Category Archives: Artikel

Transformasi Masyarakat Transisional Menuju Masyarakat Madani

Al Insanu Madaniyyun bi at Thab’i.” Manusia adalah makhluk berperadaban secara instingtif, demikian Ibnu Khaldun dalam karya fenomenalnya. Jika manusia disebut sebagai makhluk berperadaban, kita tidak dapat memisahkankannya dari definisi lain manusia, yang dikatakan para pakar sebagai “Hewan yang bisa berpikir.”

Kemampuan untuk berpikir ini bersumber dari anugerah yang diberikan Allah Swt pada manusia, yaitu akal. Sebuah potensi yang tidak diberikan pada makhluk-Nya dari jenis hewan yang lain di persada bumi. Dengan potensi ini, manusia mengalami beberapa fase, mulai dari zaman batu dengan pola hidup nomaden, hingga era satelit seperti saat ini.

Ada ragam teori yang berupaya menggambarkan tahapan-tahapan kebudayaan manusia. Teori evolusi adalah teori yang populer pada abad IX. Teori ini menyatakan, perkembangan kebudayaan mengalami tahapan-tahapan yang ajeg, pasti. Tahapan itu adalah, keliaran, kebiadaban dan peradaban. Sementara teori lain yang disebut toeri degradasi menyatakan, semua kebudayan berasal dari satu kebudayaan tunggal, yaitu kebudayaan kuno yang tinggi. Teori ini beranggapan, tiga tahapan kebudayaan yang dinyatakan dalam teori evolusi, disebabkan proses degradasi atau degenerasi. Pada permulaan abad XX, teori evolusi menghadapi tantangan, berupa kesulitan dalam menjabarkan gagasan tahapan perkembangan yang tetap. Fakta itu akhirnya memunculkan teori baru yang disebut sebagai neo-evolusiesme yang digagas oleh Ralp Linton. Teori ini meyakini manusia melalui beberapa tahapan kebudayaan, akan tetapi tidak pasti menjalani semua fase yang telah ditetapkan.

Dalam perkembangnnya, umat manusia mengalami tiga perubahan teknologi yang sangat mendasar. Ketiga perubahan itu dapat mengantarkan manusia pada perkembangan baru dalam aspek-aspek kehidupan manusia. Tiga tahapan itu disebut Ralp Linton sebagai “mutasi teknologi.” Mutasi teknologi pertama ditandai oleh adanya penggunaan alat dan api dalam masyarakat. Pada fase ini, masyarakat disebut sebagai masyarakat primitif. Mutasi teknologi kedua ditandai dengan adanya domestikasi hewan dan tanaman, yang merupakan pengganti dari mengumpulkan makanan dan berburu dalam memproduksi makanan. Pada mutasi kedua ini, mulai berkembang pusat perkotaan pra-industri. Mutasi kedua telah dimulai sejak 5.000 tahun silam di Timur Tengah dan menyebar ke dunia lama. Mutasi teknologi ketiga ditandai dengan produksi energi dan penerapan metode ilmiah. Fase ini menjadi landasan bagi masayrakat industri modern. Meski demikian, Linton tidak memahami tahapan itu sebagai deterministik (satu sama lain yang saling mempengaruhi) dan metrealistik (sejarah berdiri dipengaruhi adanya andil benda-benda).

Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa manusia mengalami tahapan-tahapan menuju masyarakat yang lebih berperadaban. Sungguh banyak spesies yang memiliki struktur dan pola hidup komunitas teratur, seperti semut, lebah dan spesies hewan lainnya, tapi populasi spesies itu tidak mengalami perkembangan karena keteraturannya tidak berdasarkan akal melainkan berdasar insting. Manusia memiliki gerak sejarah, kisah dan harmoni kehidupan yang begitu kompleks. Tak berlebihan jika permintaan raja Rusia kuno pada para pakar negerinya untuk menuliskan tentang “Apa, siapa dan bagaimana manusia?” baru bisa dirampungkan setelah berpuluh-puluh tahun dengan ratusan jilid buku.

Kebudayaan-Peradaban

Penyair Prancis, Rene Char, sebagaimana dikutip DR. Dadang Kahmad mengatakan “Kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat.” (Notre heritage n’es precede d’aucun testament). Ungkapan itu menggambarkan kebudayaan sebagai sebuah nasib yang diwariskan. Kita menerima yang sudah ada, kita alami kemudian kita kembangkan. Singkat kata, kutipan itu menggambarkan, satu sisi kebudayaan sebagai satu produk masa lalu, yang bisa berkembang di tangan generasi penerusnya. Sementara, para ilmuan sosial melihat kebudayaan sebagai realitas, sesuatu yang diciptakan, dihasilkan, dan dibentuk atau sudah dilembagakan. Kuntjaraningrat, seorang pakar Antropologi memandang kebudayaan sebagai tiga wujud, yaitu sebagai sistem ide-ide, tingkah laku dan sebagai perwujudan benda-benda budaya. Secara spesifik dapat dikatakan budaya adalah kesatuan nilai, politik, sosial, ekonomi, seni, keyakinan, idiologi, dan segala fasilitas indrawi.

Jika kita menerima itu sebagai definisi kebudayaan dan kita mengetahui budaya akan terus berkembang, berubah, disebabkan daya cipta, rasa dan karsa yang dimiliki manusia, maka dapat kita katakan peradaban adalah satu keadaan yang lebih mapan, lebih maju dari satu kebudayaan.

Realitas Masyarakat Indonesia

Bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejumlah kepulauan dan segudang kekayaan, yang memiliki ragam budaya, tradisi yang sangat kaya, keyakinan yang plural, ras dan suku bangsa yang homogen, diikat dengan satu kesadaran sejarah yang sama, kemudian dikokohkan dengan satu komitmen dan ideologi yang sama, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan falsafah Pancasila.

Suku-suku bangsa yang terdapat di Nusantara, memiliki tradisi-tradisi sebagai kekayaan kultural; lagu daerah, tarian, pakaian, arsitektur, bahasa, letak geografis, kekayaan alam, dan kepercayaan sebagai jati diri bangsa. Kekayaan kultural itu adalah satu tumpuan untuk merajut kehidupan yang lebih maju. Kemerdekaan yang diproklamirkan 1945 silam, terlampau singkat untuk membawa anak bangsa menuju proses pendewasaan. Sementara tantangan modernitas telah menjalar dalam segala segi kehidupan, menghempas segala sekat dan batas, hingga dunia yang luas seumpama desa buana yang sempit (global village).

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Masyarakat Transisional

Indonesia adalah Negara berkembang (untuk tidak mengatakan Negara tertinggal), dengan masyarakat tradisional yang dicirikan dengan pola kehidupan agraris; bertani, bercocok tanam, beternak dan kegiatan agraria lainnya. Di satu sisi, modernitas yang dicirikan dengan penggunaan alat-alat teknologi dalam dunia produksi, penggunaan fasilitas elektronik dalam segala lini kehidupan, serta gaya dan pola hidup hedonisnya yang mulai membudaya. Pada kondisi ini, masyarakat mengalami fluiditas. Yaitu pelenturan suatu budaya ketika ia masuk pada wilayah kebudayaan lain. Pelenturan itu memetamorfosis dalam maknanya yang baru, sekaligus simbol yang lama memiliki ketidakjelasan dibandingkan dengan simbol asalnya. Sementara manusianya mengalami kondisi transisi (liminality) atau juga disebut masyarakat transisional.

