HomePojok LirboyoFestival Seribu Bait Alfiyah

Festival Seribu Bait Alfiyah

0 3 likes 1.4K views share

LirboyoNet, Kediri – Kelegaan terpancar dari seluruh siswa kelas dua tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Malam itu, Senin (28/03) mereka resmi mendapatkan sanad nadzam Alfiyah ibn Malik. Sanad itu mereka terima setelah dinilai selesai dalam mengkaji kitab mereka, Taqrirat Alfiyah ibn Malik.

Sebenarnya, pelajaran Alfiyah ini sudah mulai mereka cicipi sejak kelas satu tsanawiyah. Kurikulum pendidikan di Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien membagi pelajaran itu menjadi dua: separuh dipelajari di kelas satu tsanawiyah, dan sisanya menjadi fokus pelajaran di kelas dua.

Dilaksanakan di masjid Al-Hasan, sanad Alfiyah dibacakan langsung oleh pengasuh ponpes Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Beliau menurunkan sanad itu kepada 690 siswa. Sanad ini merupakan tanda bahwa santri mempelajari Alfiyah secara estafet. Mereka mendapatkan ilmu yang turun-temurun dari guru mereka, masyayikh Lirboyo, sambung-menyambung hingga sang pemilik nadzam, Syaikh Jalaluddin Muhammad Ibn Abdillah Ibn Malik Al-Andalusy.

Di tengah-tengah acara, dilaksanakan pemberian penghargaan kepada para siswa terpilih. Siswa-siswa ini dinilai lulus dalam festival menghafal 1002 bait nadzam Alfiyah. Ada 222 siswa yang berhak mendapatkannya. Sementara itu, 20 siswa diantaranya mendapatkan penghargaan lebih. Itu karena mereka lulus dalam festival tingkat lanjutan, yakni hifdzu matan dan murod nadzam Alfiyah.

Perlu diketahui, demi memperoleh penghargaan ini, para siswa perlu melewati beberapa tahap penyeleksian. Dimulai awal bulan Maret, mereka terlebih dahulu mendaftar kepada mustahiq (wali kelas) kelasnya. Tidak serta merta lulus, karena mereka, paling tidak, harus bisa menyelesaikan bacaan hafalannya di depan mustahiq dengan lancar. Meski begitu, semangat mereka tidak kendor. Justru karena itulah mereka lebih giat dalam melancarkan hafalan mereka. Tidak jarang, sebagian dari mereka terlihat masih memegang nadzam Alfiyah di kelas saat teman-temannya sudah kembali ke kamar. Beberapa lagi rela begadang di depan kelas hingga subuh.

Setelah melewati proses seleksi pertama, mereka dihadapkan pada ujian selanjutnya. Pelaksanaannya tidak jauh berbeda. Namun, mereka kali ini wajib membacakan nadzam yang mereka miliki di depan mustahiq kelas lain. tentu seleksi lebih ketat lagi. Terbukti, banyak dari mereka yang kemudian keluar dari ruangan dengan wajah muram. Setelah dilaksanakan sebanyak lima gelombang, baru dilanjutkan dengan seleksi ulang bagi mereka yang ‘berwajah muram’ itu.

Kemudian, festival berlanjut pada hifdzu matan dan murod nadzam alfiyah. Di sini, santri diuji kepahamannya atas nadzam yang sudah mereka hafal. Tidak hanya memaknai gandhul nadzam. Mereka juga mendapat pertanyaan dari mustahiq penguji. Pertanyaan yang diajukan terkait penjabaran bait-bait yang telah dibaca. Selain itu, mereka diwajibkan menyertakan contoh-contohnya.

Maka pantas mereka begitu sumringah tatkala satu persatu nama mereka dipanggil untuk foto bersama Buya Kafa (panggilan akrab KH. A. Kafabihi Mahrus). Juga, mereka patut diapresiasi karena perjuangannya untuk meneruskan estafet ilmu dari para ulama pendahulu mereka.][