Category Archives: Artikel

Ijtihad Kontemporer sebagai Upaya Revitalisasi Kitab Kuning di Era Millenial

Tidak dapat dipungkiri, perubahan dan perkembangan zaman terjadi di semua lini kehidupan, tak terkecuali pada ranah keagamaan. Sebuah proses multidimensi yang berlangsung sangat cepat dan tanpa disadari telah membawa dampak positif maupun negatif terhadap tatanan kehidupan keagamaan umat Islam. Salah satu dampak nyata ialah munculnya beragam problematika keagamaan (al-masail ad-diniyyah) baru sebagai keniscayaan kemajuan zaman yang ada.

Universalisme agama Islam yang telah mengatur setiap lini kehidupan memiliki peran besar dalam mengurai setiap permasalahan keagamaan yang terus bergembang tanpa henti. Rambu-rambu syariat yang tersebar dalam teks-teks keagamaan (dalil), baik dalam Alquran atau Hadis, telah ditetapkan sebagai pedoman umat manusia hingga akhir zaman. Dalam bukunya yang berjudul Al-Fikr as-Sami fi Tarikh al-Fiqh al-Islami, Syekh Muhammad Hasan bin Muhammad al-Juwaini menuturkan:

وَشَرِيْعَةُ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَتْ شَرِيْعَةَ جُمُوْدٍ وَآصَارٍ، كَمَا كَانَتْ شَرِيْعَةُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ، وَلَا هِيَ شَرِيْعَةٌ مَانِعَةٌ لِلْأُمَّةِ مِنَ التَّرَقِّي وَالتَّطَوُّرِ مَعَ الْأَحْوَالِ، بَلْ شَرِيْعَةٌ صَالِحَةٌ لِكُلِّ زَمَانٍ وَكُلِّ مَكَانٍ وَكُلِّ أُمَّةٍ، فَلِذَا كَانَتْ بِعْثَتُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَامَّةٌ لِسَائِرِ الْأُمَمِ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ، وَذَلِكَ لَا يَتَأَتَّى مَعَ الْجُمُوْدِ؛ لِأَنَّ الْعَالَمَ كُلَّهُ مُتَغَيِّرٌ وَمُتَطَوِّرٌ

Syariat Nabi kita Saw., bukan syariat yang beku sebagaimana syariatnya Bani Israel. Dan bukan pula syariat yang mencegah umatnya berkembang mengikuti keadaan. Akan tetapi Nabi kita Saw. adalah syariat yang relevan kapanpun, dimanapun, dan untuk bangsa apapun. Karena hal inilah diutusnya Nabi Muhammad Saw. bersifat umum untuk seluruh bangsa hingga tiba hari kiamat. Hal tersebut tidak akan mudah jika syariat cenderung kaku, karena kehidupan seluruhnya akan senantiasa berubah dan berkembang.” (Lihat: Al-Fikr as-Sami fi Tarikh al-Fiqh al-Islami, vol. II hlm. 481, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah)

Kitab Kuning—sebagai produk ulama dalam menguraikan isi Alquran dan Hadis—menemukan tantangannya di era kemajuan. Rumusan para ulama yang tersebar dalam ribuan bahkan jutaan lembarnya dihadapkan dengan gempuran-gempuran permasalahan baru yang belum dijumpai atau belum diprediksi pada saat Kitab Kuning ditulis dan dibukukan. Modernisasi yang berjalan sistematis dan massif telah merubah kerangka problem keumatan yang semakin kompleks, terlebih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berperan di dalamnya. Sehingga tidak sedikit teks Kitab Kuning yang berbeda jauh dengan konteks kehidupan masyarakat saat ini.

Dalam keadaan demikian, upaya bertahan untuk konsisten dalam merujuk pada nash-nash Kitab Kuning secara tekstual justru akan menambah permasalahan dan tidak mampu memberikan jawaban atas problematika yang ada. Hal ini diisyaratkan oleh Imam al-Qarafi dalam bukunya yang berjudul Anwar al-Buruq:

وَالْجُمُوْدُ عَلَى الْمَنْقُوْلَاتِ أَبَدًا ضَلَالٌ فِى الدِّيْنِ وَجَهْلٌ بِمَقَاصِدِ الْعُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالسَّلَفِ الْمَاضِيْنَ

Statis pada dalil-dalil naqli selamanya merupakan kesesatan dalam agama dan kebodohan terhadap maksud ulama kaum muslimin dan generasi salaf yang telah lewat.” (Lihat: Anwar al-Buruq fi Anwa’ al-Furuq, vol. II hlm. 229, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)

Maka dari itu, perlu adanya keberanian dalam memperlajari bagaimana para ulama mencetuskan dan merumuskan suatu hukum (istinbath al-ahkam). Di sinilah peran “ijtihad kontemporer” muncul sebagai respon atas permasalahan yang ada. Dengan melakukan kontekstualisasi teks-teks kitab kuning dan beralih dari cara bermadzhab Qauli (tekstualis) ke Manhaji (metodologis), diharapkan Kitab Kuning mampu memperkuat eksistensinya sebagai khazanah keilmuan yang siap menjawab berbagai problematika zaman.

