Category Archives: Santri Menulis

Pesantren, Pendidikan Primer atau Sekunder?

Selama ini, sebagian besar pendidikan pondok pesantren di Indonesia menampakan wajah yang terkesan tradisional, klasik serta apa adanya. Namun demikian tidak bisa dipungkiri dengan citra wajah yang seperti itu, justru tidak lapuk dimakan zaman. Bahkan ditengah gempuran arus globalisasi yang kian menggila dan hedonisme masyarakat yang kian meningkat, pesantren tetap mampu memikat sebagian komunitas masyarakat untuk tetap menjadikannya sebagai wadah untuk menuntut ilmu. Benarkah?

Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai syariat dan penyiaran agama Islam. Dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama, pesantren diharapkan mampu melahirkan alumni yang kelak mampu menjadi figur agamawan yang tangguh dan mampu memainkan peran serta membiaskan peran propetiknya pada masyarakat secara umum. Artinya, akselerasi mobalitas vertikal dengan penjejalan materi-materi keagamaan menjadi priotitas.

Namun dalam hal ini, dimana peranan itu sudah semakin mengabur dengan berbagai permasalahan  yang dihadapkan oleh perkembangan zaman–dimana masyarakat kita sudah didera berbagai penyakit terutama hedonisme yang semakin menggila–sepertinya memaksa kita untuk tidak mengatakan satu-satunya prioritas dalam  sistem pendidikan pesantren (ilmu agama).

Dalam hal ini, tentunya kita perlu mengkaji kembali nilai-nilai substansial dari sistem yang selama ini  dijadikan superioritas  dalam pendidikan pesantren (tradisional) untuk lebih bisa menompang nilai-nilai yang bersifat reaktif, tanggap terhadap berbagai persoalan bangsa. Adalah keniscayaan ketika kita terlalu eksklusif  dalam pengelaborasian sistem yang selama ini di anggap final – memberikan ruang  yang demikian besar pada ilmu-ilmu keagamaan – berakibat menciptakan penghalang mental untuk melakukan perubahan di tubuh pesantren sendiri.

Padahal, ditengah gegap gempita dan kompetisi sistem pendidikan yang ada, pesantren –sebagai lembaga pendidikan tertua yang masih bertahan hingga kini-, tentu saja harus sadar bahwa penggiatan diri melulu pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Pesantren dituntut untuk senantiasa apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan zaman.

Pragmatisme budaya yang kian menggejala, sejatinya bisa dijadikan pertimbangan lain, bagaimana seharusnya pesantren mensiasati fenomena tersebut. Bukannya malah menutup diri. Sejatinya pesantren harus membuka diri sekaligus menjajaki perubahan yang terjadi. Dan pada saat yang sama, pesantren pun harus proaktif serta memberikan ruang bagi pembenahan.

Meskipun demikian, kecurigaan pesantren terhadap anancaman lembaga pendidikan kolonial tidak selalu berwujud penolakan yang apriori. Karena di balik penolakannya, ternyata diam-diam pesantren melirik metode yang digunakan lalu kemudian mencontohnya.

Fenomena “menolak sambil mencontoh”, demikian Karel Steenbrink (1994) mengistilahkannya, tampak dalam perkembangan pesantren di Nusantara. Ini terlihat, misalnya, dengan diajarkannya pengetahuan umum semisal bahasa Melayu dan Belanda, sejarah, ilmu hitung, ilmu bumi, dan sebagainya.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Pada tahun 1934, KH. Wahid Hasyim atas restu ayahnya, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, mendirikan madrasah Nidzhomiyah yang mana pengajaran pengetahuan umum mencapai 70 persen dari keseluruhan kurikulum yang diajarkan disana. (Dhafier, 1994). Ini merupakan salah satu respon pesantren dalam mensiasati tuntutan zaman yang tujuannya bukan mengurangi keunikan pesantren itu  sendiri, melainkan justru melengkapi dan memperluas cakupan keilmuannya.

