpangan dari agama dan adab disana, islam ‘memperindahnya’ dan menyempurnakannya. Jika tidak, maka islam menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”(ᵍ)

 

Diyat akan mengingatkan para sejahrawan, atau pengkaji fan sejarah timur tengah tentang kisah lama tentang “balas dendam” di era jahiliyyah. Diyat adalah bahasa lamayang kemudian dilestarikan dalam islam. Diyat islam memainkan peran yang sama dengan diyat jahiliyyah. Lalu salah satu yang menjadi identitas ada;ah pembayar diyat dalam islam merupakan ahli waris ‘aqilah(ᶦ). Dimana oleh syari’, sisi semangat kesukuan bangsa arab yang bahu membahu membantu terpidana, sang tersangka pembunuhan yang merupakan anggota keluarganya sendiri untuk mencegah pihak keluarga korban mendapatkan haknya diubah menjadi semangat bahu-menbahu untuk membantu menyelesaikan masalah baik-baik, dengan turut serta melunasi tanggungan diyat yang harus dibayar. Lewat sumbangsih unta-unta yang mereka punya tentunya, atu untuk zaman sekarang, qimâh, atau nominalnya. Banyak cerita-cerita tentang diyat pra islam, dimana waktu itu, ada seorang kabilah Gani yang membunuh Syasy bin Zuhair. Maka datanglah Zuhair, ayah korban untuk menuntut balas kepada kabilah Gani. “apa kehendakmu atas kematian Syas?” Zuhair menjawab, “Satu dari tiga hal dan tak bisa diganti. Menghidupkan kembali Syas, atau mengisi selendangku dengan binatang-binatang langit, atau serahkan kepadaku semua anggota kabilah Gani untuk aku bunuh semuanya. Dan sebelum itu, aku belum merasa mengambil sesuatu atas ganti rugi kematian Syas

 

Islam juga mengahpus eksistensi beberapa budaya yang menyimpang secara total. Sejarah diharamkannya khamr, arak adalah kisah yang sangat terkenal dan dijadikan i’tibar bagi tokoh pemimpin dimasa kemudian, dimana untuk menghapus suatu kebiasaan yang mutlak mendarah daging harus bertahap, jika tidak justru akan timbul dua kemungkinan buruk, rakyat yang menolak secara total, atau kegagalan itu sendiri. Alquran “menyindir” khamr dalam empat ayat yang diturunkan bertahap. konon suatu ketika, putra dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 720 ) mengusulkan kepada ayahnya untuk memberantas korupsi secara serempak, tegas, dan tuntas. sang khalifapun berkomentar, “Jika aku mengambil tindakan derastis bahkan untuk maksud baik sekalipun, dan memaksakan hal tersebut kepada orang-orang secara serentaak, aku takut akan terjadi pemberontakan dan kemungkinan bahwa mereka akan menolak serentak juga.

 

Pada Akhirnya

Penting untuk mengetahui batas-batas antara mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang. Untuk kemudian bertransformasi dan membaur dengan budaya yang berkembang. Jika budaya menabrak pakem maka tak ada alasan untuk mempertahankannya. Namun masih ada solusi, mengubahnya agar berjalan sesuai doktrin agama. Karena budaya adalah salah satu unsur terpenting dalam masyarakat, dimana pilar-pilar keteguhan masyarakat terbangun dari keteraturan yang biasanya mereka lakukan. Bahkan menjadi “berdosa” rasanya jika harus meninggalkan tradisi bagi mereka.

Tentu untuk mengenalkan islam yang hakiki kepada mereka butuh strartegi. Raden Syahid, atau Sunan Kalijogo mengubah wayang Purwo yang sebelumnya berupa wayang golek, membuat seni ukir bermotif bunga dan dedaunan yang sebelunya dibuat dengan motif gambar manusia dan hewan. Sunan Kudus merasa enggan untuk menyembelih sapi, bentuk toleransi beliau kepada masyarakat kudus yang semula beragama Hindu. Beberapa bangunan masjid, seperti Masjid Demak, dan Masjid Banten, dibuat meniru arsitektur kuno Majapahit. Kiita belajar kepada walisongo yang menyebarkan islam dengan baik-baik. Bersikap toleran kepada kearifan lokal, hingga dengan sendirinya masyarakat akan penasaran dengan islam itu sendiri.

