HomeAngkringCerita Bubur Suro

Cerita Bubur Suro

0 7 likes 407 views share

Ketika pertama kali berlabuh dan turun dari kapal, Nabi Nuh as. dan para pengikutnya merasakan kelaparan. Sementara perbekalan yang mereka miliki telah habis. Akhirnya nabi Nuh as. memerintahkan para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang masih ada. Hasilnya pun terkumpul, ada yang membawa satu genggam biji gandum, biji adas, biji kacang, kacang putih, dan biji-bijian yang lain sehingga terkumpullah tujuah macam biji-bijian (menururt pendapat lain, terkumpul 40 macam biji-bijian).

Nabi Nuh as. pun membacakan basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul tersebut, lantas beliau memasaknya. Setelah masakan matang, mereka menyantap makanan tersebut bersama-sama. Semuanya merasakan kenyang, atas keberkahan nabi Nuh as.

Sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ

Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu.” (QS. Hud: 48)

Peristiwa tersebut terjadi tepat pada hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa peristiwa tersebut merupakan awal mula makanan dimasak di bumi setelah terjadi banjir besar yang menggenangi bumi selama 40 hari.

Dari peris peristiwa tersebut, orang-orang menjadikannya sebagai tradisi yang mereka laksanakan setiap hari ‘Asyura.  Pahala yang besarpun dijanjikan bagi mereka yang mau melakukan hal tersebut, terlebih lagi ketika mau mensedekahkan kepada golongan fakir miskin.

 

____________________

Disarikan dari kitab syekh Nawawi Banten, Nihayah az-Zain, I/196, CD. Maktabah Syamilah.