Category Archives: Artikel

Dakwah Lintas Aliran

Deskripsi masalah :

Berbagai metode dilakukan untuk menyampaikan ilmu pada pencarinya. Jika di dalam pesantren cara yang paling terkenal adalah sororgan dan bandongan. Akhir-akhir ini kedua metode tersebut bukanlah satu-satunya metode yang dijalankan di pesantren, melainkan masih banyak metode-metode yang lain yang diterapkan biasanya disebut diklat atau seminar.

         Metode pengajaran yang beragam tak ayal membuat orang-orang pesantren terutama kang santri juga memiliki keahlian yang beragam. Ada sebagian santri yang ahli dalam model pengajaran sorogan, ada yang lihai menemani masyarakat dalam memikul beban hidup dengan petuah-petuahnya, mengahadapi kerasnya modernisasi, ada juga yang layak untuk mengisi seminar atau bahkan ahli.

Salah satu teman santri kita misalnya, ada yang pandai dalam berbagai fan ilmu dan lihai pula menyampaikannya pada khalayak umum. Keahliannya tidak hanya diakui oleh kalangan sendiri, melainkan juga kalangan lain yang notabene bukanlah kategori islam aswaja.

Liburan kemarin ketenarannya itu terbukti. Salah satu organisasi yang dibentuk oleh islam radikal mengundangnya untuk mengisi seminar di salah satu acara yang mereka bentuk. Ia berfikir, disalah satu sisi, sebenarnya ia memiliki keuntungan untuk bisa menyampaikan faham isalm Rahmatan Lil Alamin pada kaum radikal. Namun di sisi lain, ia harus rela dianggap radikal pula jika foto-foto seminar tersebar di media sosial atau mungkin muncul anggapan benar terhadap islam radikal, dengan bukti pengisi acara adalah dirinya, dan masih banyak dampak yang lain>

Pertanyaan :

a. Bagaimana hukum mengisi seminar di acara organisasi atau ceramah di organisasi selain Aswaja An-Nahdliyah?

Jawaban :

               Pada dasarnya dakwah kepada ahli bid’ah adalah fardlu kifayah. Namun apabila menimbulkan mafsadah yang kembali pada dirinya, seperti nama baiknya jatuh, maka kewajibannya gugur namun tetap diperbolehkan.

Apabila diyakini atau diduga kuat akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar seperti memperkokoh eksistensi golongan mereka dan merugikan ormas Aswaja An-Nahdliyah, maka tidak diperbolehkan.

Referensi :

  1. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz VIII hlm, 40
  2. Al-Adzkar an-Nawawi, hlm. 316
  3. Hasyiyah al-Jamal, juz V hlm. 182
  4. Dan lain-lain

Pertanyaan :

b. Bagaimana metode dakwah yang tepat diterapkan pada golongan-golongan tersebut?

Jawaban :

Disesuaikan dengan kondisi objek dakwah, baik dengan cara hikmah, mauidoh hasanah maupun dengan cara mujadalah dengan rincian sebagai berikut:

  • Dengan cara hikmah dan mauidzoh hasanah apabila ahli bidah mau menerima kebenaran cukup dengan mauidzoh.
  • Dengan cara mujadalah (diskusi) apabila ahli bidah mau menerima kebenaran hanya dengan membuka ruang diskusi.

Referensi :

  1. Ihya ‘Ulum ad-Din, juz I hlm. 97
  2. Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 5
  3. Al-Minan al-Kubro, hlm. 257

Selain membahas dakwah lintas aliran, pada komisi C Bahtsul Masail FMPP XXXVI di Pondok Pesantren Lirboyo juga membahas rebutan hanger dan merusak file penting.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini:

[Hasil Bahtsul Masail FMPP XXXVI Komisi C]

Masjid dan Muholla NU akan Diberi Prasasti

Deskripsi masalah :

Blitar, NU Online. Hilangnya beberapa aset NU, termasuk masjid dan musholla milik warga NU, menjadi perhatian khusus pada pengurus NU Kabupaten Blitar yang baru. PCNU Kabupaten Blitar akan memberikan prasasti untuk masjid dan musholla milik warga NU, dengan label Nahdlatul Ulama. “Ini perlu dilakukan. Karena berbagai cara orang luar banyak yang ingin menguasai masjid dan musholla milik warga kita. Ini bukan isapan jempol. Namun sudah banyak terjadi,’’ ungkap KH Mohammad Djais, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid Indonesia (LTMU NU) Kabupaten Blitar, Rabu (26/12) pagi.

