Category Archives: Artikel

Tertawa dalam Shalat

Ada kejadian menarik saat Kiai Kholil Bangkalan masih menjadi santri di Pesantren Langitan Tuban. Seperti biasanya Kholil muda selalu berjamaah, yang merupakan keharusan para santri. Suatu ketika di tengah shalat Isya tiba-tiba Kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Muhammad Noer yang menjadi imam saat itu. Seusai shalat berjamaah, Kholil dipanggil ke ndalem kiai untuk diinterogasi.

Dengan berkerut kening kiai bertanya, “Kholil, kenapa waktu shalat tadi kamu tertawa terbahak-bahak. Lupakah kamu bahwa hal itu mengganggu kekhusyukan shalat orang lain. Dan shalatmu tidak sah.” ucap Kiai Noer sambil menatap Kholil. “Maaf kiai, waktu shalat tadi saya tidak dapat menahan tawa. Saya melihat kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul (tempat nasi). Karena itu saya tertawa. Salahkah yang saya lihat itu kiai?” jawab Kholil muda dengan tenang, mantap dan sangat sopan.

Kiai Noer terkejut, Kholil benar. Santri baru itu dapat membaca apa yang terlintas di benaknya. Kiai Noer duduk dengan tenang sambil menarik nafas. Sementara matanya menerawang lurus ke depan, lalu serta merta berbicara kepada Kholil. “Kau benar anakku. Saat mengimami shalat tadi perut saya memang sudah sangat lapar. Yang terbayang dalam fikiran saya memang hanya nasi.” ucap Kiai Noer secara jujur.

Maka sejak kejadian itu kelebihan Kholil menjadi buah bibir. Tidak saja di Pesantren Langitan, tetapi juga di sekitarnya.

* * * * *

Kiai Kholil muda tidak sedang meremehkan gurunya. Beliau sangat ta’dzim dengan semua gurunya. Beliau hanya perantara kehendak Allah. Di balik peristiwa itu ada suatu hikmah yang dalam. Allah bermaksud menyempurnakan iman sang guru.

*Dikutip dari buku biografi Kiai Kholil, Surat Kepada Anjing Hitam.

Pentingnya Rasa Cinta

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.

“Habib, saya mau pulang saja.”

“Lho, kenapa?” tanya beliau.

“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.”

“Jangan dulu. Sabar.”

“Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”

“Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”

“Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”

Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai.
Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.

“Ini surat siapa?” tanya Habib.

“Owh, itu surat ibu saya.”

“Bacalah!”

Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.

“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.

“Sudah.”

“Berapa kali?”

“Satu kali.”

“Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”

“Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.” Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.

“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.

Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal. Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan, لأنك قرأت رسالة أمك بالفرح فلو قرأت رسالة نبيك بالفرح لحفظت بالسرعة

Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal.

* * *

Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya. Bagi para guru/pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. Mungkin Anda tidak berhasil menanamkan VIRUS CINTA di hati mereka.

Kantor Muktamar, 11 Maret 2013 jam 12.27 waktu istiwa’.

*Kisah di atas ditranskrip dari salah satu ceramah Habib Jamal bin Thoha Baagil.

Indahnya Perbedaan

Kiai Hasyim Asy’ari menulis sebuah artikel dalam majalah Suara Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 M, beberapa bulan setelah NU didirikan. Dalam artikel ini beliau mengajukan argumentasi, karena kentongan tidak disebutkan dalam hadis Nabi, maka tentunya diharamkan dan tidak dapat digunakan untuk  menandakan waktu shalat.

Sebulan setelah dipublikasikannnya artikel Kiai Hasyim itu, seorang kiai senior lainnya, Kiai Faqih Maskumambang, menulis sebuah artikel untuk menentangnya. Beliau beralasan bahwa Kiai Hasyim salah karena prinsip yang digunakan dalam masalah ini adalah masalah qiyas, atau kesimpulan yang didasarkan atas prinsip yang sudah ada. Atas dasar ini, maka kentongan di Asia Tenggara memenuhi syarat untuk digunakan sebagai penanda masuknya waktu shalat.

Sebagai tanggapannya, Kiai Hasyim mengundang ulama Jombang untuk bertemu dengan beliau di rumahnya dan kemudian meminta agar kedua artikel itu dibaca keras. Ketika hal itu dilakukan, beliau mengumumkan kepada mereka yang hadir, “Anda bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena kedua-duanya benar. tetapi saya tekankan bahwa di pesantren saya kentongan tidak digunakan.”

Beberapa bulan kemudian Kiai Hasyim diundang untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi di Gresik. Tiga hari sebelum tiba, Kiai Faqih, yang merupakan kiai senior di Gresik, membagikan surat kepada semua masjid dan mushala untuk meminta mereka menurunkan kentongan untuk menghormati Kiai Hasyim dan tidak menggunakannya selama kunjungan Kiai Hasyim di Gresik.