Akhirnya, kembali kepada kita bagaimana akan bersikap. Mengenalkan islam dengan cara yang baik kepada pemeluk agama lain, agar semakin banyak yang tertarik dan menaruh simpati kepada islam. Mereka dengan sendirinya akan membuat konklusi,bahwa islam adalah agama yang penuh damai dan toleransi. Menjaga kerukunan dan jauh dari citra buruk bahwa islam identik dengan kekerasan.

Lalu jika kita terlalu, egois dan cenderung menjaga jarak dengan pemeluk agama lain, maka lewat siapa lagi mereka akan mengenal islam yang sejati?[]

 

 

 

(ᵃ) Hujjatul bâlighah: jilid 1. Hal. 284. Cet. Dârul fikr.

(ᵇ) AlSyifâ, bita’rifi huquql musthafa. Maktb. Syamilah11:200

(ᵈ) Dikutip dalam i’anah thalibin jilid 2. Hal. 82/ cet. Thoha putra.

(ᵉ) Ihya’ Ulumuddin. Jilid 1. Hal. 132-134 cet. Darul Fikr.

(ᶠ )Periksa Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal. 13

(ᵍ) Hikmah al-tasyri’ wa falsafatuh: jilid 1. Hal, 92 cet. Darul fikr.

(ᶦ) Ahli waris yang menaggung ‘aql, sinonim dari kata Diyat itu sendiri. Lih:I’anah tholibin. Juz 4. hal124

Pentingkah Mendirikan Negara Islam?

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan pembakaran rumah-rumah eks Gafatar, Gerakan Fajar Nusantara di Kalimantan. Tindakan sepihak masyarakat ini sebagai bentuk puncak keresahan masyarakat tentang keberadaan aliran-aliran yang kian meresahkan. Gafatar sendiri, jika dilihat dari doktrin-doktrinnya jelas sesat. Gafatar, konon adalah “reinkarnasi” dari NII, Negara Islam Indonesia. Sebuah kelompok organisasi lama yang sepak terjangnya sudah tak asing lagi bagi kita beberapa tahun silam. NII, memiliki cita-cita klasik, yang memang selalu gagal, mendirikan lagi sebuah negara Islam. Mendirikan lagi hukum-hukum dengan prinsip Islam.

Kita tentu masih ingat peristiwa tahun 1924 M, ketika kesultanan Turki Ottoman yang telah berdiri ratusan tahun itu akhirnya dibubarkan. Adalah Musthafa Kemal Attaturk, salah satu tokoh yang melatar belakangi suksesi pemerintahan menjadi republik. Tentu setelah peristiwa bersejarah ini, banyak pihak dikecewakan. “Negara Islam” terakhir di muka bumi telah resmi hilang. Akhirnya, sebagai bentuk kekecewaan, muncullah kelompok-kelompok baru dengan cita-cita untuk mendirikan kembali negara Islam. Muncullah Ikhwanul Muslimin di Mesir beberapa tahun kemudian, salah satu penggeraknya, tokoh ulama Hasan Al-Bana. Dan seolah menjadi inspirator, disusul kemudian organisasi dan kelompok-kelompok lain yang sepaham. Mereka bergerak dengan beragam cara, mulai jalur damai sampai cara keras. Mulai Hizbut Tahrir sampai ISIS atau DI/TII, Darul Islam, Tentara Islam Indonesia yang bahkan sempat membuat stabilitas keamanan nasional terguncang.

Lantas seberapa pentingnya mendirikan sebuah negara Islam? Hingga mereka begitu bersikukuh menentang konstitusi yang sudah jadi?

