Category Archives: Santri Menulis

Dunia Pesantren Dalam Percaturan Ekonomi Global

Dunia pesantren adalah wilayah kajian yang selalu menarik perhatian para peneliti ilmu-ilmu agama Islam, ilmu-ilmu sosial, dan Antropologi.  Sudah  banyak hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang membuka cakrawala pemkiran tentang dunia Pesantren yang unik dan menyimpan berbagai kekayaan budaya. Dari sudut apapun, memandang Pesantren selalu mendapatkan sesuatu yang unik, yang tidak ditemukan dalam komunitas budaya yang lain. Hal ini, terutama, apabila kita mengkaji perilaku kiai dan santrinya dalam transformasi  dan perubahan sosial yang mengukuhkan pesantren sebagai  subkultur (meminjam istilah KH. Abdurahman Wahid). Sebagai  subkultural, perananan pesantren tampak menonjol sebagai agen perubahan dan tranformasi sosial dalam masyarakat sekitarnya. Dari sinilah, yang menjadi salah satu keunikan dunia pesantren

Apalagi  jika dikaitkan dengan cara masyarakat pesantren memandang dan menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan yang sering diluar dugaan orang banyak. Perlu diketahui bahwa eksistensi pesantren tidak bisa dilepaskan dari lima unsur, yaitu pondok  atau asrama, masjid, santri, kiai, dan kitab yang  satu sama lain saling mengisi dan saling berkaitan. Pesantren atau dapat juga disebut  masyarakat pesantren, memiliki  budaya  khas masyarakat tradisional di pedesaan. Ke-khasan  pesantren, antara lain terletak pada dua hal: pertama, cara mengajarkan, mengembangkan, dan  menyebarkan  agama islam,  serta ditandai dengan nilai-nilai persaudaraan, tolong menolong, persatuan, menuntut ilmu, ikhlas dan taat kepada Tuhan dan rasul, ulama sebagai pewaris  nabi. Kedua, pesantren sering disebut kampung peradaban (oleh para peneliti barat) yang ditandai dengan banyaknya alumni yang mampu menjadi pioner intelektual di tanah air.

Bahkan Menurut  Azzumardi Azra, pesantren muncul dan berkembang dari  pengalaman sosiologis masyarakat lingkunganya. Pesantren mempunyai  keterkaiatan erat  yang  tidak terpisahkan dengan komunitas lingkunganya.  Kenyataan itu bisa dilihat tidak hanya dari latar belakang pendirian pesantren, tetapi  juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam pandangan Azzumardi Azra, “pesantren mampu bertahan bukan hanya karena kemampuanya untuk melakukan adjustment dan readjustment, tetapi karena karakter esensialnya sebagai lembaga yang tidak hanya identik  dengan makna keislaman. Selain itu di pesantren juga terkandung makna keaslian Indonesia” (indigenous). Pesantren sebagai  tempat hidup dan belajar para santri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tertua di negeri seribu pulau ini,  tetapi  juga merupakan saksi sejarah tentang berbagai perkembangan indonesia sebagai bangsa di tengah pergaulan dunia yang semakin terbuka. Bahkan dalam suasana damai, perang kemerdekaan, gegap gempita gempuran arus global yang sampai saat ini belum jelas bahkan acapkali menorehkan arahnya, hal ini  tidak pernah lepas dari perhatian pesantren.

Hari ini–meski pengakuan secara historis sudah menempatkan peran pesantren sebagai salah satu institusi  yang sudah memberikan sumbangsih besar dalam dunia pendidikan dan pembangunan SDM–akan tetapi kita tidak bisa tidur lelap begitu saja. Masih banyak pekerjaan yang belum kita selesaikan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Bukankah masyarakat juga  terus menuntut supaya pesantren terus-menerus membaca realitas masyarakat–terutama hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat–. Dengan kondisi masyarakat  yang banyak menghadapi problematika ekonomi, budaya, politik, dan aspek- aspek lainya, ternyata  menempatkannya sebagai  tantangan tersendiri  bagi setiap institusi yang bertanggungjawab  dalam mendidik  SDM. Sehingga institusi  otomatis  dituntut  untuk mengakomodasinya. Bahkan ikut memberikan jawaban konkrit atas panggilan  kemaslahatan bangsa.