* * * * *

Ulama dulu telah memberikan tauladan bagaimana pola pikir saat menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan media pertengkaran dan permusuhan, tetapi sebagai perekat ukhuwah dan memupuk sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain. Sungguh indah jika para pemimpin dan elit politik di negara kita tercinta ini bisa meneladani pesan moral dari kisah di atas.

*Kisah di atas dikutip dari Biografi Gus Dur karya Greg Barton.

Indahnya Berbagi

Seorang sahabat Rasulullah SAW. pada suatu ketika mendapatkan hadiah sebuah kepala kambing yang telah dimasak. Dia merasa bahwa tetangganya yang bernama Fulan beserta keluarganya lebih membutuhkan kepala itu dibandingkan dirinya. Padahal sebenarnya dirinya sendiri juga miskin. Kemudian kepala itu dia kirimkan ke rumah Fulan, tetangganya itu.

Perasaan bahwa tetangganya dinilai lebih membutuhkan ternyata juga dirasakan oleh Fulan yang menerima kepala kambing tersebut. Orang lain yang menerimapun juga punya perasaan yang sama. Sehingga kepala kambing tersebut berpindah tangan hingga tujuh kali dari rumah ke rumah. Akhirnya kepala itu kembali kepada sahabat yang pertama kali menerimanya. Subhanallah.

* * * * *

Beberapa sahabat Rasulullah menderita luka hebat saat perang Yarmuk. Semua hampir mendekati ajal. Semua merasakan rasa haus yang luar biasa. Dalam kondisi semacam itu, ada satu shahabat yang membawa air minum dalam sebuah kantung kecil. Saat salah satunya diberi kantung air itu, sambil menunjuk ke arah temannya dia berkata, “Berikan saja kepada dia!”

Kantong air tersebut lantas diberikan kepada orang yang dimaksud. Ternyata dia juga mengatakan hal yang sama. Sambil menunjuk ke teman yang lain, ia berkata “Berikan saja kepada dia!” Demikian terjadi berulang kali, sehingga semua sahabat yang terluka itu wafat, tanpa ada satupun yang meminum air.

* * * * *

Suatu saat Rasulullah kedatangan seorang tamu. Diajaklah tamu tersebut ke rumah salah seorang istri beliau agar bisa dijamu selayaknya. Namun istri Rasulullah mengatakan, “Kami hanya memiliki air putih.” Rasulullah kemudian berkata kepada para shahabatnya, “Barang siapa yang memuliakan tamuku ini, dia akan mendapatkan surga.” Seorang laki-laki tanpa pikir panjang dengan tegas menjawab, “Saya.”

Diajaklah tamu Rasulallah itu ke rumah. Sesampainya di rumah dia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah!” “Kita tidak punya makanan kecuali makanan untuk anak kita.” “Siapkan makanan itu, pura-puralah meperbaiki lentera dan tidurkanlah anak-anak kita!”

Pada saat malam tiba, tamu Rasulullah itu diajak ke meja makan. Setelah makanan dihidangkan, istri shahabat itu mendekati lentera, berpura-pura memperbaikinya, kemudian memadamkannya. Itu semua dilakukan agar tamu itu merasa nyaman memakan hidangan itu sendirian. Karena makanan yang tersisa hanya untuk porsi satu orang. Tamu itu menikmati makanan itu sendiri. Dalam kegelapan, diia merasa tuan rumah juga ikut makan.

Saat keesokan harinya shahabat itu menghadap Rasulullah, dia disambut dengan senyuman. Rasulullah berkata, “Allah ridha dengan yang kalian lakukan berdua tadi malam.” Kemudian turunlah surat Al Hasyr ayat 9 yang isinya memuji sikap para shahabat Rasulullah tersebut. وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Mereka mendahulukan orang lain atas diri mereka, meskipun mereka sendiri dalam keadaan kekurangan.”

*Kisah ini layak kembali kita renungkan, di tengah gelombang sikap egoisme dan mementingkan diri sendiri mulai mempengaruhi masyarakat kita. Kita masih terlalu sering bersikap pragmatis dengan mempertimbangkan untung rugi dari setiap pengorbanan yang kita lakukan. “Jika saya memberi, saya akan kekurangan. Bagaimana mengatasinya?”

INGAT! Bahagia itu bukan saat kita bisa memiliki segalanya, melainkan saat kita bisa memberi apa yang kita miliki untuk orang lain.

Wejangan Sunan Drajat

Oleh : M. Nur Rofiq. M.J

Urip iku kadya wewayangan, lemampah sanetran kadya ing tangane dalang. Artinya kehidupan adalah sekedar bayang-bayang yang melintas sekejap bagaikan pelakon sandiwara yang beraksi menghabiskan waktunya di atas panggung kemudian tak terdengar lagi suaranya.

