Category Archives: Santri Menulis

Mengenal Konstruksi Madzhab Syafi’i

Madzhab–dalam literatur fiqh istilah ini sering diketemukan–adalah pola pikir dan pola amaliah yang merupakan buah pikir dari seorang mujtahid madzhab, yang disarikan dari al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy dengan metode tertentu. Di masa Tabi’in, islam sampai pada masa supremasi (al-‘ashru ad-dzahabi), dimana khazanah inteletual islam mengalami banyak kemajuan dan perkembangan yang signifikan. Di masa itu, banyak mujtahid bermunculan hingga tak terhitung berapa jumlahnya. Namun seiring masa, tidak semua madzhab mampu bertahan. Hingga dewasa ini, madzhab yang memiliki validitas dari segi riwayat dan ajarannya sehingga layak untuk dianut hanya tinggal empat. Yaitu Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad, atau yang sering kita dengar dengan istilah al-Madzahib al-Arba’ah. Diantaranya adalah Madzhab Syaf’i.

Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H.)–yang dikenal dengan sebutan Imam as-Syafi’i–nama besarnya sebagai mujtahid membumi di berbagai penjuru negeri di belahan bumi manapun. Ust. Idrus Ramli mengungkapkan, tidak ada madzhab fiqih yang memiliki jumlah pengikut begitu besar seperti madzhab syafi’i yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Pilipina, Singapura, Thailand, India bagian selatan seperti daerah Kirala, Kalkutta, mayoritas negara-negara Syam seperti Syiria, Yordania, Lebanon, Palestina, sebagian besar penduduk Yaman, mayoritas penduduk Kurdistan, kaum sunni di Iran, mayoritas penduduk mesir, penduduk sebagian besar benua Afrika bagian timur dan lain-lain. Di indonesia saja, sudah jamak pesantren dan perguruan islam, dalam bidang fiqh mengikuti pola pikir dan amaliah yang merupakan buah pikir Imam Syafi’i 12 abad yang lalu.

Seperti halnya Ust. Idrus Ramli, Hasan bin Ahmad al-Kaff, dalam taqrirat-nya juga mengungkapkan bahwa mayoritas muslim Sunni di dunia mengikuti Madzhab Syafi’i. Hal ini merupakan prestasi ilmiah yang sangat mengagumkan mengingat jarak masanya lebih dari 1200 tahun atau 12 abad silam. Namun ajarannya masih eksis dan bahkan memiliki penganut (muqollid) terbanyak.

Dari paparan diatas, tentunya ada beberapa faktor logis-historys yang melatarbelakangi eksistensi dan perkembangan madzhab hingga mampu bertahan sekian lama, dan menjadi pilihan sekaligus rujukan mayoritas kaum muslim sunni di dunia. Apalagi sejarah menyaksikan banyak Mujaddid (pembaharu) dari para cendekiawan islam yang merupakan tokoh sentral di masanya masing-masing, lahir dengan latar belakang bermadzhab Syafi’i. Kehadiran mereka pun membawa kemajuan dan perkembangan entitas madzhab dan memperkaya khazanah madzhab. Pada kurun ketiga, tampil seorang cendikia, Abul ‘Abbas bin Suraij sebagai seorang pembaharu. Pada kurun keempat hingga kesepuluh, ada Abu at-Thoyyib Sahl as-Shu’luki, Abu Hamid al-Ghozali, al-Fakhru ar-Razi, an-Nawawi, al-Isnawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, as-Suyuthi, dan masih banyak lagi. Tak dapat ditampik, secara estafet munculnya sederet nama-nama tadi dapat memperkukuh landasan ajaran Madzhab dan melestarikannya melalui karya-karya mereka.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Hasan bin Ahmad al-Kaff, mengidentifikasi bahwa perkembangan Madzhab Syafi’i melalui lima tahap. Pertama, adalah tahapan dimasa Muhammad bin Idris yang muncul memperkenalkan dasar pokok pemikirannya. Saat itu kehadirannya mampu memberi warna baru di jazirah Arabia. Ajarannya dianggap moderat. Dalam Manaqib as-Syafi’i, Fakhruddin ar-Razi mengungkapkan, bahwa ajarannya mampu menengahi polemik ilmiah antara golongan tekstualis (ahlul hadist) dari para cendekiawan Hijaz dan golongan rasionalis (ahlur ro’yi) dari para cendekiawan Iraq.

