Hukum dan Tips Pre Wedding

Hukum dan Tips Pre Wedding

Hukum dan Tips Pre Wedding

Langsung saja. Hukum dan Tips Pre Wedding
Admin yang terhormat. Mohon maaf jika pertanyaan saya mengganggu aktivitas Anda, dan saya ucapkan terima kasih sebelumnya jika Anda menjawab pertanyaan ini.

Begini, karena beberapa bulan lagi kebetulan saya mau melangsungkan akad pernikahan sekaligus dengan resepsinya. Saya ingin tahu, sebenarnya bagaimana sih hukum membuat foto pre wedding itu. Karena terus terang, keluarga besar seakan menuntut agar di kartu undangan nanti ada foto kami berdua.

Salam hormat saya, Ratna Kusbiantoro

Admin- Mbak Ratna yang Kami hormati, terima kasih juga atas kunjungan Anda pada website Kami. Mudah-mudahan apa yang ada dalam website ini bermanfaat bagi Admin dan juga para pembaca.

Mbak Ratna, saya mengerti Anda khawatir terkait tuntutan keluarga besar mengenai foto pre-wedding yang saat ini sering dianggap penting dan menarik dalam undangan pernikahan. Berdasarkan pandangan agama, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat foto pre-wedding. Pertimbangkan beberapa hal dalam membuat foto pre-wedding yang melibatkan kedua calon mempelai dan fotografer.

Pertimbangan Hukum Syariat:

1. Calon Mempelai:

– Ikhtilat (Pencampuran Laki-laki dan Perempuan): Hukumnya haram jika dalam proses pengambilan foto terdapat percampuran yang tidak sesuai syariat.
– Kholwat (Berduaan):Dilarang jika calon mempelai berduaan tanpa pendamping.
– Kasyful Aurat (Membuka Aurat): Melarang membuka aurat selama pengambilan foto.

2. Fotografer:

– Rela dengan Kemaksiatan: Tidak diperbolehkan karena berarti fotografer menunjukkan sikap rela dengan pelanggaran syariat yang mungkin terjadi selama sesi foto.

Solusi dan Usaha yang Bisa Dilakukan:

1. Memajukan Akad Nikah: Cobalah merayu keluarga besar untuk memajukan tanggal akad nikah. Dengan begitu, setelah resmi menjadi suami istri, Anda dapat membuat foto yang Anda inginkan.
2. Hindari Rekayasa Berlebihan: Usahakan mengambil foto yang tidak terlalu direkayasa agar hasilnya lebih alami dan tetap sesuai dengan syariat.
3. Cantumkan Tanggal Akad Nikah di Undangan: Ini membantu menghindari penilaian negatif dari masyarakat dan memastikan semua orang tahu bahwa foto tersebut diambil setelah akad nikah.

Referensi untuk Pendalaman:
– Hasyiyyah Al-Jamal vol. IV hal. 125
– Is’adurrafiq vol. II hal. 67
– I’anah Al-Tholibin vol. I hlm. 272
– Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab vol. IV hlm.484
– Bughyah Al-Mustarsyidin hlm. 199-200
– Is’ad Al-Rofiq vol. II hlm. 50
– Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim hlm. 59-60
– Bughyah Al-Mustarsyidin hlm. 126

Semoga dengan usaha ini, Anda bisa memenuhi tuntutan keluarga besar tanpa melanggar syariat Islam. Mohonlah rahmat dan petunjuk dari Allah SWT dalam setiap langkah yang Anda ambil.

Baca Juga : Hikmah & Alasan Isra Mi’raj Terjadi pada Malam Hari

Jangan Lupa Kunjungi Media Sosial Pondok Pesantren Lirboyo : InstagramFacebookYoutube.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.