HomeSantri MenulisEpistemologi Ushul Fiqih (Bag-3 Habis)

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-3 Habis)

0 5 likes 727 views share

Baca dulu Bagian II

Dasar Pengambilan Ushul Fiqih

Istimdad (dasar pengambilan) ushul fiqih diambil dari beberapa produk keilmuan, diantaranya:

  1. Ilmu bahasa arab (gramatika Arab).

Hal ini dikarenakan sumber hukum yang terbesar adalah Alquran dan Hadis yang semuanya menggunkan bahasa sastra Arab. Dan keduanya sudah jelas tidak akan dipahami maknanya kecuali dengan penguasaan yang memadai dalam didang kelimuan ini.

  1. Ilmu Mustholah Hadits.

Yaitu dengan memahami berbagai karakteristik sebuah Hadis dari berbagi sudut pandang. Hal ini juga akan membantu ketika terjadi kontradiksi  antara beberapa dalil suatu hukum syariat.

  1. Ilmu kalam (logika).

Dalam memahami permasalahan dibutuhkan sebuah penalaran yang memadai dalam menghasilkan kesimpulan objek secar logis. Dengan begitu, peran ilmu kalam sangat urgen dalam konteks seperti ini.

  1. Beberapa hukum syariat.

Yaitu dari sisi mengetahui macam-macam hukum syariat. Karena yang dimaksud disini adalah memberikan keputusan ada dan tidaknya hukum tersebut. Selain itu, perangkat ilmu pendukung tak kalah pentingnya dalam proses pengkajian ilmu ushul fiqih, seperti asbabun nuzul, ulum at-tafsir dan lain-lain.

Perbedaan Ushul Fikih dan Qowaidul Fiqih

Tidak jarang anggapan bahwa ilmu ushul fiqih dan qowaidul fiqih adalah sinonim, mempunyai arti dan maksud yang sama. Padahal dua ilmu tersebut sangat berbeda dalam operasionalnya, walaupun ada persamaan dalam segi pedoman yang global (kully) yang dibawahnya mencakup beberapa bagian (juz’iy) persoalan yang dihukumi. Karena dalam ilmu qowaid al-fiqih hanya mengumpulkan masalah-masalah fiqih yang serupa pada kaidah global (qowaid kulliyyah) yang memuat beberapa permasalahan hukum syariat yang saling memiliki kemiripan.

Tujuan Ilmu Ushul Fiqih

Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Ushul al-Fiqhi al-Islami, beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu ushul fiqih adalah sebagai berikut:

  1. Dengan kaidah-kaidah ushul fiqih, seseorang dapat mengetahui dalil-dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam merumuskan berbagai produk hukum syariat.

Bagaimana para mujtahid dapat menghasilkan begitu banyak rumusan hukum dari Alquan, hadis, ijma, dan qiyas. Karena semua itu tidak akan pernah lepas dari pengetahuan terhadap bangunan dalil-dalil itu sendiri. Baik yang berbentuk ‘am, khos , mujmal, mutlaq, muqoyyad, mubayyan, dhohir, muawwal, hakikat, majaz dan lain-lain.[13]

  1. Menghasilkan kemampuan untuk menggali hukum dari dalilnya. Namun untuk hal ini hanya otoritas sesesorang yang telah mencapai derajat mujtahid. Adapun bagi para muqollid (pengikut mujtahid), ilmu ushul fiqih sebagai sarana untuk mengetahui dan memahami dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam menggali hukum syariat. Karena dengan mengetahui hal tersebut, seseorang akan lebih memantapkan keyakinannya pada rumusan hukum yang dicetuskan para mujtahid. Secara otomatis, keyakinan dan kemantapan tersebut akan membangkitkan semangatnya untuk mengamalkan syariat agama Islam.
  2. Membantu peran mujtahid dalam mengambil hukum dari sumber-sumbernya. Sudah maklum adanya, nash-nash Alquran dan Hadis sudah final dan tidak akan ada lagi penambahan. Sementara itu, problematika umat semakin kompleks dan beragam. Sesuai dengan maqolah:

وما يتناهى لا يحيط بأحكام غير المتناهي إلا بطريق الإجتهاد

“Sesuatu yang terbatas tidak dapat mencakup hukum-hukum perkara yang tidak ada batasnya kecuali dengan jalan ijtihad”.

  1. Ushul fiqih sebagai mediator untuk mengetahui hukum syariat beserta dalil-dalilnya. Dan mengajak seorang mukallaf untuk memahami dan mengamalkan perintah agama. Senada dengan ini, para ulama ushul fiqih berkata:

فائدة أصول الفقه معرفة أحكام الله تعالى وهي سبب الفوز بالسعادة الدينية والدنيوية

“Faedah ushul fiqih adalah mengetahui hukum-hukum Allah SWT, yang menjadi sebab keberuntungan agama (akhirat) dan keberuntungan dunia”.[14]

waAllahu a’lam bis shawab.

Penulis: Nasikhun Amin,

______________________
[1]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 25. Dar Al-Fikr.

[2]An-nafahat, hal 13, Santri Salaf press.

[3]al-Taqrir wa al-Tahbir,juz 1 hal 17.tt.

[4]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 29. Dar Al-Fikr.

[5]Ibid, hal 25.

[6]Syarh Jam’u al-Jawami’, juz 1 hal. 34. Tt.

[7]Ghoyah al-Wushul, hal 9, Mabadi’ sejahtera.

[8]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 33. Dar Al-Fikr.

[9] Materi seminar kuliah ushul Fiqih LBM P2L.

[10]Syarh Kawakib as-Sathi’, juz 1 hal 10. Tt.

[11]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 35. Dar Al-Fikr.

[12]Ghoyah al-Wushul, hal  11, Mabadi’ sejahtera.

[13]An-nafahat, hal 3. Santri salaf press.

[14]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 40. Dar Al-Fikr.