Category Archives: Dawuh Masyayikh

Orang-orang sukses

KH. Maftuh Basthul Birri adalah salah satu kiai yang sukses karena memiliki kader, yakni santri-santri beliau. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”

Anak-anak yang sholih ini bisa juga diartikan sebagai murid, ketika seorang murid ditinggalkan oleh gurunya, pasti akan mendoakan gurunya, dan insyaAllah murid kiai maftuh banyak yang akan meneruskan perjuangan beliau.

Baca juga: 33 Tahun Mondok ‘Hanya’ Dapat 8 Ilmu?

Orang sukses juga harus bersungguh-sungguh, orang sukses juga harus mampu melawan hawa nafsu, ketika dua hal itu terpenuhi maka Allah akan memberikan kemudahan dan kesuksesan terhadap seseorang.

Orang sukses juga bisa dilihat dari proses dia menuju suksesnya, artinya banyak sekali orang melihat orang lain suksesnya saja, tidak melihat bagaimana proses orang tersebut menuju sukses. Ketika orang sudah sukses kita sejatinya juga harus tahu bagaimana orang itu sukses.

*Disampaikan dalam acara Tahlil dan Doa memperingati 40 hari wafatnya KH. Maftuh Basthul Birri

Baca juga: KH. Masdain: Kelucuan Mbah Mahrus Aly

Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

Kalian mondok di pesantren itu sudah sangat enak, karena di pesantren kalian tak ada ganguan, tak ada yang mempengaruhi dari sana-sini, kalian bisa memperdalami syariat agama Islam ala Ahli Sunnah Waljamaah. Makanya kalian harus bersyukur kepada Allah Swt. dengan bersungguh-sungguh belajarnya.

Alhamdulillah kita semua oleh Allah Swt. diberikan keinginan untuk mondok di pesantren, itu adalah suatu nikmat yang sangat luar biasa. Banyak yang rumahnya di samping pondok akan tetapi mereka tidak ingin mondok, sedangkan yang rumahnya jauh dari pondok tetapi berangkat mondok. Makanya kita harus bersyukur, cara syukur kita adalah dengan mencurahkan semua tenaga kita untuk mendalami ajaran syariat Islam.

Kalian semua disini adalah utusan dari daerah kalian masing-masing, walaupun keberangkatan kalian semua tidak diberangkatkan oleh masyarakat, tetapi keberangkatan kalian kepondok pesantren adalah sebagai utusan delegasi dari masyarakat kalian, untuk mendalami syariat Islam yang akhirnya kita nanti kembali dan menyampaikannya kepada masyarakat.

Makanya kalian semua di pesantren yang mempeng, hasil kalian di pesantren itu ditunggu oleh masyarakat kalian, apa yang belum kalian bisa, kalian pelajari. Soalnya belajar di pesantren itu paling mudah, banyak kaka-kaka kelas kalian yang sudah bisa, kalian bisa belajar dan bertanya kepadanya.

Dan kita semua itu di tunggu masyarakat, jangan sampai kita mengecewakan masyarakat kita, kalian ditunggu-tunggu hasil belajarnya, sampai rumah kalian tidak bisa apa-apa, kan ini sangat mengecewakan masyarakat. Dan ini tugas kalian, kalian  berangkat ke  pesantren, kalian harus dalami semua syariat Islam di pesantren, dan ketika kalian pulang kalian ajarkan pada masyarakat kalian, makanya kalian semua harus yang sunguh-sungguh dalam belajar, apa yang belum kalian bisa kalian pelajari di pesantren.()

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 12 Desember 2019, di aula Al Mu’tamar.(TB)

Dawuh KH. M. Anwar Manshur : Keutamaan Birrul Walidain

Nanti para santri yang tak pulang liburan maulid bisa mengisi waktu liburanya dengan mengaji, dan para santri yang pulang ke rumahnya masing-masing harus melakukan birrul walidain. Apa yang di kerjakan oleh orang tua kalian di rumah, kalau kalian bisa mengerjakanya, maka kerjakanlahlah oleh kalian, jangan sampai kalian di rumah membuat hati orang tua kalian tersinggung.

Dimanapun kalian berada jagalah ahlakul karimah, lakukan pekerjaan yang membuat hati orang tua kalian senang. Kalian yang sebelum berangkat ke pesantren tidak pernah menggunakan bahasa yang halus ketika berbicara pada orang tua, maka ketika sudah pulang pesantren, kalian semua harus berbicara yang halus ketika berbicara dengan orang tua, tunjukan ajaran-ajaran yang diajarkan di pesantren, lalu mintalah doa pada orang tua kalian.

