HomePojok LirboyoHaul KH. Abdul Karim; Sejenak Mengenang Kembali Sosok Beliau

Haul KH. Abdul Karim; Sejenak Mengenang Kembali Sosok Beliau

0 4 likes 1.7K views share

KH. Abdul Karim yang dulu biasa dipanggil Mbah Manab, guru kita semua, beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau dilahirkan di Dusun Banar, Desa Deyangan, Kec. Mertoyudan, Magelang pada tahun 1856, dan wafat pada hari senin ba’da zuhur tanggal 21 Ramadan 1374 H, atau 1954 M. Memang sudah enam puluh dua tahun sejak beliau wafat, namun dengan digelarnya acara semacam haul ini, kita dapat mengenang kembali sosok yang kita teladani tersebut. Serasa beliau kembali hadir di tegah-tengah kita. “Mugi-mugi barokah kito haul, kito sedoyodipun paringi barokah uripe, barokah keluargane, barokah sedayane.” (Semoga dengan berkah kita mengadakan haul, kita semua diberikan kehidupan yang berkah, keluarga yang berkah, dan segalanya diberkahi.) Demikian mengutip doa KH. M. Anwar Manshur.

Sore kemarin (25/06) atau bertepatan dengan 20 Ramadan 1437 H, kembali diperingati haul KH. Abdul Karim dan dzuriyah Ponpes Lirboyo lain. Dalam haul ini hadir dzuriyah-dzuriyah KH. Abdul Karim baik putra maupun putri. Untuk dzuriyah putri disediakan tempat di serambi keramik, bawah kantor sekretariat Ponpes Lirboyo. Seperti biasanya haul dilaksanakan setelah jama’ah salat asar di Masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo. Sebelum acara haul, tak lupa digelar khataman Alquran di maqbaroh Ponpes Lirboyo. Banyak alumni dan santri yang hadir dalam acara sore kemarin. Ada santri kilatan, alumni yang sengaja datang dari rumah masing-masing, dan santri yang masih bersomisili di Ponpes Lirboyo. Mereka memadati area Masjid Lawang Songo hingga membeludak membanjiri sekitar area masjid, seperti halaman ndalem dan maqbaroh. Dari halaman ndalem sudah disediakan layar, jadi mereka yang hadir bisa tetap khidmat mengikuti jalannya prosesi haul.

Diawali dengan pembacaan Tahlil dan surat Yasin yang dipimpin oleh KH. Nurul Huda Ahmad, lalu dilanjutkan dengan mengenang sejarah kehidupan KH. Abdul Karim. KH. Anwar Manshur mengisahkan sedikit tentang riwayat KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo. Di mata beliau, KH. Abdul Karim, atau Mbah Manab adalah sosok yang sangat qona’ah, dan sangat perhatian kepada santri-santrinya. Beliau mengaji sejak subuh hingga tengah malam. Dan malam beliau tidak tidur, akan tetapi beribadah kepada Allah SWT, “Dawuhe Mbah Mahrus nalikone anyar-anyare dados mantu niku nate mirsani, dados Mbah Yai Abdul Karim niku kundur saking masjid jam rolas niku mboten sare, lajeng tahajjud ngantos subuh.” (Menurut penuturan KH. Mahrus ‘Aly ketika baru saja menjadi menantu KH. Abdul Karim, beliau pernah melihat sendiri KH. Abdul Karim pulang mengaji dari masjid jam dua belas malam lantas tidak tidur. Akan tetapi bertahajjud hingga datang subuh.) Selain itu, beliau merupakan pribadi yang sangat istiqomah, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menggambarkan sosok beliau, “Saya ingat apa yang dikatakan oleh orang tua saya, Mbah Kyai Abdul Karim itu orang yang sangat isiqomah mengaji. Mendahulukan pesantren itu luar biasa. Sampai tidak mengurusi dunia, tidak mengurusi apa-apa. Hanya santri itu, didoakan. Santri diwulang (diajar-Red) dan didoakan. Tidak diwulang saja tanpa doa, tidak didoakan saja tanpa diwulang. Tapi diwulang dan didoakan.” Beliau menambahkan, “Diantara pesan KH. Abdul Karim, beliau sangat mendorong santrinya ngaji. Mulang di rumah. Insya Allah kalau mulang, mengamalkan ilmu, insya Allah hidupnya tidak akan tersia-sia. Jadi thoriqohnya Lirboyo itu, ta’lim wa ta’allum, mulang ngaji dan mengamalkan ilmu, mengajarkan ilmu. Insya Allah kalau orang itu mengaji, mulang, mengamalkan ilmu, insya Allah barokahnya sampai ke anak turun.” KH. Marzuqi Dahlan (Mbah Marzuqi) pun demikian, di mata Kyai Anwar, Mbah Marzuqi sangat mementingkan ngopeni santri. “Dadi le ngopeni santri niku saestu. Ngungkuli ngopeni putrane. Mergo rumongso angsal amanat, ngopeni anake wong katah.” (Mbah Marzuqi dalam mendidik santri sangat bersungguh-sungguh. Lebih dari beliau mendidik putra-putranya sendiri.  Karena merasa mendapatkan amanat mengurusi anaknya banyak orang.)

Semoga kita senantiasa dapat meneladani beliau-beliau, dan mendapat ridho serta barokahnya. Tersisip dalam doa, untuk KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus ‘Aly, Al-fâtihah ……. []