236 views

Hukum Membuat, Bernyanyi, dan Mendengarkan Syair

Hukum Membuat, Bernyanyi, dan Mendengarkan Syair | Syair tidak hanya berisi pujian dan hal-hal indah seperti yang banyak diketahui. Di dalam syair juga terkadung ratapan, kata-kata kebencian, dan berbagai kata-kata negatif yang dilarang oleh agama, hal ini memandang dari orang yang menuliskan syair itu sendiri. Sehingga tidak semua syair dapat dikatakan baik dan diperbolehkan untuk dituliskan.

Memang, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

“Lebih baik salah seorang dari kalian memenuhi perutnya dengan nanah daripada memenuhinya dengan sya’ir.” (HR. Al-Bukhori)[1]

Dengan adanya hadis ini, bukan berarti syair dilarang secara total. Tidak bisa hanya dengan menggunakan dalil ini dibuat untuk menghukumi bahwa syair tidak perbolehkan. Sebab dalam pencetusan hukum, diperlukan dalil-dalil lain untuk menghukumi apakah hal ini benar-benar mutlak larangan Nabi, atau ada perinciannya.

Ibnu Hajar berpendapat bahwa faktor munculnya celaan yang keras dalam hadist Nabi ini dikarenakan pada saat itu, orang yang diajak bicara oleh Nabi adalah orang-orang yang hatinya keras dan waktunya dihabiskan hanya untuk bersyair. Sehingga Rasulullah Saw bersabda seperti itu agar mereka mau kembali kepada al-Qur’an, berdzikir, dan beribadah kepada Allah. Barangsiapa yang telah melaksanakan kewajiban-kewajibannya, maka tidak mengapa jika sisa waktunya digunakan untuk hal lain, seperti bersyair, atau yang lainnya.[2]

Dalil yang memperbolehkan

Dalam hadist lain, Rasulullah Saw juga sangat menyukai syair. Ini dilandasi dari hadist Nabi:

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، كِلَاهُمَا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، قَالَ: ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: رَدِفْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: «هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ شَيْءٌ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «هِيهْ» فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا، فَقَالَ: «هِيهْ» ثُمَّ أَنْشَدْتُهُ بَيْتًا، فَقَالَ: «هِيهْ» حَتَّى أَنْشَدْتُهُ مِائَةَ بَيْتٍ

“… Diceritakan dari Sufyan, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amru bin asy-Syarid, dari ayahnya, ia berkata: “Suatu hari aku dibonceng oleh Rasulullah Saw, kemudian beliau bertanya: “Apakah engkau hafal syair Umayyah bin Abis as-Shalthi?. Aku menjawab: “Ya”. Kemudian berkata: “Lantunkanlah!”. Maka aku melakukan satu bait syair. (Setelah selesai), beliau kemudian berkata: “Teruskanlah!”. Maka aku melantunkan satu bait syair lagi. (Setelah selesai), belaiu berkata hal yang sama: “Teruskanlah!” Hingga aku melantunkan seratus bait syair. (HR. Muslim no. 2255)[3]

Dalam menjelaskan hadist ini, Imam Nawawi berpendapat bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Saw menganggap akan kebagusan syair yang dibuat oleh Umayyah sehingga Nabi meminta untuk menambah syair-syair tersebut untuk dinyanyikan. Hal ini memandang di dalam syair tersebut mengandung pengakuan terhadap keesaan Allah Swt dan hari dibangkitkannya manusia. Hadis ini juga menunjukkan diperbolehkannya untuk menyanyikan dan mendengarkan syair yang tidak mengandung kekejian. Baik syair-syair jahiliyyah, maupun selainnya.[4]

Pada dasarnya, bersyair diperbolehkan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis di atas. Bahkan dalam kondisi-kondisi tertentu sangat diperlukan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam atau menumbuhkan semangat jihad (seperti gambaran pada zaman dahulu ketika perang dimulai, akan diawali dengan pembacaan syair sebagai wujud untuk menumbuhkan semangat para Mujahidin).

Namun hukumnya akan berbeda, ketika hal tersebut dilakukan secara berlebihan, atau mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan agama Islam. Ketika tidak bertentangan dengan gama Islam, maka tidak dipertentangkan.

Dalam kitab Maui’dhatul Mukminin, Syaikh Jamaluddin meringkas pendapat Imam Ghazali tentang lagu dan syair:

وَالْمَذْمُومُ مِنْهُمَا مَا اشْتَمَلَ عَلَى مُحَرَّمٍ أَوْ دُعَاءٍ إِلَيْهِ، كَتَشْبِيبٍ بِمُعَيَّنٍ، وَهِجَاءٍ، وَتَشَبُّهٍ بِالنِّسَاءِ، وَتَهْيِيجٍ لِفَاحِشَةٍ، وَلُحُوقٍ بِأَهْلِ الْخَلَاعَةِ وَالْمُجُونِ، وَصَرْفِ الْوَقْتِ إِلَيْهِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَمَا خَلَا عَنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُبَاحٌ.

“Yang dianggap tercela dari lagu dan syair yaitu ketika berkenaan dengan perkara yang diharamkan atau menjerumuskan ke dalam perkara tersebut, di antaranya; menjelaskan sifat-sifat baik kepada orang yang ditertentukan, menghina, menyerupai wanita, membangkitkan pekerjaan yang jelek, berkumpul dengan orang yang mengumbar nafsu dan orang yang dianggap gila, waktunya dihabiskan untuk bersyair, dan selainnya. Sedang hal-hal yang disangsikan dari pekerjaan di atas, maka diperbolehkan.”[5]

baca juga: Ketika Syair Cinta Ditukar Jubah Kekasih
tonton juga: Tujuan Diutusnya Rasulullah SAW | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Hukum Membuat, Bernyanyi, dan Mendengarkan Syair
Hukum Membuat, Bernyanyi, dan Mendengarkan Syair


[1] Muhammad bin Ismail al-Bukhori, Shahih al-Bukhori, hlm. 37, vol. 8 (CD: Maktabah Syamilah)
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
[2] Ibnu Hajar al-Atsqolany, Fath al-Bari, hlm 550, vol. 10 (Beirut: Dar al-Ma’arif)
هذه المبالغة في ذم الشعر أن الذين خوطبوا بذلك كانوا في غاية الإقبال عليه والاشتغال به فزجرهم عنه ليقبلوا على القرآن وعلى ذكر الله تعالى وعبادته فمن أخذ من ذلك ما أمر به لم يضره ما بقي عنده مما سوى ذلك والله أعلم
[3] Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim, hlm. 1767, vol. 4 (Bairut: Dar Ihya at-Turats)
[4] Muhammad Amin bin Abdurrohman al-Uromi, Al-Kawakib al-Wahhaj Syarah Shahih Muslim, hlm. 409, vol.22 (Makkah: Dar Al-Minhaj)
قال النووي: ومعنى الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم استحسن شعر أمية واستزاد من إنشاده لما فيه من الإقرار بالوحدانية والبعث، وفي الحديث دلالة على جواز إنشاد الشعر الذي لا فحش فيه وسماعه سواء شعر الجاهلية وغيرهم وإن المذموم من الشعر الذي لا فحش فيه إنما هو الإكثار منه وكونه غالبًا على الإنسان فأما يسيره فلا بأس بإنشاده وسماعه وحفظه اهـ.
[5] Muhammad Jamaluddin ad-Damasyqi, Mau’idhatul Mu’minin, hlm. 191 (Beirut: DK Ilmiyah, 2019) cet. IV

2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.