Profesor Sjafri Sairin, dalam makalahnya yang disampaikan dalam Widyakarkya Nasional Antropologi dan Pembangunan, dan Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia, mencontohkan dengan fenomena perhelatan resepsi pernikahan yang memuat nilai-nilai konvesional-tradisional dengan kebudayaan masyarakat modern. Nilai-nilai lama itu berupa pemasangan tarup, lengkap dengan janur kelapa muda dan pisang. Pada sore hari, diadakan kenduren yang dilanjutkan dengan pengajian. Kemudian, keesokan harinya ritual siraman dilaksanakan. Pada malam harinya, dilanjutkan dengan kegiatan midodareni. Pagi hari, diadakan upacara panggih. Malam harinya, resepsi diadakan digedung yang cukup megah dengan dihadiri oleh ratusan pasangan undangan. Dengan memakai pakaian adat jawa, kedua mempelai dan keluarganya menerima ucapan selamat dari para undangan. Setelah berjabat tangan, para undangan lalu menuju hidangan yang telah disediakan yang ditata di sekeliling arena resepsi dengan pola standing party. Di bagian-bagian tertentu, disediakan tempat celengan sebagai simbol harapan pihak penyelenggara agar ucapan selamat tidak diwujudkan karangan bunga atau yang lain, tapi dengan uang.

Dalam acara pernikahan di atas, terdapat pencampuran antara budaya modern dengan tradisi masyarakat agraris. Upacara adat, kenduren, pengajian dan hadirnya banyak tamu undangan, adalah ciri masyarakat agraris. Sementara uang yang diharapkan dari tamu undangan, prasmanan, standing party adalah sebagai simbol masyarakat indutsri (modern). Kegiatan tersebut bersifat ambiguistik, tidak tradisional tidak pula modern. Fenomena di atas menunjukan adanya peralihan budaya masyarakat dari satu bentuk ke pola yang lain, akan tetapi belum menemukan bentuknya yang pas. Kenyataan ini disebabkan masih mengakarnya budaya lama, sementara persentuhan budaya modern telah begitu kuat. Prof. Sjafri Sairin menggambarkan fenomena ini dengan ungkapannya, “Sebelah kaki masyarakat telah berpijak pada gagasan kehidupan baru, sebelah kakinya masih berpijak pada gagasan budaya lama yang mereka miliki.”

Modernitas akan membawa perubahan masyarakat Indonesia pada tiga kondisi. Yang pertama, masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat agraris menjadi industri. Kedua, globalisasi informasi. Ketiga, semakin tingginya intelektualitas di kalangan muda. Demikian H. Zulfi Mubarak, M.Ag. menuturkan dalam bukunya, Sosiologi Agama: Tafsir Sosial Fenomena Multi-Religius Kontemporer. Tiga faktor itu akan menimbulkan implikasi sebagai berikut:

Pertama, masyarakat jauh dari agama. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa masyarakat agraris masih sangat menggantungkan kehidupannya pada alam. Faktor-faktor yang di luar kemampuan mereka untuk mengatasinya, seperti kemarau panjang, banjir besar secara psikologis membuat masyarakat agraris cenderung taat pada agama. Disebabkan kesadarannya yang kuat akan fenomena-fenomena alam di luar kemampuannya. Sebaliknya, dengan masyarakat industri yang tidak menggantungkan lagi hasil produksinya pada alam, melainkan pada perhitungan matematis dan manajerial yang cermat. Mereka cenderung merasa kurang perlu akan agama. Atas dasar ini, terbuka lebar masyarakat untuk berperilaku tidak sesuai ajaran agama.

Kedua, masyarakat berperilaku tidak sopan. Kecenderungan ini antara lain disebabkan derasnya globalisasi informasi, baik media cetak maupun media elektronik. Dimungkinkan budaya lain yang negatif sulit disensor, sementara secara merata dapat diakses oleh setiap individu masyarakat.

Ketiga, masyarakat tidak mudah menerima pendapat orang lain, guru agama sekalipun, kecuali jika suatu pendapat diberikan dengan argumentasi yang rasional yang dapat diterima oleh pikirannya. Hal semacam ini antara lain diakibatkan oleh semakin luasnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang hakikatnya lebih banyak untuk dikonsumsi rasio akan semakin digandrungi kaum muda yang mencari jati diri. Mereka mengukur segala sesuatu dengan rasionya.

Indikasi lain dari pola perilaku masyarakat transisional adalah pola meterialistik-konsumtif yang tinggi. Dengan mendapatkan simbol-simbol dalam benda-benda (pakaian produk Amerika, motor keluaran Jepang, makanan ala Eropa) masyarakat transisional (liminality) sudah merasa menjadi bagian masyarakat modern. Yang lebih memprihatinkan, seperti sudah disinggung H. Zulfi di atas adalah melemahnya kehidupan beragama, degradasi moral, dan kegalauan mental. Max Weber dalam teorinya yang terkenal, menamai kondisi masyarakat seperti ini dengan istilah “Anomi”, yakni kondisi masyarakat tanpa nilai. Nilai lama memudar nilai baru belum menemukan bentuknya yang ideal. Sebab hal-hal baru yang diimpor dari luar tidak berarti akan membawa kemajuan sebagaimana nilai itu berhasil diterapkan di daerah asalnya. Tergantung sejauh mana kesesuaian sejarah, nilai-nilai lama dan konteks kekinian dan kedisinian suatu bangsa.

Walhasil, modernitas telah membawa masyarakat pada satu peradaban baru. Sementara mereka masih memiliki keterikatan erat secara emosional dan mendarah daging dengan budaya lama, meski hanya sekedar simbol-simbol yang tidak dihayati atau diketahui apa maknanya.

Masyarakat Madani

Masyarakat transisional adalah masyarakat yang tidak memiliki karakter atau disebut juga masyarakat tanpa struktur. Demi kemajuan bangsa, masyarakat tanpa struktur ini harus segera mendapatkan bentuknya yang ideal di ranah modernitas. Sebagai acuan, apa yang dikatakan DR. Ali Syari’ati pantas menjadi pertimbangan. Ali Syari’ati mengatakan: “Masa lalu yang tidak melihat masa depan adalah stagnasi dan masa depan yang tidak berpijak masa lalu adalah kebodohan.” Singkat kata, pencarian bentuk baru itu harus mengakomodir nilai-nilai lama. Dalam ungkapan lain dikatakan, “Al Muhafdzah ala Qadimi Shalih, Wa al Ahkdzu bil Jadid al Ashlah”(menjaga nilai-nilai lama yang baik dan mengadopsi hal-hal baru yang bermanfaat). Konsep masyarakat madani dapat menjadi satu tawaran bagi pengentasan masyarakat transisional di Negara-negara maju pada umumnya, dan bangsa Indonesia khusunya.

Banyak pakar yang berbicara masalah ini. Hanya saja, definisi yang diberikan bersifat subyektif. Frans Magnes suseno, seorang Profesor filsafat, mengartikan masyarakat madani sebagai “Wilayah-wilayah kehidupan sosial terorganisasi yang bercirikan antara lain: kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self generating), dan kewaspadaan (self supporting), kemandirian yang tinggi berhadapan dengan Negara dan keterkaitan dengan norma-norma dan nilai-nilai hukum yang diakui warganya. Sebagai sebuah ruang publik, ia harus menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, tidak terkungkung kondisi kehidupan metrial dan tidak terserap jaringan-jaringan kelembagaan politik resmi. Di dalamnya tersirat pentingnya suatu ruang publik yang bebas, dimana proses komunikasi yang bebas bisa dilakukan masyarakat.”

