Kajian Fikih Tentang Sulam Bibir

Kajian kali ini akan membahas tentang sulam bibir menurut pandangan fikih, bagaimana hukumnya, apakah dalam sulam bibir pigmen yang ditanam dapat mempengaruhi sahnya wudlu ataupun mandi wajib.

Sekilas Tentang Sulam Bibir

Sulam bibir (Krystal Blossom Lips) adalah teknik untuk mempercantik bibir dengan menyuntikkan pigmen, atau zat warna, ke dalam lapisan bibir menggunakan jarum kecil.

Pada dasarnya, sulam bibir menggunakan teknologi penanaman pigmen atau zat warna pada lapisan intradermal bibir dengan metode microblading. Anda pun dapat menentukan warna bibir yang diinginkan.  Itulah mengapa cara ini sering juga disebut tato bibir.

Prosedur ini mirip seperti proses tato pada kulit, hanya saja pada sulam bibir digunakan obat pematirasa (anastesi lokal) sehingga penggunaan jarum untuk menanam pigmen tidak menimbulkan rasa sakit.[1]

Perawatan kecantikan ini tidak bertahan lama, hal ini dikarenakan kulit bibir terus mengalami regenerasi. Bagian dalam bibir akan lebih cepat memudar ketimbang bagian luar karena selalu bersentuhan dengan air liur, makanan dan minuman[2]. Ini berarti jika Anda ingin bibir Anda tetap berwarna, prosedur sulam harus diulang sekitar dua tahun sekali.

Dari uraian di atas dapat disimpulkkan bahwa;

  • Sulam bibir sama dengan tato pada umumnya akan tetapi tidak permanen
  • Sulam bibir tidak bisa permanen karena kulit bibir dapat terus beregenerasi terutama bagian dalam bibir yang sering bersentuhan dengan air liur, makanan dan minuman, berbeda dengan kulit yang lain.

Kajian Pertama

Kajian pertama yang perlu perhatian khusus terkait sulam bibir adalah letak pigmen dalam proses sulam bibir apakah diletakkan pada bagian luar lapisan kulit bibir ataukah pada bagian dalam lapisan kulit bibir?

Mengutip fatwa Syauqi Ibrahim ‘Alam dengan nomer 5624 pada tanggal 14 september 2021 Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah bahwa beliau menjelaskan:

صَبْغُ الشَّفَاه أَوْ مَا يُسَمَّى “بِتَاتُوْ الشَّفَايِفِ” الْمُؤَقَّتِ: هُوَ صَبْغَةٌ خَفِيْفَةُ اللَّوْنِ تُوْضَعُ عَلَى الشَّفَاهِ مِنْ خَلَالٍ وَخَزِّ صَبَغَاتٍ طَبِيْعِيَّةٍ سَطْحِيَّةٍ عَلَى طَرِيْقَةِ الْمِيْكْرُوْبَلَيْدِنْج تَتَدَرَّجُ تَدَرُّجًا يَتَنَاسَبُ مَعَ لَوْنِ الْبَشَرَةِ، وَهِيَ لَيْسَتْ وَشْمًا لِلشَّفَاهِ، بَلْ تَذْهَبُ مَعَ مُرُوْرِ الْوَقْتِ.

Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa pigmen yang ditanam pada proses sulam bibir berada pada lapisan luar kulit bibir yang bisa hilang pada batas waktu tertentu, sehingga dalam penjelasannya kasus sulam bibir sama dengan riasan pada kulit wajah seperti umumnya.

Kajian Kedua

Setelah kajian apakah pigmen yang ada berada pada bagian luar atau bagian dalam kulit bibir, kajian selanjutnya adalah pigmen tersebut termasuk penghalang sampainya air pada bibir atau tidak?