Konon sebelumnya, kedua golongan ini tak pernah menemukan kata mufakat dalam diskusinya. Argumentasi masing-masing golongan tak pernah diterima oleh golongan lainnya. Ironisnya, lama kelamaan perbedaan tersebut selalu saja berujung pada nuansa rivalitas yang memprihatinkan.

Keadaan sedemikian rupa terus berlanjut hingga kemunculan Muhammad bin Idris. Melalui sebuah kitabnya yang berjudul “ar-Risalah” yang menjadi karya pembuka dalam fan ushul fiqh, Muhammad bin Idris mampu memperbaiki keadaan tersebut. Apa yang disampaikannya melalui ar-Risalah mampu menengahi dua golongan tersebut. Melalui ar-Risalah pula, Muhammad bin Idris pun menjadi orang pertama yang mengkodifikasikan metode ilmiahnya dalam menggali hukum al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy.

Kedua, adalah tahapan periwayatan (marhalatu an-naqli). Setelah pendiri madzhab wafat, para muridnya berperan menggantikan peran Muhammad bin Idris dalam meriwayatkan ajaran madzhab. Diantaranya, al-Buaithi, al-Muzani, Robi’ al-Murodi, Robi’ al-Jizi, Yunus bin Abdul A’la, yang pada akhirnya apa yang disampaikan murid-murid as-Syafi’i tersebut dalam literatur fiqih jamak disebut dengan riwayatul madzhab. Periode ini berlangsung sampai wafatnya para murid as-Syafi’i pada kurun ketiga hijriyah.

Ketiga, adalah tahap kodifikasi problematika furu’iyyah (cabangan) madzhab dan pengembangan ranah pembahasan masalah fiqh (marhalatu tadwini furu’i al-madzhab wa at-tawassu’i fi masa-ilihi). Di masa transformasi tahapan ke-dua menuju tahapan ke-tiga, muncul dua golongan yang memiliki pola pikir berbeda dan memiliki kadar riwayat yang berbeda, serta pengembangan yang berbeda pula dalam mengapresiasikan riwayat-riwayat madzhab as-Syafi’i. Dua golongan tersebut dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-Khurosaniyyun dan al-‘Iroqiyyun. Golongan al-Khurosaniyyun diawali oleh al-Qoffal al-Shoghir Abu Bakar al-Mawarzi. Kemudian diikuti oleh Abu Hamid al-Juwaini, al-Fauroni, al-Qodli Husain, dan lainnya. Sedangkan dari golongan al-‘Iroqiyyun, dimulai oleh Abu Hamid al-Isfiroini, dan diikuti oleh al-Mawardi, Abu Thoyyib at-Thobari, al-Bandaniji, al-Mahamili dan lainnya.

Hingga pada kurun ketujuh Hijriyah, tampil dua orang besar dan sering disebut-sebut dihampir semua kitab fiqih syafi’i dalam setiap bab dan fasalnya. Yaitu ar-Rofi’i dan an-Nawawi. Ketokohan mereka sudah tak teringkari lagi. Dua ulama tersebut memiliki peran dan kontribusi besar terkait ajaran-ajaran madzhab syafi’i. Peran mereka dalam koreksi ajaran madzhab sangatlah besar. Melalui karya-karya mereka, semua problema dalam furu’iyyah fiqih berikut dalil-dalilnya menjadi wilayah yang tak terlewatkan untuk dikaji ulang dan dibenahi. Semua riwayat-riwayat madzhab dan qoul-qoul madzhab juga mengalami pen-tarjih-an dalam rangka merumuskan (tahqiq) kembali ajaran madzhab as- Syafi’i. Diantara karya-karya besar mereka adalah; al-Muharror, as-Syarhu as-Shoghir, as-Syarhu al-Kabir (ketiganya adalah karya imam ar-Rofi’i), al-Minhaj, al-Majmu’, Raudlatut Thalibin (ketiganya adalah karya imam an-Nawawi). Inilah tahapan keempat dalam sejarah berkembangnya madzhab syafi’i yang dalam istilahnya disebut dengan marhalatu at-tahrir.