Dahulu sekali, Ali Abdul Razaq, di Mesir, pernah menulis buku. Judulnya Al-Islam wa Qowa’id Al-Sulthan, Islam dan sendi-sendi kekuasaan.  Ia menyambut keruntuhan kesultanan Turki bukan dari sisi kontra. Ia menyangkal tentang perlunya sebuah negara Islam dengan beberapa dimensi pendukung. Seperti dalam Alquran tidak pernah ada istilah negara Islam. Yang ada hanyalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr, sebuah negeri yang baik dan penuh pengampunan Tuhan. Nabi tidak pernah memperlihatkan watak politis, namun moral. Dan Nabi tidak pernah merumuskan tentang mekanisme penggantian “jabatannya.” Padahal hal tersebut sangat krusial dan penting, salah satunya untuk bisa jadi dalil akan adanya sebuah konsep negara dalam Islam. “Masalah sepenting itu bukannya dilembagakan, melainkan hanya diucapkan dengan sebah diktum saja: ‘masalah mereka (hendaklah) dimusyawarahkan antara mereka’. Mana ada negara seperti itu,” komentar KH. Abdurrahman Wahid pada suatu ketika.(ᵃ)

Habib Luthfi bin Yahya, berkali-kali menegaskan bahwa NKRI adalah harga mati. NKRI sudah final. Artinya tak perlu lagi ada ijtihad baru tentang negara Islam Indonesia. Hanya saja, kita sebagai warga negara Indonesia, harus menumbuhkan kembali semangat nasionalisme, dari serangan “opini-opini” yang tidak sepakat dengan pancasila. Menurut Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, “Sebenarnya maksud dari Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

Beliau melanjutkan, “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja Walisongo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini”.

Untuk itu, perlunya kita menjunjung tinggi semangat nasionalisme, salah satunya demi menjaga keutuhan bangsa.

Negara Islam Bukanlah Segalanya

Ada wacana, bahwa mengangkat seseorang untuk menduduki jabatan pemimpin politik (al-imâmah) bukanlah segalanya. Namun hanya sebatas sarana untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

الامامة وسيلة لا غاية. وسيلة إلى إقامة الامر بالمعروف والنهي عن المنكر

“Kepemimpinan hanyalah sebagai sarana. Bukan sebagai tujuan akhir. Yaitu sarana untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar”.(ᵇ)

Kemudian, lebih lanjut, sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Dunia, kekuasaan, negara, bisa berdiri tegak dengan keadilan meskipun ma’a al-kufri dan negara itu akan hancur dengan kezaliman meskipun ma’a al-muslimin”.

Musthafa Hilmi, juga menulis dalam bukunya, “Terbentuknya masyarakat islami secara prinsip bukanlah tujuan utama. Melainkan hanya sebagai sarana menuju tujuan utama. Tujuan utamanya adalah membangun masyarakat untuk selalu dalam kebaikan dan keadilan”.(ͨ )

Jelas dari beberapa wacana di atas, Negara Islam hanyalah media dan sarana. Bukanlah segalanya. Allah SWT pernah berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangNya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hashr: 7)

Lebih lanjut, Nabi pernah bersabda, “Ketika aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.”

Prinsip taat kepada Allah SWT dan Rasulnya sebenarnya sederhana. Kita diharuskan menjalankan setiap kewajiban yang dibebankan kepada kita, semampunya. Apa yang tidak mampu kita lakukan, tentu kita tak harus dituntut untuk melakukannya. Kita diperintahkan untuk salat dengan berdiri, bagaimana jika kita tidak mampu melakukannya, tentu saja kita masih harus salat, hanya saja boleh sambil duduk. Lebih sederhana lagi, kita diperintahkan mendirikan salat Jum’at, lalu bagaimana jika jumlah penduduk tidak mencapai empat puluh orang? Kita tidak harus mendirikan salat Jum’at dan dicukupkan dengan salat dzuhur. Lantas, jika memang ada dalil nash yang mewajibkan kita mendirikan negara Islam? Masihkah kita harus melakukannya meskipun kita sudah tidak mampu lagi? Mengingat mendirikan negara Islam di Indonesia pada khususnya, atau di negara lain pada umumnya yang sudah memiliki konstitusi dan asas yang matang hanya akan menimbulkan “mafsadah”. Silahkan untuk dikaji kembali.

Nahdlatul Ulama (NU) sendiri memiliki peran dalam perkembangan bangsa Indonesia lewat keputusan-keputusannya, seperti Muktamar tahun 1954 yang melegitimasi kekuasaan presiden Ir. Soekarno, lalu tahun 1983 dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo membuat Piagam Hubungan Agama dan Pancasila, dan belum lama ini, tahun 2006 di Surabaya meneguhkan kembali komitmen kebangsaan untuk mempertahankan dan mengembangkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah NKRI.

