Category Archives: Pojok Lirboyo

Habib Syekh Silaturrohim Ke Pondok Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Sabtu siang Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan tamu yang cukup dikenal dengan suaranya yang khas dikalangan muhibbin atau dengan istilah komunitas syekher mania yaitu Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo. Sebelumnya beliau berada di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Udanawu Mantenan Blitar dalam acara Blitar Bersolawat. Habib Syekh di agendakan akan hadir dalam acara syukuran pernikahan Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar SE. Dalam lawatannya, beliau menyempatkan silaturrohim  ke Pondok Pesantren Lirboyo.

Pukul 12.30 WIB Habib Syekh bersama rombongan ditemani Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar SE. tiba di Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau mengawali silaturrohim di ndalem KH.M.Anwar Manshur. Rombongan langsung disambut hangat oleh KH. M. Anwar Manshur. Setelah berbincang-bincang, Habib Syekh memberikan ceramah pada santri putri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiaat dan di akhiri dengan lantunan qosidah.

Habib Syekh bersama rombongan ditemani Wakil Walikota Kediri dan KH. M.Anwar Manshur jalan kaki menuju ndalem timur KH.A. Idris Marzuqi. Habib Syekh menyampaikan rasa syukur bisa bertemu dan bersilaturrohim ke Pondok Pesantren Lirboyo, beliau juga memberikan ceramah pada santri putri Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an dan santri putra  Pondok Lirboyo. Sebelum pulang, Habib Syekh ziaroh ke maqom pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. akhlis

Haul Ke IX Almaghfurlah KH. Abdulloh Ma’shum Jauhari

LirboyoNet, Kediri – Pagi yang cerah, Lirboyo kedatangan ribuan Pesilat dari GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslim Indonesia). Perguruan  yang dipimpin oleh Agus H. Badrul Huda Zainal Abidin termasuk keponakan KH. Abdulloh Ma’shum Jauhari.  Mereka datang dari berbagai daerah dengan kendaran yang bervariasi, mulai dari sepeda motor hingga  menggunakan bus. Kedatangan para pesilat ini untuk menghaidiri Haul ke IX Al Maghfurlah KH. Abdulloh Ma’shum Jauhari sebagai guru besar Pagar Nusa.

Acara dilaksanakan hari Ahad 9 Desember 2012 di ndalem KH. Abdulloh Ma’shum Jauhari diagendakan dimulai pukul  11.00 WIB, tetapi para pesilat berbondong-bondong hadir mulai dari pagi hingga acara usai.

Puncaknya pembacaan tahlil DI Maqbaroh Pondok Pesantren Lirboyo yang dipimpin oleh bapak Hamim Sujono selaku senior perguruan silat Pagar Nusa. Tampak hadir Agus Muzani  Ma’mun dan Agus H. Badrul Huda Zainal Abidin.akhlis

Silaturrohim Ke III Dzurriyyah KH. Dahlan

LirboyoNet, Kediri – Ahad (9/12) keluarga Bani  KH. Marzuqi Dahlan mempunyai hajat besar sebagai pelaksana acara Silaturohim dan Halal Bihalal Bani KH. Dahlan. Acara yang dilaksanakan setahun sekali tersebut mengundang semua Dzurriyah Bani KH. Dahlan. Pada tahun sekarang bertepatan Bani KH. Marzuqi Dahlan mendapatlkan giliran sebagai tempat acara tersebut. Agus Aminulloh sebagai salah satu panitia mengatakan, undangan yang hadir pada acara tersebut sekitar 300 orang dari Bani KH.Dahlan.

Pukul 09.30 WIB Acara dibuka dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Romo KH. A.Idris Marzuqi. Beliau hadir sejak pagi untuk menemui para Dzurriyah. Sambutan pertama dari  Panitia dan Pengurus Silaturrohim. Dalam hal ini disampiakn oleh Agus H. Irfan Masyru’I. Beliau menyampaikan rasa terimakasih kepada Panitia Pelaksana yang telah mempersiapkan acara tersebut sekaligus Pembacaan sekilas Biografi KH. Dahlan yang sudah dibukukan oleh panitia.

Sambutan kedua atas nama Dzurriyah yang diwakili oleh KH. Busryo Karim. Dalam sambutannya beliau mengharapkan acara seperti ini tidak memandang tempat, tetapi lebih merasa sebagai Dzurriyah sehingga bisa menghadiri dalam acara silaturrohim dimanapun tempatnya, karena mengingat pentingnya acara ini sebagai benteng agar segenap Dzurriyah tidak keluar dari tuntunan dan ajaran KH. Dahlan.

