Category Archives: Khutbah

Khutbah ini meliputi Khutbah Jumat,

Khutbah Jumat : Supaya Amal Bisa Diterima

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمدُ لِلهِ الَّذِي وَفَّقَنَا لِأَدَاءِ أفْضَلِ العِبَادَات. وَهَدَانَا عَلَى كَيفِيَّةِ اكتِسَابِ السَّعَادَاتِ.
وَأشْهَدُ أَن لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَريكَ لَهُ رَبُّ الْأَرَضِينَ وَالسَّمَوَاتِ.
وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ المَبعُوثُ إِلَى جَمِيعِ الكَائِناتِ.
اَللهُمَّ صَلِ وسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ الدَّاعِي إِلَى الطَّاعَاتِ.
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ. اِتَّقُوا اللهَ فِي جَمِيعِ الْأوقَاتِ وَالحَالَاتِ.

Jama’ah jumat rahimakumullah…
             
Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita dengan selalu memperbaiki kuwalitas amal ibadah kita.  Perlu kita sadari bahwa diciptakannya kita di dunia ini, merupakan anugerah dari Allah Swt. sebagai makhluk yang dibekali hati nurani kita harus mempunyai rasa syukur kepada Sang Khaliq dengan cara memenuhi apa yang menjadi tujuan diciptakannya kita.
Allah Swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
            
Jama’ah Jumat rahimakumullah…
             Penyakit yang sering kita hadapi saat kita beribadah, saat kita berbuat baik adalah timbulnya rasa riya’ atau pamer.
Ini merupakan hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw. Beliau pernah bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ.

“Sesungguhnya hal yang paling mengkhawatirkan yang aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.”
Kemudian para sahabat bertanya: “Apa syirik kecil itu wahai Rasululloh?”
Rasululloh menjawab:

اَلرِّيَاء. يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ القِيَامَةِ إِذَا جَازَى العِبَادَ بِأَعْمَالِهِمْ: اِذْهَبُوا إِلى الَّذِينَ كُنتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا, فَانظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمُ الجَزَاءَ؟

 “(Syirik kecil itu adalah) Riya’. Pada hari kiamat ketika Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung membalas hambanya terhadap amal-amal mereka, Allah berfirman, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian ria kepada mereka ketika di dunia. Maka lihatlah! Apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?”
Rasululloh Saw. juga bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَمَلًا فِيهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِن رِيَاءٍ.

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima amal yang didalamnya terdapat seberat biji sawi dari riya’.”

Baca Juga Mewaspadai musuh Abadi Manusia

          Imam al-Ghozzali menerangkan bahwa riya’ adalah sifat seseorang yang mencari kedudukan di hati orang lain dengan memperlihatkan kebaikan.
Beliau merangkumnya menjadi tiga tingkatan.
Pertama: riya’ yang paling berat adalah memperlihatkan kebaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk meloloskan diri dalam berbuat kemaksiatan.
Riya’ yang kedua adalah memamerkan kebaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan urusan duniawi, baik harta, tahta maupun wanita.
Riya’ yang paling ringan adalah memperlihatkan kebaikan karena khawatir akan dipandang jelek di mata orang lain.

Akan tetapi selama tujuan memperlihatkan kebaikan adalah supaya bisa dicontoh dan menjadi motivasi bagi orang lain untuk berbuat kebaikan, maka hal itu diperbolehkan dalam syariat.
Syaikh Hasan al-Basri berkata: “Sesungguhnya merahasiakan amal itu lebih bisa menjaga amal itu sendiri. Akan tetapi menampakkan amal juga mempunyai manfaat. Oleh karena itu Allah ta’ala memuji terhadap orang yang merahasiakan amal baik maupun yang menampakkannya. Allah berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang faqir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.