Dominasi ar-Rofi’i dan an-Nawawi dalam filterisasi riwayat dan ajaran madzhab nampaknya masih saja meninggalkan ruang bagi yang lain untuk melengkapi apa yang dianggap masih kurang. Selayaknya, karya manusia tak pernah sampai pada titik kesempurnaan. Pada kurun kesepuluh Hijriyah, kembali tampil dua ulama penyempurna. Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli. Kehadiran mereka berikut karyanya mempertegas eksistensi dan validitas madzhab.

Sesuai dengan hadist Nabi saw. yang menyatakan bahwa, al-quran dan hadist terhenti dan habis ketika Nabi telah mangkat. Sedangkan problema yang mencuat di tengah-tengah masyarakat terkait realitas amaliah mereka tak pernah terhenti dan habis sebelum kiamat tiba. Maka dua sisi ini tak seimbang bila al-quran dan hadist tidak dikembangkan dalam furu’iyahnya.

Sebab, banyak hal-hal baru yang belum terakomodir dalam fatwa-fatwa ulama pendahulu. Hal ini kiranya membutuhkan tindakan pembaharuan dan penyempurnaan. Maka, Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli tampil sebagai kunci kebuntuan tersebut. Melalui karya-karya mereka, keduanya tampil sebagai penyempurna.

Ranah ilmiah baru yang belum terjamah oleh pendahulunya dikupas serta dirumuskan dan dikemas dalam karya mereka. Kurun ini dikenal sebagai tahapan akhir pembangungan konstruksi madzhab syafi’i.

Nah, dari sekelumit kajian sejarah sederhana ini, kiranya begitu besar militansi para ulama syafi’iyah dalam mempertahankan, menyempurnakan, dan menyebarluaskan ajaran madzhab Syafi’i secara estafet dari generasi ke generasi. Hingga kita pun menuai keberkahan, berupa kemudahan dalam mempelajari, menjalankan, dan melestarikan ibadah ala madzhab syafi’i. “Fas-aluu ahla az-dzikri in kuntum laa ta’lamun..”[]

Penulis, M. Shidqi Lubaid

Gaung Lirboyo di Bumi Wonogiri

Dahulu, masyarakat di daerah Wonogiri memang terkenal dengan sebutan kaum abangan. Sebutan yang biasanya disematkan untuk daerah-daerah yang adat istiadat dan budaya warisan leluhur masih kuat dan mengakar sampai anak cucu. Juga karena masih minimnya pengetahuan tentang agama. Daerahya hampir tak pernah tersentuh oleh ajaran apapun kecuali ajaran jawa.

Realitasnya, Wonogiri tidak seperti apa yang sudah didengar oleh telinga sebagian orang. Kini Wonogiri menampakkan wajah barunya. Sekarang ajaran agama Islam ahlussunah wal-jamaah kian berkembang di daerah yang konon disabda oleh para wali tidak akan pernah tersentuh oleh hawa agama itu. Kalaupun masyarakatnya masih minim pengetahuan tentang agama (baca; syari’at), kegiatan Islami bisa berjalan. Sedikit demi sedikit meski tidak setiap hari dilakukan.

Sore itu pengurus Masjid Al Iman melakukan sedikit persiapan acara yang akan dilaksanakan pada malam harinya. Sebenarnya bukan acara atau event besar yang akan berlangsung di sana. Hanya pembukaan rutinan Maulid atau Maulidan seperti yang biasa dilakukan oleh para santri.

Bedanya, rasa antusias masyarakatnya sungguh besar menyambut kegiatan rutinan yang pertama kalinya mereka gelar. Mulai membersihkan masjid, menata alas tikar dan karpet, memasang sound system dan membeli menu sekedarnya. Dan yang membuat hal ini kian istimewa bagi mereka adalah kedatangan salah satu Da’i dari Pondok Pesantren Lirboyo yang Ramadhan kemarin bermukim di sana. Kedatangannya ke dusun Kepuh desa Soco kecamatan Slogohimo itu tidak pernah disangka sebelumnya. Sontak mereka terkejut dan menyambutnya dengan gembira.