Dari sekian definisi, hemat kami definisi inilah yang paling tepat dalam mendefinisikan masyarakat madani. Sementara para pakar berpendapat masyarakat madani bersumber dari tradisi Barat, dimana konsepnya lahir dari sejarah Yunani kuno. Aristoteles mengungkapakan istilah “Politike Kononia” yang dalam bahasa latin disebut “Societas Civilis” yang berarti masyarakat politik. Politike kononia yang dikehedaki oleh Aristoteles adalah satu masyarakat politik dan etis dimana warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Menurut pendapat ini, konsep masyarakat madani mendapatkan perubahan makna terutama pada masa Renaissance. Berbeda dengan Adam B. Seligman dalam bukunya, The Idea of Civil Society. Menurutnya, masyarakat madani adalah akibat pemacetan pemikiran sosial politik Barat sekitar abad ke XVII sampai XVIII.

Demikian pendapat sementara pakar. Akan tetapi, jika kita mengacu pada kata “Madani”, yang berasal dari bahasa Arab, kita akan menemukan apa yang dinyatakan pakar, bahwa teori masyarakat madani bersumber dari tradisi Yunani kuno tidaklah tepat. Sebab, madani dalam bahasa Arab mempunyai banyak makna. Madani dapat diartikan sebagai orang beradab, yang berbudaya kota, bisa juga bermakna berkenaan dengan masalah sipil dan sekuler. Yang lebih tepat adalah pendapat yang menyatakan masyarakat madani adalah bentuk negara ideal yang terinspirasi negara yang pernah berdiri di Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah Muhammad Saw. Menurut Profesor Jamal al Bana dalam bukunya, “Agama dan Negara”, negara Madinah adalah negara ideal yang pernah ada di muka bumi dan tak mungkin terulang kembali. Jamal al Bana mendasarkan pendapatnya pada; pertama, negara Madinah adalah negara yang berjalan langsung dibimbing oleh wahyu. Kedua, negara Madinah tidak memiliki perangkat yang dibutuhkan oleh sebuah negara pada umumnya, seperti penjara, tentara, polisi, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Ini tidak mungkin terjadi di negara manapun. ketiga, negara Madinah didirikan dengan satu komitmen hidup bersama antar etnis agama dan budaya, tidak didirikan dengan agitasi politik (perlawanan), apalagi pertumpahan darah. Butir-butir perjanjian kesepahaman yang dibuat oleh Rasulullah Saw bersama seluruh komponen masyarakat Yatsrib (kemudia disebut Madinah) dinamakan Piagam Madinah.

Negara makmur sejahtera itulah yang menjadi inspirasi teori “masyarakat madani”. Sebab, seperti dikatakan di atas, gambaran yang diberikan sementara kalangan yang menyatakan teori masyarkat madani berasal dari Yunani dengan makna “Societas Civilis” tidak mampu mewakili makna yang terdapat dalam kata “madani itu sendiri”.

Asas- Asas Masyarakat Madani

Imam al Mawardi, dalam bukunya yang berjudul “Adab ad Dunya wa Din”, mengatakan “Terciptanya masyarakat madani meniscayakan dua syarat; pertama, teratur dan terorganisirnya masalah publik. Kedua, kesejahteraan yang dapat dinikmati setiap warga negara.” Dua poin itu terkait satu dengan lainnya. Untuk tercapainya poin yang pertama, ada enam syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, adanya agama yang ditaati. Sebab keyakinan setiap individu terhadap agama akan menjadi kontrol dalam diri setiap individu.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ (الأعراف 3)

Artinya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.”

Kedua, pemerintarah yang kuat. Yang dapat mengendalikan komponen-komponen bangsa. Ketiga, keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa. Menurut Imam al Mawardi, tidak ada sebab yang dapat menghancurkan suatu bangsa yang lebih berbahaya daripada korupsi, dan tindakan sewenang-wenang. Keempat, keamanan, ketertiban dan stabilitas sosial. Orang-orang yang kuat merasa tentram, kaum lemah merasa tenang. Kelima, stabilitas ekonomi dan swasembada pangan. Keenam, cita-cita bersama komponen bangsa, sehingga menjadi bangsa yang dinamis. Berkenaan dengan ini, Rasulullah Saw bersabda: “Cita-cita adalah rahmat dari Allah bagi umatku. Seandainya tidak ada cita-cita, seorang petani tidak akan pernah menanam pohon, seorang ibu enggan menyusui sang anak.”

Itulah syarat-syarat untuk terpenuhinya poin pertama. Semantara untuk terealisasinya poin kedua, yaitu kesejahteraan setiap individu masyarakat, diperlukan tiga hal. Pertama, ketaatan kepada pemimpin, dimulai dari tiap individu. Kedua, kasih sayang antar sesama. Ketiga, kebutuhan pokok masyarakat yang tercukupi. Demikian dengan panjang lebar pengarang karya fenomenal “al Ahkam Sulthaniah” itu menjelaskan bagaimana masyarakat madani berdiri. Semua syarat itu mengakomodir pluralisme, egalitarianisme, terutama bagi daerah yang memiliki agama dan kepercayaan yang tidak tunggal.

Setelah kita mengetahui syarat-syarat untuk bedirinya masyarkat madani, muncul sebuah pertanyaan, “Dari mana kita memulai?” Para Ulama, seperti Imam Hasan al Bana, demikian juga ulama kontemporer dan pakar tafsir Indonesia, Quraish Shihab sepakat bahwa untuk terciptanya tatanan masyarakat ideal harus dimulai dari komponen terkecil sebuah bangsa, yaitu keluarga. Satuan terkecil ini dibina baik segi pendidikan, mental kejiwaan, agama dan tanggungjawab sosial. Jika satuan masyarakat ini telah terbina, maka akan tercipta masyarakat madani.

Yang signifikan, selain beberapa poin tersebut di atas adalah adanya seorang pemimpin yang mempunyai moralitas tinggi, yang sikap, gerak, dan segala kebijakannya bisa menjadi referensi bawahan. Sosok ini di gambarkan oleh Ali Syari’ati sebagai sosok yang memiliki karakter; ilmuan; seorang pembelajar sejati, intelektual; seorang yang berupaya memahami realitas zaman dan bangsanya, idiolog; berpandangan jauh yang tidak terperangkap kepentingan politik sesaat, dan terakhir pemimpin itu harus mempunyai karakter ulama, orang yang bukan hanya mengajarkan wudhu, tapi juga berupaya mengetahui orang yang diajari wudhu bisa makan apa tidak, jiwanya terzalimi apa tidak, dan seterusnya. Menurut Ali Syari’ati, keempat komponen itu harus ada dalam diri seorang pemimpin yang akan membawa masyarakat pada pencerahan. Atau dalam konteks ini, pemimpin yang akan mengentaskan masyarakat dari kondisi trasnsisi (liminality) ke kondisi modern religi.[]

Penulis, Ahmad Tsauri

Sejenak Mengenang Imam Al-Ghazali

Kebanyakan orang pasti pernah mengalami masa depresi. Kegalauan yang biasa sampai luar biasa. Ketika ada masalah yang kian banyak dan makin bertumpuk, atau ada sejuta pertanyaan tak terjawab, ‘saklar’ kesadaran itu otomatis ‘padam’.

