Hukum Penyembelihan Hewan Kurban; di Halaman Sekitar Masjid

penyembelihan di masjid
Saat menjelang hari raya Idul Adha, suatu tradisi yang umum terjadi di masyarakat Muslim adalah proses penyembelihan hewan kurban. Masyarakat seringkali melakukan proses ini pada lahan yang berada di sekitar halaman masjid., menjadi bagian dari perayaan agung ini.

Dari sudut pandang syariah, Praktik ini menganggapnya sebagai bagian dari kebiasaan. (urf’) yang dapat diterima. Menurut penjelasan dalam kitab “Ghayah Talkhish al-Murad”, masyarakat boleh memanfaatkan lahan di sekitar masjid selama sesuai dengan kebiasaan tanpa ada yang mengingkari. Hal ini mencakup penggunaan lahan tersebut untuk penyembelihan hewan kurban.

Perspektif ini memberikan pemahaman bahwa kegiatan seperti penyembelihan hewan kurban di sekitar masjid tidak secara otomatis dianggap sebagai pelanggaran terhadap syariah, selama praktik tersebut sesuai dengan norma dan kebiasaan masyarakat setempat.

Sayyid Abdurrahman al-Masyhur menegaskan pada persoalan lahan yang berada di sekitar masjid:

‏ﻟَﻴْﺴَﺖِ ﺍْﻟﺠَﻮَﺍﺑِﻲْ ﺍَﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻓَﺔُ ﻭَﺯَﻭَﺍﻳَﺎﻫَﺎ ﻣِﻦْ ﺭَﺣْﺒَﺔِ ﺍْﻟﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻭَﻻَ ﺣَﺮِﻳْﻤُﻪُ، ﺑَﻞْ ﻫِﻲَ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻠَّﺔٌ ﻟﻤَﺎَ ﻭُﺿِﻌَﺖْ ﻟَﻪُ، ﻭَﻳَﺴْﺘَﻌْﻤِﻞُ ﻛُﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋُﻬِﺪَ ﻓِﻴْﻪِ ﺑِﻼَ ﻧَﻜِﻴْﺮٍ … ﻭَﻻَ ﺗَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺇِﻟﻰَ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﻧَﺺِّ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻗِﻔِﻬَﺎ، ﺇِﺫِ ﺍْﻟﻌُﺮْﻑُ ﻛَﺎﻑٍ ﻓﻲِ ﺫَﻟِﻚَ

“Beberapa kolam dan tepiannya (yang berada di sekitar masjid) bukanlah bagian dari serambi dan pelataran masjid. Akan tetapi ia menyendiri sesuai tujuan awal. Dan setiap orang boleh memanfaatkan dengan pemanfaatan yang diketahui tanpa ada yang mengingkari…. Dan tidak butuh untuk mengetahui penjelasan orang yang mewakafkan. Karena kebiasaan sudah mencukupi untuk memperbolehkan.” (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 63)

Kendati demikian, proses penyembelihan hewan kurban di sekitar masjid tidak boleh mengganggu pemanfaatan asli masjid, seperti menghilangkan kekhusyukan orang salat disebabkan bau yang menyengat dan lain sebagainya. (Al-Hawi al-Kabir, VII/1273) []waAllahu a’lam

Untuk memahami lebih lanjut tentang hukum qurban online, silakan klik di sini.

Kesimpulan

Dari sudut pandang syariat, Masyarakat boleh memanfaatkan lahan di sekitar masjid sesuai dengan kebiasaan. (urf’), termasuk untuk tempat penyembelihan hewan kurban. Pendapat Sayyid Abdurrahman al-Masyhur menegaskan bahwa kolam dan tepiannya yang berada di sekitar masjid bukan bagian dari serambi dan pelataran masjid, melainkan menyendiri sesuai dengan tujuan awalnya. Setiap orang dapat memanfaatkannya tanpa penjelasan lebih lanjut, karena kebiasaan sudah mencukupi untuk memperbolehkannya.

Namun, penting untuk diingat bahwa proses penyembelihan hewan kurban tersebut tidak boleh mengganggu pemanfaatan asli masjid, seperti mengganggu kekhusyukan orang yang sedang salat karena bau yang menyengat atau hal-hal lainnya. Keselarasan antara tradisi dan kehormatan tempat ibadah menjadi prioritas dalam melaksanakan praktik keagamaan seperti penyembelihan hewan kurban.

Jangan lupa kunjungi akun media sosial Pondok Lirboyo. FacebookInstagramYoutube.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.