Doa Setelah Wudhu Lengkap beserta Kesunahannya

Doa Setelah Wudhu Lengkap

Wudhu adalah salah satu ritual ibadah yang tata caranya sudah turun temurun semenjak era baginda nabi Saw hingga sekarang. Kerangka rukun dan sunahnya pun juga masih sama. Dalilnya juga jelas. Namun, persoalan muncul ketika telah selesai melakukan ibadah ini. Apa saja yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang taat saat telah selesai melakukan wudu ini. Berikut kami ulaskan beberapa hal apa saja yang hendaknya dilakukan ketika wudhu telah selesai.

Doa Setelah Wudhu Lengkap

Seorang muslim atau muslimah jika sudah selesai melakukan wudhu maka terdapat kesunahan untuk melantunkan doa setelah wudhu. Adapun para ulama telah menjelaskan tata cara yang sesuai dengan sunah nabi Saw. yakni :

  1. Sunah Menghadap kiblat[1], lalu mengangkat kedua tangan dan melantunkan doa berikut ini.

بسم الله الرحمن الرحيم

أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Artinya :“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku sebagian dari orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku sebagian dari orang yang suci. Maha suci engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau, aku meminta ampunan pada-Mu, dan bertaubat pada-Mu. Semoga berkah rahmat Allah senantiasa terlimpahkan pada nabi Muhammad dan keluarganya.[2]

  1. Selanjutnya, bila masih sempat, artinya tidak terburu-buru karena semisal waktu shalat akan habis, atau segera melaksanakan shalat jama’ah, maka sebaiknya melanjutkan dengan membaca surat al-Qadr 1, 2 atau 3 kali, dan lanjut dengan doa :

اللهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ وَوَسِّعْ فِيْ دَارِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْ رِزْقِيْ وَلَا تَفْتِنِّيْ بِمَا زَوَيْتَ عَنِّيْ

Artinya :“Ya Allah, ampuni dosaku, lapangkan tempat tinggalku, berkahi aku dalam rizqi, dan jangan Engkau fitnah aku dengan halangan dari-Mu.”[3]

  1. Kemudian saat sedang berdoa, terdapat kesunahan mengarahkan pandangannya ke langit menurut sebagian ulama. Hal ini sebagaimana penjelasan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din yang dikutip oleh Imam ad-Darimi[4]. Berikut keterangannya :

(فَائِدَةٌ) نَقَلَ الدَّمِيرِيِّ عَنْ الْغَزَالِيِّ فِي الْإِحْيَاءِ أَنَّهُ قَالَ: يُسْتَحَبُّ أَنَّهُ يَرْمُقُ بِبَصَرِهِ السَّمَاءَ فِي الدُّعَاءِ بَعْدَ الْوُضُوءِ. انتهى حاشية قليوبي وعميرة

Artinya :“(Sebuah Faedah) Imam ad-Darimi mengutip sebuah keterang dari Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum ad-Din bahwa beliau berkata : Sunah untuk mengarahkan pandangannya ke langit saat melantunkan doa setelah wudhu.

  1. Kemudian setelah itu terdapat kesunahan tidak mengelap basuhan wudu menggunakan kain maupun sejenisnya. Atau lebih simpelnya membiarkan sampai kering sendiri. Landasan kesunahan ini ada dalam kitab al-Muhadzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i karya Imam Abu Ishaq asy-Syairazi (1003-1083 M). berikut keterangannya.

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يُنَشِّفَ أَعْضَاءَهُ مِنْ بَلَلِ الْوُضُوءِ لِمَا رَوَتْ مَيْمُونَةُ ﵂ قَالَتْ أَدْنَيْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ غُسْلًا مِنَ الْجَنَابَةِ فَأَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ وَلِأَنَّهُ أَثَرُ عِبَادَةٍ فَكَانَ تَرْكُهُ أَوْلَى

Artinya :“Sunah untuk tidak mengelap anggota wudhunya dari basah sisa berwudhu. Hal ini karena ada sebuah riwayat dari Maemunah Ra yang berkata :“Aku menghampiri Rasulullah SAW sesudah beliau bersuci, kemudian aku memberikan handuk pada beliau, dan beliau menolaknya.” Alasan lain ialah karena sisa basah wudhu tersebut merupakan efek ibadah, maka sebaiknya tidak menghilangkannya (mengusapnya).”

  1. Kemudian jika ingin meraih kesunahan lagi maka setelah wudhu juga ada kesunahan melakukan salat sunah wudhu. Salat ini berjumlah 2 rakaat atau lebih, dengan niat melakukan salat sunah wudhu. Maka dengan begini, seseorang tersebut telah mendapatkan pahala sunah. Dasarnya adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Sahabat Utsman bin ‘Affan Ra.[5]

Penutup

Dari kesunahan-kesunahan yang ada, kita tahu bahwa Syariat Islam dalam menyajikan ladang pahala bagi seorang muslim itu sangat banyak. Oleh karena itulah, agar status muslim yang kita sandang itu memiliki nilai lebih, maka hendaknya melaksanakan kesunahan-kesunahan tersebut secara bertahap jika belum mampu keseluruhan. Dan jika telah mampu maka lebih baik. Sekian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga : Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Sunah Nabi

Referensi

Imam suyuthi

[1] Ar-Ramli, Syams ad-Din, Ghayah al-Bayan Syarh Zubad Ibn Ruslan, Juz 1 Hal. 48.

[2] Al-Bantani, Imam Nawawi, Nihayah az-Zain, Hal. 34 Penerbit : Haramain. , Ar-Ramli, Syams ad-Din, Ghayah al-Bayan Syarh Zubad Ibn Ruslan, Juz 1 Hal. 48.

[3] Al-Bantani, Imam Nawawi, Nihayah az-Zain, Hal. 24 Penerbit : Haramain.

[4] Imam al-Qalyubi dan Imam ‘Umaira’, Hasyiyah al-Qalyubi wa ‘Umaira’, Juz 1 Hal. 220. Penerbit : Haramain.

[5] Ar-Ramli, Syihab ad-Din, Fath ar-Rahman Bi Syarh Zubad Ibn Ruslan, Juz 1 Hal. 179.

 

 

Follow; @pondoklirboyo

Subscribe; Pondok Llirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.