HomePojok LirboyoDialog Kebangsaan bersama Mahasiswa Kristen

Dialog Kebangsaan bersama Mahasiswa Kristen

0 2 likes 75 views share

Lirboyonet, Kediri GMKI yang merupakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Rabu kemarin (04/10/17) datang berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo. Mereka bertujuan untuk melakukan dialog kebangsaan dengan pesantren. Mereka mengaku bahwa ini adalah pertama kalinya berdialog dengan pesantren, meskipun sebenarnya GMKI sudah sering berdialog dengan ormas-ormas islam.

Ponpes Lirboyo menyambut baik kedatangan pemuda-pemuda GMKI ini, sehingga dialog yang diselenggarakan di Kantor Muktamar itu berlangsung hingga dua jam, yang dimulai pada pukul 10.00 Wib. Dari GMKI, ada enam pemuda yang datang, dengan dipimpin oleh Saad Mardin sebagai Ketua Umum. Sementara Ponpes Lirboyo diwakili oleh Agus HM. Ibrohim A. Hafidz, Agus HM. Dahlan Ridlwan, Agus H. Adibussoleh Anwar, ustadz Anang Darunnaja, ustadz M. Tohari Muslim, ustadz Hamim Hudlori, dan pimpinan pondok.

Agenda diskusi ini berlangsung cair, meskipun tema yang mereka perbincangkan terbilang berat. Terutama, tema ini berkaitan erat dengan kondisi bangsa akhir-akhir ini yang banyak menimbulkan keresahan. Ketidakmengertian dan kesalahpahaman terhadap suatu hal kian marak terjadi. Padahal, apa yang dipertentangkan seringkali bukanlah hal-hal yang urgen. “Adanya human error dalam setiap agama itulah sebenarnya yang menimbulkan salah faham,” tukas Agus HM. Ibrohim A. Hafidz. Padahal, isu agama adalah isu paling sensitif yang bisa memecah belah persatuan umat. Akibatnya, bisa terlihat dengan apa yang terjadi di masyarakat kini. “Ketika salah satu orang melakukan kesalahan dan membawa-bawa nama suku atau agama, selalu timbul kericuhan,” imbuhnya.

Tentang radikalisme, mereka sepakat bahwa prilaku-prilaku radikal berangkat dari, lagi-lagi, pemahaman konteks agama yang keliru. Ada tiga faktor utama yang membuat prilaku-prilaku radikal ini mewabah. “Pertama,” ujar ustadz Hamim Hudlori, “adanya ideologi yang salah. Ini bersumber dari pendidikan yang salah.” Pendidikan, dalam konteks ini adalah agama, hanya dipelajari secara setengah-setengah. Ajaran-ajaran yang semestinya wajib dipelajari dengan komperhensif malah ditinggalkan.

Kedua, adanya kepentingan kekuasaan yang diurus dengan cara-cara yang tidak elegan, bahkan cenderung menghalalkan segala cara. Dan ketiga adalah faktor ekonomi. Karena bagaimanapun, dalam kegiatan radikalisme yang demikian terorganisir dan masif tentu didukung dengan kondisi finansial yang memadai.

“Seharusnya, kita tidak perlu susah-susah untuk menjaga perdamaian bangsa,” ungkap Agus HM Dahlan Ridlwan. “Kita hanya perlu mempelajari bagaimana para pendahulu merawat bangsa. Salah satunya Walisongo. Bagaimana kearifan mereka dalam menyebarkan agama.” Sebagaimana sejarah mencatat, Walisongo tidak pernah menjanjikan kesejahteraan hidup dengan merubah kebudayaan yang sudah ada. Justru, Walisongo memadukan agama dan budaya dengan sangat cerdas dan bijaksana, sehingga agama, budaya dan jiwa kebangsaan demikian menyatu.][