Dalam konteks inilah, pesantren di samping mempertahankan kurikulum yang berbasis agama, juga melengkapinya dengan kurikulum yang menyentuh serta berkaitan erat dengan persoalan dan kebutuhan kekinian umat.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa modifikasi dan improvisasi yang dilakukan pesantren semestinya hanya terbatas pada aspek teknis operasionalnya saja. Bukan substansi pendidikan pesantren itu sendiri. Sebab, jika modifikasi dan improvisasi tersebut menyangkut substansi pendidikan, maka pesantren yang mengakar ratusan tahun lamanya akan tercabut dan kehilangan elan vital sebagai penopang moral pesantren.

Teknis operasional yang dimaksud bisa berwujud perencanaan pendidikan yang rasional. Pembenahan kurikulum pesantren dalam pola yang mudah dicerna dengan tanpa mengulang kembali pelajaran yang sudah diajarkan, tentu saja adalah skala prioritas dalam pendidikan. Dengan pola perencanaan yang matang, terstruktur sembari mempertimbangkan skala prioritas dan pembentukan kurikulum yang efektif dan efisien, dapat dipastikan pesantren mampu terus menancapkan pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat yang belakangan tampak mulai apatis,–untuk tidak mengatakan alergi dengan sistem pendidikan pesantren.

Era Globalisasi Pesantren

Indonesia, sebagai Negara satu-satunya di dunia yang memiliki sistem pendidikan pesantren seharusnya mampu menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang bergengsi serta mampu bersaing dengan pendidikan formal lainnya. Sebab, selama ini masyarakat lebih disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan akan lembaga pendidikan formal yang bergengsi. Bila mendengar nama pesantren, maka yang timbul adalah sikap apatis dan berusaha menjauhkan keluarganya dari lingkungan pesantren.

Padahal, pesantren telah terbukti mampu memberikan pembinaan dan pendidikan bagi para santri untuk menyadari sepenuhnya atas kedudukannya sebagai mansuia, mahluk utama yang harus menguasai alam sekelilingnya. Hasil pembinaan pondok pesantren juga membuktikan bahwa para santri menerima pendidikan untuk memiliki nilai-nilai kemasyarakatan selain akademis. Ini merupakan salah satu keberhasilan pondok pesantren dalam bidang pembinaan bangsa.

Bukan berarti salah jika pondok pesantren selalu memodernisasi sistem pendidikanya dengan tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja, akan tetapi juga mengajarkan mata pelajaran yang ada dalam sistem pendidikan nasional. Dengan sistem pendidikan seperti ini, maka pondok pesantren tidak hanya dapat bertahan, akan tetapi juga berkembang dan tidak pernah tertingal oleh perkembangan zaman.

Maka wajar apabila pesantren mampu mencetak banyak pemikir islam Indonesia. Melihat perkembangan zaman yang semakin pesat, maka pesantren segera menyesuaikan diri dengan melakukan proses urbanisasi intelektual. Santri-santri yang tadinya hanya membaca kitab kuning, kemudian merambah “dunia lain” dengan menjadi seorang pemuda yang membaca kitab putih.

Dengan demikian, diharapkan nantinya akan terlahir pemuda-pemuda bangsa dengan latar belakang pendidikan pesantren yang mempunyai pandangan luas, kritis, produktif, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi untuk bangsa Indonesia. Semoga.][

Penulis, Arsyad Muhammad, Kru Mading Hidayah

Isilah Waktu Luang

Waktu kosong tanpa kegiatan sama saja dengan mobil yang didorong kemudian berjalan sendiri di sebuah jalan menurun. Jadilah mobil itu menabrak ke sana kemari tanpa tujuan. Mana kali suatu hari kita mengalami kekosongan dalam hidup, bersiap-siaplah untuk menyambut datangnya kesedihan, kesusahan, ketakutan. Sesungguhnya kekosongan kita ini akan membuka semua arsip masa lalu, masa kini dan masa depan dari panggung kehidupan. Sehingga kita berada dalam kondisi yang ruwet.

Maka, isi kekosongan yang mematikan ini dengan melakukan kegiatan yang membuahkan hasil dan bermanfaat. Kekosongan itu tak ubahnya seperti pencopet yang sedang menunggu mangsa. Begitu kita mengalami kekosongan, saat itu kita diserang gempuran ilusi dari angan-angan dan saat itulah hilang seluruh bagian dari hidup kita. Para penyembuh kesurupan selalu bilang “Jangan pernah melamun. Tetaplah ada yang diingat. Karena begitu Anda melamun, jin-jin iseng akan mengambil kesadaranmu.”

