Hukum dan Cara Merayakan Tahun Baru Masehi dalam Islam

Hukum dan Cara Merayakan Tahun Baru Masehi dalam Islam

Hukum dan Cara Merayakan Tahun Baru Masehi dalam Islam – Tahun 2023 tinggal beberapa jam lagi. Kita semua akan beralih menuju tahun baru 2024. Ini merupakan momentum penting bagi setiap negara di manapun berada. Mereka melakukan berbagai upaya untuk mencurahkan suka citanya atas pergantian tahun ini. Bagi mereka, ini termasuk sebuah hal yang memang layak untuk dirayakan.

Begitu pula di negara Indonesia. Biasanya Masyarakat Indonesia merayakan pergantian tahun masehi dengan menyelenggarakan berbagai macam kegiatan. Mulai dari pesta kembang api, bersenang-senang, hingga mengadakan pagelaran seni budaya. Bahkan ada beberapa kawula muda yang memanfaatkan momentum ini untuk melakukan hal-hal yang negatif. Seperti pacaran, berkendara dengan ugal-ugalan, berpesta minuman keras, dan lain-lain. Dari hal-hal yang mereka lakukan ini, mengindikasikan bahwa hingga sekarang masih lumayan banyak Masyarakat Indonesia yang merayakan tahun baru masehi. Termasuk juga orang-orang muslim Indonesia. Padahal Islam sendiri telah mempunyai kalender Hijriyah yang juga terdapat momentum tahun baru Islam di dalamnya, sekaligus terdapat anjuran khusus dalam hadits untuk merayakannya dengan berpuasa.[1]

Melihat fakta ini, lalu bagaimana hukumnya bagi seorang muslim ikut merayakan tahun baru masehi?. Memandang bahwa kalender masehi identik dengan hal-hal negatif dan identik pula dengan tradisi non muslim. Berikut akan kami berikan penjelasan secara singkat.

Asal Mula Perayaan Tahun Baru Masehi

Asal Mula Tahun Baru

Dari data historis, perayaan tahun baru Masehi bermula sekitar 4.000 tahun yang lalu atau sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi. Tradisi ini pertama kali di perkenalkan oleh masyarakat Babilonia Kuno sebagai bentuk penghormatan terhadap kedatangan tahun baru.

Bagi masyarakat Babilonia, perayaan tahun baru memiliki makna khusus sebagai bentuk penghormatan atas kemenangan Dewa Langit Marduk dalam pertempuran melawan Dewi Tiamat, yang merupakan dewi laut yang di anggap jahat. Selama perayaan, Raja Babilonia juga menerima mahkota sebagai simbol dari para dewa sebagai tanda penobatan.

Seiring berjalannya waktu, muncul suatu tradisi di Jerman yang dikenal sebagai “Sylvester Night,” di mana orang-orang merayakannya dengan pesta pada malam 31 Desember hingga 1 Januari. Tradisi ini kemudian menjadi bagian dari sejarah perayaan tahun baru Masehi yang tetap di peringati hingga saat ini.[2]

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Muslim

Hukum Merayakan Tahun Baru

Berpijak dari penjelasan diatas, menegaskan bahwa perayaan tahun baru masehi merupakan sebuah tradisi Masyarakat non muslim. Yang lambat laun di adopsi oleh banyak negara. Entah karena apa, Indonesia juga mengadopsi tradisi ini, walaupun perayaannya sesuai dengan cara mereka sendiri.

Jika demikian adanya, maka persoalan ini hanyalah sebatas adat istiadat atau tradisi saja yang tidak ada korelasinya dengan agama. Berkenaan dengan hal ini, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam Mafahim Yajibu an Tushahhaha menjelaskan :

جَرَتْ عَادَاتُنَا أَنْ نَجْتَمِعَ لإِحْيَاءِ جُمْلَةٍ مِنَ الْمُنَاسَبَاتِ التَّارِيْخِيَّةِ كَالْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ وَذِكْرَى الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَالْهِجْرَةِ النَّبَوِيَّةِ وَذِكْرَى نُزُوْلِ الْقُرْآنِ وَذِكْرَى غَزْوَةِ بَدْرٍ. وَفِى اعْتِبَارِنَا أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ عَادِيٌّ لَا صِلَةَ لَهُ بِالدِّيْنِ فَلَا يُوْصَفُ بِأَنَّهُ مَشْرُوْعٌ أَوْ سُنَّةٌ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ مُعَارِضًا لِأَصْلٍ مِنْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ لأَنَّ الْخَطَرَ هُوَ فِى اعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ شَيْءٍ لَيْسَ بِمَشْرُوْعٍ

