HomePojok LirboyoGurah Massal Bagi Santri

Gurah Massal Bagi Santri

0 5 likes 1K views share

LirboyoNet, Kediri- Gurah sebagai salah satu pengobatan kuno, keberadaannya masih dipertahankan. Caranya yang sederhana, cukup dengan ditetesi ramuan khusus yang sudah diracik dari bahan-bahan tradisional, maka dahak dan kotoran akan keluar dengan sendirinya.

Kemarin (17/11), ratusan santri Pondok Pesantren Lirboyo mengikuti gurah massal. Gurah massal memang sudah menjadi program, yang diadakan rutin setahun dua kali. Mereka berbaris tidur tengkurap, memanjang di gedung An-Nahdhoh, salah satu fasilitas gedung belajar santri. Tabib Sumtoro didatangkan untuk menggurah para santri. Beliau sendiri masih merupakan alumnus Pondok Pesantren Lirboyo. Sudah sejak sekitar sepuluh tahun silam, beliau rutin  menjadi tabib, dan mengobati santri yang ingin melaksanakan gurah.

Sedikit cerita, ketertarikan beliau akan pengobatan ini, berawal ketika beliau belum mondok di Lirboyo. Ketika itu, beliau bertemu dengan Agus Akhlis (Putra KH. Marzuqi Dahlan), beliau memiliki keinginan hendak bersalaman, namun ketika mendekat beliau justru diludahi sampai tiga kali.  Hal tersebut bukan justru menjadi pengalaman pahit. Namun menjadi pemicu semangat. Beliau akhirnya tergerak untuk mondok di Lirboyo. “Mengapa kok saya seneng gurah? Dulu disini, sebelum masuk kesini ketemu Mbah Kiai Akhlish. Mbah Kiai Akhlis mau saya salami, saya diludahi. Saya diem. Baru setelah itu, saya masuk ke pondok induk sana” Tutur beliau. Beliau mendapatkan ijasah gurah langsung dari KH. Marzuqi Dahlan, penerus  Pondok Pesantren Lirboyo sepeninggal KH. Abdul Karim.

Banyak kegunaan dari gurah. Selain bisa mengeluarkan dahak yang ada di kepala, gurah juga memiliki dampak positif untuk meningkatkan kecerdasan. “Gurah juga bisa untuk kecerdasan” kata Tabib Sumtoro.  Selain tidak dipungkiri banyak faidah lain, seperti menghilangkan asma,sinusitis, bahkan menurunkan minus pada mata. “Biasanya kalau orang yang (matanya) min (minus-Red), akan berkurang. Asal mengikuti aturan

Taufiq, salah seorang santri asal Trenggalek menuturkan, dampaknya langsung bisa ia rasakan sendiri. “Rasanya lega”.

Antusiasme santri mengikuti gurah massal memang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Tahun lalu hanya sekitar empat ratus santri yang ikut, namun tahun ini angkanya naik pesat hingga sekitar  lima ratus anak.[]