Jama’ah jumat rahimakumullah…
Mengingat zaman ini adalah zaman yang setiap orang mudah untuk memperlihatkan kebaikan dan menyebarkannya kepada khalayak umum, maka solusi supaya kita terhindar dari sifat riya adalah dengan menanamkan tujuan di dalam hati kita, supaya kebaikan yang kita lakukan bisa ditiru oleh orang lain dan menjadi motivasi bagi mereka untuk melakukan kebaikan tersebut.
Firman Allah ta’ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Mudah-mudahan kita bisa terhindar dari sifat riya’ dan bisa menjadi golongan orang-orang yang ikhlas dalam beribadah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ العَظِيمَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتكَ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِن فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أكبَر

Khutbah Jumat: Rendah Hati

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلحَمدُ للهِ المَلِكِ الخَلَّاق. الوَلِيِّ فَلَا وَلِيَّ مِن دُونِهِ وَلَا وَاق.
أشهَدُ أَن لَا إِلهَ اِلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَلَا ضِدَّ وَلَا نِدَّ وَلَا مُنَازِعَ وَلَا مُشَاق.
وَأشهّدُ أنَّ سَيِّدَنَا محمدًا عَبدُهُ وَرَسولُهُ أَشرَفُ الخَلقِ عَلَى الإِطلَاق.
اللهمَّ صَلِّ وَسَلِّم على عَبدِكَ وَرَسولِكَ محمدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصحَابِهِ البَرَرَةِ السُّبَّاق.
أمَّا بعد فَيَا أيُّها النّاس اتقوا اللهَ تَعَالَى.
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


Jama’ah jumat rahimakumulloh…
  Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jangan sampai di dalam hati kita ada rasa sombong sedikitpun. Karena orang yang sombong tidak akan masuk syurga. Rasululloh Saw. bersabda:

لَا يَدخُلُ الجَنَّةَ مَن كَانَ فِي قَلبِهِ مِثقَالُ حَبَّةٍ مِن خَردَلٍ مِن كِبْرٍ.

Artinya: “Tidak akan masuk syurga seseorang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan.”

Marilah kita tengok sejarah, apa yang yang menyebabkan iblis terusir dari syurga adalah juga karena rasa sombong yang dimilikinya.
Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِين

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.(Qs. Al-Baqoroh: 34)

            Orang yang sombong selain celaka di akhirat dia juga mengalami kerugian di dunia.
Orang yang sombong akan sulit untuk mendapatkan ilmu.
Karena ilmu itu karakternya seperti air yang hanya mau mengalir ke tempat yang rendah, hati yang merendah. Sedangkan orang yang sombong, dia selalu tinggi hati.
Seperti dikatakan dalam kitab ta’limul muta’allim:

اَلعِلمُ حَربٌ للفَتَى المُتَعَالى    كالسَّيلِ حَربٌ لِلمَكَانِ العَالى

Artinya: ”Ilmu itu musuh bagi penyombong diri. Laksana air bah, musuh bagi penyombong diri.”

            Kemudian orang yang sombong juga akan sulit menerima kebenaran. Karena dia merasa paling benar, dan yang orang lain dipandang salah.
Jika seseorang untuk mendapatkan ilmu dan kebenaran itu kesulitan maka dia termasuk orang-orang yang merugi.

Oleh karena itu marilah kita renungi diri kita sendiri, dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Masih pantaskah kita untuk menyombongkan diri.
Allah Swt. berfirman:

قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ.  مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ.  مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ.  ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ.  ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ.  ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ

Artinya: “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menakdirkannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.”
(surat abasa ayat 17-22)

Jama’ah jumat rahimakumulloh…
Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi renungan bagi kita untuk tetap rendah hati, sehingga kita mudah untuk mendapatkan ilmu, menerima kebenaran, serta damailah kita dalam menjalani kehidupan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر

Khutbah Jumat: Mewaspadai Musuh Abadi Manusia

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدُ لِلهِ أَنْعَمَ بِنِعْمَةِ الإِيمَانِ وَالإِسلَام. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ الكَرِيمِ وَالرَّسُولِ الْعَظِيمِ سَيِّدِنَا وَمَولَانَا محمدٍ سَيِّدِ المُرسَلِين.
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أجمَعِين. أمَّا بَعد. فَيَا عِبَادَ اللهِ. أوصِيكُم وَنَفسِي بِتَقوَى اللهِ وَطَاعَاتِهِ لَعَلَّكُم تُفْلِحُونَ.