Sebenarnya, lanjut Kiai Djais, program tersebut periode kepengurusan yang lalu sudah mulai dilaksanakan. Namun belum bisa maksimal. Karena belum semua masjid dan musholla diberi prasasti yang berlabel Nahdlatul Ulama.  “Dampaknya sangat besar sekali dengan pemasangan prasasti tersebut. Karena orang yang mau sembarangan merubah tatacara beribadah warga NU jadi segan dan tidak berani,’’ tandas Kiai Djais yang kini juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kerukunan Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kabupaten Blitar ini. Menurut Mbah Djais, panggilan akrabnya, bukan tanpa alasan mengapa NU Kabupaten Blitar melakukan gerakan ini. “Belakangan, banyak masjid dan musholla di wilayah Kabupaten Blitar, tahu-tahu dikuasai sekelompok orang. Mereka kemudian melaksanakan kegiatan di luar kebiasaan yang dilakukan jamaah masjid NU. Sehingga meresahkan para jamaah masjid,” katanya.  Misalnya mereka membid’ahkan, mengkafirkan  jamaah lain yang tidak sesuai dengan amalan ubudiyahnya. “Sudah nunut (numpang: Red), lalu membid’ah-bid’ahkan lagi. Sehingga warga resah. Akhirnya NU turun tangan,’’ katanya. (Rabu 26 Desember 2012 09:55 WIB)

Pertanyaan :

Bagaimana hukum memberi prasasti NU di masjid?

Jawaban :

Hukumnya diperbolehkan, kecuali jika menimbulkan dampak negatif seperti  :

  • Memicu gesekan & perpecahan antar warga masyarakat setempat
  • Menyebabkan berkurangnya jamaah

Catatan : Pemasangan prasasti NU di wilayah kab. Blitar, yang diinisiasi PCNU setempat hukumnya mutlak diperbolehkan sebab pemasangan tersebut berdasarkan permintaan masyarakat warga NU setempat dan tanpa paksaan, sehingga potensi terjadinya dampak negatif sebagaimana di atas tidak mungkin terjadi.

Referensi :

  1. Tuhfah al-Muhtaj, juz III hlm. 197
  2. Fath al-Bari, juz I hlm. 515
  3. I’anah at-Thalibin, juz III hlm. 178

Selain membahas masjid dan musholla NU akan diberi prasasti, pada komisi B Bahtsul Masail FMPP XXXVI di Pondok Pesantren Lirboyo juga membahas ekspedisi Alquran, ayunan kaki, strategi bisnis, dan zakat peternak ikat dan zakat uang.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini:

[Hasil Bahtsul Masail FMPP XXXVI Komisi B]

Polemik Ujian Nasional

Deskripsi masalah :

Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan rencana perubahan sistem Ujian Nasional oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan bapak Nadiem Makarim. Rencana penghapusan UN ini pertama kali disampaikan olehnya saat mengadakan rapat bersama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Staf Khusus Mendikbud, dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Meski wacana ini sudah dikaji, Nadiem mengatakan, kebijakan yang akan dilakukan tidak akan sekadar menghapus UN. Namun, akan ada perbaikan sistem kelulusan bagi siswa. “Jadi bukan semuanya ini wacana menghapus saja, tapi juga wacana memperbaiki esensi dari UN itu sebenarnya apa. Apakah menilai prestasi murid atau menilai prestasi sistem,” kata Nadiem di Kantor Kemendikbud, Sabtu (30/11/2019).

Nadiem makarim menyatakan, ia akan menggantikan UN dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter sebagai tolok ukur pendidikan Indonesia. UN dianggap kurang ideal untuk mengukur prestasi belajar. Materi UN juga terlalu padat, sehingga cenderung berfokus pada hafalan, bukan kompetensi. UN belum menyentuh ke aspek kognitifnya, lebih kepada penguasaan materi. UN juga belum menyentuh karakter siswa secara holistik.

Tujuan dari penghapusan UN sendiri Menurut Nadiem, pihaknya menerima aspirasi dari guru, murid dan orang tua yang ingin memperbaiki sistem UN, untuk menghindari hal negatif. Hal negatif yang dimaksud yaitu tingkat stres yang tinggi pada siswa saat persiapan. Selain itu, ada rasa khawatir yang dirasakan siswa saat menghadapi ujian yang mata pelajarannya bukan bidang mereka. Lebih lanjut, seorang pengamat pendidikan Darmaningtyas menyebutkan, keberadaan UN sudah tidak relevan lagi dengan sistem penerimaan murid baru yang menggunakan sistem zonasi.

