HomeSantri MenulisFenomena “Ngustad” Seribu Tahun Lalu…

Fenomena “Ngustad” Seribu Tahun Lalu…

Santri Menulis 0 4 likes 634 views share

Abu Qasim al Junaidi wafat di penghujung abad ke-3 Hijriyah, atau sekitar 900-an Masehi.  Terbentang jarak lebih seribu tahun dengan kita. Namun, di sekitar kehidupannya, fenomena membesarkan diri dengan membawa-bawa agama sudah jamak terjadi. Banyak orang yang mengaku dan menampakkan diri sebagai ahli agama, tetapi nyatanya tak tahu apa-apa.

Karena itu beliau menyuarakan narasi yang cukup panjang mengenai fenomena yang makin menjadi-jadi akhir-akhir ini. Berikut adalah potongan dari narasi panjang beliau.

_____

Ketika kalian melihat seseorang yang terlihat hebat, jangan terburu kalian ikuti sampai kalian melihat sikapnya terhadap syariat. Jika kalian lihat ia melakukan yang seharusnya menaati perintah dan menjauhi larangan agama, boleh kalian percayai. Kalian ikuti. Tapi bila kalian lihat ia cacat dalam melaksanakan perintah, enggan menghindari larangan, maka jauhi dia.

Sikap seperti ini, yakni berhati-hati dalam memilih pemimpin, sudah sangat langka di zaman sekarang (semasa hidup Abu Qasim al Junaidi). Mereka hanya memilih pemimpin dengan bagaimana ia membuat mereka terpesona. Mengumbar istilah-istilah agama. Sok-sokan menyemburkan kefana’an diri dan kebaqa’an ilahi,  yang bahkan Alquran dan sunnah tidak mengakuinya, namun mereka pakai sebagai jubah.

Ketika mereka lapar, menderita, mereka mendekat kepada penguasa. Jika mereka benar-benar melakukannya, maka apa yang ia makan adalah haram. Makanan dan martabat yang mereka peroleh tidaklah dengan jalan yang baik. Justru mereka peroleh dengan jalan jalan keji. Dengan menipu dan memperdaya.

Seseorang suatu hari datang padaku. (Dia adalah salah seorang yang mengaku-ngaku itu). Aku tahu, ia tak tahu apa-apa perihal fana’ dan baqa’. Namun ia memiliki jamaah yang tak sedikit. Ia menampakkan diri padaku sebagai orang yang tekun beribadah. Selang beberapa hari kemudian, kutanyai dia, “coba katakan padaku, apa saja syarat-syarat wudu dan shalat?” Dia dengan enteng menjawab, “Tak satupun ilmu tentang itu kubaca.”

“Wahai saudaraku. Perkara-perkara yang menjadi sahnya ibadah itu wajib diketahui. Itu sudah jelas diterangkan Alquran dan Hadits. Maka barangsiapa yang tidak mampu membedakan mana yang wajib dan sunnah, mana haram dan makruh, dia bodoh. Dan orang yang bodoh tidak boleh dijadikan panutan. Tidak boleh secara lahir, apalagi secara batin.”

Dia diam. Tak menjawab. Lalu pergi seketika itu dan tak kembali.

_____

Kita sebagai umat muslim, harus benar-benar menanamkan pesan Imam al-Junaid ini. Kita harus pandai memilih siapa yang patut kita ikuti. Kita jadikan uswah. Teladan dalam beribadah dan menapakkan jejak hidup. Jangan pernah menilai pada apa yang tampak sesaat. Atau kita akan tersesat. Wal ‘iyadzu billah.

Tanbih al-Mughtarrin, Abd al-Wahab bin Ahmad bin ‘Ali al-Sya’rani. Maktabah al-Taufiqiyah, Kairo. Hal. 20-21.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.