Category Archives: Artikel

Dispensasi Puasa bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Ibadah puasa Ramadhan menjadi sebuah kewajiban bagi setiap orang Islam yang telah memenuhi syarat puasa, tak terkecuali ibu hamil dan menyusui.

Namun pada keadaan tertentu, syariat memberikan kemurahan untuk bagi keduanya untuk tidak melakukan puasa sesuai ragam kekhawatiran yang ada, yakni pada dirinya sendiri (qada’ dan tidak wajib fidyah), pada dirinya sendiri dan anaknya (qada’ dan tidak wajib fidyah), pada anaknya (qada’ dan wajib fidyah menurut pendapat paling kuat).

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitab al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab:

الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ إنْ خَافَتَا مِنْ الصَّوْمِ عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَفْطَرَتَا وَقَضَتَا وَلَا فِدْيَةَ عَلَيْهِمَا كَالْمَرِيضِ … وَإِنْ خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا وَوَلَدَيْهِمَا … وَإِنْ خَافَتَا عَلَى وَلَدَيْهِمَا لَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَفْطَرَتَا وَقَضَتَا بِلَا خِلَافٍ وَفِي الْفِدْيَةِ هَذِهِ الْأَقْوَالُ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ (أَصَحُّهَا) بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ وُجُوبُهَا… وَنَصَّ فِي الْبُوَيْطِيِّ عَلَى وُجُوبِ الْفِدْيَةِ عَلَى الْمُرْضِعِ دُونَ الْحَامِلِ فَحَصَلَ في الحامل قَوْلَانِ وَنَقَلَ أَبُو عَلِيٍّ الطَّبَرِيُّ فِي الْإِفْصَاحِ أَنَّ الشَّافِعِيَّ نَصَّ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ عَلَى أَنَّ الفِدْيَة ليْسَتْ بِوَاجِبةٍ عَلَى وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَلْ هِيَ مُسْتَحَبَّةٌ

“Ketika ibu hamil dan menyusui khawatir terhadap dirinya apabila berpuasa maka boleh tidak puasa dan wajib qada’ serta tidak ada fidyah sebagaimana orang sakit… Konsekuensi tersebut juga berlaku apabila mereka khawatir pada dirinya dan anaknya… Apabila mereka hanya khawatir pada anaknya, bukan pada dirinya, maka boleh berbuka dan qada’ tanpa perbedaan pendapat. Adapun dalam masalah fidyah sesuai beberapa pendapat yang dikemukakan mushonif. Dan yang paling shahih menurut Ashhab adalah wajib… Dan dijelaskan dalam kitab al-Buwaithi wajibnya fidyah hanya pada ibu menyusui, bukan ibu hamil karena dalam ibu hamil ada dua pendapat. Dan Abu Ali at-Thabari menukil dalam al-Ifshah bahwa Imam Syafi’i menjelaskan bahwa fidyah tidak wajib atas ibu hamil dan menyusui, akan tetapi sebatas sunah.”

Apabila mengikuti pendapat yang mewajibkan fidyah, maka harus mengeluarkan 1 mud (kurang lebih 7 ons) makanan pokok pada fakir miskin per hari. []waAllhu a’lam

ETIKA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDOA

Bulan suci Ramadhan telah tiba. Kita umat muslim di seluruh penjuru dunia menyambut datangnya bulan suci Ramadhan ini dengan penuh rasa suka cita. Banyak sekali amaliah dan ibadah yang dianjurkan untuk diperbanyak dilakukan saat datangnya bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah berdoa.

Berdoa adalah sunah. Dalam Alquran disebut bahwa kita umat muslim senantiasa diperintahkan untuk berdoa. Dan Allah SWT akan mengabulkan doa tersebut.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.’ Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60).

Penting untuk diperhatikan, dalam berdoa pun ada etika dan tata krama tersendiri. Dikutip dari kitab Al Barakah fi Fadhlis Sa’yi wal Harakah, ada tata cara berdoa sebagaimana diajarkan oleh sahabat besar Abdullah bin Abbas Ra.

وقال ابن عباس رضي الله عنهما : ( المسألة : أن ترفع يديك حذو منكبيك ، والاستغفار : أن تشير بإصبع واحدة ، والابتهال : أن تمد يديك جميعا هكذا ) ورفع يديه وجعلهما مما يلي وجهه .

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Etika bedoa adalah dengan mengangkat tangan sejajar dengan pundakmu. Jika istighfar, atau memohon ampun maka angkat atau acungkanlah satu jari telunjukmu. Jika ibtihal, doa dengan tadhorru’ atau doa untuk sesuatu yang genting maka angkatlah tanganmu seperti ini”. Beliau memeragakan doa dengan mengangkat kedua tangan beliau sejajar dengan wajah.

Diantara adab lain berdoa yang tak kalah penting diperhatikan juga sebenarnya adalah berpenampilan rapi dan bersih. Sebab kita sedang memohon kepada Zat yang maha tinggi. Pemilik seluruh alam semesta. Ada satu hadis yang melarang berdoa sambil mendongakkan kepala, dengan mata memandang ke langit. Dalam berdoa tentunya harus senantiasa menampilkan rasa lemah sebagai seorang hamba.

Adab lain, adalah jangan hanya berdoa dengan mengangkat satu tangan saja, kecuali memang ada udzur. Dan juga jangan mengangkat kedua tangan yang tertutup saat berdoa.

Demikian tadi adalah etika saat berdoa. Setelah doa selesai dipanjatkan, kita dianjurkan untuk mengusap telapak tangan ke wajah kita. Kemudian menutup bacaan doa dengan kalimat “amin”. Yang berarti semoga Allah SWT mengabulkan doa kita.

Sebagai catatan, jika doa yang dipanjatkan adalah doa tolak balak, maka posisikan punggung telapak tangan sebagai yang menghadap ke langit. Istilah sederhananya adalah membalik telapak tangan kita. Ini sesuai pendapat yang di-nash oleh Imam Ar Rafi’i, Imam An Nawawi, dan para Imam lainnya.

Wallahu a’lam.

Hukum Menggosok Gigi Ketika Puasa

Dalam keadaan puasa, bau mulut orang yang berpuasa menjadi sebuah keistimewaan tersendiri. Sebagaimana hadis:

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ

“Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi menurut Allah daripada bau misik.” (Shahih al-Bukhari, III/24)

Meskipun demikian, sebagian orang tetap berusaha menjaga kebersihan dan bau mulut meskipun dalam keadaan berpuasa. Baik dengan cara bersiwak atau yang sering dilakukan ialah menggosok gigi menggunakan pasta gigi.

Dalam syariat, bersiwak atau sikat gigi ketika puasa yang dilakukan sebelum dzuhur masih mendapatkan kesunahan. Sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi:

وَ لَا يُكْرَهُ إلَّا لِلصَّائِمِ بَعْدَ الزَّوَالِ

“(Siwak) tidak dimakruhkan kecuali bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari.” (Minhaj at-Thalibin, hlm. 13)

Namun setelah masuk waktu dzuhur (tergelincirnya matahari) ulama berbeda pendapat sebagaimana Syekh Taqiyuddin al-Hishni:

وَهل يكره للصَّائِم بعد الزَّوَال فِيهِ خلاف الرَّاجِح فِي الرَّافِعِيّ وَالرَّوْضَة أَنه يكره لقَوْله عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام (لخلوف فَم الصَّائِم أطيب عِنْد الله من ريح الْمسك) .. وَخص بِمَا بعد الزَّوَال لِأَن تغير الْفَم بِسَبَب الصَّوْم حِينَئِذٍ يظْهر فَلَو تغير فَمه بعد الزَّوَال بِسَبَب آخر كنوم أَو غَيره فاستاك لأجل ذَلِك لَا يكره وَقيل لَا يكره الاستياك مُطلقًا وَبِه قَالَ الْأَئِمَّة الثَّلَاثَة

“Apakah dimakruhkan bersiwak bagi orang yang puasa setelah tergelincirnya matahari? Maka dalam hal ini ada kontradiksi yang unggul pendapat imam ar-Rafi’i dan kitab ar-Raudhah yang berpendapat makruh berdasarkan hadis ‘Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi menurut Allah daripada bau misik.’…. dan dikhususkan dengan waktu setelah tergelincirnya matahari karena perubahan bau mulut disebabkan puasa terlihat pada waktu tersebut. Maka apabila mulutnya berubah setelah tergelincirnya matahari disebabkan hal lain seperti tidur atau selainnya, kemudian ia bersiwak karena perubahan bau itu maka tidak makruh. Menurut pendapat lain tidak dimakruhkan secara mutlak sebagai penuturan 3 madzhab lain.” (Kifayah al-Akhyar, hlm. 21) []WaAllahu a’lam

Hukum Menelan Ludah saat Puasa

Ludah memiliki peran penting bagi pencernaan manusia. Menelan ludah merupakan hal lumrah melihat keberadaan ludah yang menjadi sebuah keniscayaan. Namun bagaimana jika hal tersebut dilakukan saat berpuasa yang tidak memperbolehkan untuk makan dan minum sesuatu apapun?

Dalam permasalahan ini, Syekh Zainuddin al-Malibari menegaskan:

وَلَا يَفْطُرُ بِرِيْقٍ طَاهِرٍ صَرْفٍ اي خَالِصٍ اِبْتَلَعَهُ مِنْ مَعْدَنهِ وَهُوَ جَمِيْعُ الْفَمِّ وَلَوْ بَعْدَ جَمْعِهِ عَلَى الأَصَحِّ

“Tidaklah membatalkan puasa dikarenakan menelan ludah yang suci dan murni dari sumbernya yakni dari semua bagian mulut meskipun setelah dikumpulkan (terlebih dahulu) menurut pendapat yang paling shahih.” (Fathul Muin, hlm. 56)

Alasan utama bahwa puasa tidak batal disebabkan menelan ludah ialah karena hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang sangat sulit untuk dihindari. (I’anah at-Thalibin, II/261)

Syekh Nawawi Banten menjelaskan lebih lanjut:

بِخِلَاﻑ‍ِ ‍ﻣ‍‍َﺎ ‍ﺇ‍ﺫ‍َﺍ ‍ﺧ‍‍َﺮ‍َﺝ‍َ ‍ﻋ‍‍َﻦ‍ْ ‍ﻣ‍‍َﻌ‍‍ْﺪ‍َﻧ‍‍ِﻪ‍ِ ‍ﻛ‍‍َﺎ‍ﻟ‍‍ْﺨ‍‍َﺎ‍ﺭ‍ِﺝ‍ِ ‍ﺇ‍ِﻟ‍‍َﻰ ‍ﺣ‍‍َﻤ‍‍ْﺮ‍َﺓِ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺸ‍‍َّﻔ‍‍ﺘ‍‍َﻴ‍‍ْﻦ‍ِ ‍ﺃ‍َﻭْ ‍ﻛ‍‍َﺎ‍ﻥ‍َ ‍ﻣ‍‍ُﺨ‍‍ْﺘ‍‍َﻠ‍‍ِﻄ‍‍ًﺎ ‍ﺑ‍‍ِﻐ‍‍َﻴ‍‍ْﺮ‍ِﻩ‍ِ ‍ﻛ‍‍ﺒ‍‍َﻘ‍‍َﺎ‍ﻳ‍‍َﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻄ‍‍َّﻌ‍‍َﺎ‍ﻡ‍ِ ‍ﺃ‍َﻭ ‍ﻣ‍‍ُﺘ‍‍َﻨ‍‍َﺠ‍‍ِّﺴ‍‍ًﺎ ‍ﻛ‍‍َﺄ‍َﻥ‍ْ ‍ﺩ‍ﻣ‍‍ﻴ‍‍ﺖ‍ْ ‍ﻟ‍‍َﺜ‍‍َّﺘ‍‍ُﻪ‍ُ ‍ﻓ‍‍َﺈ‍ِﻧ‍‍َّﻪ‍ُ ‍ﻳ‍‍َﻀ‍‍ُﺮُّ ‍ﻧ‍‍َﻌ‍‍َمْ ‍ﻟ‍‍َﻮ ‍ﺍ‍ﺑ‍‍ْﺘ‍‍َﻠ‍‍َﻰ ‍ﺑِذٰﻟ‍‍ِﻚ‍َ ‍ﺑ‍‍ِﺤ‍‍َﻴ‍‍ْﺚ‍ُ ‍ﻳ‍‍َﺠ‍‍ْﺮ‍ِﻱ‍ ‍ﺩ‍َﺍ‍ﺋ‍‍ِﻤ‍‍ًﺎ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﻏ‍‍َﺎ‍ﻟ‍‍ِﺒ‍‍ًﺎ ‍ﺳ‍‍ُﻮ‍ﻣ‍‍ِﺢ‍َ ‍ﺑ‍‍ِﻤ‍‍َﺎ ‍ﻳ‍‍َﺸ‍‍ُﻖ‍ُّ الاِﺣ‍‍ْﺘ‍‍ِﺮ‍َﺍ‍ﺯُ ‍ﻋ‍‍َﻨ‍‍ﻪ‍ُ

“Berbeda halnya ketika ludah telah keluar dari tempatnya, seperti ludah yang menempel di kedua bibir atau ludah yang telah bercampur dengan benda lain semisal sisa-sisa makanan atau ludah yang terkena najis ketika gusi berdarah, maka semua itu bisa membatalkan puasa. Catatan, ketika seseorang diuji dengan semua itu (ludah di bibir, tercampur, dan terkena najis) yang berlangsung secara terus menerus atau sangat sering, maka ia mendapatkan toleransi sebatas perbuatan yang sulit dihindarinya.” (Nihayah Az-Zain, I/188)

Ketika semua perkara benar-benar sulit untuk dihindari, maka tertelannya ludah termasuk darurat. Sehingga kemudahan yang ditawarkan bisa menjadikan puasa yang dijalankan tetap sah. []waAllahu a’lam

Bolehkah Niat Puasa Ramadhan Untuk Sebulan Penuh?

Niat adalah perkara paling fundamental dalam setiap ibadah. Pada puasa Ramadhan, niat harus dilakukan setiap malam menurut madzhab Syafi’i. Namun, ketika ada kesibukan atau aktivitas tertentu seringkali membuat masyarakat lupa untuk niat puasa pada malam hari.

Untuk mengantisipasinya, para ulama menganjurkan niat puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadhan. Hal ini ditujukan apabila suatu hari seseorang lupa untuk niat, maka puasanya tetap sah karena dicukupkan dengan niat satu bulan penuh tersebut dengan mengikuti (taqlid) pada madzhab Maliki.

Imam al-Qulyubi menjelaskan:

وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ

“Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan” (Hasyiyah Al-Qulyubi, II/66)

Yang perlu diperhatikan, niat satu bulan penuh tersebut hanya sebatas antisipasi apabila lupa tidak niat puasa. Sehingga untuk setiap malamnya tetap diwajibkan niat seperti biasa, sebagaimana pendapat madzhab Syafi’i. (Hasyiyah Al-Jamal, II/31)
[]waAllahu a’lam