Malam harinya, setelah sholat Isya’ dilakukan secara berjamaah di masjid, segerombolan orang yang menamai kelompoknya dengan Majelis Taklim Tibbil Qulub (MT2Q) Al Muqorrobin datang dengan membawa mobil sederhana. Rebana, seragam dan tas anggota yang berisi surban, tasbih dan kitab adalah identitas yang menjadi ciri khas mereka dalam melakukan rutinitasnya. Berdakwah telah mereka lakukan dari masjid satu ke masjid di tujuh kecamatan daerah Wonogiri Jawa Tengah.

Awalnya, hanya ada segelintir pribumi yang sudah berada di masjid. Baru setelah Pak Zaenal, salah satu alumni Lirboyo tahun 2001 asal Kendal Jawa Tengah, membacakan wasilah, para warga berduyun-duyun datang memadati ruangan masjid.

Pertama kitab yang dibaca adalah Ratibul Haddad. Kitab yang berisi aurad yang dikarang oleh Sayyid Abdullah al-Haddad ini mereka baca bersama-sama dengan dipandu oleh salah satu pentolan MT2Q, Pak Ghufron Nawawi, yang juga alumni Lirboyo asal Nganjuk Jawa Timur. Terlihat jelas mimik wajah mereka seolah sangat khusuk mengikutinya. Lafadz per lafadz mereka kumandangkan bersama di malam yang penuh gerimis saat itu.

Mereka bisa tetap mengikuti dan melafadzkan wirid-wirid meskipun sebagian dari mereka, terutama orang-orang tua belum bisa membaca bahasa Arab. Pasalnya, pengurus MT2Q telah mempersiapkan buku cetakan khusus berupa bahasa arab yang dibahasa indonesiakan yang memuat beberapa sholawat populer Habib Syekh dan Aurad Ratibul Haddad untuk mereka. Hal itu merupakan solusi yang tepat agar acara berjalan dengan kompak dan semarak.

Suasana semakin ramai pada waktu Pak Zaenal kembali bersuara membawakan Maulid Simtudduror yang diiringi dengan rebana ala Habsy. Para pengunjung langsung ikut mengeluarkan suara mereka dengan lantang. Satu persatu sholawat mereka lantunkan secara kompak sambil membaca buku panduan yang mereka beli dengan harga cukup terjangkau, Rp. 6000 per eksemplar.

Sungguh, meskipun masih kalah dengan semaraknya MASBRO di Ponpes Lirboyo, namun setidaknya suasananya tetap bisa memecah keheningan dan menambah semangat para hadirin untuk terus membacakan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya, di akhir acara, yang sering membacakan do’a penutup adalah Pak Ma’mun Rosyid, yang lagi-lagi juga alumni Lirboyo asal Nganjuk Jawa Timur. Karena, ketepatan pada waktu beliau tidak hadir karena masih berada di Tasikmalaya melakukan suluk, akhirnya do’a dipimpin kembali oleh Pak Ghufron setelah sebelumnya memberikan mauidhotul hasanahnya.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

PerjalananTiga Tokoh Wonogiri dari Lirboyo

Lirboyo telah mencetak kader-kader Islam yang berasal dari hampir seluruh pelosok Tanah Air. Pondok yang sekarang ini santrinya berjumlah kurang lebih sepuluh ribu orang itu sangat berjasa besar terutama dalam memperjuangkan agama Islam di bumi nusantara ini diantaranya daerah Wonogiri.

Termasuk mereka bertiga (Zaenal, Ghufron Nawawi dan Makmun Rosyid) yang sekarang bermukim di sana. Majelis Taklim tidak pernah mereka tinggalkan meskipun sudah berkeluarga. Tak pernah terbesit dalam hati dan pikiran mereka untuk berkeluh kesah dalam keadaan yang semuanya serba keterbatasan.

