Musim hujan adalah salah satu nikmat Allah yang membawa keberkahan: menyuburkan bumi, menumbuhkan tanaman, dan menjadi tanda kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk. Namun, hujan juga bisa membawa bencana jika turun terlalu deras atau berlebihan. Karena itu, syariat mengajarkan kita untuk berdoa: memohon kebaikan dari hujan dan perlindungan dari dampaknya yang buruk.
Baca Juga: Doa Menghindari Kerusakan Akhir Zaman dan Terhindar dari Fitnah
1. Doa Saat Turun Hujan
عَنْ نَافِعٍ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَائِشَةَ
أَنّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قال: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا.
Artinya :”Dari Nāfi‘, dari al-Qāsim bin Muhammad, dari ‘Aisyah: Bahwa Rasulullah ﷺ apabila melihat hujan, beliau berkata: “Ya Allah, jadikanlah (hujan ini) hujan yang bermanfaat.”[Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī al-Ju‘fī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, tahqīq Musthafa Dīb al-Bughā, Damaskus: Dār Ibn Katsīr dan Dār al-Yamāmah. hal. 349 juz. 1]
Doa ini menunjukkan bahwa hujan adalah pembawa rahmat. Bukan hanya sekadar menikmati suasananya, tetapi memohon agar hujan turun membawa manfaat, bukan mudarat seperti banjir, longsor, atau penyakit.
Baca Juga: Ketika Jawaban Doa Bukan “Ya”, Tapi “Aku Tahu yang Lebih Baik”
2. Doa Ketika Hujan Terlalu Deras
Dari Anas bin Mālik radhiyallahu ‘anhu:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: هَلَكَتِ الْمَوَاشِي، وَتَقَطَّعَتِ السُّبُلُ. فَدَعَا، فَمُطِرْنَا مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: تَهَدَّمَتِ الْبُيُوتُ، وَتَقَطَّعَتِ السُّبُلُ، وَهَلَكَتِ الْمَوَاشِي فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكْهَا. فَقَامَ ﷺ فَقَالَ: (اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ). فَانْجَابَتْ عَنْ الْمَدِينَةِ انْجِيَابَ الثوب.
Artinya :“Anas berkata: Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Ternak-ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus.” Maka Nabi pun berdoa, dan kami diguyur hujan dari hari Jumat sampai Jumat berikutnya. Kemudian lelaki itu datang lagi dan berkata, “Rumah-rumah mulai runtuh, jalan-jalan terputus, dan ternak-ternak binasa. Berdoalah kepada Allah agar menghentikannya”. Maka Nabi ﷺ berdiri lalu berdoa:“Ya Allah, (alihkanlah hujan) ke bukit-bukit kecil, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Lalu hujan itu tersingkir dari Madinah seperti tersingkirnya kain yang ditarik.”[Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī al-Ju‘fī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, tahqīq Musthafa Dīb al-Bughā, Damaskus: Dār Ibn Katsīr dan Dār al-Yamāmah. hal. 345 juz. 1]
Doa ini menunjukkan bahwa kita boleh meminta hujan dialihkan jika membahayakan, bukan dihentikan total karena hujan adalah rahmat.
Baca Juga: Belajar Tenang dari Dzikir: Jalan Suci Menuju Allah
3. Doa Agar Terhindar dari Bencana atau Malapetaka
Walau tidak khusus untuk musim hujan, doa ini sangat relevan untuk memohon perlindungan dari musibah seperti banjir, angin kencang, atau penyakit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، نَا حَمَّادٌ، أَنَا قَتَادَةُ ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ
Artinya :“Diriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi ﷺ biasa berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang , kegilaan, kusta, dan berbagai jenis penyakit yang buruk.”[¹Abū Dāwūd Sulaymān bin al-Ash‘ath al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwūd, dengan syarah ‘Awn al-Ma‘būd karya Syaraf al-Ḥaqq al-‘Aẓīmābādī, cetakan al-Maṭba‘ah al-Anṣāriyyah, Delhi. hal. 569 juz. 1]
Doa ini mengajarkan kita untuk selalu memohon perlindungan dari segala bentuk keburukan yang mungkin menyertai perubahan cuaca.
Baca Juga: Doa yang Menembus Langit: Rahasia Keikhlasan dalam Memohon
Penutup
Musim hujan membawa keberkahan, tetapi syariat mengajarkan kita untuk tetap waspada dan mendekat kepada Allah melalui doa. Dengan membaca doa-doa yang Rasulullah ﷺ ajarkan, kita berharap hujan menjadi rahmat, bukan bencana.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