Artinya: “Sudah menjadi tradisi bagi kita berkumpul untuk menghidupkan berbagai momentum bersejarah, seperti halnya maulid nabi, peringatan isra mi’raj, malam nishfu sya’ban, tahun baru hijriyah, nuzulul qur’an dan peringatan perang Badar. Menurut pandanganku, peringatan-peringatan seperti ini merupakan bagian daripada tradisi, yang tidak terdapat korelasinya dengan agama. Sehingga tidak bisa di kategorikan sebagai sesuatu yang di syariatkan ataupun di sunahkan. Kendati demikian, juga tidak berseberangan dengan dasar-dasar agama, sebab yang justru mengkhawatirkan ialah timbulnya keyakinan terhadap disyariatkannya sesuatu yang tidak disyariatkan.” [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu an Tushahihah, [Surabaya: As-Shafwah Al-Malikiyyah], halaman 337-338.

Pendapat ini selaras dengan fatwa yang pernah disampaikan oleh salah satu guru besar Al-Azhar serta mufti agung  mesir Syekh Athiyyah Shaqr (wafat 2006 M). Yang tertuang dalam kitab Fatawaa al-Azhar (Fatwa-fatwa Al-Azhar).

وَقَيْصَرُ رُوْسِيَا “الإِسْكَنْدَرُ الثَّالِثُ” كَلَّفَ الصَّائِغَ “كَارِلْ فَابْرَج” بِصَنَاعَةِ بَيْضَةٍ لِزَوْجَتِهِ 1884 م، اسْتَمَرَّ فِي صُنْعِهَا سِتَّةَ أَشْهُرٍ كَانَتْ مَحِلَّاةً بِالْعَقِيْقِ وَالْيَاقُوْتِ، وَبَيَاضُهَا مِنَ الْفِضَّةِ وَصِفَارُهَا مِنَ الذَّهَبِ، وَفِى كُلِّ عَامٍ يَهْدِيْهَا مِثْلَهَا حَتَّى أَبْطَلَتْهَا الثَّوْرَةُ الشُّيُوْعِيَّةُ 1917 م. وَبَعْدُ، فَهَذَا هُوَ عِيْدُ شَمِّ النَّسِيْمِ الَّذِي كَانَ قَوْمِيًّا ثُمَّ صَارَ دِيْنِيًّا فَمَا حُكْمُ احْتِفَالِ الْمُسْلِمِيْنَ بِهِ؟ لَا شَكَّ أَنَّ التَّمَتُّعَ بِمُبَاهِجِ الْحَيَاةِ مِنْ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَتَنَزُّهٍ أَمْرٌ مُبَاحٌ مَا دَامَ فِى الْإِطَارِ الْمَشْرُوْعِ الَّذِي لَا تُرْتَكَبُ فِيْهِ مَعْصِيَّةٌ وَلَا تُنْتَهَكُ حُرْمَةٌ وَلَا يَنْبَعِثُ مِنْ عَقِيْدَةٍ فَاسِدَةٍ

Artinya: “Kaisar Rusia, Alexander III pernah mengutus seorang tukang emas ‘Karl Fabraj’ guna membuat topi baja untuk istrinya pada tahun 1884 M. Proses pembuatannya berlangsung selama 6 bulan. Topi itu ditempeli batu akik dan permata. Warna putihnya dari perak dan warna kuningnya dari emas. Di setiap tahunnya ia menghadiahkan topi serupa kepada istrinya hingga kemudian istrinya ditumbangkan oleh pemberontakan kelompok komunisme pada tahun 1917 M. Mulanya acara ini merupakan suatu perayaan ‘Sham Ennesim’ (Festival nasional Mesir yang menandai di mulainya musim semi) yang merupakan tradisi lokal Mesir lantas berubah menjadi tradisi keagamaan. Lalu bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim? Tak diragukan lagi bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak.” [Wizarah Al-Auqof Al-Mishriyyah, Fatawa Al-Azhar, juz X, halaman 311).