Perlu diketahui Wonogiri adalah daerah yang di kanan kiri jalan masih rimbun dengan pepohonan. Jarak satu sama lain saling berjauhan, melewati jalan-jalan yang berlika-liku. Mereka sudah biasa melewati jurang-jurang yang curam ketika akan mengaji atau melakukan rutinan lainnya. Uniknya, tiga orang itu tidak pernah lepas satu sama lain. Di mana ada MT2Q di situlah ada tiga alumni Lirboyo yang berlainan daerah itu.

Mengaji adalah pekerjaan mereka setiap hari. Rutinitas yang kebanyakan melibatkan kaum wanita itu hampir setiap hari dilakukan. Berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain di siang bolong. Setiap masjidnya diikuti oleh kurang lebih 20 sampai 30 wanita paruh baya. Dan memang kebanyakan yang mengikuti pengajian setiap harinya dari kaum hawa.

Mulai dari jam 12.00 WIB, tiga tokoh itu keluar dari gubuk persinggahan, menuju masjid sesuai agenda. Setiap hari mereka bertiga menggelar pengajian kecuali hari Selasa dan Jum’at. Tempat yang menjadi agenda rutinan itu ada di beberapa desa yang masih dalam satu kecamatan. Tepatnya di kecamatan Jatipurno, Wonogiri.

Setelah sampai masjid, siapa yang datang awal maka ialah yang adzan dan menjadi imam sholat Dzuhur. Kemudian setelah itu membaca Ratibul Haddad atau Maulid Simtudduror bersama. Lalu setelah pembacaan dua kitab yang sudah popular itu mereka membaca kitab Nasho’ihul Ibad secara bergantian. Persis dengan metode belajar dalam bermusyawarah di Pondok Pesantren Lirboyo. Satu hadist mereka baca dengan dimaknai dan kemudian dimurodi atau diterangkan. Jika sudah selesai kira-kira jam 14.00 WIB para jama’ah akan membaca do’a andalan yang menjadi jargon mereka yakni; Do’a Tibbil Qulub yang tidak lain adalah nama majelis taklim mereka sendiri.

Sorenya, jika salah satu dari mereka mempunyai rutinitas di masjid lain, mereka akan langsung menuju ke tempat pengajian atau tahlilan rutinannya. Bagi yang tidak ada kegiatan akan kembali ke rumah masing-masing bersama anak dan istrinya yang kadang juga diajak mengaji.

Kegiatan mereka tidak berhenti sampai di situ. Malam harinya, mereka akan bertemu kembali dalam acara yang berbeda. Kalau malam itu ada orang mengundang untuk suatu hajat tertentu, mereka kadang membacakan al Qur’an satu glondong, Nariyahan (baca; Sholawat Nariyah), tahlilan atau manaqiban. Hanya saja, untuk yang masih trend saat ini adalah pembacaan Maulid  Simtudduror dengan sholawat-sholawat ala Habib Syekh. Bahkan, mereka telah berhasil melebarkan sayap hingga ke daerah di tujuh kecamatan; Sidoharjo, Jatipurno, Jatiroto, Slogeretno, Slogohimo, Jatisrono dan Kismantoro.

Tujuh kecamatan itu adalah tempat-tempat yang pernah disinggahi Tim Safari Dakwah dari Lirboyo ketika Ramadhan.

Kegiatan sholawatan bareng yang melibatkan pengurus masjid dan masyarakat sekitar merupakan tindak lanjut jalinan silaturrahmi antar orang-orang Lirboyo baik yang sudah tamat maupun yang masih sekolah. Masyarakat di sana sangat berharap agar Ramadhan nanti dan seterusnya bisa mendatangkan santri Lirboyo, walau hanya sekadar untuk mengaji dan mengaji.

Tiga tokoh itu terus berusaha agar kegiatan majelis ilmi bisa mereka gelar di mana-mana terutama di daerah Wonogiri. Mereka terus mengembangkan diri dan mencari wacana dan hal-hal baru agar perkembangan Islam bisa terus berjalan dari waktu ke waktu.

Dan misi ke depan Wonogiri yang dikenal sangat gersang oleh siraman ilmu agama akan terkikis dan menjadi salah satu daerah yang berbudaya Islam ala Ahlussunah Wal jama’ah. []

Penulis, Said al Birroe