Orang yang hidupnya melaksanakan birrul walidain hidupnya akan penuh barokah. Maka dari itu janganlah pernah menyakiti hati orang tua kalian ketika dirumah. Mereka sudah mengurusi kalian dari kecil, maka jagalah selalu ahlakul karimah. Ketika kalian menjaga ahlak kalian dimanapun kalian berada, itu sama halnya kalian seperti berdakwah.Ketika masyarakat melihat kalian yang menjaga ahlakul karimah, mereka yang belum memondokan anaknya ke pesantren, jadi ingin memondokan anak-anaknya.

Dan yang terakhir jangan sampai kalian dirumah membuat resah masyarakat, jaga selalu nama baik pondok pesantren kita.()

*Disampaikan dalam acara pembekalan santri sebelum liburan maulid di Masjid Lawang Songo 03 Nov 2019 M.(TB)

Dawuh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus: Tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah swt

Kalian dari rumah jauh-jauh menuju Pondok Pesantren Lirboyo ini merupakan langkah yang baik, perilaku yang baik, atau memasuki perkara yang baik, dalam bahasa kitabnya suluk fil akhirat. Orang yang melakukan kebaikan atau suluk fil akhirat ini awalnya agar supaya tobat kepada Allah swt, sebab bilamana orang tobatnya diterima oleh Allah Swt dan orang itu makbul indallah maka segala permintaan atau doanya akan dikabulkan oleh Allah swt.

Kalian semua mondok di pesantren, berarti kalian dikehendaki kebaikan fiddunya wal akhirat. Agar  supaya kalian bersyukur dan bahagia. Seperti dawuhnya Rasulullah Saw:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين                                                                                                             

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkan dalam urusan Agama.”

Yang harus dimengerti dan difahami bahwasanya ilmu bisa di dapat dengan belajar, tidak ada orang yang tanpa belajar itu alim kecuali para Nabi, adapun orang biasa untuk menjadi alim prosesnya harus belajar kepada guru.

Hadits diatas merupakan kabar baik, bahwasanya kita semuanya tidak mengerti siapa orang yang dikehendaki oleh Allah swt baik. Namun alamatnya ada, yaitu orang yang dikehendaki oleh Allah baik adalah orang tersebut faham akan ilmu agama dan diamalkan.

Orang yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, tentu ada resikonya ada konsekuensinya, yaitu diuji dan diberi musibah oleh Allah swt, dia akan sabar atau tidak, ridho atau tidak.

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 29 Agustus 2019, di aula Al Mu’tamar.(TB)

Dawuh KH. An’im Falahuddin Mahrus : Pentingnya Wawasan Kebangsaan

Pada awal berdiri pondok Lirboyo terkenal dengan ilmu nahwu shorof, yang mana sudah menjadi tirakatnya Mbah Yai Abdul Karim ketika menimba ilmu di Bangkalan. Beliau dengan sungguh-sungguh mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik, yang mana konon ceritanya yang pertama kali membawa kitab Al fiyah Ibnu Malik ke Tanah Jawa yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan.

Maka dari itu awal-awal Pondok Pesantren Lirboyo sampai tahun delapan puluh terkenal nahwu shorofnya, kemudian mulai tahun era delapan puluh Lirboyo mulailah berkembang terkenal dengan ilmu fikihnya, dengan aktifitas lembaga bahtsul masail aktifis-aktifis ini bisa membawa nama harum Pondok Pesantren Lirboyo dalam penguasaan ilmu fikihhnya.

Nah, akhir-akhir ini Pondok Lirboyo yang ikut memperhatikan perkembangan di tengah-tengah masyarakat. Setelah terjadinya reformasi rupanya beberapa aliran, beberapa aqidah, beberapa idiologi bebas berkembang, termasuk diantaranya ancaman terorisme dan Islam garis keras.

Maka dari itu Pondok Lirboyo mensikapinya dengan menulis buku tentang wawasan kebangsaan, fikih kebangsaan, itulah yang menjadi tren saat ini.

Sehingga harapan Kami apa yang telah dikembangkan oleh Mahasantri Ma’had Aly tentang pemahaman empat pilar kebangsaan yang terdiri dari: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Harus tetap dipertahankan. Karena  pemahaman empat pilar ini sangat diperlukan, bukan hanya sekedar seremonial belaka, yang pada ujung-ujungnya di zaman orde baru hanya untuk menguatkan rezim. Dan untuk saat ini benar-benar dibutuhkan pemahaman yang sungguh-sungguh dan mengamalkanya tentang empat pilar ini.()

*Disampaikan saat Kuliah Umum Kebangsaan Ma’had Aly Lirboyo 14 juli 2019 M. di aula Al Mu’tamar.(TB)