Oleh karena itu, bangkitlah mulai sekarang untuk melakukan kegiatan. Seperti sholat sunnah, membaca, bertasbih, menelaah, menulis, merapikan kitab, memperindah kamar atau memberi hal yang berguna bagi orang lain. Dijamin 50 % kebahagiaan akan kita peroleh. Apa yang harus dilakukan? Membaca buku adalah salah satu jawaban yang tepat.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Di sini penulis mengutip kalam-kalam ulama yang  setidaknya bisa menjadi motivasi bagi kita untuk semakin semangat melakukan kegiatan positif yang satu ini.

Abu Ubaidah mengatakan bahwa Al Muhallab pernah mengatakan kepada anak-anaknya dalam wasiatnya, “ Wahai anak-anakku, janganlah kalian berada di pasar-pasar kecuali membawa buku untuk dibaca.”

Al Hassan Al Lu’lu mengatakan, “Aku telah menjalani masa 40 tahun tidak pernah tidur siang, tak banyak tidur malam hari dan tidak pula bersandar melainkan selalu bersama buku yang kuletakkan di dadaku.”

Ibnu Hazm mengatakan, “ Jika kantuk menyerangku, padahal belum waktunya tidur -dan yang lebih buruk adalah tidur melebihi kebutuhan-, aku pun mengambil buku diantara buku-buku yang bersubyekkan hikmah. Maka, kurasakan diriku tergugah oleh faedah yang tergantung di dalamnya  dan kurasakan kesenangan menguasai diriku manakala menemukan sebagian keperluanku di dalamnya. Hal yang menyelimuti kalbuku karena gembira dan bangga mendapatkan keterangan yang menjelaskan, kurasakan lebih menggugah diriku daripada ringkikan keledai dan lebih mengejutkan diriku daripada suara runtuhnya bangunan.”

Selanjutnya Ibnu Hazm mengatakan, “Jika ada sebuah buku yang kunilai baik dan baru serta dapat kuharapkan darinya faedah yang belum pernah kujumpainya dalam buku itu. Anda akan melihat diriku dari waktu ke waktu yang lain membuka lembaran buku untuk memeriksa tinggal berapa halaman lagi yang tersisa karena khawatir habis dan materi yang dibahas belum tuntas. Jika ternyata  buku yang kubaca tebal dan banyak halamannya, barulah aku merasa bahagia dan puas”.

At Ta’abi menyebutkan sebuah karya orang terdahulu. Lalu dia memberikan komentarnya setelah membacanya, “Kalau bukan karena ketebalannya dan jumlahnya yang begitu banyak, tentulah aku sudah menyalinnya”.

Bahkan Allah berfirman, “ Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan (Allah) kepadamu (Muhammad). Karenanya, janganlah ada keraguan dalam hatimu terhadapnya dan supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (agar mereka mau beriman) “ (Q.S Al A’raf : 2).

Maka tunggu apa lagi untuk mau membaca?

Penulis, M. Fu’ad Hasyim, siswa kelas II Tsanawiyyah asal Riau.

Air Mata Ibu

Senja itu seorang anak sedang bermain bersama ibunya di sebuah taman hijau nan luas. Tiba-tiba ibunya meneteskan air mata. Tentu sana si anak bingung.

“Ibu, mengapa engkau menangis?” tanyanya dengan lugu kepada ibunya.

“Sebab ibu wanita, sayang…” jawab sang ibu.

“Aku tidak mengerti maksud ibu,” sahut si anak polos. Sang ibu hanya tersenyum dan memeluknya erat.

“Nak, kamu sekarang memang tak mengerti dengan semua ini. Namun suatu saat kau akan mengerti,” jawab sang ibu sambil mengecup kening anaknya.

Sesampai di rumah ia ceritakan hal itu kepada ayahnya. Lagi-lagi yang ia peroleh hanya ungkapan yang mengambang, malah semakin membingungkan.

“Semua wanita memang menangis, dengan atau tanpa perlu alasan,” jawab sang ayah. Hanya itu. Mau tak mau pikirannya melayang, merangkai sendiri jawaban-jawaban yang masih membutuhkan jawaban tadi untuk menjawab tanda tanya di kepalanya. Dan lamunannya pun berlanjut membawanya ke alam mimpi…

***

Ketika Allah menciptakan wanita, Ia membuatnya menjadi yang terpenting. Allah ciptakan bahu wanita agar mampu menahan seluruh beban dunia dan seisinya, walaupun bahu itu cukuplah nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.

Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan zuriyat dari rahimnya. Walau sering kali pula ia menerima cerca dari anak yang dilahirkannya sendiri.

Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat kebanyakan orang berputus asa. Allah berikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, lelah dan tanpa berkeluh kesah.

Allah berikan wanita perasaan peka dan kasih sayang untuk semua anak-anaknya dan keluarganya dalam kondisi serta situasi apapun. Biarpun acap kali anak-anaknya melukai perasaan, hati dan jiwanya. Perasaan ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang ingin tidur. Sentuhan lembut kasih sayangnya memberi ketenangan.

Allah berikan wanita kekuatan untuk membimbing suami dan keluarganya dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita?

Allah karuniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan wanita menilai tentang peranan suaminya, walau seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang ia berikan kepada suaminya agar tetap saling melengkapi dan menyayangi.

Dan akhirnya Allah berikan air mata kepadanya agar ia dapat mencurahkan semua isi perasaannya. Yang menjadikan ia menangis tanpa ada alasan terkecuali karena akan  perasaannya.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita agar ia dapat digunakan di mana dia ingin mencurahkan isi perasaannya, walaupun sebenarnya hanyalah air mata. Dan hanya inilah kelemahan yang dimiliki seorang wanita. Ini adalah air mata kehidupan.

Ibu adalah doa. Setiap tutur katanya yang terlintas maupun terlisankannya adalah doanya yang penuh arti akan maknanya.

Ibu adalah memberi. Memberi cinta, kasih, sayang, ilmu, pengetahuan dan segala apa yang ia punya tanpa pernah mengharap balas walau sekecil apapun.

Ibu adalah sandaran. Tempat mengeluarkan segala rasa. Tempat melepas segala penat. Tempat penghilang dahaga. Tempat bijak untuk sebuah energi baru dan tempat segala bijak akan problema serta dilema.

Ibu adalah segala dari segala. Ketulusan akan cinta dan kasih sayangnya tak ada bandingannya.

Ada secarik cerita akan kasih sayang seorang ibu terhadap kita, anak-anaknya. Saat itu tsunami mengguncang sebuah negara. Bumi mengeluarkan isinya dan gempa meluluhlantakkan tempat yang dilandanya. Menjadikan semua fasilitas dan keadaan sama rata dengan tanah.

Begitu gempa mereda, beribu simpatisan dan tim SAR berkerah untuk menolong semua insan yang dilanda musibah. Mereka bagai malaikat yang diutus Tuhannya. Dan hanya satu tekad mereka, menyelamatkan sesama yang menjadi korban.

Mereka berjalan ke tempat kejadian tanpa lelah. Menyusuri puing-puing bangunan yang kini rata dengan tanah.

Di sebuah bangunan yang hancur mereka melihat sesosok tubuh perempuan tertutup tumpukan bongkahan material. Yang membuat mereka takjub posisi perempuan tersebut sedang bersimpuh layaknya seseorang yang bersujud. Tubuhnya condong ke depan dengan kedua tangannya seperti tersangga oleh sebuah benda. Rumah yang dihuninya kini roboh dan puing-puingnya menimpa kepala, punggung dan tubuhnya.

Dengan hati-hati tim SAR memasukkan tangan ke dalam celah di dinding untuk menggapai  tubuh wanita itu. Mereka berharap wanita itu masih bernafas dan bisa diselamatkan. Namun ketika salah satu tangan menyentuhnya tubuh wanita itu sudah dingin dan kaku. “Ia telah meninggal …!” seru salah satu tim SAR.

Namun hal itu tak mematahkan semangat mereka. Tekad mereka untuk menolong tetap bulat. Begitu tubuh wanita itu tergapai dan bongkahan-bongkahan material disingkirkan mereka dikejutkan oleh sesuatu yang lain. Ketika mereka mendekati jasad tak bernyawa itu semua pandangan tertuju pada sesuatu yang berada di bawah tubuhnya, selembar selimut bermotif bunga.

