HomeSantri MenulisHakikat Hijrah

Hakikat Hijrah

0 4 likes 68 views share

Akhir-akhir ini fenomena hijrah makin santer saja terdengar di telinga kita. Entah siapa yang memulai, yang jelas hijrah saat ini sudah laris manis di generasi milenial masyarakat Indonesia. Tak terkecuali para selebritis. Dengan slogan hijrah, banyak muda-mudi dan para selebritis tiba-tiba berkerudung, tiba-tiba berjenggot lebat, dan tiba-tiba sering menyelipkan bahasa Arab dalam perbincangannya. Perubahan-perubahan semacam ini mereka sebut hijrah. Penggunaan istilah ini juga didukung oleh sebagian mubalig-mubalig muda saat ini yang membawa label hijrah dalam setiap ajakannya kepada masyarakat untuk merubah kebiasaan buruknya.

Apa Itu Hijrah?

Apa itu hijrah? Benarkah penggunaan istilah hijrah untuk fenomena yang sudah disinggung tadi? Bukankah hijrah yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabatnya adalah berpindah tempat tinggal? Berikut ini adalah penjelasan hijrah yang ditulis Ibn Hajar Al Haitami dalam kitabnya, Al Fatħ Al Mubīn:

وَهِيَ –أَعْني الهِجْرةَ– لُغةً: التَّرْكُ، وشَرْعًا: مُفارَقةُ دارِ الكُفرِ إلى دارِ الإسلامِ خَوْفَ الفِتْنةِ.
“Hijrah secara bahasa berarti: meninggalkan. Dalam istilah syariat (fikih), hijrah artinya: meninggalkan negara nonmuslim menuju negara Islam karena khawatir terjadinya fitnah.”

Hijrah dengan arti syariat inilah yang wajib kita lakukan saat kita tinggal di negara yang di dalamnya kita tidak bebas menjalankan ajaran agama Islam.

Selain dua pengertian di atas, Ibn Hajar juga menambahkan arti lain dari kata hijrah; arti yang lebih dalam. Beliau membahasakannya dengan “makna hakikat”. Beliau menulis:

وحقيقةً: مُفارقةُ ما يَكْرَهُه الله تعالى إلى غَيْرِه.
“Hakikatnya, hijrah adalah meninggalkan apapun yang tidak disenangi Allah Swt. menuju selainnya (apapun yang diridai-Nya).”

Lebih tegas Ibn Hajar Al Asqalani membagi hijrah menjadi dua: hijrah bāținah dan hijrah žāhirah. Dalam Fatħ Al Bārī-nya, Al Asqalani menjelaskan:

وهذه الهجرةُ ضربان: ظاهرةٌ وباطنةٌ. فالباطنةُ تْركُ ما تَدْعو إليه النفْسُ الأَمَّارةُ بالسوء والشيطانُ، والظاهرةُ الفِرارُ بالدِّينِ من الفِتَنِ.
“Hijrah ini ada dua: hijrah žāhirah dan hijrah bāținah. Hijrah bāținah adalah meninggalkan apapun yang diserukan oleh hawa nafsu dan syetan. Hijrah žāhirah adalah melarikan diri dari fitnah dengan membawa agama.”

Masing-masing definisi yang disampaikan dua Ibn Hajar di atas tidak memiliki perbedaan yang bertentangan. Keduanya hanya berbeda dalam pemilihan kalimat yang disampaikan. Faktanya keduanya sepakat bahwa hijrah bisa diartikan dengan “menghindari fitnah” atau “menjauhi perbuatan buruk”. Untuk arti yang kedua ini, beliau berdua pun terilhami dari hadis riyawat Al Bukhari:

المُسْلِمُ مَن سَلِمَ المُسْلِمُون مِن لِسانِه وَيَدِه، وَالمُهاجِرُ مَن هَجَر ما نَهى الله عنه.
“Muslim sejati adalah orang yang muslim-muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Penghijrah sejati adalah orang yang meninggalkan apapun yang dilarang Allah Swt.”

Akhirnya, kita dapat memahami bahwa makna hijrah amat luas. Tidak sesederhana memanjangkan jenggot. Tidak semudah menyelipkan bahasa Arab dalam percakapan. Hijrah tidak sesempit itu. Hijrah adalah kewajiban setiap muslim, dari yang awam hingga ulama, dalam pengembaraan menuju jalan yang diridai Allah Swt. Wallāhu a’lam.

 

Penulis: M. Abdul Rozzaaq, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. Sekarang mengabdi di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.

kontak twitter @mad_rojak