Salah satu cara yang dapat ditempuh ialah melakukan gerakan rekonstruksi internal terhadap pemahaman Kitab Kuning.  Merubah paradigma lama Kitab Kuning sebagai kodifikasi rumusan hukum final menjadi sarana kajian pemikiran dan nalar hukum. Gerakan ini merupakan otokritik yang melahirkan reposisi terhadap Kitab Kuning. Pada gilirannya, Kitab Kuning diposisikan sebagai paradigma berpikir dan akhirnya menjadi korpus terbuka dengan lima prinsip fundamental, yakni dialektis antara perubahan dan kontinuitas, pertimbangan maslahat dan mafsadah, mementingkan hirarki otoritas, unsur kehati-hatian, dan sikap moderat. Di satu sisi, lima prinsip tersebut membentuk kesadaran kognitif yang terikat dengan otoritas teks Kitab Kuning, di sisi lain menemukan ruang fleksibelitas dan pemaknaan kreatif.

Terlebih dalam persoalan dalam disiplin fikih yang merupakan wilayah aplikasi praktis dalam hukum Islam. Kontruksi bangunan hukum yang telah dirumuskan oleh para ulama bukanlah doktrin yang dianggap sakral untuk dipersoalkan atau bahkan diinterpretasi ulang.  Karena pada dasarnya, hasil ijtihad para Fuqaha (ahli fikih) tidak lepas dari pengaruh subjektivitas pelaku ijtihad beserta lingkungan yang melingkupinya. Oleh karena itu, kontekstualisasi Kitab Kuning dengan menerapkan ijtihad kontemporer dalam permasalahan fikih dibarengi dengan kajian serius terhadap aspek sosial dan menimbang aspek maslahah dan mafsadah dari hukum yang akan dicetuskan. Dengan demikian, ijtihad kontemporer diimplementasikan dengan cara menelaah Kitab Kuning secara kontekstual yang tidak terbatas pada makna-makna harfiyah, tetapi mampu menyentuh natijah-natijah (konklusi) pemikiran yang menjadi jiwanya serta menggalakkan proses belajar dan mengajar kitab kuning yang mengacu kepada kegunaan praktis dalam kehidupan masyarakat. []WaAllahu a’lam

Memahami Arti Tahadduts Bin Ni’mah

Keberadaan nikmat dan karunia yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya, selain merintahkan untuk bersyukur, Allah Swt. juga memerintahkan untuk menceritakan nikmat bagi seseorang yang telah menerimanya. Di sinilah kata Tahadduts bin ni’mah berperan. Sebuah istilah yang umum dipakai oleh seseorang untuk menceritakan nikmat yang telah diterimanya dengan tujuan dapat diambil hikmah bagi setiap orang yang mendengarnya. Sebagaimana definisi yang paparkan oleh Sayyid Husain bin ‘Ali Ra.:

هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ يَعْمَلُهُ الرَّجُلُ فَيُحَدِّثُ بِهِ إِخْوَانَهُ مِنْ أَهْلِ ثِقَاتِهِ لِيَسْتَنَّ بِهِ وَيَعْمَلَ مِثْلَهُ

“(Tahadduts bin ni’mah) yaitu sebuah amal yang dilakukan seseorang kemudian ia menceritakannya terhadap saudara yang dipercaya dengan tujuan agar ia mampu meniru dan melakukan hal serupa.[1]

Ditelisik dari dasar hukumnya, istilah Tahadduts bin ni’mah merupakan muara dari salah satu firman Allah Swt. dalam Alquran yang berbunyi:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan”. (QS. Adh-Dhuha: 11)

Dalam berbagai literatur tafsir, para ulama menjelaskan bahwa menceritakan atau menyebutkan nikamt yang telah diperoleh seseorang merupakan manivastasi dari rasa syukur atas nikmat tersebut. Para ulama tafsir bertendensi terhadap sebuah hadis yang berkata:

اَلتَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ

Menceritakan nikmat termasuk upaya syukur.”[2]

Menurut imam al-Ghazali, dalam menerapkan Tahadduts bin ni’mah tidak diharuskan menceritakannya secara langsung dengan kata-kata. Bahasa tubuh dan perilaku yang mampu menunjukkan rasya syukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. serta berpotensi menggugah dan memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan juga dapat dikategorikan sebagai perilaku Tahadduts bin ni’mah, semisal dengan melakukan sedekah secara terang-terangan. Sedekah dengan terang-terangan dapat dikategorikan Tahadduts bin ni’mah apabila ada tujuan menunjukkan rasa syukur atas nikmat dan memotivasi orang lain untuk melakukan hal serupa.[3]

Namun, ketika seseorang menceritakan atau menampakkan nimat sering kali samar apakah itu termasuk Tahadduts bin ni’mah atau riya’ (pamer). Namun semuanya dikembalikan kepada pelaku. Apabila ia bertujuan menampakkan nikmat dengan mengharap ridho Allah Swt. maka tergolong  Tahadduts bin ni’mah. Sebaliknya, apabila ia melakukan hal tersebut dengan tujuan mendapatkan apresiasi manusia, maka termasuk riya’ (pamer) yang harus dihindari. Sehingga menata hati dengan niat yang baik memiliki peran urgen dalam menceritakan atau menampakkan nikmat yang diperolehnya. []waAllahu a’lam


[1] Abu al-Hajjaj, Tafsir Mujahid, vol. I hlm. 735, cet. Dar al-Fikr

[2] Abu al-Fida’, Tafsir Ruh al-Bayan, vol. X hlm. 459. Senada dengan penjelasan dalam Tafsir at-Thabari.

[3] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, vol. I hlm. 228.

Tentang Thoriqoh dan Tasawuf

Thoriqoh adalah suatu jalan atau wadah dimana setiap orang yang mengikuti jalan tersebut diharuskan mengamalkan segala kewajiban, kesunahan, meminimalisir perkara mubah serta menjauhi perkara haram. Sedang legalitas Thoriqoh banyak  disebutkan dalam al-Qur’an, hadits dan qoul ulama’, yang diantaranya adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ


“ Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Menurut Imam Ash-Showi, di dalam ayat tersebut terdapat isyarat syari’at, dengan firmannya “Mua’izhah min rabbikum”. Karena dengannya tersucikan hal-hal lahir. Allah Swt. memberikan isyarat tarekat dengan firmannya: “Wa syifa’un fish shudur”, karena dengannya perkara-perkara bathin tersucikan dari ketidaklayakan. Dan juga memberikan isyarat hakikat dengan firmannya “ Wa huda wa rahmah lil mu’minin”, karena dengan hakikat diperoleh kejelasan cahaya yang bersinar di hati, yang dengannya seseorang melihat sesuatu pada hakikatnya.

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهّل الله له به طريقا إلى الجنة (رواه مسلم

Artinya: Dan barang siapa yang suluk (menempuh) jalan yang didalamnya ia mencari lmu, maka Allah Swt. mudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Muslim)

قال الإمام الجنيد رحمه الله تعالى : مذهبنا مقيد بأصول الكتاب والسنة (الموسوعة اليو سفية لبيان أدلة الصوفية_يوسف خطار147

Artinya: Imam Al- Junaid Rahimallah ta’ala berkata: Madzhab kita (Thoriqoh dan tasawuf) berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.

قال الشيخ سهل بن عبدالله التستري رحمه الله تعالى: أصولنا سبعة أشياء التمسك بكتاب الله تعالى والاقتداء بسنة رسوله صلّى الله عليه واله وسلم وأكل الحلال وكف الأذى واجتناب الآثام والتوبة وأداء الحقوق (طبقات الصوفية للسلمى210

Artinya: Syaikh Sahl Bin ‘Abdillah At-Tusturi rahimahulah ta’ala berkata: “Dasar kita (tasawuf) ada tujuh perkara, berpegang pada Rasullulah Saw. memakan barang halal, tidak menyakiti, menjauhi dosa, bertaubat dan melaksanakan segala hak”.()