Imam Al-Ghazali mengalami petualangan ilmiah yang luar biasa hebat. Rihlah tholabul ‘ilminya panjang dan “melelahkan”. Tapi dengan hasil yang tak mengecewakan, Hujjatul Islam ini mampu menguasai tidak hanya satu disiplin ilmu. Tidak cukup satu gelar saja untuk menggambarkan kepakarannya. Beliau bukan hanya pakar fiqih, kalam, dan ushul, beliau lebih dari itu semua. Namun dihari-hari  terakhirnya, beliau lebih memilih sembunyi dan pulang ke kampung halamannya. “Ingin dikenal orang sebagai warga Thus biasa, seperti halnya petani dan pedagang lainnya”. Begitulah mungkin. Sekedar menyebutkan beberapa karyanya, dalam ushul fiqih, Al-Mushtasfanya adalah salah satu dari empat kitab ushul terbaik yang pernah ada, yang kemudian di resume menjadi Al-Mahshul. Dalam fiqh, Al Basith,Al-Wasith,dan Al-Wajiz adalah kitab-kitab pokok Mazhab Syafi’i. Hampir seluruh kitab-kitab ulamamutaakhirin merujuk kepada tiga kitab tersebut. Bisa dibilang, kalau kita sedang belajar  fiqh ala Syafi’iyyah atau  ushul fiqh, disitu ada “ilmunya imam Al-Ghazali”. Beliau adalah pahlawan sejati Ahlussunah yang gigih membela islam sunni dari dua ancaman besar pada masa itu, rasionalis Mu’tazilah dan Syiah garis keras Isma’iliyyah. Juga ancaman umum dunia intelektual, Filsafat Yunani. Banyak orang menilai Imam Al- Ghazali sebagai filsuf, namun dari kiprah beliau tak nampak kalau beliau adalah seorang filsuf. Justru sebaliknya, beliau adalah mistikus.

Imam Al- Ghazali, nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi. Bergelar Hujjatul Islam. Di dunia barat beliau dikenal dengan nama Algazel. Ditanah kelahirannya, Thus, beliau dilahirkan tahun 1059 M/450 H. Dan beliau wafat.diusianya yang ke lima puluh lima.

Al-Ghazali kecil terlahir dari keluarga miskin. Beliau punya seorang saudara kandung bernama Ahmad. Ayah beliau sehari-hari bekerja sebagai pemintal wol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah beliau terkenal orang  yang saleh, sangat mencintai para ulama dan gemar melayani mereka. Sering ayah beliau menghadiri majlis-majlis pengajian, disitu tak jarang ayah beliau menagis berkaca-kaca. Dalam do’anya, ingin sekali beliau dikaruniai putra-putra  yang kelak menjadi ulama besar. Do’a ayah Al-Ghazali dijawab oleh Allah SWT. dikemudian hari. Baik Al-Ghazali maupun saudaranya, Ahmad, keduanya sama-sama  menjadi  ulama besar.

Ketika ayahnya wafat kedua bersaudara ini dititipkan kepada kerabatnya agar dididik, supaya diajari tentang  agama. Ketika kerabat ayahnya tak mampu lagi membiayai mereka, mereka berdua masuk ke madrasah setempat agar bisa mendapatkan makanan. Bermula dari sini, rihlah ilmiah Al-Ghazali dimulai. Al-Ghazali kecil ngaji di tanah kelahirannya bersama saudara kandungnya,  Ahmad ditempat yang diasuh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Zâdzakâni. Setelah sekian lama, beliau pindah ke Jurjan, ngaji bersama Syaikh Abi Nashr Al-Isma’ili. Beliau membuat Ta’liqot, catatan hasil belajar, tanpa menghafalkannya. Sepulang dari sana, rombongan Al-Ghazali dirampok, dan semua barang bawaan dijarah. Termasuk buku ta’ilqot Al-Ghazali selama di Jurjan. Al-Ghazali diejek oleh pimpinan perampok ketika hendak meminta kembali buku ta’liqotnya, “Kalau saja buku ini hilang kamu tak lagi punya ilmu apa-apa.” Kalimat ini menjadkian beliau terpacu untuk menghafalkan seluruh ilmunya. Setibanya  kembali di rumah, beliau menghafalkan seluruh ilmu yang dia dapatkan.

Setelah beberapa saat  dirumah, Al-Ghazali memutuskan ikut rombongan pelajar yang hendak berangkat ke Naisabur, Khurasan. Negri itu dikenal sebagai kotanya ilmu pengetahuan. Disana adalah tempat para pelajar mengadu  nasib, karena menjadi tempat asimilasi ilmu pengetahuan dari berbagai tokoh besar. Disana beliu memutuskan untuk ngaji kepada tokoh sentral Mazhab Syafi’I, salah satu ulama terbesar dimasanya, Imam Al-Haramain yang mengasuh Madrasah Nidzamiyyah Naisabur. Madrasah yang diprakarsai Alp Arslan. Disinilah akhirnya beliau dapat mengukuhkan dan menguasai pemahaman tentang  fiqh, ushul, ilmu khilaf, jadal, manthiq, hikmah, dan filsafat. Padahal usia beliau kala itu baru menginjak dua puluh delapan tahun. Beliau aktif menulis karya ilmiah, dan mengikuti aktifitas keilmuan lain. Karir beliau menanjak dan beliau mulai memiliki nama besar. Murid kesayangan Imam  Al-Haramain ini bahkan sampai dijiluki Al-Bahr Al-Mughdiq (Lautan luas-deras) oleh gurunya. Al-Ghazali juga mulai diminta membantu mengajar oleh gurunya dan menggantikan gurunya jika berhalangan. Bahkan beliau adalah orang yang dipersilahkan duduk ditempat duduk gurunya, Imam Al-Haramain. Sepeninggal gurunya, beliau meninggalkan Madrasah Nidzamiyyah Naisabur menuju tempat perdana mentri Nidzamul Mulk didekat kota Naisabur. Tempat itu dikenal sebagai perkumpulannnya ulama-ulama besar berdiskusi. Al-Ghazali yang memang juga jago berdebat segera mendapat nama dan diakui kehebatnnya. Popularitas beliau segera menanjak. Nama Al-Ghazali cukup disegani karena kedalaman ilmunya. Beliau segera diundang  oleh perdana mentri Nidzamul Mulk yang memang mencintai ilmu pengetahuan ke Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang bergengsi dimasanya.  Ketika tiba di Baghdad  tahun 1091 M/484 H puncak karir imam Al-Ghazali mencapai babak baru.

Nama Imam Al-Ghazali semakin bersinar. Maklum, Baghdad adalah ibukota pemerintahan islam “yang sah” saat itu. Dan Madrasah Nidzamiyyah Baghdad seolah menjadi sentralnya ilmu pengetahuan diseluruh dunia islam. Fatwa-fatwanya bisa mencapai pelosok negeri. Karya-karyanya dibaca dan dikaji dimana-mana. Diusia beliau yang tergolong masih muda, tiga puluh tiga tahun, bisa dikatakan semua sudah diraih Imam Al-Ghazali. Hidup di istana sebagai penasihat perdana mentri Nidzamul Mulk, fasilitas hidup serba mewah, penghormatan setinggi-tingginya, dan menjadi profesor di Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Seperti mimpi, padahal tiga puluh tahun silam, beliau masih hidup dalam kubangan kemiskinan ditengah-tengah keluarga yang nyaris tak memiliki “nama” di Thus. Nama Imam Al-Ghazali segera dikenal sebagai imamnya orang-orang Iraq, setelah sebelumnya dikenal sebagai imamnya orang-orang Khurasan.

