Harapan Rois ‘Aam PBNU: dalam Halaqah Fikih Peradaban Jilid II di Pondok Lirboyo

Harapan Rois ‘Aam PBNU; dalam Halaqah Fiqih Peradaban Jilid II di Pondok Lirboyo

Harapan Rois ‘Aam PBNU: dalam Halaqah Fikih Peradaban Jilid II di Pondok Lirboyo

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar acara Halaqah Fikih Peradaban Jilid II di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri pada Kamis (28/12/2023 M).

Halaqah Fikih Peradaban yang di laksanakan di Aula Al Muktamar Lirboyo itu dihadiri sejumlah tokoh. Di antaranya Pengasuh Tertinggi Pondok Pesantren Lirboyo, sekaligus anggota Musytasar PBNU Romo KH. M. Anwar Manshur, Rais Syuriyah PBNU KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, Katib ‘Aam PBNU KH. Akhmad Said Asrori, Wakil Rais ‘Aam PBNU KH. Anwar Iskandar, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, dan Sekretaris Jenderal PBNU KH. Saifullah Yusuf.

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Akhyar berharap Halaqah Fikih Peradaban Jilid II bisa menghasilkan kader terbaik bagi Perkumpulan NU. Hal ini disampaikan saat beliau membuka acara Halaqah Fikih Peradaban Jilid II di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

“Mudah-mudahan acara ini sukses dan sampai selesai sehingga bisa menghasilkan kader-kader yang terbaik, kader yang benar-benar kader, bukan kader yang kadir (mahakuasa), apalagi kader yang keder (bingung). Jadi, benar-benar kader,” kata Kiai Miftah dalam acara yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Pondok Lirboyo ini.

Kiai Miftah juga menegaskan bahwa kader-kader NU perlu untuk memenuhi parlemen, khususnya kader yang telah mengikuti Halaqah Fikih Perdaban karena dianggap telah memiliki kemampuan yang mumpuni. “Saya berharap kader-kader kita bisa memenuhi kursi-kursi parlemen, yakni kader yang punya komitmen yang kuat, kader yang setelah mengikuti Halaqah Fikih Peradaban karena mereka yang mengikuti halaqah ini insyaallah termasuk kader yang mumpuni dan bisa apa yang kita harapkan,” harap Pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu.

Lebih lanjut, Kiai Miftah menyampaikan bahwa melakukan amar ma’ruf tidak boleh sembarang, apalagi sampai mendatangkan kemungkaran. Sebab hal itu bisa merusak tujuan awal, bahkan bisa berubah menjadi suatu kemungkaran.

“Kita maunya amar ma’ruf nahi munkar, tapi justru mendatangkan mungkar yang lebih besar, maka ini menjadi mungkar juga. Ma’rufnya berubah menjadi munkar,” ucapnya. Beliau kemudian memberikan contoh sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang oleh Imam Syafi’i disebut sebagai khalifah kelima dari Khulafaur Rasyidin. Pada saat itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah dituntut oleh putranya agar mengembalikan suasana seperti zaman Khulafaur Rasyidin, tetapi Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan tegas menolaknya.

“Khalifah al-Khamis, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pernah dituntut oleh putranya yang keras dan tegas untuk segera mengembalikan suasana seperti zaman Khulafaur Rasyidin. Yang bid’ah harus diberantas, yang mungkar harus diberantas, kembali seperti zaman Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin,” kata Kiai Miftah.

“Apa jawab dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz? ‘Jarak saya menjadi khalifah dengan khulafaur rasyidin tidak kurang dari 60 tahun.’ Jadi setelah Sayyidina Hasan menyerahkan kedaulatan kepada Muawwiyah rentang waktu 60 tahun, baru Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu menjadi khalifah,” lanjutnya.

Kemudian, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyatakan bahwa jarak 60 tahun itu penuh dengan bid’ah. Jika dipaksa untuk menerapkan seperti zaman Khulafaur Rasyidin, maka bisa memunculkan kemungkaran yang dilakukan olehnya. “Kalau saya dipaksa segera mengembalikan seperti zaman Khulafaur Rasyidin, justru upaya perjuangan saya menjadi mungkar karena perjuangan saya akan dihadang oleh kekuasaan yang besar yang selama 60 tahun itu menguasai dunia,” beber Kiai Miftah. Wallahu a’lam bishawab.

Baca Juga; Halaqoh Fikih Peradaban: Ijtihad Ulama NU dalam Bidang Sosial Politik

Anda juga bisa membaca Halaqoh Fikih Peradaban di Pondok Pesantren Lirboyo yang pertama. Tonton juga video lengkapnya di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.