Lalu kita coba akan berandai-andai, jika saja negara Islam jadi berdiri, tentu prinsipnya tidak akan berbeda dengan yang “dulu-dulu”. Salah satunya adalah menstatuskan masyarakat dalam tingkat kasta sosial keagamaan. Orang kafir akan menduduki status sosial “kelas dua.” Padahal, coba kita tengok pernyataan KH. MA. Sahal Mahfudz, yang semasa hidup menjadi tokoh sentral PBNU berikut,

“Dalam kerangka berpikir ini, maka seandainya ada produk fikih yang tidak bermuara pada terciptanya sebuah keadilan di masyarakat, maka harus ditinggalkan. Misalnya saja fikih politik (fiqh siyasah) yang seringkali diktum-diktumnya tidak sejalan dengan gagasan demokrasi yang mensyaratkan keadilan dan persamaan hak manusia di depan hukum. Rumusan fiqh siyasah klasik biasanya menempatkan kafir sebagai ‘kelas dua’, bukan entitas yang sederajat dengan kaum muslim. Saya rasa pandangan demikian harus mulai dirubah. Sebab pandangan ini selain bertentangan dengan ide negara bangsa (national-state) seperti Indonesia. Profesionalisme, kemampuan, dan kapabilitas mestinya yang menjadi pilihan utama, bukan muslim atau tidak, laki-laki atau perempuan”.(ᵈ)

Sepert kita tahu, KH. MA. Sahal Mahfudz adalah penulis buku Nuansa Fiqh Sosial, dimana dibahas di sana, fikih bukanlah sebagai hukum negara, namun norma sosial.

Ibnul Qayyum pernah menulis dalam karyanya, Al-Thuruq Al-Hukmi fi SiyasahAl-Syar’i, bahwa “Ketika keadilan sudah bisa dirasakan oleh masyarakat, maka disitulah syari’at dan agama Allah. —-sistem apapun yang telah memberikan jaminan keadilan, maka itu tidak bertentangan dengan agama”.

Indonesia sudah menemukan “kedamaian” ditengah konflik berkepanjangan di negeri-negeri timur tengah. Masyarakat Indonesia masih bisa merayakan Idul Fitri dengan makmur dan aman. Masyarakat Indonesia masih bisa menjalankan salat berjamaah tanpa satupun ada yang mengganggu. Masyarakat Indonesia masih bisa hidup rukun dengan tetangganya yang non muslim tanpa konflik. Masyarakat Indonesia masih bisa tidur nyenyak di malam hari. Sementara kalau kita berkaca di luar negeri, banyak saudara muslim yang tak lagi punya tempat tinggal akibat konflik. Lantas, apa yang akan terjadi ketika mengubah konstitusi negara? Adakah yang berani menjamin nantinya Indonesia tetap damai seperti sekarang?

Ada kaidah fikih yang walaupun realitas furu’nya tidak sesuai, namun frasanya tepat sebagi penutup dan kesimpulan “perdebatan” ini.

الاشتغال بغير المقصود إعراض عن المقصود

“Terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang bukan menjadi tujuan utama, hanya akan memalingkan kita dari tujuan sebenarnya.”

Dengan terlalu terjebak dengan wasilah, perantara cita-cita membentuk sebuah negara Islam, kita malah yang nantinya akan lupa dari unsur utama sendi-sendi Islam itu sendiri. Fitrah Islam yang lahir sebagai agama, dengan hubungan vertikal-horisontal, bagaimana kita menegakkan perintahnya dan menjauhi larangannya yang seharusnya kita lebih utamakan. Adapun sebuah negara, hanyalah sebentuk wujud dari formalitas dimanakah nantinya agama dan masyarakat yang sejahtera akan tinggal. Jika Indonesia sudah memiliki agama dan masyarakat yang sejahtera, tinggal itulah yang sepatutnya kita jaga. Menjunjung tinggi nasionalisme. Jika sampai cita-cita itu sampai mengusik ketentraman yang sudah susah payah dibangun, maka seperti masuk dalam istilah kaum sufinya, barangkali cita-cita itu hanyalah kedok maghrur, terbujuk.

