Category Archives: Dawuh Masyayikh

Perbedaan Mendidik dan Mengajar

Tarbiyah / mendidik. Mendidik itu tidak sama dengan mengajar. Kalau mengajar itu anak yang diajar diberi tahu, kamu mau melaksanakannya atau tidak, terserah.

Kalau mendidik tidak seperti itu. Jadi kita berikan penjelasan, kita berikan contoh dan anak itu diawasi supaya menjalankan apa yang telah kita sampaikan. Itu mendidik.

Kalau mengajar ya entah kamu kerjakan atau tidak terserah.

Kalau mendidik itu harus kita teliti, harus kita perhatikan. Bagaimana sesudah kita berikan pendidikan, dia mau menjalankan atau tidak, ini terus kita awasi. Ini pendidikan. Supaya anak-anak sesudah kita berikan penjelasan itu bisa melaksanakan apa yang dikehendaki oleh pendidikan tersebut. Ini yang paling penting.

Didekati

Jangan kita ajar terus kita “Biarlah tidak tahu”, tidak. Kita berikan pendidikan, kita berikan perhatian. Kalau kelihatannya kurang benar dibenarkan. Kalau sudah benar didorong. Ini pendidikan. Jadi insya Allah pendidikan kita dalam Pondok Pesantren Lirboyo akan berhasil dengan sebaik-baiknya.

Dan saya ucapkan terima kasih atas keikhlasan Anda dalam membantu yang ada dalam Pondok Pesantren Lirboyo yaitu mendidik pada anak-anak.

Anda yang ikhlas

Ikhlas itu nanti buahnya adalah keberkahan. Anda dalam mendidik itu ikhlas, mensyukuri terhadap ilmu yang Anda miliki, “Alhamdilillah oleh Allah aku sudah diberi ilmu. Sekarang ada orang yang membutuhkan , aku berikan kepada orang yang membutuhkan.” Dengan ikhlas demikian insya Allah lebih berkah nantinya.

Sudah, tidak perlu mengharap apa-apa. Ya alhamdulillah oleh Allah kita diberi kesempatan bisa mengajar. Ini sudah derajat yang paling tinggi. Bisa mengajar itu sudah derajat yang paling tinggi. Ta’limal muta’allim itu adalah suatu derajat yang tinggi. Karena tanpa mengaji kan tidak bisa mengamal. Adanya amal yang benar itu kan sebab dia mau belajar. Nah, belajar itu harus ada yang mengajar. Belajar sendiri tanpa ada yang mengajar ya bisa menyesatkan.

Jadi, diri kita yang ikhlas. Menjalankan perintah Allah, nasyrul ‘ilmi (menyebarkan ilmu). Mendidik kepada orang-orang yang belum tahu, supaya dia dalam ibadahnya bisa benar. Ini yang paling baik.

Dawuh KH. M. Anwar Manshur

Lihat selengkapnya di:
Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

Baca juga:
NASEHAT AWAL TAHUN AJARAN

Perbedaan Mendidik dan Mengajar
Perbedaan Mendidik dan Mengajar

Langkah Mencari Keberkahan Ilmu

“Saya hanya ingin mengingatkan kepada Adik-adik Santri, anak-anak Santri yang mana tujuan kalian semua ke Pondok Pesantren Lirboyo adalah untuk mencari ilmu. Maka dari itu, mari selagi di Pondok Pesantren Lirboyo mempeng (tekun) semaksimal mungkin. ” Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus pada awal beliau memberikan nasehat. Beliau menekankan seperti itu, karena untuk bisa mempeng (tekun & rajin) itu harapannya besar. Hal itu disebabkan di Pondok Pesantren Lirboyo lingkungannya mendukung. Teman-teman di Pondok sama-sama menempuh belajar. Para Santri juga tidak membawa HP, tidak boleh keluar Pondok, tidak boleh nonton TV. Sehingga harapan untuk bisa mempeng (tekun) itu besar. Beliau menuturkan bahwa, “Riyadloh (usaha batiniyah)  para Masyayikh itu tidak kurang-kurang. Tinggal kita, Secara Dzohir, mempeng (tekun) semaksimal mungkin.”

Thoriqoh (jalan tempuh) orang Mondok itu ada 4.

1. Puasa Sunah & Mempeng;

2. Mempeng tapi tidak Puasa Sunah;

3. Puasa sunah tapi tidak mempeng ;

4. Tidak mempeng juga tidak puasa sunah. Yang ke 4 ini jangan sampai dilakukan.

Beliau menuturkan bahwa, “Yang terbaik adalah yang pertama dan yang ke dua. Seandainya kalian kuat mempeng sambil puasa ya silahkan. Tapi seandainya tidak kuat mempeng apabila dibarengi dengan puasa, pendapat saya yang penting mempeng saja dulu. “

                “Nuwun sewu (mohon maaf) saya ingat walidi (orang tua saya) Kiyai Mahrus itu sering dawuh, ‘Bilamana Santri ingin ngalim, jangan pulang tiga tahun! ’ Itu saya dengar sendiri. Terus saya tafsiri, tidak pulang tiga tahun itu syaratnya apa? Harus mempeng. “ Tambah beliau.

Ikhtiar Mencari Berkah

               Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa yang tidak kalah penting dari mencari ilmu adalah mencari barokahnya. Beliau memberitahu cara ikhtiar supaya mendapatkan barokah dalam mencari ilmu adalah: Jangan su’udzon (berburuk sangka)  kepada guru. Guru harus kita muliakan. Karena guru itu juga termasuk أب (orang tua) الذي علمك yang mengajarimu. Bahkan ada qoul, bila kita suudzon kepada guru kita, maka kita wajib bertaubat. أب itu ada 3.

1. أب الذي ولدك (Orang tua yang telah melahirkanmu)

2. أب الذي علمك (Orang tua yang telah mengajarimu)

3. أب الذي زوجك (Orang tua yang menikahkanmu)

Semuanya itu  wajib kita muliakan.

Bersyukur

               Kita wajib bersyukur ditakdirkan oleh Allah bisa belajar di Pondok. Jika tidak mendapat hidayah dari Allah, mondok itu berat sekali. Kesulitan dalam mencari ilmu itu termasuk sebab-sebab kita mendapatkan keberkahan.

Beliau menceritakan bahwa Mbah Kiyai Abdul Karim waktu mondok itu rekoso banget (usahanya berat sekali). “Waktu itu beliau berangkat ke Pondok punya uang sedikit. Kalau mau naik kendaraan nanti tidak bisa beli kitab. Kalau mau beli kitab, maka tidak cukup untuk naik kendaraan. Akhirnya Simbah Kiyai Abdul Karim memilih berangkat ke Pondok dengan jalan kaki supaya bisa beli kitab.” Mbah Kiyai ‘Abdul Karim di Pondok pakaiannya hanya satu pasang. Sehingga bila pakaiannya kotor dicuci, kemudian dijemur. Sedangkan beliau berendam sambil menghafalkan alfiyah hingga pakaiannya kering.

Beliau juga mencari nafkah sendiri untuk membiayai hidupnya di Pondok. Waktu pondok libur, beliau ikut memanen padi. Sehingga beliau mendapatkan padi yang merupakan upah dari panenannya tersebut.

Waktu Mbah Kiyai Abdul Karim sampai di Pondok, Mbah kiyai Kholil menghadangnya. Syaikhona Kholil dawuh “Nab,  alhamdulillah. Untung kamu bawa beras. Ayam saya sudah lama tidak memakan padi.” Akhirnya Syaikhona Kholil meminta padi dari Mbah Kyai Abdul Karim. Sebagai gantinya, Mbah Kiyai Abdul Karim dihalalkan untuk memakan mengkudu. Di situlah Mbah Kiyai Abdul Karim mencari ilmu rekoso banget.

Selanjutnya apabila Kitab  Mbah Kiyai Abdul Karim sudah penuh maknanya, lalu kalau ingin beli kitab yang belum pernah dimiliki, kitab yang lama yang sudah beliau kaji, beliau menjualnya untuk membeli kitab yang baru tersebut.

Pada Akhirul hayat Syaikhona Kholil, beliau uzlah (menyendiri) tidak menerima santri lagi. Orang yang mau nyantri kepada Syaikhona Kholil, beliau menyuruhnya untuk ngaji ke Mbah Kiyai Abdul Karim.

Jama’ah

Dan juga min asbabil futuh itu adalah jama’ah. Ini penting sekali. Kalau bisa, di Pondok itu jangan sampai meninggalkan jama’ah. Ada cerita Santri Kiyai Ali waktu di Pondok itu ilmunya biasa-biasa saja. Tetapi setelah di rumah, Santrinya yang mengaji ribuan. Masya Allah..

Ternyata setelah ditelisik, waktu di Pondok beliau selalu berjama’ah.

Mentaati Peraturan

Termasuk min asbabil barokah selanjutnya adalah mentaati peraturan dari pengurus. Jangan sampai melanggar. Karena apa? Karena pengurus Pondok Lirboyo adalah kaki tangan Masayikh Lirboyo. Masayikh mengurus jenengan (Anda) sedetail-detailnya itu tidak mungkin. Maka dibentuklah kepengurusan Pondok Lirboyo. Maka dari itu monggo, semua santri Lirboyo saya harapkan untuk mentaati peraturan Pondok Lirboyo.

InsyaAllah kalau jenengan memuliakan guru, memuliakan orang tua, jama’ah, tidak melanggar peraturan, insyaAllah, insyaAllah, insyaAllah… Mempeng, insyaAllah, insyaAllah. Nanti di rumah mengamalkan ilmu. Insya Allah, insya Allah…

Jenengan (Anda)  jangan kecil hati, nanti sehabis belajar di Lirboyo akan jadi apa, jangan kecil hati. Allah yang akan mengatur. Karena apa? Banyak orang awam itu menganggap setelah lulus dari Lirboyo tidak bisa bekerja apa-apa. Banyak sekali. Menurut saya hal seperti itu tidak usah diangan-angan. Yang penting apa? Belajar, mempeng. Itu penting sekali. Insya Allah, nanti kalau di rumah mau mengamalkan ilmu, insya Allah nanti dibutuhkan oleh masyarakat. Insya Allah akan menjadi orang yang mulia. Seperti Firman Allah:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

” Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Baca juga:
SYARAT PENTING MENCARI ILMU

Langkah Mencari Keberkahan Ilmu

Simak juga:
[TUTORIAL] PENDAFTARAN SANTRI/SISWA BARU | PSSB ONLINE

Langkah Mencari Keberkahan Ilmu
Langkah Mencari Keberkahan Ilmu

Syarat penting mencari ilmu

Kita berada di pesantren diniati untuk menghadap kepada Allah.

Orang menghadap kepada Allah harus tahu diri, jangan sampai kita menghadap kepada Allah, diri kita masih berlumuran dosa. Coba saja kita menghadap kepada penguasa, bilamana kita punya salah pasti tidak berani menghadap ke penguasa, lalu bagaimana ketika kita menghadap kepada Allah, yang mana Allah adalah Raja di atas raja, Penguasa di atas penguasa.

Taubat

Maka dari itu, Imam abdul Wahab asy-Sya’roni, pernah berkata “Kalau orang mau menghadap Allah, yang harus dilakukan adalah bertaubat, beristighfar. ” Bilamana orang menghadap kepada Allah dan dia pantas menghadap kepada Allah karena dia bertaubat lalu diterima, maka doanya akan diijabah oleh Allah.

Bertaubat, selain merupakan perkara yang wajib, juga terdapat beberapa tingkatan. Ada taubat karena dosa besar, ada taubat karena meninggalkan sunnah.

Dikisahkan ada sahabat tidak melaksanakan sholat jamaah, beliau mengqodloinya dengan sholat dua puluh tujuh kali.

Orang belajar di pesantren, yang pertama kali dilakukan adalah bertaubat. Jika orang mengingat dia pernah melakukan dosa, lalu ia menangis, ia benar-benar bertaubat. Dan bukan dinamakan orang yang bertaubat, ketika ia mengingat dosanya malah merasakan nikmat, merasakan kebahagiaan karena melakukan dosa.