Tinggi rendahnya nilai menjadi penilaian kedua setelah memastikan jarak rumah calon siswa baru ke sekolah. “Karena kalau memang penerimaan murid baru berdasarkan zonasi, ya ujian nasional sudah enggak perlu. Ya enggak perlu ada pengganti, kan penerimaan murid baru berdasarkan zonasi kok. Untuk apa UN,” kata dia.

Di sisi lain, ada juga pihak yang kontra dengan wacana ini, Setidaknya ada dua tokoh nasional yang kontra terhadap penghapusan UN, yakni Jusuf Kalla (JK) dan Buya Syafii Ma’arif. JK mengatakan bahwa jika UN dihapus, maka akan ditakutkan para siswa nanti akan lembek dalam belajar dan tidak memiliki ukuran kompetensi. UN mendorong anak belajar dan bekerja keras, karena kerja keras syarat kemajuan negara. Sedangkan Buya menyampaikan UN jangan serta merta dihapuskan karena di banyak negara model ini masih dipakai sebagai ukuran kompetensi belajar siswa. Buya khawatir Penghapusan UN akan menggangu semangat belajar siswa.

Pertanyaan  :    

Bagaimana syari’at memandang wacana perubahan sistem ujian nasional sebagaimana dalam deskripsi?

Jawaban :

 Dibenarkan, sebab dalam membuat sistem UN yang baru harus mengambil kebijakan yang paling maslahah.

Referensi :

  1. Qowaidul Ahkam, juz 2 hlm. 122
  2. Fatawa As-Subki, juz 1 hlm. 370
  3. Al-Asybah wa an-Nadhair, hlm. 233
  4. Dan lain-lain.

Selain membahas polemik ujian nasional, pada komisi A Bahtsul Masail FMPP XXXVI di Pondok Pesantren Lirboyo juga membahas investasi emas pegadaian, zakat profesi rasa tani, dan seputar mitos atau fakta.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini:

[Hasil Bahtsul Masail FMPP XXXVI Komisi A]

Islam dan Barat : Tak Terpisah Perang

Hubungan Barat dan Islam.

Islam dan Barat dalam sejarahnya telah memberikan sumbangsih sangat besar dalam peradaban Eropa.sudah seharusnya ketegangan kedua peradaban ini tidak menjadi konflik seperti perang dan sebagainya. Warisan peradaban Islam di Spanyol yang dibangun oleh Dinasti Umayyah di sana telah memberikan batu loncatan untuk peradaban Eropa saat ini. Dalam banyak bidang keilmuan yang berkembang di Barat, ulama-ulama Islam telah banyak menghiasi peradaban Eropa.

Tentu dunia Barat sangat berterimakasih kepada Muhammad bin Musa al-Khawarizmi yang telah mengenalkan kepada dunia dasar-dasar algoritma, juga kepada Ibnu Rusydi dan Ibnu Khaldun yang telah mengenalkan mereka kepada pendekatan filsafat yang dibangun sebelumnya di masa Plato dan Aristoteles dan sederet intelektual muslim lainnya.

Sejarah juga telah menceritakan bagaimana Islam dan Barat saling memberikan sumbangsih satu sama lain. Kedua peradaban ini hanya terpisahkan oleh laut Mediterania. Peradaban yang di bangun umat Islam di Kairo tentu sangat dekat jaraknya dengan peradaban Barat yang dibangun di Prancis kala itu.

Mengenai peradaban Islam dan Barat yang agaknya selalu dipertentangkan oleh sebagian orang, Alquran menjawabnya dengan dogma bahwa perbedaan adalah sebuah hal yang tak bisa terelakkan dalam kehidupan manusia. Karena pada hakikatnya manusia telah diciptakan dengan bermacam-macam warna kulit dan bahasa yang berbeda-beda. Karena itulah, perbedaan peradaban Islam dan Barat tidak seharusnya menjadi alasan kebencian dalam motif apapun, termasuk islamophobia yang saat ini sedang berkembang di Barat. Justru adanya perbedaan inilah yang harusnya merekatkan hubungan keduanya.