Menyikapi gerakan yang meresahkan, kita ambil sikap baik-baik. Jika masih bisa ditempuh dengan jalan damai, kenapa harus lewat kekerasan? Ingatkah anda dengan esai Gus Dur “Tuhan tak perlu dibela”? Yang diakhir tulisannya, Gus Dur menulis, mengutip dawuh seorang kiai, “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

Al-Hujwiri mengatakan: ‘Bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia ‘menyulitkan’ kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.

Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu ‘dilayani’. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif konstruktif”. Kalau  gawat cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.

Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka iapun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.”[]

__________

(ᵃ) Majalah Tempo, 26 Maret 1983 M.

(ᵇ) Al-Imamatul ‘udzma ‘inda ahlussunnah wal jama’ah. Hal. 158. Cet. Dar Thaibah.

(  ͨ) Nizhamul Khilafah. Hal. 4. Lebanon Darul Kutub .

(ᵈ) Ahkamul Fuqaha. Hal. Xiii. Khalista.

 

Terorisme Berkedok Jihad

Kemarin, 14 Januari 2016, Jakarta digegerkan dengan serangan bom. Insiden di Jl. MH. Thamrin  yang menewaskan tujuh orang dan menyebabkan belasan korban luka-luka ini, diduga kuat didalangi oleh kelompok radikal, sebuah organisasi Islam garis keras yang mengatas namakan Islam. Sebuah organisasi yang semakin membuat nama Islam terpuruk dimata dunia, dengan aksi-aksi brutal dan tak berperikemanusiaannya.

Dalam serangan yang menurut Ali Fauzi, seorang mantan teroris, gagal total karena pelaku dan intensitas serangan yang tergolong amatiran ini, sudah membuat Indonesia dan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura menjadi siaga. Karena kita tentu tidak menginginkan, terulang kembalinya tragedi serupa.

Salah Paham

Banyak yang salah penafsiran tentang makna kata jihad akhir-akhir ini. Banyak pula yang mudah terdoktrin dengan iming-iming meninggal dunia secara “terhormat” sebagai syahid. Padahal konsep jihad bil qital, dengan memakai metode peperangan ala Islam, jauh dari apa yang dapat kita saksikan dari sepak tejang organisasi-organisasi radikal yang mengatas namakan Islam, dengan membuat onar, mengebom beberapa tempat-tempat umum, atau bahkan menculik dan merampas harta warga sipil. Jihad bil qital, belum dapat dipraktikkan di Indonesia. Indonesia masih merupakan dârus salâm, negara yang aman. Dan bukan dârul qitâl, medan perang. Kita tentu ingat, peristiwa pertempuran 10 November, ketika itu, kota Surabaya diserang oleh angkatan perang Inggris, pada saat itulah jihad bil qital baru bisa dipraktikkan di Indonesia. Dimana semua orang yang berada di Surabaya dan sekitarnya, dengan jarak masafah qoshr, jarak orang diperbolehkan meringkas rakaat salat. Waktu itu, warga dalam radius 94 KM diharuskan membela kedaulatan Surabaya.

Jika dalam kaidahnya, inti dari jihad sebenarnya bukan berperangnya. Berperang hanya akan menjadi jalan terakhir. Dulu, dalam melaksanakan ekspedisi penyebaran Islam ke negeri-negeri di sekitar jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW tidak sembarangan dalam menyerang “musuh-musuhnya.” Terlebih dulu ditempuh jalur diplomatis dengan berkirim surat. Diberi tawaran untuk masuk Islam atau membayar pajak. Syaikh Bakri Syatha, dalam kitabnya I’ânah Al-Thâlibîn, mengutip keterangan Syaikh Khâtib Al-Syirbiny, beliau menuliskan, bahwa “Kewajiban berjihad sebenarnya hanya sebatas wajib wasâil, wajib sebagai perantara untuk menempuh maksud dan tujuan tertentu. Bukan wajib maqâshid, intisari. Tujuan utama berjihad sebenarnya adalah sebagai media perantara menyampaikan hidayah.” Agar orang-orang non muslim mau mengenal Islam dengan benar dan akhirnya masuk Islam. “Juga ada beberapa tujuan inti lain, seperti bisa meninggal dunia sebagai syuhada. Adapun membunuh orang-orang kafirnya, itu bukanlah menjadi tujuan utama. Sehingga kalau saja memungkinkan memberikan hidayah dengan menegakkan dalil-dalil agama, maka hal itu akan lebih baik.”(ᵃ) Artinya, dizaman modern seperti ini, sudah “usang” berjihad dengan metode berperang. Untuk lebih maslahatnya, ditempuh dengan pendekatan lain, seperti syiar dan dakwah.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Sedikit tentang Kekeliruan Gerakan Islam Radikal