Ketika gerakan setiap elemen bangsa ini misalnya sedang terfokus pada upaya mewujudkan kemandirian di sektor ekonomi  akibat problem ketidakberdayaan masyarakat  dalam menghadapi tekanan krisis multidimensi, maka masyarakat pun kemudian meminta setiap institusi pendidikan–termasuk pesantren–supaya tidak hanya melahirkan atau memproduk out put yang fasih teori saja. Akan tetapi juga fasih terhadap keterampilan, kemandirian atau etos kerja. Sekurang-kurangnya mampu memunjukan semangat  untuk berbagai hal termasuk  ekonomi (wirausaha).

Mengapa pesantren harus bisa memperluas kontribusinya? Karena secara realitas, masyarakat sedang membutuhkan peranannya. Atau masyarakat mempercayai  kalau pesantren akan bisa berbuat banyak dalam memberikan solusi yang tepat terkait problem sosial-ekonomi.

Sebagai lembaga tertua, tentulah pesantren sudah kaya akan pengalaman adanya bacaan dalam mencerna dan menyikapi problem yang dihadapi oleh bangsa ini, khususnya yang kelak ditemuai oleh komunitas santri saat terjun di tengah pergumulan  masyarakat.

Ketika sekarang bangsa ini sedang menghadapi problem besar di sektor ekonomi dan lapangan pekerjaan, maka logis jika pesantren ditantang untuk bisa menunjukan kepada bangsa ini  sebagai institusi yang kapabel dalam memberikan solusi terhadap problema tersebut. Permasalahan yang ada pada dunia kerja di indonesia yang hingga kini sarat dengan problem pengangguran intelektual adalah tantangan konkrit yang tidak bisa dibiarkan, apalagi sampai dibuat semakin parah. Sebab jika kondisi ini makin sulit, maka potensial akan melahirkan banyak kerawanan atau penyakit-penyakit sosial. Seperti tindakan kriminalitas.

Untuk mengawali tujuan mulya itu, marilah kita bersama-sama memantapkan SDM yang berpijak pada tradisi lokal. Yang dimaksud adalah daurah tsaqofah, yaitu menejrial kebudayaan yang dilakukan untuk membangun mental intelektual dan spiritual, berfikir terbuka, mampu mengembangkan potensi dirinya dengan tetap berpijak pada tradisi, diramu dengan model kekinian sesuai perkembangan zaman, bersifat, istiqomah, bertahap, dan sistematis. Dalam konteks  bentuk tsaurah kebudayaan  antara lain: Nahdlatun Wathan, Nahdlatun fikri dan Nahdlatun tujjar.[]

Penulis, Arsyad Muhammad

Mengenal Konsep Akhlak

Akhlak atau dalam bahasa lain disebut moral, etika maupun budi pekerti, merupakan sarana penting bermasyarakat dengan baik dan makmur. Sesuai dengan inti ajaran agama pada umumnya jika dipandang dari sisi sosial kemasyarakatan.

Islam sebagai salah satu dari tiga agama samawi monotheistik yang dikenal di dunia selain Nasrani dan Yahudi, menyadari betul akan hal itu. Terbukti dalam ajaran Islam akhlak memiliki kedudukan penting. Bahkan ahli sejarah menyebutkan bahwa keberhasilan Rasullah SAW dalam mengemban dan mengembangkan risalah Islamiyah yang paling dominan adalah karena faktor akhlak. Sehingga banyak sekali kafir Quraisy yang sudi masuk Islam karena simpati terhadap akhlak beliau yang mulia.

Secara umum, dalam buku Ilmu Akhlak, Drs. H.M. Ashfiyak Hamida membagi moral (akhlak) ke dalam dua sistem, yaitu sistem moral agama dan sistem moral sekuler.

1.     Sistem Moral Agama

Sistem ini adalah sebuah penilaian baik dan buruk berdasarkan ajaran-ajaran agama. Manakala agama mengatakan perbuatan itu baik maka baiklah perbuatan itu. Manakala agama mengatakan perbuatan itu buruk maka buruklah perbuatan itu.

Mengakui akan kekuatan moral agama yang bersumber dari kepercayaan ini, W.M Dixon  dalam bukunya The Human Sitution  mengatakan : “ Agama (betul atau salah) dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan kehidupan akhirat adalah merupakan totalitas kesuluruhan. Paling tidak merupakan dasar yang paling kuat bagi pelaksanaan moral. Dengan mundur (hilang) nya sebuah agama dan sanksi-sanksinya maka akan timbul masalah besar dan mendesak. Apakah (ada) yang bisa menggantikan kedudukan agama itu?”