Beribu tanda tanya bermunculan di benak mereka. Benda apakah yang didekap wanita itu? Kenapa ia sampai rela menggunakan tubuhnya untuk melindungi benda itu? Dengan hati-hati mereka menyibak jasad wanita itu dan membuka selimut di bawahnya. Betapa terkejutnya mereka. Seorang bayi mungil, berumur sekitar 3 setengah bulan tertidur pulas di dalamnya (subhanallah).

Tim medispun segera memeriksanya dan tak selang berapa lama si bayi menjeritkan tangisannya, seakan memberitahukan kepada semuanya  bahwa ia masih hidup (Alhamdulillah). Begitu besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, hingga ia mau mengorbankan segalanya.

Ditemukan pula sebuah handphone di samping bayi mungil itu. Sebuah pesan teks tampil di layarnya. Kelihatannya sang ibu mengetikkan sebuah pesan sebelum dirinya tertimpa puing-puing bangunan rumahnya. Teks tersebut berbunyi, Sayang, jika kamu selamat, ingatlah, ibu sangat cinta dan menyayangimu.

Nah, sekarang coba kita renungkan, bayangkan dan rasakan apa yang telah ibu kita semua berikan kepada kita. Adakah suatu kebahagiaan yang mampu kita berikan kepadanya? Dan banggakah ia dengan kebahagiaan yang kita punya? Lantas bisakah kebanggaan itu mampu menebus semua cinta an kasih sayangnya?

Dan inilah yang terpenting, apakah kita sudah berkata kepada ibu kita, bahwa; ibu, aku mencintaimu dan menyayangimu. Semua rasa dalam jiwa dari semua mahabbah hanyalah untukmu seorang. Pernahkah kita mengucapkan hal itu di depan ibu kita? Sedangkan kini ungkapan indah ini kebanyakan orang mennyampaikannya kepada pacar, kekasih, serta pujaan hatinya.coba kita renungkan, siapakah orang yang lebih pantas menerima serta mendengarkan tutur indah itu?

Bukankah dalam menerangkan siapa yang lebih didahulukan untuk mendapat penghormatan Rasulullah bersabda: ibumu… ibumu… ibumu… ayahmu.

***

Si anak terbangun dari tidurnya. Kini ia memiliki pemahaman baru tentang apa yang jadi tanda tanyanya tadi. Dengan menahan kantuk ia melangkah meninggalkan tempat tidurnya dan mencari ibunya. Hanya untuk sekadar berkata:

“’Kan kuberikan segala untukmu, ibu. Biar ibu terus tersenyum untukku dan kehidupan ini. Apa pun semua itu asalkan hanya untuk ibu. ‘Kan kulakukan semua itu, walau harus kehilangan nyawa dan jiwaku. I love you, Mom.”

Penulis, Oleh Ario el Ardy Alwadasy, siswa MHM Kelas VI Ibtidaiyyah asal Cirebon

Dunia Pesantren Dalam Percaturan Ekonomi Global

Dunia pesantren adalah wilayah kajian yang selalu menarik perhatian para peneliti ilmu-ilmu agama Islam, ilmu-ilmu sosial, dan Antropologi.  Sudah  banyak hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang membuka cakrawala pemkiran tentang dunia Pesantren yang unik dan menyimpan berbagai kekayaan budaya. Dari sudut apapun, memandang Pesantren selalu mendapatkan sesuatu yang unik, yang tidak ditemukan dalam komunitas budaya yang lain. Hal ini, terutama, apabila kita mengkaji perilaku kiai dan santrinya dalam transformasi  dan perubahan sosial yang mengukuhkan pesantren sebagai  subkultur (meminjam istilah KH. Abdurahman Wahid). Sebagai  subkultural, perananan pesantren tampak menonjol sebagai agen perubahan dan tranformasi sosial dalam masyarakat sekitarnya. Dari sinilah, yang menjadi salah satu keunikan dunia pesantren