Merujuk pada “cerita masa lalu”, dan khazanah klasik, setidaknya, beberapa gerakan Islam radikal telah mengubah haluan metode jihad konservatif menjadi konvensional. Yang kata sebagian tokoh, adalah “perang tidak teratur”. Serangan tidak lagi menyasar tempat-tempat, atau wilayah  yang dipersepsikan sebagi musuh. Baik aparat negara, instansi-instansi, simbol-simbol, bahkan warga sipil. Padahal, Islam tidak pernah menarget warga sipil dalam ekspedisi militernya dulu. Tentara muslim dalam berjihad hanya akan menyerang pasukan bersenjata dan pasukan-pasukan musuh yang melawan. Untuk kemudian setelah kekuatan militer musuh dapat dikalahkan, Islam tidak lantas membunuh warga sipil non muslim yang tersisa, namun menegakkan perdamaian di daerah yang ditaklukkan. Coba kita tengok, setelah Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil meruntuhkan tembok kota Konstantinopel dan mengalahkan pasukan militer Romawi di kota tersebut, beliau tidak lantas menyerang warga sipil non muslim. Bahkan meruntuhkan gereja-gereja merekapun tidak. Mereka dibebaskan untuk memeluk agama mereka, dan umat Islam mampu hidup berdampingan dengan yang non muslim dengan tenang. Nabi Muhammmad SAW sendiri pernah berpesan kepada sahabat Umar RA. yang kala itu belum menjadi khalifah, jika nanti Islam sampai ke Mesir dibawah kekuasaannya, maka biarkan dan jangan ganggu penduduk Kristen Koptik yang tinggal di sana.

Kemudian tindakan yang dilakukan kelompok garis keras, seperti ISIS, bukanlah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita bisa melihat dengan jelas, ISIS menghalalkan bunuh diri, yang jelas-jelas dilarang dalam agama. Ada kaidah fikih yang berbunyi,

الضرر يزال

Kemadharatan harus dihilangkan”

Yang juga bermuara dari hadis,

لا ضرر ولا ضرار

Tidak dibenarkan menyakiti diri dan membahayakan orang lain”

Ulama kontemporer Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Fiqh Jihad, secara langsung menjelaskan tentang keharaman bom bunuh diri. Jangankan bom bunuh diri, tindakan yang lebih ringan sekalipun, seperti melubangi hidung dengan tujuan memasang perhiasan saja dalam fathal mu’in dilarang, karena termasuk perbuatan menyakiti diri yang tak ada gunanya.

Memang, dalam kitab Fatawi Isma’il Zain, status orang non muslim di Indonesia termasuk kafir harbi, karena persyaratan untuk menjadi kafir dzimmah, mu’ahad, apalagi musta’man tidak terpenuhi. Namun meskipun begitu, hukum membunuh orang non muslim di Indonesia tetap saja haram kata beliau.

Bagaimana Pesantren Menyikapi Gerakan Islam Radikal

Tema ISIS dan gerakan Islam radikal pernah menjadi salah satu pembahasan utama dalam FMPP, Forum Musyawarah Pondok Pesantren seJawa dan Madura pada pertengahan April tahun 2015 silam di Ponpes Lirboyo. Menurut kacamata syari’ah, tindakan gerakan Islam radikal, utamanya ISIS, yang melakukan banyak penyimpangan, seperti terlibat dalam serangan bom, penculikan, pembunuhan masal, dan perampasan harta termasuk tindakan kejahatan berat menurut kacamata hukum Islam. Dalam menstatuskan ISIS dan gerakan Islam radikal lain sendiri,  mereka termasuk distatuskan sebagai golongan ahlul baghyi, kelompok makar, dengan “kedok” cita-cita mendirikan hukum Islam. Dan dari tinjauan ideologi, mereka termasuk ke dalam kelompok ahlul bid’ah wa dholal, kelompok bid’ah­ dan sesat. Kemudian dalam menyikapi gerakan semacam ini sendiri, karena perilaku mereka termasuk tindakan munkarât, maka tindakan yang tepat adalah amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan pangkatnya. Yaitu, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat, tentang perilaku menyimpang mereka, dan membantu upaya pencegahan berkembangnya gerakan mereka di daerah masing-masing.(ᵇ)[]