Di Baghdad beliau dikenal gigih memperjuangkan Mazdhab Ahlusssunnah Al-Asy’ari dari serangan bermacam-macam ancaman aktual kala itu. Permasalahan akidah kala itu menjadi pembahasan mainstream, dimana semua orang mengaku benar, dan semua orang mengaku yang paling selamat. Selain itu, dalam karyanya, “Tahafut Al-Falasifah” (kerancauan filsafat), Imam Al-Ghazali mempersoalkan keberadaan filsafat sebagi polemik. Jika saja filsafat hanya berkaitan dengan fenomena dunia yang nampak, seperti kedokteran, astronomi, atau matematika, bukan masalah metafisika  yang membahas ketuhanan, maka filsafat akan sangat berguna. Tidak mungkin doktrin emanasi dibuktikkan. Dan anggapan mereka bahwa tuhan terlalu agung untuk tahu hal-hal yang juz’I, partikular, adalah realitas rendah yang tak masuk akal. Akhirnya, menurut beliau filsuf jadi tidak filosofis karena menggali sesuatu yang diluar kemampuan mereka. Meskipun begitu, sanggahan Imam Al-Ghazali segera mendapat tanggapan dari Ibn Rusydi, ulama Andalusia, yang segera menulis karya tandingan, “Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan KitabTahafut Al-Falasifah). Adu argumen tak terelakkan, ketika konon Imam Al-Ghazali dengan mudah menjawab kitab Ibn Rusydi dengan karyanya “Tahafut Al-Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan kitab Tahafut  Al-Tahafut). Imam Al-Ghazali juga menghadapi konflik internal dalam madzhabnya sendiri. Banyak kalangan yang mencoba menyerang pemikirannya, dan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bisa dibaca dalam karya-karyanya, beliau cukup prihatin dengan kondisi sosial kala itu.

Sifatnya yang amat kritis sangat mempengaruhi perjalanan intelektualnya. Ketika akhirnya beliau mulai ditimpa kegalauan yang luar biasa. Keresahan intelektual ini mulai dialami empat tahun setelah beliau tinggal di Baghdad dalam puncak karirnya. Beliau adalah orang yang dirundung nestapa atas ketidak pastiannya kesimpuan-kesimpulan yang beliau hasilkan. Setiap kesimpulan yang beliau rumuskan pada suatu hari, akan beliau klaim salah pada hari yang lain. Semakin dalam beliau menggali pengetahuan, semakin banyak saja hal yang tidak beliau ketahui. Pada awal karirnya, Imam Al-Ghazali percaya pada fakta-fakta indrawi. Tapi tak lama kemudian beliau mempertanyakannya kembali. Kemudian beliau beralih menjadi orang yang percaya dengan logika. Namun akhirnya hal ini dikritik juga. Banyak orang yang menilai pemikiran beliau inkonsisten, ambigu, dan kontradiktif. Tentu saja sulit membaca sepak terjang wawasan Imam Al-Ghazali karena keilmuwannya yang kaya. Banyak sarjana-sarjana modern di timur dan barat banyak yang gagal menyimpulkan benang merah pemikiran beliau. Beliau bukan saja sosok yang misterius bagi banyak orang, namun barangkali juga bagi dirinya sendiri.

Kekecewaan-kekecewaan banyak beliau alami ketika bergelut dalam ilmu kalam dan filsafat. Hingga pada bulan Rajab 488 H, tulis Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz Min Al-Dzalal, selama hampir enam bulan hari demi hai beliau dilanda kebimbangn dan kegalauan luar biasa.

Hingga akhirnya pada tahun yang sama, 1094 M. beliau tidak mampu lagi berbicara sepatah katapun untuk sekedar member kuliah pada murid-muridnya. Imam Al-Ghazali mengalami depresi  klinis, para dokter dengan tepat mendiagnosis adanya konflik batin mendalam dalam jiwanya.

Aku pernah memaksakan diri untuk mengajar pada suatu hari. Namun lidahku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.” (Al-Munqidz Min Al-Dzalal)

Akhirnya beliau mengambil keputusan yang mencengangkan. Beliau mengundurkan diri dari dunia keilmuan, meninggalkan seluruh pencapaian prestisiusnya, dan memilih mengembara ke Damaskus. Beliau meminta saudara kandungnya, Syaikh Ahmad untuk menggantikan posisi beliau di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih melupakan nama besarnya di dunia intelektual. Babak lain perjalanan Imam Al-Ghazali sudah dimulai. Beliau menyendiri dan beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayah di Damaskus. Untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis, mengunjungi maqam Nabi Ibrahim AS. Disana beliau bernadzar tiga hal, tidak akan lagi menerima harta pemberian apapun dari penguasa, tidak akan pergi menemui penguasa, dan tidak akan lagi berdebat dengan siapapun. Dalam syairnya yang terkenal, Imam Al-Ghazali bersenandung;

تركت هوي ليلي و سعدي بمعزل ><و عدت الي تصحيح أول منزل

ونادت بي الأشواق: مهلا فهذه ><منازل من تهوى رويدك فأنزل

Aku Pernah tinggalkan Laela dan Su’ada sendiri ditempat terasing. Aku kini pulang, membenahi rumahku yang awal. Kerinduan demi kerinduan memnggilku. Oh, pelan-pelan saja tuan. Inilah rumah-rumah orang yang engkau cinta. Aku singgah….”

Ketika beliau kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Thus. Disini beliau mempertahankan nadzarnya diatas maqam Nabi Ibrahim AS. Untuk tidak mendekati penguasa dengan menolak surat permintaan penguasa Baghdad agar kembali mengajar di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih hidup sederhana di Thus, dengan sebuah lahan miliknya, yang cukup sederhana untuk menghidupi keluarga kecil beliau. Beliau tidak tergiiuar dengan tawaran hidup kaya raya dan mapan dengan menjadi professor di Madrasah Nidzamiyyah.

Ketika menunaikan ibadah haji dan umrah, beliau kembali singgah di Damaskus dan kembali sambil menutup pintu, Imam Al-Ghazali beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayyah. Pada saat inilah, menurut cerita, beliau mengarang master piecenya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din.

Ada yang mengatakan setelah ini beliau singgah di Mesir dan Iskandariyyah, beliau sempatkan, menurut cerita, mengunjungi Maqam Imam Syafi’I dan Imam Muzani. Lalu saat hendak kembali pulang melewati Khurasan, beliau singgah tak berapa lama di Baghdad. Di pondoknya Abi Sa’id Naisaburi dekat Madrasah Nidzamiyyah. Namun bukan dalam rangka kembali mengajar, beliau hanya sempatkan singgah beberapa saat untuk kemudian menuju Khurasan dan pulang ke Thus. Di tanah kelahirannya ini Imam Al-Ghazali membangun “pondok” kecilnya dengan sekitar seratus lima puluh murid, beliau menghabiskan masa-masa akhirnya dengan mengkhatamkan Alquran, mengaji dan kegiatan lain sehingga waktu beliau tak pernah kosong dari hal-hal positif. Beliau kembali menolak dengan beragam alasan ketika datang kembali surat permohonan dari perdana mentri Iraq supaya Imam Al-Ghazali mau mengajar kembali di Madrasah Nidzamiyyah.

Nihayatus sâlik bidâyatuhu. Masa-masa akhir “seseorang” kadang justru adalah kembali mengulangi masa-masa awal yang dulu ia tinggalkan. Hanya saja dengan sikap yang lebih matang.

Disarikan dari kitab Thâbaqât Al-Syafi’iyyah Kubrâ, Pengantar Kitab Al-Bâsith dan Al-Munqidz Min Al-Dzalal.