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Pada kesempatan kali ini, marilah kita semua menelaah kembali salah satu firman Allah dalam surat al-Fathir ayat 6 yang berbunyi:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Artinya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Dari ayat tersebut, Allah Swt. memperingatkan kepada kita semua untuk selalu waspada terhadap setan. Hal itu karena ia benar-benar merupakan musuh abadi manusia yang akan terus menggoda, membujuk serta menyesatkan sampai kelak hari kiamat.

Berbicara tentang setan, sudah barang tentu memori kita juga akan menuju pada makhluk bernama iblis. Ia adalah nenek moyang setan. Iblis adalah makhluk yang pertama kali berani menentang perintah Allah saat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam As. Dijelaskan oleh firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 34:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia adalah termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Akibat kecongkakan iblis akhirnya Allah mengusirnya dari surga, sebab tidak sepatutnya makhluk sombong seperti itu berada dalam surga. Iblis pin mengajukan permohonan untuk bisa hidup sampai hari kiamat, agar ia beserta keturunannya bisa menyesatkan manusia di muka bumi. Tujuan iblis tidak lain adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak bersama masuk neraka. Hal ini sebagaimana  dijelaskan dalam surat al-A’raf ayat 12 sampai 16:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ (13
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16

Artinya: “Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,”

Dalam ayat yang lain yakni surat al-A’raf ayat 27 Allah berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ

Artiya: Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.

Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa setan itu tidak mempunyai tubuh sebagaimana manusia yang kasat mata. Selain itu juga mengingatkan bahwa tipu muslihat atau godaan setan itu sangat halus merasuki pikiran manusia.

Adapun jalur yang paling sering dilalui setan dalam menggoda dan menyesatkan manusia adalah hawa nafsu dan syahwat yang memang sudah dimiliki manusia. Seringkali manusia hanyut terbawa oleh hawa nafsunya, melakukan sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri atau merugikan orang lain. Yang demikian itu, karena kewatakan dari nafsu itu sendiri. Nafsu tidak mau direndahkan, nafsu tidak mau berkekurangan, nafsu pantang menerima kekalahan apalagi mengalah. Nafsu selalu rakus, ingin untung sendiri dengan cara merugikan yang lainnya, serta nafsu selalu menganggap rendah terhadap segala akibat.

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Allah Swt. memuji orang-orang yang berjuang memerangi hawa nafsunya atau biasa disebut Rasaulullah sebagai Jihadul Akbar. Dan Allah juga berjanji akan memasukannya ke dalam surga, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya di surat an Nazi’at ayat 40 dan 41:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ (41

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”
Sebaliknya, Allah Swt juga mencela orang-orang yang lebih suka menuruti, tunduk dan patuh pada hawa nafsunya. Yaitu orang-orang yang merasa seolah-olah hawa nafsu itulah Tuhannya. Ini sabagaimana dinyatakan Allah dalam surat al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً

Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah akan membiarkannya tersesat sekalipun dia berilmu. Dan Allah juga mengunci pintu pendengarannya dan hatinya serta meletakkan tutup tebal atas mata hatinya.”

Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa meskipun orang itu berilmu dapat pula tersesat manakala ia menuruti hawa nafsunya dan telinganya tidak mau menerima kebenaran. Hatinya bagai tidak berperasaan dan mata hatinya buta tertutup oleh keserakahan dan ambisinya yang meluap-luap. Ini semua disebabkan karena hawa nafsunya telah dirasuki oleh bisikan-bisikan setan yang memang telah bersumpah akan selalu menyesatkan manusia dari jalan Allah Swt.

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Demikianlah gambaran musuh abadi kita, yaitu setan serta orang-orang yang akan dibujuk untuk menjadi teman dan pengikutnya. Untuk membendung atau membentenginya, tak ada jalan lain kecuali kita harus banyak berdzikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt, serta tetap berjuang memerangi hawa nafsu. Kita yang harus menguasai hawa nafsu, bukannya hawa nafsu yang justru menguasai kita.

Dengan menguasainya, hawa nafsu yang dimiliki manusia dapat diredam dan dikendalikan sehingga kita terhindar dari bisikan-bisikan setan. Pada akhirnya hawa nafsu tersebut menjadi hawa nafsu yang mutmainnah, nafsu yang tenang dan stabil.
Mudah-mudahan rahmat Allah senantiasa menaungi hidup kita sehingga kita bisa selamat dan berbahagia fid-dunya wal-akhiroh, aamiin.

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ. الشَّيطَانُ يَعِدُكُمُ الفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالفَحْشَاءِ, وَاللهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنهُ وَفَضْلًا, وَاللهُ وَاسِعٌ عَليم.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر

Baca Juga:
Khutbah Jumat: Menyaring Berita, Menjernihkan Suasana
Dengarkan Juga:
SUDAHKAH ANDA NGEDEP DAMPAR HARI INI?

Khutbah Jumat: Menyaring Berita, Menjernihkan Suasana

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدُ لِلهِ والشكرُ لِلهِ. أشهدُ أَن لَا إِلهَ إلّا الله وَأَشهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ.
اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدِ بنِ عَبدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ وَمَن تَبِعَ هُدَاهُ وَمَن وَالَاهُ أمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ قَالَ تَعَالَى: يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصيبُوا قَوْماً بِجَهالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلى‏ ما فَعَلْتُمْ نادِمينَ

               Hadirin jama’ah jumat rahimakumullah…
Marilah kita tingkatkan kuwalitas iman dan taqwa kita dengan senantiasa mencari ilmu sehingga kita bisa menjauhi hal-hal yang diharamkan dan hanya melakukan hal-hal yang dihalalkan.

               Kaum Muslimin rahimakumullah…
              Ketentraman merupakan kondisi yang sangat dibutuhkan untuk bisa meningkatkan kuwalitas pendidikan masyarakat. Saling menghormati dan tidak mudah mengungkap kejelekan orang lain di depan publik adalah langkah yang tepat untuk menjaga ketentraman tersebut.

Dalam dunia maya masih banyak kita jumpai berita-berita yang mengungkapkan kejelekan orang lain tanpa mempertimbangkan maslahat dan mafsadahnya. Banyak akun-akun yang mengunggah berita semacam itu dengan tujuan bisnis maupun politik.

Allah Swt. sudah memberi peringatan bagi pelaku tersebut dalam ayat:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Nabi Saw. juga telah menyampaikan balasan bagi orang-orang yang suka menyebarkan kejelekan orang lain. Dari imam Ahmad, beliau meriwayatkan:

لَا تُؤذوا عِبادَ اللَّهِ وَلَا تُعيِّروهم، ولا تطلبوا عَوَرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ طَلَبَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، طَلَبَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، حَتَّى يَفْضَحَهُ فِي بَيْتِهِ

“Janganlah kalian menyakiti hamba Allah dan janganlah kalian mempermalukan mereka! Janganlah kalian mencari-cari kejelekan mereka! Karena sesungguhnya orang yang mencari-cari kejelekan saudaranya yang Muslim, Allah akan mencari kejelakan orang tersebut, hingga Allah akan tampakkan kejelekan orang tersebut di rumahnya.”

Secara umum dalam syariat membicarakan kejelekan orang lain itu tidak boleh. Selagi kita bisa mengingatkannya secara privasi kita tidak boleh mengingatkannya dengan mempublikasi.
Dalam kitab ihya ulumuddin imam Al-Ghozzali merangkum kondisi-kondisi yang memperbolehkan kita untuk mengungkapkan kejelekan orang lain dalam 6 hal yang berpokok pada prinsip ketika kita hendak menggapai suatu tujuan yang dibenarkan dalam syariat, akan tetapi hal tersebut tidak mungkin dilakukan kecuali dengan mengungkapkan kejelekan orang lain, maka hal tersebut diperbolehkan.

