Harga Sebuah Rasa Aman

Harga Sebuah Rasa Aman

Sumbang Pemikiran dari Pojok  Pesantren
Penulis: Muhammad Jazilunnazal

“Ya Allah, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman, dan

Anugerahkan penduduknya dengan tetumbuhan (tsamarat) ”

                Do’a Bapak Para Nabi ini terekam dalam al-Qur’an. Tepatnya dalam surah Al-Baqarah ayat 126. Nabi Ibrahim As. meminta kepada Allah Swt. Tuhan Alam Semesta, agar negerinya Tanah Haram Makkah, dijadikan negeri yang aman, serta penduduknya makmur, tercukupi oleh melimpahnya hasil alam di sekitarnya. Menarik kita kaji. Kenapa do’a Nabi Ibrahim As. yang diabadikan dalam surah itu hanya menyangkut persoalan aman tidaknya negeri Makkah. Bukankah masih banyak do’a-do’a yang lebih berbobot, menjurus ke ranah hasanah fil akhirah (kebaikan di akhirat). Bukankah kesan dari do’a itu seakan Nabi Ibrahim lebih mementingkan urusan dunia umatnya ketimbang urusan non-profan (berkaitan dengan keagamaan) yang menjanjikan prospek kebahagiaan nan abadi? Mari kita lihat, sebegitu naifkah Sang Bapak Para Nabi itu?

Membela Negara Kewajiban Agama

                Ketika menafsiri ayat ke-126 dari surah Al-Baqarah ini, Syekh Nawawi al-Banteni, lewat tafsir Murah Labidnya mengomentari, bahwa yang dimaksud ‘baladan aminan’ di surah ini adalah negeri yang makmur dan memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang melimpah (Katsiru al-Khosbi). Sumber Daya Manusia adalah syarat mutlak dalam menjaga kedaulatan sebuah negara. Dengan SDM yang dikelola dengan baik, akan menjauhkan sebuah negara dari keterpurukan dan kemiskinan, kelaparan, serta menekan terjadinya gejolak akibat tindakan kriminal. Karena bagaimanapun, tindak kriminalitas yang tinggi, jamak didasari kesenjangan serta keterpurukan ekonomi. Terbukti, ketika dipetak antara negara dengan angka kriminalitas yang tinggi, dan negara dengan kriminalitas minim, maka menelurkan hasil di negara yang angka kriminalnya tinggi, angka kemiskinannya pun juga tinggi.

                Sebaliknya, angka kriminal minim dapat dijumpai di negara yang maju, serta masyarakatnya tercukupi oleh kekayaan alam sekitar. Dan dengan kemakmuran serta serba ketercukupan itu, sebuah negara bisa berdaulat dan independen. Tidak mudah dijadikan boneka dan didikte dengan umpan pinjaman uang, oleh IMF dan World Bank misalnya. Karena mereka meminjamkan, ada maksud terselubung. Barter undang-undang, ataupun eksploitasi kekayaan adalah contoh yang sering mereka lakukan. Yang rugi adalah bangsa pribumi. Untuk Indonesia bagaimana? Sudah berdaulatkah? Atau hanya menjadi boneka? Kita bahas di kesempatan lain saja. Tugas penulis sekarang adalah mempertanggung jawabkan sub dalam judul tulisan ini; Membela Negara Adalah Kewajiban Agama. Benarkah? Sebelum terlalu jauh kita berpesta dalil, penulis ingin menyodorkan satu diktum dari kakak kelas kita, Prof Dr. KH. Sa’id Aqil Sirad. MA. “Mengamalkan agama untuk memperkuat negara. Memperkuat negara, mengamankan agama”. Belum bisa men-tasawwur? Kalau begitu dengan terpaksa penulis harus ngomong panjang lebar. Takkala Nabi Muhammad Saw. menyebarkan dan mendakwahkan agama Islam di kota Makkah, dakwah mulia itu lambat disalurkan. Ganjalan serta penentangan datang silih berganti, tidak pernah berhenti. Ajaran mulia Rasul hanya menjadi bahan candaan dan hinaan. Cibiran dan penyiksaan. Mengamalkan ajaran agama Islam, sama halnya memberikan badan untuk disiksa. Orang mengamalkan agama Islam, tidak ubahnya maling dan pelaku kriminal lain. Dipandang sinis dan terkucilkan. Orang memandang seorang mukmin bagai memandang kucing gudisan. Diboikot, hingga sulit mencari makan. Oleh karena keteguhan iman, mereka lebih suka memakan dedaunan, daripada menanggalkan iman. Hingga puncaknya Allah memerintahkan pengikut agama asing itu, agama Islam, untuk hijrah. Awalnya ke negeri Habasyah. Hingga kemudian bertolak ke Madinah. Ketika di Madinah, apa yang dihasilkan Rasulullah selama 13 tahun di Makkah, tidak sebanding dengan yang diperoleh selama 3 tahun sesudah hijrah. Yakni Islam lebih berkembang setelah peristiwa hijrah (penilaian ini hanya dilihat dari sisi kuantitasnya (kammiyah) dengan mengesampingkan kualitas iman per-individu (kayfiyah). Karena penilaian dalam konteks tersebut, bukan kuasa makhluk). Itu setelah Islam memiliki wadah bernama Negara Madinah.