 

Renungan Hikmah Haji

Islam selalu menarik untuk digali. Banyak hikmah-hikmah tersembunyi dibalik disyari’atkannya berbagai macam ibadah oleh Allah SWT lewat perantara nabi besar Muhammad SAW. Salah satunya adalah ibadah haji, ibadah tahunan yang rutin dilakukan umat islam dari seluruh dunia ini telah menjadi identitas agama islam. Dialah salah satu pilar dan rukun islam, dan dengan ditunaikannya akan menjadi benar-benar sempurna islam seseorang.

Haji ternyata bukan ritus ibadah biasa yang manfaatnya hanya kembali kepada hamba masing-masing. Sama seperti ibadah yang lain, haji memiliki rahasia sendiri, yang sedikit banyak telah disitir dalam alquran.

Haji juga momen istimewa berkumpulnya umat muslim dari seluruh penjuru dunia. Kearifan agama islam yang secara tidak langsung mengajarkan umatnya agar memiliki jiwa sosial disalurkan lewat salat jamaah lima waktu. Aktifitas ini menjadi pemersatu, tidak ada istilah tuan yang terhormat dan budak, karena setiap orang berdiri berdampingan lurus dalam satu barisan. Dalam intensitas yang lebih besar, setiap muslim dari suatu daerah dikumpulkan dalam satu majlis salat jumat. Aktifitas sosial perlahan terbentuk, dan semakin kuat karena setidaknya dalam setahun dua kali mereka juga dikumpulkan dalam salat hari raya.

Hal tersebut seolah belum cukup, dalam ritus haji, tidak hanya umat muslim yang berasal dari satu daerah yang berkumpul. Umat muslim dari seluruh dunia dikumpulkan dalam satu kalimat yang sama. Mereka menuju baitullah yang sama, dan mereka menyerukan doa yang sama.

Manusia saling mengenal, mereka bisa bertukar beragam hal yang bermanfaat dan akhirnya berguna bagi kehidupan. Karena saling mengenal merupakaan salah satu sebab timbulnya rasa saling menyayangi. Dari sinilah Allah SWT mensyari’atkan salat berjamaah, salat jumat, salat hari raya, dan pada akhirnya wuquf di Padang Arafah. Wukuf di Padang Arafah merupakan perkumpulan umat islam yang terbesar. Berkumpulnya umat islam di Padang Arafah yang agung ibarat kata menjadi kongres besar agama islam. Orang-orang islam berkumpul dari berbagai penjuru dunia setiap tahun sekali untuk menyatukan tujuan dan sebagai bentuk persatuan umat muslim. Hanya saja, kita umat muslim hari ini telah kehilangan salah satu tujuan penting ini. Banyak dari kita hanya menilai kalau menunaikan ibadah haji tujuannya untuk sekedar menggugurkan kewajiban, dan agar bisa mendapat gelar Al-Hâj (yang telah berhaji).” Kurang lebih tulis pengarang kitab Hikmatul Hajj, Wa Tharîqati A’mâlihi ‘alâ Al-Madzâhib Al-Arba’ah.

Alkisah, ketika Allah SWT mewahyukan kepada nabi Ibrahim AS untuk membangun Kakbah, bahu membahu beliau beserta putra kesayangannya, nabi Isma’il AS membangun pondasi Kakbah hingga utuh berdiri. Sebagai salah satu amal jariyah yang tak pernah putus-putus pahalanya. Allah SWT kemudian berfirman,
{وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ } [الحج: 27]
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj; 27)Nabi Ibrahim AS kemudian berdiri diatas maqam Ibrahim dan berseru, “Wahai para hamba Allah! Penuhilah panggilan Allah.” Kemudian secara ajaib, atas kuasa Allah SWT, orang-orang dari berbagai penjuru dunia, bahkan mereka yang hidup dan tinggal di daerah pedalaman sekalipun mulai berdatangan menuju Kakbah untuk memenuhi seruan nabi Ibrahim AS. Hingga kini, para jamaah haji selalu disunahkan membaca talbiyyah, bacaan “Labbaikallahumma labbaik”. Yang kurang lebih jika diartikan, “Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu”.Hikmah Ibadah HajiHaji adalah momen yang tepat untk saling tukar informasi. Tentu zaman dahulu ketika belum datang era digital dan globalisasi, orang memanfaatkan musim haji untuk berkirim kabar. Jikapun terjadi sesuatu dengan komunitas muslim di negri asal masing-masing, maka jamaah bisa minta bantuan pada jamaah lain yang memiliki komunitas yang jauh lebih kuat memanfaatkan momen haji. Itu salah satu contoh yang dikemukakan oleh Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitab Hikmah Al-Tasyri’nya. Ketika semua umat muslim dari beragam etnis berkumpul, haji juga bisa menjadi pusat akulturasi budaya. Mekah seolah menjadi “pusat kebudayaan sementara” karena berbagai peziarah yang datang punya latar belakang adat istiadat yang berbeda-beda tumpah menyatu. Bisa disatukan kala bangsa Turki, misalkan dengan budayanya bertemu dengan bangsa China dengan budayanya. Cara hidup yang berbeda di suatu negri  muslim mungkin akan cocok diterapkan di negri muslim yang lain. Para jamaah bisa saling berbagi pengetahuan dan bertukar pengalaman.

Haji juga merupakan ibadah yang bisa menjadi cara untuk mensyukuri nikmat. Seperti tertera dalam kutub al-salaf, segala ibadah yang kita lakukan ada yang dipenuhi dalam rangka memenuhi hak sebagai seorang hamba, dan adakalanya dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya. Yang istimewa, ibadah haji mencakup kedua-duanya. Jelaslah dalam haji kita menampakkan kehambaan kita, tidak boleh berhias, memakai minyak wangi bahkan menyisir rambut saja dilarang. Muhrim juga diwajibkan memakai baju yang sangat sederhana tanpa jahitan. Yang dengan keadaan apa adanya ini, sang hamba mengharap akan kasih sayang tuhannya. Sedangkan menampakkan rasa syukur, adalah dengan menginfaqkan harta dan kesehatan yang kita miliki guna menunaikan ibadah haji. Sesuai makna dan hakikat syukur yang benar.

Zaman dahulu, muslim haji adalah musim yang amat ditunggu-tunggu bagi penduduk tanah haram. Berkahnya terasa karena jutaan jamaah haji tidak mungkin rasanya pulang tanpa menyempatkan diri untuk sekedar membeli sesuatu. Sektor perekonomian bisa membaik dengan datangnya tamu-tamu dari berbagai belahan dunia ini. Seperti kita tahu, tanah haram, terutama Mekah adalah negri yang amat mengandalkan perdagangan untuk menunjang kelangsunan hidup. Di Mekah, orang tidak mungkin bercocok tanam karena tanahnya yang gersang dan jarang turun hujan. Dengan datangnya musim haji, berkah bagi para penduduk Mekah yang umumnya pedagang sangat dirasakan.

Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi juga menambahkan, jikalau ibadah haji adalah pelajaran memurnikan akhlak. “Orang yang tengah menunaikan ibadah haji adalah orang yang tengah berpidah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain.” Dalam tanda kutip, kita tentu mengetahui akan jauh berbeda rasanya orang yang telah menyelesaikan ritus hajinya. “Dan menjadi orang yang telah diberikan kenikmatan akhlak.” Kita bisa gambarkan, tatkala seorang hamba hendak melangkahkan kaki keluar rumah, ia telah mengakui kesalahan dan bertaubat atas segala dosa-dosa yang ia perbuat. Seraya yakin akan ampunan-Nya. Ia punya gambaran niatan yang baik untuk tak pernah sekalipun mengulangi lagi kesalahan yang telah lewat dimasa lalu.