________________

Tafsir Ash-Showi vol 2, Hal 241

Tentang Karangan Bunga

Sudah menjadi kebiasaan warga nusantara ketika ada orang meninggal, biasanya ungkapan belasungkawa diungkapkan dengan mengirimkan karangan bunga yang bertuiskan “Turut berdukacita atas meninggalnya bapak fulan, semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah Swt dan semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kesabaran oleh Allah Swt”. hal ini disunahkan dan termasuk bagian dari ta’ziah, sebagaimana hadits nabi:

عن النبي صلى الله عليه وسلام أنه قال ما من مؤمن يعزي أخاه بمصيبة إلا كساه الله سبحانه من حلل الكرامة يوم القيامة.( رواه إبن ماجه في سننه

Artinya: Dari Rasulullah Saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Tidak ada seorang mukmin yang mentakziahi saudaranya yang tertimpa musibah kecuali Allah Swt. mengenakan pakaian kemuliaan kepadanya di hari kiamat”. (HR. Ibnu Majah dalam kitab sunannya) Hadits ini hasan menurut Imam an-Nawawi.

قال الشافعي : قد عزى قوم من الصالحين بتعزية مختلفة فأحب أن يقول قائل هذا القول ويترحم على الميت ويدعو لمن خلفه

Artinya: “Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: Orang-orang shalih telah berta’ziyah dengan berbagai bentuk takziah yang berbeda-beda, kemudian aku suka ketika ada orang yang berucap demikian (yang dimaksud adalah ucapan dari redak kitab  sebelum ucapan Imam Syafi’i ini) dan mendo’akan rahmat kepada orang yang meninggal serta mendoakan keluarga yang ditinggalkan”.

Al-Imam Asy-Syafi’i menjelaskan, bahwa ta’ziah bisa diungkapkan dengan berbagai macam bentuk. Dan beliau  menjelaskan bahwa dalam ta’ziyah sebaiknya juga disertai mendo’akan rahmat bagi yang meninggal,dan mendoakan keluarga yang ditinggalkan. Jika menilik uraian-uraian di atas, maka karangan bunga pun juga termasuk bentuk ta’ziyah.()

____________________

Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Umm, Bab Al-Qoul ‘Inda Dafni Al-Mayit.

Berjabat Tangan Setelah Shalat

Sudah menjadi sebuah budaya ketika umat islam di nusantara melaksanakan ibadah shalat berjamaah di surau atau mushola, bahkan di masjid, mereka bersalaman satu sama lain. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimanakah berjabat tangan di zaman Rasulullah? Apakah hal itu di sunnahkan?

Dalam sebuah hadis disebutkan perihal berjabat tangan yakni:

عَنْ الْبَرَّاء قَالَ: قَلَ رَسُوْلُ اللّه : مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ اَنْ يَفْتَرِقَا — رواه احمد وابو داوود والترمذي وابن ماجه

Artinya: “Dari Al-Barra ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dari dua orang muslim yang bertemu lalu saling bersalaman melainkan telah diampuni dosanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Jami’ as-Shaghir menyatakan bahwa hadis ini merupakan hadis yang berpredikat hadis hasan (bagus sanadnya).

Hadis di atas jika dibaca secara tekstual saja, tentu hanya menjelaskan tentang berjabat tangan secara umum saja, tidak terkhusus setelah atau sebelum shalat. Lalu bagaimana ketika bersalaman setelah shalat? Dalam sebuah hadis disebutkan:

قَالَ كَعْبُ بنُ مَالِكٍ : دَخَلْتُ المَسْجِدَ فَإِذَا بِرَسُولِ اللّه فَقَامَ إِلَى طَلْحَةَ بن عُبَيْد اللّه يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِى وَهَنَّأَنِى — رواه البخارى

Artinya: “Sahabat Ka’ab bin Malik berkata: ketika aku masuk masjid, saat itu Rasulullah SAW telah ada di masjid, lalu Tholhah ibn Ubaidillah bergegas berdiri menyambutku, hingga berjabat tangan dan mengucapkan selamat kepadaku.” (HR. Bukhari)

Bersalaman setelah shalat tidak ada satu pun ulama yang mengharamkannya, mereka menganggapnya sunnah, ada sebagian yang menganggapnya bid’ah. Bid’ah pun masih dalam kategori hasanah atau paling tidak mubahah. Imam an-Nawawi memberikan perincian dalam masalah ini, apabila sebelum melakukan sholat belum bersalaman maka disunnahkan untuk bersalaman setelah sholat. Tetapi jika sudah bersalaman sebelumnya, maka hukumnya hanya diperbolehkan, dan tidak termasuk kesunahan.¹

(¹ Ali Jum’ah al-Bayan limaa Yusghilu al-Adzhan)