Apalagi  jika dikaitkan dengan cara masyarakat pesantren memandang dan menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan yang sering diluar dugaan orang banyak. Perlu diketahui bahwa eksistensi pesantren tidak bisa dilepaskan dari lima unsur, yaitu pondok  atau asrama, masjid, santri, kiai, dan kitab yang  satu sama lain saling mengisi dan saling berkaitan. Pesantren atau dapat juga disebut  masyarakat pesantren, memiliki  budaya  khas masyarakat tradisional di pedesaan. Ke-khasan  pesantren, antara lain terletak pada dua hal: pertama, cara mengajarkan, mengembangkan, dan  menyebarkan  agama islam,  serta ditandai dengan nilai-nilai persaudaraan, tolong menolong, persatuan, menuntut ilmu, ikhlas dan taat kepada Tuhan dan rasul, ulama sebagai pewaris  nabi. Kedua, pesantren sering disebut kampung peradaban (oleh para peneliti barat) yang ditandai dengan banyaknya alumni yang mampu menjadi pioner intelektual di tanah air.

Bahkan Menurut  Azzumardi Azra, pesantren muncul dan berkembang dari  pengalaman sosiologis masyarakat lingkunganya. Pesantren mempunyai  keterkaiatan erat  yang  tidak terpisahkan dengan komunitas lingkunganya.  Kenyataan itu bisa dilihat tidak hanya dari latar belakang pendirian pesantren, tetapi  juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam pandangan Azzumardi Azra, “pesantren mampu bertahan bukan hanya karena kemampuanya untuk melakukan adjustment dan readjustment, tetapi karena karakter esensialnya sebagai lembaga yang tidak hanya identik  dengan makna keislaman. Selain itu di pesantren juga terkandung makna keaslian Indonesia” (indigenous). Pesantren sebagai  tempat hidup dan belajar para santri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tertua di negeri seribu pulau ini,  tetapi  juga merupakan saksi sejarah tentang berbagai perkembangan indonesia sebagai bangsa di tengah pergaulan dunia yang semakin terbuka. Bahkan dalam suasana damai, perang kemerdekaan, gegap gempita gempuran arus global yang sampai saat ini belum jelas bahkan acapkali menorehkan arahnya, hal ini  tidak pernah lepas dari perhatian pesantren.

Hari ini–meski pengakuan secara historis sudah menempatkan peran pesantren sebagai salah satu institusi  yang sudah memberikan sumbangsih besar dalam dunia pendidikan dan pembangunan SDM–akan tetapi kita tidak bisa tidur lelap begitu saja. Masih banyak pekerjaan yang belum kita selesaikan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Bukankah masyarakat juga  terus menuntut supaya pesantren terus-menerus membaca realitas masyarakat–terutama hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat–. Dengan kondisi masyarakat  yang banyak menghadapi problematika ekonomi, budaya, politik, dan aspek- aspek lainya, ternyata  menempatkannya sebagai  tantangan tersendiri  bagi setiap institusi yang bertanggungjawab  dalam mendidik  SDM. Sehingga institusi  otomatis  dituntut  untuk mengakomodasinya. Bahkan ikut memberikan jawaban konkrit atas panggilan  kemaslahatan bangsa.

Ketika gerakan setiap elemen bangsa ini misalnya sedang terfokus pada upaya mewujudkan kemandirian di sektor ekonomi  akibat problem ketidakberdayaan masyarakat  dalam menghadapi tekanan krisis multidimensi, maka masyarakat pun kemudian meminta setiap institusi pendidikan–termasuk pesantren–supaya tidak hanya melahirkan atau memproduk out put yang fasih teori saja. Akan tetapi juga fasih terhadap keterampilan, kemandirian atau etos kerja. Sekurang-kurangnya mampu memunjukan semangat  untuk berbagai hal termasuk  ekonomi (wirausaha).

Mengapa pesantren harus bisa memperluas kontribusinya? Karena secara realitas, masyarakat sedang membutuhkan peranannya. Atau masyarakat mempercayai  kalau pesantren akan bisa berbuat banyak dalam memberikan solusi yang tepat terkait problem sosial-ekonomi.

Sebagai lembaga tertua, tentulah pesantren sudah kaya akan pengalaman adanya bacaan dalam mencerna dan menyikapi problem yang dihadapi oleh bangsa ini, khususnya yang kelak ditemuai oleh komunitas santri saat terjun di tengah pergumulan  masyarakat.