Sambutan ketiga sebagai Shohibul Bait sekaligus Mauidzoh Hasanah disampaikan oleh KH. M Abdul Aziz Manshur. Beliau menjelaskan manfaat acara silaturrohim ini untuk mempererat rasa persaudaraan, dari yang tidak mengenal menjadi kenal, mempertahankan ajaran dan mengikuti langkah-langkah para sesepuh sehingga tidak keluar dari apa yang diajarkan oleh para sesepuh. Acara yang dilaksanakan sejak pagi ditutup dengan doa oleh KH.A. Idris Marzuqi, KH.M.Abdul Aziz Manshur dan KH. Munib Muhammad dan diteruskan mushofahah. Akhlis

Diklat Kader Da’i ASWAJA

LirboyoNet, Kediri – Kamis (6/12/2012), mendung masih  menggantung di langit Kediri, awan gelap tidak kunjung reda. Termasuk pesantren kita, walau tadi pagi matahari menyapa namun tetap saja suasana kurang begitu hangat.

Siang itu, lembaga Ittihadul Muballighin untuk pertama kalinya mengadakan Diklat Kader Da’i Aswaja bertempat digedung belakang Aula Muktamar. Peserta dari  Perwakilan Siswa Kelas I dan II Aliyah.Tutor yang dihadirkan da’i muda Dr. Buya Yahya Ma’arif Pengasuh  Pondok Pesantren al-Bahjah Cirebon Jawa Barat.

Pukul 13.12 WIB acara dibuka dengan bacaan Surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan Tartilul Qur’an oleh saudara M. Misbah Muniruddin. Sambutan tunggal yang merupakan acara ketiga disampaikan oleh Agus Abdul Qodir Ridlwan selaku Ketua Pondok dan Pimpinan Lembaga Ittihadul Muballighin. Dalam sambutannya, beliau memaparkan sejarah terbentuknya Lembaga Ittihadul Muballighin pada tahun 2003 serta perjalanannya sampi sekarang. Pada tahun ini, siswa yang akan mengikuti  Safari sekitar 1000 santri, baik yang mengikuti  daerah maupun di pondok. Acara itu dihadiri oleh Pimpinan Pondok dan Mustahiq Kelas I dan II Aliyah.

Ibnu Atoillah selaku Moderator mengawali Diklat dengan menyampaikan sekilas Riwayat Hidup Buya Yahya, acarapun dilanjutkan dengan penjelasan Buya Yahya tentang dakwah. Beliau menyampaikan bahwa, esensi  dakwah adalah membawa umat untuk mendapatkan ridlo Allah SWT sehingga ada beberpa hal yang harus diperhatikan dalam berdakwah, diantaranya mengajak semua pihak tanpa melihat profesi maupun status sosial serta membuat sebuah himpunan untuk mewadahi semua lapisan.

Dalam diklat tersebut, Buya Yahya memaparkan 3 Prinsip Dakwah. Pertama dakwah  tidak harus menunggu pandai atau kaya, sampikan dakwah dengan ungkapan yang halus dan tidak sombong. Kedua pandanglah orang lain dengan mata kasih. Ketiga pandanglah orang lain sebagai lahan pahala bukan lahan mencari uang dan yang terakhir mengoreksi diri. Selain itu, sebagai seorang Da’i juga akan menemui beberapa kendala diantaranya menempatkan sifat Tawadu’ tidak pada tempatnya dan menghindari sifat Hasud. oleh karena itu, diperlukan ikhtiar dalam berdakwah yaitu memohon  do’a kepada Allah SWT, sebelum menyampaikan sholat 2 rokaat, memberikan penjelasan apa yang di butuhkan masyarakat bukan apa yang kita ketahui atau yang diinginkan, kebenaran tidak harus disampaikan pada waktu itu, bisa disampaikan pada kesempatan yang lain melihat situasi dan kondisi serta kebenaran didasari  dengan tendensi yang kuat.  Antusiasme peserta bisa dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk saat sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya berdakwah dalam masyarakat bagi para santri.

Acara ditutup doa yang dipimpin oleh Buya Yahya kemudian dilanjutkan oleh Agus Abdul Qodir Ridwlan. Sebelumnya Bapak HM. Mukhlas Noer mewakili Pondok memohon kepada Buya Yahya untuk meluangkan waktunya guna mengisi kegiatan tersebut setiap  awal bulan.[] Akhlis

Istighotsah 1 Muharram 1434 H

LirboyoNet, Kediri – Sore itu, bertepatan dengan pergantian tahun Hijriyah yang ke 1434, sepanjang jalan menuju Masjid Agung sangat sesak dengan kendaran yang berlalu lalang memadati ruas jalan Bandar Kidul. Terutama pada jalur menuju jantung kota Kediri. Para Polisi Lalu Lintas, BANSER dan SATPOL PP, tampak sibuk mengatur lalu lintas agar kemacetan bisa dihindarkan.