Hati yang Bersih

Syarat yang lain dalam mencari ilmu, adalah hati yang bersih. Karena ilmu adalah nur. Dan ilmu diberikan oleh Allah hanya untuk hati yang bersih dari penyakit-penyakit hati, seperti pelit, iri, dengki.

Perbedaan orang yang mempunyai penyakit dzahir (badan) dengan yang memiliki penyakit hati, adalah saat ia mati. Ketika manusia mati, semua penyakit badan tidak akan terasa sakit lagi. Berbeda dengan penyakit hati yang di dalam kubur nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

Akhlaqul Karimah

Syarat yang ketiga dalam mencari ilmu, adalah berakhlakul karimah, dengan gurunya takzim, jangan sampai meremehkan gurunya walaupun kalian lebih pandai. Jangan pernah menyakiti guru kalian.

Kalam sufi mengatakan, “Ridhonya Allah ada dalam ridhonya guru,” karena guru sama posisinya dengan orang tua kita ketika belajar. Artinya, jika seseorang mau selamat dunia dan akhirat, maka ia harus patuh dengan orang tuanya.

KH. Mahrus Aly pernah dawuh, “Pergi ke manapun, jauh atau dekat, izinlah kepada orang tua. ” karena dikhawatirkan menyakiti orang tua.

إيذاء الوالدين وهو عقوق الوالدين وعقوق الوالدين من الكبائر

“Menyakiti orang tua, berarti berani kepada orang tua. Dan berani kepada orang tua, termasuk dosa besar.”

Doanya orang tua itu mustajab, terutama doa ibu. Jangan sampai membohongi orang tua.

Jangan melakukan sesuatu yang tidak berguna. Karena termasuk orang yang Islamnya baik, adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Karena orang Islam segala perkaranya baik. Kalau kalian menerima kebaikan-kebaikan, supaya bersyukur. Kalau kalian menerima sesuatu yang tidak baik, supaya kalian bersabar.

Umumnya, seorang wali itu takut diberi kenikmatan oleh Allah. Karena takut itu adalah istidraj dari Allah. Justru Wali Allah itu senang dengan ujian, karena dengan kesabaran menghadapi ujian, akan berujung pahala yang besar dari Allah.

Orang mondok itu juga ujiannya banyak, kadang weselnya telat, kadang sakit, kadang tidak istiqomah.

Mondok itu sebenarnya bukan fasilitas yang diprioritaskan. Karena orang mondok itu riyadloh, tirakat. Jangan sampai orang mondok itu menuntut fasilitas, karena itu termasuk memerangi hawa nafsunya. Termasuk memerangi hawa nafsu adalah hidup disiplin.

(Disampaikan dalam halal bi halal pondok pesantren lirboyo 2021)

Baca juga:
Nasehat KH. M. Anwar Manshur pada Awal Tahun Ajaran Baru

Simak juga:
Tiga Golongan Terbaik | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Nasehat Awal Tahun Ajaran

Lirboyo.net, (28/05) . Pada awal tahun pelajaran ini, KH. M. Anwar Manshur memberikan nasehat kepada para santri sebagai bekal awal para santri dalam mencari ilmu untuk satu tahun ke depan di Pondok Pesantren Lirboyo.

              Beliau menyampaikan bahwa, “Mencari ilmu itu sangat diwajibkan bagi setiap orang Islam. ” Seperti dawuhnya Nabi Saw. طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ . Kata فريضة menggunakan huruf Ta’ marbuthoh di akhirnya menandakan sebuah penekanan. Berarti sangat diwajibkan.  

            Kalau orang tidak mempunyai ilmu, maka ibadahnya tidak sempurna. Beliau menyampaikan sebuah bait dalam kitab Alfiyatuz Zubad,

وَكُلُّ مَنْ بِغَيرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ   *  أَعْمَالُهُمْ مَرْدُودَةٌ لَا تكمَلُ

Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya tertolak dan tidak sempurna. ”

            Beliau mengajak, “Mumpung Kita di pondok, mari kita niati bersama, Bismillahirrohmanirrohim, saya mondok mencari ilmu untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. “

            “Kita hidup di dunia ini tujuannya adalah untuk beribadah. “

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ  وَالإِنس إِلَّا لِيَعْبُدُون .

Tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. “

Semakin Fokus, Semakin Tajam

            Beliau berpesan kepada para santri agar tidak memikirkan hal-hal lain yang dapat mengganggu proses mencari ilmu. Beliau mengajak kepada para santri supaya fokus memikirkan pelajaran-pelajaran yang sedang dikajinya.

Dasar yang Kokoh

            Beliau menyuruh para santri agar memahami kitab-kitab dasar sampai benar-benar paham. Sehingga ketika mempelajari kitab-kitab yang lebih luas pembahasannya nanti akan lebih mudah. Beliau mencontohkan, “Semisal dalam fan fikih, pahamilah kitab Fathul Qorib terlebih dahulu sampai benar-benar paham. Maka ketika Anda mempelajari kitab Fathul Mu’in ataupun Fathul Wahhab akan lebih mudah. Dalam fan ilmu nahwu, Anda pahami dulu kitab Jurumiyah sehingga ketika Anda mempelajari kitab Alfiyah akan lebih mudah. “

Tips Belajar Efektif

            Beliau juga memberikan tips metode belajar yang efektif di luar jam pelajaran Madrasah. Caranya adalah dengan membentuk kelompok belajar, cukup dengan tiga orang. Satu orang membaca kitab serta menjelaskan pemahamannya. Sementara yang lain mengoreksi bacaan dan pemahamannya. Hal ini dilakukan secara bergiliran. Metode belajar seperti ini akan memacu persaingan kemampuan dalam belajar. “Teman saya saja bisa, masa saya tidak bisa.” Tidak apa-apa berlomba-lomba dalam kebaikan. فَاستَبِقُوا الخَيرَات  . “Metode seperti ini lebih efektif daripada belajar sendirian. “ Tutur beliau.

            Setiap santri harus mempunyai himmah yang tinggi. Burung terbang menggunakan sayapnya, manusia terbang menggunakan himmahnya. Orang mengaji, kalau sudah paham maka hatinya terasa senang.            

Demikian kurang lebih poin-poin yang beliau sampaikan.

Baca juga:
DAWUH KH. AHS. ZAMZAMI MAHRUS: EMPAT PERKARA YANG MENAIKAN DERAJAT SESEORANG

Saksikan juga:
Anugerah yang Luar Biasa itu adalah ……. | Nasihat KH M Anwar Manshur

# NASEHAT AWAL TAHUN AJARAN
# NASEHAT AWAL TAHUN AJARAN

Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Senantiasa Berdoa Saat Pandemi.

Mari kita sama-sama menjaga kesehatan diri kita sendiri-sendiri, karena sekarang masanya sedang tidak enak, masa mudah terkena peyakit, masa dimana bermacam-macam (Cobaan) turun.

Mari bersama kita perbanyak berdoa kepada Allah, Minta keselamatan dari cobaan Allah ta’ala, ini yang paling penting. Kita berdoa sewaktu-waktu dimanapun kita berada, Baik dalam keadaan setelah sholat jamah ataupun sendirian, jangan lupa harus berdoa.

Karena orang yang mau berdoa itu adalah orang yang akan dikabulkan doa-doanya. Maka, kita tinggal meminta pada Allah ta’ala. Mari, bismillahirrahmanirrahim memang kita ibadah hanya meminta diberi keselamatan semua, dunia sampai akhirat itu saja yang penting.

Dan tak lupa, Mari kita menjaga kesehatan kita, dengan cara menjaga sebenar-benarnya kesehatan diri kita dan keluarga kita, agar benar-benar diperhatikan, supaya selamat dari semua marabahaya. Karena sekarang masa banyak musibah. Jadi kita harus menjaga diri jangan sampai ceroboh, terkadang kecerobohan itu menjadikan celakannya diri sendiri.()

Disampaikan saat rutinan Pegajian Kamis Legi Kitab Al Hikam, 04 Februari 2021.(TB)