Baca Juga : Islam yang Ketinggalan

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Rum: 22)

Di balik semua perbedaan itu, Alquran dari jauh hari juga telah menjelaskan pentingnya pertemuan berbagai suku bangsa agar mampu saling mengenal satu sama lain. Hingga tidak ada lagi pertikaian di antara mereka.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)

Dari sini, kita memahami Alquran telah mengarahkan umat Islam menuju perdamaian dan kasih sayang dengan segala umat beragama.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8)

Tidak hanya itu, Alquran juga telah melarang kita untuk mencaci-maki agama lain agar mereka pun tak balik mencaci agama Islam.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am: 108).

Alquran juga melarang umat Islam untuk merusak tempat beribadah umat agama lain, terlebih umat Nashrani dan Yahudi. Karena di dalam tempat peribadatan Nashrani dan Yahudi, juga banyak disebut nama Allah.

“….Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” Qs. Al-Hajj : 40.

Alquran juga membatasi peperangan sebagai upaya terakhir dalam mempertahankan diri. Kita bisa teliti kembali di mana Alquran banyak memakai lafadz قاتلوا dari asal kata قتل. Di dalam ilmu tashrif, adanya tambahan alif (ا) di sini bermakna musyarakah,atau perbuatan yang dilakukan sebagai balasan dari perbuatan yang sama. Yang artinya umat Islam tidak diperbolehkan memulai sebuah peperangan kecuali dalam rangka mempertahankan diri dari ancaman musuh.

Bahkan bila memang peperangan sebagai pilihan terakhir harus terjadi, Alquran membatasi umat Islam agar tidak berlebihan dalam melaksanakannya.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al-Baqarah: 190)

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa perdamaian adalah cita-cita tertinggi dalam Islam. Inilah mengapa Allah mengutus nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta. Sebagai utusan yang membawa pesan dan ajaran penuh kedamaian.

Namun, sebagian orang yang menahbiskan diri sebagai pelaku ajaran Islam murni, menganggap peperangan terhadap kaum yang berbeda iman sah-sah saja. Hal ini dipercayai mereka, karena ada satu ayat yang—menurut kacamata mereka—melegalkan apa yang mereka yakini itu.

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-Anfal: 39).

Ada kekeliruan yang sangat fatal dalam memahami ayat ini dengan kacamata itu. Ayat ini justru sejatinya adalah perintah untuk berdamai dengan siapapun. Adapun teks perintah berperang, itu semata seruan agar perang diarahkan hanya untuk kepentingan menghilangkan terjadinya fitnah. Sementara maksud fitnah dalam ayat ini adalah “larangan dari oknum manapun bagi seseorang yang ingin memeluk agama Islam dengan damai.” Dari pengertian fitnah ini lahirlah sebuah pemahaman yang arif: bahwa kebebasan memeluk agama adalah ajaran yang ditekankan dalam Islam. Tak terkecuali, orang-orang di luar Islam yang ingin memeluk agama Islam.

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 256)

Penulis, M. Tholhah al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo.

Tentang Anjuran Mencintai Ahlul Bait

Kesaksian Allah dan Rasulnya akan kemulyaan Ahlul Bait bisa tergambar dari firman Allah Swt dan hadits Nabi Muhammad saw. dibawah ini.

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا(الاحزاب: 33

Artinya: Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, Hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS Al Ahzab 33).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا : كتاب الله وعترتي أهل بيتي (رواه النسائ والطبراني

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan keturan ahli-baitku’’. (HR. An-Nasai dan Ath-Thabrani)

Adapun anjuran untuk mencintai Ahlul bait bisa dilihat hadits dibawah ini.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أحبوا الله لما يغذوكم من نعمه وأحبوني بحب الله وأحبوا أهل بيتي بحبي.(رواه الترمذي

Artinya: Dari Abdullah bin Abbas r.a ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Cintailah Allah atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah serta cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.” (HR. Ath-Tirmidzi)

Ancaman bagi orang-orang yang menyakiti Ahlul Bait.

عن أبي سعيد الخذري رضي الله عنه،قال :قال رسوالله صلى الله عليه وسلم: والذي نفسي بيده لا بيغض أهل البيت أحد إلا أدخله الله النار (رواه الحا كم في الصحيحين

Artinya: Diceritakan dari Abu Sa’id Al-Khudriy r.a. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Demi dzat yang menguasai jiwa ragaku, tidaklah seseorang marah (mencaci dan membenci) kepada keluargaku kecuali Allah akan menceburkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Hakim).