HomeArtikelGemerlap Al-Aqsha, Dulu

Gemerlap Al-Aqsha, Dulu

0 11 likes 12.9K views share

Seperti Kaʻbah, Masjid al-Aqsha pertama kali didirikan oleh Nabi Adam as. (6216 SH/+5591 SM). Bapak manusia itu, atas perintah Tuhan, 40 tahun setelah mendirikan Kaʻbah, meletakkan dasar-dasar dan batas-batas Baitul Makdis. Kemudian pada peristiwa Ṭūfān (banjir maha dashsyat pada era Nabi Nuh as. [+3949 SM]) yang menenggelamkan seluruh pemukaan bumi, dasar dan batas kedua masjid itu menjadi kabur. Allah swt. kemudian memperlihatkan dasar dan batas Kaʻbah kepada Nabi Ibrahim as. (2893 SH/2271 SM) sekaligus menitahkannya untuk mendirikan kembali. Dengan dibantu Nabi Ismail as., putranya, Nabi Ibrahim as. pun meletakkan dasar dan batas bangunan kubus itu. Sebelumnya, dasar dan batas Baitul Makdis diletakkan kembali oleh salah seorang putra Nabi Nuh as. yang setelah peristiwa Ṭūfān diperintahnya untuk bermukim di sana, yaitu Sām bin Nuh as.[1]

Kemudian Baitul Makdis terus mengalami pembaruan pembangunan. Dasar dan batas yang semula diletakkan kembali oleh Sām bin Nūh as., bangunannya diperbarui lagi oleh Nabi Ibrahim as. setelah Kaʻbah selesai didirikannya,[2] kemudian diteruskan oleh seorang cucunya yang menjadi kakek moyang Bani Israel, Nabi Yaʻkub as. (+1837 SM). Lalu, bangunan itu diperbarui lagi oleh Nabi Daud as. (+ 1000 SM).[3]

Sebuah riwayat menuturkan, Nabi Daud as. membangun Baitul Makdis sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan karena pertaubatannya telah diterima, dan ia melihat Bani Israel telah hidup dalam kesejahteraan lahir dan batin. Untuk itu, Nabi Daud as. ingin membangunnya secara besar-besaran, bahkan ia menyiapkan ratusan ribu emas, jutaan perak, dan 300.000 ribu dinar sebagai anggaran pembangunan. Bani Israel pun, atas perintah pemimpinnya itu, bergotong royong membangun Baitul Makdis.

Tetapi, sebelum pembangunan betul-betul sempurna, Nabi Daud as. dikunjungi ajalnya, dan ia berwasiat kepada sang putra, Nabi Sulaiman as. (+ 962 SM) agar melanjutkan dan merampungkannya. Maka, di bawah tangan seorang nabi yang menjadi raja terbesar sepanjang sejarah manusia itu, Baitul Makdis menjadi bangunan yang luar biasa indah dan megah. Betapa tidak, untuk proyek pembangunan ini Nabi Sulaiman as. mempekerjakan cerdik pandai dari golongan manusia dan jin, ʻIfrīt dan para pembesar setan; kesemuanya dikoordinasikan menjadi beberapa tim kerja, mulai dari tim arsitek, tim pemahat, sampai tim pencari bahan bangunan dan tim penyelam untuk mencari mutiara-mutiara di kedalaman samudera.

Diperkirakan seluruh pekerja proyek pembangunan ini kurang lebih sebanyak 30.000 pekerja, 10.000 pemotong kayu yang harus menyiapkan 10.000 potong kayu setiap bulan, 70.000 pemahat batu dan 300 mandor–hitungan ini pun tanpa menghitung jumlah pekerja dari bangsa jin dan setan. Walhasil, tiada yang kuasa menandingi kemegahan dan keelokan Baitul Makdis, baik dari segi desain dan ornamen-ornamen yang menghiasinya–seperti pagar dan pilar yang berhias emas, perak, intan yaqut, marjan, mutiara, dan lain sebagainya, maupun dari segi teknik bangunan dan gaya arsitekturnya.

Baitul Makdis menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan ketinggian kubah 18 mil yang di atasnya dihiasi patung kijang emas dengan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya, sampai-sampai para wanita daerah Balqāʼ saat itu (perjalanan dua hari dari Baitul Makdis) bisa memintal dengan diterangi pantulan mutiara tersebut. Dan, di malam hari bangunan itu saja yang memancarkan cahaya terang benderang menyinari kegelapan, bagai purnama.[4]  Bangunan itulah yang kemudian dikenal dengan Haikal Sulaiman (Temple of Solomon).

Setelah pembangunan Baitul Makdis yang maha megah itu rampung, Nabi Sulaiman ỿ lantas mengumpulkan seluruh kaum Bani Israel. Ia mendeklarasikan bahwa bangunan itu telah menjadi milik Allah swt. Adalah Allah swt. yang memberi titah untuk membangunnya. Maka, setiap benda di dalamnya adalah untuk Allah swt. Barang siapa merusak bangunan itu atau benda di dalamnya, ia betul-betul berkhianat kepada Allah swt.[5]

Dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad saw. berkisah,

“Sesungguhnya Sulaiman ketika membangun Baitul Makdis, ia memohon kepada Tuhannya tiga permohonan. Tuhan mengabulkan dua permohonan Sulaiman itu, dan aku berharap Ia juga mengabulkan permohonannya yang ketiga. Sulaiman memohon kepada Tuhan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, lalu Ia pun mengabulkannya; Sulaiman memohon kepada Tuhan sebuah kerajaan besar yang tak dapat ditandingi oleh seorang pun, lalu Ia pun mengabulkannya. Dan, Sulaiman memohon kepada Tuhan agar setiap orang yang keluar dari rumahnya dan tak bertujuan apapun selain melakukan shalat di Baitul Makdis, dosa-dosanya diampuni seperti ketika ia baru dilahirkan.”[6]

Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril as., karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF, Purna Siswa III Aliyah 2017 MHM Lirboyo.

[1]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1, h. 30.

[2]        Ibn ʻĀsyūr, atTaḥrīr…., vol. 14, h. 14.

[3]        Ibid., vol. 1, h. 113-116.

[4]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1. h, 118-120.

[5]        Ibid., h. 122.

[6]        Muhammad bin ʻAlawiy, Wahuwa…, h. 170.