Dalam perkembangannya, moral atau akhlak Islam mempunyai beberapa kelebihan dibanding dengan moral agama lain. Konsepsi ketuhanan Islam yang mengajarkan bahwa semua perbuatan manusia baik atau buruk tak akan terlepas dari pandangan Allah SWT, menyebabkan akhlak Islam mempunyai kelebihan berupa disiplin moral yang sangat kuat dan ketat.

Selain itu akhlak Islam tidak menolak dan memusuhi  kehidupan duniawi. Sebagaimana pandangan moral zuhud (yang sempit). Meskipun Islam sebenarnya juga mengajarkan pola kehidupan yang zuhud akan tetapi tidak dalam pengertian yang sempit. Dalam aturan Islam, zuhud memiliki ciri tidak menolak dan memusuhi dunia asal tidak berlebihan (hubbuddunya). Serta bersifat sosial sehingga orang lain pun bisa merasakan manfaatnya.

Kelebihan moral Islam yang lainnya yakni Islam memiliki standar yang mutlak dan universal. Artinya tidak nisbi, relatif dan tidak terbatas waktu maupun tempat.

Dan yang terakhir Islam memiliki moral force atau kekuatan moral yang kuat. Dengan kata lain moral force ini merupakan suatu bentuk ketaatan. Karena akhlak Islam yang berlandaskan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang berdasarkan keimanan.

Dapat disimpulkan, seseorang yang telah beriman akan tetapi tidak tidak mempunyai akhlak yang baik maka akan dianggap tak bermakna. Karena akhlak bisa menjadi tolak ukur bagi keimanan seseorang.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

2.     Sistem Moral Sekuler

Berbeda dengan sistem moral agama, moral sekuler mempunyai warna yang berbeda.

Sekuler berasal dari kata scularity  yang mempunyai yang mempunyai arti keduniawian. Maka moral sekuler ini tidak mengakui adanya ajaran-ajaran Tuhan atau sering disebut atheis.

Dalam memberikan penilaian yang baik dan buruk, penganut aliran ini hanya mempertimbangkan hal-hal duniawi tanpa memandang hubungannya dengan Tuhan.

Moral sekuler yang sama sekali terlepas dari pertimbangan agama itu, tentu mempunyai bahan-bahan  pertimbangan lain yang berupa “sesuatu” yang selain agama. Sesuatu yang lain itu ternyata menjadi beraneka ragam bentuknya dan tidak seragam. Sehingga hal ini menjadikan moral sekuler ini dalam menyampaikan pandangan hanya bersifat relatif, sangat subjektif dan tidak memiliki standar yang objektif dan universal.

Moral semacam ini hanya mengajarkan tentang baik dan buruk. Namun sama sekali tidak memiliki moral force. Pada akhirnya moral sekuler seringkali membuat penganutnya berwatak munafik.

Munafik artinya  mendua, perbuatan yang diperlihatkan dihadapan orang banyak tidak sama dengan kondisi dengan diri yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan terlepasnya moral sekuler dari iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat. Tanpa iman yang ditakuti bukanlah Tuhan tetapi sesama manusia.

Para penganut moral ini dapat terlihat pada beberapa aliran diantaranya :

  1. Aliran rasionalisme, yang berpendapat bahwa hanya rasional yang mampu menjadikan sumber dalam menentukan baik dan buruk. Aliran ini dianut oleh sebagian besar para filosof seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain. Ini berbeda dengan mu’tazilah. Meski aliran Islam yang satu ini mengandalkan rasio namun masih dalam koridor agama.
  2. Aliran hedonisme. Aliran ini beranggapan bahwa suatu perbuatan dianggap baik apabila mampu mendatangkan kebahagiaan, kenikmatan dan kelezatan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, apabila tidak mendatangkan  kebahagiaan, kenikmatan maupun kelezatan maka akan dianggap sebagai perbuatan buruk.
  3. Aliran tradisionalisme. Dalam menentukan baik ataupun buruknya suatu perbuatan, para penganut aliran ini bergantung pada tradisi pada masing-masing daerah mereka sendiri. Bahkan tak jarang mereka terlalu mengkultuskan pimpinan mereka sendiri. Contoh aliran seperti ini adalah di Jepang, seseorang akan merasa lebih mulia bunuh diri (dalam Islam bunuh diri merupakan perbuatan tercela) daripada harus menanggung malu karena semisal gagal menjalankan tugas yang diperintahkan oleh pimpinannya. Hal ini di picu oleh adanya semacam undang-undang pada tradisi mereka.
  4. Aliran empirisme (empire =pengalaman), aliran ini menilai suatu perbuatan dapat dikatakan baik maupun buruk berdasarkan suatu pengalaman yang mereka rasakan.

Pada kesimpulannya, moral yang lahir karena manusia (misal pamrih) akan menjadi sangat lemah dan kurang membawa arti, sebab manusia sangat terbatas kemampuannya untuk mengawasi segala tingkah laku manusia lain.

Sedang moral yang terbentuk dari sebuah kepercayaan terhadap Tuhan (agama) akan lebih membawa kepada kemaslahatan secara universal dalam kehidupan bermasyarakat tanpa terkekang waktu, tempat maupun pengawasan sesama manusia.

Penulis, Mukhlisul Ibad, Kru Mading HIDAYAH

Mengenal Konstruksi Madzhab Syafi’i

Madzhab–dalam literatur fiqh istilah ini sering diketemukan–adalah pola pikir dan pola amaliah yang merupakan buah pikir dari seorang mujtahid madzhab, yang disarikan dari al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy dengan metode tertentu. Di masa Tabi’in, islam sampai pada masa supremasi (al-‘ashru ad-dzahabi), dimana khazanah inteletual islam mengalami banyak kemajuan dan perkembangan yang signifikan. Di masa itu, banyak mujtahid bermunculan hingga tak terhitung berapa jumlahnya. Namun seiring masa, tidak semua madzhab mampu bertahan. Hingga dewasa ini, madzhab yang memiliki validitas dari segi riwayat dan ajarannya sehingga layak untuk dianut hanya tinggal empat. Yaitu Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad, atau yang sering kita dengar dengan istilah al-Madzahib al-Arba’ah. Diantaranya adalah Madzhab Syaf’i.

Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H.)–yang dikenal dengan sebutan Imam as-Syafi’i–nama besarnya sebagai mujtahid membumi di berbagai penjuru negeri di belahan bumi manapun. Ust. Idrus Ramli mengungkapkan, tidak ada madzhab fiqih yang memiliki jumlah pengikut begitu besar seperti madzhab syafi’i yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Pilipina, Singapura, Thailand, India bagian selatan seperti daerah Kirala, Kalkutta, mayoritas negara-negara Syam seperti Syiria, Yordania, Lebanon, Palestina, sebagian besar penduduk Yaman, mayoritas penduduk Kurdistan, kaum sunni di Iran, mayoritas penduduk mesir, penduduk sebagian besar benua Afrika bagian timur dan lain-lain. Di indonesia saja, sudah jamak pesantren dan perguruan islam, dalam bidang fiqh mengikuti pola pikir dan amaliah yang merupakan buah pikir Imam Syafi’i 12 abad yang lalu.

Seperti halnya Ust. Idrus Ramli, Hasan bin Ahmad al-Kaff, dalam taqrirat-nya juga mengungkapkan bahwa mayoritas muslim Sunni di dunia mengikuti Madzhab Syafi’i. Hal ini merupakan prestasi ilmiah yang sangat mengagumkan mengingat jarak masanya lebih dari 1200 tahun atau 12 abad silam. Namun ajarannya masih eksis dan bahkan memiliki penganut (muqollid) terbanyak.

