Hukum Darah Untuk Treatmen Wajah

Dalam tulisan berikut akan membahas dua kasus tentang darah untuk treatmen wajah yang agak memiliki kemiripan yaitu masker darah haidl dan terapi PRP dan PRF.

Sekilas Tentang Darah Untuk Treatmen Wajah

Menurut sebagian kecil kalangan darah haidl bisa untuk treatmen wajah. Mungkin hal ini akan membuat kebanyakan orang merasa jijik. Akan tetapi menurut mereka darah haidl memiliki manfaat bagi wajah.

Manfaat tersebut seperti; Darah mens dapat mengatasi jerawat, dapat mencegah jerawat, dapat membuat wajah glowing.

Namun, banyak yang meragukan klaim tersebut, karena tidak terbukti secara medis. Bahkan, ada yang mengatakan klaim tersebut hanya mitos.

Ada lagi perawatan wajah dengan darah yang bernamaTerapi PRP (Platelet-Rich Plasma) dan PRF (Platelet-rich fibrin).

Langkahnya, dokter mengambil darah pasien kemudian menyuntikkan PRP dan PRF yang sudah seteril ke beberapa bagian wajah tertentu.

Menurut para dokter, ptaktek yang ke dua ini sudah teruji dan terbukti secara medis. Akan tetapi bagi yang tertarik, sangat dianjurkan untuk konsultasi kepada para ahli terlebih dahulu.

Hukum Menggunakan Darah Untuk Treatmen Wajah

Sudah jelas bahwa darah termasuk benda najis. Wajib hukumnya menghindarkan tubuh dari najis. Tidak boleh sengaja menempelkan dan menyentuh najis kecuali ada kebutuhan. Seperti, membersihkan WC, menyembelih hewan atau menggunakan najis untuk berobat.

Nabi pernah menyuruh beberapa sahabat untuk melumuri tubuh dengan air seni unta untuk berobat.

Dengan demikian, tidak boleh perawatan wajah dengan menggunakan darah jika tidak terbukti secara medis dapat memberikan manfaat pada kulit wajah. Sebaliknya, jika terbukti darah memiliki manfaat bagi kulit wajah, maka diperbolehkan.

Sebagaimana penjelasan syaikh Zainuddin al-Malaibari dalam Fath al-Mu’in:

ولا يجب اجتناب النجس في غير الصلاة، ومحله في غير التضمخ به في بدن أو ثوب، فهو حرام بلا حاجة

“Tidak wajib menjauhi najis diselain keadaan salat. (kebolehan menyentuh najis) kecuali apabila sengaja melumuri diri dengan najis. Melumuru diri dengan najis hukumnya haram tanpa ada kebutuhan.”

Kemudian, syaikh Abu Bakar Syatho menyebutkan beberapa contoh keadaan boleh melumuri diri dengan najis;

كأن بال ولم يجد شيئا يستنجي به فله تنشيف ذكره بيده ومسكه بها، وكمن ينزح الا خلية ونحوها، وكمن يذبح البهائم، وكمن احتاج إليه للتداوي كشرب بول الإبل لذلك، كما أمر ﷺ به العرنيين. فإن كان لغير حاجة وجب اجتنابه، لأن ما حرم ارتكابه وجب اجتنابه

“seperti cebok dengan tangan saat tidak ada benda (air, tisu dll) untuk cebok, membersihkan wc, menyembelih hewan, dan berobat. Sebagaimana nabi pernah menyuruh al-‘Araniyyin (orang-orang yang pernah nabi suruh berobat menggunakan air seni onta). Apabila tidak ada kebutuhan maka wajib menjauhi najis, sebab perkara yang haram wajib untuk dijauhi”

Sekian, semoga bermanfaat.

 Baca Juga; Kajian Fikih Tentang Sulam Bibir

Subscribe; Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.