Maka mari kita syukuri datangnya musim haji tahun ini, kita selalu berdoa, semoga ada di antara kita yang nantinya bisa segera menyusul saudara muslim kita, untuk menziarahi tanah haram. Atau bagi yang sudah pernah, tak ada salahnya berdoa semoga bisa kembali mengulang masa-masa indah itu.[]

Iman dan Islam dalam Perspektif Ihya’ Ulumuddin

Banyak ulama berupaya melakukan kajian objektif mengenai maksud kata iman dan islam. Apakah keduanya memiliki makna yang sama? Ataukah justru keduanya berbeda? Salah satu ulama yang mencobanya adalah Syaikh Abu Thȃlib Al-Maky. Namun kajian iman dan islam Syaikh Abu Thȃlib ini menuai kritik dari Hujjatul Islam Imam Abu Hȃmid Al-Ghazali, karena dinilai terlalu berbelit-belit dan justru membingungkan. Berangkat dari situ, Imam Ghazali membuat sebuah kajian yang lebih runtut dan sederhana difahami, versi beliau.

Imam Al-Ghazali dalam masterpiecenya, Ihya Ulumuddin menambahkan satu pasal khusus yang panjang lebar menjelaskan tentang iman dan islam. Dalam Kitab ‘Aqaid (Salah satu bagian dari kitab Ihya Ulumuddin) pasal tersebut disisipkan. Kajian beliau meliputi makna iman dan islam yang dikaji dari tiga aspek. Aspek bahasa, tafsir, dan kacamata fiqh.

Dari sisi bahasa, iman jika diartikan adalah tashdiq, yang artinya membenarkan. Sedangkan islam, adalah bentuk Arab dari kata pasrah, dan memasrahkan diri dengan cara tunduk, patuh, tidak membangkang, dan lain sebagainya.

والحق فيه أن الإيمان عبارة عن التصديق قال الله تعالى وما أنت بمؤمن لنا أي بمصدق والإسلام عبارة عن التسليم والاستسلام بالإذعان والانقياد وترك التمرد والإباء والعناد

“Pada kenyataannya, iman memiliki arti tashdiq (membenarkan), Allah SWT berfirman وما أنت بمؤمن لنا (Artinya: ‘Engkau tidaklah membenarkan-Ku’). Sedangkan islam artinya adalah taslim (pasrah) dan istislam (memasrahkan diri)”[1]

Tentu saja ini membuahkan kesimpulan, kalau dari segi kajian bahasa, islam dan iman tidaklah sama. Iman cenderung pada masalah keyakinan, masalah hati. Sementara islam adalah masalah pasrah lahiriyah, masalah anggota luar. Demikian Imam Al-Ghazali membahasakan.

Dari sisi tafsir dan penggunaan oleh syari’at (kata iman dan islam yang ditemukan dalam naskah Alquran dan hadis), beliau menguraikan benang simpul bahwa baik kata iman maupun islam memang kadang ditemukan dalam makna yang sama persis, dan kadang justru berbeda jauh maknanya.

والحق فيه أن الشرع قد ورد باستعمالهما على سبيل الترادف والتوارد وورد على سبيل الاختلاف وورد على سبيل التداخل

Pada kenyataannya, syari’at terkadang menggunakan kata iman dan islam dalam satu makna, berbeda makna, dan kadang dengan makna yang saling terjalin. [2]

Sulit dan tidak bisa disimpulkan begitu saja, menurut beliau, kalau iman dan islam adalah semakna dalam hal ini. Oleh karena hal ini, beliau menolak mentah-mentah pendapat kaum Mu’tazilah dulu yang langsung mengklaim kalau iman dan islam adalah semakna. Pemahaman yang salah dari mu’tazilah ini memunculkan kesimpulan yang salah pula kalau orang yang melakukan dosa besar tidak bisa dikatakan beriman mnurut mereka.

Tendensi yang dilampirkan Imam Al-Ghazali untuk melengkapi kesimpulan beliau adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibn ‘Umar RA, hadis islam terbangun dari lima perkara (بُنِيَ الْإِسْلَامُ على خمس), yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, serta menunaikan ibadah haji. Karena pada kesempatan yang lain, Nabi Muhammad SAW pernah menjawab dengan kelima hal tersebut dikala seseorang datang menemui beliau dan bertanya tentang apakah itu iman.[3] Kedua hadis ini jika digabungkan akan menghasilkan kesimpulan kalau iman dan islam memiliki makna penafsiran yang sama persis.

Lalu jelas disebutkan dalam Alquran,

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ  [الحجرات: 14

Orang-orang Arab Badui berkata ‘Kami telah beriman’, katakanlah ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah kalian, ‘Kami telah masuk islam’ dan iman belumlah masuk kedalam hati kalian. ’ “(QS. Al-Hujurat; 14)

Ayat ini dengan gamblang menunjukkan kalau iman dan islam jelas memiliki makna penafsiran yang jauh berbeda.

Kemudian hadis yang menjadi dalil kalau iman dan islam memiliki makna yang terjalin satu sama lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

أنه سئل فقيل أّيّ الأعمال أفضل فقال صلّى الله عليه وسلّم الإسلام فقال أيّ الإسلام أفضل فقال صلّى الله عليه وسلم الإيمان. رواه أحمد

Nabi pernah ditanyai, ‘Amalan manakah yang paling utama?’ Nabi menjawab, ‘Islam’ Lalu orang tadi kembali bertanya, ‘Islam manakah yang palin utama?’ Nabi menjawab, ‘Iman’ ”(HR. Ahmad)

Maksudnya adalah, iman merupakan bagian penting dari islam. Tapi keduanya bukanlah hal yang sama.

Menanggapi penafsirannya yang berbeda-beda, Imam Al-Ghazali mencoba mempertegas, bahwa pemakaian kata iman dan islam secara bersamaan tidak akan lepas dari penggunaan majaz. Kalau iman dan islam sedang diartikan sebagai sesuatu yang berbeda, berarti islam diposisikan sebagai tashdiq bil qolbi, bahasa hati yang percaya akan kehadiran-Nya, dan islam diposisikan sebagai taslimnya anggota lahiriyah seseorang. Atau jika iman dan islam sedang ditafsirkan sebagai dua hal yang sama, maka iman kita letakkan tidak hanya sebagai porsi pasrahnya anggota lahiriyah saja, tapi juga anggota batin (hati). Penafsiaran yang lebih sesuai jika dikaitkan dengan penggunaan bahasa menurut Imam Al-Ghazali sebenarnya adalah penafsiran terakhir.

وهو أوفق الاستعمالات في اللغة لأن الإيمان عمل من الأعمال وهو أفضلها والإسلام هو تسليم إما بالقلب وإما باللسان وإما بالجوارح وأفضلها الذي بالقلب وهو التصديق الذي يسمى إيماناً

Penafsiran bahwa iman dan islam adalah dua hal yang saling terkait adalah penafsiran yang paling sesuai jika ditinjau dari sudut bahasa.  Karena pada dasarnya, iman merupakan bagian dari amalan –Amalan paling utama adalah iman-. Sedangkan islam jika diterjemahkan adalah memasrahkan diri, entah dengan hati, lisan, atau anggota badan lain. Dan upaya memasrahkan diri yang terbaik adalah dengan hati. Hal ini juga disebut sebagai tashdiq, kata lain dari bahasa ‘iman’.[4]

Imam Al-Ghazali tidak menjelaskan dengan spesifik, karena iman terkadang maksudnya adalah islam, dan sebaliknya. Atau terkadang ditemukan penafisran, jika iman dan islam artinya jauh berbeda.