Artinya, tanpa berdirinya sebuah negara, maka agama ringkih (lemah), sebagaimana disampaikan Hujjatul Islam al-Ghazali. Baru pasca Negara Madinah berdiri, Islam lekas tersampaikan, dan ritus agamanya bebas dilaksanakan. Sampai disini, bisa kita menggambarkan, betapa pentingnya memiliki, membela, dan mempertahankan, serta memakmurkan sebuah negara. Ini masih dalil ‘aqli-nya, belum ke naqli-nya. Sekedar contoh, dalam beberapa ‘atsar digambarkan bagaimana kecintaan Nabi kepada negaranya. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau menghadap Makkah, menatapnya dan berkata seakan kota Makkah merasakan dan mendengar ucapan perpisahan Nabi ini-,

والله إنك لأحب بلاد الله إلي ولولا أن أهلك أخرجوني منك لما خرجت

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Sungguh, kalaulah seandainya wargamu tidak mengusirku, tentu aku tidak akan keluar meninggalkanmu.”

Dari ratapan ini, jelas tergambar, Makkah adalah bumi yang paling dicintai Nabi. Karena seburuk apapun warganya, Makkah tetap menjadi tanah air beliau. Lantas ketika beliau hijrah ke kota Madinah, dan Madinah menjadi negara barunya, beliau juga mengungkapkan kecintaan terhadap negeri barunya ini, dengan ungkapan eksplisit. Diriwayatkan, suatu hari, dengan menghadap ke salah satu gunung di Madinah, Uhud, beliau berbicara-seperti halnya ketika menghadap kota Makkah:

أحد جبل يحبنا ونحبه

“Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kami, dan kamipun mencintainya.”

Nabi juga selalu melindungi negaranya, Madinah, dari segala hal yang mengganggu, mengancam keamanan dan stabilitas, mengganggu kenyamanan, kebahagiaan serta kesejahtraan warganya.

                Penulis mengira, hadits inilah yang menginspirasi mufassir kenamaan, Prof. Dr. K.H. Habib Qurais Shihab, ketika menuturkan, “Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencintai kita, sehingga mempersembahkan segala apa yang dimilikinya untuk kita. Kitapun secara naluriah mencintai tanah air, kecuali yang sakit jiwa. Itulah fitrah, naluri manusiawi.” (di Masjid Istiqlal saat menjadi khotib sholat ‘Idul Fitri). Lebih baiknya, penulis sarankan pembaca, untuk membaca kitab Addifa’ Anil Wathan Min Ahammi al Wajibati Ala Kulli Wahidin Minna karya Agus Sa’id Ridlwan.

                Lah, bukankah yang harus dibela itu agama!? Memang. Dan membela negara adalah bagian terpenting dari membela agama. Bagaimana mungkin, umat Islam tenang beribadah, kalau setiap saat dihantui dengan todongan pistol penjajah. Bagaimana mungkin umat Islam khusuk dalam bermunajat, kalau setiap hari hanya disibukkan dengan perang saudara, pertikaian, dan kerusuhan yang tidak berkesudahan. Bagaimana mungkin, umat Islam maju, kalau hasil bumi yang seharusnya mensejahterakan rakyat, justru dikeruk dan digerogoti oleh cacing-cacing asing, dan hanya menyisakan ampas serta limbah yang membunuh warga pribumi secara halus dan perlahan.

