Gemerlap al-Aqsha dan al-Maqdis, Dulu.

Gemerlap Aqsha dan Maqdis, Dulu.

Seperti Kaʻbah, Masjid al-Aqsha pertama kali didirikan oleh Nabi Adam as. (6216 SH/+5591 SM) atas perintah Tuhan. Empat puluh tahun setelah mendirikan Kaʻbah, Nabi Adam as. meletakkan dasar-dasar dan batas-batas Baitul Maqdis. Namun, pada peristiwa Ṭūfān (banjir besar pada era Nabi Nuh as. [+3949 SM]) yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi, dasar dan batas kedua masjid tersebut menjadi kabur.

Allah swt. kemudian memperlihatkan dasar dan batas Kaʻbah kepada Nabi Ibrahim as. (2893 SH/2271 SM) dan memerintahkannya untuk mendirikan kembali. Dengan bantuan putranya, Nabi Ismail as., Nabi Ibrahim as. meletakkan kembali dasar dan batas bangunan kubus tersebut. Sementara itu, dasar dan batas Baitul Maqdis diletakkan kembali oleh Sām bin Nuh as., salah seorang putra Nabi Nuh as., yang setelah peristiwa Ṭūfān diperintah untuk bermukim di sana.[1]

Kemudian, Baitul Maqdis terus mengalami pembaruan. Setelah dasar dan batasnya diletakkan kembali oleh Sām bin Nuh as., bangunannya diperbarui oleh Nabi Ibrahim as.[2] setelah Kaʻbah selesai didirikan, kemudian diteruskan oleh cucunya, Nabi Yaʻkub as. (+1837 SM). Selanjutnya, bangunan tersebut diperbarui oleh Nabi Daud as. (+1000 SM).[3]

Sebuah riwayat menuturkan bahwa Nabi Daud as. membangun Baitul Maqdis sebagai ekspresi syukur kepada Tuhan karena pertaubatannya telah diterima dan Bani Israel hidup dalam kesejahteraan. Nabi Daud as. menyiapkan ratusan ribu emas, jutaan perak, dan 300.000 dinar untuk anggaran pembangunan. Bani Israel bergotong royong membangun Baitul Maqdis, tetapi sebelum pembangunan selesai, Nabi Daud as. wafat dan mewasiatkan kepada putranya, Nabi Sulaiman as. (+962 SM) untuk melanjutkan dan merampungkannya.

Di bawah kepemimpinan Nabi Sulaiman as., Baitul Maqdis menjadi bangunan yang sangat indah dan megah. Nabi Sulaiman as. mempekerjakan cerdik pandai dari golongan manusia dan jin, serta menyusun tim kerja, termasuk arsitek, pemahat, dan pencari bahan bangunan. Diperkirakan sekitar 30.000 pekerja, termasuk 10.000 pemotong kayu, 70.000 pemahat batu, dan 300 mandor terlibat dalam proyek ini. Baitul Maqdis menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan kubah 18 mil, dihiasi patung kijang emas dan mutiara, serta memancarkan cahaya terang benderang pada malam hari.[4]  

Setelah pembangunan selesai, Nabi Sulaiman as. mengumpulkan Bani Israel dan mendeklarasikan bahwa bangunan tersebut adalah milik Allah swt. dan setiap benda di dalamnya adalah untuk Allah swt. Barang siapa merusak bangunan atau benda di dalamnya dianggap berkhianat kepada Allah swt.[5]

Dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad saw. berkisah,

“Sesungguhnya Sulaiman ketika membangun Baitul Makdis, ia memohon kepada Tuhannya tiga permohonan. Tuhan mengabulkan dua permohonan Sulaiman itu, dan aku berharap Ia juga mengabulkan permohonannya yang ketiga. Sulaiman memohon kepada Tuhan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, lalu Ia pun mengabulkannya; Sulaiman memohon kepada Tuhan sebuah kerajaan besar yang tak dapat ditandingi oleh seorang pun, lalu Ia pun mengabulkannya. Dan, Sulaiman memohon kepada Tuhan agar setiap orang yang keluar dari rumahnya dan tak bertujuan apapun selain melakukan shalat di Baitul Makdis, dosa-dosanya diampuni seperti ketika ia baru dilahirkan.”[6]

Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril as., karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF, Purna Siswa III Aliyah 2017 MHM Lirboyo.

[1]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1, h. 30.

[2]        Ibn ʻĀsyūr, atTaḥrīr…., vol. 14, h. 14.

[3]        Ibid., vol. 1, h. 113-116.

[4]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1. h, 118-120.

[5]        Ibid., h. 122.

[6]        Muhammad bin ʻAlawiy, Wahuwa…, h. 170.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses