Cerpen: SUMPAH SERAPAH DI MALAM BUTA

Oleh: Rozzaaq Imam

“Brak …!” suara pintu ditutup dengan keras. Semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu yang dari balik daunnya Kimi muncul dengan wajah gugup.

“Pelan-pelan nutupnya, Mi. Kayak habis kejar-kejaran sama keamanan aja,” kata Iyung.
Kimi tidak menggubris omongan Iyung. “Mana Rozi? Mendesak banget nih.”
“Apa?” orang yang dicari Kimi menjawab.
“Tadi sore aku udah bilang kan, Zi, kalau hapemu ilang?”
“Iya, terus?”
“Barusan aku telepon nomormu, aktif loh!”
“Eeeh …,” semuanya heran, maling macam apa yang
mencuri hape, tapi nomor pemiliknya masih dipakai.
“Kapan kamu telepon nomorku, Mi?” Rozi penasaran.
“Barusan, nggak ada lima menit. Kalau sekarang kita
telepon lagi gimana?” kata Kimi.
“Bentar dulu, Mi, tadi pas kamu telepon diangkat, nggak?”
“Nggak sih, soalnya tadi aku coba-coba missed call, gitu.”

Kiki yang dari tadi tak kebagian kesempatan bicara, akhirnya bicara juga, “Emang kalau entar diangkat, kamu mau ngomong apa, Zi?”
“Ya, tinggal tanya aja: „Kamu siapa?‟, gitu.” Alfa juga angkat bicara.
“Fa, Alfa, selama ini kukira kamu wahwoh,” Iyung menyahut.
“Emangnya gimana, Yung?”
“Ya, ternyata superwahwoh!” jawab Iyung sekenanya,
“Mana ada maling mau ngaku gitu aja?”
“Hahaha …,” tiba-tiba tawa semua orang pecah di dalam ruangan itu.

Beberapa detik kemudian sepi menyerang ruangan itu. Semua orang diam. Kimi bingung dengan teman-temannya yang semuanya diam. “Kok pada diam, gimana nih hapenya Rozi? Gimana menurut kamu, Ki?” tanya Kimi pada Kiki.

“Ini semuanya juga pada mikir, Mi. Liatin aja mukanya pada kayak anak-anak yang ditanya jumlah hafalan nadhom sama mustahiq.”
“Serius dikit bisa nggak?” Kimi nggak terima sejak tadi teman-temannya bercanda terus.
“Telepon sekarang aja, Mi, biar aku yang ngomong,” Rozi memutuskan.
“Siap,” jawab Kimi sambil mengambil hapenya, “ini udah masuk, Zi.”
“Tut … tut … tut …,”
“Nomor yang Anda tuju …,” lalu Rozi menutup teleponnya.
“Nggak diangkat nih,” keluh Rozi.
“Udah malam sih, ya,” kata Alfa sambil manggut-manggut,
“udah, Zi, besok lagi aja.” 

“Kan si Alfa mulai lagi,” Iyung lagi-lagi mau menyerang Alfa,
“kalau besok, keburu dibuang sim card-nya sama si maling, Fa.”
Lagi-lagi tawa semua orang pecah, kecuali Rozi yang masih belum menyerah. Dengan sekuat tenaga ia usap-usap hape Kimi dan mencari namanya di daftar kontak.
“Tut … tut … tut …,”
“Halo,” suara wanita dari seberang telepon.
“Ha-halo,” Rozi sedikit gagap, karena bingung harus bagaimana ia memulai percakapan. Sedangkan yang lain mulai tenang demi memerhatikan percakapan.
“Iya …?” tanya suara di seberang.
“Ini siapa, ya?” Rozi balik bertanya.
Wanita di sana menjawab, “Loh …,” dan tiba-tiba berganti suara lelaki, “Halo?”
“Ini siapa, ya?” tanya Rozi lagi.
“Loh, kok malah tanya? Bukannya situ yang telepon?”
“Pak, itu nomor yang lagi Bapak pakai punya saya. Kok bisa sekarang di tangan Bapak?”
“Ini nomor saya kok,”
“Bapak ini dikasih tahu, malah ngeyel. Itu nomor saya, Pak, dan sudah terdaftar atas nama KTP saya. Atau Bapak mau saya lapor polisi?”
“Ya, sama, saya juga sudah daftarkan nomor ini ke operator bersangkutan. Silakan saja lapor polisi kalau mau.”