“Sebagian orang mengatakan, seorang Mukmin tidak wajib menyibukkan dirinya dengan urusan negaranya. Dan kelakpun, di akhirat seorang Mukmin tidak akan dimintakan pertanggung jawaban berkaitan masalah negaranya. Yang diwajibkan bagi seorang Mukmin hanyalah memperbaiki urusan agamanya saja.” Paham demikian adalah paham yang salah, dan termasuk faktor terbelakangnya umat Islam dewasa ini. Tidakkah mereka tau, Nabi bersabda: “Barang siapa yang enggan memedulikan urusan umat Muslimin, dia tidak termasuk dari golongan mereka. Sedangkan masalah negara, adalah persoalan paling vital dalam mewujudkan kemaslahatan agama.” Tulis Agus Sa’id Ridlwan dalam Addifa’-nya.

                Syekh Nawawi, masih dalam kitabnya Muroh Labid, berkesimpulan—dengan negara aman dan makmur, sejahtera serta berdaulat, maka rakyat lebih mungkin untuk fokus ibadah dan ta’at. Jadi, do’a Nabi Ibrahim berupa ‘Rabbi ij’al hadza baladan aminan’-ya rabbi, jadikanlah negeri ini (Makkah al-Haram) sebagai negeri yang aman  (melimpah hasil alamnya). Bukanlah do’a yang bercirikan materialistik, esensinya tetap agama? Tapi karena Nabi Ibrahim paham betul, bahwa agama sukar eksis tanpa media negara, dan negara tidak akan maksimal dalam menunjang suksesi dakwah agama tanpa kemakmuran dan kedaulatan, maka jadilah do’a Nabi Ibrahim diringkas seperti yang telah diabadikan dalam surah Al-Baqarah 126.

Ikhtitam

Bagian ini, dipungkasi dengan ratapan dari seorang ulama asal Syiria, Syekh Adnan al-Afayuni (Mufti Syafi’iyah Syiria):

“Ketika seseorang melihat tanah airnya mengalirkan airmata darah, burung gagak mengintai bersiap untuk berpesta memakan bangkai-bangkai manusia akibat peperangan yang tidak berkesudahan. Dengan keyakinan penuh, ia akan memahami dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”.

“Ketika seseorang melihat saudara sebangsanya berlarian tercerai-berai ke berbagai belahan dunia, mencari makan dengan penuh kehinaan, tidur beralas ketidak-berdayaan dan sehari-hari menelan kepahitan serta menahan kesabaran—sungguh ia akan memahami dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”.

“Ketika seseorang tidak lagi dapat mendengarkan canda dan tawa, riang gembira, dan kebahagiaan anak-anak, serta sudah tidak ditemukan lagi kicauan merdu burung-burung, dan berganti dengan suara desingan martir juga peluru—sungguh ia akan memahami dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”.

“Ketika seseorang sudah kehilangan asa dan harap, merasa hampa karena kehilangan semangat hidup, masa depan, serta cahaya kebahagiaan—sungguh ia akan mengerti dan menyadari betapa pentingnya nilai sebuah negara”,

“Kalau kita kehilangan emas, kita bisa mendapatkan emas di pasar emas. Kalau kita kehilangan kekasih, tahun depan kita bisa bertemu lagi. Tapi kalau kita kehilangan tanah air, di mana kita hendak mendapatkan tanah air?”.

Bahan bacaan:

Addifa’ Anil Wathan, Karya Agus Sa’id Ridlwan.
– Lentera Kegelapan, Tim Atsar Purna Siswa 2010.
– Konsensus Konferensi Ulama’ Thoriqoh, Jum’at, 15, Januari 2016 di
Pakalongan.
– Tabloid Media Ummat, edisi 261.
– Hasil Keputusan Bahtsul Masa’il P2L “Urgensi Bela Negara dan
Nasionalisme”.
– Tafsir Murah Labid, Nawawi al-Banteni.

Baca juga:
IJTIHAD KONTEMPORER SEBAGAI UPAYA REVITALISASI KITAB KUNING DI ERA MILLENIAL

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Santri Mengaji
LIM Production

# MEMBUNGKAM PA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.