HomeArtikelFiqih Kurban

Fiqih Kurban

0 5 likes 857 views share

Definisi Singkat

Kurban atau dalam kitab klasik dibahasakan sebagai udhiyyah (الأضحية) didefinisikan sebagai hewan ternak sapi, unta, atau kambing yang disembelih dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan pelaksanaannya dilakukan sejak hari raya idul fitri hingga hari tasyriq terakhir.

Hukum

Hukum melaksanakan kurban adalah sunah ‘ain bagi seorang diri, dan sunnah kifayah bagi satu keluarga. Hukumnya tidak akan berubah menjadi wajib kecuali bila sudah dinadzari. [1]

Tendensi

Dalil tentang kurban sebelum adanya ijma’ ulama diantaranya adalah, alquran surat Al-Hajj ayat 36,

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya”

surat al-Kautsar ayat 02:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan sembelihlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Menurut pendapat yang masyhur, kata “salat” dalam ayat diatas ditafsiri sebagai salat hari raya, dan yang dimaksud dengan “menyembelih” dalam ayat tersebut adalah menyembelih hewan kurban.

Dalam hadis pula diriwayatkan, bahwasanya nabi pernah menyembelih dua ekor kambing gibas.

(أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبر، ووضع رجله على صفاحهما (رواه مسلم

“Nabi Muhammad SAW pernah menyembelih hewan kurban dengan dua kambing gibas putih dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri. Beliau membaca basmalah dan takbir. Dan beliau meletakkan kaki beliau pada pipi kedua hewan tadi.” (HR. Muslim)

Imam Turmudzi juga pernah meriwayatkan hadis,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِرَاقِةُ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Dari ‘Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada amal keturunan Nabi Adam AS pada hari raya kurban yang lebih mendatangkan ridha Allah SWT. dari pada mengalirkan darah (menyembelih kurba).  Hewan-hewan kurban akan datang kelak pada hari kiamat dengan tanduk-tanduk mereka, rambut-rambut mereka dan kuku-kuku mereka. Darah (mereka) akan jatuh (diridhai) Allah SWT sebelum jatuh ke tanah. Maka lakukanlah kurban dengan kerelaan hati.” (HR. Turmudzi dn Al-Hakim)

Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaanya dimulai pada hari raya idul adha, persisnya setelah matahari terbit dan telah lewat waktu yang cukup untuk melakukan salat dua rakaat dan dua khutbah[2]. Ketika kita menyembelih hewan kurban setelah lewatnya waktu tersebut, baik salat idul adha telah didirikan atau belum[3], maka sudah dikatakan mencukupi[4]. Namun jika sebelum waktu tersebut hewan kurban sudah buru-buru disembelih, maka kurbannya dihukumi tidak sah. Adapun waktu terakhir pelaksanaan kurban adalah setelah matahari tenggelam (masuk waktu maghrib) pada tanggal tiga belas Dzulhijjah (hari tasyriq terakhir).[5] Diantara kedua waktu tersebut kita diperbolehkan menyembelih hewan kurban baik siang dan malam. Hanya saja malam hari hukumnya dimakruhkan.[6]

Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Lewat Waktu?

Jika hewan kurbannya adalah untuk kurban sunnah, lebih baik jangan disembelih dan menunggu hingga tiba waktu kurban tahun berikutnya. Akan tetapi jika hewan kurban itu adalah nadzar , maka harus tetap disembelih. Hanya saja status kurbannya menjadi qodho.[7]

Hewan yang Bisa Dikurbankan

Binatang yang bisa dikurbankan adalah binatang ternak na’am (Bahasa Arab untuk unta, kambing, dan sapi)[8]. Hal ini didasarkan pada dalil nash alquran,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَام  –  الحج 28

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak (kambing, sapi, dan unta).” (QS. Al-Hajj:28)

Adapun standar usia untuk hewan yang bisa disembelih, untuk unta minimal harus berusia lima tahun memasuki tahun ke enam, sapi minimal berusia dua tahun sedang memasuki tahun ke tiga, dan kambing minimal berusia satu tahun atau ketika giginya sudah ada yang tanggal untuk kambing  domba (ma’zi).[9] Disyaratkan tanggalnya gigi kambing ini memunculkan batas usia minimal, yaitu kira-kira satu tahun.

Selain persyaratan diatas, hewan kurban juga diharuskan tidak memiliki cacat yang bisa merusak daging. Maka tidak sah berkurban dengan binatang yang pincang, buta, sakit parah hingga merusak daging, terlampau kurus, gila, berkudis, dan terpotong sebagian telinganya[10].

Sedangkan nantinya jika yang kita kurbankan adalah sapi atau unta, bisa digunakan untuk tujuh orang. Sementara kambing hanya satu orang saja.[11]

 

 

[1] Matan Al-Yaqut Al-Nafis dan Syarahnya hal 824, Dârul Minhâj.

Al-Majmû’ Syarah Muhadzzab Juz 8 hal 383. Maktabah Syamilah.

[2] Diantara hadis yang menjelaskan tentang hal ini adalah, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari,

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ الْمِنْهَالِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي زُبَيْدٌ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ هَذَا فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Dari Hajjaj bin Minhâl, dari Syu’bah. Ia berkata, dari Zubaid, ia berkata; ‘Aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkhutbah. Beliau bersabda, ‘yang pertama kali kita lakukan pada hari raya ini adalah melaksanakan shalat hari raya, kemudian kembali pulang dan menyembelih binatang kurban. Barangsiapa melakukan hal ini, berarti dia telah bertindak sesuai dengan sunnahku, dan barang siapa menyembelih binatang kurban sebelum salat hari raya, maka sesembelihannya itu hanyalah berupa daging yang ia berikan kepada keluarganya. Tak ada hubungannya dengan ibadah kurban sedikitpun.” (HR. Bukhari)

[3] Al-Bayân fî Madzhabil Imam Al-Syafi’i. Juz 4 Hal 435. Maktabah Syamilah.

[4] Matan Al-Muhadzzab, Juz 1. Hal 435 Maktabah Syamilah

[5] Al-Majmû’ Syarah Al-Muhadzzab. Juz 8. Hal 388. Maktabah Syamilah.

[6] Ibid.

[7] Ibid. Hal 391.

[8] Al-Bayân. Juz 4. Hal 439. Maktabah Syamilah.

[9] Ibid.

: «كنا نضحي مع رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بالجذع من الضأن» .

[10] ‘Umdatus Sâlik. Hal 146. Maktabah Syamilah.

[11] Matan dan Syarah Al-Yaqut Al-Nafis hal 828. Dârul Minhâj.