Bersambung, Insya Allah…

 

[1] Ihya Ulumuddin 108/1 Darul Fikr.

[2] Ibid

[3] Lihat Sunan Al-Baihaqi bab I’tiqad. Hais ini diriwayatkan oleh sahabat Ibn ‘Abbas RA.

[4] Ihya Ulumuddin 109/1 Darul Fikr.

Menantikan Sang Pembaharu

Kehadiran seorang mujaddid sudah menjadi sunnatullah. Diriwayatkan dalam hadis nabi Muhammad SAW yang begitu termasyhur, bahwa dalam kurun waktu seratus tahun sekali akan muncul seorang ulama besar dan tokoh islam yang menjadi seorang mujaddid. Dari sahabat Abu Hurairah RA, bahwasanya nabi Muhammad SAW pernah bersabda;

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَ. سنن أبي داود

Allah SWT mengutus kepada umat ini, setiap seratus tahun orang yang ‘memperbarui’ urusan agama mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dalam bahasa Indonesia, mujaddid memiliki arti sebagai pembaharu, atau reformer dari akar kata Jaddada (sebagai fi’il mȃdhi, atau verba perfek, kata kerja yang menunjukkan bentuk masa lampau) dan Yujaddidu (sebagai fi’il mudhori’, atau verba imperfek). Kata mujaddid seolah sudah menjadi istilah resmi untuk kata sang pembaharu. Ulama menafsiri hadis tersebut dengan banyak tafsiran. Banyak versi mengenai maksud dan siapakah orang yang disebut Rasulillah. KH. Maimun Zubair dalam karangan beliau, Ulama Mujaddidȗn mengatakan, bahwa sebenarnya frasa yang lebih tepat untuk menerjemahkan mujaddid dalam hadis tersebut bukanlah sang pembaharu, namun sang pemurni. Maksudnya, setiap seratus tahun akan selalu ada orang-orang yang menghidupkan kembali amaliyah-amaliyah yang ada dalam Alquran dan hadis yang mulai lutur dan pudar. Tidak berhenti sampai di situ saja, mujaddid juga memiliki peran sebagai penyeru atas nilai-nilai Alquran dan hadis, memadamkan gejolak bid’ah baik dengan lisan atau tulisan.  Mujaddid, menurut Mbah Maimun juga berarti orang-orang yang menanamkan kembali nilai-nilai salafus salih di era modern, dengan tentu saja tetap bisa menyesuaikan diri terhadap peralihan zaman.[1] Sejalan dengan pendapat ini, Syaikh ‘Aly bin Sulthan Muhammad Al-Qary dalam karyanya[2]  menulis, Mujaddid adalah orang yang bisa memisahkan sunah dan bid’ah, menyebar luaskan ilmu, memuliakan para ahli ilmu, dan memberantas bid’ah serta  ahli bid’ahnya. Mujaddid juga bisa luas artinya, tidak hanya berasal dari para faqih, tidak hanya berasal dari para ahli hadis saja. Tapi lebih umum lagi, Mujaddid bahkan bisa berasal dari latar belakang seperti pemimpin dan kepala negara. Seperti sang Mujaddid kurun pertama yang berlatar belakang politik, Khalifah Umar bin ‘Abdul Aziz.[3]

Mujaddid Haruskah Mujtahid?

Tidak ada yang menyebutkan dan mengharuskan syarat dan kriteria ini. Dapat kita lihat dari referensi-referensi klasik, tentang siapakah sang mujaddid. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Disebutkan, mujaddid pada kurun pertama adalah Khalifah Umar bin ‘Abdul Aziz, seorang tokoh pemimpin besar islam yang banyak berjasa meski hanya memimpin dalam waktu sebentar. Lalu di kurun ke dua adalah mujtahid Imam Syafi’i, alim pendiri madzhab Syafi’iyah. Kurun selanjutnya ada Syaikh Abu Hasan Al-Asy’ary, tokoh yang berjasa besar di bidang akidah. Beliau juga merupakan pendiri madzhab Asy’ariyah dalam tauhid. Kurun ke empat, ada Qadhi Al-Baqilany, seorang teolog yang terkenal dan berjasa menghidupkan islam. Lalu kurun ke lima ada Imam Al-Ghazali, ulama besar yang pernah memimpin Madrasah Nidhamiyah dan menentang keras orang yang mengusik islam lewat media buku-buku yang ditulisnya. Lalu di kurun ke enam, Imam Rofi’i dan Imam Nawawi, dua ulama yang dijuluki Syaikhȃni dalam literatur kitab-kitab Syafi’iyyah. Kurun-kurun selanjutnya, ulama menyebut Ibn Daqiq Al-’Ied, Imam Al-Bulqiny, dan Imam Suyuti adalah tokoh yang pantas disebut sebagai mujaddid. Mereka semua tentu memiliki spesifikasi yang berbeda-beda. Hanya saja, seolah setuju dengan pengutipnya, Imam Suyuti menulis dalam Taisirul Ijtihad[4] bahwa seyogyanya tokoh-tokoh yang nantinya termasuk mujaddid adalah orang-orang yang benar-benar menguasai berbagai macam disiplin. Tentu saja yang dimaksud adalah mujtahid.

Menanti Sang Pemurni

Zaman sudah bergulir, sekarang bahkan sangat sulit untuk menemukan kembali mutiara-mutiara yang berkilau seperti dulu. Sangat sulit untuk menemukan kembali orang seperti Imam Nawawi, atau Imam Rofi’i. Namun janji Rasulillah tak mungkin dibantah. Setiap kurun pasti akan ada minimal satu orang yang berjasa memurnikan kembali ajaran agama islam sesuai dengan masanya para salaf salih. Mbah Maimun lengkap menyebut dalam karyanya siapa saja tokoh setelah Imam Suyuti yang layak disebut sebagai mujaddid. sebagai catatan, Imam Suyuti menurut ulama juga merupakan seorang mujaddid. Setelah semakin menurunnya kualitas dan produktifitas pada kurun ke sepuluh, dirasakan betul akibat para penjajah dan penguasa barat yang daerah jajahannya menyebar bahkan ke wilayah daulah islami, pengaruh kaum muslimin sendiri semakin tertutup.[5] Namun tetap ada saja para tokoh yang kemudian oleh KH. Maimun Zubair disebut sebagai mujaddid. Kurun ke sepuluh beliau menyebut Imam Ja’far Al-Barzanji, penulis kitab maulid monumental yang masih terus dilantunkan hingga kini, kitab Al-Barzanji, dan juga Habib ‘Abdullah bin ‘Alwy Al-Haddad. Beliau memang layak disebut sebagai mujaddid. Pertanyaan terbesar, lantas hari ini siapakah sang mujaddid yang dijanjikan Rasulillah SAW dalam hadisnya? Mbah Maimun tidak menjawab secara tegas pertanyaan tersebut. Kita sangat menantikan, siapakah sang mujaddid islam hari ini?[]

[1] Lihat; Ulama Mujaddidun, hal 7.

[2] Mirqat Al-Mafatih syarh Misykat Al-Mashabih 1/321

[3] Ibid.

[4] Hal 51

[5] Ulama Mujaddidun; hal 9.