Dari paparan diatas, tentunya ada beberapa faktor logis-historys yang melatarbelakangi eksistensi dan perkembangan madzhab hingga mampu bertahan sekian lama, dan menjadi pilihan sekaligus rujukan mayoritas kaum muslim sunni di dunia. Apalagi sejarah menyaksikan banyak Mujaddid (pembaharu) dari para cendekiawan islam yang merupakan tokoh sentral di masanya masing-masing, lahir dengan latar belakang bermadzhab Syafi’i. Kehadiran mereka pun membawa kemajuan dan perkembangan entitas madzhab dan memperkaya khazanah madzhab. Pada kurun ketiga, tampil seorang cendikia, Abul ‘Abbas bin Suraij sebagai seorang pembaharu. Pada kurun keempat hingga kesepuluh, ada Abu at-Thoyyib Sahl as-Shu’luki, Abu Hamid al-Ghozali, al-Fakhru ar-Razi, an-Nawawi, al-Isnawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, as-Suyuthi, dan masih banyak lagi. Tak dapat ditampik, secara estafet munculnya sederet nama-nama tadi dapat memperkukuh landasan ajaran Madzhab dan melestarikannya melalui karya-karya mereka.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Hasan bin Ahmad al-Kaff, mengidentifikasi bahwa perkembangan Madzhab Syafi’i melalui lima tahap. Pertama, adalah tahapan dimasa Muhammad bin Idris yang muncul memperkenalkan dasar pokok pemikirannya. Saat itu kehadirannya mampu memberi warna baru di jazirah Arabia. Ajarannya dianggap moderat. Dalam Manaqib as-Syafi’i, Fakhruddin ar-Razi mengungkapkan, bahwa ajarannya mampu menengahi polemik ilmiah antara golongan tekstualis (ahlul hadist) dari para cendekiawan Hijaz dan golongan rasionalis (ahlur ro’yi) dari para cendekiawan Iraq.

Konon sebelumnya, kedua golongan ini tak pernah menemukan kata mufakat dalam diskusinya. Argumentasi masing-masing golongan tak pernah diterima oleh golongan lainnya. Ironisnya, lama kelamaan perbedaan tersebut selalu saja berujung pada nuansa rivalitas yang memprihatinkan.

Keadaan sedemikian rupa terus berlanjut hingga kemunculan Muhammad bin Idris. Melalui sebuah kitabnya yang berjudul “ar-Risalah” yang menjadi karya pembuka dalam fan ushul fiqh, Muhammad bin Idris mampu memperbaiki keadaan tersebut. Apa yang disampaikannya melalui ar-Risalah mampu menengahi dua golongan tersebut. Melalui ar-Risalah pula, Muhammad bin Idris pun menjadi orang pertama yang mengkodifikasikan metode ilmiahnya dalam menggali hukum al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy.

Kedua, adalah tahapan periwayatan (marhalatu an-naqli). Setelah pendiri madzhab wafat, para muridnya berperan menggantikan peran Muhammad bin Idris dalam meriwayatkan ajaran madzhab. Diantaranya, al-Buaithi, al-Muzani, Robi’ al-Murodi, Robi’ al-Jizi, Yunus bin Abdul A’la, yang pada akhirnya apa yang disampaikan murid-murid as-Syafi’i tersebut dalam literatur fiqih jamak disebut dengan riwayatul madzhab. Periode ini berlangsung sampai wafatnya para murid as-Syafi’i pada kurun ketiga hijriyah.

Ketiga, adalah tahap kodifikasi problematika furu’iyyah (cabangan) madzhab dan pengembangan ranah pembahasan masalah fiqh (marhalatu tadwini furu’i al-madzhab wa at-tawassu’i fi masa-ilihi). Di masa transformasi tahapan ke-dua menuju tahapan ke-tiga, muncul dua golongan yang memiliki pola pikir berbeda dan memiliki kadar riwayat yang berbeda, serta pengembangan yang berbeda pula dalam mengapresiasikan riwayat-riwayat madzhab as-Syafi’i. Dua golongan tersebut dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-Khurosaniyyun dan al-‘Iroqiyyun. Golongan al-Khurosaniyyun diawali oleh al-Qoffal al-Shoghir Abu Bakar al-Mawarzi. Kemudian diikuti oleh Abu Hamid al-Juwaini, al-Fauroni, al-Qodli Husain, dan lainnya. Sedangkan dari golongan al-‘Iroqiyyun, dimulai oleh Abu Hamid al-Isfiroini, dan diikuti oleh al-Mawardi, Abu Thoyyib at-Thobari, al-Bandaniji, al-Mahamili dan lainnya.