Hadirin jama’ah jumat rahimakumullah…

Bagi kita yang menemukan berita-berita yang bernuansa menyebarkan kejelekan orang lain, hendaknya kita mengklarifikasi terlebih dahulu dengan mengecek pada sumber yang dapat dipercaya dan menanyakannya kepada ahlinya. Apabila berita tersebut salah, maka kita bisa menyebarkannya dengan berita yang benar, sehingga orang lain juga bisa mengetahui beritanya dengan versi yang benar.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر

Baca juga:
Khutbah Jumat: Ngrekso Lisan

Tonton juga:
ILAHI NASALUK BISMIL A’DHAM || LIRBOYO BERSHALAWAT

Khutbah Jumat: Taubat, kunci menjadi orang baik

اَلحَمدُ لِلهِ الَّذِي أَوْجَدَ جَمِيعَ الْكَائِنَاتِ بِقُدْرَتِهِ. فَسُبْحَانَهُ مِنْ إِلهٍ عَظِيمٍ كَمُلَ فِي عَظَمَتِهِ وَقُدْرَتِهِ. وَتَقَدَّسَ مِنْ مُحْسِنٍ كَرِيمٍ يَغْفِرُ العَظَائِمَ مَعَ كَمَالِ قُدْرَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَن لَا إِله إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَخِيرَتُهُ مِنْ جَمِيعِ بَرِيَّتِهِ. أللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَذُرِّيَّتِهِ وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُ اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ سُبحَانَهُ وَتَعَالَى خَلَقَكُمْ لِعِبَادَتِهِ.

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah…

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita dengan menjalankan hal-hal yang menyebabkan kita mendapatkan pahala dan menjauhi hal-hal yang menyebabkan kita mendapatkan dosa.

Perlu kita sadari bahwa setiap diri dari kita pasti pernah berbuat dosa.
Setiap orang tidak terlepas dari dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Jika tidak seperti itu, dia tidak terlepas dari keinginan yang mengajak untuk berbuat dosa. Jika tidak seperti itu, dia tidak terlepas dari bisikan syaitan untuk memikirkan hal-hal yang menakjubkan yang menjauhkannya dari mengingat Allah.
Jika tidak seperti itu, dia tidak terlepas dari lalai dan sempitnya pengetahuan tentang Allah, tentang sifat-sifat-Nya maupun apa-apa yang dilakukan-Nya. Semua itu merupakan hal-hal negatif dan tentu ada penyebabnya.

 Meninggalkan penyebab hal-hal negatif tersebut, dengan cara menyibukkan diri dengan melakukan perbuatan sebaliknya, berarti kita sedang kembali ke jalan yang benar yang disebut taubat.

Oleh karena itu kita wajib untuk selalu bertaubat dalam setiap waktu dan setiap keadaan supaya kita terhindar dari dosa. Nabi saja yang sudah pasti terjaga dari dosa, beliau dalam sehari semalam beristighfar tidak kurang dari tujuh puluh kali.

وَعَنْ أبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (وَاللهِ إَنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِليهِ فِي اليَومِ أَكثَرَ مِنْ سَبعِينَ مَرَّةً) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Abi Hurairoh Ra. beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Aku pasti memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.’” (HR. Al-Bukhori)

Jama’ah jumat rahimakumullah…

Orang yang baik bukan hanya orang yang tidak pernah berbuat salah. Orang yang baik juga merupakan orang yang pernah berbuat salah, akan tetapi ia mau menyadari kesalahannya, selalu ingin memperbaiki diri dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahannya.

Hadits yang mengungkapkan manusia adalah tempatnya salah dan lalai, tidaklah menjadi pembenaran untuk hidup selalu dalam kesalahan. Akan tetapi Nabi hanya ingin menyampaikan bahwa manusia tidak terlepas dari potensi berbuat salah dan lalai.

Oleh karena itu kita wajib berusaha untuk menjadi manusia yang baik dan berusaha menghindari kesalahan demi kesalahan.

Allah Swt. berfirman:

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. An-Nisa: 106)

Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri. (Qs. Al-Baqoroh: 222)

Jama’ah jumat rahimakumullah..

Mudah-mudahan kita selalu diberi kekuatan oleh Allah Swt. untuk selalu kembali ke jalan-Nya, jalan yang penuh dengan kasih sayang dan ridlo Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر

Baca juga:
Khutbah Jumat: Berkahnya Ilmu dengan Menghormati Sang Guru

Tonton juga: MENARIK REZEKI || IJAZAH DARI KH. ANWAR MANSHUR