Hikmah & Alasan Isra Mi’raj Terjadi pada Malam Hari

Hikmah dan Alasan Isra Mi'raj Terjadi pada Malam Hari

Hikmah & Alasan Isra Mi’raj Terjadi pada Malam Hari –  Tahukah kamu, Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa agung yang Nabi Muhammad alami kala beliau telah diangkat menjadi nabi. Tepatnya sebelum beliau hijrah ke Madinah. Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada malam hari. Menurut pendapat yang masyhur di kalangan para Ulama bahwa perjalanan Nabi Muhammad saw itu terjadi pada malam senin tanggal 27 Rajab. Namun, menurut Sebagian pendapat terjadi di bulan Rabi’ul Awal atau bulan Ramadhan.[1]

Lalu apa sebenarnya alasan Allah Swt menjadikan waktu malam sebagai waktu terjadinya peristiwa menakjubkan ini?. Dan apa hikmahnya peristiwa ini terjadi pada malam hari?. Berikut kami uraikan jawabannya.

Dalil Al-Quran Isra’ Mi’raj Terjadi pada Malam Hari

Dalil al-QUran

Terdapat ayat Al-Quran yang menjelaskan secara jelas bahwa peristiwa Isra Mi’raj itu terjadi pada malam hari.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya : Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra’ : 1)

Dalam kitab Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Pakar Tafsir Terkemuka Imam Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa Seluruh Ulama pakar Tafsir sepakat bahwa Kalimat اَسْرٰى dalam ayat tersebut mengandung makna melakukan perjalanan pada saat malam hari. Kemudian, jika memandang kalimat setelahnya, لَيْلًا yang berupa kalimat Isim Nakirah (Umum) menunjukkan bahwa peristiwa ini (Isra’) terjadi di sebagian waktu malam saja, tidak sampai keseluruhannya. Berikut keterangannya.

وإذ قد كان السرى خاصا بسير الليل كان قوله: ليلا إشارة إلى أن السير به إلى المسجد الأقصى كان في جزء ليلة، وإلا لم يكن ذكره إلا تأكيدا، على أن الإفادة كما يقولون خير من الإعادة.

Artinya: “Ketika kalimat (سَرَى) terkhusus untuk makna melakukan perjalanan pada malam hari, maka kalimat (ليلا) merupakan isyarat bahwa perjalanan hingga ke masjidil aqsha itu terjadi di Sebagian waktu malam saja. Jika tidak demikian, maka penyebutan kalimat (ليلا) hanyalah berstatus sebagai Taukid (pada kalimat ٍسَرَى). Pemahaman ini berpijak pada sebuah kaidah yang disampaikan oleh para ulama: Sesungguhnya memunculkan suatu faedah lebih baik daripada mengulangi kalimatnya.” (Muhammad at-Thahir Ibn ‘Asyur, Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Juz 15,[Tunisia: ad-Dar at-Tunisiyyah, 1984 M], Hal. 11).

Hikmah dan Alasan Isra’ Mi’raj Terjadi pada Malam Hari

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya, Al-Ayatul Kubra fi Syarhi Qisshatil Isra menjelaskan beberapa alasan dan hikmah mengapa Allah Swt menjadikan malam sebagai waktu terjadinya peristiwa Isra dan Mi‘raj (Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Ayatul Kubra fi Syarhi Qisshatil Isra, [Kairo: Darul Hadits, 2002 M], halaman 59).

Pertama, karena malam adalah waktu yang tepat untuk melakukan khalwah (menyepi) dan pengkhususan.

قال ابن المنير: إنما كان الإسراء ليلا لأنه وقت الخلوة والإختصاص عرفا

Artinya: Ibnu Munir berpendapat bahwa peristiwa Isra terjadi di malam hari karena malam merupakan waktu yang tepat untuk menyepi serta biasanya sebagai waktu yang tepat untuk mengkhususkan amalan.

Kedua, karena malam adalah waktu diwajibkannya shalat. Hal ini didasarkan pada sebuah ayat dalam Surat Al-Muzammil.

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيْلًا 

Artinya: Dirikanlah shalat di malam hari, kecuali sedikit (QS. Al-Muzammil : 2)

Ketiga, sebagai sebuah ujian bagi para Mukmin untuk percaya terhadap hal-hal yang ghaib, hal-hal yang tidak dapat dicerna oleh akal, serta sebagai ujian bagi orang-orang kafir. Apakah ia tetap ingkar dengan risalah nabi, atau akan beriman.

Keempat, karena malam merupakan waktu yang mulia. Hal ini disebabkan karena ada beberapa peristiwa yang terjadi di waktu malam, khususnya kisah-kisah istimewa yang terjadi dalam kehidupan para nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Di antaranya, kisah Nabi Ibrahim yang awalnya menganggap bintang-bintang sebagai Tuhan, kemudian sadar bahwa bintang-bintang tersebut ternyata bukan Tuhan karena ia menghilang. Hal ini terekam dalam Surat Al-An’am ayat 76:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ 

Artinya: Ketika malam telah gelap, ia melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata, “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. (QS. Al-An’am : 76)

Selain itu, malam juga menjadi waktu dikabulkannya doa Nabi Yaqub as sesuai firman Allah Swt dalam Surat Yusuf ayat 98. Selain dua kisah tersebut masih ada beberapa kisah lagi yang menunjukkan kemuliaan malam dalam kehidupan para nabi sebelumnya.

Kelima, karena malam adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai. Maka dari itu, Allah Swt memberangkat Rasul pada malam hari.

Keenam, malam merupakan satu-satunya waktu yang dijanjikan Allah Swt sebagai waktu yang terbaik dari seribu bulan (lailatul qadar). Tidak ada waktu lain selain malam yang memiliki keistimewaan seperti ini.

Ketujuh, malam adalah waktu turunnya wahyu yang pertama.

Kedelapan, malam adalah waktu dikabulkannya doa. Berbeda dengan siang, hanya hari Jumat satu-satunya waktu siang yang memiliki keutamaan tersebut.

Kesembilan, karena malam adalah waktu yang tepat untuk menyegarkan pikiran, dengan istirahat. Sedangkan pagi diciptakan Allah untuk mencari penghasilan. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 47:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِبَاسًا وَّالنَّوْمَ سُبَاتًا وَّجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا 

Artinya : Dan Dia-lah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha. (QS. Al-Furqan : 47)

Penutup

Demikianlah dalil, hikmah, dan alasan mengapa Allah Swt meng-Isra’ Mi’raj-kan Nabi Muhammad Saw pada saat waktu malam. Semoga dengan mengetahui ini, kadar keimanan kita semakin meningkat. Amin ya rabbal alamin

[1] Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Al-Anwar Al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khair Al-Bariyyah, Hal. 14, Maktabah Al-Milk, Cet. 3 2003.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.