Hukum Membuat, Bernyanyi, dan Mendengarkan Syair

istockphoto-1151052891-612x612

Hukum Membuat, Bernyanyi, dan Mendengarkan Syair | Syair tidak hanya berisi pujian dan hal-hal indah seperti yang banyak diketahui. Di dalam syair juga terkadung ratapan, kata-kata kebencian, dan berbagai kata-kata negatif yang dilarang oleh agama, hal ini memandang dari orang yang menuliskan syair itu sendiri. Sehingga tidak semua syair dapat dikatakan baik dan diperbolehkan untuk dituliskan.

Memang, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

“Lebih baik salah seorang dari kalian memenuhi perutnya dengan nanah daripada memenuhinya dengan sya’ir.” (HR. Al-Bukhori)[1]

Dengan adanya hadis ini, bukan berarti syair dilarang secara total. Tidak bisa hanya dengan menggunakan dalil ini dibuat untuk menghukumi bahwa syair tidak perbolehkan. Sebab dalam pencetusan hukum, diperlukan dalil-dalil lain untuk menghukumi apakah hal ini benar-benar mutlak larangan Nabi, atau ada perinciannya.

Ibnu Hajar berpendapat bahwa faktor munculnya celaan yang keras dalam hadist Nabi ini dikarenakan pada saat itu, orang yang diajak bicara oleh Nabi adalah orang-orang yang hatinya keras dan waktunya dihabiskan hanya untuk bersyair. Sehingga Rasulullah Saw bersabda seperti itu agar mereka mau kembali kepada al-Qur’an, berdzikir, dan beribadah kepada Allah. Barangsiapa yang telah melaksanakan kewajiban-kewajibannya, maka tidak mengapa jika sisa waktunya digunakan untuk hal lain, seperti bersyair, atau yang lainnya.[2]

Dalil yang memperbolehkan

Dalam hadist lain, Rasulullah Saw juga sangat menyukai syair. Ini dilandasi dari hadist Nabi:

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، كِلَاهُمَا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، قَالَ: ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: رَدِفْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: «هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ شَيْءٌ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «هِيهْ» فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا، فَقَالَ: «هِيهْ» ثُمَّ أَنْشَدْتُهُ بَيْتًا، فَقَالَ: «هِيهْ» حَتَّى أَنْشَدْتُهُ مِائَةَ بَيْتٍ

“… Diceritakan dari Sufyan, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amru bin asy-Syarid, dari ayahnya, ia berkata: “Suatu hari aku dibonceng oleh Rasulullah Saw, kemudian beliau bertanya: “Apakah engkau hafal syair Umayyah bin Abis as-Shalthi?. Aku menjawab: “Ya”. Kemudian berkata: “Lantunkanlah!”. Maka aku melakukan satu bait syair. (Setelah selesai), beliau kemudian berkata: “Teruskanlah!”. Maka aku melantunkan satu bait syair lagi. (Setelah selesai), belaiu berkata hal yang sama: “Teruskanlah!” Hingga aku melantunkan seratus bait syair. (HR. Muslim no. 2255)[3]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.