Hingga pada kurun ketujuh Hijriyah, tampil dua orang besar dan sering disebut-sebut dihampir semua kitab fiqih syafi’i dalam setiap bab dan fasalnya. Yaitu ar-Rofi’i dan an-Nawawi. Ketokohan mereka sudah tak teringkari lagi. Dua ulama tersebut memiliki peran dan kontribusi besar terkait ajaran-ajaran madzhab syafi’i. Peran mereka dalam koreksi ajaran madzhab sangatlah besar. Melalui karya-karya mereka, semua problema dalam furu’iyyah fiqih berikut dalil-dalilnya menjadi wilayah yang tak terlewatkan untuk dikaji ulang dan dibenahi. Semua riwayat-riwayat madzhab dan qoul-qoul madzhab juga mengalami pen-tarjih-an dalam rangka merumuskan (tahqiq) kembali ajaran madzhab as- Syafi’i. Diantara karya-karya besar mereka adalah; al-Muharror, as-Syarhu as-Shoghir, as-Syarhu al-Kabir (ketiganya adalah karya imam ar-Rofi’i), al-Minhaj, al-Majmu’, Raudlatut Thalibin (ketiganya adalah karya imam an-Nawawi). Inilah tahapan keempat dalam sejarah berkembangnya madzhab syafi’i yang dalam istilahnya disebut dengan marhalatu at-tahrir.

Dominasi ar-Rofi’i dan an-Nawawi dalam filterisasi riwayat dan ajaran madzhab nampaknya masih saja meninggalkan ruang bagi yang lain untuk melengkapi apa yang dianggap masih kurang. Selayaknya, karya manusia tak pernah sampai pada titik kesempurnaan. Pada kurun kesepuluh Hijriyah, kembali tampil dua ulama penyempurna. Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli. Kehadiran mereka berikut karyanya mempertegas eksistensi dan validitas madzhab.

Sesuai dengan hadist Nabi saw. yang menyatakan bahwa, al-quran dan hadist terhenti dan habis ketika Nabi telah mangkat. Sedangkan problema yang mencuat di tengah-tengah masyarakat terkait realitas amaliah mereka tak pernah terhenti dan habis sebelum kiamat tiba. Maka dua sisi ini tak seimbang bila al-quran dan hadist tidak dikembangkan dalam furu’iyahnya.

Sebab, banyak hal-hal baru yang belum terakomodir dalam fatwa-fatwa ulama pendahulu. Hal ini kiranya membutuhkan tindakan pembaharuan dan penyempurnaan. Maka, Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli tampil sebagai kunci kebuntuan tersebut. Melalui karya-karya mereka, keduanya tampil sebagai penyempurna.

Ranah ilmiah baru yang belum terjamah oleh pendahulunya dikupas serta dirumuskan dan dikemas dalam karya mereka. Kurun ini dikenal sebagai tahapan akhir pembangungan konstruksi madzhab syafi’i.

Nah, dari sekelumit kajian sejarah sederhana ini, kiranya begitu besar militansi para ulama syafi’iyah dalam mempertahankan, menyempurnakan, dan menyebarluaskan ajaran madzhab Syafi’i secara estafet dari generasi ke generasi. Hingga kita pun menuai keberkahan, berupa kemudahan dalam mempelajari, menjalankan, dan melestarikan ibadah ala madzhab syafi’i. “Fas-aluu ahla az-dzikri in kuntum laa ta’lamun..”[]

Penulis, M. Shidqi Lubaid

Gaung Lirboyo di Bumi Wonogiri

Dahulu, masyarakat di daerah Wonogiri memang terkenal dengan sebutan kaum abangan. Sebutan yang biasanya disematkan untuk daerah-daerah yang adat istiadat dan budaya warisan leluhur masih kuat dan mengakar sampai anak cucu. Juga karena masih minimnya pengetahuan tentang agama. Daerahya hampir tak pernah tersentuh oleh ajaran apapun kecuali ajaran jawa.

Realitasnya, Wonogiri tidak seperti apa yang sudah didengar oleh telinga sebagian orang. Kini Wonogiri menampakkan wajah barunya. Sekarang ajaran agama Islam ahlussunah wal-jamaah kian berkembang di daerah yang konon disabda oleh para wali tidak akan pernah tersentuh oleh hawa agama itu. Kalaupun masyarakatnya masih minim pengetahuan tentang agama (baca; syari’at), kegiatan Islami bisa berjalan. Sedikit demi sedikit meski tidak setiap hari dilakukan.

Sore itu pengurus Masjid Al Iman melakukan sedikit persiapan acara yang akan dilaksanakan pada malam harinya. Sebenarnya bukan acara atau event besar yang akan berlangsung di sana. Hanya pembukaan rutinan Maulid atau Maulidan seperti yang biasa dilakukan oleh para santri.