Mengutip keterangan Imam ar-Ramli al-Kabir beliau menjelaskan hukum memakai heyna;

تَنْبِيهٌ سَأَلَ ابْنُ ظَهِيرَةَ الْبُلْقِينِيُّ مَا الْحُكْمُ فِي خِضَابِ الْمَرْأَةِ بِالْعَفْصِ هَلْ يُبَاحُ أَوْ يُفَرَّقُ بَيْنَ الْمُكَلَّفَةِ بِالصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا وَمَا مُرَادُ الْأَصْحَابِ بِالسَّوَادِ الَّذِي أَبَاحُوا الْخِضَابَ بِهِ لِلْمَرْأَةِ بِشَرْطِهِ فَأَجَابَ الْحُكْمُ فِيهَا أَنَّ الْخِضَابَ الْمَذْكُورَ الَّذِي يُغَطِّي جِرْمَ الْبَشَرَةِ إنْ كَانَ لَا يُمْكِنُ زَوَالُهُ بِالْمَاءِ عِنْدَ الطَّهَارَةِ الْمَذْكُورَةِ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ فِعْلُهُ قَبْلَ دُخُولِ الْوَقْتِ وَبَعْدَهُ وَهُوَ قَرِيبٌ مِمَّا قَدَّمْنَاهُ مِنْ تَعَمُّدِ تَنْجِيسِ الْبَدَنِ مَعَ تَعَذُّرِ الْمَاءِ الَّذِي يُزِيلُ بِهِ النَّجَاسَةَ وَمُرَادُ الْأَصْحَابِ بِالْخِضَابِ الَّذِي أَبَاحُوهُ الْخِضَابَ الَّذِي لَا يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إلَى الْبَشَرَةِ أَوْ يَمْنَعُهُ وَتُمْكِنُ إزَالَتُهُ عِنْدَ الطَّهَارَةِ الْوَاجِبَةِ انْتَهَى.

قَالَ النَّاشِرِيُّ وَمِمَّا سَمِعْته مِنْ وَالِدِي فِي الْمُذَاكَرَةِ أَنَّ خِضَابَ الْمَرْأَةِ بِالْعَفْصِ يُبَاحُ فِعْلُهُ فَإِنَّهُ لَا يَمْنَعُ الْمَاءَ مِنْ الْوُصُولِ إلَى الْبَشَرَةِ لِكَوْنِهِ يُغْسَلُ بَعْدَ فِعْلِهِ بِقَلِيلٍ، وَيُزَالُ جُرْمُهُ ثُمَّ يَتَنَفَّطُ الْجِسْمُ لِحَرَارَتِهِ وَيَحْصُلُ مِنْ الْمُتَنَفِّطِ جُرْمٌ وَذَلِكَ الْجُرْمُ مِنْ نَفْسِ الْبَدَنِ فَلَا يَكُونُ مَانِعًا مِنْ رَفْعِ الْحَدَثِ[3]

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa hukum memakai heyna diperinci;

  • Jika heyna tersebut tidak bisa hilang sehingga menghalangi sampainya air keanggota yang wajib dibasuh saat wudlu dan mandi maka hukumnya haram baik memakai sebelum masuk waktu salat atau setelah masuk waktu salat.
  • Jika heyna tersebut bisa hilang dan tidak menghalangi sampainya air keanggota yang wajib dibasuh saat wudlu dan mandi maka memakai heyna tersebut hukumya boleh.

Sampai penjelasan ini kita bisa menyimpulkan bahwa hukum sulam bibir haram apabila pigmen yang ada dapat menghalangi sampainya air pada bibir.

Kajian Ketiga

Dari sisi lain sulam bibir dalam prosesnya ada unsur menyakiti diri sendiri. Nabi berkata;

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh menyakiti orang lain dan membalas menyakiti”

Imam al-Ghozali dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din menegaskan bahwa menyakiti diri sendiri hukumnya haram selagi tidak ada kebutuhan yang sangat penting seperti khitan. Beliau juga menyimpulkan bahwa melubangi daun telinga anak perempuan untuk memasang anting hukumnya haram karena tidak ada kebutuhan yang penting[4].

Akan tetapi menanggapi kasus yang sama Imam Ibn Hajr al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj menjelaskan bahwa melubangi daun telinga untuk memasang anting bagi perempuan hukumnya boleh karena memasang anting adalah salah satu kebutuhan penting untuk menghias diri. Berbeda dengan laki-laki yang tidak ada kebutuhan tersebut, sehingga bagi laki-laki melubangi daun telinga hukumnya haram[5].

Sehingga dari sisi melukai diri, sulam bibir hukumnya boleh jika memang praktek tersebut sudah menjadi kebutuhan yang urgen menurut keumuman perempuan guna tampil lebih menawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.