Meski cuaca panas karena tak kunjung hujan, namun hal tersebut tak menyurutkan animo para santri Pondok Pesantren Lirboyo dan masyarakat muslim Kediri untuk mengikuti agenda tahunan yang di gelar di Masjid Agung Kota Kediri. Mereka berbondong-bondong guna mengikuti doa akhir tahun dan awal tahun baru orang islam.

Dengan didominasi baju warna putih dan berbekal sajadah para santri beramai-ramai berjalan kaki menuju Masjid kebanggaan Kota Kediri. Hanya saja, agar lebih tertib para santri harus melewati jalan yang sudah ditentukan oleh pondok. Tampak para keamanan Pondok berjaga-jaga di beberapa titik-titik tertentu yang mengarahkan santri ke tujuan utama.

Pukul 17.00 WIB Masjid Agung kota Kediri mulai dipadati oleh masyarakat dan santri. Puncaknya saat acara istighotsah dimulai. Saking banyaknya pengunjung dan Masjid tak mampu membendung, para pengunjung rela mengikuti acara itu di ruas jalan raya, bahkan sampai taman alun-alun dan halaman dhoho plaza.

Acara itu di hadiri oleh beberapa Kyai terkemuka dan Pemkot Kota Kediri diantaranya; pengasuh Pon Pes Lirboyo KH. Anwar Manshur, KH. Ilham Nadlir, KH. Anwar Iskandar, KH. A. Mahin Toha, KH. An’im Falahuddin Mahrus dan Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, SE.

Pertama kali yang mengisi sambutan dalam acara itu adalah Wakil Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, SE. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa istighosah semacam ini merupakan ungkapan rasa syukur kita terhadap Yang Maha Kuasa. Dan seharusnya acara semacam ini bisa menjadi pengingat kita akan adanya peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah menuju Kota Madinah. Sehingga akhirnya kita mampu merefleksikan dan mengaktualisasikan dalam tindakan kita sehari-hari agar hari ini bisa menjadi lebih baik dari hai kemarin. Beliau juga mengutip sebuah hadits yang berbunyi; “Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, barangsiapa hari ini sama saja dengan hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi”.

Disusul kemudian sambutan atas nama pengurus cabang NU Kota Kediri oleh KH. Anwar Iskandar, Pengasuh Pon. Pes  Assaidiyyah Jamsaren Kediri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam sambutannya beliau mengingatkan segenap Kaum Nahdliyyin, betapa sulitnya perjuangan NU di masa kini dalam mempertahankan ajaran Ahlussunah Waljama’ah yang berbasis tawazun, tasamuh, dan tawasut . Hal ini dikarenakan adanya kecaman dan tantangan dari sisi kiri maupun kanan. Terutama oleh Islam radikal yang tak henti melecehkan kita dan menuduh kita telah berbuat bid’ah dholalah dan neraka. Mereka juga beranggapan bahwa para Wali Songo adalah sumber perbuatan syirik (baca: ziarah).

Beliau menambahkan, di sisi lain kita juga berhadapan dengan Islam Liberal yang membebaskan segala macam termasuk diantaranya praktek poliandri (wanita boleh bersuami lebih dari satu).Tak sampai disitu, menurut beliau saat ini kaum gay dan lesbi telah berusaha memperjuangkan pernikahan antar jenis. Terus lagi, kaum PKI yang keberadaanya dulu pernah dilarang oleh pemerintah kini sudah mulai bermunculan kembali.

Beliau mengimbau bahwa inilah saatnya bagi kita untuk meneladani Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW. Karena, berkat hijrah pula Islam yang sebelumnya adalah kaum minoritas, dikerdilkan dan termarjinalkan oleh masyarakat Makkah akhirnya dapat berkembang subur di Madinah dan terus tumbuh sampai sekarang ini. Oleh karena itu kita tak boleh berpangku tangan dan bertopang dagu dalam menghadapi tantangan yang semacam itu agar ajaran Ahlussunah Waljama’ah dapat dipertahankan.

Sebelum mengakhiri sambutannya beliau mewanti-wanti agar tak lengah oleh fasilitas dunia yang bisa membuat diri kita melupakan ajaran agama Islam.

Setelah KH. Anwar Iskandar selesai memberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan do’a akhir tahun sekaligus sholat maghrib berjama’ah yang diimami langsung oleh KH. Anwar Manshur.

Selanjutnya pembacaan do’a awal tahun yang di pimpin oleh KH. Ilham Nadzir di teruskan dengan sholat isya berjam’ah yang juga di imami oleh KH. Anwar Manshur.

Pukul 19.30 Wis acara Istighotsah dan Do’a bersama yang diadakan oleh Pengurus NU bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kediri itu pun usai. Kembang api dinyalakan sebagai penutup acara diiringi dengan penampilan rebana ala habsyi yang memang diundang untuk memeriahkan acara itu.[]