Ketika sekarang bangsa ini sedang menghadapi problem besar di sektor ekonomi dan lapangan pekerjaan, maka logis jika pesantren ditantang untuk bisa menunjukan kepada bangsa ini  sebagai institusi yang kapabel dalam memberikan solusi terhadap problema tersebut. Permasalahan yang ada pada dunia kerja di indonesia yang hingga kini sarat dengan problem pengangguran intelektual adalah tantangan konkrit yang tidak bisa dibiarkan, apalagi sampai dibuat semakin parah. Sebab jika kondisi ini makin sulit, maka potensial akan melahirkan banyak kerawanan atau penyakit-penyakit sosial. Seperti tindakan kriminalitas.

Untuk mengawali tujuan mulya itu, marilah kita bersama-sama memantapkan SDM yang berpijak pada tradisi lokal. Yang dimaksud adalah daurah tsaqofah, yaitu menejrial kebudayaan yang dilakukan untuk membangun mental intelektual dan spiritual, berfikir terbuka, mampu mengembangkan potensi dirinya dengan tetap berpijak pada tradisi, diramu dengan model kekinian sesuai perkembangan zaman, bersifat, istiqomah, bertahap, dan sistematis. Dalam konteks  bentuk tsaurah kebudayaan  antara lain: Nahdlatun Wathan, Nahdlatun fikri dan Nahdlatun tujjar.[]

Penulis, Arsyad Muhammad

Mengenal Konsep Akhlak

Akhlak atau dalam bahasa lain disebut moral, etika maupun budi pekerti, merupakan sarana penting bermasyarakat dengan baik dan makmur. Sesuai dengan inti ajaran agama pada umumnya jika dipandang dari sisi sosial kemasyarakatan.

Islam sebagai salah satu dari tiga agama samawi monotheistik yang dikenal di dunia selain Nasrani dan Yahudi, menyadari betul akan hal itu. Terbukti dalam ajaran Islam akhlak memiliki kedudukan penting. Bahkan ahli sejarah menyebutkan bahwa keberhasilan Rasullah SAW dalam mengemban dan mengembangkan risalah Islamiyah yang paling dominan adalah karena faktor akhlak. Sehingga banyak sekali kafir Quraisy yang sudi masuk Islam karena simpati terhadap akhlak beliau yang mulia.

Secara umum, dalam buku Ilmu Akhlak, Drs. H.M. Ashfiyak Hamida membagi moral (akhlak) ke dalam dua sistem, yaitu sistem moral agama dan sistem moral sekuler.

1.     Sistem Moral Agama

Sistem ini adalah sebuah penilaian baik dan buruk berdasarkan ajaran-ajaran agama. Manakala agama mengatakan perbuatan itu baik maka baiklah perbuatan itu. Manakala agama mengatakan perbuatan itu buruk maka buruklah perbuatan itu.

Mengakui akan kekuatan moral agama yang bersumber dari kepercayaan ini, W.M Dixon  dalam bukunya The Human Sitution  mengatakan : “ Agama (betul atau salah) dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan kehidupan akhirat adalah merupakan totalitas kesuluruhan. Paling tidak merupakan dasar yang paling kuat bagi pelaksanaan moral. Dengan mundur (hilang) nya sebuah agama dan sanksi-sanksinya maka akan timbul masalah besar dan mendesak. Apakah (ada) yang bisa menggantikan kedudukan agama itu?”

Dalam perkembangannya, moral atau akhlak Islam mempunyai beberapa kelebihan dibanding dengan moral agama lain. Konsepsi ketuhanan Islam yang mengajarkan bahwa semua perbuatan manusia baik atau buruk tak akan terlepas dari pandangan Allah SWT, menyebabkan akhlak Islam mempunyai kelebihan berupa disiplin moral yang sangat kuat dan ketat.

Selain itu akhlak Islam tidak menolak dan memusuhi  kehidupan duniawi. Sebagaimana pandangan moral zuhud (yang sempit). Meskipun Islam sebenarnya juga mengajarkan pola kehidupan yang zuhud akan tetapi tidak dalam pengertian yang sempit. Dalam aturan Islam, zuhud memiliki ciri tidak menolak dan memusuhi dunia asal tidak berlebihan (hubbuddunya). Serta bersifat sosial sehingga orang lain pun bisa merasakan manfaatnya.

Kelebihan moral Islam yang lainnya yakni Islam memiliki standar yang mutlak dan universal. Artinya tidak nisbi, relatif dan tidak terbatas waktu maupun tempat.