_______________

(ᵃ) Hasyiyah I’anah Al-Thalibin. Jilid 4. Hal 181. Cet, thoha putra semarang.

(ᵇ) Hasyiyah Al-Jamal jilid 5. Hal. 182-183. Cet. Dârul fikr.

Di Manakah Perdamaian?

Oleh: Radhi Rodliyuddin

Sungguh amat celaka bila semua nurani manusia seolah telah tersingkir dan ditinggalkan oleh nilai-nilai kasih sayang. Hawa nafsu yang bermuara pada kekejaman dan kebiadaban di muka bumi ini kian menggejala. Kesepakatan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan semakin luntur. Sementara itu, kemajuan teknologi yang merupakan prestasi prima karsa manusia ternyata mempunyai sifat ambivalen (bertentangan). Di satu sisi, membuahkan manfaat dan perdamaian, tapi di sisi lainnya menimbulkan banyak kerusakan, perpecahan, dan peperangan.

Sehingga tak dipungkiri nantinya akan menimbulkan semakin hilangnya fungsi moral keagamaan yang selanjutnya akan membias pada segi-segi kehidupan lainnya. Sebab, kenyataan yang tampak di tengah-tengah masyarakat era transisional sekarang ini, menunjukkan gejala yang sangat jauh dari harapan bersama. Masyarakat senantiasa dihadapkan oleh berbagai masalah yang terus timbul. Munculnya peperangan, kerusuhan, kenakalan remaja, pergaulan bebas, pengangguran, dan yang lebih memprihatikan lagi dampak akibat dari pengaruh budaya asing yang sangat negatif, yang dalam hal ini merupakan realita yang harus dipikirkan dan diatasi bersama.

Teknologi yang awaInya dipandang sebagai perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan, lama kelamaan dipandang sebagai roh jahat yang sarat dengan pertanda bencana dan penghancuran moral agama. Tidak ada jalan yang dapat ditempuh, selain mengembalikan agama sebagai satu-satunya jalan keluar guna memberikan kekuatan moral sebagai inspirator menuju tekad perdamaian dan penyejuk kehidupan. Di mana penyebab utamanya adalah moral, keimanan, dan ketakwaan yang dimiliki masyarakat kurang memadai dan menyentuh seluruh hati sanubari masyarakat. Sebagai pengakuannya, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan: “Tiadanya perdamaian di kalangan umat beragama lantaran mereka tidak menganut ajaran-ajaran agama secara benar.”

Persoalannya adalah karena banyak sekali aliran-aliran yang dengan lantangnya mengibarkan bendera agama, akan tetapi -sayang- kelantangannya hanya sekedar atas nama atau bahkan hanya sebagai tempat melindungkan diri agar kebobrokan dan keculasan mereka tidak terlacak oleh masyarakat luar. Mengadakan seminar-seminar keagamaan atau apapun bentuknya semata-mata bukan untuk mengurai kekusutan dunia atau menyelesaikan problema masyarakat, melainkan untuk mencari kepuasan batin, sehingga aktivitas agama justru akan semakin memperbesar egoisme dan hedonisme terselubung. Malahan primordialisme akan bermunculan dibawah payung keagamaan yang tidak menutup kemungkinan friksi-friksi (perpecahan) bakal muncul kembali jika tidak dibenahi semenjak dini.

Semua pemeluk agama harus selalu mengingat bahwa Tuhan menurunkan agama bukan untuk memecah belah manusia dalam perkubangan darah yang mengerikan. Sebab, tak ada manusia yang menginginkan kekacauan dan kekerasan di muka bumi ini, melainkan kesejahteraan dan kebaikan adalah kehendak yang selalu diharapkan setiap insan. Dalam kaitan itu, agama Islam yang tampil dengan salam dan damai, senada dengan fitrah, ketika kesepakatan untuk menjunjung tinggi perdamaian bertambah pudar. Maka alangkah indahnya ajaran yang damai dan sejuk apabila diterapkan dan menjadi pedoman seluruh manusia pada zaman sekarang.

