Filsafat Imam al-Ghazali Dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin Bab Tafakkur

Filsafat al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumudin

Filsafat Imam al-Ghazali Dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin Bab Tafakkur

Dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin Bab Tafakkur, dapat dipahami bahwa Imam al-Ghazali bukan saja pemikir ulung, tetapi juga sebagai seorang kolektor dalil-dalil tentang pikir itu sendiri. Mungkin, koleksi dalil ini merupakan salah satu kesenangannya. Ia bukan hanya mengumpulkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Hadits, tetapi juga dari sumber-sumber lain. Misalnya, dalam bab Tafakkur, ia menyajikan dalil dari Nabi Isa a.s. berupa suatu dialog, yang berbunyi:

“Sahabat Isa A.S. ada, yaitu orang yang tutur katanya adalah zikir, sedangkan diamnya berupa pikir serta setiap pandangannya merupakan pengajaran. Orang yang demikian itu seperti aku”.

Filsafatnya tentang pemikiran juga cukup mendasar. Ia mengatakan bahwa pikir adalah menghadirkan dua ma’rifah dalam hati untuk menggapai ma’rifah yang ketiga. Dalam menggapai ma’rifah yang ketiga disebut tafakkur, i’tibar dan tazakkur (mengingat-ingat), nadhar (memperhatikan), ,meneliti dan tadabbur. Kata tadabbur adalah sinonim dari tafakkur, yang berarti “meneliti”.

Ma’rifah hadir melalui dua jalur. Pertama, ma’rifah adalah nur Ilahi dalam hati, yang diperoleh dari fitrah, sebagaimana yang diperoleh para Nabi dan Rasul. Kedua, kadang-kadang ma’rifah diperoleh dengan cara mempelajari dan membiasakan diri. Inilah jalan yang lebih banyak digapai oleh manusia.
Fitrah menurut Imam al-Ghazali ini, dalam bahasa Indonesia berarti “bakat”, atau dalam filsafat umum disebut dengan ide bawaan, yaitu sesuatu yang merupakan potensi tersembunyi pada diri manusia dan merupakan karunia Allah.

Kedalaman produk pikir Imam al-Ghazali juga diakui oleh Muhammad Iqbal secara jujur dan objektif. Dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali telah mengembangkan prinsip “syak” (ragu), sebagai permulaan segala pengetahuan, yaitu sebuah prinsip epistemologis yang telah dicetuskan oleh an- Nazzam. Setelah itu, terbukalah jalan bagi metode Descartes. Namun, secara global dapat dikatakan bahwa Imam al-Ghazali masih dipengaruhi oleh Aristoteles dalam hal logika.

Pengaruh Aristoteles terhadap Imam al-Ghazali ini pantas diakui, mengingat Aristoteles merupakan seorang filsuf yang telah berjasa besar dalam menyusun logika Yunani secara sistematis, walaupun ia juga penerus para filsuf sebelumnya. Walaupun demikian, Imam al-Ghazali tidak sepenuhnya mengikuti Aristoteles; ia tetap menerapkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan dalil-dalil naqli Islam. Panduan berpikirnya ini tampak dari beberapa hal. Misalnya, yang diutarakan dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin bab Tafakkur sebagai berikut.

Pertama, jika pikiran diarahkan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan manusia, maka yang terpenting ialah tafakkur tentang sesuatu yang dapat diterima atau ditolak oleh Allah. Namun, jika diarahkan pada hal-hal yang berkaitan dengan Allah, tentu pikiran akan mengarah kepada dzat, sifat, dan al- asma al-husna-Nya atau kepada afal (perbuatan-perbuatan) al- mulki (kerajaan) dan makhluk-Nya dari semesta alam.

Kedua, pengaruh teori logika Aristoteles terhadap corak pemikiran religius Imam al-Ghazali juga tampak pada pendapatnya tentang hukum sebab akibat. Menurut Imam al-Ghazali, hukum kausalitas berlaku pada segala hal di dunia ini, baik diri sendiri maupun alam sekitar. Dengan mengamatinya, seseorang pada akhirnya akan bertemu pada apa yang dimaksud dengan afal Allah.

Misalnya, seseorang mengamati mata. Dalam pengamatan itu, hendaknya dipikirkan bahwa mata diciptakan oleh Allah untuk memandang dan mengambil pelajaran dari kerajaan besar langit dan bumi agar menjadikan sikap taat kepada pencipta alam semesta ini. mata itu diciptakan untuk melihat, tetapi tidak untuk mengenal suara. Kalau dipikir dengan berpedoman kepada hukum kausalitas, tentu kita akan mengatakan bahwa itulah hukum penciptaannya yang atas mata. Sedangkan tidak ada sesuatu pun yang sanggup mengubahnya hingga dapat mengenal suara atau yang lain.

Cukup sudah kita ikuti perjalanan pemikiran filosofis Ghazali, khusus yang berkenaan dengan metode berpikirnya. Hasil pemikiran Imam al-Ghazali yang lain berkaitan dengan resep penyelamat dari bahaya kekeliruan. Tentang hal ini, ia tuangkan dalam “al-Munqidz min Adhlal” (pembebas dari kesesatan).

Tujuan Imam al-Ghazali Menulis Kitab Ihya’ al-Ulumiddin

Tentang tujuan penulisan Kitab Ihya’ al-Ulumiddin, Imam al-Ghazali menga- takan; “Insaflah aku bahwa membantah sesuatu paham sebelum mengerti benar-benar hakikat paham itu hanya akan merupakan bantahan yang serampangan saja”. Tulisan ini merupakan salah satu arena penyelamannya terhadap paham filsafat dari berbagai aliran dan golongan, sehingga diperolah pengertian yang mendalam tentang golongan-golongan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.