Bedanya, rasa antusias masyarakatnya sungguh besar menyambut kegiatan rutinan yang pertama kalinya mereka gelar. Mulai membersihkan masjid, menata alas tikar dan karpet, memasang sound system dan membeli menu sekedarnya. Dan yang membuat hal ini kian istimewa bagi mereka adalah kedatangan salah satu Da’i dari Pondok Pesantren Lirboyo yang Ramadhan kemarin bermukim di sana. Kedatangannya ke dusun Kepuh desa Soco kecamatan Slogohimo itu tidak pernah disangka sebelumnya. Sontak mereka terkejut dan menyambutnya dengan gembira.

Malam harinya, setelah sholat Isya’ dilakukan secara berjamaah di masjid, segerombolan orang yang menamai kelompoknya dengan Majelis Taklim Tibbil Qulub (MT2Q) Al Muqorrobin datang dengan membawa mobil sederhana. Rebana, seragam dan tas anggota yang berisi surban, tasbih dan kitab adalah identitas yang menjadi ciri khas mereka dalam melakukan rutinitasnya. Berdakwah telah mereka lakukan dari masjid satu ke masjid di tujuh kecamatan daerah Wonogiri Jawa Tengah.

Awalnya, hanya ada segelintir pribumi yang sudah berada di masjid. Baru setelah Pak Zaenal, salah satu alumni Lirboyo tahun 2001 asal Kendal Jawa Tengah, membacakan wasilah, para warga berduyun-duyun datang memadati ruangan masjid.

Pertama kitab yang dibaca adalah Ratibul Haddad. Kitab yang berisi aurad yang dikarang oleh Sayyid Abdullah al-Haddad ini mereka baca bersama-sama dengan dipandu oleh salah satu pentolan MT2Q, Pak Ghufron Nawawi, yang juga alumni Lirboyo asal Nganjuk Jawa Timur. Terlihat jelas mimik wajah mereka seolah sangat khusuk mengikutinya. Lafadz per lafadz mereka kumandangkan bersama di malam yang penuh gerimis saat itu.

Mereka bisa tetap mengikuti dan melafadzkan wirid-wirid meskipun sebagian dari mereka, terutama orang-orang tua belum bisa membaca bahasa Arab. Pasalnya, pengurus MT2Q telah mempersiapkan buku cetakan khusus berupa bahasa arab yang dibahasa indonesiakan yang memuat beberapa sholawat populer Habib Syekh dan Aurad Ratibul Haddad untuk mereka. Hal itu merupakan solusi yang tepat agar acara berjalan dengan kompak dan semarak.

Suasana semakin ramai pada waktu Pak Zaenal kembali bersuara membawakan Maulid Simtudduror yang diiringi dengan rebana ala Habsy. Para pengunjung langsung ikut mengeluarkan suara mereka dengan lantang. Satu persatu sholawat mereka lantunkan secara kompak sambil membaca buku panduan yang mereka beli dengan harga cukup terjangkau, Rp. 6000 per eksemplar.

Sungguh, meskipun masih kalah dengan semaraknya MASBRO di Ponpes Lirboyo, namun setidaknya suasananya tetap bisa memecah keheningan dan menambah semangat para hadirin untuk terus membacakan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya, di akhir acara, yang sering membacakan do’a penutup adalah Pak Ma’mun Rosyid, yang lagi-lagi juga alumni Lirboyo asal Nganjuk Jawa Timur. Karena, ketepatan pada waktu beliau tidak hadir karena masih berada di Tasikmalaya melakukan suluk, akhirnya do’a dipimpin kembali oleh Pak Ghufron setelah sebelumnya memberikan mauidhotul hasanahnya.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

PerjalananTiga Tokoh Wonogiri dari Lirboyo

Lirboyo telah mencetak kader-kader Islam yang berasal dari hampir seluruh pelosok Tanah Air. Pondok yang sekarang ini santrinya berjumlah kurang lebih sepuluh ribu orang itu sangat berjasa besar terutama dalam memperjuangkan agama Islam di bumi nusantara ini diantaranya daerah Wonogiri.

Termasuk mereka bertiga (Zaenal, Ghufron Nawawi dan Makmun Rosyid) yang sekarang bermukim di sana. Majelis Taklim tidak pernah mereka tinggalkan meskipun sudah berkeluarga. Tak pernah terbesit dalam hati dan pikiran mereka untuk berkeluh kesah dalam keadaan yang semuanya serba keterbatasan.

Perlu diketahui Wonogiri adalah daerah yang di kanan kiri jalan masih rimbun dengan pepohonan. Jarak satu sama lain saling berjauhan, melewati jalan-jalan yang berlika-liku. Mereka sudah biasa melewati jurang-jurang yang curam ketika akan mengaji atau melakukan rutinan lainnya. Uniknya, tiga orang itu tidak pernah lepas satu sama lain. Di mana ada MT2Q di situlah ada tiga alumni Lirboyo yang berlainan daerah itu.

Mengaji adalah pekerjaan mereka setiap hari. Rutinitas yang kebanyakan melibatkan kaum wanita itu hampir setiap hari dilakukan. Berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain di siang bolong. Setiap masjidnya diikuti oleh kurang lebih 20 sampai 30 wanita paruh baya. Dan memang kebanyakan yang mengikuti pengajian setiap harinya dari kaum hawa.

Mulai dari jam 12.00 WIB, tiga tokoh itu keluar dari gubuk persinggahan, menuju masjid sesuai agenda. Setiap hari mereka bertiga menggelar pengajian kecuali hari Selasa dan Jum’at. Tempat yang menjadi agenda rutinan itu ada di beberapa desa yang masih dalam satu kecamatan. Tepatnya di kecamatan Jatipurno, Wonogiri.

Setelah sampai masjid, siapa yang datang awal maka ialah yang adzan dan menjadi imam sholat Dzuhur. Kemudian setelah itu membaca Ratibul Haddad atau Maulid Simtudduror bersama. Lalu setelah pembacaan dua kitab yang sudah popular itu mereka membaca kitab Nasho’ihul Ibad secara bergantian. Persis dengan metode belajar dalam bermusyawarah di Pondok Pesantren Lirboyo. Satu hadist mereka baca dengan dimaknai dan kemudian dimurodi atau diterangkan. Jika sudah selesai kira-kira jam 14.00 WIB para jama’ah akan membaca do’a andalan yang menjadi jargon mereka yakni; Do’a Tibbil Qulub yang tidak lain adalah nama majelis taklim mereka sendiri.

Sorenya, jika salah satu dari mereka mempunyai rutinitas di masjid lain, mereka akan langsung menuju ke tempat pengajian atau tahlilan rutinannya. Bagi yang tidak ada kegiatan akan kembali ke rumah masing-masing bersama anak dan istrinya yang kadang juga diajak mengaji.

Kegiatan mereka tidak berhenti sampai di situ. Malam harinya, mereka akan bertemu kembali dalam acara yang berbeda. Kalau malam itu ada orang mengundang untuk suatu hajat tertentu, mereka kadang membacakan al Qur’an satu glondong, Nariyahan (baca; Sholawat Nariyah), tahlilan atau manaqiban. Hanya saja, untuk yang masih trend saat ini adalah pembacaan Maulid  Simtudduror dengan sholawat-sholawat ala Habib Syekh. Bahkan, mereka telah berhasil melebarkan sayap hingga ke daerah di tujuh kecamatan; Sidoharjo, Jatipurno, Jatiroto, Slogeretno, Slogohimo, Jatisrono dan Kismantoro.

Tujuh kecamatan itu adalah tempat-tempat yang pernah disinggahi Tim Safari Dakwah dari Lirboyo ketika Ramadhan.

Kegiatan sholawatan bareng yang melibatkan pengurus masjid dan masyarakat sekitar merupakan tindak lanjut jalinan silaturrahmi antar orang-orang Lirboyo baik yang sudah tamat maupun yang masih sekolah. Masyarakat di sana sangat berharap agar Ramadhan nanti dan seterusnya bisa mendatangkan santri Lirboyo, walau hanya sekadar untuk mengaji dan mengaji.

Tiga tokoh itu terus berusaha agar kegiatan majelis ilmi bisa mereka gelar di mana-mana terutama di daerah Wonogiri. Mereka terus mengembangkan diri dan mencari wacana dan hal-hal baru agar perkembangan Islam bisa terus berjalan dari waktu ke waktu.

Dan misi ke depan Wonogiri yang dikenal sangat gersang oleh siraman ilmu agama akan terkikis dan menjadi salah satu daerah yang berbudaya Islam ala Ahlussunah Wal jama’ah. []

Penulis, Said al Birroe