Dan yang terakhir Islam memiliki moral force atau kekuatan moral yang kuat. Dengan kata lain moral force ini merupakan suatu bentuk ketaatan. Karena akhlak Islam yang berlandaskan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang berdasarkan keimanan.

Dapat disimpulkan, seseorang yang telah beriman akan tetapi tidak tidak mempunyai akhlak yang baik maka akan dianggap tak bermakna. Karena akhlak bisa menjadi tolak ukur bagi keimanan seseorang.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

2.     Sistem Moral Sekuler

Berbeda dengan sistem moral agama, moral sekuler mempunyai warna yang berbeda.

Sekuler berasal dari kata scularity  yang mempunyai yang mempunyai arti keduniawian. Maka moral sekuler ini tidak mengakui adanya ajaran-ajaran Tuhan atau sering disebut atheis.

Dalam memberikan penilaian yang baik dan buruk, penganut aliran ini hanya mempertimbangkan hal-hal duniawi tanpa memandang hubungannya dengan Tuhan.

Moral sekuler yang sama sekali terlepas dari pertimbangan agama itu, tentu mempunyai bahan-bahan  pertimbangan lain yang berupa “sesuatu” yang selain agama. Sesuatu yang lain itu ternyata menjadi beraneka ragam bentuknya dan tidak seragam. Sehingga hal ini menjadikan moral sekuler ini dalam menyampaikan pandangan hanya bersifat relatif, sangat subjektif dan tidak memiliki standar yang objektif dan universal.

Moral semacam ini hanya mengajarkan tentang baik dan buruk. Namun sama sekali tidak memiliki moral force. Pada akhirnya moral sekuler seringkali membuat penganutnya berwatak munafik.

Munafik artinya  mendua, perbuatan yang diperlihatkan dihadapan orang banyak tidak sama dengan kondisi dengan diri yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan terlepasnya moral sekuler dari iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat. Tanpa iman yang ditakuti bukanlah Tuhan tetapi sesama manusia.

Para penganut moral ini dapat terlihat pada beberapa aliran diantaranya :

  1. Aliran rasionalisme, yang berpendapat bahwa hanya rasional yang mampu menjadikan sumber dalam menentukan baik dan buruk. Aliran ini dianut oleh sebagian besar para filosof seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain. Ini berbeda dengan mu’tazilah. Meski aliran Islam yang satu ini mengandalkan rasio namun masih dalam koridor agama.
  2. Aliran hedonisme. Aliran ini beranggapan bahwa suatu perbuatan dianggap baik apabila mampu mendatangkan kebahagiaan, kenikmatan dan kelezatan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, apabila tidak mendatangkan  kebahagiaan, kenikmatan maupun kelezatan maka akan dianggap sebagai perbuatan buruk.
  3. Aliran tradisionalisme. Dalam menentukan baik ataupun buruknya suatu perbuatan, para penganut aliran ini bergantung pada tradisi pada masing-masing daerah mereka sendiri. Bahkan tak jarang mereka terlalu mengkultuskan pimpinan mereka sendiri. Contoh aliran seperti ini adalah di Jepang, seseorang akan merasa lebih mulia bunuh diri (dalam Islam bunuh diri merupakan perbuatan tercela) daripada harus menanggung malu karena semisal gagal menjalankan tugas yang diperintahkan oleh pimpinannya. Hal ini di picu oleh adanya semacam undang-undang pada tradisi mereka.
  4. Aliran empirisme (empire =pengalaman), aliran ini menilai suatu perbuatan dapat dikatakan baik maupun buruk berdasarkan suatu pengalaman yang mereka rasakan.

Pada kesimpulannya, moral yang lahir karena manusia (misal pamrih) akan menjadi sangat lemah dan kurang membawa arti, sebab manusia sangat terbatas kemampuannya untuk mengawasi segala tingkah laku manusia lain.

Sedang moral yang terbentuk dari sebuah kepercayaan terhadap Tuhan (agama) akan lebih membawa kepada kemaslahatan secara universal dalam kehidupan bermasyarakat tanpa terkekang waktu, tempat maupun pengawasan sesama manusia.

Penulis, Mukhlisul Ibad, Kru Mading HIDAYAH