Rozi mulai bingung karena hujjah-nya ternyata tidak berhasil menakuti orang yang diduga maling itu. Ia pun melunak. Dia bilang, “Pak, hape saya hilang, dan nomornya katut. Waktu barusan saya telepon, ternyata masih aktif dan sekarang dipegang Bapak. Jadi, kalau memang Bapak merasa tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, saya mohon kerjasamanya.”

Sebentar kemudian Rozi melirik ke arah Iyung. Di mata Iyung, lirikan itu isyarat butuh bantuan; semacam ratapan pengemis di pinggir jalan. “Tanya posisinya, Zi.” Iyung memberi komando.

Tanpa membalas omongan Iyung, Rozi meneruskan bicaranya, “Gini aja, Pak, bagaimana kalau kita ketemuan saja. Bapak sekarang posisinya di mana?”

“Katanya mau lapor polisi? Sana lapor saja. Lagian sejak awal situ sudah nggak percaya sama saya. Sekarang, mau saya bilang saya lagi di Jakarta, situ juga nggak akan percaya.”
“Fa, Alfa, jangan-jangan itu keamanan,” Kiki berbisik ke Alfa yang duduk di sebelahnya.
“Iya, Ki. Bisa aja itu keamanan mau mancing biar yang punya hape mau ngaku,”

“Sssttt …,” Iyung menyela obrolan mereka berdua, “nggak mungkin itu keamanan. Kalau memang iya dia keamanan, pastinya dia udah dari kemarin menciduk Rozi. Di hapenya kan ada foto-fotonya dia. Lagian, tadi yang ngangkat telepon pertama kali cewek kan. Pikir coba, keamanan macam apa yang malam-malam begini lagi sama cewek.” Iyung mengakhiri presentasi analisisnya dengan membenarkan posisi kacamatanya.

“Dia mulai gugup itu, Zi. Omongannya mulai ngawur,” Iyung lagi-lagi mengomando Rozi.

Rozi yang sebenarnya juga cukup gugup—terlihat dari tangannya yang gemetaran memegang hape Kimi, berusaha tegar dan berkata, “Ah, Bapak ini mulai ngawur omongannya. Sudah, Pak, nggak usah gugup. Santai saja bicaranya.”

“Ngawur gimana? Sudahlah, jangan suka ngerjain orang malam-malam. Situ juga nggak usah gugup.”

Tidak hanya tangannya yang gemetaran, sekarang tingkat kegugupan Rozi bahkan membuat pori-pori kulitnya memeras keringat.

Melihat muka Rozi sudah mirip peserta Muhafadhah Akhirussanah yang tidak bisa melanjutkan bacaannya, Iyung mengambil hape di tangan Rozi.

Dengan nada suara sedikit mengancam, Iyung berkata, “Pak, kalau Bapak memang nggak merasa bersalah, jujur saja. Bapak sekarang posisinya di mana? Nanti kita bisa ketemuan dan bicara baik-baik. Sebelum kami lapor polisi.”

“Kan saya sudah bilang, kalaupun saya bilang posisi saya sekarang di Jakarta, situ juga nggak percaya.”
“Kalau Bapak tetap nggak jelas, nanti saya laporin Gus Miftah!”
“Gus Miftah siapa?”
“Gus Miftah ketua GASMUN”

Orang di seberang telepon tidak segera menjawab, barulah setelah lima detik dia berkata, “Ya, nggak apa-apa lapor saja. Saya nggak salah kok.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.