Unen-unen di atas adalah setetes dari wejangan Sunan Derajat. Sebuah ilustrasi kehidupan manusia di muka bumi. Hidup manusia di bumi telah dibatasi sejak tertiupnya Ruh ke dalam jasad. Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Cuma sebatas mampir ngombe. Dan ketika tiba saatnya panggilan dari Yang Kuasa (Jawa; Dino wekasan) atau ajal telah menjemput, kita akan berjalan sangat jauh sekali. Jarak yang tiada bertepi menuju singgasana-Nya. Hal ini sesuai dengan wicanten (perkataan) Sunan Derajat “Urip iku mung kadyo mamper ngombe, sabanjure mlaku mane adoh banget parane.

Dalam memperkenalkan ajaran Islam, sunan menggunakan konsep dakwah bil Hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dengan kearifannya ia mencetuskan kaidah untuk hidup bermasyarakat, hidup bersama dengan saling tolong-menolong dan gotong-royong sesamanya.

Yaitu berupa wejangan “Paring teken maring kang kalunyon lan wuto, paring pangan maring kan kaliren, paring sandang marang kang kawudan, paring payung kang kudanan. Bapang den simpangi, ana catur mungkur”. Artinya berikan tongkat pada orang buta, berikan makan pada yang kelaparan, berikan pakaian kepada yang telanjang, dan berikan  payung kepada yang kehujanan. Jangan mendengrkan pembicaraa yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.

Sunan Derajat juga mengajarkan kesantunan dalam berumah tangga. Hal ini di ketahui melalui maqolah beliau; “Wong urip kudu ngupaya boga, tuking boga saking nyambut karya. Seregep makarya biso gawe mulyo tumraping kulawargo, tumrap wong sesomahan kudu amongsi, kulawarga kang apik lamun padha rukun lan darbe panjangka amrih rahayuning jagad. Sing sopo seneng urip tetanggan kelebu janma linuwih. Tonggo iku perlu dicedaki nanging aja ditrisnani.”

Terjemahannya, orang hidup harus mencari nafkah, nafkah ada apabila rajin bekerja, rajin bekerja dapat mendapat kemuliaan kelurga. Orang berumah tangga harus saling cinta mencintai. Keluarga yang baik selalu rukun bersatu dan mencita-citakan kebahagiaan dunia dan akhirat. Barang siapa suka hidup bertetangga itu tergolong manusia yang arif. Tetangga itu perlu didekati akan tetapi jangan dicintai.

Sunan Derajat dalam berdakwah juga menggunakan pendekatan sosial budaya. Beliau selalu menjaga adat peninggalan para leluhur. Ajaran beliau yang terkenal dengan sebutan “Sapta Paweling” atau tujuh pesan fatwa petuah menjadi pusaka leluhur. Paweling dalam bahasa jawa “Weling” berarti pusaka peniggalan para leluhur yang harus diperhatikan. Tujuh petuah Sunan Derajat itu berbunyi;

  1. Memangun resep tiyasing sesama. Artinya agar kita semua senantiasa sebisa mungkin membuat hati orang lain senang. Sesunggunya membuat bahagia kepada orang lain akan terhitung dengan sodaqoh.
  2. Jeruning suka kudu eling lan waspada. Artinya tatkala senag harus ingat dan waspada. Sebab dalam perjalanan hidup ada suka dan duka, oleh karena itu manusia di tuntut sebisa mungkin untuk selalu waspada ketika dalam keadaan suka.
  3. Laskitaning subrata tan nyipta maring pringabayaning lampah. Artinya dalam perjalanan untuk mencapai cit-cita luhur jangan memperdulikan segala bentuk rintangan yang menghadang.
  4. Memperharganing ponco driyo. Artinya agar kita dapat menahan hawa nafsu karena sesunggunya nafsu bagaikan anak kecil, jika kita selalu menuruti kehendaknya ia akan selalu menginginkan secara terus menerus.
  5. Mulyo guno panca waktu. Artinya kebahagiaan lahir batin atau kemulyaan hanyalah bisa dicapai dengan melakukan sholat lima waktu. Sebab melalui sholat lima waktu derajat seseorang akan lebih tinggi.
  6. Heneng, Haning, Henung. Artinya dalam keadaan diam kita memperoleh keheningan, dan dalam keadaan hening itulah kita akan dapat mencapai tujuan luhur dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Berfikirlah dengan tenang, jernih, supaya sampai kepada yang dituju (Allah).
  7. Teruna ing samudra wirajangji, Orang Derajat menyebutnya dengan “Segara ombak pinana tunggal.” Artinya segala gejolak hidup dapat dipahami sebagai perwujudan Irodah Allah. Udzkur?