Berpijak pada 2 keterangan ini, dapat kita simpulkan bahwa perayaan tahun baru masehi merupakan salah satu tradisi yang tidak berkaitan dengan agama. Sehingga bagi seorang muslim di perbolehkan merayakan tahun baru masehi selama tidak mengandung hal-hal yang di harakam seperti melakukan kemaksiatan.

Catatan : Menurut salah satu ulama dari mazhab Malikiyyah hukumnya tidak di perbolehkan , karena ada unsur Tasyabbuh dengan orang-orang Nasrani.

Kesimpulan

Penutup

Dengan demikian, jika seorang muslim merayakan tahun baru masehi dengan hal-hal positif sekaligus di sisipi niat-niat yang baik sesuai tuntunan syariat Islam maka perayaan tersebut akan bernilai pahala yang melimpah. Namun, jika seorang muslim merayakan tahun baru masehi dengan hal-hal negatif seperti melakukan kemaksiatan maka hanya akan menambah dosa dan murka Allah Swt.

Referensi Mazhab Malikiyah

الاحتفال بفاتح السنة الميلادية ، وسُئل أبو الأصبغ عيسى بن محمد التميلي عن ليلة ينير[3] التي يسميها الناس (الميلاد) ويجتهدون لها في الاستعداد ، ويجعلونها كأحد الأعياد ، ويتهادون بينهم صنوف الأطعمة وأنواع التحف والطرف المثوبة لوجه الصِّلة ، ويترك الرجالُ والنساءُ أعمالهم صبيحتها تعظيمًا لليوم ، ويعدّونه رأس السنة ، أترى ذلك ـ أكرمك الله ـ بدعة محرّمة لا يحل لمسلم أن يفعل ذلك ، ولا أن يجيب أحدًا من أقاربه وأصهاره إلى شيء من ذلك الطعام الذي أعدّه لها؟ أم هو مكروه ليس بالحرام الصراح؟ أم مستقل؟ وقد جاءت أحاديث مأثورة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في المتشبّهين من أمته بالنصارى في نيروزهم ومهرجانهم ، وأنهم محشورون معهم يوم القيامة . وجاء عنه أيضًا أنه قال : (من تشبّه بقوم فهو منهم) . فبيّن لنا أكرمك الله ما صح عندك في ذلك إن شاء الله .

فأجاب : قرأت كتابك ووقفت على ما عنه سألت وكل ما ذكَرْتَه في كتابك فمحرّمٌ فِعْلُه عند أهل العلم . وقد رويت الأحاديث التي ذكرتها من التشديد في ذلك . ورويتُ أيضًا أن يحيى بن يحيى الليثي (راوي الموطأ) قال : لا تجوز الهدايا في الميلاد من نصراني ولا من مسلم ، ولا إجابة الدعوة فيه ، ولا استعداد له . وينبغي أن يجعل كسائر الأيام ، ورَفَعَ فيه حديثًا إلى النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال يومًا لأصحابه : (إنكم مُسْتَنْزَلون بين ظهراني عجم ، فمن تشبه بهم في نيروزهم ومهرجانهم حُشِرَ معهم) قال يحيى : وسألتُ عن ذلك ابن كنانة ، وأخبرته بحالنا في بلدنا فأنكر وعابه وقال : الذي يثبت عندنا في ذلك الكراهية ، وكذلك سمعت مالكًا يقول : لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم (من تشبّه بقوم حشر معهم) . [المعيار المُعَرَّب للشيخ أبو العباس أحمد الونشريسي 11/150]

Baca Juga : Strategi Jitu Nabi dalam Ekonomi

[1] Al-Makky As-Syafi’I, Abdul Hamid bin Muhammad Ali, Kanzun Najah wa As-Surur, Hal 667

[2] Melansir dari https://mediaindonesia.com/humaniora/639977/mengenal-asal-usul-perayaan-tahun-baru-masehi pada 30 Desember 2023 M pukul 01:46 Dini Hari.

[3] Januari

3 thoughts on “Hukum dan Cara Merayakan Tahun Baru Masehi dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.