Namun apabila kesucian perdamain itu sendiri telah dikotori oleh kepentingan-kepentingan individualis ataupun kelompok, bahkan kecurigaan dan saling tuding dengan berbagai macam tuduhan kesesatan atau murtad, hanya dengan berbeda aliran yang tidak sepaham dan sejalan, maka keluarlah putusan “Kafir kamu! Neraka kamu!” Di situlah tujuan aliran yang semula dianggap benar sesuai tuntutan yang diemban Rasul akan tumbuh kebingungan, kerancuan, kegelisahan, dan keserakahan yang akan menghantui di setiap umat dimanapun. Karena di setiap sudut perbedaan pendapat, tertanam setan dan bala tentaranya.

Pertentangan yang menghinggapi dari berbagai aspek kehidupan di antara negara yang maju sama halnya dengan negara yang biadab. Bangsa yang memelopori dan acapkali mendewakan slogan hak-hak asasi, terbukti di dalamnya justru penuh dengan kekejian dan nafsu busuk belaka. Untuk itu, Islam harus difungsikan kembali sebagai kekuatan moral yang mampu menyuburkan aspirasi perdamaian dan penyejuk kehidupan. Islam harus tampil dengan misinya, yaitu salam dan damai sebagaimana yang telah diteladankan oleh Nabi, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pemuka agama Hindu ternama di India, Munshi Promchand: “Tidak benar jika Islam disebarkan dengan pedang. Kalau memang ada cara-cara semacam itu dipakai untuk menyebarkan agama, maka itu tak akan hidup lama. Sebab, yang sebenarnya mengapa Islam tersiar di India, adalah lantaran sikap sewenang-wenang kaum berkasta Hindu terhadap Kaum Sudra yang tidak berkasta.” Agama Hindu, Budha, Nasrani, Islam dan agama-agama besar di dunia ini semuanya menganjurkan perdamaian, minimal atas dirinya.

Dalam Surat al Anfal ayat 16 Allah SWT. berfirman: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kalian kepadanya, dan bertakwalah kepada Tuhan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Akan tetapi, dalam sejarah tercatat, atas nama agama kerap kali manusia mengesahkan peperangan dan tindakan-tindakan kebiadaban. Dan ironisnya, itupun sering terjadi disemua agama. Mungkinkah disamping menganjurkan perdamaian, terdapat pula ayat yang mengandung perintah perang? Sebagaimana dalam Surat al Baqarah ayat 190 yang sering dijagokan sebagai ayat jihad: “Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampuai batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Akan tetapi, dalam ayat tersebut jelas sekali motivasi utamanya adalah untuk membela diri atau pempertahankan perdamaian.

Islam adalah agama yang damai, namun terkadang kaum muslim harus melindungi perdamaian itu dengan perang dan pedang. Maka dari itu, perdamaian dunia merupakan tugas yang amat besar dihadapi umat Islam pada zaman mutakhir ini, harus benar-benar dipikirkan dan dihayati kembali keseluruhan sistem Islam. Sebab dimungkinkan kemerosotan Islam itu sendiri akan dimanfaatkan oleh negara-negara adi kuasa yang berkepentingan, dan seakan-akan memelihara peperangan terus berkecambuk dan perdamaian terkoyak-koyak. Sebab dengan demikian, mereka akan muncul sebagai juru selamat dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memasarkan produksi persenjataan mereka, sekaligus sebagai uji coba.

Karena itulah, sepatutnya setiap umat manusia menyadari, terutama bagi umat Islam, bahwa jihad untuk menegakan kebenaran tidak selamanya senapan yang harus berbicara. Bahkan secara sayup-sayup namun pasti, Rasulullah SAW. mangajak segenap umat manusia untuk mengupayakan perdamaian sesuai dengan sabdanya: “Wahai segenap umat manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh. Bermohonlah kepada Allah akan kehidupan yang sejahtera.” (*)